Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi dan Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi dan Bisnis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2012

250412-rabu(kamis)-Mamfaat Buah Lontar Untuk Kesehatan (di mozaik).doc


Photo: mb/ara
KESEHATAN – Buah siwalan atau buah lontar dan air niranya bermanfaat untuk kesehatan fungsi ginjal, mengobati penyakit impotensi, menambah air mani dan mempertajam pendengaran

Mamfaat Buah Siwalan Untuk Kesehatan

Eksplorasi manfaat buah-buahan lokal, sudah umum diketahui dapat meningkatkan nilai dari buah itu sendiri terutama nilai jualnya. M Saiful Bahri (penyair muda Pulau Madura) menuturkan dengan Mata Banua saat perjalanan di pulau Madura pada Jumat (20/4), mengenai manfaat buah siwalan untuk kesehatan.
            Buah siwalan atau buah lontar banyak terdapat di daerah-daerah pegunungan dan daerah-daerah yang berdekatan dengan laut. Biasanya orang mengambil buah ini untuk di makan langsung atau campuran minuman segar. Rasanya cukup enak seperti buah kolang-kaling atau daging kelapa muda.
            Ternyata siwalan bukan sekadar buah penyegar, melainkan juga disebut sebagai buah yang serba guna. Bagian buah tua untuk obat kulit (dermatitis), akar yang terdiri atas ekstrak akar muda untuk melancarkan air seni dan obat cacing. Rebusan akar muda (decontion) untuk mengobati penyakit yang terkait dengan pernapasan.
Manfaat bagian bunga siwalan atau abu mayang (spadix) dipercaya untuk pengobatan sakit lever. Adapun arang kulit batang digunakan untuk menyembuhkan sakit gigi. Rebusan kulit batang ditambah garam, berkhasiat sebagai obat pembersih mulut.
Daging buah muda yang berwarna putih kaca/transparan. Daging buah dewasa/tua warna kuning kemudian berubah menjadi serabut. Buah siwalan merupakan sumber karbohidrat berupa sukrosa, glukosa dan air. kadar protein dan lemaknya sangat rendah dibawah 1%, serta sedikit serat.
Buah siwalan yang masih mudah mengandung cairan yang tinggi. Satu pohon siwalan dapat menghasilkan sekitar enam liter nira. Cairan buah siwalan rasanya manis bercampur asam, disertai aroma khas. Cairan ini biasanya diminum dalam keadaan segar dan sangat cocok sebaga minuman isotonic seperti minuman sintetik yang ada di pasaran, bahkan lebih bagus karena alamiah.
Nira siwalan atau legen sangat mudah terkontaminasi karena mengandung nutrisi yang lengkap seperti gula, protein, lemak dan mineral yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroba.
Selain menyegarkan, ternyata ditemukan beberapa fakta bahwa legen bisa membantu kesehatan fungsi ginjal. Bahkan ada beberapa jenis legen (tergantung dari kualitas pohon) yang bisa mengobati penyakit impotensi dan menambah air mani. Tetapi perlu hati-hati dalam memilih legen, karena terkadang ada yang memalsukannya, dengan artian legen sintetik.
Untuk memastikan legen asli, biasanya berwarna seperti air kelapa namun lebih keruh, dan agak kental, serta rasanya manis tanpa ada pahit seperti bila minum minuman yang ngandung sakarin.
Legen akan menjadi minuman yang menyegarkan sekaligus menyehatkan bila masih berusia 0 hingga 2 hari. Jika sudah lewat dari dua hari, maka legen akan berubah menjadi tuak muda yang akan memiliki kadar alkohol di bawah 2 persen. Semakin lama rentan waktu yang dilewati legen, maka semakin banyak pula kadar alkohol yang ada di dalamnya, yang artinya legen tersebut sudah menjadi tuak yang memabukkan.
Cara pengolahan buah siwalan untuk memperbanyak air mani, dan untuk mempertajam pendengaran, yaitu:
Ambil kira-kira 9 butir buah ental. Ambil daging buahnya, dan iris-irislah menjadi beberapa potongan kecil. Rebus irisan buah ental tersebut di atas perapian dengan menggunakan air secukupnya sampai mendidih.
Bila sudah mendidih, campurlah dengan garam dapur dan gula aren secukupnya. Setelah itu angkat dari perapian dan gula aren secukupnya. Setelah itu angkat dari perapian, lalu dinginkan. Minumlah air rebusan beserta daging buahnya setiap tiga hari sekali.
Membeli langsung dengan penjual buah lontar yang berada di sekitar perkebunan, satu kantong plastik berisi 3 biji buah lontar Rp 1 ribu, dan satu botol nira (600 ml) Rp 2 ribu. Sangat murah dan terjangkau, dengan khasiat yang tinggi.
            Mendengar penjelasan manfaat kesehatan dari pohon dan buah siwalan, teringat akan banyaknya buah lokal yang ada di Kalsel. Namun eksplorasi manfaat dan kegunaannya sangat sedikit dilakukan dan diinformasikan, sehingga buah lokal hanya menjadi konsumsi lokal. ara/mb02

