Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 04 (April) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 04 (April) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2011

290411-jumat(sabtu)-US SD


Jumat Terakhir US SD

BANJARMASIN – Ujian Nasional (UN) untuk siswa Sekolah Dasar (SD) akan berlangsung pertengahan Mei 2011. Adapun nilai kelulusan akan ditetapkan sendiri oleh pihak sekolah berdasarkan nilai minimum dan rata-rata mata pelajaran tersebut. Sedangkan Ujian Sekolah (US) untuk siswa SD, pada akhir April.
Kepala SDN Kebun Bunga 5, Hj Rusmadiyah SPd, pada jumat (29/4), mengatakan “untuk US, kita sudah berbuat semaksimal mungkin mengkondisikan komite sekolah, dengan tambahan jam belajar.
Pelaksaan US SD ini, rencananya dilaksanakan pada 13 sd 15 Mei, tapi kemudian pada 25 April ada pemberitahuan mendadak dari Dinas Pendidikan (Disdik) bahwa US di majukan menjadi 27 sd 29 April.
Kami hanya di beri waktu dua hari persiapan untuk US. Untunglah persiapan pelajaran anak-anak sudah dilakukan jauh-jauh hari dengan tambahan jam belajar. Jadi pelajaran di sekolah dimulai dari pukul 07.45 sd 15.00 wita. Hanya saja kasihan anak-anak tidak ada minggu tenang. Sedangkan Ujian Nasional jadwalnya pada 10 sd 12 Mei.
Mata pelajaran yang di US kan yaitu pendidikan Agama dan NTPS, sedangkan mata pelajaran untuk di UN yaitu Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia. Alhamdulillah, hasil US anak-anak cukup memuaskan” ungkap Rusmadiyah.
Dilain pihak, Sekertaris Dinas Pendidikan Provinsi, Drs H Herman Taufan, melalui telepon menjelaskan “hasil US dan hasil raport menentukan 40 persen kelulusan dan 60 persen dari UN. Untuk pelaksanaan US SD di Kalsel, saya dengar hari ini selesai. Pelaksanaan US memang tergantung kebijakan Disdik kabupaten/kota masing-masing.
Seharusnya, sebulan sebelum UN SD, maka US sudah harus dilaksanakan, dan seminggu sebelum UN SD dilaksanakan, semua nilai hasil US SD sudah masuk ke Disdik provinsi. Kalau ada SD yang tidak mengetahui ini, berarti ia tidak mengikuti pengarahan pelaksanaan US dan UN SD” pungkasnya. ara/mb05

290411-jumat(sabtu)-SD angklung (Dm.020511)


Photo: mb/ara
ANGKLUNG – Penampilan musik angklung SDN Kebun Bunga 5 dalam acara peringatan Hari Kartini yang dilaksanakan oleh Dharma Wanita Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin

Tingkatkan Pelatihan Seni

BANJARMASIN - Keseimbangan antara pendidikan seni dan pendidikan lainnya, menjadi faktor peningkatan kecerdasan dan kreatifitas anak. SDN Kebun Bunga 5, berada di lingkungan Aspol Bina Brata Km 4,5 Banjarmasin, menerapkan sistem pendidikan keseimbangan seperti ini.
            Perkembangan anak-anak didik diperlihatkan oleh SDN Kebun Bunga 5, yang menampilkan kebolehan murid-muridnya dalam memainkan musik angklung, pada acara peringatan Hari Kartini yang dilaksanakan oleh Dharma Wanita Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin, pada Sabtu 16 April 2011 yang lalu, yang bertema Dengan Memperingati Hari Kartini Kita Tingkatkan Peran Serta Dharma Wanita Persatuan Dalam Mensukseskan Pendidikan Berkarakter.
            Lagu yang dibawakan dalam musik angklung tersebut adalah Ibu Kita Kartini. Penampilan yang sempat menyita perhatian tamu yang datang pada acara tersebut.
Pujian yang juga diberikan oleh Sekdako Drs H Zulfadli Gazali MSi, Kadisdik kota Banjarmasin Drs Muhammad Amin MT, Hj Fathul Jannah Muhidin, Hj Sri Hastuti M Amin serta tamu undangan lainnya.
            Menurut Herliansyah dari PGSD, pelatih angklung SDN Kebun Bunga 5 pada Sabtu (9/4) mengatakan “anak-anak baru dua bulan ini berlatih angklung, yaitu setiap Sabtu dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00 sore. Skill dan pengenalan nada dari anak-anak cukup cepat, dengan waktu latihan yang singkat, mereka sudah bisa memainkannya. Walau bagi saya, hasil yang dicapai ini masih belum maksimal” ujarnya.
            Hj Rusmadiyah SPd, sebelumnya dari 1994 adalah pengajar di SDN yang ada di Samping Duta Mall “aku adalah guru yang tergusur, katanya sambil bercanda.
            “Kemudian, ada tawaran boleh memilih pindah, jadi aku memilih sekolah yang tidak jauh dari rumah tempat tinggal, di Bina Brata. Maka dari Juli 2010 sd Maret 2011, aku bertugas di SDN Kebun Bunga 5 sebagai PLT, dan baru pada April 2011 diangkat sebagai Kepsek.
            Dalam acara petingatan Hari Kartini ini, sebenarnya kami juga ingin menampilkan tari-tarian, tapi karena sudah ada sekolah lain yang akan menampilkan tari-tarian, maka kami pilih menampilkan musik angklung saja. Ini adalah tampilan perdana dari SDN Kebun Bunga 5” ujarnya.
Lanjut Rusmadiyah “peminat kesenian dari anak-anak sangat banyak, dalam latihan mereka sangat antusias, hanya tinggal menyeleksi mana yang lebih baik. Semua kegiatan di sekolah sangat didukung oleh orang tua murid.
Latihan seni di SDN Kebun Bunga 5, selain dari angklung juga ada tari-tarian daerah seperti tari Radap Rahayu, tari Jepen dll. Untuk tarian Nasional ada latihan tari Bali, pelatihnya berasal dari PGSD. Kami juga mengembangkan minat baca anak-anak, meskipun dengan modal perpustakaan yang pas-pasan.
Menyikapi masalah pendanaan kegiatan, kita saling membantu dengan orang tua murid, semua demi kemajuan sekolah. Sehingga berkat kerjasama semua pihak, semuanya lebih mudah dijalani” katanya.
            Dilain pihak, menanggapi penampilan seni dari siswa/i, Kadisdik kota Banjarmasin Drs Muhammad Amin MT, mengatakan “anak-anak kita yang tampil tadi (dramband, tari kuda gepang siswi SMPN 23 dan parade angklung murid-murid SDN Kebun Bunga 5) atas keinginan mereka sendiri untuk mengisi acara, dan apa yang sudah mereka latih kita salurkan di acara ini.
Yang semua tentunya atas binaan guru-guru mereka untuk memperlihatkan bahwa latihan mereka ada hasil, dan kami akan terus memotifasi mereka untuk lebih giat lagi berlatih. Sehingga pada setiap kesempatan, mereka bisa terus kita tampilkan. Hal seperti ini juga berlaku bagi sekolah lain di kota Banjarmasin” ujarnya.
Sementara itu, Hj Sri Hastuti M Amin berharap agar kegiatan serupa di Hari Kartini, bisa lebih ditingkatkan di tahun berikutnya dan dibuat lomba khusus untuk anak-anak. ara/mb05

280411-kamis(jumat)-lokasaba hindu (Dm.300411)


Photo: mb/ara
MUSDA – Loka Sabha (Musda) IV Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalsel, dimeriahkan pula dengan persembahan Tari Baksa Kembang yang dibawakan oleh sanggar Para Nusa Taman Budaya Banjarmasin.

