Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 08 (Agustus) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 08 (Agustus) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

260811-kamis(sabtu)-buka puasa KSI Bjm (di kolom ramadhan)

Photo: mb/ara
PERIODE – KSI Banjarmasin melaksanakan buka puasa bersama dan membicarakan pengurus periode mendatang

Buka Puasa Bersama KSI Banjarmasin Bahas Pengurus Baru

BANJARMASIN – Bertempat di panggung terbuka halaman belakang Taman Budaya (TB) Kalsel, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banjarmasin melaksanakan kegiatan buka puasa bersama, pada Kamis (25/8).
            Menurut Hajriansyah Ketua KSI Banjarmasin, sambil menanti waktu berbuka puasa menjelaskan “alhamdulillah Ramadhan ini KSI bisa kembali melaksanakan agenda buka puasa bersama. Selain dengan tujuan silaturahmi, nanti seusai berbuka puasa di lanjutkan sholat magrib, dan sholat taraweh bersama akan di bicarakan dengan kawan-kawan yang hadir tentang program KSI Banjarmasin pada tahun berikutnya.
            Semenjak 2008 aku menjadi ketua,  dan periode kepengurusan adalah 3 tahun sekali, berarti masa kepengurusan aku seharusnya telah berakhir. Sudah seharusnya di pilih pengurus baru yang akan melanjutkan kepengurusan periode 2012 hingga 2014, maka itulah agenda penting yang akan di bicarakan malam ini.
            KSI Banjarmasin di banding dengan KSI daerah lain di Kalsel, masih lebih baik, sebab ada melaksanakan beberapa kegiatan dan menerbitkan dua buku. Walau masih ada beberapa agenda, yang karena kesibukan pribadi masing-masing pengurusnya tidak bisa terlaksana. ” ujarnya.
            Hajriansyah mengakui bahwa, KSI Banjarmasin memerlukan regenerasi dari yang muda-muda agar bisa lebih enerjik dan kreatif berkegiatan. Sehingga dapat memberikan warna bagi sastra khususnya di Banjarmasin.
            Buka puasa bersama KSI Banjarmasin, selain di hadiri pengurusnya juga di hadiri oleh kepala TB Kalsel Noor Hidayat Sultan, ketua harian Dewan Kesenian Kalsel Drs Syarifuddin R, dan beberapa sastrawan dan sastrawati dari Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. ara/mb06

250811-kamis(jumat)-sahur seniman dgn wagub (Dm.270811)

Photo: mb/ara

PENGHARGAAN – Sepuluh seniman se-Kalsel yang mendapat penghargaan dan hadiah seni dari Gubernur Kalsel, pada acara Sahur Bersama Wakil Gubernur Kalsel

PUISI – Seniman-seniman cilik dari sanggar Kita Yunior membacakan puisi pada acara Sahur Bersama Wakil Gubernur Kalsel