230412-senin(selasa)-Pungli Ruang Tunggu Penumpang Tanjung Perak (di ekonomi & bisnis hal 16).doc


Photo: mb/ara
PELAYANAN - Keadaan ruang tunggu penumpang di Pelabuhan Tanjungan Perak Surabaya minim pelayanan

Pungli Ruang Tunggu Penumpang Tanjung Perak

SURABAYA - Pelindo III Cabang Tanjung Perak (PIIICTP), pada Selasa (17/4) yang mengadakan sosialisasi pelayanan, dalam rangka penilaian Pelayanan Publik dan Pelayanan Prima yang diselenggarakan oleh Kemenpan (Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara) dan Kemenhub (Kementerian Perhubungan) untuk tahun 2012. Sosialisasi bertempat di ruang rapat Kalimas Pelabuhan Tanjungan Perak
            Sementara praktek dilapangan, banyak penumpang kapal laut merasa dirugikan dengan adanya double tarif untuk masuk ke dalam ruang tunggu penumpang Pelabuhan Tanjungan Perak. Diduga tarif yang kedua ini adalah pungli petugas PIIICTP.
            Sebelum memasuki ruang tunggu, penumpang harus melewati tiga petugas PIIICTP. Petugas pertama di depan pintu mengikatkan sejenis gelang kertas. Lalu penumpang menemui petugas kedua untuk dicatat nama dan usianya. Pada petugas ketiga, penumpang diminta membayar tarif masuk sebesar Rp 7500.
            Beberapa penumpang merasa heran dengan adanya pembayaran tersebut. Namun di bawah tatapan wajah-wajah sangar petugas yang tanpa senyum, dengan terpaksa penumpang membayarnya. Tanpa dapat mempertanyakan, mengapa kembali harus membayar.
             Zahri (53) penumpang kapal laut yang akan berangkat menuju pelabuhan Bandarmasih di Trisakti kota Banjarmasin, menuturkan dengan Mata Banua, pada Minggu (22/4) pagi. “Tidak tahu mas, aku bingung kenapa harus membayar lagi. Tadi ingin menanyakannya, tapi petugas sekuriti ruang tunggu memaksa agar cepat membayar. Padahal sewaktu membeli tiket kapal, aku sudah membeli dan membayar karcis untuk masuk ruang tunggu seharga Rp 7500. Sekarang membayar lagi, jadinya malah Rp 15 ribu” katanya.
              Penumpang lain menambahkan, bahwa ia mencurigai tarif pembayaran kedua untuk masuk keruang tunggu penumpang adalah pungli. Menurutnya kejadian seperti ini pernah terjadi, lalu menghilang setelah ada pengawasan ketat PIIICTP.
            Seharusnya petugas ruang tunggu penumpang hanya merobek karcis yang sudah dibeli sebelumnya, dan tidak lagi meminta pembayaran. Terkadang pembayaran menjadi lebih dari Rp 7500, karena petugas seringkali tidak memberikan uang kembalian penumpang apabila Rp 10 ribu, dengan alasan tidak ada uang kembalian.
“Misalkan ada 200 penumpang dikalikan Rp 7500, maka jutaan rupiah yang masuk kantong petugas ruang tunggu penumpang. Rata-rata penumpang kapal laut adalah buruh dan pedagang kecil, yang tidak mampu membeli tiket pesawat untuk bepergian jauh. Untuk menghemat biaya dengan naik kapal laut, tapi malah dipungli” ujar Aris. ara/mb06