Mengedepankan Kerukunan Antar Umat Beragama

BANJARMASIN – Menjaga kerukunan antar umat beragama menjadi faktor penting dalam mewujudkan kedamaian dan pembangunan daerah.
            Menurut Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin, dalam sambutannya pada Loka Sabha (Musda) IV Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalsel, yang dibacakan oleh kesbang polimas provinsi Kalsel, H Fahrudin “kerukunan yang terbina selama ini di Kalsel, akan menjadi kekuatan kita untuk membangaun daerah, untuk lebih maju dan berkembang”
            Dilain kesempatan, wawancara khusus Mata Banua dengan Ketua PHDI Kalsel terpilih untuk periode 2011 – 2016, I Ketut Artika yang di dampingi oleh Wakil Ketua Bidang Sosial dan Kemasyarakatan, I Made Supana, pada Rabu (27/4) malam, seusai ritual Pagar Wesi yang merupakan rangkaian acara Hari Raya Saraswati, di Pura Agung Jagat Natha Banjarmasin. Ia menjelaskan tentang program kerja PHDI IV, serta peran serta umat Hindu dalam kerukunan antar umat beragama di Kalsel.
Ketut Artika mengatakan “program kerja dari PHDI IV adalah mengedepankan bidang pendidikan dalam artian luas, meningkatkan kualitas SDM Hindu.
Kemudian, menjaga hubungan intern antar umat Hindu di Kalsel dan yang terutama menjaga hubungan antar umat beragama di Kalsel, serta menjaga hubungan yang baik dengan pemerintah daerah” ujarnya.
Menurut Ketut “bergabungnya kami dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Kalsel, merupakan sesuatu yang sangat bagus sekali. Bersama umat lain di FKUB, kita saling syering dan khususnya membahas permasalahan daerah kita.
Untuk program PHDI IV yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini, yaitu lebih dulu menyatukan umat Hindu yang ada Kalsel” katanya.
            Sebelumnya, Musda IV PHDI Kalsel, dilaksanakan pada 22 sd 23 April yang lalu di Aula Gedung PWI Kalsel, antara lain dihadiri pula oleh Ketua DPRD dan Muspida TK I Prov Kalsel yang diwakili ketua Komisi IV, M.Anshor Ramadhan. Ketua FKUB Kalsel, yang diwakili oleh M Ilham Masykuri Hamdie. Ketua FKUB Banjarbaru. Ketua Suku Bangsa (IKASBA) Kalsel. Ketua PHDI-Indonesia yang diwakili oleh Drs Inengah Dane, serta para tokoh agama Hindu se Kalsel.
            Musda IV PHDI yang mengangkat tema Kita Galang Kerukunan dan Kedamaian Antar Umat Beragama di Bumi Lambung Mangkurat. Acara pembukaan dimeriahkan pula dengan persembahan Tari Baksa Kembang yang dibawakan oleh sanggar Para Nusa Taman Budaya Banjarmasin.
Sementara itu sambutan Kepala Kantor Kementrian Agama Kalsel, yang diwakili dan dibacakan oleh Mercedes dari Bimas Hindu, mengatakan “Om Suastiastu kalau menurut bahasa umat Hindu suku Dayak yaitu Jangan Balah Manangan, Jangan Batulak Sajikan, Suruh Manang Pada Manang, Suruh Baik Pada Baik, Sakurungan Sakandangan, Sapasal Sakajinya, yang artinya mari kita ciptakan kerukunan, dari dalam diri sendiri, ditengah keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara, jadi kalau dia sebagai umat Hindu, malu kalau membuat olah di Kalsel.
Maka, mari Kita Bangun Kerukunan dan Kedamaian Antar Umat dan Inter Umat Beragama. Mari kita tanamkan kedamaian dulu dari dalam diri sendiri, sehingga vibrasi umat Hindu bisa memancar kerukunan dan kedamaian bagi umat-umat beragama di Kalsel, yang pada akhirnya umat Hindu akan berkometmen menjadi salah satu elemen penentu pembangaun di Kalsel” pungkas Mercedes, membacakan sambutan Kepala Kantor Kementrian Agama Kalsel ara/mb05

280411-kamis(jumat)-kerajaan banjar.1 (Dm.020511)


Photo: Prof Helius Sjamsuddin Phd MA

Sultan Yang Tewas Dalam Keyakinan

BANJARMASIN – Sejarah panjang perjuangan kerajaan Banjar dalam melawan pemerintahan Hindia Belanda, menyisakan catatan-catatan tentang keberanian dan ketulusan sepak terjang para tokohnya. Salah satu tokoh pejuang dari kerajaan Banjar yaitu Sultan Muhammad Seman (1835-1905).
Prof Helius Sjamsuddin Phd MA Guru Besar UPI Bandung, pada seminar nasional kesejarahan, yang diadakan oleh Prodi Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, pada 16 April 2011 yang lalu, mengatakan “kerajaan Banjar berdiri sejak abad ke-16, dan pada 1860 dibubarkan oleh Belanda. Kemudian wilayahnya ditempatkan langsung di bawah pemerintahan Hindia Belanda (Gubernemen).
Seperti layaknya sebuah kerajaan, tentunya tidak luput dari hangar binger suksesi dan persaingan perebutan tahta kekuasaan, baik itu intrik-intrik istana, maupun pembunuhan-pembunuhan politik. Hingga Perang Banjar pada 1859, menjadi puncak sejarah berakhirnya kerajaan Banjar.
Seperti sejarah dari kerajaan-kerajaan besar Nusantara lainnya, sejarah kerajaan Banjar adalah sebuah tragedy, semua berakhir murung, perlawanan berkesudahan dengan kelelahan. Para pelawan satu-demi-satu, kalau tidak tewas dalam peperangan, mereka menyerah dan diasingkan sebagai pecundang” ujarnya.
Lanjut Helius “Sultan Muhammad Seman yang di juluki Raja Air Barito. Sedangkan Belanda menyebutnya pretendent yang artinya sultan yang tewas dalam membela apa yang menjadi keyakinannya.
Meskipun banyak yang belum diketahui secara rinci tentang tokoh ini, namun dari serpihan informasi yang diperoleh dari pihak Belanda, dari laporan mata-mata dan informan pribumi, dari surat-menyurat yang jatuh ketangan Belanda dan tersimpan baik dalam arsip-arsip dll. Dapatlah sudsah merekontruksi riwayat perjuangannya.
Muhammad Seman adalah putra Pangeran (Panembahan) Antasari. Ia lahir kira-kira pada 1835, karena ketika Sultan Muhammad Seman tewas dalam kontak senjata dengan Belanda di Kalang Barah, Sungai Menawing pada 1905, pihak Belanda memperkirakan usianya sekitar 70 tahun.
Jika perkiraan ini benar, ketika perang Banjar pecah pada 1859, usianya 24 tahun dan setahun atau dua tahun lebih muda dari saudaranya yang lebih tua tetapi lain ibu yaitu Gusti Muhammad Said” katanya.
Menurut Helius “perjuanga yang panjang dilakukan Muhammad Seman melawan kolonialis Belanda, dilakukan dari pedalaman Kalimantan. Sebuah perjuangan yang panjang dan tanpa mengenal menyerah, walau dalam kondisi hidup yang melarat.
Sampai pada 24 Januari 1905, dalam sebuah patroli Belanda yang dipimpin oleh komandan marsose yang merangkap juga sebagai penguasa sipil Puruk Cahu, letnan H.Christoffel, berhasil mengepung Muhammad Seman di rumah ladangnya Kalang Barah, Sungai Menawing.
Terjadi kontak senjata yang sengit, Muhammad Seman menolak menyerah hingga ia tewas ditemnak bersama dua orang pengawalnya. Dan mayatnya dimakamkan di Puruk Cahu” pungkasnya. ara/mb05


Disetor 200411-rabu(kamis)-tidak dimuat
Disetor ulang 280411-kamis(jumat)-dimuat

270411-rabu(kamis)-TB.hr terakhir pameran lukis anak 2011 (Dm.290411)

Photo: mb/ara
PAMERAN LUKIS – Taman Budaya Kalsel memajang 105 lukisan anak-anak dari siswa/i SD dan SMP se-kota Banjarmasin dalam acara Pameran Lukis Anak Berprestasi

Pendidikan Berkarakter Melalui Seni Lukis

BANJARMASIN - Anak merupakan amanah yang harus dijaga, dirawat, dididik dan dipertanggung jawabkan, yang sekaligus sangat menentukan dan bernilai strategis bagi perkembangan generasi yang akan datang.
Pada saat kita mengembangkan upaya pendidikan berkarakter maka kegiatan Pameran Lukis Anak Berprestasi ini, tetap memiliki relefansi yang bisa dikembangkan, khususnya penelusuran bakat, pengembangan emosional dan kreatifitas anak. Artinya melalui seni lukis bisa dijadikan media pendidikan karakter.
Dalam konteks ini, faktor yang harus menjadikan perhatian kita, bahwa pembentukan karakter atau prilaku anak dapat dimotivasi untuk memahami dan mengekspresikan aspek keindahan, komposisi warna yang mengandung makna emosi karakter, nilai etika dan juga kearifan” ujar Kabid Kebudayaan dan Kesenian Disporabudpar Kalsel, Drs Merah Yusirwan Bangsawan yang mewakili Kepala Disporabudpar Kalsel, Drs H Mohandas HH, dalam pembukaan Pameran Lukis Anak Berprestasi, pada Senin (25/4) pagi kemaren, di Gedung Warga Sari Taman Budaya Kalsel.
Hari pembukan di hadiri oleh pejabat dinas terkait serta seniman dan budayawan. Juga dihadiri oleh siswa/i yang lukisannya dipamerkan, guru pembimbing dan orang tua pendamping masing-masing.
Seusai pembukaan dilanjutkan dengan goresan pertama dikanfas lukis antara lain oleh Drs Merah Yusirwan Bangsawan, Noor Hidayat Sultan, Drs Syarifuddin R dan Nanang M Yus pelukis senior Kalsel.
Pameran Lukis Anak Berprestasi berlangsung hingga Jumat 29 April 2011. Kepala Taman Budaya Kalsel, Noor Hidayat Sultan melalui Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi, Fahrurazi menginformasikan jumlah anak dan lukisan yang dipamerkan, katanya “ada 30 anak yang lukisannya dipamerkan, dengan masing-masing anak ada 1 sd 4 lukisan yang telah dipilih oleh kurator untuk di pajang. Jumlah keseluruhan lukisan yang dipamerkan lebih dari 105 buah bingkai lukisan.
Ke 30 anak tersebut yaitu Nida Ul Hasanah dari SDN Sungai Bilu 3, Akhmad Yusdi H dari SDN Mawar 7, SM Yusuf dari SDN Sungai Miai 7, Putri Amalia A dari SDN Teluk Dalam 3, Khairunnisa dari SDN Pemurus Luar 1, Najiha T dari SDN Manaraf Lama 2, Mahdini S dari SDN Karang Mekar 2, M Fajar dan Kharisma PW dari SDN SN Pasar Lama 1, Febrina DF dari SDN BI Telaga Biru 1, MR Fadhillah dari SD SN Sungai Miai 7, Laili Azmi dari SD SN Kuripan 2.
Lalu, Easter HR dan Fransiskus K dari SD Santa Angela, Kevin V dari SD Santamaria, Dea Rosalia dan Nanda GR dari SD Muhammadiyah 9, Aldianur K dari SD Muhammadiyah 10, Chika S dari SD Islam Madinaturamllah, M Mujahid, Fatur dan A Mubarak dari SD Islam Sabilal Muhtadin, MA Irfansyah dari SD Kuripan, Nuurina K dari MDI Muhammadiyah 1-2, Anisah Ayyasy NA dari MDI Al-Furqan.
Kemudian lima anak dari SMP yaitu Sania Sayalin F dari SMPN 6, Siti Fatimah MJ dari SMPN 10, M Irfan A dari SMPN 30, Syarifah Ramadhanah dari SMPN 1 Teratai dan terakhir Alma siswi salah satu SMP di kota Banjarmasin. ara/mb05

