Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 06 (Juni) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 06 (Juni) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

290611-rabu(kamis)-PKB sekretariat baru


Photo: mb/ara
SYARAT – Syukuran kantor DPW PKB Kalsel yang baru di dalam kota Banjarmasin, sebagai persyaratan untuk mengikuti pemilu

DPW PKB Kalsel Pindah Kantor

BANJARMASIN – Karena harus memenuhi persyaratan dari Kesbanglimas provinsi, mengenai domisili kantor partai, maka sekretariat DPW PKB Kalsel pindah ke gedung yang baru di dalam kota Banjarmasin.
            Sebelumnya kantor DPW PKB Kalsel berada di Km 7, di luar dari pintu gerbang kota Banjarmasin di km 6, yang secara wilayah, lokasi kantor DPW PKB Kalsel tersebut berada di kabupaten Banjar.
            Peresmian kantor DPW PKB Kalsel yang baru di km 3 dalam kota Banjarmasin, pada Senin (27/6) malam tidak dihadiri oleh Ketua DPW PKB Kalsel Mulyadi Mangin, karena masih dalam keadaan sakit.
Namun beberapa ketua DPC kabupaten/kota, seperti Ketua DPC PKB Banjarmasin Budi Wijaya, dan Ketua DPC Kabupaten Banjar Saleh Yusran, turut hadir  menemani utusan DPP PKB yaitu ketua bidang organisasi dan kaderisasi Ahmad Ni’am Salim, yang akan meresmikan penggunaan sekretariat baru PPW PKB Kalsel.
Seusai acara peresmian, sekertaris DPW PKB Kalsel Hilyah Aulia, menjelaskan “sesuai dengan ketentuan Kesbanglimas provinsi, untuk mengikuti pemilu persyaratannya domisili kantor DPW partai harus berada di dalam kota Banjarmasin.
Maka pada malam ini kita meresmikan kantor baru, dengan rangaian acara yaitu sholat hajat bersama, peringatan Isra Mi’raj, dan pemotongan nasi tumpeng ala Banjar yaitu nasi kuning. Selain itu juga sekaligus mendoakan ketua DPW PKB Kalsel agar cepat sembuh.
Kantor lama di km 7, sementara masih kami gunakan untuk pemenangan pemilu. Sedangkan kantor baru di km 3 ini, sebagai administrasi DPW PKB Kalsel” katanya.
            Dilain pihak, ketua bidang organisasi dan kaderisasi DPP PKB Ahmad Ni’am Salim, menambahkan “saya sudah sering menghadiri peresmian kantor DPW PKB yang baru. Di republik ini ada 33 provinsi, tapi saya menghadiri pembukaan kantor baru lebih dari 33 kali.
Biasanya perpindahan kantor itu karena ada konflik internal partai, tapi saya tahu, DPW PKB Kalsel pindah kantor, bukan karena konflik, tapi karena tuntutan konstitusi yaitu tuntutan undang-undang pemilu, bahwa kantor partai harus berada pada ibukota tingkatannya masing-masing.
Mengenai perifikasi, secara nasional PKB sudah sangat siap, pada 27 Juli tadi, kami sudah mendaftar di Depkumham, pada hal batas akhirnya pertengahan Agustus” ujarnya.
Menurut Ni’am “meskipun tanpa ketua DPWnya, PKB Kalsel masih berjalan dengan baik, bahkan dari 13 DPC, tinggal 3 DPC yang belum memenuhi mendapat persyaratan terdaftar dari Kesbanglimas.
Dan DPP tidak ingin ada satu DPC pun yang tidak mendapat surat keterangan terdaftar di Kesbanglimas. Karena tidak mau ada satu suara umat pun yang akan terlewat” pungkasnya. ara/mb05


270611-senin(selasa)-PA.depsos kalsel.3 (Dm.050711)


Panti Asuhan
Masih Ada PA Yang Tidak Terdaftar Di Dinsos

PANTI Asuhan Anak Terlantar (PAAT) yang terdaftar di Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalsel, ada 19 buah PAAT. Selain dari itu masih ada beberapa PA yang belum memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah.
            Dalam perbincangan Mata Banua dengan Noor Ifansi Fran, Staf Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinsos Provinsi Kalsel, beberapa waktu yang lalu, mengatakan “dari jumlah keseluruhan (se Kalsel) perbandingan anak laki-laki dan anak perempuan dalam panti yaitu 70:30, jadi lebih banyak anak laki-laki.
Sedangkan untuk PA sendiri masih ada yang belum memenuhi persyaratan yang ditentukan, sehingga belum terdaftar. Karena belum terdaftar, maka akan menemui kesulitan dalam pemberian bantuan.
Persyararatan PA antara lain ada anak yang diasuh, ada akta notaris, ada pengasuh dan asramanya, kemudian ada surat dukungan dari masyarakat yang di ketahui oleh RT, RW, Lurah dan Camat.
Selain itu, kendala lain dari Dinsos, dalam memberikan bantuan adalah pada nomor rekening PA, karena nomor rekening mereka masih atas nama ketuanya, bukan atas nama pantinya” ujarnya.
Mengenai pembinaan terhadap PA, Ifansi berkata “Dinsos mempunyai program pembinaan terhadap PA, baik pembinaan keahlian untuk anak-anak panti, ataupun pelatihan Usaha Produktiv (UP) untuk pantinya. Selama ini, 80 persen dari anak-anak panti yang dibantu (pelatihan dan pemodalan) dari Dinsos, sudah mandiri. Dan di 2011 ini diharapkan yang mandiri akan meningkat menjadi 85 persen.
Tapi tahun ini (2011) pembinaan lebih difokuskan untuk pelatihan pengasuh PA, agar mereka bisa membina anak-anak dengan baik. PA yang paling baik pembinaannya terhadap anak-anak asuhnya, menurut penilaian kami adalah PA Sultan Suriansyah” pungkasnya. araska

270611-senin(selasa)-festival teater Bana (Dm.300611)


Photo: mb/ara
PARADE – Sanggar Budaya menjadi penutup pementasan teater pada parade teater yang dilaksanakan oleh Bina Anak Nusantara di gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel

Parade Teater 13 Sanggar

BANJARMASIN – Dengan Seni Tingkatkan Wawasan Kebangsaan Dalam Konteks Pembangunan Nasional, menjadi tema dalam kegiatan Parade Teater 2011 untuk umum dan pelajar, pada 25 sd 26 Juni yang lalu, di gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel.
            Parade teater dilaksanakan oleh oleh Bina Anak Nusantara (bana) yang bekerja sama dengan Kementrian Dalam Negeri dan Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi.
            Pembukaan parade pada Sabtu (25/6) pagi, di isi dengan persembahan tari Radap Rahayu dari sanggar tari STKIP PGRI Banjarmasin dan persembahan madihin. Kemudian dilanjutkan dengan parade teater yang di ikuti oleh sangar Halilintar, sanggar Taqdif, Sanggar Tititan Berantai, sanggar TGA, sangar Wasi Putih, Teater Banyu, Sanggar Telinga, Sanggar Sampan, Annahal Oeganizer, Espass Teater, Teater WOW dan pementasan terakhir pada Minggu (26/6) malam di tutup dengan persembahan teater dari Sanggar Budaya.
Mengenai latar belakang dilaksanakannya parade teater, Dedy Purnama ketua bana, di tengah berlangsungnya pementasan terakhir, menjelaskan kepada Mata Banua “kesenian adalah sebagai nilai tambah kultural, maka pembangunan kesenian daerah merupakan pembangunan nilai-nilai seni dan apresiasi seni, demi meningkatkan kemartabatan seniman dan masyarakat. Sekaligus juga meningkatkan mutu seni dan apresiasi terhadap kesenian.
Kegiatan ini, kami namakan yaitu menjalin persaudaraan dengan membangun mimpi bersama di atas pentas. Dengan tujuan untuk meningkatkan jalinan silaturahmi, kepada generasi muda dan masyarakat umumnya. Mengembangkan kreatifitas seni dan budaya berwawasan kebangsaan. Sebagai sarana pengenalan pengetahuan teater itu sendiri, di kalangan mahasiswa, masyarakat umum dan pelajar dalam konteks pembangunan nasional.
Kemudian nilai moral dan kepekaan intelektual serta keindahan, yang menjadi tujuan kegiatan. Proses yang berkelanjutan dalam pendewasaan organisasi disiplin seni. Memberikan pengalaman bagi generasi muda tentang teater inovatif, kreatif dan imajinatif. Menciptakan suasana keakraban antar insan teater, dan sebagai ajang saling tukar menukar informasi, secara insan seni dalam konteks pembangunan moral. Serta membuat komunitas seni yang independent” ujarnya.
Sebelumnya, seusai pembukaan parade teater, Hendra Susilo, Kasi II Subdit Masalah Sosial Kemasyarakatan Kemendagri, dan Puji Astuti dari Kesbangpolinmas Provinsi, senada mengatakan bahwa, dalam Kemendagri dan Kesbangpolinmas Provinsi ada departemen yang membidangi seni dan budaya, sehingga akan selalu memberikan dukungan dengan kreatifitas anak muda. ara/mb05

260611-minggu(senin)-PA Putri Intan Sari (Dm.280611)


Photo: mb/ara

MANDIRI – Agar tidak tergantung dengan donator, PA Putri Intan Sari membuat usaha mandiri untuk menghidupi anak-anak asuhnya

PA Putri Intan Sari
Usaha Mandiri Untuk Menghidupi Panti

SETIAP Hari Panti Asuhan (PA) Putri Intan Sari terlihat tidak pernah sepi, karena banyak anak-anak warga sekitar yang bersekolah di TK Al Quran yang dibangun di depan PA Putri Intan Sari oleh Yayasan Intan Sari.
Ada dua PA yang di asuh oleh Yayasan Intan yaitu PA untuk Putri dan PA untuk Putra, dan sebagai pembinanya adalah H Ahmad Husaini. PA Putri Intan Sari didirikan pada 14 April 2000, terletak di Jalan HKSN, Komplek Kebun Jeruk Permai, Kelurahan Kuin Utara.
Untuk panti asuhannya, Yayasan Intan Sari mempunyai visi mewujudkan kemandirian dalam pembangunan kesejahteraan sosial, dan dengan misi peningkatan SDM anak, peningkatan pelayanan anak, peningkatan kesehatan serta peningkatan kemandirian anak.
Dua puluh tahun sudah H Ahmad Husaini (60) mengabdi di PA, dan pengalamannya selama menjadi guru dan kepala sekolah di SD, sangat membantunya dalam membina anak-anak di panti. Ia menjadi guru pada 1952 dan pensiun pada 1982, terakhir menjadi kepala sekolah di SDN Rahmatillah.
Kepada Mata Banua, Husaini menuturkan” selama 11 tahun berdirinya PA Putri Intan Sari, sudah ada 8 anak putri yang purna asuh dan sudah mandiri serta berkeluarga. Walau begitu mereka tidak pernah lupa dengan kami disini, paling tidak satu tahun sekali mereka datang mengunjungi PA nya.
            Saat ini PA Intan Sari mempunyai 25 anak putri, yang paling muda dengan umur kurang lebih 6 tahun. Tingkat pendidikan, untuk SD ada 5 anak putri, untuk SMP ada 13 anak putri, dan untuk SMA/SMK ada 7 anak putri. Prestasi mereka di sekolah cukup baik, rata-rata masuk dalam 10 besar peringkat di kelas masing-masing.
            Untuk transportasi sekolah anak-anak, panti mempunyai mobil antar-jemput apabila sekolah mereka jauh, yang sekolahnya dekat bisa saja naik sepeda. Mobil antar-jemput itu atas bantuan dari donator” katanya.
            Pasilitas ruangan di PA Intan Sari cukup lengkap, selain kamar tidur, ada pula disediakan ruangan belajar atau tempat berkumpul anak-anak panti. Kata Husaini “di sini ada 5 kamar, satu kamar ada 4 atau 5 anak. Awalnya teman sekamar kami pilihkan, tapi sekarang mereka memilih sendiri teman sekamarnya yang cocok. Masing-masing anak, mempunyai jadwal tugas harian hingga satu minggu.
            Tadarus Al Quran dan sholat lima waktu menjadi rutinitas wajib bagi anak-anak, apabila melanggar akan dapat sangsi, seperti potong uang saku. Tiap anak dibuatkan tabungan rekening masing-masing, yang boleh diambil bila ada keperluan mendesak bagi mereka” ujarnya.
Tempat dan latar belakang keluarga anak-anak sangat beragam, berkaitan dengan ini Husaini menceritakan “anak-anak berasal dari berbagai daerah di Kalsel, tapi yang paling banyak berasal dari Kalteng, bahkan ada yang dari pedalaman Kalteng yaitu di Sungai Buluh. Rata-rata orang yang mengantar mereka kemari, dan ada pula yang dulunya anak dari keluarga kaharingan yang setelah masuk disini kemudian menjadi muslim.
Latar belakang kehidupan mereka yang berasal dari lingkungan yang tidak tertata, sehingga sulit diatur, tentunya setelah masuk di sini, perlu kesabaran dan usaha keras dalam membinanya.
Terkadang ada pula, keluarga dari si anak, yang terlalu jauh mencampuri pembinaan di sini. Sehingga berdasarkan kesepakatan kami dengan pihak keluarga, lebih baik si anak dikembalikan dengan keluarganya.
Dalam satu bulan biaya makan anak sekitar 5 juta, ditambah dengan uang saku, biaya listrik dll. Tapi dibanding pemasukan ada saja lebihnya. Karena masyarakat di sini cukup peduli dengan kehidupan anak-anak panti.
Ada beberapa usaha yang dibuat yayasan, seperti penyewaan tenda, pembuatan kusen, penggemukan sapi, membangun TK Al Quran (putra dan putri), dan membangun satu SD. Kami menekankan kemandirian dalam menghidupi panti, agar tidak tergantung dengan donator” pungkasnya. ara/mb05

260611-minggu(senin)-H Matani


Photo: H Matani

Ragam Keahlian Tokoh Tua Yang Tersisa

BANJARMASIN - Tidak banyak kini tersisa, tokoh tradisional daerah yang mempunyai beragam keahlian, baik dalam tradisi suku maupun kesenian tradisional Banjar. Ragam keahlian yang memang bermula dari kecintaan akan kesenian tradisi daerah, yang sepatutnya dicontoh oleh generasi muda.
H Matani adalah salah satu tokoh keturunan dayak Bakumpai yang bisa melakukan ritual pengobatan tradisional Badewa, keahliannya bukan cuma sebagai Padewa (sebutan untuk ahli pengobatan Badewa), tetapi juga sebagai seniman. Dalam sanggar Seni Sinar Pusaka Selidah yang dibinanya, terdapat beragam kesenian tradisional Kalsel, seperti wayang kulit, wayang gong, mamanda, kuda gepang, tari topeng, musik panting, dan beladiri tradisional Kalsel yaitu kuntau.
Menurut H Matani dalam bahasa Banjar berlogat Dayak, ia menuturkan pada akhir April yang lalu “seorang pemain wayang gong harus bisa ilmu beladiri kuntau dan menari, dalam ilmu beladiri aku menguasai jurus bangkui dan simbing, yang aku pelajari dari empat orang guru yang semuanya sudah meninggal dunia, antara lain guru kuntau Marjunit, Jagau, dan Biye. Rata-rata dalam seni beladiri pertarungan, jurus-jurus kuntau sangat mematikan.
Kalau bermain wayang gong, aku berperan sebagai Hanoman Pancasona, apabila bermain mamanda, aku berperan sebagai menteri atau pembantu raja) kata H Matani yang sudah belajar kesenian semenjak umur 14 tahun” katanya kepada Mata Banua di tempat kediamannya yang telah ditempati selama 16 tahun, yaitu di jalan Arya Bujangga kelurahan Berangas Timur.
H Matani atau dikenal dengan panggilan pak Rudi, dilahirkan pada 27 April enam puluh tahun yang lalu. Rudi adalah nama anak pertama H Matani. Sedangkan mengenai kemampuannya sebagai Padewa, sudah dikuasainya semenjak 30 tahun yang lalu, tepatnya semenjak 1981 dan lebih dari 4290 pasien yang sudah ia tangani. “Alhamdulillah semua sembuh setelah diobati” katanya memberikan penjelasan.
Menurut H Matani, kemampuan Padewa yang dimilikinya diwarisi dari leluhur, ia adalah keturunan ke enam dari datu kutai dan datu radap (dua saudara). Dalam keturunan keluarganya, sejak datu kutai, kemampuan Padewa selanjutnya diwarisi oleh Bukusin, lalu di warisi oleh H Jahri, hingga kemudian di warisi oleh H Matani.
Jalur pewarisan Padewa, tidak harus dari satu garis keturunan dan hanya bisa di warisi oleh keturunan laki-laki saja, tapi dari ketutunan perempuan juga bisa mewarisinya. Bisa saja dari keturunan pihak saudara melompat ke saudara yang lain, atau yang mulanya dari pihak ibu, kemudian diwarisi oleh keturunan pihak paman, tetapi semuanya masih bermula dari keturunan awal yang pertama sebagai Padewa yaitu datu Kutai.
Oleh karena itu, tidak semua keturunan, sanggup menjadi Padewa, karena memang harus mempunyai jiwa yang kuat, dan katanya “urang nang kada jujur wan mancari harta haja kada kawa manjadi Padewa, sualnya gasan manulung urang kada bulih maminta bayaran (orang yang tidak jujur tidak bisa menjadi Padewa, karena untuk menolong orang yang kesusahan tidak dibolehkan meminta bayaran)” pungkas H Matani. ara/mb05

240611-jumat(sabtu)-silaturahmi BKPRMI Kalsel


Photo: mahfuz

Mengembalikan Tugas Pokok BKPRMI Kepada Khittahnya

BANJARMASIN – Seiring perjalanan waktu, terjadinya pergeseran konsentrasi kegiatan dari BKPRMI, sehingga melupakan tujuan pokok yang sebenarnya.
Kamis (23/6) malam, BKPRMI Kalsel melaksanakan kegiatan Peringatan Isra Mi’raj ke 1434 H, dan sekaligus sebagai silaturahmi keluarga besar BKPRMI Kalsel, bersama ketua umum pimpinan pusat Himpunan Keluarga Besar BKPRMI Abdurrahman Tardjo SH, bertempat di gedung Mahligai Al Qur’an Banjarmasin.
            Dalam pesannya, Abdurrahman Tardjo SH menceritakan “semenjak 1972 di Tasikmalaya, nama awal adalah Badan Komunikasi Pemuda Masjid (BKPM), situasi saat itu dalam suasana politik yang tidak menentu, karena setiap pendapat yang berbeda dengan pemerintah, serta setiap kegiatan yang melibatkan orang banyak, akan dicurigai dan akan berhadapan dengan hukum.
Hingga pada 1977, BKPM berkembang menjadi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dan mengakar keseluruh Indonesia. Semenjak BKPRMI di bentuk hingga sekarang, telah banyak kiprah yang telah dilakukan, entah turut serta mewarnai perubahan politik bangsa, maupun dalam pembinaan generasi muda, khususnya pada remaja masjid.
Seiring perjalanan waktu, konteks pokok pembinaan BKPRMI mulai tergeser pada sub pokok tujuan, yaitu terlalu asik pada program TK Al Qur’an, sehingga melupakan tujuan pokok yang sebenarnya yaitu pembinaan pemuda. Maka mari kita kembalikan BKPRMI kepada khittah tujuan pokok yang sebenarnya.
Kemudian adanya usia anggota pengurus BKPRMI yang sudah tidak digolongkan sebagai pemuda lagi, untuk itu mari kita isi pengurus BKPRMI dengan generasi muda. Sementara itu, terjadi pula tugas kepengurusan yang rangkap, antara pengurus BKPRMI tapi juga pengurus keluarga besar BKPRMI (alumni), atau terjadinya saling berebut program kegiatan antara pengurus BKPRMI dengan pengurus keluarga besar BKPRMI.  Hendaknya masing-masing harus mempunyai program sendiri-sendiri” katanya.
Abdurrahman Tardjo juga berpesan, agar status jabatan sebagai ketua BKPRMI, jangan dipolitisasi, karena katanya tugas sebagai pengurus itu niatnya adalah untuk ibadah, bukan untuk kekuasaan politik.
            Dilain pihak, seusai acara Peringatan Isra Mi’raj, ketua umum Himpunan Keluarga Besar BKPRMI Kalsel, Drs H Abd Wahid, kepada Mata Banua mengatakan “dengan adanya tuntutan, baik dari sisi perundang-undangan Negara Republik Indonesia, khususnya undang-undang kepemudaan, maupun aturan dari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga BKPRMI itu sendiri, sehingga dari dua hal yang mendasari itu, perlu kita mengembalikan khittah generasi muda dalam BKPRMI, yaitu pada tugas yang pokok adalah dalam pembinaan kepemudaan dan keremajaan.
Kita mengharapkan kepada pengurus pimpinan wilayah BKPRMI Kalsel, untuk mengarahkan bidang garapan programnya lebih fokus pada bidang kepemudaan, karena saat ini BKPRMI memang sudah terlalu konsen pada penanganan TK Al Qur’an, sehingga tugas utama untuk pembinaan pemuda dan remaja mesjid terabaikan” ujarnya.
            Melalui acara Peringatan Isra Mi’raj inilah, kami bisa saling bersilaturahmi, setelah semuanya tersita waktunya untuk aktifitas masing-masing. Dan melalui kegiatan ini, sama-sama mengembalikan tugas BKPRMI kepada tugas pokoknya” pungkasnya. ara/mb05

240611-jumat(sabtu)-konprensi pers LDII


Photo: mahfuz

Keanggunan Ideologi Pancasila

BANJARMASIN – Deraan konflik kemasyarakat yang melanda nusantra, merupakan gambaran dari kurangnya pemahaman, terhadap wawasan kebangsaan dan wawasan pemahaman Pancasila.
Jumat (24/6) pagi, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengadakan konprensi pers di rumah makan Lima Rasa, untuk menjelaskan konsep dasar dari pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) V LDII pada  25 Juni 2011 di Banjarmasin. Tema Musda V LDII kali ini yaitu Meningkatkan Sumberdaya Manusia Profesional Relegius Menuju Kalimantan Selatan Yang Demokratis Aman Dan Damai.
Peserta Musda di ikuti oleh 10 DPD kabupaten/kota di Kalsel, dan oleh pengurus pimpinan cabang, dan pengurus pimpinan anak cabang. Untuk unsur peninjau terdiri dari dewan pimpinan pusat, dewan penasehat dari semua tingkatan mulai dari provinsi hingga anak cabang, kemudian pimpinan pondok.
Jumlah peserta dan peninjau ada 272 orang, kemudian undangan ada 116 orang, yang terdiri dari unsur muspida, tokoh masyarakat dan agama, serta tokoh akademisi di perguruan tinggi yang ada di Kalsel.
            Secara ringkas, ketua DPW LDII Provinsi Kalsel, Ir H Muhammad Darban MM, mengatakan bahwa LDII menolak apapun yang akan meruntuhkan NKRI, serta LDII akan menyiapkan generasi yang professional dan religius.
            Selanjutnya, ketua umum DPP LDII, Prof Dr KH Abdullah Syam MSc, menjelaskan “berangkat dari visi LDII yaitu ingin menjadi lembaga dakwah yang profesional, sehingga dapat membangun warga negara yang baik dan sebagai seorang muslim yang dengan tekun menjalankan ibadahnya.
Dari dua hal ini, ada pemahaman yang penting. Kalau ditinjau dari warga negara yang baik, apabila dilihat potret bangsa sekarang, selalu saja timbul komplik, entah  karena perbedaan suku, agama dan perbedaan yang lain. Padahal perbedaan dan kemajemukan adalah justru untuk menjadi kekuatan, bukan perpecahan.
LDII melihat, bahwa konflik ini disebabkan kurangnya pemahaman terhadap empat pilar yaitu ke Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, UUD 45 dan NKRI. Karena anggaran dasar LDII berdasarkan Pancasila, maka LDII sangat setuju dan akan mempertahankan empat pilar ini. Maka dalam setiap bidang dakwah, LDDI akan menggiring pemahaman wawasan kebangsaan dan wawasan pemahaman Pancasila” katanya.
Menurut Abdullah Syam “ideologi Pancasila itu begitu anggun, sehingga pada saat ideologi ini ditetapkan, belum ada suatu ideologi negara manapun yang menyamainya, yaitu perbedaan yang disatukan dalam suatu pemahaman. Oleh karena itu,  kemudian beberapa negara lain, ikut menggunakan nilai-nilai kebersamaan dalam pancasila tersebut, sebagai dasar negara mereka. Bahkan menurut beberapa ulama Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Dakwah LDII ini akan terus dilaksanakan, untuk meminimalis konflik bangsa, dan mendorong kepada pemerintah dan Diknas, agar meningkatkan konten kurikulum pendidikan mengenai Pancasila, mulai dari pendidikan PAUD hingga seterusnya, dengan cara bahasa dan tingkatannya masing-masing. Tanpa pemahaman yang benar terhadap Pancasila, generasi kita sekarang sangat mengkhawatirkan” pungkasnya. ara/mb05

230611-kamis(jumat)-TK NU wisuda


Photo: mahfuz

Motivasi Anak Meraih Pendidikan Lebih Tinggi

BANJARMASIN – Pendidikan dasar agama dan pembentukan akhlakul karimah, serta memotivasi anak untuk meraih jenjang pendidikan lebih tinggi, menjadi tujuan utama dalam Yayasan Ma’arif Nahdatul Ulama (YMNU).
Hasil pendidikan dan pembentukan sejak dini yang ditunjukan oleh YMNU dengan mewisuda 323 anak didiknya, pada Rabu (22/6) kemaren, di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, di hadiri oleh perwakilan Kantor Wilayah Kementrian Agama, Perwakilan Departemen Agama (Depak), Pengurus Wilayah NU Syarbani Khaira dan Rais Suriah Pengurus Wilayah NU KH Ahmad Subyan.
Wisuda yang sekaligus juga untuk memperingati Isra’ Mi’raj, dimeriahkan dengan penampilan seni dari anak-anak didik YMNU, seperti seni Hadrah, Sinoman Hadrah Rudat, Tarian Sholawat, Japin dan Lagu Islami.
Menurut  Ketua YMNU, Rusbandi mengatakan “YMNU pada 2002 mulanya hanya di Barito Kuala, selanjutnya 2010 telah berkembang di empat kabupaten/kota di Kalsel. Yayasan Ma’arif berapliasi dengan Nahdatul Ulama, dan Nahdatul Ulama adalah sebagai pembina dari Yayasan Ma’arif. Dilapangan YMNU mempunyai sebuah kelompok kerja pengawas.
Insyaallah, pusat pendidikan YMNU akan dibuka pula di Banjarbaru, Pelaihari dan Rantau. Kemudian akan diterus dikembangkan hingga seluruh kabupaten/ kota di Kalsel.
Untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ada dua jenis yaitu Raudatul Atfal (RA) yang ijin operasionalnya di bawah Depak, dan Taman Kanak-kanak (TK) yang ijin operasionalnya di bawah Dinas Pendidikan (Disdik). RA/TK YMNU.adalah perpaduan dari TK Al Qur’an dan TK Umum Tapi 90 persen pendidikan kami berorientasi pada pendidikan Agama.
.Jenis tingkat pendidikan yang ada di YMNU yaitu TK Al Qur’an, TK Raudatul Atfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Diniyah Awaliyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Diniyah Wustha, Madrasah Aliyah, Madrasah Diniyah Ulya (setingkat Aliyah), dan satu lagi yang akan diresmikan yaitu Pondok Pesantren YMNU di Mekarsari Kabupaten Batola” ujarnya.
Lanjut Rusbandi “ada 323 anak yang di wisuda hari ini, yaitu dari kabupaten Batola ada 11 buah RA/TK dengan 128 anak, dari kabupaten Banjar ada 5 buah TK/RA dengan 98 anak, dari kota Banjarmasin ada 7 buah RA/TK dengan 97 anak.
            Pokok pembelajaran RA/TK YPNU antara lain yaitu menulis, membaca, berhitung, Tauhid, Fiqih, Al Qur’an, do’a-do’a, lagu Islami, pembentukan perilaku, pembentukan disiplin, pembentukan perasaan, pembentukan kemampuan bermasyarakat, kemampuan berbahasa Indonesia, kemampuan daya piker, kemampuan daya cipta, kemampuan keterampilan, serta pembentukan jasmani dan rohani yang sehat.
            Wisuda RA/TK hari ini bertujuan untuk memotifasi anak sejak dini, untuk lebih bersemangat meneruskan pendidikan kejenjang berikutnya, hingga menamatkan pendidikan minimal sarjana” pungkasnya. ara/mb05

230611-kamis(jumat)-definisi sastra banjar.3


Photo: Noor Ganie MPd

Pintu Sempit Dalam Sastra Banjar

BANJARMASIN – Apakah semua karya sastra dalam bahasa Banjar atau karya sastra berbahasa Indonesia tapi menceritakan tentang busaya Banjar dapat digolongkan dalam sastra Banjar?
Pada rumah pustaka sastra Banjar, terdapat lima pintu masuk yang mendefinisikan sebuah karya sastra layak menjadi karya sastra Banjar, sebagian pintu hanya hanya dapat dimasuki oleh sastrawan Banjar tertentu saja.
            Menurut Tajuddin Noor Ganie MPd, beberapa waktu yang lalu “pada pintu-pintu definisi karya sastra Banjar, pintu kesatu merupakan pintu masuk yang paling sempit (pintu eksklusif).
Pintu ini hanya dapat dimasuki oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar yang nyata-nyata lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar saja (bukan sastrawan anonim). Saking sempitnya, sastrawan berdarah Banjar yang tinggal di Tanah Banjar saja belum tentu dapat memasuki pintu ini.
Karya sastra berbahasa Banjar yang mereka lisankan atau tuliskan dalam bentuk sastra klasik atau sastra modern harus melewati uji materi atau uji publik, apakah isinya bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Kalsel, atau sebaliknya malah bercerita tentang masalah-masalah yang universal?
            Definisi dari pintu ini yaitu semua jenis karya sastra yang bercerita tentang etnis Banjar di Tanah Banjar (Kalsel) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar” katanya.
Lanjut Tajuddin “ciri dari sastra Banjar pintu ini yakni :
Bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Tanah Banjar (aspek sosio-kultural yang sudah ditentukan fokus dan lokusnya). Dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (aspek bahasa). Dan sastrawan yang melisankan atau menuliskannya berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar (faktor etnisitas yang fokus dan lokusnya sudah ditentukan).
Karya sastra yang tidak memenuhi semua ciri yang disyaratkan tidak boleh dimasukan ke dalam kelompok sastra Banjar”
Tajuddin mengakui, katanya “ tidak semua karya sastra berbahasa Banjar yang dilisankan atau dituliskan dalam bentuk andi-andi, bacaan (mantra), bapandung (monolog), cerita rakyat (mitologi, legenda, hikayat, kisah, dongeng), japin carita (teater), lamut (prosa liris), madihin (puisi), mamanda (teater), pantun, syair, surat tarasul, hikayat (kisah panjang berbahasa Banjar : kisjang), kisdap (kisah handap : cerpen berbahasa Banjar), puisi, dan drama, bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Tanah Banjar.
Syair-syair yang selama ini diakui secara luas sebagai bukti kekayaan khasanah sastra Banjar klasik yang asli, ternyata tidak dimuati dengan paparan menyangkut kode budaya dan warna lokal yang khas etnis Banjar sebagaimana yang mungkin dipersangkakan orang selama ini” ujarnya. ara/mb05

220611-rabu(kamis)-anak menggambar


Photo: Nanang M Yus

Menggambar Membentuk Kreatifitas Anak

BANJARMASIN – Pendidikan dasar dari seorang anak adalah dengan menumbuhkan kreatifitas dari dirinya, seperti dengan menggambar. Sebuah gambar dari anak-anak terlihat polos, lugas dan bebas tanpa terikat oleh pola kewajaran serta logika.
            Menurut Nanang M Yus, pelukis senior Kalsel, dalam perbincangan santai beberapa waktu yang lalu, katanya ”bebas untuk anak-anak bukan dilihat dari berperilaku semaunya, tetapi bebas dari bayangan nilai, maupun pola yang telah biasa diterapkan secara umum, dan menjadi baku dalam bentuk patokan-patokan standart kehidupan.
Dari kebebasan seperti inilah sebuah jiwa menjadi kreatif, dan dari kebebasan semacam inilah kita memahami lukisan anak. Jadi kita tidak menilai dengan ukuran yang kita punyai, tidak menilai dengan kacamata kita, melainkan dengan kaca mata batin anak.
Dalam menumbuhkan kreatifitas anak, peran orang tua sangat penting. Tapi di sisi lain seringkali kreativitas yang ditampilkan orang tua, menjadi boomerang ketika seorang anak hanya menjadi obyek saja.
Karena, aktifitas yang niatnya mulia, yaitu memancing kreatifitas anak, seringkali dalam pelaksanaannya menjadi sebuah paksaan. Tanpa sadar kreatifitas yang diharapkan bisa muncul malah terbalik. Anak tak ubahnya robot kecil yang dikendalikan orang tua. Aktivitas yang dilakukannya atas selera orang tua. Sementara si anak tidak bisa menikmati aktifitasnya” ujarnya.
Lanjut Nanang “membangun kreatifitas hendaknya disikapi sesuai dengan porsinya. Mengedepankan nilai yang benar-benar atas nama kreatifitas saja. Bukan malah memaksakan nilai kreatifitas itu sendiri. Menciptakan anak kreatif, itulah keinginan semua orang tua, tetapi kita harus sadar segala sesuatu dengan kewajaran, akan menghasilkan kebahagiaan bagi si anak .
Di tengah zaman yang hanya memandang nilai studi (prestasi dalam bentuk angka) dari diri anak. Dengan anggapan anak yang mempunyai nilai yang tinggi adalah anak yang cerdas dan pintar, adalah pandangan dari keinginan orang tua, yang sebenarnya untuk mengubah anak menjadi robot kecil, bukan menjadi manusia seutuhnya.
Anak yang kreatif adalah anak yang sebenar-benarnya cerdas, dan di zaman nilai ini, cenderung dilupakan. Kegiatan kreatif sering dianggap menjadi sesuatu yang kurang bermanfaat, buang-buang waktu. Sementara apabila kegiatan itu berkaitan dengan yang berhubungan dengan logika, seperti belajar baca dan berhitung, maka akan dijadikan keharusan dalam program yang teratur, anak dituntut tunduk dan patuh.
Sebenarnya kegiatan yang berkaitan dengan kreatifitas (intuisi) dan logika, seharusnya dapat berjalan seiring, sehingga dapat meciptakan anak yang pintar sekaligus kreatif.
Maka sediakanlah kertas menggambar dan krayon, biarkan anak-anak membangun kreatifitasnya sendiri, tanpa dipaksakan” pungkasnya. ara/mb05


210611-selasa(rabu)-kemungkinan lamut dilombakan

Photo: Drs H Muhandas HH

Kemungkinan Lamut Di Lombakan

BANJARMASIN – Kesenian lama akan semakin di tinggalkan generasi muda, karena derasnya perkembangan kesenian luar yang memasuki daerah. Pengembangan dan inovasi kesenian lama menjadi sesuatu yang baru, akan menumbuhkan kembali minat terhadap kesenian tradisional yang telah lama layu.
            Hingga saat ini, kesenian madihin sudah berkembang sedemikian rupa. Adanya madihin kocak yang dipopulerkan oleh John Tralala, lomba-lomba madihin remaja dll. Seiring berkembangnya inovasi dalam madihin, malah tidak membuat madihin tradisional menjadi mati, tapi dapat hidup seiring dengan madihin gaya baru. Inovasi inilah yang dibutuhkan oleh kesenian lamut, agar bisa bertahan dan semakin meningkat.
            Drs H Syakrani, seusai membawakan kolaborasi madihin lamut dengan Gusti Jamhar Akbar, pada Malam Batanam Karya Baharum Banua (MBKBB) 2011, mengatakan kepada Mata Banua “masalah perkembangan zaman dan masuknya kebudayaan luar, memang menjadi faktor utama menghilangnya minat generasi muda, pada kesenian tradisional. Selain itu juga karena kurangnya pementasan.
Tentunya, agar lamut bisa kembali memasyarakat, maka harus dikembangkan lebih jauh lagi. Seperti kolaborasi malam ini, bisa saja dengan beberapa orang pemadihinan saling bersahutan menjadi pengantar cerita lamut yang dibawakan. Kalau madihin telah dilombakan, kenapa lamut tidak, ini bisa saja dilakukan” katanya.
            Dilain pihak, Kepala Disporbudpar Kalsel Drs H Muhandas HH, seusai MBKBB pada Sabtu (18/6) malam, mengatakan “kesenian tradisional lamut bisa saja dilombakan secara perorangan, atau dengan inovasi seperti kolaborasi madihin lamut. Dan akan kita upayakan ada regenerasi palamutan muda.
            Wacana ini, kedepannya akan kita programkan, bersama Taman Budaya (TB) yang menjadi kekuatan para seniman dalam mengapresiasi karyanya. Juga terbuka bagi seniman daerah melakukan pentas di TB” ujarnya.
            Kemudian, Ketua Harian Dewan Kesenian Kalsel Drs Syarifuddin R, menambahkan “sudah kita ketahui, untuk madihin sudah ada dari kalangan remaja, tapi untuk lamut, memang masih perlu proses, entah dengan cara pengembangan bentuk lain.
Seperti halnya wayang yang mempunyai pakem cerita, lamut juga begitu. Lalu ada pengembangan cerita pakem wayang yang disebut carangan, maka lamut pun juga bisa dibuatkan cerita carangannya. Hanya saja naskah 17 pakem cerita lamut secara utuhnya, belum terdokumentasi dengan baik, inilah yang menjadi kendala. Maka tahap pertama, adalah mendokumentasikan pakem lamut ini dulu, secara keseluruhan.
Pada 2006 di festival sastra nasional di Jakarta, kita pernah mewakili daerah dengan mengangkat cerita lamut dalam bentuk teater, yang naskahnya diolah oleh Bahtiar Sanderta. Dalam festival ini kita memperoleh penghargaan.
Sayangnya ini malah tidak dipentaskan di dalam daerah, pengembangan seperti ini seharusnya lebih dulu dilakukan dalam daerah, agar benar-benar menjadi milik daerah.
            Kepala TB Kalsel Noor Hidayat Sultan, menanggapi “setelah kami melihat dari penampilan tadi, yang jelas lamut harus dipertahankan dan dikembangkan lagi, sehingga komunikasi lamut sampai dengan pendengar, bisa saja dalam bentuk teater.
Dikemudian hari, harapan seniman untuk pengembangan lamut, akan kita pertimbangkan dalam sebuah program TB. Akan kita gali lagi pakem naskah cerita lamut, kemudian kita perbanyak dan kita sebarkan ketengah masyarakat” pungkasnya. ara/mb05

210611-selasa(rabu)-hamiedan AC pencipta lagu banjar (Dm.230611)


Photo: mb/ara
MAESTRO – Penyerahan penghargaan oleh Kepala Disporbudpar HST, Drs Suryani MAp untuk maestro lagu daerah Banjar Hamiedan AC yang diwakili keponakannya Ir Henrita, pada MBKBB 2011

Photo: Ir Henrita

Hanya Untuk Kepuasan Batin

BANJARMASIN – Seorang seniman sejati dalam menciptakan karya, hanyalah untuk kepuasan batin dirinya, tanpa ada keinginan untuk mengejar popularitas. Sehingga karya yang dihasilkan, benar-benar berkualitas dan menjadi abadi, tidak lapuk ditelan perubahan zaman.
            Hamiedan AC, lahir di Kandangan 26 September 1940, meninggal di Jakarta pada 10 Desember 1997. Kesenangannya dalam menyanyi, mencipta lagu dan mengaransemen lagu, menghantarkannya menjadi maestro lagu daerah Banjar. Lebih dari 100 lagu daerah Banjar yang ia ciptakan, dan dinyanyikan oleh penyanyi Nasional. Selain itu, pada era 80-an, Hamiedan aktif mengaransir lagu untuk anak-anak yang dinyanyikan oleh Puput Novel dan Ira Maya Sopha. Serta menciptakan lagu jenis langgam keroncong yang dinyanyikan Mus Mulyadi, Sundari Sukoco dll.
            Bagaimana kenangan keluarga almarhum Hamiedan AC, terhadap sang maestro lagu daerah Banjar semasa hidupnya.
Ir Henrita G Dohamid, salah satu keponakan Hamiedan yang hadir untuk mewakili menerima penghargaan, pada Malam Batanam Karya Baharum Banua (MBKBB) 2011, pada Sabtu (16/6) malam yang lalu di gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel, mengatakan “saya datang pada acara malam ini, untuk mewakili mami (panggilan untuk istri Hamiedan) yang tidak bisa berhadir, mami saat ini tinggal di Tangerang – Jakarta.
Semasa hidup papi (panggilan untuk Hamiedan) orangnya tidak bisa melihat ballpoin dan kertas, apabila ketemu ballpoin dan kertas dalam bentuk apapun, langsung diambil, lalu duduk dimana saja yang sepi, tidak berapa lama, satu lagu tercipta.
Kami (keponakan-keponakan Hamiedan) pernah bertanya kepada papi, dari mana inspirasi menciptakan lagu? kata beliau, kadang-kadang berasal dari kehidupan kita sehari-hari, dari pengalaman dalam keluarga dan dari kehidupan bermasyarakat. Sering pula, beliau mengajak keluarga menyanyikan lagu yang diciptakannya. Lagu beliau yang paling aku sukai yaitu yang berjudul Tatangis dan Yun Apan Yun Nana” ujar Henrita.
            Dilain pihak, Bahrani sepupu Hamiedan, yang juga hadir pada MBKBB 2011, untuk menerima penghargaan sebagai seniman tradisi, mengatakan ”sejak kecil aku sudah bersama Hamiedan, kami terpisah saat ia berangkat ke Jakarta pada tahun 70-an.
Tahun 80-an, ia kembali ke Kandangan, dan kami membuat studio rekaman yang kami beri nama Hamika Record. Karya yang dihasilkan oleh studio ini antara lain lagu Banjar yang berjudul Yulalin, Japinhu, Badendang, Panganten Bausung, Matan Loksado, dll.
Lagu Tatangis yang diciptakan Hamiedan, inspirasinya adalah dari peristiwa sepupu kami almarhum Kadri, yang terkenang dengan kekasihnya, tapi keluarga si gadis tidak mau menerima Kadri. Agar Kadri tidak terlalu sedih, di bawah pohon kelapa di Kandangan, kami bertiga merangkai lagu Tatangis. Sepeninggal Hamiedan, kami tetap mencoba menyambung karyanya, yaitu mengkolaborasi musik daerah karya Hamiedan dengan dangdut atau pop.
Acara malam ini (MBKBB) dengan menyajikan lagu-lagu karya Hamiedan, benar-benar membawa kami kepada kenangan masa lalu. Kami merasa bangga dan gembira, diadakannya pertunjukan untuk almarhum, tapi juga sekaligus merasa rindu dengan almarhum.
Harapan kami sebagai seniman, mudah-mudahan pemerintah provinsi lebih memperhatikan karya-karya kami. Untuk perkembangan lagu Banjar saat ini pada generasi muda, aku rasa sudah mulai bagus, asal kita terus mendorong mereka, jangan dibiarkan begitu saja. Kita dorong terus generasi muda, agar tetap menggali musik-musik daerah” kata Bahrani.
Sedangkan Henrita, mengatakan “kami atas nama keluarga besar Hamiedan, mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah dan Taman Budaya yang telah menyelenggarakan acara malam ini (MBKBB), serta penghargaan yang diberikan untuk papi, ini semua menciptakan kenangan yang sangat besar bagi keluarga.
            Dirumah, banyak terserak master catatan lagu Banjar tulisan tangan papi, insyaallah akan kami kumpulkan dan akan kami serahkan ke museum, agar bisa menjadi milik publik, dari dokumen berharga seorang seniman daerah.
            Dalam mencipta lagu, papi tidak pernah berkeinginan untuk dihargai, ia menciptakan lagu, hanya untuk kepuasan batin, apabila disukai dan dinyanyikan orang, alhamdulillah hanya itu yang di ucapkan papi” ungkap Henrita. ara/mb05

200611-senin(selasa)-malam batanam karya (Dm.020711)


Photo: mahfuz

Malam Batanam Karya Baharum Banua Di Jadikan Event Tetap Tahunan

BANJARMASIN – Malam Batanam Karya Baharum Banua (MBKBB) 2011, pada Sabtu (16/6) malam yang lalu di gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel. Menjadi penting untuk disaksikan, karena di sana ada penganugerahan penghargaan kepada seniman daerah Kalsel, memperdengarkan lagu-lagu daerah Banjar karya cipta almarhum Hamiedan AC, dan adanya kolaborasi madihin lamut.
            MBKBB dihadiri pula oleh asisten III Gubernur Kalsel Drs H M Rusli MSi, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel Drs H Muhandas HH, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Hulu Sungai Tengah Drs Suryani MAp, Ketua Harian Dewan Kesenian Kalsel Drs Syarifuddin R dan para tokoh seniman musik daerah se Kalsel.
            MBKBB pada dasarnya menjadi lebih penting lagi bagi generasi muda Banjar yang telah kehilangan rasa kedaerahannya, para guru seni yang memerlukan wawasan kesenian daerah dalam pengajarannya, dan tentunya para pelajar itu sendiri sebagai pelajaran dasar kesenian daerah.
            Kepala Taman Budaya Kalsel Noor Hidayat Sultan, melalui Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Fahrurazi memberitahukan siapa-siapa seniman daerah Kalsel yang mendapat penghargaan pada MBKBB, yaitu:
            Almarhum Hamiedan AC (pencipta lagu), almarhum S Hendro (pencipta lagu), Rasni Darusman (pencipta lagu), Yanoah Siahaya (musik keroncong), Micky Hidayat (sastrawan), Bayu Bastari (teater), almarhum Julian Rifani (pelukis), Abi Chandra (sandiwara rakyat), Bahrani (seni tradisi), Erliani (topeng) dan Syaiful Akhmad (penari).
            Gubernur Kalsel Drs H Rudy Ariffin dalam sambutanya yang dibacakan oleh Drs H M Rusli MSi, mengatakan bahwa sangat mengapresiasi kegiatan MBKBB serta sangat menghormati almarhum Hamiedan AC yang telah menghasilkan karya lagu-lagu Banjar yang melenggenda dan spektakuler, serta dinyanyikan artis terkenal Indonesia. Gubernur berharap, generasi muda dan seniman lainnya, mencontoh semangat almarhum yang benar-benar mendedikasasikan dirinya untuk lagu-lagu daerah.
Untuk kolaborasi madihin lamut, gubernur menginginkan untuk dikembangkan lebih jauh lagi, sehingga apresiasi masyarakat semakin meningkat, semakin baik dan semakin tumbuh sebagai sebuah khasanah budaya daerah. Maka upaya dari tokoh-tokoh tua yang telah bersusah payah mempertahankannya hingga sekarang, tidak menjadi sia-sia. Dan pada akhirnya bisa ditampilkan di luar daerah Kalsel dengan rasa bangga.
Drs Syarifuddin R, seusai acara MBKBB mengatakan “selama ini banyak yang mengatakan, kesenian tradisional itu monoton dan tidak menarik. Maka malam ini adalah jawaban, bahwa lagu daerah bisa diperdengarkan dengan menarik, lalu kolaborasi madihin lamut bisa lebih dikemas dengan baik. Selanjutnya, sama-sama kita kembangkan, karena kita sudah mempunyai sarana dan medianya” ujarnya.
            Dalam kesempatan yang sama, Drs H Muhandas HH, mengatakan pula “acara ini sangat bagus sekali yaitu kolaborasi antara musik tradisional dan modern. Sehingga bisa mengangkat karya-karya seniman kita yang dulu. Tampilannya pada malam ini juga menarik dan bisa ditampilkan pada acara nasional.
            Untuk kolaborasi madihin lamut, sangat menarik dan mudah-mudahan ada generasi muda yang berminat mengembangkannya lebih jauh. Bila ada, maka patut kita fasilitasi. Karena, itu menjadi kewajiban kita dalam melestarikan budaya daerah sendiri.
            MBKBB bisa dijadikan agenda tetap tahunan daerah, dikemas dan dikembangkan lebih baik lagi. Selanjutny, disebarluaskan diluar Kalsel, maka mereka yang ingin melihatnya, silahkan datang kedaerah kita” pungkasnya. ara/mb05

200611-senin(selasa)-madihin lamut (Dm.220611)


Photo: mahfuz

Kolaborasi Madihin Lamut Memberikan Kesegaran Baru Pada Kesenian Lama

BANJARMASIN - Mengemas kesenian lama yang sudah mulai kehilangan regenerasi, dalam suatu kemasan baru. Sehingga menjadi menarik untuk disaksikan. Adalah hal mutlak yang sudah seharusnya dilakukan oleh pemerintah daerah, instansi terkait, maupun pelaku seni itu sendiri. Apabila ingin, agar kesenian lama tidak hilang ditelan selera zaman.
Pertunjukan kolaborasi antara madihin dan lamut pada Malam Batanam Karya Baharum Banua 2011, Sabtu (16/6) malam yang lalu di gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel, telah memberikan kesegaran baru pada kesenian lama.
Lantunan pantun madihin yang dibawakan oleh Drs H Syakrani, dipadukan dengan kisah lamut yang dibawakan oleh satu-satunya maestro lamut yang masih hidup di Banjarmasin, yaitu Gusti Jamhar Akbar.
Kisah yang dibawakan adalah salah satu pakem lamut yaitu tentang Raden Bungsu yang memperoleh putra bernama Raden Kasan Mandi. Kolaborasi seni yang dikemas menjadi sebuah alur cerita yang saling bersenergi. Lamut menceritakan sebuah kisah, kemudian madihin menegaskannya.
Kepada Mata Banua, seusai pertunjukan Jamhar, menuturkan “cerita dalam lamut pada dasarnya bisa pula dibawa kedalam madihin, hanya cara menuturkannya yang berbeda. Perpaduan penuturan antara madihin lamut ini sangat perlu dikembangkan lagi” katanya.
Kemudian Syakrani menambahkan “karena madihin lamut instrumennya sama yaitu seni cerita bertutur dengan menggunakan alat pukul tarbang, sehingga kalau dikolaborasi menjadi bersenergi, sehingga cerita lamut diperjelas oleh gaya tutur madihin. Maka terbentuklah perpaduan gaya seni kaum tua dalam lamut dengan kaum muda dalam madihin, ceritapun menjadi lebih hidup. Pada dasarnya antara madihin dan lamut, adalah suatu ikatan cerita yang tidak dapat dipisahkan.
Bagi generasi muda sekarang, yang tidak pernah mendengar cerita dalam lamut, belum tentu mengerti alur cerita lamut dan dalam lamut ada tokoh cerita, agar lebih mudah memahami maka madihinlah yang menjelaskan ceritanya dalam bentuk keringkasan atau kesimpulannya. Formatnya bisa saja, di buka dengan madihin sebagai pengantar, lalu di lanjutkan dengan cerita dari lamut, kemudian dijelaskan lagi dengan madihin, akhirnya di tutup” ujarnya.
Menurut Syakrani “kolaborasi madihin lamut ini adalah suatu apresiasi yang luar biasa, dan masih terbuka untuk pengembangan dan bentuk apresiasi lainnya. Malam ini adalah kolaborasi madihin lamut untuk pertama kalinya. Madihin lamut bila digabungkan menjadi karya seni sastra tutur yang luar biasa.
Kita harapkan para generasi muda, bisa semakin tertarik untuk mengembangkannya lebih jauh lagi” pungkasnya. ara/mb05


190611-minggu(senin)-PA Ashhabul Kahfi (Dm.210611)


Photo:mb/ara
SEDERHANA – Keterbatasan dana, tidak menjadi penghalang PA Ashhabul Kahfi dalam membina anak-anak didiknya, walau harus hidup sederhana