110512-jumat(sabtu)-pasar tungging disdik (di ekonomi).doc


Photo: mb/ara
PASAR – Mengambil gaji sambil berbelanja di pasar tungging Disdik

Pasar Tungging Disdik Kota Banjarmasin

BANJARMASIN – Setiap awal bulan (bulan muda) selama satu hari pada saat pengambilan gaji guru, selasar luar perkantoran Disdik Kota Banjarmasin menjadi ramai dengan pedagang.
Beragam keperluan rumah tangga dari minyak goreng, susu, gula, hingga pakaian di gelar. Ada yang menggelar dagangannya diatas meja, diatas kotak, dan ada pula yang hanya menggelarnya di atas tanah dengan dilapisi alas.
Salah satu staf Disdik Kota Banjarmasin, menjelaskan kalau pasar ini sudah sejak lama ada. Dan kabarnya bulan depan (Juni 2012) akan dihentikan. Beberapa pedagang menjadi kaget ketika Mata Banua menanyakan komentarnya, apabila pasar tungging Disdik Kota Banjarmasin sudah tidak diijinkan lagi.
Hairin (40), sudah dua tahun berjualan di pasar tungging Disdik Kota Banjarmasin. Selain itu ia berdagang keliling di pasar tungging yang ada di kampung-kampung (manyasah pasar).
Hairin menyayangkan apabila pasar tungging Disdik Kota Banjarmasin tidak ada lagi. Menurutnya keuntungan berjualan di pasar tungging Disdik Kota Banjarmasin, lumayan. Dari dagangan keperluan rumah tangga yang ia jual, pendapatan kotor rata-rata Rp 500 ribu. Dagangan digelar dari  pukul 09.00 sd pukul 15.00 wita.
Siti Aminah, bendahara SMPN 14 Banjarmasin yang tengah membeli beberapa keperluan rumah tangga, juga menyayangkan bila pasar tungging Disdik Kota Banjarmasin dihilangkan.
Menurut Aminah, harga barang yang dijual di pasar tungging Disdik Kota Banjarmasin, lebih murah dari pasar biasa. “Keberadaan pasar tungging Disdik Kota Banjarmasin ini ada baiknya. Kami datang ke sini tiap bulan untuk mengambilkan gaji guru-guru di sekolah, sekalian bisa berbelanja keperluan rumah tangga” katanya.
Dilain pihak, Kepala Disdik Kota Banjarmasin, Hesly Junianto saat dimintai komentarnya mengenai keberadaan pasar tungging Disdik Kota Banjarmasin, pada Rabu (2/5) siang, menjelaskan bahwa keberadaan pasar tersebut tidak mengganggu aktifitas perkantoran. “Pasar ini bukan seperti pasar tungging umumnya, hanya pasar kecil biasa. Keberadaannya pun sudah sangat lama. Kalau ada kabar bahwa pasar ini akan di setop, rasanya kami tidak ada membicarakan hal itu. Adanya pasar ini, anggaplah untuk membantu ekonomi kerakyatan” ujarnya. ara/mb06

Sabtu, 31 Desember 2011

291111-selasa(rabu)-penjual ember keliling (Dm.di ekonomi)

Photo: mb/ara
KELILING – Penjual baskom keliling, tiap hari harus berjalan lebih dari 35 km, dari satu komplek ke komplek yang lain, keluar masuk kampung

Jual Baskom Keliling Untuk Biaya Sekolah Anak

MARTAPURA – Duk duk duk, dari jauh terdengar dua benda dibenturkan. Tampak seorang pria di berjalan di terik matahari, dengan membawa tumpukan baskom plastik di atas kepala dan digantung di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
            Suara duk duk berasal dari dua baskom kecil dan baskom besar yang dibenturkan oleh pria tersebut, untuk menarik perhatian masyarakat di wilayah perumahan yang dilewatinya.
            Raji (40 th) penjual baskom keliling, tiap hari harus berjalan lebih dari 35 km. Dari satu komplek ke komplek yang lain, keluar masuk kampung, dari Martapura hingga kota Banjarbaru.
            “Tumpukan baskom yang ada di kepala ini beratnya minimal 35 kg. Membenturkan dua baskom untuk menarik perhatian orang, kalau tidak tahu tekniknya bisa pecah.
Hari ini baru laku satu baskom kecil. Satu baskom paling untungnya Rp 3 ribu. Kalau lagi ramai bisa laku 7 baskom atau ember. Tapi bila lagi sepi, bisa saja tidak ada yang membeli” katanya bercerita kepada Mata Banua.
            Raji hanya mengenyam pendidikan hingga bangku kelas 3 SD. Jauh merantau dari kampung halamannya di Kota Probolinggo Jawa Timur, ke Kalimantan Selatan untuk mengumpulkan uang buat biaya sekolah dua putrinya.
            Di Kota Probolinggo, sebelumnya ia hanya seorang tukang bangunan. Putri pertamanya berusia 15 tahun duduk di kelas 1 SMA, dan putri ke duanya berusia 13 tahun duduk di kelas 2 SMP.
            “Sulit mencari kerja di Probolinggo, oleh karena itu aku merantau ke Kalsel. Apabila sudah terkumpul hingga Rp 300 ribu, baru dikirim ke sana.
Ini kulakukan untuk mencari uang buat biaya sekolah dua putriku, mudah-mudahan keduanya bisa sekolah hingga perguruan tinggi” harapnya dengan pandangan sendu, merindukan keluarganya yang nun jauh di seberang lautan. ara/mb06


251111-jumat(sabtu)-pasar terapung.1 dr mukhlis

Photo: mb/ara
RUSAK – Ibu Norasikin di Sungai Bakung Kec Sungai Tabuk sudah satu bulan lebih menganggur tidak bisa berjualan, karena sampan yang dipergunakannya untuk berdagang sayuran kepasar terapung selama ini sedang rusak

Kembangkan Pasar Terapung Yang Sudah Ada

BANJARMASIN – Pasar terapung yang di Festival Pasar Terapung Sungai Martapura, di depan Kantor Gubernur Kalsel di Banjarmasin. Dan rencana mengembangkan pasar terapung masuk kota di kawasan sungai jalan Japri Zam Zam, pada dasarnya adalah dibuat-buat.
Hal ini diungkapkan Drs Mukhlis Maman, dengan Mata Banua pada Kamis (24/11) malam.  Menurutnya, sesuatu yang dibuat-buat apalagi tidak pada tempatnya, di nilai dari sisi budaya tidak mempunyai makna, atau tidak alami.
Pasar terapung yang sebenarnya ada di pasar terapung Kuin perairan sungai Barito, dan pasar terapung Lok Baintan perairan sungai Martapura.
Pengertian budaya adalah sesuatu yang berkembang, dan tumbuh dari masyarakat. Kalau budaya itu dibuat-buat, maka tidak akan bertahan lama. Apa bila pemerintah ingin mengembangkannya, diperlukan kesungguhan yang maksimal dan waktu yang cukup lama.
Yang seharusnya dilakukan pemerintah, adalah membangun fasilitas dan inprastruktur yang memadai, untuk akses di pasar terapung yang sudah ada. Ekonomi masyarakat di sana diperbaiki, serta memberikan bantuan modal usaha bagi pelaku pasar terapung.
Sesuatu yang alami, mempunyai nilai yang lebih tinggi dalam pariwisata. Para wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan manca negara (wisman), cenderung mengunjungi tempat yang terbentuk secara alami. Bila masyarakat pelakun pasar terapung di tempat tersebut merasa diuntungkan, ia akan berkembang dengan sendirinya.
“Lebih baik memelihara dan mengembangkan pasar terapung yang sudah ada. Aku sependapat dengan Syarifuddin R, bahwa eksistensi kehidupan ekonomi pelaku pasar terapung, atau pedagang perahu (jukung) itulah yang lebih diutamakan.
Membuat pasar terapung yang baru, akan memakan biaya yang tidak sedikit. Lebih baik digunakan untuk memberi bantuan modal bagi pelaku di pasar terapung yang lama, dan memperbaiki fasilitas yang sudah ada. Ini lebih bermanfaat.
Apalagi aku dengar ada pelaku pasar terapung, yang kekurangan modal dan tidak punya duit untuk memperbaiki perahunya yang rusak, sehingga sudah satu bulan lebih tidak bisa berjualan.” ujar Mukhlis. ara/mb05

241111-kamis(jumat)-pasar terapung.1 dr p'syarifuddin

Photo: Drs H Syarifuddin R

Harus Konsisten Mengembangkan Pasar Terapung

BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel dan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, melalui instansi terkaitnya harus konsisten mengembangkan pasar terapung.
Hal ini diungkapkan Drs H Syarifuddin R, dengan Mata Banua pada Rabu (23/11) malam di tempat kediamannya.  Apa yang dikatakan Budayawan Kalsel tersebut, untuk mengingatkan bahwa pentingnya perencanaan yang berkelanjutan. Perencanaan yang tidak hanya sebagai slogan, atau program tahunan yang hanya dilaksanakan pada momen tertentu saja.
Seperti yang sudah diketahui, Pemprov Kalsel melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Prov Kalsel, menggelar Festival Pasar Terapung (FPT) pada 24-26 November 2011. Lokasi FPT di Sungai Martapura di depan Kantor Gubernur Kalsel di Banjarmasin.
Selain itu, terkait adanya rencana mengembangkan pasar terapung buatan masuk kota di kawasan sungai jalan Japri Zam Zam. Sebuah program dari Disporbudpar Prov Kalsel, yang akan bekerjasama dengan Pemkot Banjarmasin.
Menurut Syarifuddin R, program wisata isinya adalah hiburan. Sedangkan pasar terapung adalah ekonomi. Kalau hanya mengutamakan hiburannya, tanpa memperhatikan keberlangsungan ekonomi (usaha dagang) masyarakat pelaku pasar terapung, atau pedagang di sampan (jukung).
Maka pasar terapung tersebut, tidak akan bisa bertahan lama. Pada akhirnya wisata pasar terapung hanya menjadi slogan promosi dan propaganda yang tidak sesuai kenyataan. Menawarkan objek wisata, berarti menjaga dan merawatnya dengan baik, agar tetap terpelihara dan lestari.
“Orang berjualan tentunya harus ada untung, kalau rugi siapa yang mau. Setiap hari berjualan kalau tidak ada untung, mereka akan mati. Jadi eksistensi kehidupan ekonomi pelaku pasar terapung, atau pedagang di sampan itulah yang lebih penting” ujarnya. ara/mb05

241111-kamis(jumat)-pasang surut pedagang pasar terapung (Dm.di ekonomi)

Photo: mb/ara
RUSAK - Tidak punya duit untuk memperbaiki jukung yang rusak, agar bisa berjualan di pasar terapung

Pasang Surut Pedagang Di Jukung

SUNGAI TABUK – Sudah satu bulan lebih, ibu Norasikin (40) tidak berjualan. Karena sampan (jukung) yang dipergunakannya untuk berdagang sayuran kepasar terapung selama ini, sedang rusak.
Menurut penuturan ibu dua anak, yang diam di jl Kampung Baru, Sungai Bakung, Kec Sungai Tabuk ini, pada Rabu (23/11) sore. Ia tidak mempunyai uang untuk memperbaiki sampan, sehingga terpaksa istirahat berjualan.
Biasanya ibu Nor (panggilan akrabnya), di mulai dari pukul 5 pagi mulai mengayuh sampannya ke pasar terdekat di Sungai Tabuk (pasar di darat). Dari pasar ini ia membeli keperluan berdagang, seperti sayuran, ikan dll, dengan modal rata-rata Rp 700 ribu.
Kemudian sekitar pukul 7.30 Wita, agar lebih cepat sampai ke pasar terapung Lok Baintan, sampannya ikut bergandeng dengan perahu kelotok. Lama perjalanan bisa memakan waktu 30 menit sampai 1 jam. Biaya gandengan sekitar Rp 4 ribu per sampan.
Sesekali ibu Nor, membeli keperluan berjualan ke pasar terapung di Kuin. Perjalanan ke Kuin memakan waktu yang cukup lama, bergandengan dengan perahu kelotok saja bisa sampai 4 jam baru sampai.
Bila ingin ke pasar terpung di Kuin, ia berangkat pada sore hari, dan bermalam di Kuin hingga pagi hari. Barang dagangan yang di beli di pasar terapung Kuin, di jual ke pasar terapung di Lok Baintan.
Di Kampung Baru, Sungai Bakung, Kec Sungai Tabuk ada sekitar 10 pedagang di sampan. Keuntungan yang kecil dari berjualan, semakin membuat nasib pedagang tersebut tidak menjanjikan. Seperti pasang surutnya pasar terapung.
“Keuntungan dari berjualan tidak banyak, paling-paling hanya Rp 30 ribu sd Rp 40 ribu per hari. Kadang-kadang tidak laku atau sepi pembeli.
Di sini, kami tidak pernah mendapat bantuan modal usaha dari pemerintah daerah. Bahkan perahuku yang sudah rusak satu bulan lebih, tidak bisa diperbaiki karena tidak punya duit” ujarnya kembali dengan nada prihatin. ara/mb06


241011-senin(selasa)-Kfc+musik (di ekonomi)

Strategi Pemasaran KFC Merangkul Musisi

BANJARMASIN – Beragam cara pemasaran dalam menjual produk kepada konsumen, salah satunya seperti yang dilakukan oleh restoran cepat saji PT Fastfood Indonesia (KFC), dengan merangkul para musisi.
Konsumen selain mendapat makanan yang diinginkan, juga mendapatkan satu CD lagu dari musisi Indonesia. Sampai saat ini, KFC berhasil menjual sekitar 16 juta keping CD dari semua outlet yang ada di Indonesia. KFC mendapat keuntungan dari penjualan, dan musisi juga mendapat royalty dari CD yang dipasarkan oleh KFC.
Menurut Santoso Trimandiri Wibowo, Marketing Eksekutif  KFC pusat dari Jakarta, yang berhadir dalam promosi album Ahmad Dhani dan TRIAD yang bertajuk Istimewa, di KFC Duta Mall Banjarmasin, pada Sabtu (22/10) siang.
“Dengan hanya membeli paket yang ada di KFC, yang jumlah nilainya Rp 35 ribu, akan mendapatkan pula satu CD album lagu. Ini salah satu cara KFC dalam memberikan pelayanan kepada konsumen, dan misi kami untuk memajukan dunia musik tanah air dan mempertegas posisi KFC sebagai brandnya kawula muda.
KFC sudah menjalin kerjasama dengan musisi-musisi, dan penyanyi dalam negeri yang sudah punya nama besar. Untuk musisi-musisi baru, tidak menutup kemungkinan untuk turut dirangkul, kami selalu membuka peluang untuk semuanya” ujarnya kepada Mata Banua. ara/mb06

061011-kamis(jumat)-sedot pulsa (di ekonomi)

Pulsa Di Sedot Melalui SMS, Mayarakat Banjarmasin Turut Resah

BANJARMASIN – Beragam modus penipuan yang mampu menyedot pulsa korban, melalui pengiriman pesan singkat di nomor GSM atau CDMA, sudah sering terjadi. Baik berbentuk penawaran jasa pelayanan SMS premium atau konten, penawaran nada dering berupa lagu atau game, penawaran jualan pulsa, kuis dll.
            Keresahan masyarakat terhadap penipuan melalui SMS ini, bukan baru-baru ini saja mencuat, tapi sudah sejak lama dikeluhkan, dan berharap agar operator telepon seluler untuk mengambil tindakan. Sebab bukan hanya terjadi di kota Besar, namun mencapai hingga pelosok, yang terjangkau oleh sinyal telepon genggam.
            Beberapa warga di Banjarmasin pada Kamis (6/10) siang, menceritakan, Muzakir (42) pedagang bahan bangunan warga kelurahan Kebun Bunga, “aku sudah dua kali ganti nomer HP GSM, sebab pulsanya berkurang dengan sendirinya.
Nomer HP pertama, karena aku iseng memasang nada dering lagu. Setelah aku ingin berhenti memasang nada dering, dan mengirimkan pesan singkat Unreg justru menemui kegagalan, sementara pulsa terus kesedot.
Nomer HP kedua, aku tidak mau lagi memasang nada dering apapun. Bahkan pesan singkat penawaran apapun kuabaikan saja. Tapi karena SMS penawaran dan SMS meminta pulsa seperti “papa tolong kirimkan pulsa dst” terus saja masuk, aku menjadi kesal. Maka aku balas dengan SMS umpatan, tahu-tahu malah pulsa kembali tersedot terus menerus.
Kartu perdana memang murah, dan mudah ganti nomer HP, tapi bila kenalan atau pelanggan yang ingin menghubugi di nomer yang sudah diganti, karena mereka belum tahu nomer yang baru, tentunya ini sangat merugikan bagiku” ujarnya.
Sementara Arsyad (39) yang bekerja sebagai PNS, mengaku pulsanya juga tersedot. Sampai sekarang ia tidak pernah memasang konten atau menanggapi penawaran apapun melalui SMS, tapi meski diabaikan pulsanya tetap tersedot.
            Lain lagi dengan Faisal (33) warga Kelayan B yang berprofesi sebagai supir, ia merasa sangat terganggu dengan pesan-pesan iklan yang dikirimkan oleh operator seluler. “kalau satu hari cuma satu SMS iklan, tidak apa-apa. Tapi kalau sampai lebih dari lima kali, walau isinya berlainan, ini yang bikin kesal” pungkasnya. ara/mb06
           

051011-rabu(kamis)-ikan & tahu berformalin (Dm.di ekonomi)

Photo: mahfuz

Warga Keluhkan Pedagang Yang Menjual Ikan Dan Tahu Berformalin

BANJARMASIN – Beberapa warga Banjarmasin, kembali mengeluhkan adanya pedagang yang menjual ikan dan tahu, yang mengandung formalin. Meski secara kasat mata kandungan formalin dalam produk pangan hasil laut sulit dideteksi, dan kebanyakan konsumen maupun pedagang ikan, masih kesulitan untuk membedakan ikan berformalin atau yang tak berformalin.
Mursiah (57), salah satu warga di kelurahan Kebun Bunga, pada Rabu (5/10) pagi, menuturkan “kemaren aku menitip ikan dengan kenalan yang akan berbelanja di pasar A Yani II, dari warna kulitnya ikan yang dibelikannya, memang kelihatan bagus, tapi  teksturnya lebih kaku. Tidak seperti ikan segar lainnya, yang sering di beli. Karena curiga aku tidak jadi menggorengnya”.
Warga lainnya, Juairiyah (38) mengaku membeli tahu goreng, tapi setelah ia memakannya, kepala menjadi pusing dan perut terasa mual.
Mungkin tidak semua pedagang menjual produk berformalin, tapi warga mengharapkan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mengambil tindakan. Baik melakukan inpeksi pasar, maupun penyuluhan terhadap bahaya formalin, dan bahan pengawet kimia berbahaya lainnya. Sebelum semakin banyak jatuh korban di kota Banjarmasin. ara/mb06

120711-selasa(rabu)-penjual bakul purun (di ekonomi)

Photo: mb/ara
MUSIM LAKU – Bagi penjual peralatan dan perlengkapan tradisional, ada musim-musim tertentu yang banyak di serbu pembeli