Wagub Ingin Menginventarisir Seni Budaya Yang Bisa Di Eksploitasi

BANJARMASIN – Adanya keinginan kepala daerah untuk duduk sama-sama dengan seniman, silaturahmi dan membicarakan seni budaya, yang bisa di kembangkan lebih jauh, agar bisa di perkenalkan di luar daerah, adalah sesuatu yang menggembirakan bagi para seniman.
Seperti yang dikatakan Wakil Gubernur (Wagub) Kalsel H Rudy Resnawan, pada Sabtu (20/8) sekitar pukul tiga pagi, di gedung Mahligai Pancasila dalam acara Sahur Bersama Wakil Gubernur, tutur Rudy “saya mempunyai keinginan untuk berbuka puasa bersama dengan seniman, tetapi karena jadwal buka puasa sudah penuh dan tidak bisa lagi, maka setelah dibicarakan dengan beberapa tokoh seniman, akhirnya buka puasa bersama di ganti dengan sahur bersama.
            Tujuan dilaksanakannya sahur bersama ini, selain untuk bersilaturahmi, juga agar lebih mengenal seniman yang ada di Kalsel. Dalam kesempatan ini, saya juga menyampaikan permohonan maaf dari Gubernur Kalsel yang tidak bisa ikut bersama-sama bersaur di sini, karena saat ini sedang berada di Tanjung dalam rangka Safari Ramadhan” ujarnya.
Lanjut Wagub “dengan ilmu kita bisa bekerja, tapi dengan seni kita bisa mengenal keindahan, kelembutan dan kehangatan. Sebuah kota tanpa seni akan sunyi dan sepi, tetapi dengan adanya seni maka kota menjadi lebih indah.
Saya menginginkan, nanti kita duduk bersama, membicarakan apa-apa bidang seni tertentu yang bisa di eksploitasi sedemikian rupa, sehingga dapat membawa kesenian Banjar kita, lebih di kenal luas di luar daerah” katanya.
            Aktivitas Ramadhan H Rudy Resnawan dengan seniman, memang telah ia mulai semenjak menjabat sebagai wali kota Banjarbaru, dengan melaksanakan acara Tadarus Puisi, yang hingga sekarang masih di laksanakan di Banjarbaru.
Sahur Bersama Wakil Gubernur selain dihadiri para seniman yang ada di Banjarmasin, Batola, Banjarbaru dan Martapura juga dihadiri oleh seniman dari Tabalong. Selain itu hadir pula Kepala Disporbudpar Kalsel Drs H Muhandas HH, Kepala Taman Budaya Kalsel Noor Hidayat Sultan, Ketua Harian Dewan Kesenian Kalsel Drs Syarifuddin R, para pengurus LBB, anggota lembaga adat kesultanan Banjar, alim ulama, serta beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi yang ada di Banjarmasin.
            Selain sahur bersama, pada kesempatan tersebut juga di serahkan penghargaan dan hadiah seni dari Gubernur, untuk 10 seniman yang meliputi bidang seni teater, seni sastra, seni rupa, seni tari dan seni musik. Penyerahannya sendiri di wakili oleh Wagub. Kemudian diteruskan dengan pembacaan puisi dari seniman-seniman cilik. ara/mb05