PA Ashhabul Kahfi
Dalam Kesederhanaan

MENJALANI kehidupan yang sederhana, itulah situasi yang terlihat pada Panti Asuhan (PA) Ashhabul Kahfi yang terletak di jalan Sultan Adam, komplek Mandiri IV, Blok II. Masih banyak pembenahan bangunan panti yang diperlukan, namun, menanamkan pribadi yang mandiri bagi anak-anak asuh, merupakan prioritas utama.
            Sekertaris panti Sakrani (33), menuturkan kepada Mata Banua “mulai tahun 2000, lahir gagasan untuk mendirikan PA agar bisa berkarya di tengah masyarakat, kemudian pada 24 September 2003 baru terbentuk dan diresmikan. Dari 11 orang pendiri, yang masih aktif hingga sekarang hanya empat orang.
Pertama berdiri, tidak punya apa-apa, hingga tiga kali berpindah tempat menyewa rumah. Ke pindahan ke empat, Alhamdulillah kini sudah punya bangunan sendiri, dengan luas tanah sekitar 22x33 meter persegi dan luas bangunan sekitar 11x12 meter persegi. Ada dua kamar untuk anak asuh dan satu kamar untuk pengasuh. Walau kondisi bangunan masih seadanya dan ada sedikit bantuan dari para donator yang bersimpati untuk menghidupi panti.
            Secara pribadi aku sangat senang membantu anak-anak dipanti, bila anak-anak bahagia, kami pengurus juga bahagia juga Sedihnya bila ada anak-anak yang bandel, sulit dinasehati atau ada yang pulang tanpa pemberitahuan. Kami berharap, anak yang kami bina dipanti ini bisa menjadi anak yang berguna, berdikari, dan mandiri, tanpa bergantung dari orang lain” katanya.
Lanjut Sakrani “dari pertama berdiri, ada 15 anak yang sudah purna asuh, terkadang mereka ada berkunjung kepanti, walau mereka masih belum mampu membantu secara materi untuk panti, tapi yang penting mereka bisa mandiri.
Daya tampung bangunan kami di sini bisa untuk 20 anak, tapi saat ini yang tinggal di panti ada 10 anak, yaitu SD ada 3 anak, yang paling muda umur 8 tahun kelas dua SD, selanjutnya yang SMP ada 5 anak dan yang SMA ada 2 anak. Semuanya yang berasal dari Marabahan, Martapura dan Kuala Kapuas. Kemudian ada 15 anak asuh yang tinggal dengan keluarganya masing-masing. Setiap anak ada dibuatkan tabungan masing-masing, yang boleh mereka ambil bila ada keperluan yang mendesak.
Kami memang ada membuat program untuk mendatangkan guru les, mengkursuskan keterampilan bagi anak-anak. Lalu membuat usaha untuk panti seperti toko ponsel, bengkel kendaraan, dan tambak ikan, tapi saat ini masih kekurangan dana dan modal.
Untuk biaya makan satu hari sekitar Rp50 ribu, sedang bantuan yang masuk kepanti dalam satu bulan rata-rata Rp1500000, jadi dibanding pemasukan dan pengeluarannya satu bulan hampir pas-pasan.
Apalagi bangunan ini masih banyak yang harus dibenahi, karena baru selesai dan ditempati, sekitar 10 bulan yang lalu. Untuk bangunan masih diperlukan biaya sekitar Rp50 jutaan, yaitu untuk pemasangan plafon, pengecatan, lantai, pembuatan jalan kedepan, ditambah pembenahan tempat tidur anak-anak” ujar Sakrani yang selain menjadi pengurus panti, ia juga sebagai guru agama honorer semenjak 2004 di SMA Muhamadiyah dan MTs Sultan suriansyah.
            M Arsyad, pengasuh sementara panti, menambahkan “karena kami belum punya ranjang, jadi anak-anak tidur dilantai walau masih beralas kasur. Setiap hari anak-anak punya jadwal kebersihan secara bergiliran.
Kemudian ada pelajaran mengaji dan cara sholat bagi anak-anak yang masih kecil. Lalu setiap malam Jumat, sehabis sholat magrib diteruskan dengan membaca surah Yasin, sholat hajat dan pelajaran agama” katanya.
Arsyad adalah anak asuh panti yang sudah purna asuh. Kelas dua SMA 11 Banjarmasin, ia tinggal di PA Ashhabul Kahfi. Tahun lalu ia telah lulus SMA, dan diminta untuk menjadi pengasuh sementara dan juru masak di panti, karena pengasuh yang dulu berhenti.
Arsyad berkeinginan untuk tetap mengabdi di panti, karena merasa berhutang budi. Dalam pendidikan ia ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi masih terkendala dengan tidak adanya biaya.
            Berbincang tentang kegiatan, Sakrani berkata “selama ini belum pernah ada undangan dari pemerintah daerah, untuk kegiatan lomba antar panti, menurut kami itu sangat perlu dilakukan. Atau paling tidak ada kegiatan pentas seni antar panti, yang diadakan oleh walikota, sehingga selain untuk silaturahmi juga untuk menyalurkan bakat anak”pungkasnya. araska
           

170611-jumat(sabtu)-rasni darusman.lagu bjr


Photo: Rasni Darusman

Dukung Kreatifitas Generasi Muda Menggali Lagu Banjar

BANJARMASIN – Tidak dapat dihindari, derasnya perkembangan lagu-lagu modern, apabila tidak disikapi dengan kreatifitas generasi muda Banjar, lambat laun lagu Banjar hanya akan menjadi lagu kenangan.
Sehingga lagu Banjar semakin tidak dikenal oleh generasi daerah selanjutnya. Maka lagu Banjar hanya akan menjadi milik generasi tua saja. Oleh karena itu, dukungan terhadap kreatifitas generasi muda Banjar dari generasi tua pencipta lagu Banjar sangatlah diperlukan.
            Beberapa tahun yang lalu, beberapa generasi muda dari Intermezzo Band menciptakan lagu Banjar modern berirama Rap yang berjudul Pasar Tungging. Untuk beberapa waktu lagu ini menjadi perbincangan hangat, terjadi pro kontra dari generasi tua pencipta lagu Banjar, yang ingin mempertahankan ketradisionalan atau ke khasan lagu daerah Banjar.
            Mengenai kreatifitas generasi muda dalam menciptakan lagu Banjar, salah satu pencipta lagu Banjar dari generasi tua, Rasni Darusman  yang lahir 23 Oktober 1943, dalam jumpa pers di ruangan kepala Taman Budaya pada Kamis (16/5) siang, untuk pagelaran seni Malam Batanam Karya Baharum Banua 2011, Sabtu (malam Minggu) 16 Juni 2011, di gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel, mengatakan “aku sangat mendukung dan setuju dengan kreatifitas generasi muda dalam menciptakan lagu Banjar.
Apapun aliran musik yang mereka pakai, baik itu dangdut, pop, rap atau lainnya, silahkan saja, asal menggunakan bahasa Banjar. Kita semua harus mendukung, silahkan generasi muda sekarang, terus menggali kreatifitasnya, sehingga lagu Banjar kita tidak mati, atau terhenti di situ saja. Apabila kreatifitas itu sudah tumbuh dengan baik, baru kemudian lebih digali lagi pada aliran lagu Banjar kita yang berirama senandung” ujarnya.
Rasni Darusman adalah salah satu seniman, diantara 11 seniman lain yang akan menerima penghargaan dalam Malam Batanam Karya Baharum Banua 2011.
Puluhan lagu Banjar telah diciptakan Rasni, diantaranya yaitu Baras kuning, Pandukuhan, Talambat Badatang, Sungai Kampungku. Menurut Rasni, lagu Banjar Sungai Kampungku adalah lagu Banjar terbarunya, yang akan segera diaransemen, ia berharap lagu ini juga bisa populer seperti lagu Banjar Baras Kuning yang telah di ciptakannya dan memang paling di sukainya.
Lirik lagu Banjar Baras Kuning:
Yu Ka', bulik pang satumat,/ bulik pang satumat/ Lawasnya ulun mahadang,/ pian maninggalakan kampung halaman,/ kapapurunnan// Yu ka, bulik pang damini, bulik pang damini/ Ulun basakit hati,/ pian nang ulun tangisi,/ kada sakira diri ulun marista,// Pian datang, ulun sambut lawan mayang/ Ulun hamburi baras, si Baras Kuning/ Kur sumangat, di muhara lawang. ara/mb05

170611-jumat(sabtu)-menghormat bendera.1

Photo: Drs Firdaus Hazairin

Menghormat Bendera Merah Putih Adalah Kewajiban Setiap Warga Negara

BANJARBARU – Beberapa waktu ini, Indonesia di hebohkan dengan adanya dua SD di Karanganyar, Jawa Tengah, yang menolak menghormat bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan. Sehingga ke dua sekolah tersebut terancam ditutup, setelah adanya dialog, akhirnya ke dua sekolah tersebut bersedia melakukan upacara penghormatan bendera.
Bagaimana jika sebuah sekolah tetap berkeras tidak mau menghormat bendera. Maka berdasarkan UU 32/2004, pemerintah daerah punya kewenangan untuk mengatur. Upacara bendera seperti layaknya di semua sekalah negeri di nusantara diselenggarakan tiap hari senin pagi. Diisi dengan penghormatan pada bendera disertai menyanyikan lagu kebangsaaan Indonesia Raya.
Pro kontra menghormat bendera, semakin memanas ketika beberapa media massa memberitakan pernyataan salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Kebudayaan, KH Cholil Ridwan, yang berpendapat jika menghormati bendera adalah haram hukumnya.
Pernyataan Cholil tersebut keluar setelah melakukan diskusi dengan  sejumlah ulama Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Riset Fatwa (Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Ifta) yang telah mengeluarkan fatwa dengan judul ‘Hukum Menyanyikan Lagu Kebangsaan dan Hormat Bendera’, tertanggal 26 Desember 2003.
Pernyataan Cholil yang beramai-ramai di bantah oleh ketua MUI yang lain, salah satunya Abdushomad Buchori Ketua MUI Jawa Timur yang mengatakan bahwa pendapat Cholil itu hanya pendapat pribadi, bukan fatwa dari MUI.
Dilain pihak, beberapa waktu yang lalu Mata Banua sempat berbincang dengan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Banjarbaru Drs Firdaus Hazairin di ruang kerjanya, ia mengatakan “menghormat bendera Merah Putih adalah kewajiban setiap warga negara. Sedangkan soal upacara bendera merupakan kegiatan positif karena membangun disiplin dan memberikan pendidikan karakter bagi siswa didik.
Ini juga bagian menanamkan nilai nasionalisme.
Tentang menghormat bendera haram, itu hanya masalah khilafiah. Bukan berarti kita menyekutukan Tuhan, ini semua tergantung dari niat, sebagai ketaatan kepada Negara dan sebagai rasa hormat saja, yang pada dasarnya baik. Seperti halnya kita menghormati orang tua, tidak akan mengalahkan penghormatan dan ketakwaan kita kepada Allah” pungkasnya. ara/mb05

160611-kamis(jumat)-pungutan siswa baru (Dm.180611)


