Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

050911-senin(selasa)-perbedaan penetapan

Photo:Drs H Murjani Sani MAg

Hukum Islam Tidak Melarang Perbedaan Pendapat

BANJARMASIN – Selama seminggu seusai pelaksanaan awal Ramadhan dan awal Syawal yang berbeda, maka hingga hari ini, masih saja di tengah masyarakat terjadi perbincangan dan perdebatan.
Persoalan perbedaan penetapan yang ingin dihilangkan oleh beberapa tokoh, agar ada kesamaan dalam mengambil keputusan untuk umat dan masyarakat.
Menanggapi perbedaan dan keinginan menyatukan keputusan penetapan, beberapa waktu yang lalu dalam perbincangan Mata Banua dengan Drs H Murjani Sani MAg di tempat kediaman di Pekapuran Raya, ia menjelaskan “kebetulan aku ikut juga sebagai tim ruqyah hilal. Seperti yang sudah di ketahui, ada hilal secara hisab dan ada secara kasatmata.
Sepanjang yang aku ketahui sampai sekarang, belum ada sejarah Kalsel dapat melihat bulan pada awal Ramadhan dan awal Syawal, secara kasatmata. Hal ini di karenakan faktor cuaca yang tidak baik atau gelombang laut yang menghalangi penglihatan.
Pada dasarnya perhitungan antara Muhammadiyah dan NU itu sama, yaitu berdasarkan hisab. Tetapi NU lebih menekankan pada pembuktian secara kasat mata. Secara hukum agama Islam, perbedaan pendapat itu wajar terjadi, dan ditengah perbedaan itu, Rasul menyebutnya sebagai rahmah. Ada nilai yang baik dalam perbedaan, masing-masing melihat kenapa orang berpendapat seperti itu, dan kenapa kita berpendapat seperti ini” ujarnya.
Menurut Murjani “apabila memang ada keinginan dan tindakan dari para tokoh Agama dan ilmuan Muslim untuk menetapkan satu rumusan kesepakatan, agar perbedaan dalam penetapan dapat di satukan di Indonesia, itu sangat baik sekali, aku sangat setuju. Bersama-sama melaksanakan dan merayakannya, tentu akan lebih ramai. Sehingga antar umat muslim, tidak terjadi saling menggunjing dan saling menuduh macam-macam.
Asalkan usaha-usaha menyatukan kesepakatan itu, tidak menyalahi hukum agama. Bagaimana caranya, terserah mereka. Apakah ruqyah hilalnya lebih dimantapkan lagi, atau alatnya yang harus lebih canggih lagi, sehingga kalau ada hilal, walau terlindung sedikit bisa tembus, ini lebih menarik lagi.
Kalau memang setelah usaha-usaha tersebut telah dilakukan, dan tetap tidak bisa juga, maka jangan sampai perbedaan , menyebabkan terjadinya gesekan dan mengusik persatuan kesatuan kita.
Tapi seperti yang kita lihat, sampai satu minggu setelah terjadinya perbedaan penetapan dan pelaksanaan, akan masih ramai di bicarakan oleh masyarakat. Hal ini bukanlah sesuatu yang bagus, karena masih banyak pekerjaan lain yang lebih baik dilakukan, dari pada cuma sekedar memperdebatkannya” pungkas Ketua MUI Banjarmasin ini. ara/mb05


