Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Minggu, 25 Desember 2011

280211-senin(selasa)-banjar film3-poligami (Dm.010311)

Photo: mb/ara
TEMA SENSITIF – Dalam diskusinya Banjar Film termasuk berani dalam mengangkat tema-tema film dokumenter yang cenderung sensitif di mata masyarakat.

Keberanian Mengangkat Tema Sensitif

BANJARMASIN – Tidak banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang berani mengangkat tema-tema yang dipandang sensitif dalam masyarakat. Apalagi tema yang hingga saat ini masih menjadi pro kontra.
Memasuki bulan ke-3 pemutaran film dokumenter dari Komunitas Banjar Film, kali ini mengambil tema judul film dokumenter yang bercerita tentang situasi rumah tangga yang ber poligami.
Alfons, salah satu pemerhati sosial, pada Senin (28/2) berkomentar “dari tema-tema judul film yang sudah diputar Banjar Film, mereka termasuk berani dalam mengangkatnya.
Karena tema-tema seperti kelainan kecenderungan kejiwaan pada pemutaran film dokumenter pertama, anak-anak Tuna Grahita atau cacat mental pada pemutaran film dokumenter ke dua, dan sekarang pada pemutaran film dokumenter ke tiga tentang poligami. Tema-tema tersebut adalah hal yang cukup riskan untuk dibicarakan dalam masyarakat, entah karena dianggap memalukan atau cukup sensitif” ujarnya.
Pada Minggu malam (27/2) dimulai dari 20.00 wita bertempat di halaman SBC Koperasi Mahasiswa Unlam Banjarmasin, Komunitas Banjar Film memutar dua judul film dokumenter yang bertemakan Poligami.
Film dokumenter pertama berjudul, 4 Wifes One Man, oleh Nahid Persson, Swedia/Iran, produksi 2007, dengan durasi 76 menit. Menceritakan tentang keluarga Heda. Petani yang berpoligami di satu desa di Iran. Film dokumenter yang memotret dan mengungkap seluk beluk hubungan lelaki itu dengan keempat istrinya yaitu Farang, Goli, Shahpar, dan Ziba. Juga hubungan mereka dengan sang mertua (ibunda Heda) dan 20 anak mereka.
Sebuah situasi kehidupan suatu keluarga yang terkadang terlihat lucu, namun pada kenyataannya memilukan. Film ini menelusuri keseharian masing-masing istri menghadapi madu-madunya, yang akhirnya bersekongkol untuk melawan suami mereka yang kejam.
Film dokumenter kedua berjudul, In Love For God, oleh Welldy Handoko, Jastis Arimba, Indonesia, produksi 2010, dengan durasi 30 menit. Menceritakan tentang keluarga Muhammad Ikramullah (43) di Malaysia dengan ke empat istrinya, yaitu Junaidah (40) seorang guru mengaji, Kartini (41) seorang pengacara, Dr.Rohaya (44) seorang dokter, dan Rubaizah (30) pemimpin yayasan rumah amal.
Sebuah fenomena keluarga yang harmonis ditengah pertentangan terkait isu poligami yang terjadi di Malaysia dan Indonesia. Sebuah keluarga yang bangga dan bersyukur telah berpoligami. Ke empat istri ini saling berbagi cerita tentang cinta, saling menghargai, saling menghormati dan saling membantu diantara madu dalam keluarga tersebut.
Permasalahan perasaan, suka duka, cemburu dan persoalan keluarga dalam berumah tangga yang berpoligami, dihadapi dengan lapang dada bersama, dengan dasar keluarga menanamkan cinta pada Tuhan. Hal menarik lain, adalah pada saat salah satu madu sibuk dengan aktivitas pekerjaan, madu yang lain akan merawat anak dari madunya. ara/mb05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar