Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 07 (Juli) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 07 (Juli) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

310711-minggu(senin)-PA Muhammadiyah (Dm.020811)

Photo: mb/ara
PENDIDIKAN – Agar pendidikan agama anak-anak asuh lebih mendalam, PA Yatim Muhammadiyah Putra ingin membuat pendidikan pesantren di dalam panti

PA Yatim Muhammadiyah Putra
Ingin Membuat Pendidikan Pesantren Di Dalam Panti

AWALNYA Panti Asuhan (PA) Yatim Muhammadiyah Putra menampung 30 anak, didirikan pada 1973, oleh H Muhammad Gani dari sebuah rumah biasa. Seperti halnya sebuah panti asuhan, anak-anak asuh PA Yatim Muhammadiyah Putra berasal dari keluarga yang tidak mempunyai orang tua, dan dari keluarga miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, terutama kebutuhan makan dan sekolah.
            Selain itu PA ini juga berfungsi sebagai tempat membina generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. Pada 2007, PA Yatim Muhammadiyah Putra melakukan rehab bangunan-bangunan yang sudah lapuk, sehingga layak untuk membuat anak betah diam dipanti, walau saat itu dengan fasilitas yang masih kurang” tutur Hasyim Jamal, ketua pengasuh PA Yatim Muhammadiyah Putra.
            Menurut Hasyim “jumlah anak panti yang diasuh saat ini ada 37 orang, yang terdiri dari 1 anak yang sedang kuliah, 8 anak di SMA/ sederajat, 14 anak di SMP/ sederajat, sisanya masih duduk di bangku SD, dan yang paling muda umur 9 tahun kelas 1 SD.
            Seusai pendidikan SMP, anak-anak memang diarahkan untuk masuk ke sekolah kejuruan, agar mereka lebih mempunyai keahlian sebagai bekal untuk mandiri. Setelah lulus SMA atau kejuruan, kami lihat perkembangan keinginan dari si anak. Apabila mereka ingin ke Universitas, panti akan membiayai hingga selesai, tapi apabila tidak, mereka akan diberi waktu selama 6 bulan untuk kursus keterampilan yang dibiayai oleh panti, entah itu bengkel atau yang lainnya. Selesai kursus, berarti mereka sudah wajib mandiri.
            Dibulan puasa ini, seusai sholat taraweh ada tausiah setiap malam. Pada hari-hari biasa biasanya dilakukan sehabis sholat Magrib yang di isi dengan pengajian tentang fiqih, sholat, pembinaan sosial seperti bagaimana cara bergaul, cara berakhlak yang baik, bagaimana bersopan santun dll.
            Untuk tadarus Al Qur’an, dilakukan setelah sholat Subuh, sholat Ashar dan sholat Isya. Sedangkan belajar, wajib dilakukan bersama-sama di aula panti agar yang lebih dewasa bisa mengajari yang lebih muda. Aktivitas belajar bersama ini dilaksanakan setelah sholat Isya dan tadarus Al Qur’an.
            Ada 4 kamar tidur untuk anak-anak, satu kamar ada yang 9 anak, tergantung luas kamar. Tiap kamar, kami serahkan kepada anak-anak itu sendiri yang mengatur jadwal kebersihan masing-masing. Sedangkan jadwal kebersihan untuk lingkungan panti, diatur oleh pengasuh secara bergiliran. Apabila ada yang melanggar peraturan, akan dihukum menghapal surah pendek, atau membersihkan WC” ujar Hasyim yang telah 4 tahun menjadi pengasuh panti.
            Mengenai berapa pemasukan dan pengeluaran panti, Hasyim tidak mengetahui secara jelas “itu tugas bendahara” katanya. Hasyim berharap PA Yatim Muhammadiyah Putra nantinya bisa mempunyai komputer untuk anak-anak mengerjakan tugas sekolah, agar tidak perlu merental keluar lagi, lalu ada perpustakaan tempat anak-anak membaca buku, dan ia berharap nantinya dapat membuat pendidikan pesantren di dalam panti, sehingga pendidikan agama anak-anak benar-benar mendalam. araska

           

310711-minggu(senin)-launching novel minggu raya (Dm.di Cat.kaki.hal 1)

Photo: mahfuz

MGR Banjarbaru Memacu Sastra Melalui Penerbitan Buku

Kebersamaan dan saling mendukung menjadi modal untuk meningkatkan perkembangan sastra pada suatu kota.

SUASANA malam Minggu 30 Juli 2011 di Warung Seniman (WS) Kedai Kopi Nusantara, yang terletak disudut Minggu Raya seberang Lapangan Dr Murjani Banjarbaru, terlihat ramai dengan kehadiran tokoh-tokoh seni dan sastra, serta tokoh-tokoh era 70-an yang pernah mewarnai perjalanan dan perkembangan Minggu Raya hingga sekarang.
            Berkumpulnya tokoh-tokoh 70-an yang telah sukses dengan karier masing-masing, untuk melepas rentang waktu perpisahan, mengulang kisah kenakalan dan keceriaan masa remaja. Diantara tokoh-tokoh yang hadir pada malam itu antara lain Ogi Fajar Nuzuli, Dewa Pahuluan, Adi Yusfa, Tribuana, Fachruddin Nor Ifansyah, Arsyad Indradi, Hamami Adaby, Sirajul Huda, Ali Syamsudin Arsy, Abdurrahman El Husaini, HE Benyamine, dll.
            Bukan tanpa sebab hadirnya para tokoh tersebut, melainkan dalam rangka launching novel Rico Hasyim yang juga merupakan salah satu tokoh 70-an Minggu Raya. Pada waktu yang bersamaan, Ogi Fajar Nuzuli turut membagikan bukunya yang berjudul Melawan Dengan Budaya, begitu pula dengan Abdurrahman El Husaini yang membagikan kumpulan puisi bahasa Banjarnya yang berjudul Doa Banyu Mata.
            Mengenai novel yang dikarangnya, Rico Hasyim berkata “novel ini menceritakan pengalaman masa remaja kami di Banjarbaru pada 30 tahun yang lalu, ada 7 orang yang menjadi tokoh cerita, alur cerita 70 persen diangkat dari kisah nyata, sisanya adalah hiasan sebuah imajinasi.Minggu Raya menjadi kenangan kami, kenangan itulah yang saya tuangkan dalam novel yang berjudul Minggu Raya” ujarnya.
            Nico mengakui bahwa dorongan terbesar yang menyebabkan ia mengarang novel ini, adalah dari kawan-kawan sepermainan masa kecilnya, serta dari para sastrawan yang sering berkumpul dan berdiskusi di Warung Seniman Minggu Raya. “Namun novel ini tidak akan terwujud, apabila bukan karena peran serta MGR dengan penerbitan Minggu Raya Pres Banjarbaru” ungkapnya.
            Dilain pihak Dewa Pahuluan selaku Presiden MGR Banjarbaru, berkomentar “novel Rico Hasyim ini menceritakan kehidupan anak muda kota Banjarbaru pada masa penulisnya, bertutur tentang kesetiakawanan dan persaudaraan, keceriaan yang diwarnai dengan imajinasi dan kreativitas, yang ditulis secara ringan dan mengalir.
            Sementara itu, kebersamaan para penulis di Banjarbaru untuk saling mendukung dalam berkarya, itulah yang aku kagumi. Oleh karena itu, MGR akan selalu siap membantu para pelaku seni di Banjarbaru yang ingin membuat buku” pungkasnya. ara/mb02
           
           

290711-jumat(sabtu)-silaturahmi PKB

Photo: mb/ara
DOA – Sialturahmi DPW PKB Kalsel, DPC PKB Banjarmasin dan Garda Bangsa dengan salah satu tokoh ulama NU di rumah KH Birhasani untuk meminta doa dan restu