270411-rabu(kamis)-perlindungan hukum pekerja wanita

Perda Perlindungan Hukum Pekerja Wanita

BANJARMASIN – Hak perempuan sudah dijamin dalam Undang-undang Dasar (UUD) dan perundang-undangan. Sejkarang sejauh mana daerah menerapkan UUD menjadi peraturan daerah (Perda)?
Hj Erlina SH MH dari aktivis perempuan Kalsel dan juga sebagai dosen Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin, yang menjadi pembicara dalam diskusi dan pemutaran filmdokumenter yang ke empat oleh Banjar Film pada awal April (7/4) yang lalu, ia mengatakan”peran Negara untuk pekerja yaitu: Pertama, menyiapkan instrument hukum yang melindungi pekerja, lebih khusus lagi pekerja wanita.
Kedua, menyiapkan institusi atau lembaga yang menjadi wadah untuk menjamin terlaksananya hak-hak tersebut. Ketiga, menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan hak-hak tersebut. Dan keempat, membangun budaya hukum masyarakat yang mendukung dan melindungi pekerja wanita” ujarnya.
Kemudian Erlina memaparkan Undang-Undang (UU) yang menjamin hak perempuan antara lain:
Konvensi Wanita (CEDAW) sebagaimana yang diratifikasi melalui UU.No.7 tahun 1984, pasal 11, ayat (1), (2) dan (3) mengenai peraturan yang menghapus diskriminasi terhadap wanita di lapangan kerja, hak yang sama antara pria dan wanita, mencegah diskriminasi terhadap wanita atas dasar perkawinan atau kehamilan, menjamin hak efektif untuk bekerja bagi wanita.
Hak pekerja wanita dalam peraturan UUD 1945, pasal 27 ayat (2) Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
UU.No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pada Pasal 5, tentang kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan. Dan Pasal 6, tentang perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha.
Pasal 32 ayat (1), tentang penempatan tenaga kerja yang terbuka, bebas, obyektif serta adil dan setara tanpa diskriminasi. Pasal 76, mengatur tentang usia, pembagian waktu kerja, keselamatan kerja, dan transportasi kerja bagi perempuan. Pasal 81, mengatur tentang waktu kerja bagi perempuan yang mengalami masa haid.
UU 39 tahun 1999, pasal 49 ayat (2) dan (3), mengatur tentang perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan dan profesi terhadap keselamatan kerja bagi fungsi reproduksi wanita.
Pasal 83, mengatur waktu bagi hak pekerja wanita untuk menyusui anaknya. Pasal 153 ayat (1), tentang larangan pemutusan hubungan kerja hanya karena alasan  pekerja atau buruh wanita hamil, melahirkan, gugur kandungan dan menyusui.
UU No.21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/ Serikat Buruh, sebagai pelaksanaan dari UU No.18 tahun 1956 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (PKOPI) No.98 mengenai berlakunya dasar-dasar dari hak untuk berorganisasi dan untuk berunding bersama.
Peraturan Pemerintah No.8 tahun 1981 sebagai pelaksanaan dari UU No.80 tahun 1957 tentang PKOPI No.100 mengenai Pengupahan yang sama bagi buruh laki-laki dan buruh perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya.
UU No.39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja di LUar Negeri. UU No.3 tahun 2004 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Dan UU No.40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
Menurut Hj Erlina “apabila melihat rumusan subtansi hukum yang telah disebutkan tadi, maka sudah banyak peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pekerja wanita.
Namun, terkadang di beberapa daerah masih muncul Perda yang justru diskriminatif terhadap perempuan, selain juga adanya kelemahan acuan hukum yang digunakan untuk perlindungan hak asasi buruh wanita” pungkasnya. ara/mb05

260411-selasa(rabu)-triana.kartini daerah (Dm.290411)


Photo: Triana Dewi Seroja SH MHum

Perjuangan Kartini Putri Daerah Membela Para Pendidik

BANJARMASIN – Habis Gelap Terbitlah Terang, sebuah semboyan perjuangan RA Kartini yang hingga kini terus digaungkan. Kartini-kartini daerah yang berjuang dengan tulus, membantu sesamanya dan membela yang tidak mampu, adalah cahaya yang sangat berharga dalam kegelapan.
            Triana Dewi Seroja Humphrey Djemat SH MHum, yang pada akhir Maret lalu, Mata Banua hanya bisa berdialog dengannya melalui telepon, tetapi pada pagi Minggu (17/4) yang lalu, dapat bertatap muka dan berbincang-bincang lebih jauh dengannya, walau dalam kesempatan yang singkat di ruang makan hotel ia menginap.
            Triana, Kartini daerah Kalsel yang sukses menjadi pengacara di Jakarta, mengabdikan ilmunya untuk membantu para pendidik dan kepala sekolah (kepsek) yang terkait masalah hukum.
Menurut Triana “banyak para guru dan kepsek yang masih tidak mengerti tentang advokasi dan permasalahan hukum lainnya, baik di kota maupun di desa. Sehingga mereka hanya menjadi bulan-bulanan aparat hukum dan orang-orang yang mempunyai jabatan lebih tinggi.
Kemaren kami ada menangani salah satu perkara kepsek di Kupang, yang tidak mengerti tentang proses acara pidana, pemanggilan, penetapan tersangka dan segala macam, sehingga diperlakukan seenaknya.
Di kementrian pendidikan, tahun ini perlingungan hukum hanya untuk kepsek SMA dan SMK saja, sedangkan untuk SMP dan SD tidak ada. Sedangkan semua warga Negara, mempunyai hak yang sama di mata hukum” ujar putri H Obar Sobari, mantan Bupati Tabalong Kalsel ini.
Lanjut Triana “penegakan hukum saat ini, di Negara kita semakin mundur, entah karena ada kepentingan tertentu atau lainnya. Khususnya para kepsek, banyak yang mendapat ketidak keadilan.
Mereka adalah guru dan penanggung jawab disekolah. Seandainya mereka tidak dapat perlindungan hukum dengan baik, tentunya tidak bisa bekerja dengan baik pula. Dan tentunya kualitas pendidikan yang dihasilkan juga akan menurun. Untuk itulah, sosialisasi dan pelatihan tentang hukum kepada guru dan kepsek harus dilaksanakan disetiap daerah.
Kami melalui Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Pendidik dan Tenaga Kependidikan Indonesia (LKBH-PTKI), serta Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Kepala Sekolah Indonesia (LKBH-KEPSINDO) di Jakarta, melakukan aktivitas pembekalan hukum, advokasi dan perlindungan hukum tanpa meminta bayaran. Asalkan mereka mendapat perlindungan  hukum, kami sudah senang sekali. Kedepannya, di sini (Kalsel) akan kita bentuk pula LBH dan lembaga mediasi hukum untuk para pendidik” katanya.
Sebelumnya Yayasan Mendulang Menuju Dunia Gemilang telah menetapkan 10 tokoh atau eksekutif yang sukses di bidangnya, dan telah mendedikasikan ilmunya untuk kepentingan sosial masyarakat dan selalu berbusana rapi. Triana, salah satu tokoh penerima Borneo Award (BA) 2011 tersebut, dan ia menerima penghargaan tersebut pada Sabtu malam (16/4) di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin.
Dilain pihak, seperti yang diungkapkan Hj Fathul Jannah Muhidin Pembina Dharma Wanita se kota Banjarmasin “dengan adanya acara peringatan Hari Kartini ini, tentunya diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kaum wanita untuk terus berkarya dan berperan aktif disegala bidang, baik keterampilan maupun bidang internal lainnya, tanpa mengenyampingkan kodratnya sebagai ibu rumah tangga, seperti yang sudah dipelopori oleh ibu kita Kartini” katanya saat di wawancara oleh Mata Banua dalam kegiatan lomba yang dilaksanakan oleh Dharma Wanita Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin, pada Sabtu 9 April 2010 yang lalu.
Beberapa saat sebelum wawancara berakhir, Triana berkata “dimanapun berada, kaganangan lawan daerah pasti akan selalu dirasa. Terutama kaganangan lawan makanannya, seperti Soto Banjar, Katupat Kandangan, Nasi Kuning Iwak Haruan dan Bingka. Serta buah-buahan aslinya seperti Papakin dan Kasturi.
Saya diundang untuk menghadiri malam BA, dan sangat surprise, karena saya tidak menyangka dipilih menjadi salah satu yang menerima BA 2011. Mungkin ini suatu jalan agar saya bisa mengabdi untuk daerah yang telah membesarkan saya” pungkasnya. ara/mb05

260411-selasa(rabu)-PA.Aisyiyah Hikmah Zam Zam (Dm.100511)

Photo: mb/ara
BELAJAR – Secara rutin putri-putri PA Aisyiyah Hikmah Zam-Zam belajar bersama setiap hari, dan lebih diperketat lagi saat mendekati Ujian Nasional dan Ujian Sekolah

PA Aisyiyah Hikmah Zam-Zam
Calon Kartini-Kartini Muda

SENIN (25/4) semenjak siang sebagian kota Banjarmasin telah di guyur hujan. Pukul 16.30 WITA, Mata Banua menyempatkan untuk mampir ke Panti Asuhan (PA) Aisyiyah Hikmah Zam-Zam, cabang 3 Banjarmasin di jalan Sultan adam, komplek Andika Rt 29 No 28.
            Dengan ramah, Hj Saiydah (67) menceritakan keadaan panti yang diasuhnya. Yayasan PA Aisyiyah Hikmah Zam-Zam khusus untuk anak putri. Di dirikan lima tahun yang lalu yaitu pada 2007, oleh ibu Muniroh dan ibu Nurjanah, karena beliau sudah sepuh, dilakukan pergantian pengurus.
PA Aisyiyah Hikmah Zam-Zam, saat ini mengasuh 26 orang putri, ada yang berasal dari Barabai, Alabio dan daerah lain. Kebanyakan anak-anak diatar oleh keluarganya karena tidak mampu membiayai, tapi ada pula yang secara kebetulan di temukan oleh pengurus panti. Karena baru lima tahun berdiri jadi baru satu orang anak yang sudah dilepas untuk mandiri dan sekarang sudah bekerja.
Tingkat pendidikan anak-anak PA Aisyiyah Hikmah Zam-Zam yaitu TK ada 1 anak, SD ada 2 anak yaitu kelas I dan kelas VI. Kemudian Ibtidaiyah ada 1 anak kelas IV. SMP ada 6 anak yaitu lima orang kelas VII dan satu orang kelas IX. Kemudian MTs ada 8 anak yaitu satu orang kelas VII, dua orang kelas VIII dan lima orang kelas IX. SMK ada 2 anak kelas I. SMA ada 3 anak yaitu satu orang kelas I dan dua orang kelas III. Kemudian Aliyah ada 3 anak yaitu satu orang kelas I dan dua orang kelas III.
Menurut Saiydah “uang saku anak-anak ada yang Rp 5 ribu ada yang Rp 10 ribu, tergantung jauh dekat sekolahnya. Anak-anak juga kita buatkan tabungan per orang, sehingga bila diberi orang, mereka membiasakan diri menyisihkan uang sakunya untuk di tabung, yang tentunya kita awasi tabungannya, agar tidak dipergunakan bagi keperluan yang tidak penting.
Kegiatan rutin di panti seperti ceramah agama pada malam minggu. Kemudian setiap malamnya mengaji dan sholat Tahajut. Puasa Senin dan Kemis. Mengulang pelajaran disekolah, dan ada pula yang dileskan. Tentunya dalam menghadapi Ujian Nasional untuk yang sudah kelas tiga, lebih diperketat jadwal belajarnya.
Dari Dinas Sosial pada 2008 ada pelatihan merajut dan memasak untuk anak-anak, dan dari Puskesmas tiap 3 bulan sekali melakukan pemeriksaan rutin ke panti. Pada 2009 tadi anak-anak meraih prestasi juara satu lomba out bound pramuka putri antar PA Aisyiyah se Indonesia.
Dan ada satu orang lagi yang selalu juara disekolahnya, namanya Pertiwi, saat ini sudah kelas tiga Aliyah. Karena prestasinya yang tinggi, ia sudah banyak mendapat tawaran beasiswa kuliah, bahkan tawaran pekerjaan di perusahaan” katanya.
Mengenai jumlah bantuan dan biaya pengeluaran, Reny Megawati yang semenjak awal berdiri telah menjadi pembantu umum di PA Aisyiyah Hikmah Zam-Zam, mengatakan “bantuan masyarakat sekitar memang tidak menentu, kalau di hitung-hitung ada Rp 10 juta atau lebih perbulan.
Tapi dibanding pengeluaran tentu sangat jauh, karena pengeluaran satu minggu bisa mencapai Rp 6 juta. Dari biaya makan satu hari Rp 150 ribu, ditambah membayar ledeng, listrik dan telepon lebih satu juta rupiah sebulan, belum ditambah biaya SPP sekolah anak-anak” ujar Rini yang bertanggung jawab pada menu makanan dan mengawasi anak-anak yang bertugas memasak.
Kemudian Saiydah menambahkan “di sini ada 8 kamar, sekamar ada dua orang atau tiga orang. Teman sekamar tiap tahun diputar, agar satu samalain diantara mereka bisa lebih bekerjasama. Dari 26 anak, tidak semua tinggal disini. Karena daya tampung panti tidak memenuhi, jadi mereka tinggal dengan keluarganya, tapi biaya hidup tetap ditanggung oleh panti.
Anak-anak yang tinggal di sini, di bagi menjadi dua kelompok, tiap kelompok ada 9 orang dan ketuanya yang mengatur dan membagi tugas, ada yang menyapu halaman, dapur dll. Bila tidak mengerjakan tugas yang sudah ditentukan, maka satu kelompok akan mendapat hukuman.
Hukumannya ada yang dipotong uang saku, ada pula yang mendapat tugas tambahan, seperti membersihkan kamar mandi. Tapi yang paling efektif hukuman bagi anak-anak adalah tugas tambahan tersebut” katanya.
Saiydah mengakui “anak-anak yatim memang banyak yang bermasalah, sehingga sangat sulit diatur. Ada yang tidak mengerjakan tugas, membolos sekolah, berkelahi antar teman di panti, sehingga harus tabah menghadapinya. Tapi yang namanya anak-anak tidak bisa dikerasi, maka melatih mereka disiplin yang harus ditanamkan sejak dini.
Karena keasikan berbincang, tidak terasa sudah magrib, dan seusai adzab magrib Mata Banua permisi pulang. Pada akhir pembicaraan Saiydah menitip pesan “saat ini, kami sangat memerlukan bantuan kalambu untuk tiap anak, kasihan mereka gatalan digigit nyamuk saat tidur malam. Kalau pakai obat nyamuk tidak ke obat nyamukkan, dan bisa merusak kesehatan mereka juga” pungkasnya. araska

250411-senin(selasa)-UN hari pertama SMP


Photo: mb/ara
SUASANA UN - Suasana tegang bukan bermula dari siswa yang melaksanakan UN, tapi lebih dulu dari pendidik dilingkungan sekolah itu sendiri

Suasana UN Hari Pertama SMP Non Unggulan Lebih Santai

BANJARMASIN – Kebijakan Ujian Nasional (UN) yang baru, yang memang telah mengakomodasi harapan guru dan sekolah, serta penghargaan nilai atas segala usaha guru dan sekolah dalam mendidik dan membelajarkan siswanya, dari nilai semester 1 hingga 5 dan nilai ujian sekolah. Tapi momok menakutkan bagi siswa/i terhadap UN masih tetap jelas terlihat.
            UN dikatakan menjadi tolak ukur keberhasilan siswa dan sekolah sekarang ini, termasuk didalamnya keberhasilan dalam aspek efektif siswa. Berbagai cara pun kiranya diusahakan oleh pihak sekolah demi keberhasilan siswanya lulus 100 persen” ungkap Helda Rahmawati SSos SPdi pengajar MAN1 Amuntai, dalam ulasannya kepada Mata Banua.
            Dari pantauan Mata Banua kebeberapa sekolah, dibalik keheningan pelaksanaan UN hari pertama SMP/sederajat pada Senin 25 April 2011, sangat terasa adanya ketegangan dari siswa ataupun dari guru pengawas yang sangat proteksi terhadap situasi UN, seperti pada SMPN1 dan SMPN9.
            Sementara pada SMPN2 dan MTsN Mulawarman, suasananya terasa lebih santai. Bahkan salah satu guru di dua sekolah ini, dan salah satu kepala sekolah (Kepsek) yang menemani dan menemui Mata Banua saat mendokumentasi kegiatan UN, sambil bercanda menjelaskan situasi UN disekolah masing-masing.
Sangat jelas tergambar, bahwa suasana tegang bukan bermula dari siswa yang melaksanakan UN, tapi lebih dulu dari pendidik dilingkungan sekolah itu sendiri.
Kepsek SMPN2, Drs H Ariman Yana Husni, mengatakan “untuk UN semuanya sudah kita siapkan dari awal semester, melalui belajar tambahan dan analisis uji coba. Sistem kami berbeda dengan sekolah lain, kami disini membuat soal uji coba itu berdasarkan analisis pokok bahasan mana yang anak itu tidak menguasai” katanya.
            Sebelumnya, Mata Banua mendapat informasi dari beberapa guru yang mengawasi pelaksanaan UN untuk SMA/sederajat. Sebagian siswa/i yang mengikuti UN, melakukan kesalahan dalam penulisan nama pada lembar jawaban, entah karena faktor kebiasaan atau karena suasana tegang, sehingga dikuatirkan hasil UN nya pada mata pelajaran tersebut tidak diterima.
            Menanggapi permasalahan ini, Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Menengah, Drs H Murlan M MPd, menjelaskan “kesalahan peserta UN dalam menuliskan namanya, tidak memberi pengaruh, asalkan jangan salah menuliskan nomor UN nya. Nama tidak dipindai, yang dipindai hanya hasil jawaban.
            Tapi kalaupun ada kesalahan penulisan nama, sedangkan nomor UN nya telah sesuai dengan daftar peserta UN di sekolah yang bersangkutan, maka nanti akan dikonfirmasi ulang, apakah nomor ini memang siswa/i sekolah tersebut” ujarnya.

Suasana Pengambilan Lembar Jawaban di Polsekta
            Dari Pantauan Mata Banua, saat pengambilan lembar soal di Polsekta Banjarmasin Tengah dan Polsekta Banjarmasin Timur, untuk UN SMP/sederajat pukul 06.30 wita sudah selesai. Sedangkan sebelumnya, pada saat pengambilan soal UN untuk SMA/ sederajat baru pukul 07.15 baru selesai.
            Murlan yang sedang bertugas mengawasi pengambilan soal di Polsekta Banjarmasin Tengah, membenarkan situasi ini. Ia menambahkan “setiap sekolah yang melaksanakan UN baik itu SMA dan SMP/sederajat, mendapat pengawalan dari kepolisian yang juga bertugas menjaga UN di sekolah yang bersangkutan” pungkasnya. ara/mb05

250411-senin(selasa)-disdik peringati hr kartini


Photo: mb/ara
HARI KARTINI – Guru-guru wanita se kota Banjarmasin mengikuti rangkaian lomba dalam peringatan Hari Kartini oleh Dharma Wanita Disdik Kota Banjarmasin Banjarmasin.

Lomba Nasi Goreng Bapak-Bapak Untuk Hari Kartini

BANJARMASIN – Tidak terhitung jasa para guru wanita dalam mencerdaskan putra-putri daerah. Jasa yang tidak cukup hanya diperingati satu tahun sekali.
Dengan Memperingati Hari Kartini Kita Tingkatkan Peran Serta Dharma Wanita Persatuan Dalam Mensukseskan Pendidikan Berkarakter, kalimat tersebut menjadi tema dalam kegiatan lomba yang dilaksanakan oleh Dharma Wanita Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin, pada Sabtu 16 April 2011 yang lalu.
            Kegiatan lombanya sendiri antara lain, membuat kue puding dan berbusana muslim Kartini dengan peserta lomba dari pembina dan guru-guru wanita dari TK, SD, SMP dan SMA se kota Banjarmasin. Kalau sehari-hari dalam melaksanakan tugas sebagai guru harus berpakaian dinas, kali ini dalam lomba berbusana muslim Kartini, ibu-ibu guru bergaya bak pragawati, di depan semua tamu undangan.
            Kegiatan memperingati Hari Kartini semakin menarik, dengan adanya lomba membuat nasi goreng dari bapak-bapak.  Ditambah dengan penampilan seni dari siswa/i, sehingga membuat suasana menjadi semarak. Ada penampilan dramband, tari kuda gepang dari siswi SMPN 23 dan ditutup dengan parade angklung dari murid-murid SDN Kebun Bunga 5 yang membawakan lagu Ibu Kita Kartini.
             Sekretaris Daerah (Sekdako) Drs H Zulfadli Gazali MSi yang turut berhadir, mengatakan “atas nama pemeintah daerah menyambut gembira dengan kegiatan Dharma Wanita Disdik kota Banjarmasin, dalam memperingati Hari Kartini ini. Sehingga menambah rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan. Serta peran aktif wanita pada pendidikan formal dan dalam rumah tangga, adalah sangat penting untuk meningkatkan pendidikan anak-anak” ujarnya.
            Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) kota Banjarmasin Drs Muhammad Amin MT, menambahkan “tiap laki-laki yang sukses, ada wanita yang kuat dibelakangnya. Wanita selain sebagai ibu rumah tangga, juga mempunyai peran yang sama dengan pria dalam kehidupan sesuai dengan kodratnya. Sejauh ini, guru-guru dan komponen pendidikan dari wanita untuk di kota Banjarmasin, sudah punya standar yang bagus”.
            Menanggapi tentang lomba membuat nasi goreng dari bapak-bapak, menurut Muhammad Amin “lomba membuat nasi goreng bapak-bapak, adalah untuk menunjukkan bahwa bapak-bapak itu, juga punya kemampuan membantu ibu-ibunya dalam mengurus rumah” katanya.
Dilain pihak dalam wawancara Mata Banua dengan Pembina Dharma Wanita se kota Banjarmasin, Hj Fathul Jannah Muhidin, berkata “dengan adanya acara peringatan Hari Kartini di Disdik ini, tentunya diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kaum wanita untuk terus berkarya dan berperan aktif disegala bidang, baik keterampilan maupun bidang internal lainnya, tanpa mengenyampingkan kodratnya sebagai ibu rumah tangga, seperti yang sudah dipelopori oleh ibu kita Kartini.
Dan mudah-mudahan kedepannya kita bisa lebih memacu peran ibu-ibu dalam rumah tangga untuk mendidik anak-anaknya, agar lebih maju lagi meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Diadakannya lomba membuat nasi goreng bapak-bapak adalah untuk menunjukkan bahwa bapak-bapak juga bisa membantu para istri di dalam mengurus rumah tangga” ungkapnya.
Sementara itu, istri Kadisdik kota Banjarmasin Hj Sri Hastuti M Amin berharap agar kegiatan serupa bisa lebih ditingkatkan di tahun berikutnya dan akan dibuat lomba khusus untuk anak-anak.
Ia juga mengungkapkan rasa penghargaan yang besar untuk para guru wanita, yang telah memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anak. Kemudian katanya “semoga tidak ada lagi wanita yang tertinggal di kota Banjarmasin”. ara/mb05


Disetor pada 180411-senin(selasa)-tidak dimuat
Di setor kembali 250411 - dimuat

240411-minggu(senin)-lomba senan anak dispar prov


Photo: mb/ara
CERIA – Lomba senam kreasi/ senam irama ceria siswi TK se Kalsel, dan lomba senam kreasi/ senam sehat bangsaku guru TK se Kalsel, yang dilaksanakan Disporbudpar Kalsel