MOS Panen Bagi Penjual Bakul Purun

BANJARMASIN – Tahun ajaran baru, hari pertama masuk sekolah bagi siswa baru, dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS), beberapa hari sebelumnya, menjadi hari panen bagi bagi pedagang bakul purun.
            Menurut pengakuan wahid (35) penjual peralatan tradisional perlengkapan rumah tangga di pasar Ahad Km 7, mengatakan “beberapa hari sebelum anak-anak masuk sekolah, bagi siswa baru, banyak yang membeli bakul purun, dalam satu hari bisa habis 20 kudi (satu kudi yaitu 20 buah).
            Tapi kalau hari-hari biasa, paling laku sekitar 1 kudi per hari. Bakul purun ada yang mengantar dari Lianganggang ke pasar ahad ini, biasanya seminggu sekali. Jadi kalau tidak menghadapi hari-hari atau waktu-waktu tertentu, paling-paling mengambil dari pengantar bakul purun sekitar 5 kudi per minggu” ujarnya.
            Wahid menjual satu buah bakul purun yang kecil Rp 2 ribu, dan satu buah bakul purun yang besar Rp 3 ribu. Keuntungan dari satu buah bakul purun katanya sekitar Rp 5 ratus.
            Selain menjual bakul purun, Wahid juga ada menjual satu lembar tikar purun polos Rp 25 ribu, dan satu lembar tikar purun warna Rp 30 ribu, dengan keuntungan per lembar Rp 3 ribu, satu hari rata-rata terjual 2 lembar. Tikar purun yang ia jual berasal dari Amuntai.
            Kalau bakul purun yang ramai di cari siswa baru, lain lagi dengan cupikan (tempat beras), menurut Wahid, akan banyak di beli petani bila sudah musim panen padi. Satu buah cupikan ia jual dengan harga Rp 30 ribu, dengan keuntungan Rp 5 ribu per buah.
            Tapi, kalau mendekati musim tanam padi lain lagi ceritanya, ungkap Wahid “saat mendekati musim tanam padi, adalah saat mencari ikan, maka banyak yang mencari tampirai (alat menangkap atau menjebak ikan). Satu buah tampirai kecil ia jual dengan harga Rp 50 ribu, tampirai sedang Rp 100 ribu, dan tampirai besar Rp 150 ribu.
            Menjual perlengkapan tradisional seperti ini, ada musim tertentu yang ramai dicari pembeli. Beberapa hari kedepan, ketika mahasiswa baru mau masuk ke kampus, bakul purun akan ramai lagi di beli” pungkas Wahid yang sudah berjualan di pasar Ahad, sejak tahun 90-an. ara/mb06

140611-selasa(rabu)-EMKL resah (Dm.di Ekonomi & Bisnis hal.9)


Photo: mahfuz

Pemberlakuan Pembayaran Tunai THC Meresahkan EMKL

BANJARMASIN – Adanya pemberlakuan pembayaran tunai Terminal Handling Countiner (THC) pada saat pengambilan oleh beberapa pelayaran besar, meresahkan para Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) kecil yang tergabung dalam GAPEKSI Kalsel. Keresahan yang berujung dengan aksi demonstrasi EMKL pada Senin (13/6) siang, di pelabuhan Trisakti.
            Selasa (14/6) siang, Sekertaris DPW GAPEKSI Kalsel, Makmur Simambea memberikan penjelasan kepada Mata Banua, terkait aksi demonstrasi yang telah dilakukan, ia mengatakan “aksi kami bermula dari adanya surat edaran tertanggal 28 Mei dari beberapa perusahan pelayaran besar, yang akan memberlakukan THC harus dibayar tunai kurang lebih sekitar Rp1825000 per container pada saat pengambilan.
Bagi pengusaha besar angka tersebut tidak berarti, tapi bagi EMKL angka tersebut sangat membebani, EMKL adalah usaha jasa kecil yaitu usaha rakyat, yang mempunyai keterbatasan dalam segala hal.
Kesewenang-wenangan pengusaha pelayaran besar, dengan membuat surat edaran, langsung kepada pengguna jasa, tanpa melalui asosiasi GAPEKSI, atau asosiasi terkait kepelabuhanan. Juga tidak memberitahukan kepada pengelola pelabuhan, yaitu PT Pelindo III, dan kepada administrator pelabuhan Banjarmasin selaku regolator. Seharusnya, penentuan tarif harus disepakati bersama-sama, tidak hanya diputuskan secara sepihak.
            Oleh karena itu, kami menuntut  PT Pelindo III dan kepada administrator pelabuhan Banjarmasin, agar bertindak tegas menyelesaikan permasalahan ini dan berpihak dengan pengusaha kecil.
            Apabila dalam beberapa hari kedepan tidak ada penyelesaian dan keputusan, kami akan kembali melakukan aksi yang lebih besar. Dan akan kami ungkap semua kesalahan dan permasalahan yang terjadi seputar pelabuhan. ara/mb06

120611-minggu(senin)-penjual rambutan minta lagi (Dm.di Ekonomi & Bisnis hal.9)


Photo:mb/ara
RAMBUTAN – Buah rambutan pertama dalam suatu musim, tetap laris walau harganya sedikit mahal