Harlah PKB Kalsel Silaturahmi Dengan Ulama NU

BANJARMASIN – Menjelang Ramadhan tidak hanya tradisi masyarakat Banjar, yang berkunjung kepada sanak keluarga yang masih hidup, ataupun melakukan ziarah kubur. Tapi juga dilakukan secara organisasi oleh pengurus DPW PKB Kalsel dan DPC PKB Banjarmasin, beserta organisasi pemudanya yaitu Garda Bangsa, sebagai rangkaian peringatan Harlah PKB.
            Kepada Mata Banua, pada Kamis (28/7) pagi, Hilyah Aulia sekertaris DPW PKB Kalsel menjelaskan “ini adalah rangkaian dari kegiatan Harlah PKB yang ke-13, dengan melakukan silaturahmi kepada ulama-ulama Nahdatul Ulama (NU) di kota Banjarmasin dan tokoh-tokoh yang telah membesarkan PKB.
            Tentunya sudah menjadi kewajiban bagi kami yang masih muda, untuk mengunjungi tokoh-tokoh agama, meminta doa dan restu mereka atas semua aktivitas yang dilakukan, baik secara organisasi maupun secara pribadi, karena PKB dari NU dan NU dari Ulama.
            Silaturahmi pertama kali dilakukan kepada tokoh yang telah membesarkan PKB seperti Rosehan NB SH, selanjutnya kepada tokoh-tokoh NU, seperti KH Birhasani, KH Salim Ahmad, KH Muhammad Syukrani, KH Ibrahim Hasani, KH Humaidi Dahlan dan KH Musni Tafsir” ujarnya.
            Lanjut Hilyah “dengan silaturahmi ini diharapkan, agar semangat kader-kader PKB tetap kuat dan semakin bangkit. Selanjutnya, kami akan melakukan ziarah ke Kelampayan dan Sekumpul” ungkapnya. ara/mb05

290711-jumat(sabtu)-jiarah kubur sblm ramadhan (Dm.di Berita Kaki.hal 1)

Photo: mb/ara
BERKAH – Ziarah kubur menjelang Ramadhan turut mendatangkan berkah bagi masyarakat yang tinggal di sekitar komplek pemakaman umum

Berkah Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

BANJARMASIN - Kebiasaan masyarakat untuk berziarah kubur menjelang datangnya Ramadhan, tidak hanya dilakukan di kota Banjarmasin saja atau Kalsel dan Indonesia umumnya, tapi juga dilakukan kaum muslimin di berbagai belahan dunia lainnya.
            Kata 'ziarah' berasal dari bahasa Arab zara, yazuru, ziaratun, yang artinya berkunjung atau pergi menengok. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Penerbit Balai Pustaka), kata ziarah diartikan dengan berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap keramat atau mulia, makam dan sebagainya. Sedangkan kata kubur ialah tempat pemakaman jenazah.
            Secara khusus ziarah kubur menjelang Ramadhan, memang sudah menjadi tradisi orang Banjar secara turun temurun, walaupun sebagian ulama ada yang membolehkan dan ada pula yang melarangnya. Namun bukan berarti tidak ada dalil yang membenarkan persoalan ziarah kubur.
            Ziarah kubur termasuk ibadah yang pada awalnya diharamkan, namun kemudian dianjurkan dalam agama. Pengharaman ziarah kubur sebelumnya, disebabkan para sahabat Rasulullah baru saja meninggalkan agama jahiliyah, namun ketika para sahabat sudah lebih kental keimanannya, maka Rasulullah SAW pun membolehkan mereka berziarah kubur. Dari Ibnu Majah dari shahabat Ibnu Mas'ud ra Rasullah SAW bersabda:
“Dulu aku telah melarang kamu berziarah ke kubur, maka sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur itu dapat berzuhud terhadap dunia dan dapat mengingatkan akan akhirat”. Serta masih banyak hadist nabi lainnya yang terkait dengan ziarah kubur.
            Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, tentang kesunnahan mendoakan orang yang sudah wafat. Dan bahwa doa itu bisa sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, serta berpengaruh atas nasib yang di alami. Entah doa itu dari anak kepada orang tuanya, atau dari siapa saja yang mendoakan.
            Sebagian ulama mengatakan, dari segi waktu tidak ada perintah khusus untuk berziarah kubur di bulan tertentu. Kebiasaan masyarakat berziarah kubur pada saat menjelang datangnya bulan Ramadhan jelas tidak ada dasar syariatnya.
            Pendapat mengenai dasar waktu, dibantah oleh ulama lainnya yang mengatakan, ketika suatu kaum mempunyai waktu khusus untuk mengamalkan sunnah, lalu apakah hal itu disebut munkar dan bid'ah? Kebiasaan untuk melakukan sunnah ini merupakan hal yg mulia, entah itu Sya'ban, Ramadhan atau kapanpun sempat melakukannya, maka tak menjadi larangan karena memang tak ada larangannya.
            Terlepas dari pro kontra khilafiah boleh dan tidaknya, dilain pihak ziarah kubur menjelang Ramadhan, malah banyak mendatangkan berkah bagi masyarakat, yang berada di sekitar komplek pemakaman. Semakin mendekati hari Ramadhan, semakin banyak peziarah yang datang. Sehingga, para penjual minuman (warung), penjual bunga, penjual tanah dan batu, jasa kebersiahan (pencabut rumput) dan penjaga komplek pemakaman, menuai berkah pundi-pundi rupiah.
            Dari pantauan Mata Banua, pada sore Kamis (28/7) di sebuah komplek pemakaman umum di Jl Malkon Temon, kelurahan Surgi Mufti Banjarmasin, tampak seorang wanita bersama dua orang anaknya, baru saja turun dari kendaraan, setelah memperhatikan keadaan makam, ia memanggil seorang laki-laki untuk membersihkan rumput-rumput yang tumbuh disekitar sebuah kuburan. Setelah kuburan itu terlihat bersih, ia memberikan upah kepadanya. Kemudian wanita tersebut dengan khusuk duduk berdoa di depan kubur orang tuanya itu.
            Syarifudin (45) salah satu tukang cabut rumput di komplek pemakaman berkata “semakin dekat bulan puasa, akan semakin banyak yang datang berziarah. Tidak ada patokan harga atas jasa membersihkan kuburan, terserah berapa diberi, tergantung kerelaan”.
            Ipit (50) penjual tanah dan batu di sekitar komplek pemakaman umum, menuturkan “alhamdulillah, beberapa hari ini banyak orang yang minta perbaiki siring kubur keluarganya, ini adalah berkah bagi kami” pungkasnya. ara/mb05

280711-kamis(jumat)-pementasan teater 6 banua (Dm.090811)

Photo: mb/ara
KRITIK – Terselip kritik politik dalam pementasan teater Sanggar Anam Banua di gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel

Kebohongan Politik Dalam Kritik Teater

BANJARMASIN – Keadaan sosial masyarakat, tingkah laku penguasa dan nasib pejuang kemerdekaan, selalu menjadi topik yang hangat ketika diangkat ke panggung teater.
            Hal itu pula yang dilakukan oleh Sanggar Anam Banua pada pementasan teater yang dilaksanakannya pada Rabu (27/7) malam di gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel.
            Fahmi, salah satu panitia pelaksana pementasan menceritakan kepada Mata Banua “pementasan teater yang kami mainkan ini berjudul ‘Pakaian dan Kepalsuan’ saduran bebas karya Achdiat K Mihardja dari cerita sandiwara Rusia.
            Isi ceritanya tentang dua orang veteran pejuang kemerdekaan yang menganggur dan kecewa terhadap cara-cara berpolitik pemimpin negeri yang dulu pernah mereka perjuangkan. Kebohongan dan kepalsuan serta kemunafikan yang hendak mereka bongkar” katanya.
            Lanjut Fahmi “proses latihan untuk pementasan ini memang cukup lama, sekitar beberapa bulan, banyak tantangan yang kami hadapi, salah satunya adalah terjadinya beberapa kali perubahan pemain, hal itu disebabkan karena faktor kesibukan kerja dari aktor yang bersangkutan.
            Bahkan, malam kemaren ketika semua telah siap untuk naik kepanggung, kembali salah satu pemain tidak bisa memainkan perannya, karena mengalami kecelakaan, berarti harus ada perubahan aktor lagi. Sehingga Riza Rahim sebagai sutradara terpaksa menggantikannya untuk naik kepanggung.
            Terlepas dari semua kendala yang kami hadapi dalam persiapan pementasan, yang utama adalah pesan dan makna dari isi cerita yang kami suguhkan” ujarnya.
            Dalam kesempatan yang sama, Teater Tunas Banua dari MAN 2 Model Banjarmasin, yang merupakan binaan Sanggar Anam Banua, turut mementaskan sebuah lakon yang berjudul ‘Zizal’ karya Riza Rahim. Menceritakan tentang persoalan remaja, pergolakan jiwa dan tergoncangnya kepribadian menghadapi situasi kehidupan. ara/mb05