Menanamkan Kesehatan Sejak Dini

BANJARMASIN – Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Bila jiwa sehat maka kecerdasan, prestasi dan keceriaan menjadi bagian aktifitas sehari-hari.
            Untuk mengenalkan dan meningkatkan kesehatan sejak dini tersebut, Disporbudpar Kalsel mengadakan lomba senam kreasi/ senam irama ceria siswi TK se Kalsel, dan lomba senam kreasi/ senam sehat bangsaku guru TK se Kalsel, yang dilaksanakan selama dua hari pada 20 sd 21 April 2011 yang lalu. Rangkaian lomba yang juga sebagai peringatan Hari Kartini.
Kepada Mata Banua pada Rabu (20/4), Kepala Disporbudpar Kalsel Drs H Muhandas HH, mengatakan “peserta kegiatan ini adalah perwakilan dari setiap kabupaten/ kota yang sudah diseleksi oleh masing-masing daerah.
Kegiatan ini setiap tahun kami selenggarakan, yang juga bisa dilaksanakan selain dari instansi pemerintah, juga oleh masyarakat, dan lembaga swasta. Pemerintah akan selalu memberikan suport dan motifasi agar bisa terbangun dan termasalkan di semua elemen masyarakat.
Kebugaran anak-anak sejak dini harus kita bentuk. Bila anak-anak TK kita sudah sehat, maka generasi kita kedepannya tumbuh lebih baik dan tahan menghadapi persaingan kehidupan, baik mental maupun intelegensinya” ujarnya.           
Peserta lomba senam kreasi/ senam irama ceria siswi TK se Kalsel, antara lain di ikuti dari Tk Kotabaru, TK Bhayangkari 01, TK Kabupaten Tapin, TK Mandiri Banjarmasin, TK Kabupaten Tanah Laut, dan TK Pembina Balangan. Sedangkan yang berhasil mendapat juara pertama diraih oleh siswi TK Pembina Banjarmasin, juara kedua diraih oleh siswi TK Kabupaten Banjar I, juara ketiga diraih oleh siswi TK Kabupaten Batola, juara keempat diraih siswi oleh TK Pembina HSU, dan juara kelima diraih oleh siswi TK Kabupaten Banjar II.
Untuk peserta lomba senam kreasi/ senam sehat bangsaku guru TK se Kalsel, antara lain di ikuti dari Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten HSU, Kabupaten HST, Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten HSU-2, Kota Banjarbaru, Kabupaten Tapin, dan Kota Banjarmasin-1. Sedangkan yang berhasil mendapat juara pertama diraih oleh Guru TK Sei Tabuk Kabupaten Banjar, juara kedua diraih oleh Guru TK Kabupaten Banjar-A, juara ketiga diraih oleh Guru TK Kabupaten Batola, juara keempat diraih oleh Guru TK Kabupaten Banjar-B, dan juara kelima diraih oleh Guru TK Kabupaten Kotabaru.
Masing-masing pemenang mendapat hadiah dan uang pembinaan, untuk juara satu sebesar Rp 5 juta, juara kedua Rp 4 juta, juara ketiga Rp 3 juta, juara keempat Rp 2,5 juta dan juara kelima Rp.2 juta. Dengan tim juri yaitu Supratikno SPd, Zaini SPd, Akhmad Riduan SPd, Supiadi SPd. Sedang juri dari sanggar senam yaitu Murniati dan Delina.
Hari terakhir kegiatan pada Kamis (21/4) saat sambutan penutupan lomba, Muhandas mengatakan “semuanya terwujud dari kerjasama dan kekompakkan, maka hasil jerih payah yang sudah dilakukan ini, untuk ditingkatkan lagi dan agar terus dikembangkan di daerah masing-masing. Guru-guru yang sehat, akan menjadi contoh bagi siswa dan siswinya. Peserta yang telah berhasil dan terpilih, nantinya kalau ada perlombaan tingkat nasional, akan kita kirim mewakili provinsi” pungkasnya. ara/mb05

240411-minggu(senin)-hr kartini dengan wayang


Photo: mahfuz

Peringati Hari Kartini Dengan  Wayang Kulit Banjar

BANJARMASIN - Bentuk kesenian wayang tertua adalah wayang Purwa. Dari wayang purwa ini berkembang menjadi beberapa jenis wayang di Kalsel. Dalam Hikayat Banjar tertulis bahwa seni wayang sudah mulai tumbuh semenjak kerajaan Negara Dipa seperti, bawayang gung, manopeng, bawayang gadongan, bawayang purwa, babaksan dan sebagainya.
Tidak banyak tokoh di kota Banjarmasin yang bila memperingati hari ulang tahunnya dengan menggelar pertunjukan wayang kulit Banjar. Tapi HA Sulaiman HB pada Sabtu (23/4) malam menggelar pertunjukan wayang kulit Banjar semalam suntuk di Taman Budaya Kalsel. Selain untuk memperingati hari ulang tahunnya juga sebagai peringatan Hari Kartini. Pagelaran wayang purwa Banjarnya sendiri dimainkan oleh dalang Saderi dan Sanggar Seni Ading Bastari Barikin Kabupaten HST, yang di pimpin oleh AW Sarbaini.
Kepada Mata Banua pada Sabtu sore, Sarbai menuturkan “aku maingkuti pasan leluhur supaya melestarikan kesenian yang hidup di kampung Barikin. Sebab, dengan kesenian itu, hubungan keluarga semakin erat.” katanya.
Menurut Sarbai, ia juga bermain dalam hampir semua kesenian wayang. Pada wayang kulit, ia sebagai dalang, dan di wayang gung dia menjadi Hanoman. Ading Bastari membawahi beberapa grup kesenian. Untuk warga yang menyukai wayang kulit, misalnya, tergabung dalam Panji Sukma. Mereka yang suka tari topeng di grup Panji Sumirang, anggota wayang gung di Antaboga, dan R Brantasena untuk pemain kuda gepang.
Proses belajar-mengajar kesenian tradisional di Barikin bukan seperti sekolah formal. Di kampung itu tak ada gedung atau tempat khusus untuk belajar. Ungkap Sarbai ”kalau mau belajar wayang kulit, orang tinggal tajak sarubung (mendirikan tenda), lalu mambuat panggung di belakang rumah. Pelajaran dianggap selesai kalau sudah disaru (diundang) orang untuk pentas.
Menurut Sarbai ”aku belajar bawayang dua kali, langsung dengan Dalang Tulur. Dia guru banyak dalang wayang kulit Banjar di Kalsel. Aku bisa bakasanian matan kelas empat SD, tahun 1967” pungkasnya. ara/mb05

220411-jumat(sabtu)-pameran lukis anak TB (Dm.250411)

Pameran Seni Lukis Anak

BANJARMASIN - Sebuah gambar atau lukisan dari anak-anak adalah citra dari kepolosan dan kelugasan, tanpa terikat oleh pola kewajaran serta logika. Inilah yang membuat karya lukis anak mempunyai nilai yang tinggi.
Bebas bukan berperilaku semaunya, tetapi bebas dari bayangan nilai maupun pola yang telah biasa diterapkan secara umum, dan menjadi baku dalam bentuk patokan-patokan standart seni lukis.
Dari kebebasan seperti inilah sebuah jiwa menjadi kreatif. Dari kebebasan semacam inilah kita memahami lukisan anak. Jadi kita tidak menilai dengan ukuran yang kita punyai, tidak menilai dengan kacamata kita, melainkan dengan kaca mata batin anak.
Menurut Noor Hidayat Sultan kepala Taman Budaya (TB) Kalsel, pada Rabu (13/4) siang di ruang kerjanya “Senin 25 April 2011, akan kita gelar Pameran Seni Lukis Anak bertempat di Gedung Wargasari TB Kalsel.
Dalam aspek pendidikan kita sudah mulai menggaungkan pendidikan ber karakter. Pendidikan seni budaya perlu ditanamkan sejak dini, oleh karena itu dengan pameran lukis anak ini, kami harapkan ada rasa kecintaan anak terhadap seni lukis. Dengan kecintaan tersebut, akhirnya juga mendorong mereka memiliki kreatifitas dan kecintaan pada seni lukis itu sendiri. Dan dengan pameran ini membuka ruang bagi anak untuk berekspresi dan berkreasi di bidang seni lukis” ujarnya.
Lanjut Noor Hidayat “kita sudah mengundang semua SD yang ada di kota Banjarmasin, untuk mengikutsertakan karya lukis murid-muridnya. Selain anak-anak SD ada pula beberapa murid SMP yang juga kita undang untuk mengirimkan karyanya.
Masing-masing anak maksimal mengirimkan 5 karya lukis, selanjutnya tim kurator akan memilih 2 atau 3 karya dari 5 yang dikirimkan untuk di pamerkan di depan khalayak. Anak-anak yang lukisannya dipamerkan akan diberi piagam penghargaan dan akan kami bina kreatifitasnya” katanya.
Menjawab pertanyaan Mata Banua, apakah lukisan anak tersebut akan dilelang? Ungkap Noor Hidayat “tidak menutup kemungkinan karya anak-anak tersebut nantinya akan kita lelang kepada tamu yang datang. Tentunya, si anak yang lukisannya dibeli walau harganya murah, akan menimbulkan rasa bangga dan menambah semangatnya untuk berkreatifitas dalam karya lukis kedepannya” pungkasnya. ara/mb05