Minta Lagi Buah Rambutan Pertama

BANJARBARU – Di sepanjang jalan Ahmad Yani Km 22 Landasan Ulin Banjarbaru, tampak terlihat para pedagang buah yang menggelar dagangannya di pinggir jalan provinsi Kalsel ini. Rata-rata para pedagang buah tersebut adalah pedagang buah musiman. Ada pedagang buah Sawo, Durian dan Rambutan.
            Buah pertama pada suatu musim, selalu laris manis di serbu pembeli. Kesempatan pasar inilah yang dimanfaatkan oleh Usai (37), satu-satunya pedagang buah rambutan yang ada disana, dengan Mata Banua pada Sabtu (11/6) sore, ia mengatakan “aku berjualan di sini tergantung situasi musim buah lokal, artinya buah apa yang lagi ada di musim tersebut.
Sudah tiga hari aku berjualan di sini, buka dari sekitar pukul 09.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita, yang ramai pembeli biasanya pada sore hari. Buah rambutan yang aku jual ini namanya Rambutan Minta Lagi, berasal dari daerah Basarang di Kuala Kapuas dan ada yang mengantar kesini.
Satu ikat ada 10 biji rambutan, harga modalnya satu ikat antara Rp4 ribu sd Rp4500, dijual dengan harga antara Rp5 ribu sd Rp 6 ribu satu ikatnya” ujarnya.
Menurut Usai yang berdomisili di Gambut dan mempunyai 4 anak, ia pernah berjualan buah Kuini, tapi rugi. Setelah itu ia belajar melihat situasi, yaitu buah mana yang masih belum banyak orang menjualnya, apalagi itu adalah buah pertama dalam suatu musim buah.
Biasanya ia sekali mengambil buah Rambutan antara 125 ikat atau 150 ikat, yang terkadang habis terjual. Apabila tidak habis dalam satu hari, sisanya di jual besoknya dengan harga yang lebih murah, karena sudah tidak segar lagi. “tapi Alhamdulillah, keuntungannya cukup untuk keperluan di rumah sehari-hari” pungkas Usai. ara/mb06

Jumat, 30 Desember 2011

220511-minggu(senin)-WALHI petani tolak sawit3.kondisi ekonomi


Photo: mb/ara
LAHAN – Areal lahan produktif, sumber penghasilan masyarakat yang akan dialih pungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit

Perekonomian Mayarakat Lebih Baik Tanpa Perkebunan Sawit

BANJARBARU – Bagaimana kondisi perekonomian masyarakat Kecamatan Gunung Makmur Desa Handil Birayang Atas dan Handil Birayang Bawah, sehingga menolak di bukanya perkebunan kelapa sawit, lebih jelas terungkap dalam perbincangan Mata Banua dengan Dwitho Frasetiandy Manager Kampanye WALHI Kalsel, di Sekretariat Walhi Kalsel di Banjarbaru pada awal Mei yang lalu, Senin (9/5) malam.
Dari data yang diperlihatkan Andy:
Kondisi areal yang di rencanakan untuk perkebunan berada di desa handil birayang atas dan handil birayang bawah, merupakan hutan rawa yang menjadi sumber ekonomi masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Gunung Makmur, Kecamatan Bati-Bati dan Kecamatan Kurau.
Lebih dari 5000 jiwa mengandalkan sumber ekonomi dari hutan galam tersebut. adalah Desa Handil Birayang Atas, Handil Birayang Bawah, Handil Gayam, Handil Babirik (kecamatan Gunung Makmur), Desa Liang anggang dan Desa Pandahan (kecamatan Bati-Bati), Desa Kali Besar, Handil Negara (Kecamatan Kurau).
Sumber Daya alam yang di manfaatkan dari Hutan Galam yaitu sumber Perikanan dan kayu galam (sebagai komoditi kayu bakar) dan mampu memberikan penghasilan rata-rata masyarakat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu perhari
Dari 3000 Ha hutan rawa yang tersisa 1800 berada di desa handil birayang atas dan handil birayang bawah yang rencananya akan di alih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit PT KJW.
            Menurut Andy “masyarakat tentu menolak adanya perkebunan kelapa sawit di lahan rawa mereka, karena konsisi ekonomi mereka saat ini cukup baik, dan apabila perkebunan dibuka akan banyak mata pencarian masyarakat, yang bergantung dengan lahan rawa akan hilang.
            Luas wilayah Desa Handil Birayang atas adalah 20 Km persegi, dengan tingkat kepadatan penduduk 55 jiwa per Km persegi, dan Desa Handil Birayang Bawah 16 Km persegi, dengan tingkat kepadatan penduduk 35 jiwa per Km persegi (Data statistik tahun 2008)” ujarnya.
Lanjut Andy “Desa Handi Birayang Atas kurang lebih memiliki 300 KK, dan Handil Birayang Bawah kurang lebih 284 KK. Dari masyarakat kedua desa tersebut, 80 persen memiliki lahan pertanian rawa, dengan tingkat produksi  rata-rata 4,5 ton gabah perhektar pertahun, untuk jenis padi tahunan (siam unus) dan 13.4 ton gabah perhektar pertahun untuk jenis padi  IR dan sejenis  (masa tanam 2 kali setahun).
Selain mengupayakan lahan pertanian, masyarakat kedua desa tersebut juga memanfaatkan perikanan, dan kayu galam sebagai sumber utama penghasilan mereka. Setidaknya dari sumber perikanan masyarakat, memperoleh penghasilan rata-rata Rp65 ribu perhari, dan dari pemanfaatan kayu galam memperoleh penghasilan rata-rata Rp100 ribu perhari.
Dari data diatas, telah jelas kondisi perekonomian masyarakat. Tapi bila di buka perkebunan kelapa sawit, banyak masyarakat yang akan kehilangan penghasilan. Walaupun perkebunan kelapa sawit telah panen, belum tentu penghasilan mereka akan lebih baik dari sekarang ini” pungkasnya. ara/mb05