Photo: Drs.H.Herman Taupan

Sumbangan Atau Pungutan PSB

BANJARMASIN – Ribuan siswa akan memasuki sekolah baru, tetapi belum lagi siswa tersebut di terima di sekolah tertentu, ratusan ribu rupiah sudah harus dikeluarkan oleh orang tua siswa, baik berupa uang pendaftaran atau lainnya.
            Beberapa orang tua siswa yang mendaftarkan anaknya pada suatu sekolah di SD, SMP, dan SMA/SMK, mengeluhkan biaya yang harus mereka keluarkan, padahal anak mereka belum diterima di sekolah tersebut. Pungutan dengan modus uang pendaftaran atau yang mengatasnamakan sumbangan, sudah menjadi rahasia umum di tengah masyarakat. Sementara itu tidak terdengar ada tindakan tegas dari pihak terkait.
            Menanggapi persoalan ini, sekertaris Dinas Pendidikan (Disdik) provinsi Drs H Herman Taupan, di ruang kerjanya pada Rabu (15/6) siang, mengatakan “di dalam proses penerimaan siswa baru (PSB) tidak ada pungutan, baik dalam bentuk uang pendaftaran, ini berlaku untuk SDN dan SMPN. Sedangkan untuk SD dan SMP swasta, terserah kepada mereka.
            Sedangkan untuk SMAN atau SMKN, boleh memungut apabila siswa sudah diterima disekolah tersebut. Ini sesuai dengan peraturan Mendiknas. Bila SDN dan SMPN sampai ada pungutan, berarti sudah tidak sesuai dengan anjuran gubernur.
Sekolah negeri tidak boleh lagi menerima pungutan apalagi uang bangku dll, karena sudah diberi fasilitas oleh pemerintah.” katanya.
Herman mengakui, bahwa ada modus tertentu dalam pungutan bagi siswa yang sudah diterima, baik itu biaya membeli pakaian seragam, topi dll. Kemudian ia juga mengatakan “ada perbedaan antara pungutan dan sumbangan. Pungutan sudah tentu ada batasan nominalnya, sedangkan sumbangan tidak ada batasan nominalnya. Maka apabila dalam sumbangan ada batasan nominalnya, berarti itu pungutan.
Apabila ada sekolah negeri yang melakukan pungutan, maka akan diberi sangsi dan yang berhak menjatuhkan sangsi adalah Dinas Pendidikan kabupaten/kota atas persetujuan bupati/walikota” pungkasnya. ara/mb05


160611-kamis(jumat)-kejujuran UN


Kejujuran UN Di Kalsel Masih Samar

BANJARMASIN – Melalui sebuah layanan pengaduan masyarakat di Yahoo Mail, ada sebuah surat elektronik tertanggal 30 Mei, dari salah satu guru di Kalsel, yang meminta agar beredarnya kunci jawaban soal Ujian Nasional (UN) melalui SMS ditindak lanjuti.
            Kebocoran soal UN, beredarnya kunci jawaban, dan contek masal, masih hangat terjadi di republik ini, sehingga fenomena pro kontra UN dan permasalahannya semakin panas terangkat ke permukaan.
            Salah satu nara sumber (guru) yang tidak ingin namanya disebutkan, mengirimkan salinan surat elektronik pengaduan tersebut kepada Mata Banua, ia mengatakan “kami tidak tahu kemana harus mengadu, karena bisa saja apa yang kami adukan berbalik menyerang kami. Hanya kepada media massa kami berharap, persoalan ini diangkat, sehingga semua pihak terkait memperhatikannya” ujarnya.
            Isi dari surat elektronik tersebut antara lain:
“Saya adalah seorang guru, yang masih memiliki hati nurani, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, dan saya tahu persis apa yang terjadi pada pelaksanaan UN setiap tahun.
            Menurut laporan rekan sesama guru, pada malam dan pagi sebelum pelaksanaan UN, telah beredar SMS kunci jawaban seperti tahun-tahun terdahulu. Menurut salah satu siswa di Barabai, sms kunci jawaban berasal dari salah satu lembaga Bimbel.
            SMS kunci jawaban juga bukanlah hal asing di kabupaten Balangan, malah lebih terorganisir dan sistemik. SMS diterima oleh pihak sekolah pada malam hari sebelum UN, kemudian pihak sekolah mengirimkan kembali ke no HP siswa, atau dituliskan dalam catatan/kertas kecil. Kunci jawaban dalam SMS ternyata benar-benar pas, ketika dibandingkan dengan soal UN.”
            Menanggapi pengaduan ini, sekertaris Dinas Pendidikan (Disdik) provinsi Drs H Herman Taupan, pada Rabu (15/6) siang, mengatakan “di dalam proses pelelangan, pencetakan, penyampulan sampai distribusi, itu diawasi oleh perguruan tinggi (PT) beserta polisi. Sebelum didistribusikan kesekolah-sekolah, soal disimpan di kantor polisi, jadi sulit untuk terjadi kebocoran soal.
Selama ini di Kalsel, tidak pernah ada (secara langsung) laporan kebocoran soal. Kalau memang berasal dari lembaga Bimbingan Belajar (bimbel), maka bimbelnya yang dilaporkan.
Kami di Disdik provinsi, pungsinya hanya sebagai penyelengara di tingkat provinsi, yaitu bertugas menyeleksi percetakan pemenang tender yang akan menggandakan soal, dengan cara dilelang.
Kemudian kami hanya ikut mengawal ke daerah-daerah dan memonitoring penyelenggaraan UN. Sedangkan yang mengawasi adalah kepolisian dan perguruan tinggi” ujarnya.
Menjawab pertanyaan, apakah Disdik provinsi bisa melindungi dan membela apabila ada guru yang melaporkan terjadinya kecurangan saat pelaksanaan UN, Herman mengatakan “Disdik provinsi hanya penyelenggara, tidak punya wewenang dan kemampuan untuk melindungi dan membela, karena guru tersebut adalah milik Disdik kabupaten/kota. Jadi yang berhak melindungi dan membela hanya Disdik kabupaten/kota dan bupati/walikota.
            Kemudian yang bisa melindungi adalah dari kepolisian dan PT (Unlam) yang bertindak sebagai pengawas UN. Begitu pula kalau ada bimbel yang telah melakukan kecurangan, yang berhak mencabut ijin operasionalnya adalah Disdik kabupaten/kota” pungkasnya. ara/mb05.

150611-rabu(kamis)-tuntutan bem tuntas (Dm. di Headline hal.1)


Photo: mb/ara
DEMO - Secara bergantian Purek I dan Purek III menjawab pertanyaan demonstran dan menjelaskan pesan dari Rektor, pada demonstrasi ke dua mahasiswa Unlam

Photo: Prof Dr HM Hadin Munjad SH MHum
Photo: Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi
Photo: Arif Subhan

Tuntutan Demonstran Terpenuhi

BANJARMASIN - Pergolakan tuntutan mahasiswa yang diwakili oleh BEM PT, BEM F, KAMMI Komisariat Unlam dan UKM lain, terhadap Purek II Unlam Prof Dr Ir H Akhmad Gazali MS, agar mundur dari jabatannya karena telah melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik Unlam, telah terselesaikan.
            Sebelumnya, dimulai dari aksi demo pertama pada Senin (6/6) di depan kantor Rektorat Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, karena Rektor Unlam menjanjikan keputusan tindakan tegas satu minggu kemudian. Kemudian pada Senin (13/6), pada pukul 02.00 wita, mahasiswa kembali bergerak menuntut janji.
Demonstran sendiri ditemui oleh Purek I dan Purek III, karena Rektor masih ada di Jakarta. Secara bergantian Purek I dan Purek III menjawab pertanyaan demonstran dan menjelaskan pesan dari Rektor. Merasa tidak puas dengan jawaban tersebut, demonstran meminta agar Rektor dihubungi melalui telepon dan menjelaskan secara langsung.
Setelah beberapa kali di hubungi tidak ada jawaban, Purek III menawarkan untuk menghubungi Prof Dr H.Djantera Kawi sebagai ketua tim kecil penyelidikan, untuk dimintai penjelasan, atas hasil yang telah dilakukan, dan demonstran menyetujuinya.
Melalui telepon,  Djantera Kawi menjelaskan bahwa Prof Dr Ir H Akhmad Gazali MS, bersedia membuat surat pengunduran diri dalam beberapa hari kedepan. Menanggapi jawaban tersebut Presiden Mahasiswa Unlam Arif Subhan, mengatakan “untuk sementara kami terima jawaban ini, tapi kami akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas, bila dalam beberapa hari ini tidak ada juga surat pengunduran diri tersebut, kami akan kembali mengambil tindakan.
Rabu (15/6) malam, melalui telepon Arif mengabarkan kepada Mata Banua ”sekarang persoalannya sudah selesai, sebab  Purek II Unlam Prof Dr Ir H Akhmad Gazali MS telah menyerahkan surat pengunduran dirinya, pada Selasa kemaren” ujarnya.
Dilain pihak Purek III Unlam, Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi, melalui telepon, juga membenarkan keterangan Arif, katanya “surat pengunduran diri Purek II Unlam, diterima Rektor pada hari Selasa, dan pagi tadi Rektor meminta saya untuk menyampaikan kabar tersebut kepada Presiden Mahasiswa Unlam Arif Subhan. Alhamdulillah, sekarang masalahnya sudah selesai” katanya.
Seperti yang dikatakan Purek I Unlam Prof Dr HM Hadin Munjad SH MHum, pada Senin (13/6) sore, seusai menemui demonstran “apabila yang bersangkutan mengundurkan diri dari jabatannya, maka tidak diperlukan lagi penyelidikan. Persolan yang di tindak lanjuti oleh Rektor (institusi Unlam) adalah berdasar PP 53 tahun 2010, yang terkait pelanggaran disiplin PNS, persoalan lain yang menyangkut ranah hukum di luar kewenangan kami” pungkasnya. ara/mb05