250811-kamis(jumat)-17 ramadhan 17 agustus

Makna Agustus Dan Ramadhan Menuju Kemerdekaan Fitri

BANJARMASINAgustus dan Ramadhan, beberapa hari lagi berakhir. Sejauh mana para pejabat publik dan tokoh agama memaknai Agustus dan Ramadhan, baik secara pribadi maupun untuk umum. Apalagi bertepatannya 17 Ramadhan dan 17 Agustus, suatu fenomena langka yang hanya terjadi ratusan tahun lagi.
Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM, berkata “Ramadhan tahun ini sangat luar biasa, karena 58 tahun yang lalu, aku lahir pada 17 Agustus dan pada tahun ini bertepatan dengan 17 Ramadhan.
Kemerdekaan dan Ramadhan menjadi harapan bagi kita semua, dilimpahkannya rahmat yang lebih besar lagi oleh Allah SWT, untuk kedamaian dan kemakmuran daerah dan bangsa. Fenomena ini menurut ahli astronomi, baru bisa ditemui kembali sekitar 400 tahun mendatang” katanya pada Sabtu (20/8) yang lalu, saat buka puasa bersama alumni SMPN 6 Banjarmasin di gedung Mahligai Pancasila.
            Begitu pula Wakil Walikota Banjarbaru Drs H Ogi Fajar Nuzuli, juga berhadir, sebagai alumni SMPN 6 angkatan 1980, ia mengungkapkan “17 Agustus bagiku sangat mempunyai makna khusus, yang dalam secara pribadi, yang tidak pernah hilang, Karena 26 tahun yang lalu, saat itu aku bertugas sebagai pengibar bendera di istana Negara. Kemudian 17 Ramadhan adalah hari kelahiranku.
            Sedangkan untuk negeri ini, mudah-mudahan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik lagi, sehingga Idul Fitri mempunyai makna kemerdekaan yang sesungguhnya untuk bangsa” ujarnya.
Itulah pemaknaan dari dua kepala daerah. Merdeka berarti kesadaran dan berkemampuan mengubah keadaan diri menjadi lebih baik, untuk masing-masing pribadi maupun bagi masyarakat dan bangsa.
Kesadaran dan kemampuan mengubah diri itu perlu kejernihan dan kebersihan hati. Apalagi ketika peringatan kemerdekaan 17 Agustus yang ke-66 sekarang, dipertemukan dengan 17 Ramadhan, turunnya ajaran kebenaran berupa ayat Al Qur’an pertama, sekitar 1400 tahun yang lalu, yakni tahun 611 Masehi.
Sebelumnya dalam perbincangan Mata Banua dengan dua orang tokoh agama Islam, menceritakan:
Menurut Ketua MUI Banjarmasin Drs H Murjani Sani MAg, pada Jumat (19/8) sore, mengatakan “bertepatannya 17 Agustus dan 17 Ramadhan memang sangat menarik untuk direnungkan oleh masyarakat muslim di Indonesia. Karena Ramadhan tahun ini menjadi istemewa bagi Indonesia.
Merenungkan perjuangan para pahlawan dan mendoakan mereka, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini. Pada 17 Ramadhan 1400 tahun silam, ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra, dan filsafat Iqra sangat dalam. Iqra bukan hanya perintah membaca atau berzikir tapi bermakna mengingat, maka ingatlah jasa pahlawan.
Mudah-mudahan dengan bertepatannya dua 17 ini, ada titik terang dengan harapan agar negeri menjadi lebih baik” ujarnya.
Kemudian, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel H Sarbaini Khairat, pada Jumat (19/8) malam, mengatakan “secara konteks kenegaraan 17 Agustus adalah peringatan hari proklamasi negeri ini, dan dalam konteks 17 Ramadhan adalah hari turunnya Al Qur’an. Sedangkan Al Qur’an sangat banyak berisi petunjuk bagi semua manusia.
Petunjuknya itu sangat luar biasa, salah satu yang paling subtantif adalah menyampaikan pesan bahwa Islam itu rahmat bagi seluruh isi alam. Makna dari Rahmat seluruh isi alam, bahwa artinya Islam itu harus memberikan sesuatu, yang membuat masyarakat kita damai, dan tujuan kemerdekaan yang di cetuskan pada 17 Agustus 66 tahun yang lalu, adalah untuk menciptakan kedamaian.
Sekarang, bisa tidak masyarakt kita hidup damai, walau berbeda kepentingan, berbeda politik, kalau tidak bisa damai percuma menjadi muslim dan menjadi warga Negara.
Makna damai bukan tidak ada gejolak, tapi bisa saling mengisi, saling menolong, saling menghargai. Perbedaan itu adalah rahmat, dan itulah yang harus di maknai dalam 17 Ramadhan dan 17 Agustus, di jadikan perenungan sehingga setelah Ramadhan benar-benar bisa di wujudkan kedamainan tersebut di tengah masyarakat” pungkasnya. ara/mb05




240811-rabu(kamis)-Artikel Acep Zamzam Noor.1

Photo: mb/ara
PENYERAHAN - Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan Antologi Puisi Religius, saat menyerahkan dengan Wakil Gubernur Kalsel

Photo: Cover Antologi Puisi Religius Indonesia
Photo: Penyair Nasional, Acep Zamzam Noor