280711-kamis(jumat)-naga kalsel harus diasah

Disporbudpar Kalsel Menyayangkan Daerah Yang Tidak Menyeleksi Naganya

BANJARMASIN – Pemilihan Nanang Galuh (Naga) Kalsel 2011 telah selesai dilaksanakan, pada Sabtu malam 30 Juli 2011 yang lalu, dengan melalui seleksi ketat dan persaingan dari semua peserta utusan kabupaten/kota di Kalsel. Selanjutnya, tinggal memberdayakan dengan optimal Naga yang telah terpilih, agar peran serta dan pungsinya benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan pariwisata daerah.
            Dilain pihak, tidak semua peserta yang di kirim oleh kabupaten/kota tersebut telah melalui seleksi daerah, karena ada daerah yang tidak melakukan pemilihan Naganya sebelum dikirim ke seleksi tingkat provinsi.
            Mengenai Naga yang terpilih, Kawang Yoedha SH salah satu juri diantara 7 juri yang menilai dan menyeleksi peserta Naga Kalsel 2011, pada Selasa (26/7) malam, berkomentar “tahun ini pemilihan Naga Kalsel di manage cukup bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya, baik itu dari kemasan maupun sistem penilaian dan proposional. Sehingga menghasilkan pemenang yang kapabilitasnya baik.
            Kedepannya ke dua pemenang Naga Kalsel yang telah terpilih ini, yaitu Fauzan Rahman dan Neneng Putri Sari Ramadhan, yang keduanya dari kota Banjarmasin, harus lebih diasah dan di berdayakan lagi untuk masyarakat dan pariwisata daerah, selain itu mereka juga harus benar-benar disiapkan untuk pemilihan duta wisata tingkat nasional” ujarnya.
            Sebelumnya, dalam sebuah kesempatan wawancara Mata Banua dengan Kepala Bidang Kebudayaan dan Kesenian Disporbudpar Kalsel, Merah Yusirwan Bangsawan yang juga sebagai ketua panitia Naga Kalsel 2011, seusai menyaksikan Festival Tari se-Kalsel pada Sabtu (16/7) malam yang lalu, mengatakan “seleksi Naga Kalsel 2011, memang kita rancang untuk menekuni kegiatan-kegiatan luar ruangan.
            Sementara ini, peserta Naga ada kesan gedongan. Maka, sekarang kami terjunkan mereka langsung di tengah masyarakat, dalam kehidupan yang berkembang dimasyarakat, denyut kehidupan masyarakat itu harus mereka rasakan” katanya.
            Lanjut Yusirwan “dengan semua sistem pemilihan yang kami berlakukan ini, kami harapakan peserta Naga Kalsel 2011, akan lebih peduli dengan masyarakat. dan masyarakat lebih peduli dengan naga mereka. Karena Naga Kalsel adalah figura hidup seni budaya kita, oleh karena itu itu pemilihannya diadakan ditempat terbuka, sehingga masyarakat umum dapat melihat siapa Naga meraka.
            Pemilihan Naga Kalsel di tempat terbuka dan melibatkan semua unsur media massa, harus menjadi contoh bagi semua kabupaten/kota di Kalsel” ujarnya.
            “Tapi, kami sangat menyayangkan. Karena diantara semua kabupaten/kota yang mengirimkan pesertanya untuk pemilihan Naga Kalsel, telah melakukan seleksi didaerah masing-masing dalam bentuk event pemilihan, hanya kabupaten Banjar yang tidak melakukannya” ungkap Yusirwan di akhir perbincangan. ara/mb05


270711-rabu(kamis)-Poliban Ospek

Photo: mahfuz

Disiplin Menjadi Tujuan Utama SPAK POLIBAN

BANJARMASIN – Penanaman jiwa di siplin menjadi tujuan utama dalam pengenalan kampus kepada 801 mahasiswa baru Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban), dari jurusan Teknik Sipil, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Akutansi, dan Bisnis.
            Acara pengenalan kampus kepada mahasiswa baru Poliban sendiri di namakan SPAK yaitu Pengenalan Akademik Jurusan, yang dilaksanakan dari 25 sd 27 Juli 2011 di seputar lingkungan kampus Poliban, di dalam komplek Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin. Panitia dari dosen ada 70 orang, dan dari mahasiswa lama (senior) ada 85 orang, yang terdiri dari BEM, HMJ, UKM, serta tim kesehatan. ” ungkap Joni Riadi SST MT, ketua panitia SPAK.
            Joni yang juga dosen pengajar Teknik Elektro, menambahkan “materi yang diberikan dalam SPAK untuk melatih kedisiplinan seperti baris berbaris dari Menwa dibantu oleh 9 orang anggota Kodim, serta ada pula ceramah agama dan pengenalan pancasila.
            Materi lain yaitu tentang Poliban yang diberikan oleh Direktur, tentang Akademik oleh Purek I, tentang keuangan oleh Purek II, tentang kemahasiswaan oleh Purek III, dan beberapa materi tambahan tentang pengenalan organisasi mahasiswa dari BEM dan UKM yang ada di Poliban.
            Pada hari terakhir, semua mashasiswa baru akan di bagi sesuai jurusan masing-masing untuk meninjau ruangan dan lab-lab jurusan, serta ada ceramah mekanisme pembelajaran yang diberikan oleh kepala jurusan masing-masing. Kemudian pengenalan tentang Himpunan Mahasiswa Jurusan.
            Sebagai penutup, semua masiswa baru yang telah dibagi sesuai dengan jurusan masing-masing, kembali semuanya dijadikan satu untuk hiburan yang diberikan oleh BEM, UKM dan dari mahasiswa baru itu sendiri” ujarnya.
            “Dengan kedisiplinan yang ditanamkan kepada mahasiswa baru, kami berharap mereka siap menerima semua pembelajaran yag akan diberikan oleh Poliban, entah itu disiplin waktu, tugas dan lainnya. Sehingga nantinya mereka bisa menunjukkan prestasi akademik yang diharapkan” pungkasnya. ara/mb05