190411-selasa(rabu)-seminar sejarah


Photo: mahfuz

Benang Merah Pewaris Sah Kesultanan Masih Samar

BANJARMASIN – Sejarah masa lalu sebuah daerah sangat penting untuk diketahui masyarakat dan generasi penerus, agar tergambar dengan jelas bagaimana sebuah perjuangan yang melatarinya.
Kesultanan Banjar beberapa waktu ini ramai dibicarakan, baik dari pandangan positif ataupun negatif. Terlebih kritik dari para tokoh budaya daerah terhadap keberadaan kesultanan itu sendiri, serta konflik internal dari para pewarisnya.
Kesultanan Banjar dalam Persfektif Sejarah, adalah judul makalah yang dipaparkan oleh Prof Helius Sjamsuddin Phd MA Guru Besar UPI Bandung. Judul makalah yang juga menjadi tema dalam Seminar Nasional Kesejarahan, yang diadakan oleh Prodi Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, pada 16 April 2011 yang lalu.
Milda Fahrina, ketua panitia seminar saat wawancara dengan Mata Banua mengatakan “terkait adanya pro kontra masyarakat terhadap kesultanan Banjar, yang baru dieksistensikan kembali pada 12 Desember 2010 yang lalu. Maka kami sebagai calon pendidik, hanya menggamblangkan sejarah yang ada. Selanjutnya tergantung masyarakat yang menilai apakah hendak disetujui atau tidak.
Menurut kami sebagai mahasiswa, tidak masalah dengan adanya sebuah kesultanan, bila hanya sebagai simbol budaya saja. Kami berharap, dengan adanya kesultanan akan meningkatkan budaya daerah” ujarnya.
Lanjut Milda “pada sisi lain, adanya konflik internal yang berkembang antara sesama keturunan kesultanan Banjar, baik yang ada di Kalsel maupun yang berada di luar Kalimantan, tepatnya di Indragiri, yang juga mengklaim sebagai pewaris resmi kesultanan Banjar. Maka perlu untuk di cari jalan tengahnya.
Sebab, ketidak pedulian keturunan yang saat ini mengeksiskan diri di Kalsel terhadap keturunan kesultanan Banjar lain yang diluar Kalsel, akan menimbulkan pandangan yang tidak baik di tengah masyarakat. Seperti adanya tujuan lain yang lebih pada muatan politis. Bukan murni untuk mengangkat seni dan budaya.
Pandangan lain, bila konflik ini tidak disikapi secepatnya, bahwa masyarakat akan menilai bahwa, mengatasi konflik sesama keturunan sendiri saja masih tidak bisa, bagaimana mengatasi kultur dan budaya Banjar sendiri yang juga lebih beragam” katanya seusai seminar.
Erwin Akbar, mantan ketua Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himase) FKIP Unlam Banjarmasin, menambahkan “imej yang ada khususnya di tengah masyarakat, banyak yang mempertanyakan, mengapa kesultanan ini cuma baru sekarang di eksistensikan? Kenapa tidak dari dulu! Sehingga pendapat yang berkembang, lebih tertuju pada unsur politik.
Kemudian, ketika kesultanan sudah di eksistensikan, maka ke tidak berpihakan terhadap kesenian tradisional, adalah hal yang penting. Baik itu kesenian Islami ataupun kesenian yang non Islami, terutama ditempat dimana kesultanan itu dieksiskan yaitu di Martapura. Karena ini semua akan menjadi catatan sejarah, bila memang mereka mengeksiskan diri sebagai pengayom budaya” ujarnya.
Lanjut Erwin “mengenai konflik internal pewaris keraton Banjar, sangat perlu dicari benang merah sejarah yang benar. Agar permasalahan adanya dua klaim pewaris kesultanan, yang sama-sama mengaku pewaris sah, bisa dipertemukan dan diluruskan.
Sejarah sendiri tidak berpihak, sejarah hanya mencatat sejauh mana perkembangan yang terjadi” pungkasnya. ara/mb05

190411-selasa(rabu)-kalender kegiatan TB 2011


Photo: mb/ara
KEGIATAN – Kalender Kegiatan Taman Budaya sepanjang 2011

Kalender Kegiatan TB Dari April Hingga November

BANJARMASIN – Taman Budaya (TB) Kalsel sudah memprogramkan kegitannya sepanjang 2011. Kepastian jadwal kegiatan terkadang mengalami perubahan, karena tergantung dari situasi dan kondisi pada saat akan dilaksanakan.
            Seperti yang dikatakan Noor Hidayat Sultan kepala Taman Budaya yang baru, pada Rabu (13/4) siang pada Mata Banua, bahwa ia hanya melanjutkan program yang sudah dibuat oleh kepala Taman Budaya yang terdahulu.
Menurut Noor Hidayat “yang mungkin berubah, bisa saja tanggal pelaksanaannya, tergantung dari situasi dan kondisi. Oleh karena itu kerjasama antara TB dengan Media Massa sangat penting, ini yang harus kita tingkatkan. Agar masyarakat tahu informasi kegiatan yang akan dilaksanakan atau yang mengalami perubahan pelaksanaan.
Maka seberapa besarpun sebuah kegiatan seni, tanpa publikasi dari rekan-rekan Media Massa, tidak akan diketahui masyarakat dan tidak akan banyak berarti” ujarnya.
Selanjutnya Noor Hidayat, memperlihatkan kalender kegiatan yang akan dilaksanakan dari April hingga November 2011, yaitu:
Pameran Seni Lukis Anak pada 25 April, bertempat di Gedung Wargasari.
Kerjasama Sanggar Seni/ Group Seni (Mamanda – Teater Banjarmasin) pada 14 Mei, bertempat di Gedung Balairungsari.
Penggalian Sastra Indonesia di Kalsel Masa Penjajahan (1890-1945) pada 7 sd 9 Juni (tempat belum ditentukan).
Malam Batanam Karya Baharum Banua 2011 (Pagelaran Lagu Daerah, Tari dan Teater Tradisi) pada 18 Juni, bertempat di Gedung Balairungsari.
Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai 2011 pada 6 sd 17 Juli, bertempat di Gedung dan halaman komplek Taman Budaya.
Diskusi Seni Rupa Perkembangan Seni Lukis di Kalsel pada Juli (tanggal dan tempat masih belum ditetapkan), merupakan rangkaian dari acara Pekan Kemilau.
Temu Taman Budaya se Indonesia pada 21 sd 26 Juli, kegiatan untuk menghadiri undangan di Solo, Jawa Tengah.
Expo 2011/ Pameran Abdi Persada Juli atau Agustus (tanggal masih belum ditetapkan karena ikut dengan kegiatan pemprov Kalsel).
Lomba Lukis Kaligrafi pada 14 September, bertempat di Gedung Wargasari.
Lomba Baca Puisi pada 13 Oktober, bertempat di panggung terbuka Taman Budaya.
Dan Pagelaran Wayang Kulit pada 26 November, bertempat di depan Gedung Wargasari. ara/mb05

180411-senin(selasa)-monitoring UN hr pertama


Photo: mb/ara
POLSEKTA – Kesibukan panitia UN dari pukul 06.30 Wita mengambil soal UN di Polsekta Banjarmasin Tengah

HENING – Semua SMA/sederajat di Kota Banjarmasin menjadi hening, semua pelajar yang mengikuti UN tersita perhatiannya pada soal yang di hadapi

Suasana Un Hari Pertama di Kota Banjarmasin

BANJARMASIN – Selama empat hari dari 18 sd 21 April, semua SMA di kota Banjarmasin khususnya dan Nusantara umumnya, akan terlihat hening. Semua perhatian dan pikiran pelajar yang mengikuti Ujian Nasional (UN) hanya tertuju pada lembaran soal.
            Pukul 06.30 Wita, panitia UN telah telah sibuk mengambil soal yang dititipkan di Polsekta, karena pukul 08.00 Wita, UN telah di laksanakan.
Walaupun sistem UN telah berubah dan sudah lebih berpihak kepada kebijakan sekolah, seperti yang dikatakan sekertaris Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel Drs.H.Herman Taupan beberapa waktu yang lalu, kepada Mata Banua saat ditemui  diruang kerjanya. Bahwa standar nilai kelulusan yang ditetapkan Mendiknas pada UN kali ini sama dengan UN 2010 yakni 5,5. Dengan.sekor nilai UN 0,60 persen, ditambah dengan nilai Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan perpaduan nilai antara ujian semester, mulai semester 3, 4 dan semester 5 yaitu 0,40 persen.
Namun, suasana tegang masih menyelimuti para pelajar kelas tiga yang mengikuti UN tersebut. Ini terlihat dari pantauan Mata Banua pada beberapa SMA/ sederajat dan SMK di Kota Banjarmasin, antara lain SMA PGRI 1 Sultan Adam dan khususnya SMAN 11 Sei Andai yang berada di pinggiran kota. Sementara itu, setiap sekolah yang melaksanakan UN ada pengamanan dari pihak kepolisian.
Sebelumnya, pada Minggu (17/4) malam, Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Menengah, Drs H Murlan M MPd, mengabarkan bahwa Disdik kota Banjarmasin pada hari pertama UN akan melakukan monitoring kebeberapa SMA.
Kemudian, Senin (18/4) sore, Kadisdik kota Banjarmasin Drs Muhammad Amin MT melalui telepon menjelaskan “monitoring atau memantau pelaksanaan UN hari ini tadi dilakukan Wali kota bersama Disdik kota Banjarmasin dan jajaran kepanitian UN. Monitoring di lakukan SMAN1, SMAN2, SMKN1, MAN Mulawarman dan SMA Kana’an.
Sedangkan besok ada kunjungan dari Komisi X DPR RI yang akan memonitor pelaksanaan UN di Banjarmasin, tapi lokasi yang dipantau masih tidak tahu, karena kordinasinya dari Disdik Provinsi” ujarnya.
Lanjut M Amin “semua soal UN untuk kota Banjarmasin disimpan di Polsekta Banjarmasin Tengah dan Polsekta Banjarmasin Timur. Selanjutnya lembar jawaban UN dikumpulkan di Disdik kota Banjarmasin, lalu akan kita cek. Bila semua beres, kemudian dilakukan pemindaian di Unlam Banjarmasin.
Alhamdulillah hari ini tidak ada laporan masalah pelaksanaan UN, yang artinya semua peserta UN tidak ada yang tidak berhadir” pungkasnya. ara/mb05

160411-minggu(senin)-LPI Bjm penutupan


Photo: mb/ara
SUGUHAN – Penampilan seni dari beberapa pelajar dalam penutupan LPI, mendapat perhatian dari tamu undangan.

