Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label Gubernur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gubernur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

221211-kamis(jumat)-mamanda tubau posko la bastari

Photo: mb/ara
MAMANDA – Kisah kerajaan dalam Mamanda Tubau yang dipentaskan oleh Posko La Bastari pada Festival Kesenian Daerah Banjar 2011 di Taman Budaya Kalsel

Mamanda Tubau Posko La Bastari Kandangan

BANJARMASIN – Teater tradisional Banjar dikenal dengan nama Mamanda, yang dalam perkembangannya terdapat tiga jenis mamanda. Pertama Mamanda Pariuk, kedua Mamanda Tubau, dan ketiga Mamanda Dinas.
Dari ketiga mamanda ini terdapat perbedaan dalam penampilan. Mamanda yang  masih menggunakan penampilan tradisional ada pada Mamanda Periuk dan Mamanda Tubau. Sedangkan Mamanda Dinas yang diperkenalkan oleh Sirajul Huda, lebih bernuansa modern.
            Pemerhati budaya Banjar, Drs Mukhlis Maman, menjelaskan perbedaan antara Mamanda Periuk dan Mamanda Tubau. Mamanda Periuk penyebarannya di daerah sungai, irama lagu pengiring meliuk-liuk, narasi dengan cerita hikayat dan syair, kemudian struktur pertunjukan menggunakan ladon (mengemukakan kisah yang akan dipertunjukkan).
Sementara Mamanda Tubau, menyebar di daerah daratan, irama lagu pengiring pendek dan menanjak, kemudian narasi dengan carang kanda (cerita karangan sutradara yang berhubungan dengan situasi kerajaan tertentu), dan struktur pertunjukan menggunakan kata sambutan dari pemimpin.
“Dapat disimpulkan bahwa perbedaan situasi daerah penyebaran mempengaruhi jenis Mamanda. Oleh karena itu Mamanda Periuk disebut juga Mamanda Batang Banyu atau Mamanda Margasari. Sedang Mamanda Tubau terletak di kampung Tubau, Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah” ujar Mukhlis pada Rabu (21/12) sore.
            Beberapa waktu yang lalu, Posko La Bastari (PLB) dari Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan menampilkan pagelaran Mamanda Tubau, yang berjudul Maniskah Empedu Karena Air Mata,.di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel.dalam Festival Kesenian Daerah Banjar (FKDB) 2011, pada Selasa (13/12) malam.
            Mamanda Tubau yang dibawakan PLB ini menceritakan tentang seorang pemuda yang baik, tetapi setelah menikahi seorang putri dan mendapat tahta di sebuah kerajaan, akhirnya lupa dengan sanak keluarganya. Perangai si pemuda menjadi sombong dan angkuh. Lalu menjadi durhaka dengan orang tua dan saudara kandungnya sendiri.
            Menurut Bahrani, pembina PLB yang telah 60 tahun menggeluti Mamanda semenjak umur 12 tahun. Bahwa Mamanda Periuk hanya menokohkan tari dan nyanyi, sedang Mamanda Tubau menokohkan seperangkat kerajaan dan cerita. Mamanda Tubau lebih dulu muncul sekitar 1930, setelah 40 tahun barulah Mamanda Periuk timbul dan berkembang.
            Mengenai pagelaran PLB dalam FKDB 2011, Bahrani sangat bersyukur, sebab Gubernur Kalsel Drs H Rudy Ariffin, turut menyaksikan hingga akhir pementasan. ara/mb05

151211-kamis(jumat)-Festival Kesenian Daerah Dispar prov di TB

Photo: mahfuz

Mengisi Nurani Dengan Seni Budaya Daerah Banjar

BANJARMASIN – Hujan yang mengguyur kota Banjarmasin semenjak siang, pada hari terakhir pelaksanaan Festival Kesenian Daerah Banjar (FKDB) 2011 di Gedung Balairung Sari Taman Budaya (TB) Kalsel, menyebabkan bangku penonton tampak banyak yang kosong. Tetapi hal itu tidak menyebabkan kemeriahan FKDB pudar.
            FKDB di buka pada Selasa (13/12) malam, diselenggarakan selama dua hari oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Kalsel. Selain persembahan beragam kesenian, ada pula penyerahan anugerah budaya 2011. Malam pembukaan menjadi lebih istemewa dengan kehadiran Gubernur Kalsel Drs H Rudy Ariffin yang menikmati pagelaran hingga akhir pertunjukan.
            Kepala Disporbudpar Kalsel Drs H Mohandas H Hendrawan, dalam sambutan pembukaannya mengatakan. Bahwa Disporbudpar Kalsel akan terus berupaya melakukan pemeliharaan seni budaya, karena aspek pelestarian terdiri dari pembinaan, pemanfaatan dan pengembangan seni budaya.
Juga memberi penghargaan pada para pelaku seni budaya yang hampir sepanjang hidupnya, senantiasa memberikan karya dan dedikasinya terhadap upaya-upaya pelstarian seni budaya.
            Kemudian Gubernur Kalsel dalam sambutannya berpesan, agar seni budaya daerah itu mengisi nurani, jiwa dan semangat orang Banjar. Sehingga memiliki tekad untuk membangun lebih baik lagi banua Kalsel.
Pemerintah provinsi Kalsel sangat menaruh penghargaan pula pada orang Banjar yang berada di luar Kalimantan, tetapi tetap memelihara dan  menjunjung tinggi adat budaya Banjar. Baik kesenian, kuliner dan bangunan-bangunan (rumah adat) Banjar yang dibangun di luar Kalsel. “Masih banyak harus dibenahi bersama untuk terpeliharanya seni budaya Banjar yang sangat banyak ragamnya” ujarnya.
            Pagelaran FKDB pada Selasa sore dengan kolaborasi musik tradisional dan modern. Malamnya dengan tari pedalaman, dan dilanjutkan dengan pagelaran teater tradisional mamanda tubau.
Rabu malam, hanya ada dua pagelaran, yaitu lagu-lagu banjar dan japin carita dari sanggar lawang. Sementara tari topeng, teaterikal puisi, teater tradisional tatayungan, batal dilaksanakan.
            Para penerima anugerah yaitu Drs H Syarifuddin R, selaku pemerhati budaya, dari Banjarmasin. Farida Mardiati, selaku pelestari rumah adat Banjar, dari Jakarta. Rock Syamsuri, selaku pelestari seni dan sastra tradisional, dari Kabupaten Barito Kuala. Abdullah Mandung, selaku pelestari seni tradisional, dari Kabupaten Tapin. Agit Kursani, selaku pelestari tari Japin Anak, dari Kabupaten Kotabaru.
Kemudian Januah L Siahaya BA, selaku pelestari musik keroncong, dari Banjarmasin. Ida Kesuma, selaku pelopor kain tradisional sasirangan, dari Banjarmasin. Abdur Rasyid, selaku pelestari mamanda, dari Banjarmasin. Anang Syahrani, selaku penari sinoman hadrah, dari Banjarmasin. Dan Zulfansyah Bondan, selaku penata tari klasik, dari Banjarmasin. ara/mb05

141211-rabu(kamis)-pembangunan TB.2

Photo: mb/ara
DISERAHKAN – Pertimbangan pemanfaatan gedung perkantoran TB lama dijadikan galeri sementara, diserahkan gubernur Kalsel kepada Kepala TB

Gubernur Setuju, Kantor TB Lama Dijadikan Galeri

BANJARMASIN – Pemanfaatan gedung perkantoran Taman Budaya (TB) Kalsel yang lama, untuk dijadikan galeri lukis sementara, mendapat sambutan positif Gubernur Kalsel.
            Sebelumnya, dari perbincangan dengan Kepala TB Kalsel, Drs H Noor Hidayat Sultan di ruang kerjanya. Terungkap pemikiran untuk memanfaatkan gedung perkantoran TB yang lama, sebagai galeri lukis sementara.
Pemikiran ini tidak lahir begitu saja, tapi berdasarkan keinginan seniman lukis Kalsel yang mengharapkan adanya galeri lukis.
Menurut Noor Hidayat, saat ini lagi di bangun gedung perkantoran TB yang refsentatif. Gedung baru ini berada di samping kiri sebelah dalam TB, tepatnya di samping gedung Gemilang Kaca yang digunakan untuk latihan tari.
            Setelah gedung perkantoran TB yang baru selesai, dari rencana pemerintah provinsi nampaknya untuk bagian tengah TB akan dibebaskan. Sehingga menjadi panggung terbuka untuk masyarakat.
            Ia rasa dari pada gedung perkantoran TB yang lama di hancurkan (diratakan), lebih bermanfaat kalau digunakan sebagai gedung galeri sementara. Sebelum gedung galeri yang sebenarnya, dibangunkan oleh pemerintah provinsi Kalsel.
“Sehingga lukisan-lukisan para tokoh pelukis Kalsel, maupun lukisan pelukis lainnya yang koleksi TB tidak lagi hanya tersimpan di dalam gudang. Masyarakat juga bisa dengan leluasa menikmati karya lukis, tanpa menunggu kegiatan pameran yang belum tentu dilaksanakan satu tahunan sekali. Hal ini akan kami bicarakan lebih lanjut” katanya pada pertengahan November 2011 yang lalu.
            Beragam tanggapan positif dari para tokoh seni dan pemerhati seni budaya Kalsel, turut pula mendukung untuk memanfaatkan gedung perkantoran TB yang lama menjadi galeri lukis sementara.
            Antara lain Drs Sirajul Huda HM (Kepala TB Kalsel periode 2004 – 2005) dan Drs Mukhlis Maman, pemerhati seni budaya Kalsel. Keduanya senanda mengatakan, bahwa memanfaatkan gedung perkantoran TB yang lama, adalah langkah yang efesien dan sangat tepat. Serta merupakan penghematan anggaran untuk sementara waktu, dari pada membangun galeri.
“Lebih baik dimanfaatkan, dari pada dihancurkan. Karya lukis seniman Kalsel pun bisa dipamerkan setiap saat” kata Rajul.
            Dilain pihak, seusai menyaksika Festival Kesenian Daerah 2011 di TB Kalsel pada Selasa (13/12) malam. Menanggapi pertanyaan Mata Banua mengenai gedung galeri lukis sementara, Gubernur Kalsel Drs H Rudy Ariffin mengatakan bahwa pimpinan TB lah yang harus memberikan pertimbangan dengan pemerintah provinsi Kalsel. Sehingga harapan seniman bisa dilaksanakan dan pertimbangan ini disampaikan oleh Noor Hidayat sultan.
            “Silahkan bila itu bermanfaat, tinggal disampaikan oleh pimpinan TB Kalsel” pungkas H Rudy Ariffin, setelah di kejar dengan jawaban persetujuan. ara/mb05

250811-kamis(jumat)-17 ramadhan 17 agustus

Makna Agustus Dan Ramadhan Menuju Kemerdekaan Fitri

BANJARMASINAgustus dan Ramadhan, beberapa hari lagi berakhir. Sejauh mana para pejabat publik dan tokoh agama memaknai Agustus dan Ramadhan, baik secara pribadi maupun untuk umum. Apalagi bertepatannya 17 Ramadhan dan 17 Agustus, suatu fenomena langka yang hanya terjadi ratusan tahun lagi.
Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM, berkata “Ramadhan tahun ini sangat luar biasa, karena 58 tahun yang lalu, aku lahir pada 17 Agustus dan pada tahun ini bertepatan dengan 17 Ramadhan.
Kemerdekaan dan Ramadhan menjadi harapan bagi kita semua, dilimpahkannya rahmat yang lebih besar lagi oleh Allah SWT, untuk kedamaian dan kemakmuran daerah dan bangsa. Fenomena ini menurut ahli astronomi, baru bisa ditemui kembali sekitar 400 tahun mendatang” katanya pada Sabtu (20/8) yang lalu, saat buka puasa bersama alumni SMPN 6 Banjarmasin di gedung Mahligai Pancasila.
            Begitu pula Wakil Walikota Banjarbaru Drs H Ogi Fajar Nuzuli, juga berhadir, sebagai alumni SMPN 6 angkatan 1980, ia mengungkapkan “17 Agustus bagiku sangat mempunyai makna khusus, yang dalam secara pribadi, yang tidak pernah hilang, Karena 26 tahun yang lalu, saat itu aku bertugas sebagai pengibar bendera di istana Negara. Kemudian 17 Ramadhan adalah hari kelahiranku.
            Sedangkan untuk negeri ini, mudah-mudahan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik lagi, sehingga Idul Fitri mempunyai makna kemerdekaan yang sesungguhnya untuk bangsa” ujarnya.
Itulah pemaknaan dari dua kepala daerah. Merdeka berarti kesadaran dan berkemampuan mengubah keadaan diri menjadi lebih baik, untuk masing-masing pribadi maupun bagi masyarakat dan bangsa.
Kesadaran dan kemampuan mengubah diri itu perlu kejernihan dan kebersihan hati. Apalagi ketika peringatan kemerdekaan 17 Agustus yang ke-66 sekarang, dipertemukan dengan 17 Ramadhan, turunnya ajaran kebenaran berupa ayat Al Qur’an pertama, sekitar 1400 tahun yang lalu, yakni tahun 611 Masehi.
Sebelumnya dalam perbincangan Mata Banua dengan dua orang tokoh agama Islam, menceritakan:
Menurut Ketua MUI Banjarmasin Drs H Murjani Sani MAg, pada Jumat (19/8) sore, mengatakan “bertepatannya 17 Agustus dan 17 Ramadhan memang sangat menarik untuk direnungkan oleh masyarakat muslim di Indonesia. Karena Ramadhan tahun ini menjadi istemewa bagi Indonesia.
Merenungkan perjuangan para pahlawan dan mendoakan mereka, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini. Pada 17 Ramadhan 1400 tahun silam, ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra, dan filsafat Iqra sangat dalam. Iqra bukan hanya perintah membaca atau berzikir tapi bermakna mengingat, maka ingatlah jasa pahlawan.
Mudah-mudahan dengan bertepatannya dua 17 ini, ada titik terang dengan harapan agar negeri menjadi lebih baik” ujarnya.
Kemudian, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel H Sarbaini Khairat, pada Jumat (19/8) malam, mengatakan “secara konteks kenegaraan 17 Agustus adalah peringatan hari proklamasi negeri ini, dan dalam konteks 17 Ramadhan adalah hari turunnya Al Qur’an. Sedangkan Al Qur’an sangat banyak berisi petunjuk bagi semua manusia.
Petunjuknya itu sangat luar biasa, salah satu yang paling subtantif adalah menyampaikan pesan bahwa Islam itu rahmat bagi seluruh isi alam. Makna dari Rahmat seluruh isi alam, bahwa artinya Islam itu harus memberikan sesuatu, yang membuat masyarakat kita damai, dan tujuan kemerdekaan yang di cetuskan pada 17 Agustus 66 tahun yang lalu, adalah untuk menciptakan kedamaian.
Sekarang, bisa tidak masyarakt kita hidup damai, walau berbeda kepentingan, berbeda politik, kalau tidak bisa damai percuma menjadi muslim dan menjadi warga Negara.
Makna damai bukan tidak ada gejolak, tapi bisa saling mengisi, saling menolong, saling menghargai. Perbedaan itu adalah rahmat, dan itulah yang harus di maknai dalam 17 Ramadhan dan 17 Agustus, di jadikan perenungan sehingga setelah Ramadhan benar-benar bisa di wujudkan kedamainan tersebut di tengah masyarakat” pungkasnya. ara/mb05




240811-rabu(kamis)-antologi puisi relegius KeloS SeBSos (di Berita Kaki)


Photo: mb/ara
PENYERAHAN - Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan Antologi Puisi Religius, saat menyerahkan dengan Wakil Gubernur Kalsel

Photo: Cover Antologi Puisi Religius Indonesia

Jalan Terjal Antologi Puisi Para Kekasih

“KARYA puisi religius yang terkumpul dalam buku ini, sepintas terlihat sederhana. Tetapi justeru dari kesederhanaan itulah, buku ini mewariskan dan memelihara karya-karya puisi religius Indonesia.
Gagasan-gagasan segar, cerdas, dan kritis yang tertuang dalam puisi-puisi religius dalam buku ini, harus bisa dipetik sebagai sebuah inspirasi untuk memperkaya kreativitas kita dalam berkehidupan. Semoga buku ini menjadi sebuah karya yang membawa manfaat untuk memperkaya nilai-nilai kehidupan kita, demi meraih ridho ilahi” kata Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM, dalam kata sambutan untuk Antologi Puisi Religius Indonesia (APRI).
Selanjutnya, Wakil Walikota Banjarmasin H Irwan Anshari, berkomentar “kehadiran APRI ini, diharapkan dapat menambah khasanah perbendaharaan buku-buku yang memuat tentang beragam puisi, yang tentunya akan sangat bermanfaat, tidak hanya bagi para pecinta dan pencipta karya-karya puisi, namun juga untuk mereka yang ingin lebih mempelajari tentang puisi, khususnya bagi para mahasiswa dan pelajar.
Saya juga sangat apresiasi sekali dengan APRI, yang disusun sangat baik dan apik, yakni puisi dari beberapa penyair dan puisi dari peserta Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia. Judul yang ditampilkan juga sangat menarik, yakni PARA KEKASIH - Mengurai Rasa Dalam Kata Bagi Jiwa Penyaksi” ujarnya.
APRI di terbitkan oleh Kelompok Studi Seni Budaya Sosial Sastra (KeloS SeBSoS), yang hampir semua anggotanya dari FKIP Unlam Banjarmasin. APRI merupakan rangkaian dari kegiatan sebelumnya, yaitu Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia 1431 H, Ramadhan tahun lalu, di mana dalam support publikasi lombanya juga di bantu oleh Harian Pagi Mata Banua.
Penyair yang puisinya di muat dalam APRI, terdiri dari peyair nasional dan daerah, ada 10 penyair, yang sebagian diantaranya adalah Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Nur, Asrizal Nur dan Diah Hadaning. Kemudian, puisi sms, facebook, email dan puisi dari panitia sendiri, yang keseluruhannya ada 72 orang.
Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan APRI, pada Sabtu (20/8) dalam acara Sahur Bersama Seniman dan Wakil Gubernur Kalsel. Ia mengungkapkan “Satu tahun rentang waktu yang di jalani dari lomba tahun lalu, hingga APRI bisa diwujudkan Ramadhan ini.
Satu yang sangat penting untuk di ketahui, antologi ini bukan dengan tujuan komersil. Antologinya tidak di perjual belikan, tetapi atas bantuan donator yang menyumbangkan dananya, antologinya di bagikan untuk peserta lomba, penyair, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan di panti asuhan.
Banyak permasalahan dan kesulitan yang kami hadapi selama prosesnya, baik dari pendanaan untuk lomba dan cetak buku yang tidak mencukupi, maupun masalah pada percetakan. Tapi bukan berarti tidak banyak peminat dalam lomba Cipta Puisi SMS Religius, peminat yang mengirimkan puisinya sangat banyak sekali. Namun yang menjadi kendala, yaitu fasilitas dan dana itu sendiri.
Katakanlah ada empat jalan yang harus di lewati dalam prosesnya. Sepertiga jalan pertama, ketika persoalan lomba telah bisa di lewati, lagi-lagi terhalang oleh jurang dana. Kalau mencetak buku dengan jumlah yang sedikit, harganya akan lebih mahal, bahkan kalau pun di cetak, dan dibagikan untuk peserta sendiri tidak akan mencukupi” katanya.
Laila melanjutkan “kami panitia, sempat patah semangat. Tapi kakak-kakak di Art Partner yang membantu sejak awal proses kegiatan di mulai, terus mendorong kami agar untuk tetap maju menyelesaikannya.
Pada jalan ini, kakak kordinator di Komunitas Wartawan Seni Budaya & Pendidikan (Prasasti Pena), turut membantu mencarikan jalan keluar dan donator. Akhirnya terkumpul dana dari donator untuk mencetak antologi, sebesar Rp 4 juta untuk 300 eksemplar. Maka setengah jalan sudah di lalui, sedangkan rentang waktu semakin jauh, dan peserta lomba terus menanyakan bagaimana kelanjutan kegiatan.
Seper enam jalan berikutnya, kembali menghadapi dinding terjal, adanya permasalahan dari percetakan, satu bulan lebih draf antologi yang sudah diserahkan belum juga oleh percetakan di buat masternya, tentunya dengan beragam alasan kendala yang dilontarkan. Sekali lagi kakak-kakak di Art Parter yang mengambil alih, untuk membuatkan master antologinya melalui program Page Maker.
Setelah draf aster antologi siap di cetak, lagi-lagi dari percetakan terkendala dengan No ISBN  dari Perpustakaan Nasional, belum juga datang, hingga setelah dua bulan baru No ISBN di dapat. Dan di cetaklah pada minggu terkhir Juli 2011, yang selesai pada pertengahan Agustus 2011.
Seharusnya kami memang mengadakan launching, tapi karena dana kegiatannya sudah tidak mencukupi lagi, maka dana untuk launching itu di alihkan untuk biaya pengiriman antologi, kepada penyair dan peserta yang tersebar di seluruh Indonesia” ujarnya.
Menurut Laila “pagi ini, di gedung Mahligai Pancasila saat sahur bersama Wakil Gubernur (Wagub) Kalsel H Rudy Resnawan, anggaplah sebagai launching Antologi Puisi Para Kekasih. Karena donator utama dari kegiatan adalah bapak Gubernur Kalsel dan kami ingin menyerahkan dengan beliau antologinya. Tapi beliau berhalangan hadir, jadi penyerahan di wakili oleh Wagub.
Membagikan antologi untuk penyair dan peserta, memerlukan biaya pengiriman yang tidak sedikit, inilah jalan terakhir yang harus kami lalui. Untuk membesarkan semangat kami agar tidak menyerah, kakak koordinator Prasasti Pena mengatakan:
Sesuatu yang akan menjadi besar dan bertahan dalam waktu lama atau mungkin abadi hingga alam ini berakhir, tentunya tidak akan menemui jalan yang mudah dalam prosesnya” pungkas Laila mengutip nasehat. ara/mb02

210811-minggu(senin)-buka puasa alumni SMP6 Bjm (Dm.di kolom ramadhan hal.16)

Photo:mb/ara
BERBAGI – Buka puasa bersama alumni SMPN 6 tidak hanya untuk silaturahmi, tetapi juga melakukan pembagian paket sembako untuk fakir miskin

Buka Puasa Bersama IKA SMPN 6 Dengan Berbagi

BANJARMASIN – Di sini para alumni saling berbagi dengan guru-guru SMPN 6, yang sudah menunaikan masa pengabdian atau tugas, maupun berbagi dengan masyarakat. Kami bersyukur teman-teman masih punya kebersamaan ” ungkap Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM kepada wartawan seusai menghadiri Buka Puasa Bersama Alumni, Guru-guru, dan Pensiunan Guru, pada Sabtu (20/8) di gedung Mahligai Pancasila.
            Lanjutnya “walau masih banyak alumni SMPN 6 yang tidak bisa datang, karena kesibukan masing-masing. Tapi setidaknya hari ini bisa berkumpul dengan sejumlah alumni dan merupakan kebahagiaan, karena yang datang ini bukan cuma yang muslim tetapi yang non muslim juga berhadir.
Semoga ikatan silaturahmi kami bisa lebih erat lagi, walaupun berada jauh dimana saja” ujar Rudi Arifin yang juga sebagai alumni angkatan ke tiga pada 1968, dan sekaligus sebagai penasehat Ikatan Alumni (IKA) SMPN 6 Banjarmasin.
Kemudian, Wakil Walikota Banjarbaru Drs H Ogi Fajar Nuzuli yang juga berhadir, sebagai alumni angkatan 1980, mengatakan “SMPN 6 dulu tidak hanya mengajarkan tentang akademis, tapi juga mengisi kreatifitas siswa melalui kegiatan ekstrakulikulernya, terutama dalam olahraga. Oleh karena itu, sangat banyak kenangan masa sekolah dulu, yang sampai sekarang tidak pernah hilang” ujarnya.
            Sedangkan Ketua IKA SMPN 6 Hadi Nugraha Gema, mengatakan “kami mengutamakan kebersamaan, kalau satu orang mau mengubah dunia, tentunya sangat sulit, tapi kalau bersama-sama akan menjadi lebih dasyat. Sehingga bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar maupun luar” kata angkatan 1976 SMPN 6 ini.
            Dan mengenai berbagi, Irma Noviarti Aham SH MKn Ketua Panitia Buka Puasa Bersama, menjelaskan “hari ini kami menyerahkan pula paket bantuan kepada guru-guru SMPN 6 yang telah purna bakti.
Dan dari partisipasi para alumni telah terkumpul dana, yang digunakan untuk paket bantuan guru-guru SMPN 6 yang telah purna bakti, serta pada H-4 hingga H-1 akan di bagikan 1000 paket sembako untuk fakir miskin di kota Banjarmasin. Ini adalah bentuk dari kepedulian IKA untuk masyarakat yang tidak mampu” pungkasnya. ara/mb06

200711-rabu(kamis)-TB.FTK-sambutan gubernur

Photo: mahfuz

Tari Daerah Harus Inovatif

BANJARMASIN – “Adanya anggapan bahwa tari daerah itu monoton, sulit diproyeksikan dengan inovatif dan modern, karena harus patuh dengan pakem, menjadi penyebab tari daerah kurang diminati masyarakat dan generasi muda” ungkap Gubernur Kalsel Drs H Rudy Ariffin dalam sambutan pembukaan Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel, yang dibacakan oleh Asisten administrasi provinsi Kalsel Drs M Rusli Msi, pada Sabtu (16/7) malam yang lalu, di Gedung Balairungsari Taman Budaya (TB) Kalsel.
            Dalam sambutannya, Gubernur Kalsel juga mengatakan “bahwa dengan adanya anggapan tersebut, maka seniman tari daerah harus lebih berani mensiasati berbagai tari daerah, dengan menampilkan karya tari yang berkualitas, dan berusaha lebih inovatif memproyeksikan kreasi tari dengan memanfaatkan teknologi, sehingga tidak tersingkir oleh perkembangan tari modern saat ini” ujarnya.
            Sementara itu, tidak jauh berbeda dengan Gubernur Kalsel, Kepala Disporbudpar Kalsel Drs H Muhandas HH, juga mengharapkan agar muncul kreatifitas baru yang inovatif, unik, dan menarik, mempunyai nilai tinggi, produktif dan berkualitas, sehingga tari daerah Kalsel mampu diandalkan, berdaya saing, dan mempunyai nilai jual tinggi, di pentas regional, nasional dan internasional.
            Menurut Muhandas, agar karya seni khususnya tari daerah lebih dicintai masyarakat, maka “para seniman, pemerhati seni dan tokoh masyarakat, khususnya seniman tari untuk dapat membangun hubungan kerjasama yang baik, salaing tukar informasi dan pengalaman satu sama lainnya, agar setiap penyajian event festival karya tari Kalsel, mampu membangkitkan harapan dan mampu berkarya lebih baik lagi” katanya.
            Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel adalah program dari Dinas Pariwisata Kalsel, yang juga merupakan rangkaian dari Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai, serta untuk memperingati hari jadi provinsi Kalsel dan peringatan hari kemerdekaan RI.
            Dua grup tari terbaik akan mewakili provinsi Kalsel kepentas tari nasional, yaitu satu grup untuk mengikuti parade tari nusantara di Taman Mini Indonesia Indah, dan satu grup lagi untuk mewakili Kalsel dalam festival nasional seni nusantara, dari kementrian kebudayaan dan pariwisata, yang akan dilaksanakan pada September 2011 di Jakarta.
            Ada 12 grup tari yang mengikuti Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel di Taman Budaya ini, yaitu:
            Sanggar Seni Balahindang Rantau, dengan judul tari Selendang Bidadari. Sanggar Tari Agung Lestari Amuntai, dengan judul tari Lalakun Galuh. Sanggar Rindang Bahalap Marabahan, dengan judul tari Japin Diang Bersaudara. Yayasan Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru, dengan judul tari Aruh Pangantin. Sanggar Seni Sinar Pusaka Marabahan, dengan judul tari Besei (pangayuh). Sanggar Permata Ije Jela Marabahan, dengan judul tari Rampak Rabana.
            Kemudian. Sanggar Tari Bunga Anggrek Banjarmasin, dengan judul tari Simbat Sigaluh. Sanggar Tari Perpekinndo Banjarmasin, dengan judul tari Pandayangan. Sanggar Sanggam Balangan, dengan judul tari Perang Indra Kila. Sanggar Himaseta Banjarbaru, dengan judul tari Rindang Dandam Buluh Marindu. Sanggar Tari Suluh Banua Tabalong, dengan judul tari Diah Purui (dalas hangit waja sampai kaputing). Dan Sanggar Tari La-Bastari Kandangan, dengan judul tari Kapuhunan. ara/mb05

100711-senin(minggu)-TB.PKBSS-jasa pameran lukis (Dm.120711)

Photo: mb/ara
BERKELILING - Wakil Gubernur Kalsel Drs H Rudy Resnawan bersama pelukis daerah Kalsel, berkeliling melihat karya lukis yang dipamerkan dalam Barito Sign, pada hari pertama pembukaan pameran

Barito Sign Berkat Jasa Pelukis Daerah Kalsel Di Jakarta

BANJARMASIN – Terselenggaranya Pameran Karya Pilihan Galeri Nasional Indonesia  dan Perupa Kalsel yang di bertema Barito Sign (BS) bertempat di Gedung Warga Sari, dalam Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai (PKBSS) Taman Budaya (TB) Kalsel, yang di buka dari Kamis 7 Juli hingga Sabtu 16 Juli 2011, tidak terlepas dari usaha dan jasa pelukis daerah Kalsel yang telah menjadi pelukis Nasional di Jakarta.
            Sebelumnya pada Selasa (5/7) sore yang lalu, Hajriansyah selaku CoKurator BS menjelaskan kepada Mata Banua “BS terselenggara karena peran pelukis Kalsel yang sudah menjadi pelukis Nasional di Jakarta, seperti Diah Yulianti, Robert Nasrullah, Drs Sujatmiko dll. Padahal banyak daerah lain di Indonesia yang menginginkan diadakannya pameran seperti ini, dan kita beruntung bisa menyelenggarakannya.
            Proses pemilihan tempat diselenggarakannya Pameran Karya Pilihan Galeri Nasional, tidaklah mudah. Tidak begitu saja kita bisa mendapatkan kesempatan yang berharga ini, karya galeri nasional bisa dipajang di sini, semuanya melalui proses yang cukup panjang.
            Setelah utusan Galeri Nasional mensurvey beberapa tempat di beberapa daerah di Indonesia, dan akhirnya Banjarmasin dianggap paling siap sebagai penyelenggaranya. Kemudian, proses kurasi lukisan yang akan dipamerkan sendiri sudah disiapkan dari beberapa bulan yang lalu, menyeleksi ratusan karya lukis pelukis Kalsel” ujarnya.
            Lanjut Hajri “lukisan koleksi Galeri Nasional ada 21 pelukis maestro antara lain Basuki Abdullah, S Sudjojono, Otto Djaja, Tatang Ganar, Kartono Yudhokusumo, Rusli, Oesman Effendi, Zaini, Widayat, Gusti Solihin, Siti Roelijati, Nyoman Tusan, Fadjar Sidik, G Sidharta Soegijo, AD Pirous, Abas Alibasyah, Irsam, Umi Dachlan, Dwijo Sukatmo, Tisna Sanjaya, dan Effendi.
            Sedangkan dari Kalsel ada 52 lukisan, dari 33 pelukis, baik yang ada di Amuntai, Tapin, Tabalong dll. Aliran lukisan yang dipamerkan beragam, dari Realis, Ekspresionis, maupun Surealis. Baik yang berbahan cat minyak, agrelix dan campuran.
            Pameran ini, memberikan penanda, bahwa sebuah karya menjadi penting untuk diperhatikan, dan memberikan apresiasi seni lukis kepada masyarakat. Juga dengan dipamerkannya bersama-sama pelukis nasional dan daerah, untuk memotivasi pelukis daerah agar terus berkarya.
            Ratusan karya pelukis daerah yang dipamerkan ini, merupakan bukti bahwa dinamika berkesenian lukis di Kalsel sangat luar biasa, hanya saja kurang mendapat perhatian kita semua. Pelukis di kalsel ini sangat banyak, hanya masyarakat tidak mengenal mereka” pungkasnya. ara/mb05


