Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2012 - 01 (Januari) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2012 - 01 (Januari) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2012

310112-selasa(rabu)-Tanah Suku Pedalaman.TAI5.doc

Adakah Harapan Tanah Suku Pedalaman


BANJARMASIN – Desa atau kampung adalah sebuah tempat istimewa, indah bagi orang kota. Berbagai model outbound diprogamkan untuk melakukan aktivitas, mengalihkan rutinitas terhimpit kesibukan yang penuh dengan topeng kepalsuan. Perilaku orang desa yang lugu dan polos, jauh dari sikap hipokrit, menjadi tontonan.
Bagaimana gambaran paradoks kehidupan orang kota, harapan yang hilang dari orang tua di desa, serta ekspansi kapitalisme dan kolonialisme tanah-tanah desa, di mata seniman.
Pementasan Teater Api Indonesia (TAI) dari Surabaya di gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel, memang sudah berlalu beberapa waktu yang lalu, yaitu pada Jumat (20/1) malam.
Menanggapi permasalahan orang kota dan ekspansi tanah desa, Luhur Kayungga yang juga sebagai sutradara dan salah satu aktor dari lakon Brongkos, menuturkan pemikiran Slamet Hendro Kusumo, dari kota wisata Batu.
Orang-orang tua desa yang menyekolahkan anaknya di kota, hingga sarjana. Berharap agar anak tersebut bisa melanjutkan kelangsungan kultural desa. Tapi anak-anak ini telah mengalami perpindahan pola pikir dan mutasi selera hidup.
Desa ditinggalkan anak-anak harapan, lahan-lahan terlantar karena orang-orang tua yang tersisa, tak mampu menggerakkan tulang tuanya. Kefrustasian itu berlangsung pada penjualan lahan. Seiring drama sedih perpindahan dan penguasaan lahan warisan kultural, eksistensi mitologi, legenda bahkan situs purbakala menjadi tidak terlacak.
Kalaupun ada festival mengangkat tema tersebut, tidak lebih hanya sebagai tontonan kewajiban rutin, bukan kebutuhan ritual. Hanya untuk memenuhi tuntutan proyek penguasa. Tidak ada kaitannya dengan perjalanan spiritual pada kearifan lokal. Oleh karena itu struktur dalam menjaga cagar budaya tidak terbentuk.
Pastinya banyak kepentingan terselubung, melakukan permainan untuk interest pribadi maupun kelompok. Missal makam jadi mall, punden jadi pos hansip. Lingkungan tanpa sadar digiring pada kepentingan fungsi, bukan ekologis.
Cerita penguasaan tanah adat, menjadi modus operandi untuk memperluas kekuasaan capital, jauh dari sikap populis maupun moral. Kapitalisme dan kolonialisme telah melakukan metamorfosis. Bentuk dari tindakannya jauh lebih halus. Semua ruang disiplin telah dimasuki, hingga ruang kebudayaan.
Dan situasi ini dianggap cara bijak dan kompromis. Apakah pakai topeng pariwisata, kesejahteraan masyarakat, pembudidayaan, tetap saja masyarakat sebagai obyek. Situasi yang merasuk hingga pelosok terpencil sudut negeri, merampas ekologi suku pedalaman.
Pertanyaannya, masih adakah sisa ruang yang dapat dipertahankan, desa maupun kampung, ataupun tanah suku pedalaman, dengan konsep yang humanis? Diperlukan relawan dan siap jadi wadal, sebab sikap itu akan membuat ketidaknyamanan penguasa.
“Hal inilah yang mendasari perjalanan pentas keliling TAI, dengan harapan regulasi adat lebih dihormati. Ketimbang regulasi nasional, yang tidak berpihak pada masyarakat” ujar Luhur Kayungga. ara/mb05

310112-selasa(rabu)-Dunia Teater Telah Kehilangan Makna.TAI4.doc

Dunia Teater Telah Kehilangan Makna


BANJARMASIN – Ada suatu sinyalemen bahwasanya perkembangan teater Indonesia sekarang, hanya berasyik-masyuk dan berkumpar-kumpar dalam dunianya sendiri. Sehingga amat beralasan apabila ada yang menyatakan, bahwa kehidupan teater sekarang stagnan.
Pementasan Teater Api Indonesia (TAI) dari Surabaya di gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel, memang sudah berlalu beberapa waktu yang lalu, yaitu pada Jumat (20/1) malam.
Tapi masih banyak persoalan seni teater dewasa ini, yang ingin disampaikan TAI. Berawal dari persoalan yang bisa menjadi pelajaran untuk seni teater di Kalsel. Luhur Kayungga, sutradara dan salah satu aktor dari lakon Brongkos. Seusai pementasan malam tersebut, ia menceritakan pandangan Sabroto D Malioboro, Ketua Umum Dewan Kesenian Surabaya, terhadap perkembangan seni teater.
Dalam penggambaran stagnannya kehidupan teater ini, yang menjadi tokoh cerita adalah TAI. Walau sebenarnya adalah dunia teater secara umum yang ada di Indonesia.
TAI dibentuk pada 1993, setelah 2005, TAI turut mengalami kevakuman. Selama 5 tahun TAI tidur panjang. Hingga pada 2010 TAI berusaha kemabali terjaga, dengan harapan untuk menjawab sinyalemen perkembangan teater di Indonesia.
Permasalahan utama timbulnya kemandegan, tak lain adalah sulitnya kelompok teater menemukan pemikiran yang kuat untuk melandasi kerja kreatifnya. Oleh sebab itu, dalam tahun-tahun terakhir, ada indikasi terhentinya teory, metode maupun filosofi teater di Indonesia.
Karena terbelenggu oleh eksklusivitas yang sempit, lantaran berjarak dengan realita sekelilingnya. Sehingga tidak adanya pencapaian artistik yang berarti, maka apa yang dilakukan hanya menjadi epigon.
Saat dunia teater dewasa ini hanya menyuguhkan garapan realis yang semakin kehilangan makna, maka pilihannya adalah dalam surealis. Menurut Luhur Kayungga, TAI kemudian melalokan metamorfosis garapan, yaitu melakukan pergeseran konsep. Dari bahasa verbal ke bahasa tubuh. Sedangkan dialog-dialog yang dilontarkan hanya bersifat aksentuatif.
“Pementasan TAI adalah untuk pemahaman, dan mengolah perasaan. Menghidupkan makna dalam realitas” ujarnya. ara/mb05

300112-Obat Tradisional Luka Iris

Pucuk Daun Pisang Untuk Luka Iris


Luka iris, yang dalam bahasa Banjarnya disebut luka tasayat atau tahiris, yang disebabkan terkena pisau atau sembilu.
Berdasarkan penelitian Drs Syarifuddin R, dalam pengobatan tradisional Banjar untuk luka iris, yaitu:
Menggunakan pucuk daun pisang yang masih kuncup. Cara pengolahan obatnya, potong beberapa cm, pucuk-pucuk daun pisang yang masih kuncup tadi. Lalu dikunyah hingga lumat.
Daun pisang yang telah lumat ini, dioleskan pada bagian luka, kemudian dibalut dengan kain bersih. Lakukan pengobatan ini beberapa kali hingga luka sembuh dan kering. ara/mb07

300112-Obat Tradisional Digigit Buntal

Obat Luka Untuk Gigitan Buntal


Digigit buntal (sejenis ikan pemakan daging). Buntal banyak terdapat di sungai-sungai Kalimantan, yang sering menggigit penduduk yang sedang mandi di sugai.
Berdasarkan penelitian Drs Syarifuddin R, dalam pengobatan tradisional Banjar untuk luka digigit buntal, yaitu:
Cara pertama dengan menggunakan buih atau getah keladi lumbu (sejenis tumbuhan talas yang tidak berumbi dan tidak bisa dimakan). Cara pengobatannya, potong batang keladi di dekat pangkal akar. Tekan atau urut batang keladi yang telah dipotong tadi hingga mengeluarkan buih (getah). Lalu buih ini, langsung dioleskan pada mata luka yang terkena gigitan.
Cara kedua dengan menggunakan bulu kucing yang dicampur dengan kopi rabuk (kopi bubuk yang diolah secara tradisional). Cara pengobatannya, masukkan kedua bahan ini pada bagian mata luka yang terkena gigitan. ara/mb07

290112-minggu(senen)-sinergisitas BEM.doc

Program BEM Harus Dapat Membina Mahasiswa


BANJARMASIN – Karakter manusia tidak mungkin dapat diperoleh dengan tiba-tiba, tapi harus diasah. Antara lain diasah melalui organisasi kemahasiswaan, yang program-programnya sungguh-sungguh dapat membina karakter mahasiswa. Maka secara perlahan krisis kepemimpinan dalam organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), akan teratasi.
Hal ini diungkapkan Pembantu Rektor (Purek) III Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi, beberapa waktu yang lalu kepada Mata Banua. Mengenai pentingnya keorganisasian mahasiswa di dalam kampus.
Dalam perbincangan via telepon dengan M Pazri, Presiden Mahasiswa (Presma) Unlam periode 2012, pada pertengahan Januari yang lalu, ia mengatakan akan menyusun program kerja BEM yang benar-benar menyentuh mahasiswa.
Untuk mengatasi krisis kepemimpinan mahasiswa, salah satu caranya dengan membuat training organisasi yang menawarkan konsep baru. Baik konsep dari segi pendidikan karakter, moral, dan etikanya. Serta menekankan keteladanan dari para organisator.
“Jangan sampai ketua BEM, UKM, dan Hima, malah memberi teladan yang salah, baik diri segi manajemen dll. Teladan yang salah membuat mahasiswa enggan berorganisasi” katanya.
Selanjutnya BEM Unlam perode kepengurusan 2012, akan melakukan pengimbangan kegiatan yang sifatnya rame-rame, lebih kepada kegiatan ilmiah, pekan ilmiah, dan yang utama kewirausahaan.
Dengan kata lain, membuat program yang tidak muluk-muluk, mencari hal-hal yang realistis, menggenjot lebih kepada akademik dan prestasi. Ini yang akan digodok lebih mendalam lagi.
Merapikan dan merapatkan keadaan internal keorganisasian menjadi pondasi sinergisitas semua BEM Fakultas yang ada di Unlam dan BEM Unlam itu sendiri. Ada 10 Bem Fakultas di Unlam, sama-sama membangun terkait kebijakan di dalam dan di luar kampus.
Sinergisitas dan efektivitas semua keorganisasian mahasiswa yang ada di kampus Unlam, akan disusun ulang. Sehingga tidak ada lagi kata-kata atau pendapat bahwa - Tanpa Ketua BEM sekalipun, kegiatan organisasi Unlam bisa berjalan.
Karena saat ini, posisi BEM unlam dengan UKM dan Hima setara. Maka tanpa BEM Fakultas atau Universitas sekalipun, organisasi lain bisa dengan mudahnya mendapatkan dana ke rektorat.
“Kedepan kami akan merumuskan suatu peraturan organisasi yang berjenjang dan terkait, missal apabila UKM dan HIMA mau mengadakan kegiatan, harus lapor ke BEM Fakultas. Apabila BEM Fakultas mau mengadakan kegiatan, harus lapor ke BEM Universitas” ujarnya.
Untuk memuluskan program ini, Pazri akan melakukan pembicaraan dengan semua ketua-ketua organisasi yang ada di Unlam dan untuk memperkuat programnya, ia akan lebih dulu melobi PD III masing-masing Fakultas, dan Dekan. Sehingga setiap kebijakan yang turun dari BEM Universitas, akan disupport PD III.
Ini juga untuk menghindari adanya kecemburuan antar organisasi mahasiswa, yang merasa Sehingga tidak ada lagi yang jalan masing-masing, misalnya hima FKIP kegiatannya lebih banyak dari BEMnya.
“Inilah yang terjadi saat ini, sehingga terjadi bacakut papadaan, tidak hanya ditakaran Universitas tapi juga Fakultasnya. “Kami sudah ada pembicaraan dengan beberapa PD III, yang juga sepakat dengan rumusan ini” pungkas Pazri. ara/mb05

290112-minggu(senen)-krisis BEM (Dm.040212).doc

Krisis Keorganisasian Dikalangan Mahasiswa


BANJARMASIN – Minat dan masalah kepemimpinan dalam keorganisasian kampus dewasa ini mengalami kemunduran. Krisis keanggotaan sering mewarnai aktivitas yang akan dilakukan, terutama pada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Dari pantauan Mata Banua, mahasiswa umumnya beranggapan, bahwa tanpa BEM, kegiatan kampus tetap berjalan dan aktivitas organisasi lain (selain BEM) tetap dapat dilakukan.
Seperti krisis kepemimpinan mahasiswa yang terjadi pada pemilihan Ketua BEM Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary. Dimulai dari Pebruari 2011, hingga sempat mengalami penundaan beberapa kali. Karena hanya satu orang yang mengajukan diri untuk menjadi calon ketua BEM. Akhirnya diputuskan secara aklamasi pada April 2011, untuk M Agus Humaidi sebagai Ketua BEM Uniska selanjutnya.
Situasi pemilihan Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) tidak jauh berbeda, Dari berlarut-larutnya jadwal, hingga polemik yang menyertainya. Dimulai dari September 2011, dan baru pada Desember 2011 bisa dituntaskan. Yaitu dengan terpilihnya Muhammad Pazri sebagai Presiden Mahasiswa Unlam berikutnya.
Jelas terlihat apatisme mahasiswa yang sangat besar, terhadap keorganisasian BEM. Setelah Ketua BEM terpilih dan menyusun struktur kepengurusannya, seringkali nama yang tertulis hanyalah nama.
Menurut penuturan Agus beberapa waktu yang lalu, bahwa semangat mahasiswa dalam berorganisasi semakin menurun. “Sejujurnya saya prihatin, dari 11 ribu mahasiswa di Uniska, tidak ada yang mau mencalonkan diri sebagai Ketua BEM PT, ini adalah krisis kepemimpinan” katanya.
Dilain pihak Pazri juga mengungkapkan pendapatnya. Dunia mahasiswa di Kalsel tengah menghadapi krisis kepemimpinan, serta krisis keanggotaan organisasi, dan situasi ini terjadi pula di Unlam.
Rata-rata mahasiswa enggan berorganisasi, sehingga menjadi mahasiswa Kupu, yaitu mahasiswa yang hanya kuliah dan pulang kerumah. Mahasiswa beranggapan kalau berorganisasi hanya merepotkan dan bisa membuat kuliah menjadi lambat selesai.
Bagaimana cara membangkitkan kembali minat mahasiswa berorganisasi inilah yang menjadi salah satu program dari BEM Unlam 2012. Pola yang akan dilakukan dengan memberikan gambaran yang nyata kepada mahasiswa.
“Mahasiswa diberi gambaran dan tahu apa keuntungannya bila bergabung dalam organisasi, tanpa membuat nilai kuliahnya merosot. Sehingga ada keseimbangan, yaitu aktif berorganisasi tapi juga aktif di perkuliahan dan prestasi bisa jalan” ujarnya pada awal Januari 2012. ara/mb05

270112-jumat(sabtu)-manyanggar banua di barikin.4.doc

Photo: mb/ara
PROSESI – Salah satu prosesi upacara adat Babunga Tahun Manyanggar Banua di Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HSU), pada 22 sd 23 Januari 2012

Bagaimana Seharusnya Menyambut Tamu


BANJARMASIN – Selain dari perbedaan versi riwayat Datu Taruna, selama dalam perjalanan Mata Banua denga Rombongan Taman Budaya Kalsel, menghadiri upacara adat Manyanggar Banua di Desa Barikin, di dapat pula beragam persolan lain yang harus disikapi dengan bijaksana oleh semua pihak.
Menyimak ragam riwayat Datu Taruna yang telah menjadi legenda rakyat, hingga prosesi ritual adat yang kini dilaksanakan. Setiap prosesi ritual selalu erat kaitannya dengan hal-hal yang gaib, baik dari keyakinan dan kepercayaan setempat, histeria yang terjadi saat prosesi ritual, bentuk sesajen, prosesi upacara, juriat yang sakit tidak bisa sembuh apabila belum melaksanakan ritual ataupun hal-hal lainnya. Selalu saja menjadi persolan yang dipertentangkan oleh sebagian kelompok fanatik. Situasi yang terus berlangsung dari zaman dulu hingga sekarang.
Menurut pemerhati budaya daerah, Mukhlis Maman. Pertentangan yang seharusnya tidak terjadi, antara penganut fanatik agama dengan masyarakat yang ingin menjaga kearifan tradisi adatnya. Pertentangan yang sebenarnya bisa diselaraskan, bila saling memahami posisi pijakan masing-masing.
Ritual Babunga Tahun Manyanggar Banua di Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HSU), adalah memperingati nampak tilas perjalanan Datu Taruna. Yaitu bagaimana cara menerima tamu, bagaimana cara menjamu tamu, dan bagaimana cara menyuguhkan kesenian kepada tamu, kata Mukhlis Maman Pemerhati Budaya Banjar.
Seperti yang sudah dilakukan Datu Taruna dalam menyambut kedatangan sahabat-sahabatnya, dan tamu yang singgah di Desa Pematang Kambat. Disambut dengan suguhan berupa sajian dan pertunjukan kesenian klasik di sebuah tempat pasanggrahan.
Bagi juriat Datu Taruna sendiri, membenahi beragam versi riwayat untuk diluruskan kembali, menjadi pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Begitupula menyatukan riak-riak konflik antar juriat, yang terjadi selama masa ke vakuman pelaksanaan prosesi adat Babunga Tahun Manyanggar Banua.
Setelah 9 tahun Babunga Tahun Manyanggar Banua terhenti dilaksanakan. Antara pelaksanaan terakhir pada 2002 sampai dengan 2011, selama itu pula juriat Datu Taruna terpencar kesegala pelosok daerah. Baik yang ada di Kalteng maupun di Kaltim, dan di 2012 ini semua juriat kembali menyatu dalam sebuah prosesi adat.
“Walau masih tidak bisa dipastikan, apakah akan dilaksanakan di tahun berikutnya” ujar Mukhlis.
Keterkaitan Datu Taruna dengan sejarah Kesultanan Banjar, mendapat dukungan dari Raja Muda Khairul Saleh. Apalagi dengan adanya sambutan Bupati HSU, H Khairul Rasyid yang ingin menjadikan Babunga Tahun Manyanggar Banua sebagai agenda budaya HSU, dan dengan kemasan yang lebih baik lagi sebagai potensi wisata budaya daerah. Serta dengan tujuan agar keunikan dan kearifan upacara adat, dapat diketahui generasi muda daerah.
“Harapan memang ada, tetapi entah dengan kebijakan kepala daerah HSU selanjutnya! kata Mukhlis lagi.
Kepala Taman Budaya Kalsel, Drs Noor Hidayat Sultan, menambahkan bahwa disamping maksud dan tujuan dari ritual tersebut, maka ungkapan syukur dan doa untuk kemakmuran daerah, yang turut menjadi bagian dalam prosesi Babunga Tahun Manyanggar Banua, merupakan kearifan lokal yang harus dilestarikan.
“Apabila tradisi ini di kelola dengan baik, akan menambah kekayaan wisata adat dan budaya daerah” pungkasnya. ara/mb05

270112-jumat(sabtu)-manyanggar banua di barikin.3.doc

Photo: mb/ara
PROSESI – Salah satu prosesi upacara adat Babunga Tahun Manyanggar Banua di Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HSU), pada 22 sd 23 Januari 2012

Membenahi Perbedaan Riwayat Dengan Prasasti


BANJARMASIN – Terdapat beragam versi riwat Datu Taruna, sebagai tokoh sentral awal mula diadakannya upacara adat Babunga Tahun Manyanggar Banua di Desa Barikin. Perbedaan yang akan diluruskan kembali oleh juriat dan tetua adat Desa Barikin, dengan membuat sebuah prasasti riwayat hidup Datu Taruna.
Hal ini diungkapkan oleh kepala Taman Budaya Kalsel, Drs Noor Hidayat Sultan, sekembalinya ia dari menghadiri prosesi adat tersebut.
Berdasarkan penuturan Dulhak, Ketua Panitia Pelaksana prosesi adat Babunga Tahun Manyanggar Banua 2012, yang juga sebagai salah satu juriat dari Datu Taruna.. Bahwa perbedaan versi riwayat Datu Taruna banyak terdapat pada saat Datu Taruna dan istrinya menggaibkan diri, dan pada sesajen serta bentuk upacara.
Kepada Mata Banua yang juga menghadiri dan menyaksikan bagaimana prosesi adat Manyanggar Banua dilaksanakan, Dulhak menceritakan Riwayat lain dari Datu Taruna saat menggaibkan diri, yaitu:
Sebelum Datu Taruna berangkat untuk menolong masyarakat yang keamanannya terancam oleh kawanan perampok. Datu Taruna menanam kembang dan berpesan dengan isterinya Mayangsari. Apabila kembang ini layu dan keris Raja Tumbang ini jatuh dari tempatnya. Maka artinya ia gugur di medan perang.
Datu Taruna berhasil membasmi kawanan perampok, karena sudah lama meninggalkan istri dan ingin cepat-cepat pulang, saat naik keatas kuda, Datu Taruna terjatuh. Sehingga salah satu giginya tanggal dan mengeluarkan darah.
Sementara Mayangsari yang sekian lama menanti kepulangan Datu Taruna dengan kerinduan. Mendapati bunga yang ditanam Datu Taruna menjadi layu, serta keris Raja Tumbang turut terjatuh dari tempatnya diletakkan. Mayangsari beranggapan, bahwa ini adalah pertanda kalau suaminya telah gugur di medan perang.
Mayangsari yang sangat mencintai suaminya, menggaibkan diri beserta seperangkat gamelan kesayangan Datu Taruna, yaitu di samping sumur yang kemudian menjadi tempat prosesi upacara sakral Ritual Babunga Tahun Manyanggar Banua berlangsung.
Datu Taruna sampai kerumah, tetapi ia tidak menjumpai Mayangsari. Setelah menanyakan kejadiannya dengan pembantu dirumah dan mengetahui bahwa istrinya menggaibakan diri, karena menyangka ia gugur di medan perang.
Datu Taruna lalu mengumpulkan juriatnya, dan berpesan untuk selalu menjaga kesatuan dan persatuan juriat, meneruskan tradisi menjamu tamu, serta hendaklah pada setiap tahun mengadakan upacara Manyanggar. Agar anak cucu yang ditinggalkan dalam keadaan selamat, sehat dan mendapat hasil panen yang melimpah ruah, dan daerah menjadi aman dan makmur.
Selanjutnya Datu Taruna menyusul menggaibkan diri, di tempat istrinya terlebih dahulu menggaibkan diri. ara/mb05

260112-kamis(jumat)-pentas teater API di TB.3.doc

Sanggar Teater Jangan Terpaku Hanya Satu Genre


BANJARMASIN – Sebuah sangar teater (teater modern) apabila hanya terpaku pada suatu genre teater tertentu saja, hanya akan membuat sanggar tersebut tidak berkembang dengan baik. Terutama untuk pelaku teater (baik yang modern maupun tradisional), sangat penting untuk mencoba suatu genre teater yang lain.
Hal ini diungkapkan oleh pemerhati budaya Drs Mukhlis Maman, beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, apabila seorang pelaku teater hanya mementaskan genre teater itu-itu saja, akhirnya akan stagnan.
Dilain pihak dalam perbincangan Mata Banua dengan Luhur Kayungga, sutradara dan salah satu aktor dari lakon Brongkos, seusai pementasan Teater Api Indonesia (TAI) dari Surabaya di gedung Balairung Sari Taman Budaya (TB) Kalsel, pada Jumat (20/1) malam yang lalu.
Ia menceritakan, bahwa TAI tidak membatasi dirinya dalam genre tertentu, apakah ini realis atau surealis. TAI terus melakukan eksplorasi melalui genre apapun. Bahkan antara keduanya bisa saja dikombinasikan, misalnya genre realis sebagai latihan, kemudian genre surealis dalam pementasan.
TAI selalu melakukan inovasi pemikiran dan penafsiran, serta tidak terpaku dalam suatu bentuk tertentu. Walaupun lebih banyak mementaskan genre surealis. “Sebelum bergabung dalam TAI, aku lebih sering mementaskan genre realis. Lalu aku ingin mencoba sesuatu yang lain, seuatu yang lebih banyak mengeksplorasi pemahaman dan penjiwaan sebuah lakon” katanya.
Luhur melanjutkan, teater surealis tidak semudah seperti yang dibayangkan. Teater surealis memerlukan pemaknaan, kegagalan penokohan menyebabkan penonton tidak bisa menangkap pesan apa yang akan disampaikan. Eksplorasi lebih banyak pada ekpresi dan gerak, serta minim kata-kata, bahkan tanpa dialog. Inilah tantangan dalam memainkan tokoh surealis. Berbeda dengan teater realis, eksplorasi lebih banyak pada dialog, alur cerita mudah ditangkap penonton.
“Pada dasarnya, mengajak orang untuk memahami dan berpikir lebih dalam untuk memaknai, akan lebih membekas dalam diri seseorang” ujarnya. ara/mb05

260112-kamis(jumat)-kalender kegiatan TB 2012.doc

Photo: Drs Noor Hidayat Sultan

Informasi Media Massa Menentukan Agenda Kegiatan TB Kalsel


BANJARMASIN – Masukan dan saran masyarakat terhadap agenda kegiatan Taman Budaya (TB) Kalsel, menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan agenda kegiatan di tahun berikutnya. Karena masyarakat juga mempunyai hak untuk menyaksikan/ melihat dan menjaga kelestarian kesenian tradisional Banjar agar tetap lestari.
Hal ini diungkapkan Kepala TB Kalsel, Drs Noor Hidayat Sultan dengan Mata Banua pada Rabu (25/1) siang. Ia juga mengatakan bahwa informasi dan pemberitaan media massa, sangat membantu untuk menentukan agenda kegiatan TB Kalsel.
“TB sangat berterimakasih atas bantuan media massa dalam menginformasikan setiap kegiatan TB. Peran media massa sangat besar, apalagi bila pemberitaan tersebut bersifat investigasi, serta memuat keluhan masyarakat terhadap keadaan seni budaya tradisional Banjar di suatu daerah” ujarnya.

Kalender Kegiatan Taman Budaya Kalsel 2012

Kegiatan yang bertempat di TB Kalsel, yaitu Pagelaran Teater Modern pada 20 Januari (sudah dilaksanakan), Diklat/ Workshop Tari Dara Manginang pada 22 sd 23 Februari, Lomba Logo Hari Jadi Proklamasi pada 30 Februari/ Mei, Pagelaran Tari Dara Manginang pada 17 Maret, Gelar Paket Seni pada Maret (tanggal masih belum ditentukan), Malam Batanam Karya Baharum Banua pada 14 April, Pagelaran Wayang Gong Remaja pada 5 Mei, Pagelaran Lima Penata Tari pada 9 Juni, Pekan Kemilau Seribu Sungai pada 27 Agustus sd 1 September, Diklat/ Worshop Seni Pertunjukan Sastra pada 10 sd 11 Oktober, Diskusi Teater Modern pada 22 Oktober, Pagelaran Wayang Kulit Banjar pada 10 November, Pameran Seni Instalasi pada 12 sd 14 November, Pameran Kaligrafi dan Seni Lukis Bernuansa Islami pada 12 sd16 November.
Kegiatan TB Kalsel yang bekerjasama dengan Dinas atau lembaga/ panitia kegiatan, yaitu Pameran Seni Budaya pada 20 Mei, bekerjasama dengan Dinas Infokom Kalsel, bertempat di kota Banjarmasin. Pagelaran Musik Modern pada September (tanggal belum ditentukan), bekerjasama dengan Dinas (belum ditentukan), bertempat di TB Kalsel. Diskusi Sastra Modern pada September (tanggal belum ditentukan), bekerjasama dengan panitia Aruh Sastra.
Kegiatan TB Kalsel di luar Banjarmasin/ luar daerah, yaitu Pagelaran Apresiasi Seni Tradisi di Balangan pada April (tanggal belum di tentukan), bekerjasama dengan Instansi setempat. Lomba Baca Puisi di Kabupaten Tabalong pada 15 sd 16 Mei, bekerjasama dengan Instansi setempat. Pagelaran Tari Kreasi di Kabupaten HSS pada 20 Juni, bekerjasama dengan Instansi setempat. Temu Karya TB se Indonesia di TB Surabaya, Jawa Timur pada 10 sd 14 Juli. Expo Pameran Abdi Persada di Banjarbaru, pada 7 sd 17 Juli. Kerjasama Sanggar Seni/ Group Seni (waktu belum ditentukan). ara/mb05

250112-rabu(kamis)-pentas teater API di TB.2.doc

Photo: mb/ara
PESAN – Lakon Bronkos tidak hanya menyampaikan pesan tentang RSJ, mall dan dunia yang palsu saja, tapi juga persoalan eksploitasi alam dll.

Melalui Aksi Panggung Melahirkan Aksi Jalanan


BANJARMASIN – Seni adalah rasa. Sehinga pertunjukan seni yang bisa dikatakan berhasil, yaitu seni yang bisa membangkitkan rasa kepedulian. Melalui pesan yang disampaikan, kemudian terwujud dalam kehidupan. Berangkat dari pertunjukan panggung, rasa yang terlahir bisa saja menjadi aksi jalanan.
Dalam perbincangan Mata Banua dengan Luhur Kayungga, seusai pementasan Brongkos oleh Teater Api Indonesia (TAI) dari Surabaya di gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel, pada Jumat (20/1) malam yang lalu. Terungkap beragam pesan dan permasalahan yang ingin disampaikan melalui lakon Brongkos.
Luhur Kayungga adalah sutradara dan salah satu aktor dari lakon Brongkos yang dipentaskan. Menurutnya, dari seni lalu menimbulkan sebuah empati yang akhirnya menimbulakan aksi turun kejalan. Jangan pernah menganggap remeh seni, seni adalah kekuatan yang terbangun dari dalam diri.
Apabila secara naluri masyarakat bisa tersentuh, mempengaruhi pola pikir seseorang. Sehinga bisa merubah suatu sikap, sehinga kesadaran itu akan melahirkan geraka sosial. Kesenian adalah memberikan suatu stimulus dan inspirasi, sehingga melahirkan pemikiran, dan penyadaran.
“Kami adalah aktivis seni, kami menyuarakan kepedulian melalui seni. Kami mengkritisi dan mengangkat permasalahan melalui seni. Ketika aktivis sosial merasa perlu melakukan penekanan dengan cara begitu (turun kejalan). Maka dalam kesenian, para aktivisnya juga melakukan penekanan permasalahan, namun dengan cara yang berbeda.
Bagaimana kawan-kawan harus melawan setelah menonton pementasan ini. Sebagai kreator kami mempunyai cara sendiri. Secara kebetulan menyentuh semua persoalan yang ada disuatu kota, apakah masalah tanah, lingkungan dll. Artinya sama-sama berkometmen untuk melakukan kontrol di dalam masyarakat, walau pada media yang tidak sama.” katanya.
Luhur melanjutkan, bahwa ia ingin melihat, bagaimana penonton suatu daerah menafsirkan apa yang sudah ditampilkan TAI. Begitu pula dengan ulasan yang akan dilakukan media massa. Sejauh mana dapat menangkap pesan yang disampaikan.
Apakah hanya terbatas pada sinopsis yang diberikan, atau yang disampaikan dalam dialog? Atau lebih jauh menggali realitas yang terjadi dari kehidupan, tidak hanya terbatas dari pementasan maupun dari perbincangan. Disinilah letak kedalaman pemikiran dan penafsiran.
Lakon Brongkos tidak hanya menyampaikan pesan tentang potret kematian orang-orang, dunia yang palsu tidak berotak dan tidak punya nyali. Atau penjungkirbalikan logika dan kebenaran sebuah Rumah Sakit Jiwa, yang dipadamkan dengan etalase di mall atau plasa dalam kehidupan modern.
Beberapa media massa di Surabaya, mengaitkan lakon Brongkos dengan persolan TKW. Sehingga ulasan yang diberikan menyoroti tentang masalah TKW, bagaimana TKW diperlakukan dll. “Melalui pengalaman dan pengetahuan masing-masing, bisa mempersepsikan dan menafsirkan dalam beragam keadaan dan situasi” ujarnya. ara/mb05

250112-rabu(kamis)-pentas teater API di TB.1.doc

Photo: mb/ara
MERAMPAS – Brongkos mengajak untuk memikirkan persolan kebijakan pemerintah yang telah merampas kearifan lokal suatu suku pedalaman

Brongkos Simbol Ketidak Adilan Dan Perampasan Hak


BANJARMASIN – Lakon Brongkos ingin menyampaikan, bahwa ada satu persoalan-persoalan penyadaran yang yang harus dilakukan bersama. Untuk berpikir kembali tentang hubungan-hubungan sosial, hubungan manusia dengan lingkungan.
Banyak kasus-kasus dalam realitas kehidupan yang menjadi problem. Baik yang menyangkut masalah tanah, dll. Sama-sama berpikir, inilah suatu peristiwa yang ironi tentang suatu realitas yang diterima.
Hal ini diungkapkan Luhur Kayungga, sutradara dan salah satu aktor dari lakon Brongkos, dengan Mata Banua seusai pementasan Teater Api Indonesia (TAI) dari Surabaya di gedung Balairung Sari Taman Budaya (TB) Kalsel, pada Jumat (20/1) malam yang lalu.
Menurutnya, lakon Brongkos adalah adaptasi dari novel One Flew Over The Chuckoo’s Nest, karya Ken Kessey. Novelnya sendiri menceritakan kondisi suku Indian yang terampas hak-hak terhadap tanahnya. Brongkos merupakan nama dari Kepada Suku Indian tersebut.
Tidak hanya hak terhadap materil yang dirampas, tetapi juga tatanan-tatanan kearifan ikut terampas. Yaitu bagaimana menjaga keseimbangan hubungan dengan alam, hubungan dengan manusia, dan kultur.
Disini (di Indonesia) bisa dilihat pula, bagaimana hutan dibabat habis, kekayaan alam yang dieksploitasi. Situasi ini akan selalu bergulir menjadi suatu problem, dimana alam dan lingkungan kita sudah mulai rusak. Lalu berdampak pada iklim-iklim yang mulai ekstrim. “Masalah ini tetap menjadi suatu siklus, dan persoalan-persolan bola salju yang menggerus kita” katanya.
Proses latihan dan persiapan lakon Brongkos, dari eksplorasi hingga final eksekusi (siap tampil), memakan waktu hampir satu tahun. Kota pementasan pertama di Surabaya pada Oktober 2011. Banjarmasin adalah kota yang ke 6 sebagai tempat pementasan. Selanjutnya akan dilanjutkan dengan kota lainnya di Indonesia.
Luhur kembali menekankan, untuk bisa mulai berfikir dari mana mencari akar persolan. Apakah persolan kapitalisasi, atau persolan kebijakan pemerintah yang telah menentukan aturan-aturan main didalam bermasyarakat. Perundang-undangan di dalam menata masyarakat.
Seperti masyarakat suku pedalaman yang secara turun temurun merasa memiliki suatu wilayah, tiba-tiba berbenturan dengan hukum pemerintah dan realitas formal, hingga akhirnya kehidupan suku pedalaman menjadi tercerabut dan hilang. Bagaimana sama-sama mencoba dan mencari kontemplasi. Serta memetakan lagi persolan-persoalan seperti sejenis.
“Dalam pertunjukan Brongkos, tidak memilih satu orang menjadi brongkos. Ini adalah suatu simbol masalah yang terjadi di setiap daerah” ujarnya. ara/mb05

240112-selasa(rabu)-manyanggar banua di barikin.2 (Dm.270112 di berita kaki hal.1).doc

Photo: mb/ara

(Penelusuran Bagian ke Dua)
Asal Muasal Upacara Manyanggar Banua

Perjalanan Mata Banua bersama Rombongan Taman Budaya Kalsel, menghadiri upacara adat Manyanggar Banua di Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HSU), pada 22 sd 23 Januari 2012.

Seiring datangnya Islam di Kalsel, ritual adat masyarakat berasimilasi dengan ritual Islam. Ritual yang sudah diIslamkan tersebut, sampai sekarang masih dikerjakan oleh urang Banjar. .
Di antara ritual yang sampai sekarang masih dikerjakan adalah Manyanggar Banua. Ritual ini sering kali dilakukan setiap ada perluasan suatu daerah baru, dan wabah penyakit mulai berjangkit di wilayah tersebut. .
Versi riwayat lain yang beredar di kalangan masyarakat, mengenai asal mula Manyanggar Banua di Desa Barikin.Bahwa dahulu kala di Desa Barikin yang mulanya bernama Pasanggrahan Tambak Pamatang Kambat, hidup Datuk Taruna yang mempunyai ilmu sakti mantraguna dengan isterinya Mayangsari. .
Datukl Taruna memilki seperangkat gamelan yang sangat disayanginya, dan senang menolong masyarakat yang keamanannya terancam oleh kawanan perampok. Pada suatu waktu, Datuk Taruna pergi meninggalkan kampungnya berangkat ke sebuah desa, untuk membantu penduduk desa yang sedang memerangi perampok. .
Namun kepergiannya kali ini cukup lama, sehingga isterinya Mayangsari merasa cemas, maka untuk mengamankan gamelan kesayangannya dan sebuah belanga yang berisi daging (pakasam) disembunyikan di dalam sumur. .
Mayangsari yang sangat mencintai suaminya, berusaha untuk mencarinya. Sebelum meninggalkan desa Barikin, ia menanam sepohon kembang yang bernama Bunga Panggang. Serta berpesan dengan anak cucunya, kalau ada setetes darah diatas kembang dan kembang layu sebagai pertanda ia berubah menjadi orang ghaib. Kemudian hendaklah pada setiap tahun mengadakan upacara Manyanggar, agar anak cucu yang ditinggalkan dalam keadaan selamat, sehat dan mendapat hasil panen ynag melimpah ruah. .
Tidak berapa lama setelah Mayangsari pergi meninggalkan desa Barikin, Datuk Taruna kembali ke kampung dan kepadanya disampaikan pesan Mayangsari. Datuk Taruna mendekati pohon Kembang Bunga Panggang, dan tidak menyadari sebelah telinganya yang luka, darahnya menetes ke atas bunga yang kemudian menjadi layu. Datuk Taruna berusaha mencari isterinya kesana-kemari, dan tidak ada beritanya. .

Alat sesajen dan bentuk upacara manyanggar banua pada masa lalu, dari versi masyarakat