250811-kamis(jumat)-17 ramadhan 17 agustus

Makna Agustus Dan Ramadhan Menuju Kemerdekaan Fitri

BANJARMASINAgustus dan Ramadhan, beberapa hari lagi berakhir. Sejauh mana para pejabat publik dan tokoh agama memaknai Agustus dan Ramadhan, baik secara pribadi maupun untuk umum. Apalagi bertepatannya 17 Ramadhan dan 17 Agustus, suatu fenomena langka yang hanya terjadi ratusan tahun lagi.
Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM, berkata “Ramadhan tahun ini sangat luar biasa, karena 58 tahun yang lalu, aku lahir pada 17 Agustus dan pada tahun ini bertepatan dengan 17 Ramadhan.
Kemerdekaan dan Ramadhan menjadi harapan bagi kita semua, dilimpahkannya rahmat yang lebih besar lagi oleh Allah SWT, untuk kedamaian dan kemakmuran daerah dan bangsa. Fenomena ini menurut ahli astronomi, baru bisa ditemui kembali sekitar 400 tahun mendatang” katanya pada Sabtu (20/8) yang lalu, saat buka puasa bersama alumni SMPN 6 Banjarmasin di gedung Mahligai Pancasila.
            Begitu pula Wakil Walikota Banjarbaru Drs H Ogi Fajar Nuzuli, juga berhadir, sebagai alumni SMPN 6 angkatan 1980, ia mengungkapkan “17 Agustus bagiku sangat mempunyai makna khusus, yang dalam secara pribadi, yang tidak pernah hilang, Karena 26 tahun yang lalu, saat itu aku bertugas sebagai pengibar bendera di istana Negara. Kemudian 17 Ramadhan adalah hari kelahiranku.
            Sedangkan untuk negeri ini, mudah-mudahan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik lagi, sehingga Idul Fitri mempunyai makna kemerdekaan yang sesungguhnya untuk bangsa” ujarnya.
Itulah pemaknaan dari dua kepala daerah. Merdeka berarti kesadaran dan berkemampuan mengubah keadaan diri menjadi lebih baik, untuk masing-masing pribadi maupun bagi masyarakat dan bangsa.
Kesadaran dan kemampuan mengubah diri itu perlu kejernihan dan kebersihan hati. Apalagi ketika peringatan kemerdekaan 17 Agustus yang ke-66 sekarang, dipertemukan dengan 17 Ramadhan, turunnya ajaran kebenaran berupa ayat Al Qur’an pertama, sekitar 1400 tahun yang lalu, yakni tahun 611 Masehi.
Sebelumnya dalam perbincangan Mata Banua dengan dua orang tokoh agama Islam, menceritakan:
Menurut Ketua MUI Banjarmasin Drs H Murjani Sani MAg, pada Jumat (19/8) sore, mengatakan “bertepatannya 17 Agustus dan 17 Ramadhan memang sangat menarik untuk direnungkan oleh masyarakat muslim di Indonesia. Karena Ramadhan tahun ini menjadi istemewa bagi Indonesia.
Merenungkan perjuangan para pahlawan dan mendoakan mereka, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini. Pada 17 Ramadhan 1400 tahun silam, ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra, dan filsafat Iqra sangat dalam. Iqra bukan hanya perintah membaca atau berzikir tapi bermakna mengingat, maka ingatlah jasa pahlawan.
Mudah-mudahan dengan bertepatannya dua 17 ini, ada titik terang dengan harapan agar negeri menjadi lebih baik” ujarnya.
Kemudian, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel H Sarbaini Khairat, pada Jumat (19/8) malam, mengatakan “secara konteks kenegaraan 17 Agustus adalah peringatan hari proklamasi negeri ini, dan dalam konteks 17 Ramadhan adalah hari turunnya Al Qur’an. Sedangkan Al Qur’an sangat banyak berisi petunjuk bagi semua manusia.
Petunjuknya itu sangat luar biasa, salah satu yang paling subtantif adalah menyampaikan pesan bahwa Islam itu rahmat bagi seluruh isi alam. Makna dari Rahmat seluruh isi alam, bahwa artinya Islam itu harus memberikan sesuatu, yang membuat masyarakat kita damai, dan tujuan kemerdekaan yang di cetuskan pada 17 Agustus 66 tahun yang lalu, adalah untuk menciptakan kedamaian.
Sekarang, bisa tidak masyarakt kita hidup damai, walau berbeda kepentingan, berbeda politik, kalau tidak bisa damai percuma menjadi muslim dan menjadi warga Negara.
Makna damai bukan tidak ada gejolak, tapi bisa saling mengisi, saling menolong, saling menghargai. Perbedaan itu adalah rahmat, dan itulah yang harus di maknai dalam 17 Ramadhan dan 17 Agustus, di jadikan perenungan sehingga setelah Ramadhan benar-benar bisa di wujudkan kedamainan tersebut di tengah masyarakat” pungkasnya. ara/mb05




230811-selasa(rabu)-Hukum penukaran uang (Dm.250811 di kolom ramadhan hal.16)