Minggu, 25 Desember 2011

250311-jumat(sabtu)-sambutan gub.1 di wisuda unlam

Kalsel Memerlukan Biaya Pendidikan 2,8 Trilyun

BANJARMASIN - Bagi pemerintah provinsi Kalsel, usaha mendorong bidang pendidikan ini menjadi sangat penting dalam kerangka upaya pencerdasan dan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah ini.
Hal tersebut diatas, merupakan bagian informasi yang dikatakan Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), H.Rudy Ariffin dalam sambutannya yang dibacakan oleh asisten III bidang administrasi provinsi Kalsel, Drs.M.Rudi.M.SE pada wisuda Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) yang ke 69, Rabu (23/3) kemaren di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin.
Rudi Ariffin juga menyampaikan bahwa “usaha usaha mendorong bidang pendidikan tersebut, tentu saja salah satunya harus didukung dengan ketersediaan pembiayaan yang memadai.
Kalau dilihat pembiayaan indikatif rencana strategis pembangunan pendidikan 2011-2015, berpedoman pada pagu indikatif pembiayaan RPJMD Provinsi Kalsel 2011-2015, dengan memperhitungkan komponen pendapatan asli daerah, nilai tukar rupiah, laju inflansi, harga minyak dunia, pajak dana bagi hasil dan pendapatan lainnya.
Kemudian, berdasarkan perhitungan pagu indikatif yang ditetapkan pada RPJMD Kalsel 2011-2015, alokasi pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi memperoleh porsi 20 persen dari total APBD per tahun” ujarnya.
Ungkap Rudi Ariffin “pada 2010 pembiayaan pendidikan memperoleh 20 persen atau 273,5 milyar dari total APBD sebesar 2,2 trilyun. Dengan merujuk trend peningkatan pagu indikatif pembiayaan APBD Kalsel yang mencapai 12,5 persen.
Maka pembiayaan indikatif rencana strategis pembangunan, diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 12,5 persen. Berdasarkan penetapan indikatif rencana strategis pembangunan pendidikan Kalsel 2011-2015, membutuhkan biaya sekitar 2,8 trilyun” katanya.
Menurut Rudi Ariffin “pemerintah provinsi Kalsel juga telah mengalokasikan anggaran dana untuk pengembangan Perguruan Tinggi di daerah ini. Alokasi anggaran dana tersebut diperuntukkan bagi mereka yang melaksanakan pendidikan S2 dan S3, maupun bantuan Hibah Pendidikan, Penunjang Kegiatan Kemahasiswaan, Bantuan sarana dan prasarana serta pendampingan Hibah Program PGSD.
Untuk 2010 Bantuan Pembinaan Pendidikan mencapai Rp.975.000.000, yakni bantuan bagi mereka yang melanjutkan S2 dan S3. Kemudian realisasi untuk Bantuan hibah mencapai 8 milyar rupiah lebih dari yang direncanakan sebesar 16,4 milyar rupiah.
Bagaimanapun harus kita sadari, pelayanan sektor pendidikan dalam arti luas tetap menjadi sangat strategis dalam upaya pencerdasan masyarakat. Oleh karena itu, mendorong sector pendidikan ini merupakan konsekuensi logis dalam upaya pelayanan pemerintah memenuhi hak dasar masyarakat” pungkasnya. ara/mb05

230311-rabu(kamis)-sambutan wisuda ke.69 Unlam


Photo: mb/ara
UNLAM - Wisuda yang ke 69 untuk lulusan program S2, S1, dan S0 Unlam di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin.

Tantangan Multi Dimensional Bagi Para Sarjana Unlam

BANJARMASIN – Untuk menghadapi Era Globalisasi dan Otonomi Daerah (Otda), sarjana yang mempunyai perspektif wawasan, perspektif orientasi tugas dan perspektif kompetensi, menjadi sesuatu yang mutlak dimiliki oleh lulusan sarjana.
            Hal tersebut diatas, merupakan rangkaian dari sambutan Rektor Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Prof.Dr.Ir.H.Muhammad Ruslan,MS dalam wisuda yang ke 69 untuk lulusan program S2, S1, dan S0, pada Rabu (23/3) kemaren di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin.
            Kemudian, Ruslan menambahkan “yang sangat penting bagi wisudawan adalah menunjukkan prestasi dan pencitraan sebagai alumni ditengah-tengah masyarakat. Karena prestasi yang sebenar-benarnya adalah prestasi dalam melakukan pengabdian untuk pembangunan masyarakat, dan hal ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan upaya mencapai prestasi akademik di bangku kuliah.
            Ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah didapatkan oleh wisudawan di kampus Unlam ini, merupakan tambahan modal yang sangat penting sebagai sosok seorang sarjana untuk terjun ke masyarakat, dalam rangka mengembangkan karir dimasa yang akan datang. Baik karir di instansi pemerintah maupun swasta dengan tantangan yang bersifat multi dimensional” ujarnya.
            Menurut Ruslan “salah satu tantangan bagi sarjana adalah penyerapan tenaga kerja yang rendah. Bahkan beberapa lulusan bidang tertentu penyerapan tenaga kerjanya relatif rendah, sehingga kadang-kadang pendidikan tinggi diisukan sebagai penghasil pengangguran yang terdidik.
            Oleh karena itu, pelaksanaan tugas atau pekerjaan bagi para sarjana dalam rangka mengabdi kepada masyarakat, bersamaan dengan globalisasi dan kecanggihan informasi yang telah menembus batas Negara. Hal ini berakibat, perspektif wawasan Sumber Daya Manusia (SDM) tidak harus menyempit kedaerahan, tetapi sebaliknya harus mengglobal untuk kepentingan lokal” katanya.
            Selanjutnya, Gubernur Kalimantan Selatan, H.Rudy Ariffin dalam sambutannya yang dibacakan oleh asisten III bidang administrasi provinsi Kalsel, Drs.M.Rudi.M.SE, mengatakan “disaat kondisi kehidupan kita yang penuh dengan tantangan dan kompetisi yang sangat tinggi saat ini, memang pada gilirannya menuntut Unlam sebagai institusi pendidikan tinggi harus lebih proaktif dan memiliki sensitivitas terhadap perkembangan masyarakat.
            Untuk itulah secara internal Unlam hendaknya terus mendorong dan membangun masyarakat kampus yang modern, sekaligus mampu menjaga dinamika kehidupan kampus yang harmonis dalam rangka menghasilkan generasi penerus dan SDM yang lebih baik dan berkualitas.
            Bagaimanapun kita berharap Unlam ke depan terus berkembang dengan baik dan dapat menjadi universitas yang memiliki keunggulan dalam berbagai program studinya harus sudah teruji.
            Sehinga mampu menghasilkan SDM berkualitas, kreatif dan inovatif, serta tenaga-tenaga yang memiliki penguasaan di bidang sains dan teknologi.
            Dan saya ingatkan, bahwa apa yang dicapai para sarjana pada hari ini bukan akhir perjuangan dalam menuntut ilmu. Karena perjuangan selanjutnya adalah harus mampu mengaktualisasikan diri dalam masyarakat” pungkasnya. ara/mb05

060211-minggu(senin)-buku SBY.1


Photo: mb/ara
BUKU SBY – Dari pulau Jawa buku SBY melanglang buana ke Kalsel. Dua SDN terbukti mendapatkiriman buku SBY, tiga SDN masih belum jelas.

MINTA BANTUAN FISIK PERPUSTAKAAN DIKIRIMI BUKU SBY

BANJARMASIN – Perjalanan buku SBY telah sampai di bumi Lambung Mangkurat. Buku-buku yang identik dengan sosok presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah banyak menyita perhatian pejabat elit dan masyarakat.
Bermacam komentar dilontarkan terhadap penerbitan dan dibagi-bagikannya buku-buku tersebut.
Dari penyusuran Mata Banua, ada lima SDN di kecamatan Sungai Tabuk yang mendapat kirman buku. Dua SDN telah terbukti mendapat kiriman buku SBY pada Rabu 26 Januari 2011 yang lalu. Menyimak sampul belakang pada buku SBY, ada barisan kalimat berisi pemberitahuan berbunyi, telah dinilai oleh panitia penilaian buku nonteks pelajaran (PPBNP) dan dinyatakan layak sebagai buku nonteks pelajaran (buku pengayaan, referensi dan atau buku pedoman pendidikan) berdasarkan keputusan kepala pusat perbukuan Depdiknas Nomor 3610/a8-2/ll/2009 tanggal 21 Desember 2009.
Terkait adanya buku SBY, Gubernur Kalimantan Selatan Drs H Rudy Ariffin (1/2) mengatakan “menyangkut masalah buku SBY, kita mau mencek juga masalah itu, masalahnya tidak semua kabupaten/ kota yang mendapat. Sepengetahuan kami di Jawa juga hanya sebagian daerah yang beredar” ujarnya kepada wartawan.
Data lapangan yang di dapatkan pada Jumat (4/2) yaitu Dua SDN di Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar, telah positif mendapat kiriman buku SBY yaitu SDN Sungai Tabuk Keramat 1, dan SDN Sungai Tabuk Keramat 2. Sedang SDN Lok Baintan, telah pula mendapat paket kiriman buku, namun belum di cek isinya apa terdapat pula buku SBY. Kemudian yang juga akan mendapat kiriman paket buku yaitu SDN Sungai Tabuk Kota 2 dan SDN Paku Alam.
Saat didatangi Mata Banua, kepala sekolah SDN Keramat 1 sedang tidak ditempat, karena ada urusan di Kabupaten. Tapi dengan ramah guru-guru- SDN Keramat 1 memberikan keterangan.
Norsidah, dengan logat Banjar menceritakan “ada-ada ha, inya handak terkenal sakulahan, gara-gara buku SBY. Imbah dapat buku SBY dipengiriman pertama ni, kiriman nang kedua kada wani kami menceknya lagi. Mun bapak gubernur wan dinas pendidikan provinsi handak mencek kalapangan, kena ai mahadangi sidin-sidin datang, kaya apa keputusannya nang bagus.
Abdul Muis menambahkan “setelah tiga tahun mengajar disini, baru kali ini ada bantuan kiriman buku. Pengirimannya langsung dari Jakarta melalui ekspedisi. Dinas Pendidikan Kabupaten sendiri tidak tahu tentang pengiriman buku ini, karena langsung dari pusat. Menurut kabar bukunya (SBY) murah dan dana bantuannya dari Dana Alokasi Khusus (DAK) yang kurang lebih totalnya 80 juta, belum ditambah ongkos ekspedisi.
Kemudian M.Arsyad memperjelas “kami memohon bantuan fisik perpustakaan, yang pengajuannya sudah setahun lebih, dan tahu-tahu yang datang adalah isinya. Kalau melihat dari isi bukunya (SBY), untuk anak-anak SD tidak cocok, lebih cocok untuk pelajar SMA dan Mahasiswa” ujarnya.
Dilain pihak, kepala sekolah SDN Keramat 2, M.Jaini berkata “dari daftar pengiriman ekspedisi PT.Bintang Ilmu yang aku lihat, bahwa ada lima SDN yang mendapat kiriman untuk Kecamatan Sungai Tabuk Kiriman buku yang kami terima datangnya sekaligus, kurang lebih ada 1000 eksemplar. Sebagian sudah kami cek, sebagian belum, dan memang ada 4 judul buku tentang SBY.
Cocok atau tidak cocok buku SBY ini hanya untuk referensi pengayaan. Namun, memang lebih tepatnya adalah untuk bacaan guru-guru dibanding murid-murid SD. Sebelumnya kami memang mengajukan permohonan untuk bangunan fisik perpustakaan.
Dalam daftar yang kami terima, buku SBY dimasukkan dalam kategore PKN, dengan judul Indahnya Negeri Tanpa Kekerasan, Berbakti Untuk Bumi, Diplomasi Damai, dan Peduli Kemiskinan yang diterbitkan oleh PT.Remaja Rosdakarya Bandung” katanya.
Sedangkan keterangan dari kepala sekolah SDN Lok baintan, Basuni mengatakan “kami dapat kiriman ada 46 dus, sampai sekarang kami belum mencek isinya, dalam minggu-minggu ini insyaallah akan kami cek, apa juga ada buku SBY didalamnya. Saya menjadi kepala sekolah di SDN Lok Baintan dari 2008, jadi yang mengajukan permohonan untuk bantuan fisik sekolahan adalah kepala sekolah yang sebelumnya” pungkasnya. ara/mb05