Kuda Lumping Meriahkan Penutupan LPI Kota Banjarmasin

BANJARMASIN Kegembiraan dari peserta dan sporter pemenang Liga Pendidikan Indonesia (LPI) kota Banjarmasin, mendapat suguhan Dram Band dari SMPN 3, tari Kuda Gepang dari SMPN 23 dan tari kreasi Cup-cup Bimbi dari SMP 27.
            Suguhan penampilan seni dari pelajar ini mendapat perhatian pula dari undangan yang berhadir yaitu Walikota Banjarmasin dan wakilnya, Sekda kota Banjarmasin, Dandim, Kapolresta, Kadisdik kota Banjarmasin, unsur Muspida, Camat dan dari Koni.
            LPI Kota Banjarmasin dimulai dari Senin 4 April 2011 di lapangan SKB Mulawarman Banjarmasin, dan hari terakhir babak final pada Jumat 15 April 2011 di lapangan 17 Mei Banjarmasin. Kalau hari pertama liga dibuka oleh Wali Kota Banjarmasin H Muhidin, maka penutupannya di lakukan oleh Wakil Wali Kota Banjarmasin H Irwan Anshari, yang berpesan agar semua peserta untuk lebih meningkatkan prestasinya.
Setelah 12 hari liga antara 54 regu peserta, yaitu 32 peserta dari SMP/sederajat dan 22 regu dari SMA/sederajat. Akhirnya untuk tingkat pelajar SMP, juara satu diraih oleh MTsN Mulawarman, juara dua diraih oleh SMPN 13, dan juara tiga (bersama) diraih oleh SMPN 23 dengan SMPN 15. Untuk tingkat SMA, juara satu diraih oleh SMAN 4, juara dua diraih oleh SMK Bina Banua, dan juara tiga (bersama) diraih oleh SMKN3 dengan SMAN2. Masing-masing pemenang mendapat tropy, uang pembinaan  dan piagam dari wali kota dan wakil wali kota
Sebelumnya, pada pembukaan LPI Kota Banjarmasin, saat wawancara dengan wartawan, H Muhidin mengatakan “mulai saat ini akan lebih kita tingkatkan pembinaan pemain dari sejak dini, sehingga pemain terbaik yang terpilih, akan terus kita bina. Tidak terkecuali khusus guru olahraganya, juga harus bermain bola minimal sebulan sekali. Dengan program ini, mudah-mudahan kota Banjarmasin akan mempunyai pemain sepak bola yang handal” katanya.
Dilain pihak Kadisdik kota Banjarmasin Drs Muhammad Amin MT, berkata “harapan walikota mengenai ekskul sepak bola yang intensif, akan dibicarakan lebih lanjut dengan semua kepala sekolah di kota Banjarmasin” ujarnya.
Seusai acara penutupan, menanggapi pertanyaan dari Mata Banua, H Muhidin berkata “melihat dari segi permainan, kita optimis kota Banjarmasin akan mewakili provinsi ke tingkat nasional. Hanya saja perlu persiapan fisik yang maksimal” pungkasnya. ara/mb05
.

160411-minggu(senin)-idea islam muhammadiyah


Photo: Dr H Muhadjir Effendi MAP

Idea Islam Berkemajuan

BANJARMASIN – Muhammadiyah adalah sebuah gerakan dakwah yang memiliki dua sifat, yaitu laten dan manifest. Dari dua sifat ini berkembang jauh menjadi proses pelembagaan yang akhirnya merambah dunia politik.
            Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Dr H Muhadjir Effendi MAP pada Seminar Regional Pendidikan Islam se Kalsel yang dilaksanakan Ponpes Modern Al-Furqan Banjarmasin, Sabtu (9/4) yang lalu, mengatakan “Gerakan laten terkait erat dengan kapasitas Muhammadiyah sebagai sebuah suasana berfikir (state of mind) dan arus pemikiran (mind stream), yang didalamnya memiliki dua identitas yang sangat khas.
Identitas tersebut yaitu Islam dan modern atau yang disebut oleh KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah disebut Islam yang berkemajuan atau Islam Jumud.
Gerakan yang bersifat manifest Muhammadiyah dapat diamati dari berbagai aktivitas, antara lain seperti pengajian-pengajian mulai yang berbentuk Kuliah Tujuh Menit (Kultum) hingga pengajian akbar, pelayanan sosial, kesehatan, pendidikan, jaringan usaha dan jaringan politik yang dibangun oleh warganya.
Dari manifestasi gerakan ini proses pelembagaan (institusionalisasi) pun tidak bisa dihindari. Maka lahirlah masjid, panti asuhan, rumah sakit, sekolah-sekolah, bahkan partai politik” ujarnya.
Lebih jauh Muhadjir, menjelaskan “adanya masjid, panti asuhan, rumah sakit, dan sekolah-sekolah, sebetulnya bukan produk organisasi tapi ia lebih merupakan produk dari idea. Oleh sebab itu di dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Muhammadiyah  dinyatakan, untuk mendirikan sebuah ranting Muhammadiyah di suatu tempat pertama-tama harus sudah berdiri sebah amal usaha.
Ketika Muhammadiyah mengembangkan bentuknya bukan hanya sebagai gerakan, tetapi juga organisasi. Maka secara tidak langsung telah menciptakan kurungan bagi dirinya sendiri.
Namun dipermukaan, pengembangan bentuk itu menjadikan Muhammadiyah menjadi lebih nyata, berbentuk dan memiliki jangkauan kemana-mana. Sebagai organisasi yang memiliki jaringan yang luas di seluruh Indonesia” katanya.
Menurut Muhadjir “amal usaha sebagai produk idea Islam Berkemajuan, memang sangat fenomenal dalam konteks keberadaan Muhammadiyah. Sekalipun secara organisatoris adalah sebagai sub-ordinat, tapi keberadaannya lebih menonjol.
Bahkan, ada yang mengatakan bahwa Muhammadiyah itu nyaris tidak ada apa-apanya, jika seandainya tidak memiliki amal usaha. Meskipun di dalam fakta, bahwa konflik-konflik organisasi yang banyak menguras perhatian dan energi sebagian besar bermula dan berada di amal-amal usaha” pungkasnya. ara/mb05

150411-Obat Tradisional Untuk Flu


Jeruk Nipis Untuk Obat Flu

CUACA yang tidak menentu menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Dalam situasi kesehatan yang seperti itu akan sangat mudah terserang flu. Dalam bahasa Banjar, flu disebut dengan salesman atau bahingusan.
Seperti umumnya diketahui, gejala terserang flu antara lain, badan terasa demam dan pegal. Kepala terasa sakit atau pusing, sering bersin dan keluar ingus dari hidung.
Penyebab penyakit, bisa karena alergi, bekerja terlalu berat, kekurangan daya tahan tubuh terhadap perubahan cuaca yang tidak menentu atau ekstrem, terlalu banyak makan yang manis-manis atau lemak daging atau sejenis kacang-kacangan.
Menurut Syarifuddin R, masyarakat tradisional Banjar biasa mengobati penyakit flu dengan empat cara, yaitu dua cara untuk orang dewasa dan dua cara lagi untuk anak-anak. Ramuan pengobatannya sendiri menggunakan bahan-bahan dan tumbuhan yang mudah didapatkan.
Untuk orang dewasa:
Cara pertama, menggunakan limau nipis (jeruk nipis), kapur sirih dan minyak kayu putih. Proses membuat obatnya, yaitu jeruk nipis di iris-iris, lalu oleskan kapur sirih pada irisan jeruk nipis, kemudian teteskan minyak kayu putih pada irisan jeruk nipis tersebut.
Selanjutnya irisan jeruk nipis tadi dipanggang diatas api beberapa lama (tidak sampai hangus), lalu didinginkan, dan airnya diperas/ diperah kedalam gelas, kemudian diminum.
Cara kedua, menggunakan daun kustila/ kestela (papaya). Proses membuat obatnya, yaitu daun pepaya muda ditumbuk sampai lumat, peras airnya dan disaring, beri gula habang (merah) atau gula putih sedikit, aduk sampai rata. Kemudian diminum sekurang-kurangnya dua kali sehari, pada siang dan malam hari.
Untuk anak-anak:
Cara pertama, menggunakan gambir. Proses pengobatannya, yaitu masukkan gambir dalam sebuah wadah, diberi sedikit air, diaduk sampai rata, lalu balurkan ramuan tadi pada batang atau tulang hidung dan jidat.
Cara kedua, menggunakan janar dan kapur. Proses pengobatannya, janar dipotong dua, tampuknya di toreh-toreh, oleskan kapur sedikit, lalu digosokkan pada batang hidung.
Dari pengamatan Mata Banua pada masyarakat Banjar, pengobatan flu atau demam pada anak kecil dengan menggunkan gambir, janar, dan kapur, disebut dipidara’i atau dicuring. Kebanyakan pengobatannya dilakukan oleh tukang urut wanita untuk anak-anak.
Bagian tubuh yang dipidara’i atau dicuring pada tulang hidung, dahi, ujung bawah telinga, punggung, dada, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki, dengan tanda silang atau tambah. Sedangkan dalam kepercayaan suku dayak, tanda silang atau tambah disebut cacak burung.
Tanda cacak burung dipercaya untuk mengusir segala sesuatu yang jahat entah itu penyakit ataupun gangguan dari makhluk halus. ara/mb07