Alat Upacara, antara lain: .
Panggung digunakan untuk tempat pelaksanaan upacara. Binatang, biasanya kerbau atau kambing, sebagai simbol menebus daerah tempat yang terkena wabah penyakit atau yang dianggap tidak aman. Ranting kayu uringin, diletakkan diatas panggung. Tombak, diletakkan bersama ranting kayu tadi. .
Lalu ada Tatungkal (tapung tawar), dipercaya dapat mendinginkan daerah yang dianggap tidak aman. Ancak, tempat sesasjen. Seperangkat alat kesenian (wayang kulit dan topeng). Piduduk, paket yang berisi beras, gula merah, jarum, kelapa, dan uang secukupnya, dimaksudkan untuk menutupi kekurngan dalam upacara tersebut. .
Ada beras merah dan beras kuning, gunanya utuk memanggil makhluk halus. Sesajen Lemang (beras ketan), gunanya agar penduduk tidak diganggu makhlik halus. Telur ayam atau bebek, merupakan simbol agar selalu bersatu dan tidak melakukan perpecahan. Nasi ketan dan Tapai, simbol harapan supaya cita-cita tercapai. .
Ada bubur merah dan bubur putih, simbol agar daerah menjadi subur dan penyakit cepat hilang. Pisang emas, harapan mengenai hasil panen agar lebih baik dari tahun-tahun kemarin. Kakicak, gunanya sebagai simbol agar pekerjaan, dan perbuatan mereka selalu bermanfaat. .
Ada Kakulih, gunanya sebagi simbol pengharapan agar usaha selau memperoleh keuntungan. Cucur, sebagai simbol pengharapan agar apa yang dikerjakan berjalan dengan lancar. Nasi topeng, pengharapan agar usaha semakin meningkat (berkembang). Ketupat.dan Wajik, simbol agar gemar melakukan kebajikan. Dua ekor ayam sudah masak hitam (mengusir penyakit) dan putih (makhluk halus tidak mendiami tempat itu lagi) dan ada kue Serabi. .
Upacara ini di awali dengan mempersiapkan peralatan dan sesajen. Selagi sesajen disiapkan, diadakanlah upacara badudus (mandi-mandi atau selamatan tahunan), yang biasanya dilakukan pada hari minggu sebelum tengah hari. Umumnya yang didudus adalah anak-anak. Anak-anak yang didudus tadi harus menyerahkan piduduk. .
Dalam upacara badudus ini, dipergunakan seperangkat gamelan yang di tabuh oleh keluarga yang memakai pakaian khas banjar kuning bagi pria, dan hitam bagi wanita. .
Upacara ini dilaksanakan dalam sebuah atap khas yang berlangit-langit berwarna kuning, dan sekeliling tingnya diikat pohon pisang dan tebu. Disamping kiri-kanan atap berdiri dua orang yang memegang tombak. Saat rangkaian upacara ini biasanya, terdapat beberapa orang keluarga yang kesurupan. .
Setelah tengah hari, kira-kira pukul 14.00 waktu setempat, dimulailah arak-arakan mengantarkan sesajen. Arak-arakan ini diikuti oleh seluruh keluarga Datuk Taruna, lelaki memakai baju berwarna kuning sedangkan wanitanya memakai selendang berwarna hitam. .
Ada lagi seorang wanita muda pembawa pakaian warna hitam untuk Datuk taruna yang didampingi pimpinan upacara dan para pembantunya. Seorang diantaranya membawa sebilah keris Naga Runting dan tombak ambulung. Di belakang pembawa tombak terdapat para pembawa ancak sesajen dan diapit oleh sekitar 40-50 orang menuju sumur sambil membunyikan gamelan. .
Sesampainya di sumur, pimpinan upacara mengambil kepala hewan (kerbau atau kambing) yang masih berdarah dan di letakkan disebatang pohon bambu disekitar lokasi upacara. Seorang wanita yang kesurupan mengambilnya sambil menari-nari memakan kepala kambing sambil menghisap darahnya. Acara mengantar sesajen diakhiri dengan dipercikannya tapung tawar dan batampungas (membasuh muka) di sumur Datu Taruna. .
Pada malam harinya diadakan acara wayang sampir yang membawakan lakon khas penyerahan sesajen, dalangnya ialah dalang khusus dari keturunan Datuk Taruna. Mejelang subuh diadakan Baayun Wayang yang menceritakan anak cucu sudah di Dudus di Ayun dan resmi menjadi keluarga Datu taruna. .
Rangkaian terakhir dari upacara ini ialah upacara manopeng. Pada acara tari topeng ini, dimainkan peran Pantul dan Amban sebagai pengasuh anak-anak dengan gerak-gerik yang menggelikan. .
Sebagai penutup, diadakan upacara memulangkan undangan. Dalang selaku pemimpin upacara mengucapkan mantera-mantera yang mempersilakan para makhluk ghaib yang dipercayai telah hadir dalam upacara untuk kembali ke alamnya. ara/mb02

Jumat, 24 Februari 2012

240112-selasa(rabu)-manyanggar banua di barikin.1 (Dm.260112 di berita kaki hal.1).doc

Photo: mb/ara

(Penelusuran Bagian Pertama)
Datu Taruna Pelatih Karawitan Kerajaan Negara Dipa

Perjalanan Mata Banua bersama Rombongan Taman Budaya Kalsel, menghadiri upacara adat Manyanggar Banua di Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), pada 22 sd 23 Januari 2012.

Selama dua hari berturut-turut baik siang maupun malam, Desa Barikin dipenuhi oleh juriat Datu Taruna, baik yang masih berada di Kalsel, maupun yang ada di luar Kalsel. Begitu pula warga yang ingin menyaksikan upacara adat Manganggar Banua. Sejarah, mitos, kepercayaan gaib, dan harapan serta doa, menjadi satu dalam tradisi.
Terdapat Beragam versi riwat Datu Taruna, sebagai tokoh sentral awal mula diadakannya upacara adat Manyanggar Banua di Desa Barikin. Perbedaan-perbedaan, maupun penggalan-penggalan riwayat yang belum menjadi satu kesatuan.
Baik versi riwayat dari satu juriat/keturunan Datu Taruna dengan juriat Datu Taruna lainnya, maupun riwayat yang beredar di kalangan masyarakat Perbedaan dan penggalan riwayat inilah, yang ingin diluruskan kembali oleh beberapa tokoh adat Desa Barikin, dengan membuat sebuah prasasti riwayat hidup Datu Taruna.
Berdasarkan penuturan AW Syarbaini salah satu juriat Datu Taruna, yang juga tokoh adat Desa Barikin, serta sebagai ketua sanggar Ading Bastari Barikin. Bahwa Datu Taruna berasal dari masa berkuasanya Pangeran Suryanata di kerajaan Negara Dipa. Datu Taruna adalah seorang kesatria yang disegani pada masa itu. Ia adalah seorang pemandu/pelatih kerawitan kerajaan.
Setelah terjadinya pergolakan di dalam kerajaan, ia pergi mengasingkan diri dengan saudaranya keluar dari istana menyisir sungai mulai dari Muara Bahan arah ke Hulu Sungai, sampai akhirnya membuka sebuah perkampungan yang dikenal sekarang dengan nama Desa Barikin.
Kepergian Datu Taruna dari istana dikarenakan tidak ingin ikut campur tangan, pergolakan kerajaan. Sehingga ia mengasingkan diri dengan membawa seperangkat gamelan dan perabot-perabot lainnya.
Sebelum menjadi Desa Barikin, awalnya adalah Desa Pamatang Kambat yang di buka oleh Datu Taruna. Nama Datu Taruna adalah gelar setelah ia menetap di Desa Pematang Kambat, sedangkan nama aslinya diamanatkan Datu Taruna kepada anak cucunya untuk untuk dirahasiakan sampai sekarang.
Datu Taruna telah dikenal dikalangan para bangsawan kerajaan Negara Daha dan Negara Dipa. Oleh karena Datu Taruna dikenal para sahabat-sahabat beliau, maka apabila para sahabat yang dari kerajaan Negara Daha mau ke Candi Agung singgah dahulu di Desa Pematang Kambat di Pasanggrahan Datu Taruna.
Apabila para sahabat-sahabat beliau datang di Desa Pematang Kambat, selalu disambut oleh Datu Taruna dengan suguhan berupa sajian dan pertunjukan kesenian klasik di sebuah tempat pasanggrahan.
Kesenian klasik yang di tampilkan antara lain, Wayang Sampir pada malamnya, dan siangnya sebelum para sahabat meneruskan perjalanan, ditampilkan Tari Klasik Topeng.
Sebelum Datu Taruna menggaibkan diri, ia beramanat kepada anak cucunya di Desa Barikin supaya melanjutkan kebiasaan untuk menjamu para sahabat dan kerabat dalam waktu satu tahun sekali. Sekaligus diadakannya upacara selamatan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat dan juriat di Desa Barikin. Upacara ini disebut Babunga Tahun.
Sebagian masyarakat menyebut nama Pesanggrahan dengan Penyanggaran, dan kemudian dengan berlalunya waktu berubah lagi penyebutannya menjadi Menyanggar.

Pengertian dan Susunan acara Manyanggar Banua yang dilaksanakan dari 22 sd 23 Januari 2012

Persiapan acara sudah dimulai satu minggu sebelumnya. Puncak persiapan dari Jumat hinga Sabtu, dengan menyiapkan sesaji dan perlengkapan lainnya.
Minggu, pukul 09.30 ritual Badudus, pukul 13.30 ritual Turun Wadai (sesajian), pukul 14.30 ritual Maarak Ancak ke Tempat Upacara, pukul 15.00 ritual di Tempat Upacara, dan pukul 20.00 ritual Wayang Sampir.
Senin, pukul 01.00 acara Bawayang, pukul 03.30 ritual Baayun Wayang, pukul 04.30 ritual Tari Klasik Topeng dan pukul 15.30 ritual Baayun Topeng hingga selesai.
Di tempat ritual Mandi Badudus Bapagar Mayang , sebelum ritual dimulai diiringi gamelan irama lagu Ayakan Miring. Saat ritual Badudus diiringi gamelan irama lagu Galaganjur. Sesudah ritual Badudus diiringi diiringi gamelan irama lagu Senen. Dan sebagai penutup ritual Badudus kembali diiringi gamelan irama lagu Ayakan Miring.
Di tempat ritual Penyerahan Sesajian di mulai dengan seremonial laporan panitia, sambutan para pejabat yang menghadiri acara, dan pembacaan doa dari tokoh agama. Selanjutnya ritual Penyerahan sesajian diiringi gamelan irama lagu Ayakan Miring. Lalu Tapung Tawar, doa selamat sesajian di susun di ancak, diiringi gamelan irama lagu Galaganjur hingga ancak dibawa ke tempat upacara.
Pada penyerahan sesajian di tempat upacara hingga upacara sakral berlangsung, diiringi gamelan irama lagu Galaganjur. Saat menggantung kepala Kambing, diiringi gamelan irama lagu Senin. Dan seusai upacara sakral diiringi gamelan irama lagu Ayakan Miring.
Babunga Tahun Manyanggar Banua, artinya mengharumi dan selamatan kampung. Semoga tahun akan datang keluarga dan warga di Desa Barikin selalu rukun, damai, sehat dan dijauhkan dari bala bencana.
Pada Bawayang Sampir, terdapat dua pengertian kata. Wayang artinya adalah alat kesenian, dan Sampir yang artinya hampir atau persamaan. Jadi dengan alat kesenian Wayang Kulit bisa mengambil contoh, yaitu seperti apa bila sedang menghadapi Raja atau pimpinan, seperti apa bila menghadapi orang yang lebih tua, dan seperti apa bila menghadapi sahabat. Sehingga di dalam kesenian wayang Kulit, dapat mengetahui dan memilih antara sifat yang baik dan buruk.
Mandi Badudus Bapagar Mayang, terdapat pula dua pengertian kata. Mandi adalah kebersihan, dan Mayang merupakan kembang Pinang yang harum baunya. Jadi dengan anak keluarga Mandi Badudus yang disaksikan orang banyak, maka diharapkan menjadi bersih lahir batin dan terhindar dari malapetaka. ara/mb02

230112-Obat Tradisional Untuk Batumbal

Jantung Pisang Untuk Obat Tumbal


Apabila pada telapak kaki, ada bagian yang keras dan mati rasa, dalam bahasa Banjar penyakit ini disebut Tumbal. Ini adalah penyakit biasa dan tidak menular.
Menurut Drs H Syarifuddin R, ada dua cara mengobati Tumbal, dalam pengobatan tradisional Banjar, yaitu:
Pertama, menggunakan tungkul pisang (jantung pisang). Cara pengolahan obatnya yaitu jantung pisang dibakar hingga lembek. Teknis pengobatannya yaitu telapak kaki yang terkena Tumbal dijejakkan berulang-ulang pada jantung pisang yang sudah lembek tadi (dalam keadaan masih hangat) hingga hancur.
Kedua, menggunakan panjar, yaitu besi tajam yang biasa digunakan untuk menganyam lampit (rotan). Cara pengobatannya, panjar dipanggang (dipanaskan) sampai hangat, kemudian sentuhkan berulang-ulang pada Tumbal.
Dari keterangan masyarakat yang didapat Mata Banua. Cara lain untuk mengobati Tumbal, yaitu dengan mengoleskan darah sapi yang baru dipotong (darahnya masih terasa hangat/segar) pada bagian kaki yang terkena Tumbal. Lakukan beberapa kali secara rutin, hingga Tumbalnya hilang. ara/mb07

230112-Obat Tradisional Untuk Bincul

Asam Kamal Dan Garam Obat Untuk Bincul


Apabila kepala terbentur benda keras, akan menimbulkan benjolan yang terasa nyeri. Penyakit ini dalam bahasa Banjar disebut Bincul. Penyakit ini dianggap biasa dan dapat disembuhkan sendiri.
Menurut Drs H Syarifuddin R, ada dua cara mengobati Bincul, dalam pengobatan tradisional Banjar, yaitu:
Pertama, menggunakan asam kamal dan garam. Cara pengolahan obatnya, asam kamal dan garam diambil secukupnya, lalu diberi air sedikit. Kemudian diperas dan diambil airnya yang kental. Teknis pengobatannya, oleskan air yang kental tadi pada Bincul. Lakukan beberapa kali agar cepat sembuh.
Cara kedua, berdasarkan kepercayaan masyarakat Banjar dapat menggunakan rambut yang dipuntal (digulung padat). Cara pengobatannya, yaitu ujung rambut yang digulung padat tadi dimasukkan diantara kedua bibir, lalu ditiup dan langsung ditempelkan pada Bincul. ara/mb07

200112-jumat(sabtu)-mula sastra dr Dimas.2.doc

Photo: Dr Sudaryono MPd

Hubungan Antara Penyair Dengan Tuhan


BANJARMASIN – Bagaimanakan hubungan antara penyair dengan Tuhan dalam seni sastra religius? Sementara seni susastra bergerak pada arus bawah hidup, dan memunculkan kepermukaan, atas undangan ke arah kedalaman. Arus bawah yang di kenal dengan istilah religiusitas (bukan beragama). .
Hal ini diungkapkan oleh Dr Sudaryono MPd, beberapa waktu yang lalu. Ia adalah sastrawan dan sebagai Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di FKIP Universitas Jambi. Nama penanya dalam dunia sastra adalah Dimas Arika Mihardja. .
Menurutnya, karya puisi secara maknawi tidak dimaksudkan untuk menambah jumlah pemeluk, melainkan memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Tuhan. .
Sedangkan komunikasi antara manusia-penyair dengan Tuhan, realisasinya bisa meluas, bisa pula menyempit perspektifnya. Secara luas, bentuk komunikasi antara manusia-penyair dengan Tuhan teraktualisasi dalam bentuk kekaguman manusia-penyair, yaitu kekaguman terhadap berbagai bentuk ciptaan Tuhan (Allah adalah Maha Kreator yang mampu menciptakan alam semesta beserta isinya). .
Manusia-penyair, dalam konteks ini hanyalah peniru secara mimesis. Dari tangan manusia-penyair lalu lahir berbagai karya, yang secara mimesis tidak dimaksudkan menandingi kreativitas Tuhan. Melainkan semacam perpanjangan tangan. .
“Hitung-hitung manusia-penyair bertindak sebagai kafilah di bumi, yang dengan suntuk mengagungkan berbagai Keindahan Ciptaan Tuhan” katanya. .
Selain itu, lanjut Dimas, manusia-penyair ternyata juga merupakan makhluk individu dan makhluk sosial dalam pranata sosiologis. Secara individual, manusia-penyair memiliki atensi pada masalah-masalah personal. Dari masalah-masalah personal inilah, sebagai pangkal tolak konsepsi estetis dalam setiap berkarya. .
Dalam perspektif individual pula, manusia-penyair selalu di rundung kegelisahan untuk berdekatan dengan Sang Khalik. Lantaram Sang Khalik sifatnya serba Maha. Secara personal manusia terkadang serupa debu diterompah-Nya. .
Manusia lantas merasa kecil, kotor, dan silau oleh Cahaya Maha Cahaya. Manusia secara personal juga terkadang penasaran untuk menyibak rahasia ciptaan-Nya. Alam semesta beserta isinya acapkali membuat manusia terluka, oleh berbagai penyebab. .
“Melalui luka dan rasa penasaran tersebut, secara watak personal manusia memiliki rasa ingin tahu segalanya, termasuk rahasia-Nya” ujarnya. ara/mb05