Photo: Drs H Murjani Sani MAg

Penukaran Uang Dalam Hukum Islam Di Bolehkan

BANJARMASIN – Semakin mendekati lebaran, terlihat di beberapa ruas jalan utama di Banjarmasin, tampak kian marak warga yang menawarkan jasa penukaran uang receh. Fenomena ini oleh beberapa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di luar Kalsel, ada yang mengharamkannya.
Sementara itu dalam perbincangan Mata Banua, dengan beberapa tokoh agama Islam di Banjarmasin, ternyata membolehkannya, tetapi ada syarat tertentu yang harus di penuhi, oleh si penawar jasa dan si penerima jasa.
Drs H Murjani Sani MAg, yang juga sebagai Ketua MUI Banjarmasin, pada Jumat (19/8) sore di tempat kediamannya di Pekapuran Raya, menjelaskan “secara resmi kelembagaan di bahas oleh MUI kota Banjarmasin memang tidak ada.
Tetapi karena saat ini, sedang marak terjadi di kota Banjarmasin, menurut saya itu bukan menjual atau menukar uang, hanya bahurup dengan uang pecahan di sertai tambahan sedikit upah atas uang jasa. Jadi hal ini hanya upah, maka sah-sah saja. Meskipun ada beberapa MUI di luar Kalsel yang mengharamkan.
Syarat dari upah uang jasa ini, dengan dasar secara suka rela atas pemberian dari pihak ke dua. Kalaupun akhirnya pihak pertama sebagai penawar jasa, ada menentukan berapa upah yang harus di bayar, asal pihak pertama rela dan tidak merugikan ke dua belah pihak, itupun sah saja, dengan niat dari pihak pertama hanya untuk membantu memudahkan pihak ke dua mendapatkan uang receh” ujarnya.
Pendapat dari H Murjani Sani, tidak berbeda dengan Prof Dr KH Artany Hasbi dari Rais Suriah PBNU, ia mengatakan “memang ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan, jadi ikut saja dengan yang membolehkan.
MUI Pusat sudah membolehkan, tapi bentuknya adalah jasa. Serta dia tetap meniatkan bahwa nilai uang itu tetap. Misalnya seratus ribu, maka kemudian setelah ditukar dengan uang receh jumlah nilainya tetap seratus ribu, kemudian ada memberi sebagai uang jasa, walau ada ketentuan uang jasa itu sekian rupiah” pungkasnya seusai buka puasa bersama PWNU Kalsel pada Jumat (19/8) malam. ara/mb06


210811-minggu(senin)-buka puasa NU Kalsel (Dm.di kolom ramadhan hal.16)

Photo: mb/ara
PENCERAHAN – Buka puasa bersama NU Kalsel bersama Kapolda untuk memberikan pencerahan tentang Kamtibnas

NU Kalsel Buka Puasa Bersama Dengan Kapolda

BANJARMASIN – Nahdlatul Ulama (NU) Kalsel ingin memberikan pencerahan kepada warga NU di sini, bukan hanya tentang agama, tetapi juga yang menyangkut Kamtibnas.
            Oleh karena itu kami hari ini mengundang Kapolda Kalsel, untuk memberikan ceramah, sekaligus memprkenalkannya kepada warga nahdiyin” ungkap Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel H Sarbaini Khairat, seusai buka puasa bersama pada Sabtu (19/8) di yang juga di hadiri oleh guru-guru, pelajar, santri dan mahasiswa.
            Menurut H Saprudin “selanjutnya NU Kalsel juga akan mengadakan pertemuan dengan masyarakat pesantren, yang tentu juga akan di hadiri dan di isi oleh Kapolda” ujarnya.
Meskipun gerakan fundamentalis dan radikalisme di Kalsel sepi-sepi saja, tetapi gerakan mereka secara kasat mata gencar di mana-mana. Sebelum semuanya terjadi, NU akan berusaha mengantisifasinya, karena NU konsisten menjaga NKRI.
             Sebelumnya, sambil menanti waktu berbuka puasa, Kapolda Kalsel Brigjen H Saprudin, mengatakan “untuk menjaga kesatuan NKRI, dalam sejarah bangsa, kaum nahdiyinlah yang terdepan dan terbesar peran serta partisifasinya dalam menumpas pemberontakan, komunisme dll.
            Dewasa ini, semakin banyak faham-faham fundamentalisme dan radikalisme yang mengatasnamakan agama, padahal agama Islam itu rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, kita harus lebih waspada dan berhati-hati dengan gerakan-gerakan bawah tanah, munculnya kembali gerakan DITII dan terorisme, karena apabila kita tidak hati-hati akan sangat berbahaya dengan generasi kita mendatang” katanya.
Lanjutnya “ke hati-hatian yang mesti di mulai dari lingkungan keluarga, yaitu peran serta  orang tua untuk lebih memperhatikan setiap kegiatan anak-anaknya, agar tidak terpengaruh atau terlibat dengan ideologi yang menyimpang, serta ideologi radikalisme ataupun terlibat masalah narkoba.
Maka menjalin kerjasama yang baik antara masyarakat dan polisi, dan peran ulama dalam memberikan pendidikan terhadap masyarakat, menjadi faktor utama ketentraman daerah dan bangsa” pungkasnya. ara/mb06