270711-rabu(kamis)-nilai pancasila

Implementasi Nilai-Nilai Pancasila

BANJARMASIN – Berapa banyak masyarakat Indonesia yang tahu akan Pancasila, berapa banyak yang memahami akan Pancasila, dan berapa banyak yang mengamalkan Pancasila. Dilihat dari situasi negeri dewasa ini, wajar kalau dikatakan sedang mengalami krisis jati diri, yang sebenarnya jati diri bangsa itu telah terkandung sejak lama dalam Pancasila.
            H Fakhruddin AM, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kalsel, dalam Diskusi Publik yang dilaksanakan oleh Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBT) pada Sabtu (23/7) pagi yang lalu, mengatakan “Pancasila sebagai ideologi bangsa, Pancasila merupakan lima prinsip dasar rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila juga sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, yang sudah ada sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara.
            Pancasila yang menjadi pandangan hidup berbangsa dan bernegara, perlu dihayati dan diamalkan secara nyata, untuk menjaga kelestarian demi terwujudnya tujuan nasional, serta cita-cita bangsa.
            Dalam implementasinya pada kehidupan sehari-hari, TAP MPR Nomor II/MPR/1978 telah menetapkan rumusan tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4 atau Ekaprasetia Pancakarsa), dimana dijabarkan sebanyak 45 butir pengamalan dari Pancasila. Sedangkan yang menjadi fokus 45 butir pengamalan dari Pancasila tersebut adalah semangat persatuan” ujarnya.
            Menurut Fakhruddin “Indonesia adalah sebuah Negara yang besar, terdiri dari 17.450 buah pulau, yang membentang dari Merauke hingga Sabang, dengan beragam seni budaya, suku bangsa, bahasa, agama, dan adat istiadat. Indonesia ini merupakan Negara yang heterogen.
            Keberagaman ini mereupakan potensi yang sangat besar sekali, apabila tidak dikelola dengan baik, maka keberagaman ini akan berakibat konflik, dan mengganggu keutuhan kebhineka-tunggal-ikaan” pungkasnya. ara/mb05

260711-selasa(rabu)-pelajar keluhkan isu NII

Pelajar Resah Dicurigai Terlibat NII

BANJARMASIN – Jawaban dan tindakan yang diberikan pemerintah terhadap gerakan NII dan NII KW IX, hingga sekarang tidak pernah lugas. Sementara isu dan pemberitaan tentang korban-korban rekrutmen NII terus beredar di tengah masyarakat.
            Walaupun saat ini kabar dari korban NII hanya terjadi di luar Kalimantan, seperti Malang, Jawa Timur, Provinsi Riau, dan Aceh Barat. Dan di tengarai basis NII ada di Aceh, Sumut, Padang, Riau, Palembang, Jabar, Banten, Jateng, Jatim, Lombok, Sulsel, Sulteng, Sulut, Maluku, dan Maluku Utara. Tetapi keresahan orang tua di Banjarmasin terhadap aktivitas kegiatan keagamaan anak-anaknya tidak bisa dikesampingkan.
            Karena NII mengutamakan rekrutmen anggota di lingkungan siswa SMA dan sederajat, yang nantinya dipersiapkan membangun jaringan di kampus-kampus saat menjadi mahasiswa.
            Sebagian orang tua pelajar mulai melarang anaknya untuk ikut kegiatan eskul keagamaan di sekolah, karena takut ada kaitan dengan NII, hal ini diungkapkan oleh Nadia Iranti Ulfa dari SMAN7 dan Kurnia Putri dari SMAN5, beberapa waktu yang lalu kepada Mata Banua.
            Nadia dan Ulfa sebelumnya aktif dalam Kelompok Studi Islam. Menurut Nadia kegiatan eskul ini sebenarnya resmi berdiri di sekolahnya dan pembinanya sendiri adalah dari guru agama yang mengajar di sekolahnya. Nadia mengatakan “Saat ini banyak masyarakat atau orang tua siswa yang menyamakan organisasi keagamaan pelajar yang disamakan dengan NII”.
            Ia menyayangkan tidak adanya tindakan pihak sekolah, untuk menjelaskan kepada orang tua siswa bahwa tidak ada kegiatan yang menyimpang. Nadia juga berharap, pihak Dinas Pendidikan untuk lebih aktif mengadakan sosialisai ke sekolah-sekolah dan masyarakat agar keresahan orang tua tidak ada lagi.
            Menanggapi situasi ini, Dra Hj Noormayani MAP kordinator Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBT) Kalsel, pada Sabtu (23/7) pagi, berkata “orang tua tidak bisa begitu saja memvonis bahwa kegiatan eskul keagamaan siswa dikaitkan dengan NII, tapi harus di teliti dengan lebih baik dan diurunrembukkan bersama-sama dengan guru-guru.
            Selain itu, semua lapisan bertanggung jawab terhadap pengawasan dengan anak-anak kita, baik masyarakat, tokoh agama, orang tua, guru, Disdik dan pemerintah” pungkasnya. ara/mb05

260711-selasa(rabu)-BKPRMI ciptakan pemuda (Dm.280711)

Siapkan Generasi Muslim Yang Berwawasan Kebangsaan NKRI

BANJARMASIN – Krisis pemahaman kenegaraan Pancasila, berkembangnya isu NII, dan maraknya Islam radikal, menyebabkan banyak orang menjadi fobia terhadap hal-hal yang berbau Islam.
            Dilain pihak, terpaan pergaulan bebas dari budaya asing, kian mempengaruhi kehidupan remaja. Semua keadaan yang menjadikan orang tua khawatir anak-anaknya terlibat dengan pemahaman yang salah dan menyimpang.
            Beberapa waktu yang lalu, ketua umum Himpunan Keluarga Besar BKPRMI Kalsel, Drs H Abd Wahid, kepada Mata Banua mengatakan “dengan adanya situasi saat ini, menjadi wajar dengan kekhawatiran dan kecurigaan orang tua atau masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan, tidak terkecuali pada aktivitas BKPRMI.
            Sekarang tinggal bagaimana BKPRMI sebagai lembaga pelatihan dan pembinaan generasi muda, bisa memperlihatkan aktivitas positif kegiatannya kepada masyarakat, kalau sudah terlihat, maka kecurigaan itu bisa dihilangkan. Karena BKPRMI tidak membawa programnya kearah berdirinya hal-hal diluar Negara kesatuan RI.
            Bahkan, apabila ada elemen-elemen dan kegiatan yang mengarah kepada bentuk pengingkaran NKRI, itu menjadi kewajiban bagi keluarga besar BKPRMI untuk mengantisifasinya” ujarnya.
            Menurut Wahid “melihat perkembangan budaya asing, pergaulan yang kian bebas, dan tantangan negatif yang sangat banyak terhadap generasi muda kita, maka mereka sangat perlu mendapat perhatian lebih. Dan sudah menjadi tugas pokok BKPRMI untuk memprogramkan, serta menyiapkan generasi-gerasi muslim yang berwawasan kebangsaan RI” pungkasnya. ara/mb05

250711-senin(selasa)-winniarlita penyumbang panti (Dm.280711)

Photo: mb/ara
BANTUAN - Winniarlita Irmawati dari Yayasan Sosial Armindo Sejahtera Umat memberikan bantuan kepada Panti Asuhan Puteri Mu’awanah

Kebahagiaan Dalam Berbagi

BANJARMASIN – Kelebihan materi yang dipunyai oleh seseorang alangkah lebih baik bila di sisihkan sebagian untuk membantu anak-anak yang tidak mampu membeli pendidikan. Namun kepedulian berbagi materi memang harus ditanamkan dalam keluarga semenjak dini, itulah yang diwarisi oleh Winniarlita Irmawati.
            Pertemuan Mata Banua dengan Winniarlita adalah pada saat ia juga berkunjung dan menyerahkan bantuan secara langsung ke Panti Asuhan Puteri Mu’awanah, beberapa hari yang lalu, Selasa (12/7).  
            Mengenai apa yang dilakukannya, Winniarlita menuturkan “kedatangan ke Banjarmasin hari ini untuk menjenguk kampung halaman, karena saat ini kami sudah tinggal di Jakarta. Semenjak kecil almarhum bapak sudah mengajarkan kepada kami untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain, melalui kelebihan materi yang kami punyai.
            Bapak mendirikan Yayasan Sosial Armindo Sejahtera Umat, setelah bapak meninggal dunia, program bantuan sosial sempat terhenti beberapa waktu. Mengingat apa yang sudah diajarkan oleh bapak kepada kami sebagai anaknya, bukan cuma perusahannya (PT Armindo Prima) yang diwarisi, tapi sifat kepeduliannya kepada orang lain juga harus kami warisi. Oleh karena itu beberapa bulan yang lalu kami memulai kembali apa yang telah bapak lakukan.
            Jumlah bantuan sekitar Rp 2 juta sd Rp 4 juta, tergantung dari jumlah penghuninya, setahun ada 3 kali bantuan, langsung di transfer ke rekening panti. Ada beberapa panti di Indonesia yang kami Bantu yaitu di Jawa Barat, Nusa Tenggara dan di Kalsel ini, totalnya ada sekitar 10 panti, untuk di Kalsel ada 5 panti.
            Kedepannya akan ditambah lagi jumlah panti yang dibantu dan bantuan juga tidak hanya dalam bentuk dana, tapi bisa pula bantuan modal usaha, bantuan pembangunan, dan bantuan pelatihan keterampilan untuk anak-anak panti, seperti yang bapak lakukan dulu” ungkap Winniarlita yang juga selaku President Director PT Armindo Prima. ara/mb05
             

250711-senin(selasa)-TB.FTK-tari aruh panganten ktb (Dm.300711)

Photo: mb/ara
WAKILI - Penampilan Tari Aruh Panganten dari Yayasan Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru yang akan mewakili Kalsel dalam Festival Nasional Seni Nusantara di Jakarta

TAP Seni Tradisinya Harus Lebih Kental Lagi

BANJARMASIN – Walau telah terpilih untuk mewakili Kalsel dalam Festival Nasional Seni Nusantara (FNSN) di Jakarta, bagi Yayasan Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru dengan Tari Aruh Panganten (TAP)nya, berarti harus berlatih lebih keras lagi, dan memperbaiki bagian-bagian yang dirasa masih kurang dalam persembahan tari yang dibawakan.
            Hj Irma Faujiah, ketua dewan juri dalam Festival Karya Tari Daerah (FKTD) se-Kalsel, seusai festival pada Sabtu (16/7) malam yang lalu, di Gedung Balairungsari Taman Budaya (TB) Kalsel, mengatakan “kreteria utama kami dalam menilai penampilan dari grup tari yang akan ke FNSN adalah yang menceritakan tentang adat istiadat, upacara, mitos, dan legenda. Tidak ketinggalan dengan garapan musik dan pakaian yang memang benar-benar mencirikan daerah Banjar.
            Untuk TAP sebelum berangkat ke Jakarta September mendatang, ada hal-hal yang mesti diperbaiki, seperti gerakan pengantinnya yang harus lebih banyak di ekspos, tetapi tetap membedakan antara gerak laki-laki dan perempuan, bagaimana seharusnya gerakan laki-laki dan bagaimana seharusnya gerakan perempuan. Kalau dalam FKTD ini waktu kami batasi hanya 7 menit, sekarang di FNSN dengan waktu 15 menit berarti banyak hal lain yang harus ditambah, namun seni tradisi yang ditampilkan dalam tarian harus lebih kental lagi” ujarnya.
            TAP juga ditetapkan oleh dewan juri FKTD sebagai penata musik pengiring tari terbaik, dilain pihak Rudi Nugraha SSos penata musik TAP, mengatakan “musik tari yang kami garap tentunya memang disesuaikan dengan kebutuhan dari tarian, karena memasukkan berbagai seni tradisi dalam tariannya, maka menjaga harmonisasi beberapa ragam musik seni tradisi adalah sangat penting”.
            Kemudian Anang Mahendra Bayu penata tari TAP, menambahkan “para penari TAP rata-rata masih SMA. TAP menggambarkan kebiasaan masyarakat Banjar Kalsel, bekerjasama dan bergotong-royong, baik laki-laki maupun perempuan dalam mempersiapkan acara perkawinan, seperti makanan, sesaji dll, diselingi canda dan kelucuan-kelucuan yang terjadi untuk menghilangkan kepenatan.
            Dan di perlihatkan pula sebagian dari prosesi adat persiapan calon pangantin sebelum duduk dipelaminan, diantaranya bakasai dan batimung. Lalu sebagai hiburan dalam pesta perkawinan, dihadirkan penampilan kuda gepang. Simbol kuda mempunyai pengertian dari rasa cinta kasih kedua calon pengantin. Kemudian ada penampilan bawayang, bapantulan, hadrah, serta payung ubur-ubur yang mengiringi penganten menuju pelaminan, menambah kemeriahan pengantin bersanding.
            Tema adat perkawinan yang kami angkat ini, adalah untuk menyampaikan pesan dalam tarian bahwa beginilah situasi, prosesi dan kesenian yang ditampilkan dalam pesta perkawinan orang Banjar.
            Dengan waktu latihan yang masih ada, sebelum tampil di Jakarta, maka semua masukan dari juri akan kami perhatikan, meneliti dan memperbaiki kembali apa-apa yang masih dianggap kurang” pungkasnya. ara/mb05


240711-minggu(senin)-PA Bhakti Luhur (Dm.260711)

Photo: mb/ara
CACAT MENTAL - Panti Asuhan Bhakti luhur mengabdikan diri untuk mengasuh anak-anak cacat mental

PA Bhakti Luhur
Berharap Walikota Lebih Dekat Dengan Anak Panti

MENGASUH anak yang normal saja sudah sulit, apalagi mengasuh anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental. Benar-benar sebuah pengabdian dan perjuangan yang sangat tidak mudah.
            Panti Asuhan (PA) Bhakti luhur yang beralamat Komplek Pembangunan I, jl Pandan, kelurahan Belitung Selatan Banjarmasin, didirikan pada awal Januari 2005, mendedikasikan pengasuhannya 90 persen untuk anak-anak yang keterbelakangan mental dan cacat phisik.
            Suster Karti (43) pengasuh PA Bhakti Luhur menceritakan “ini adalah pengabdian kami untuk berbagi kasih dengan anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental dari keluarga yang tidak mampu. Bisa merawat mereka, merasakan kasih sayang kepada mereka, agar mereka bisa pintar, menjadikan hidup kami menjadi berarti.
            Terkadang, sebagai manusia kami pun merasa kelelahan, sehingga semua rutinitas yang dijalani, menjadi sedemikian berat, sehingga emosi menjadi lebih terasa dan tidak bisa memberikan pelayanan yang optimal. Tapi, setelah melihat kelucuan anak-anak tersebut, dan kepolosan mereka, semua beban terangkat sirna, berganti dengan kasih sayang” ujar
            Sebelum mengabdi di PA Bhakti Luhur di Banjarmasin, suster Karti sudah menjadi pengasuh di PA Bhakti Luhur di daerah lain sejak 1986. Ia kemudian kembali berkata “anak yang di asuh dalam PA Bhakti Luhur ada 26 orang, yang diluar panti ada 15 orang. Paling muda berumur 17 bulan.
Anak-anak tersebut di dapat dari kunjungan dari rumah-kerumah atau ada masyarakat yang memberitahukan kepada kami, bahwa disana ada anak yang memerlukan bantuan (dari keluarga yang tidak mampu dan mengalami keterbelakangan mental), maka kami segera mengunjungi, menolong mereka, memberi pelayanan, memberi bantuan fisioterapy dll. Selain itu ada pula masyarakat yang mengantarnya sendiri.
Karena disini adalah anak-anak yang berkebutuhan khusus, keterbelakangan mental dan ada yang hingga idiot yang mereka perlukan adalah kasih sayang yang tulus agar mereka gembira. Kita didik dan latih mereka hingga bisa membantu dirinya sendiri, paling tidak mereka bisa buang air kecil dan buang air besar sendiri.
Untuk anak yang normal, di sini ada 4 orang dari anak terlantar, salah satunya disekolahkan di TK Maria, dua diantaranya karena telah diterapi dan bisa 3M (membaca, menulis, menghitung) kami rujuk kesekolah SDLB di pelambuan.
            Batasan purna asuh atau mandiri untuk anak-anak seperti ini tentunya lebih sederhana dari yang normal. Apabila anak-anak tersebut, paling tidak mereka sudah tidak lagi mengalami penyimpangan tingkah laku, sudah mengerti makan dan mandi, itu kami anggap sudah mandiri, kemudian kami kabarkan dengan keluarganya, apakah mau dibawa pulang.
Begitu juga menilai peningkatan atau kemampuan anak, itu dilihat dari perkembangan apakah tingkah lakunya tidak terlalu menyimpang lagi, seperti ada anak yang suka mencabut rambutnya dan menggigit bajunya hingga hancur, saat ini hal itu sudah tidak dilakukannya lagi, ini adalah peningkatan dari perkembangan mental si anak” katanya.
            Mengenai fasilitas panti, Suster Karti berkata “PA Bhakti Luhur mempunyai 7 suster dan 5 pengasuh. Kemudian ada 9 kamar tidur, masing-masing kamar ada yang untuk dua orang, tiga orang atau lebih tergantung luas kamar dan kebutuhan dari si anak sendiri. Misalnya ada anak yang kalau malam suka teriak-teriak, sehingga satu kamar satu anak dengan satu suster, karena bila berkumpul dengan anak lain, tentunya akan mengganggu.
            Sudah menjadi rutinitas disini, menyiapkan segala sesuatunya untuk anak-anak, bagaimana membuat rencana, seperti jam berapa mereka bangun pagi, mandi, berdoa bersama, makan pagi, terapi, makan siang, bermain, istitahat dll.
            Anak yang lebih besar dilatih untuk membantu, seperti membersihkan meja makan, menjemur pakaian, melipat pakaian, dan mencuci piring. Walaupun mereka terbelakang mental, tapi pelajaran disiplin tetap diberikan, tapi tidak sampai dipukul, hanya di ajarkan untuk meminta maaf atas kesalahannya.
            Antara pemasukan dan pengeluaran seperti biaya makan dan terapi dll, kita atur sedemikian rupa agar cukup, dan bila ada kelebihan sedikit kita simpan untuk keperluan panti kedepannya. Karena kami memang ingin merenovasi pondasi rumah panti ini, karena sudah miring, perkiraan memerlukan biaya Rp 800 juta”.
            Setelah bercerita panjang lebar tentang anak-anak yang dibina dan dikasihinya, pada akhir perbincangan Suster Karti menitip pesan “walikota yang dulu, sangat dekat dengan anak-anak panti, kami berharap walikota sekarang juga bisa lebih dekat dengan anak-anak panti” pungkasnya. araska

240711-minggu(senin)-diskusi pancasila ANBTI

Photo: mb/ara
PANCASILA - Diskusi Publik ‘Pendidikan Karakter Bangsa Melalui Revitalisasi Pancasila’ di Graha Abdi Persada Pemprov Kalsel.

Memudarnya Pemahaman Pancasila

BANJARMASIN – “Pancasila sebagai ideologi bangsa, Pancasila merupakan lima prinsip dasar rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.
            Pancasila juga sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, yang sudah ada sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara” ungkap H Fakhrudin AM ST MAP, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Mayarakat (Kesbangpolinmas) Prov Kalsel, dalam Diskusi Publik pada Sabtu (23/7) pagi yang lalu.
            ‘Pendidikan Karakter Bangsa Melalui Revitalisasi Pancasila’ menjadi tema Diskusi Publik, yang dilaksanakan oleh Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBT) Kalsel, bekerjasama dengan Kesbangpolinmas Prov Kalsel, bertempat di Graha Abdi Persada Pemprov Kalsel.
            Sebagai nara sumber dalam Diskusi Publik, menghadirkan Yudi Latif PhD, penulis buku Negara Paripurna, kemudian H Fahruddin, dan Dr Mujiburahman.
            Ditengah berlangsungnya diskusi, Dra Hj Noormayani MAP kordinator ANBT Kalsel, menjelaskan kepada Mata Banua, katanya “yang menjadi dasar kami melaksanakan dialog kebangsaan hari ini, karena semakin memudarnya pemahaman Pancasila di tengah kehidupan berbangsa dewasa ini. Pancasila seharusnya dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupan bernegara, baik di lingkungan pemerintahan maupun di semua lapisan masyarakat.
            Dewasa ini, memang banyak kemajuan dalam wujud kebebasan berpolitik bagi masyarakat, tetapi di sisi lain kehidupan berbangsa kerap diwarnai disorientasi yang ditandai dengan menguatnya politik identitas yang tidak lagi berdasarkan kepentingan bersama.
            Disorientasi yang akhirnya menghasilkan berbagai kebijakan yang inkonstitusional dan pada tahap berikutnya menimbulkan berbagai konflik dan berpontensi memicu terjadinya disintegrasi bangsa” pungkasnya. ara/mb05

220711-jumat(sabtu)-TB.FTK-sambutan yusirwan (Dm.250711)

Disporbudpar Kalsel Pertanyakan Absennya 4 Kabupaten

BANJARMASIN – Ada 12 grup tari yaitu dari Banjarmasin, Banjarbaru, Marabahan, Rantau, Kandangan, Amuntai, Balangan, Tabalong, dan Kotabaru yang mengikuti Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel, pada Sabtu (16/7) malam yang lalu, di Gedung Balairungsari Taman Budaya (TB) Kalsel. Sementara kabupaten Banjar, HST, Tanah Laut dan Tanah Bumbu, ke empatnya absen.
            Kepala Bidang Kebudayaan dan Kesenian Disporbudpar Kalsel, Merah Yusirwan Bangsawan yang juga selaku ketua panitia Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel, seusai menyaksikan penampilan tari pada Sabtu (16/7) malam yang lalu, ia mengatakan “dalam Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel ini, kami ingin melihat bagaimana pembinaan seni tari oleh daerah masing-masing, dengan menampilkan pola garapan-garapan baru.
            Memang tari itu berjalan kepada tradisional, tapi yang diinginkan bagaimana seniman itu berkembang, punya imajinasi, dan punya kreatifitas. Oleh karean itu seni tradisional diangkat kepada kreasi daerah ke event nasional.
            Sejauh mana daerah-daerah itu membina para senimannya, itulah yang paling penting ingin dilihat Disporbudpar Kalsel. Sekarang yang mengikuti festifal tari ini hanya 9 kabupaten/kota, berarti 4 daerah tidak mengikutinya.
            Secepatnya akan kami tanyakan mengapa kabupaten Banjar, HST, Tanah Laut dan Tanah Bumbu, tidak mengikuti Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel. Tapi untuk Tanah Laut, hanya absen mengirimkan perwakilannya tahun ini, tahun sebelumnya selalu berpartisipasi. Sedangkan, 3 daerah lainnya hampir tiap tahun selalu vakum.
            Kabupaten Banjar dengan Kesultanan Banjarnya, seharusnya lebih aktif lagi. Kami harapkan kabupaten Banjar untuk menunjukkan kepedulian partisipasinya terhadap seni budaya” ujarnya.
            Menurut Yusirwan “dalam 10 tahun terakhir, Kalsel selalu masuk 16 besar nominasi terbaik se-Indonesia, malah kita dinilai terbaik di Kalimantan. Tahun ini kita berusaha masuk 5 besar” pungkasnya. ara/mb05

220711-jumat(sabtu)-naga kalsel dan peran pers

Photo: Merah Yusirwan Bangsawan

Malam Ini Grand Final Naga Kalsel

BANJARMASIN – Hari ini, Sabtu malam 23 Juli 2011, grand final Nanang Galuh (Naga) Kalsel, akan dipilih ditempat terbuka di depan kantor Gubernur Kalsel.
            Semenjak 21 Juli, peserta Nanang Galuh (Naga) Kalsel memasuki masa karantina, dalam masa ini semua peserta akan mendapat pembekalan, baik mengenai kebudayaan, kepariwisataan, isu daerah, isu nasional, penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, serta kepribadian.
            Disela-sela masa karantina peserta Naga, diadakan malam ramah tamah dengan Gubernur Kalsel atau yang mewakili, kemudian kegiatan kunjungan peserta ke suatu institusi atau tempat sosial, agar mereka melihat dengan ril tentang kondisi sosial daerah dan masyarakat, serta mereka harus membuat karya tulis mengenai hal tersebut. Karya tulis terbaik akan mendapat penghargaan dalam malam grand final pada 23 Juli.
            Tapi, sebelum malam grand final, pada paginya semua peserta akan diperkenalkan kepada masyarakat, melalui pawai atau konvoi peserta Naga Kalsel, keliling kota Banjarmasin.
            Dalam sebuah kesempatan wawancara Mata Banua dengan Kepala Bidang Kebudayaan dan Kesenian Disporbudpar Kalsel, Merah Yusirwan Bangsawan yang juga sebagai ketua panitia Naga Kalsel 2011, seusai menyaksikan Festival Tari se-Kalsel pada Sabtu (16/7) malam yang lalu, mengatakan “Naga Kalsel tahun ini, perbedaannya jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
            Naga Kalsel 2011, kita rancang untuk menekuni kegiatan-kegiatan luar ruangan. Sementara ini, peserta Naga ada kesan gedongan. Maka, sekarang kami terjunkan mereka langsung di tengah masyarakat, dalam kehidupan yang berkembang dimasyarakat, denyut kehidupan masyarakat itu harus mereka rasakan. Mereka akan kami turunkan pada suatu daerah tertentu, entah nantinya mereka memungut sampah atau lainnya.
            Kegiatan Naga sekarang, terangkum dalam tiga hal yaitu aksi, reaksi dan refleksi.
Aksi itu diterjunkan di tengah kehidupan masyarakat. Reaksinya adalah bagaimana mereka merefleksikan pikirannya dalam bentuk tertulis, meresum setiap kegiatan dan menjawab secara lisan, sehingga talenta yang sepontan bisa kidapatkan.
            Dengan semua sistem pemilihan yang kami berlakukan ini, kami harapakan peserta Naga Kalsel 2011, akan lebih peduli dengan masyarakat. dan masyarakat lebih peduli dengan naga mereka. Karena Naga Kalsel adalah figura hidup seni budaya kita, oleh karena itu itu pemilihannya diadakan ditempat terbuka, sehingga masyarakat umum dapat melihat siapa Naga meraka” ujarnya.
            Mata Banua juga meminta tanggapan Yusirwan, mengenai seputar kabar yang berkembang tentang ketidak adilan publikasi, dalam pelaksanaan kegiatan Naga Banjarmasin, sehingga salah satu media televise lokal, memboikot publikasi kegiatan Naga Banjarmasin 2011, dan bagaimana tindakan yang diambil oleh panitia Naga Kalsel agar tidak terjadi seperti itu pula.
            Yusirwan mengatakan “tidak bisa dipungkiri, bahwa peran serta publikasi media massa dalam mensukseskan suatu event itu akan sangat penting.
            Oleh karena itu panitia pemilihan Naga Kalsel 2011, tentunya merangkul semua media massa, melalui jumpa pers Naga Kalsel 2011 di ruang pertemuan Disporbudpar Kalsel, pada Kamis (7/7) siang yang lalu. Karena bagaimanapun figura konfigurasi seni budaya kita, kalau tidak kawan-kawan pers yang melambungkan tidak akan ada artinya.
            Mempunyai media partner, adalah sebuah keharusan, akan tetapi bukan berarti mengenyampingkan media lain. Kita harus bersikap adil dengan semua media, semua media massa harus diundang dan dilibatkan, seperti yang sudah kami lakukan. Ini menjadi contoh bagi pemilihan Naga daerah” pungkasnya. ara/mb05

210711-kamis(jumat)-TB.PKBSS-lagu banjar (Dm.230711)

Photo: mb/ara

HADIAH – Kepala Taman Budaya Kalsel Noor Hidayat Sultan menyerahkan hadiah kepada pemenang menyanyikan lagu Banjar

Taman Budaya Ingin Membuat Grup Musik Panting Anak-Anak

BANJARMASIN – Adanya penampilan dalang cilik beserta pemain gamelan yang semuanya anak-anak, pada Minggu malam 10 Juli yang lalu, menimbulkan keinginan dari Kepala Taman Budaya (TB) Kalsel Noor Hidayat Sultan untuk membuat grup musik panting anak-anak.
            Bakat seni dan kecintaan anak-anak terhadap seni tradisional, sebenarnya ada banyak, hanya saja seringkali tidak mendapatkan dukungan dan fasilitas yang baik. Sehingga bakat dan kecintaan itu, terpendam atau tergeser oleh kesenian modern.
            Seusai penyerahan hadiah lomba marangkai payung kambang, maulah topi purun, bakisah bahasa Banjar, dan menyanyikan lagu Banjar dalam Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai 2011 di TB Kalsel, kepada Mata Banua pada Sabtu (16/7) sore, Hidayat mengatakan “apa yang ditampilkan dalang cilik beserta pemain gamelan yang semuanya anak-anak, memberi banyak inspirasi untuk peningkatan seni budaya melalui generasi muda.
            Hari ini kita sudah punya penyanyi lagu Banjar remaja, kenapa tidak dikembangkan lebih jauh lagi untuk pemain musiknya, misalnya membuat grup musik panting yang semuanya anak-anak. Kalau ini bisa diwujudkan akan menjadi kebanggaan bagi daerah.
            Mekanismenya bisa saja dilakukan dengan penyaringan di setiap sekolah, yaitu anak-anak yang mempunyai bakat seni dalam memainkan alat-alat musik panting, di rekrut oleh TB, dan di bina lebih jauh lagi” ujarnya.
            Sementara itu Marsa Almira Devi siswi kelas tiga SMA Kartika Banjarmasin, yang menjadi pemenang menyanyikan lagu Banjar, berkata “aku sudah suka lagu Banjar semenjak kecil, lagu Banjar itu gampang, ada cengkok melayu dan ada sedikit popnya.
            Kalau membandingkan antara lagu Banjar versi modern dengan versi lama, aku lebih suka yang versi lama, karena masih asli, yang modern malah sudah tidak seperti lagu Banjar lagi. Mudah-mudahan lagu Banjar jangan cuma di tingkat daerah saja, tapi bisa menembus pasar nasional” ujar gadis manis, yang sangat menyukai lagu Banjar yang berjudul “Managih Janji”, dan sudah sering memenangkan lomba menyanyikan lagu Banjar tingkat anak-anak ini dengan malu-malu. ara/mb05

210711-kamis(jumat)-TB.FTK-kotabaru kepentas tari nasional (Dm.230711)

Photo: mahfuz

Yayasan Pusaka Sa-Ijaan Mewakili Ke Festifal Tari Nasional

BANJARMASIN – Kotabaru sebagai salah satu kabupaten yang berada paling ujung di provinsi Kalsel, tetapi paling aktif melakukan pagelaran seni di ibukota provinsi Kalsel, dibanding kabupaten/kota yang lain.
            Sejauh mana dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan seni budaya di kabupaten Kotabaru, seusai menyaksikan Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel, pada Sabtu (16/7) malam yang lalu, di Gedung Balairung Sari Taman Budaya (TB) Kalsel, bupati Kotabaru Drs Irhami Ridjani MM, menjelaskan kepada Mata Banua “saat ini kami masih berbenah dalam sektor pariwisata dan kami akan terus mengembangkan dan memperkenalkan seni budaya yang ada di kabupaten Kotabaru.
            Dalam Yayasan Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru mempunyai 300 penari, jadi kami tinggal memilih mana yang terbaik. Penari kami selalu mengikuti perkembangan seni tari diluar, dan tentunya malam ini kami berharap menang” ujarnya.
            Harapan dari bupati Kotabaru menjadi kenyataan, dari 12 grup tari perwakilan kabupaten-kabupaten di Kalsel, yang mengikuti festival tari daerah di Taman Budaya, maka lima juri (Hj Irma Faujiah, Suharyati, Abdul Ajiz, Drs Mukhlis Maman, Kawang Yudha SH) memutuskan tiga nominasi yaitu Yayasan Pusaka Sa-Ijaan dengan judul tari Aruh Pangantin, Perpekindo dengan judul tari Pandayangan dan La-Bastari Kandangan dengan judul tari Kapuhunan.
            Kemudian yang terpilih untuk mewakili Kalsel dalam Festival Nasional Seni Nusantara adalah grup tari dari Yayasan Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru, yang juga ditetapkan sebagai penata musik pengiring tari terbaik. Sedangkan yang terpilih untuk mengikuti parade tari nusantara di Taman Mini Indonesia Indah adalah grup tari dari Perpekindo Banjarmasin, yang juga ditetapkan sebagai penata busana terbaik dan penata tari terbaik.ara/mb05

200711-rabu(kamis)-TB.FTK-sambutan gubernur

Photo: mahfuz

Tari Daerah Harus Inovatif

BANJARMASIN – “Adanya anggapan bahwa tari daerah itu monoton, sulit diproyeksikan dengan inovatif dan modern, karena harus patuh dengan pakem, menjadi penyebab tari daerah kurang diminati masyarakat dan generasi muda” ungkap Gubernur Kalsel Drs H Rudy Ariffin dalam sambutan pembukaan Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel, yang dibacakan oleh Asisten administrasi provinsi Kalsel Drs M Rusli Msi, pada Sabtu (16/7) malam yang lalu, di Gedung Balairungsari Taman Budaya (TB) Kalsel.
            Dalam sambutannya, Gubernur Kalsel juga mengatakan “bahwa dengan adanya anggapan tersebut, maka seniman tari daerah harus lebih berani mensiasati berbagai tari daerah, dengan menampilkan karya tari yang berkualitas, dan berusaha lebih inovatif memproyeksikan kreasi tari dengan memanfaatkan teknologi, sehingga tidak tersingkir oleh perkembangan tari modern saat ini” ujarnya.
            Sementara itu, tidak jauh berbeda dengan Gubernur Kalsel, Kepala Disporbudpar Kalsel Drs H Muhandas HH, juga mengharapkan agar muncul kreatifitas baru yang inovatif, unik, dan menarik, mempunyai nilai tinggi, produktif dan berkualitas, sehingga tari daerah Kalsel mampu diandalkan, berdaya saing, dan mempunyai nilai jual tinggi, di pentas regional, nasional dan internasional.
            Menurut Muhandas, agar karya seni khususnya tari daerah lebih dicintai masyarakat, maka “para seniman, pemerhati seni dan tokoh masyarakat, khususnya seniman tari untuk dapat membangun hubungan kerjasama yang baik, salaing tukar informasi dan pengalaman satu sama lainnya, agar setiap penyajian event festival karya tari Kalsel, mampu membangkitkan harapan dan mampu berkarya lebih baik lagi” katanya.
            Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel adalah program dari Dinas Pariwisata Kalsel, yang juga merupakan rangkaian dari Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai, serta untuk memperingati hari jadi provinsi Kalsel dan peringatan hari kemerdekaan RI.
            Dua grup tari terbaik akan mewakili provinsi Kalsel kepentas tari nasional, yaitu satu grup untuk mengikuti parade tari nusantara di Taman Mini Indonesia Indah, dan satu grup lagi untuk mewakili Kalsel dalam festival nasional seni nusantara, dari kementrian kebudayaan dan pariwisata, yang akan dilaksanakan pada September 2011 di Jakarta.
            Ada 12 grup tari yang mengikuti Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel di Taman Budaya ini, yaitu:
            Sanggar Seni Balahindang Rantau, dengan judul tari Selendang Bidadari. Sanggar Tari Agung Lestari Amuntai, dengan judul tari Lalakun Galuh. Sanggar Rindang Bahalap Marabahan, dengan judul tari Japin Diang Bersaudara. Yayasan Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru, dengan judul tari Aruh Pangantin. Sanggar Seni Sinar Pusaka Marabahan, dengan judul tari Besei (pangayuh). Sanggar Permata Ije Jela Marabahan, dengan judul tari Rampak Rabana.
            Kemudian. Sanggar Tari Bunga Anggrek Banjarmasin, dengan judul tari Simbat Sigaluh. Sanggar Tari Perpekinndo Banjarmasin, dengan judul tari Pandayangan. Sanggar Sanggam Balangan, dengan judul tari Perang Indra Kila. Sanggar Himaseta Banjarbaru, dengan judul tari Rindang Dandam Buluh Marindu. Sanggar Tari Suluh Banua Tabalong, dengan judul tari Diah Purui (dalas hangit waja sampai kaputing). Dan Sanggar Tari La-Bastari Kandangan, dengan judul tari Kapuhunan. ara/mb05

200711-rabu(kamis)-hut sanggar lawang (Dm.220711)

Photo: mahfuz

Pentingnya Keberadaan Sanggar Seni

BANJARMASIN - Keberadaan sanggar, sebagai tempat membina generasi muda sangat berperan penting bagi daerah, khususnya dalam pembinaan seni, baik kesenian tradisional maupun modern” ungkap kepala Taman Budaya (TB) Kalsel Noor Hidayat Sultan, dalam sabutan yang diberikannya pada peringatan milad Sanggar Lawang Banjarmasin, di gedung Balairungsari TB Kalsel, pada Senin (18/7) malam yang lalu.
            Menurut Hidayat “tantangan bagi sanggar-sanggar seni kedepannya akan lebih berat dan kompleks, karena semakin maju teknologi informasi, semakin banyak budaya asing yang masuk ke dalam daerah. Apalagi semakin banyak pula kelompok-kelompok yang menyimpang dan terjerumus dalam narkotika.
            Oleh karena itu, sanggar seni menjadi tempat untuk membina dan mengembangkat bakat seni generasi muda daerah, kearah yang lebih baik. Keberadaan sanggar diharapkan dapat mengarahkan pada kegiatan yang positif, mendidik generasi yang berkarakter, dan memiliki kepribadian dalam seni budaya, dalam hal prinsip hidup yang dijalani” ujarnya.
            Dalam peringatan milad ke 17 Sanggar Lawang Banjarmasin, kali ini mempersembahkan beberapa pementasan, antara lain musikalisasi puisi dari SMAN 6 Banjarmasin, diangkat dari pusi karya D Zawawi Imron yang berjudul Ketika Pahlawan Telah Mati.
            Kemudian pementasan teater monolog karya Nurdin Yahya, yang berjudul Linggangan. Isi dari monolog menceritakan tentang kritik sosial yang terjadi di daerah Kalsel.
            Sebagian dari sinopsis monolognya antara lain:
            Kami dituduh mencuri dan merusak alam, padahal merekalah perampok dan penghancur alam yang sesungguhnya! Perusahan tambang besar dengan dana besar, alat-alat besar, yang menimbulkan kerusakan dan kehancuran yang lebih besar!
            Mengapa bangunan megah yang menjulang, jalanan mulus, fasilitas pendidikan dan kemudahan, tidak ditempatkan dikampungku saja, ya? Kenapa cuma ada di kota besar? Coba kalau semua itu dibangun dikampungku, aku tak perlu susah payah lagi bekerja di sini, agar bisa mewujudkan keinginan anak-anakku.
            Linggangan, tetaplah bertahan! Jangan harap mimpi akan jadi kenyataan! Pertahankan jiwamu, jangan tergusur boldozer yang akan menenggelamkanmu dalam kehancuran! Jangan menyerah pada kebohongan, yang dibuat atas nama kebenaran! ara/mb05