200112-jumat(sabtu)-Kesehatan Libatkan Masyarakat.doc

Photo: drg Hj Diah Ratnani Praswati

2012 Peran Serta Peduli Kesehatan Libatkan Masyarakat


BANJARMASIN – Pola hidup bersih dan sehat bagi masyarakat pinggiran kota sangat rendah. Pola hidup sehat yang paling mudah seperti bersikat gigi dan cuci tangan saja, masih belum menjadi kebiasaan.
Hal ini pernah diungkapkan Ketua Kemuslimahan KAMMI Komisariat Banjarmasin, Nur Laily Anggraini kepada Mata Banua, pada akhir Desember 2011 yang lalu. Yaitu seusai kegiatan pelayanan kesehatan gratis untuk warga Alalak Selatan, yang dilaksanakan KAMMI Kalsel, bersama tim kesehatan dari STIKES Muhammadiyah Banjarmasin.
Apa yang dikatakan Nur, dibenarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Banjarmasin drg Hj Diah Ratnani Praswati, saat di hubungi via telepon, pada Rabu (18/1) siang.
Menurutnya, Dinkes dan Puskesmas selalu memberikan penyuluhan pola hidup bersih dan sehat bagi masyarakat. Untuk program cuci tangan pakai sabun, itu pencanangannya dilakukan setiap tahun.
Namun ketika kita ingin merubah perilaku masyarakat, itu memerlukan waktu yang cukup panjang dan lama. Bahkan harus dilakukan terus menerus, karena masyarakat terkadang lupa untuk melaksanakannya.
Prilaku hidup bersih dan sehat menjadi program unggulan sektor kesehatan, Dinkes dan Puskesmas tidak berdiri sendiri, tapi bersama-sama seluruh SKPD se kota Banjarmasin. Sebab dengan tenaga kesehatan yang hanya 1000 sekian di Kota Banjarmasin, tidak mungkin menjangkau masyarakat seluruhnya.
“Kedepannya program kesehatan, diusahakan agar bisa terus bekerjasama dengan kelompok-kelompok tertentu. Sehingga program-program kesehatan bisa berjalan dengan baik” katanya.
Menanggapi keluhan masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas, Kadinkes Kota Banjarmasin, menjelaskan. Bahwa Puskesmas adalah pusat kesehatan masyarakat yang berbasis wilayah, artinya Puskesmas harus bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat diwilayahnya.
Di puskesmas ada pula badan penyantun Puskesmas, yang diketua tokoh masyarakat. Apabila ada keluhan dari masyarakat terhadap pelayanan kesehatan Puskesmas, maka dari tahun ketahun kita upayakan peningkatan koordinasi yang lebih baik. Baik dari tokoh masyarakat ke Puskesmas, atau pun lainnya.
Setiap bulan ada lokakarya mini, yaitu setiap Puskesmas merencanakan kegiatan yang berdasarkan permasalahan bulan sebelumnya atau dari keluhan masyarakat. Kemudian dijadikan program yang akan dijalankan untuk bulan berikutnya.
Hj Diah Ratnani Praswati, juga berterimakasih kepada kelompok sosial atau organisasi yang membantu Dinkes dan Puskesmas dalam penyuluhan atau memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Tapi ia juga meminta agar setiap kelompok sosial atau organisasi yang melakukan kegiatan kesehatan, untuk berkordinasi dengan Puskesmas wilayah setempat. Dan bila wilayahnya lebih luas, maka berkordinasi dengan Dinkes.
“Di 2012 akan lebih banyak melibatkan masyarakat untuk peran serta peduli kesehatan. Agar kesehatan masyarakat menjadi lebih baik, dan apabila masyarakat lebih banyak peduli dengan kesehatan, maka persentasi keberhasilan menjadi lebih meningkat” ujarnya. ara/mb05

190112-kamis(jumat)-syarat Pos Yandu Lansia (Dm.260112).doc

Photo: drg Hj Diah Ratnani Praswati

Posyandu Lansia di Kota Banjarmasin Masih Kurang


BANJARMASIN – Bagi orang tua yang sudah berusia lanjut (lansia), melakukan pemeriksaan kesehatan atau berobat ke Puskesmas yang jaraknya cukup jauh, sangat memberatkan. Beberapa warga di Kota Banjarmasin yang dalam lingkungan tempat tinggalnya banyak terdapat lansia, mengharapkan ada Posyandu lansia.
Seperti yang diungkapkan oleh Latifah (37) ketua RT 1, Kelurahan Alalak Selatan, beberapa waktu yang lalu kepada Mata Banua. Untuk tiga RT yang berdekatan saja yaitu RT 1, RT 2 dan RT 11, ada lebih dari 100 lansia yang rata-rata berusia 70 tahun.
“Pengobatan langsung di tengah masyarakat untuk lansia yang dilakukan Puskesmas, terakhir pada 2010. setelah itu tidak ada lagi. paling tidak di tiga RT kami yang saling berdekatan ini ada Posyandu lansia” katanya.
Dilain pihak, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Banjarmasin drg Hj Diah Ratnani Praswati, saat di hubungi via telepon, pada Rabu (18/1) siang. Ia menjelaskan, bahwa jumlah lansia dan jumlah balita di Kota Banjarmasin, hampir sama.
Ia juga mengakui, kalau Posyandu balita sudah banyak, sedang Posyandu lansia masih kurang. Posyandu balita ada sekitar 374, sedangkan Posyandu lansia hanya ada sekitar 63.
Menurut Kadinkes, dalam sektor kesehatan suatu siklus kehidupan manusia, adalah berupaya untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dimulai dari masa kehamilan dan masa persalinan/kelahiran, bayi/balita sd remaja. Kemudian pasangan yang subur hingga lansia.
Minat masyarakat membawa anaknya ke Pos Yandu balita cukup tinggi, sehingga apabila Puskesmas membuat Posyandu balita di suatu wilayah, tidak menjadi sia-sia. Berbeda dengan Posyandu lansia, harus ada keinginan dan peran serta masyarakat untuk membuat Posyandu lansia.
Dinkes dan Puskesmas akan memberikan kemudahan kepada masyarakat, apabila ingin membuat Posyandu lansia. Minimal 3 RT dalam dalam suatu kelurahan, bisa mengajukan permohonan pembuatan Posyandu lansia.
Apabila di suatu RW atau beberapa RT sudah ada Posyandu lansianya, maka tim kesehatan dari Puskesmas, setiap bulannya akan membantu pelayanan kesehatan, pengobatan gratis, dan pemeriksaan laboratoriaum dasar.
“Tentunya kami mengharapkan peran serta masyarakat, agar Posyandu lansia bisa kita wujudkan. Silahkan ajukan proposal, atau berkonsultasi dulu dengan petugas yang ada di Puskesmas” ujarnya. ara/mb05

190112-kamis(jumat)-bahasa banjar4.doc

Photo: Tajuddin Noor Ganie

Budaya Sopan Santun Berkata-Kata


BANJARMASIN – Pada zaman dahulu, kemampuan seseorang dalam merangkai kata-kata menggunakan bahasa sastra menjadi budaya dalam masyarakat Banjar. Suatu budaya yang menunjukkan tingkat adab (sopan santun) bertutur orang tersebut.
Berbicara tidak hanya asal mengeluarkan kata-kata, tetapi diiringi dengan untaian kata yang indah dan bermakna. Gaya berpantun, syair atau puisi menjadi pilihan. Baik itu saluka maupun tamsil atau kiasan.
Menurut Tajuddin Noor Ganie, beberapa waktu yang lalu. Saluka Banjar adalah kata-kata dalam bahasa Banjar, yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk puisi 2 baris atau 4 baris bersajak. Saluka mempunyai akhiran vertikal a-a, a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-a-b.
Contoh Saluka Banjar, antara lain:
Nang manis, jangan lakas ditaguk. Nang pahit, jangan lakas diluak. Parak bau tahi, jauh bau kambang. Parak bakalahi, jauh bagaganangan. Tik nung kalikir pacah. Itik bakunyung kada basah. Dan ujar habar banyak baiwak, saikung-ikung kada mawadi. Ujar habar banyak nang handak, saikung-ikung kadada nang jadi.
Sedangkan Tamsil Banjar adalah kata-kata kiasan yang bersajak dan berirama dalam bahasa Banjar, yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk barias-baris puisi.
Contoh Tamsil Banjar, antara lain:
Baundur supan, bamara takutan, bagana kada tahan. Dan mambatat mangadalun, dijamur kada mau karing, dirandam kada mau bangai, dibanam kada mau hangit.
Tajuddin menyimpulkan, bahwa Peribahasa Banjar berbentuk puisi, terdiri atas Gurindam, Kiasan, Mamang Papadah, Pameo Huhulutan, Saluka, dan Tamsil. Peribahasa Banjar berbentuk kalimat, terdiri atas Ibarat, Papadah, Papatah-patitih, Paribasa, dan Paumpamaan.
“Bahwa semua ragam/jenis peribahasa Banjar berbentuk puisi, setidak-tidaknya memiliki salah satu dari 3 ciri karakteristik bentuk, yakni adanya pengulangan atas kosa-kata yang sama, adanya kosa-kata yang hampir sama secara morfologis, dan adanya kosa-kata yang saling bersajak.
Baik akhiran kosa kata tersebut secara vertikal maupun secara horisontal di awal, di tengah, atau di akhir baris/larik. Ciri-ciri karakteristik bentuk yang demkian itu identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi)” ujarnya. ara/mb05