Jumat, 30 Desember 2011

070411-kamis(jumat)-teror bom


Photo: Drs H Dahri

Islam Tidak Mengajarkan Kekerasan dan Teror

BANJARMASIN – Teror yang terjadi selama ini di Banjarmasin hanyalah untuk membuat masyarakat resah. Ketika masyarakat ketakutan, maka tingkat produktivitas akan menurun.
            Saat ini dua paket yang di duga berisi bom telah ditemukan di Jl Kelayan B dan Gatot Subroto X. Sehingga warga Banjarmasin menjadi cemas kalau-kalau itu terjadi pula di sekitar lingkungannya.
            Sering kali sebuah kejadian teror, selalu di identikkan dengan aliran garis keras dalam agama. Sejauh mana para tokoh agama di Banjarmasin menilai kejadian ini, membuat Mata Banua bertandang keruang kerja Ketua Nahdatul Ulama (NU) Kota Banjarmasin Drs H Dahri dan Ketua Muhammadiyah Kota Banjarmasin Prof Dr H M Ma’ruf Abdullah SH MM.
            Menurut H Dahri pada Senin (28/3) yang lalu, mengatakan “teror paket bom hanya untuk membuat masyarakat resah, ketika masyarakat ketakutan, maka tingkat produktivitas akan menurun. Itulah yang menjadi tujuan pelaku. Teror bom seperti ini, terorganisir dan dilakukan untuk mengadu domba antara pemerintah dengan Islam. Sudah jelas, ini bukan murni dilakukan oleh warga Muslim.
NU melihat teror ini bukan karena faktor agama, tapi adalah politik. Sedangkan bagi NU, NKRI adalah sudah final. Saya yakin warga NU tidak ada yang melakukannya, karena NU tidak ada sejarahnya di republik ini menjadi pemberontak.
NU menganut Islam yang damai, tidak ada kekerasan dan menganut paham pluralisme. NU memegang kitab-kitab Ahli Sunah Wal Jama’ah yaitu Al Qur’an, Al Hadist, Kias dan Ijma’ Ulama. Dalam kitab-kitab Ahli Sunah Wal Jama’ah tidak ada didalamnya menggunakan jalan kekerasan, tetapi yang ada hanyalah Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin.
Sedangkan mereka yang melakukan kekerasan, menggunakan kitab lain dan memang mempunyai unsur politis, maka bisa dikatakan mereka bukan murni umat Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin tersebut. Masyarakat Muslim di Kalsel mayoritas adalah warga NU” ujarnya.
Lanjut H Dahri “saya berharap bagi para ulama NU, dai atau juru dakwah NU, dalam setiap pengajian dan khutbah di rumah-rumah, Mushalla atau di Mesjid, menjelaskan Islam secara benar. Islam yang saling menghormati pemeluk agama lain dan Menghormati keyakinan orang lain.
Sehingga para juru dakwah NU ini selalu membawa kedamaian bagi masyarakat. NU berharap stabilitas keamanan, bisa terjaga, agar perekonomian masyarakat tetap stabil dan bisa meningkat” katanya.
            Dilain pihak, H M Ma’ruf Abdullah pada Kamis (31/3) sore, dengan tegas mengatakan “Nabi tidak pernah mengajarkan kekerasan. Teroris yang banyak di identikkan dengan Islam, hanya pendapat dari orang-orang diluar islam.
Islam itu adalah kedamaian. Bila ada orang yang melakukan kekerasan dan mengatas namakan Islam, bererti ia tidak memahami ajaran islam dengan sebenar-benarnya”pungkasnya. ara/mb05