Kerumitan Dalam Memahami Puisi

BANJARMASIN – Memahami puisi mungkin sedikit lebih rumit dibanding memahami prosa. Kerumitan ini terjadi karena cara melukiskan pengalaman dalam puisi, biasanya berlapis-lapis, tidak langsung atau runtut seperti halnya dalam kebanyakan prosa” ungkap Acep Zamzam Noor, dalam pengantar Antologi Puisi Religius Indonesia (APRI), yang berjudul PARA KEKASIH - Mengurai Rasa Dalam Kata Bagi Jiwa Penyaksi
            Penerbitan APRI sendiri merupakan rangkaian lanjutan dari Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia 1431 H, Ramadhan tahun lalu, yang dilaksanakan oleh Kelompok Studi Seni Budaya Sosial Sastra (KeloS SeBSoS), yang hampir semua anggotanya dari FKIP Unlam Banjarmasin, di mana dalam support publikasi lombanya juga di bantu oleh Harian Pagi Mata Banua.
            Pada Sabtu (20/8) dalam acara Sahur Bersama Seniman dan Wakil Gubernur Kalsel di Gedung Mahligai Pancasila, kesempatan tersebut di jadikan oleh KeloS SeBSoS untuk menyerahkan antologi, pertama kalinya dengan Wakil Gubernur Kalsel H Rudy Resnawan.
            Kembali menyimak penjelasan penyair Nasional, Acep Zamzam Noor, dalam pengantar Antologi Puisi Religius Indonesia (APRI), yang mengulas tentang puisi.
            Menurut Acep ”penyair tidak sekedar memberikan keterangan dan penjelasan kepada pembacanya tentang apa yang ingin disampaikan, tapi juga memperhitungkan keindahan bunyi, keharmonisan irama, kekayaan imaji, ketepatan simbol, rancang bangun kata-kata dan lain sebagainya.
Bahasa dalam puisi bukan hanya sekedar alat untuk menyampaikan keterangan, tapi bahasa yang harus mempunyai kekuatan puitik. Puisi adalah jenis karya sastra yang menggunakan bahasa yang khas, bukan bahasa umum atau biasa.
Puisi biasanya menggunakan bahasa yang efektif, dengan kata-kata yang hemat namun mempunyai makna dan efek yang banyak. Puisi juga kadang menggunakan bahasa yang sugestif.
Kalau pun menggunakan bahasa umum dan biasa, tentu dengan pengungkapan yang tidak umum dan biasa. Dengan kata lain puisi adalah seni merangkai kata-kata, seni menciptakan keajaiban dalam berbahasa” katanya.
Lanjutnya “karena bahasanya yang khas, puisi kadang agak sulit untuk dipahami. Puisi tak bisa dibaca sambil lalu seperti halnya membaca prosa atau berita. Membaca puisi perlu keseriusan, kekhusyukan dan pengorbanan, dengan proses berlatih yang terus-menerus.
Puisi akan terasa gelap jika kita belum bisa mengakrabinya. Puisi akan menjadi terang kalau kita bisa menguak misterinya. Memang tidak semua puisi sulit dipahami. Ada banyak jenis puisi, dan masing-masing harus didekati dengan cara yang berbeda-beda.
Ada puisi yang berisi cerita tentang sesuatu, ada puisi yang hanya berisi luapan perasaan, ada puisi yang melukiskan suasana, ada puisi yang berisi gagasan atau ajaran, ada puisi yang sarat ide-ide abstrak, ada puisi yang penuh dengan permaianan irama seperti halnya mantra dan lain-lain.
Dan masing-masing jenis itu harus dibaca atau dipahami dengan pendekatan yang berlaianan pula” ujarnya. ara/mb05

240811-rabu(kamis)-antologi puisi relegius KeloS SeBSos (di Berita Kaki)


Photo: mb/ara
PENYERAHAN - Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan Antologi Puisi Religius, saat menyerahkan dengan Wakil Gubernur Kalsel

Photo: Cover Antologi Puisi Religius Indonesia

Jalan Terjal Antologi Puisi Para Kekasih

“KARYA puisi religius yang terkumpul dalam buku ini, sepintas terlihat sederhana. Tetapi justeru dari kesederhanaan itulah, buku ini mewariskan dan memelihara karya-karya puisi religius Indonesia.
Gagasan-gagasan segar, cerdas, dan kritis yang tertuang dalam puisi-puisi religius dalam buku ini, harus bisa dipetik sebagai sebuah inspirasi untuk memperkaya kreativitas kita dalam berkehidupan. Semoga buku ini menjadi sebuah karya yang membawa manfaat untuk memperkaya nilai-nilai kehidupan kita, demi meraih ridho ilahi” kata Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM, dalam kata sambutan untuk Antologi Puisi Religius Indonesia (APRI).
Selanjutnya, Wakil Walikota Banjarmasin H Irwan Anshari, berkomentar “kehadiran APRI ini, diharapkan dapat menambah khasanah perbendaharaan buku-buku yang memuat tentang beragam puisi, yang tentunya akan sangat bermanfaat, tidak hanya bagi para pecinta dan pencipta karya-karya puisi, namun juga untuk mereka yang ingin lebih mempelajari tentang puisi, khususnya bagi para mahasiswa dan pelajar.
Saya juga sangat apresiasi sekali dengan APRI, yang disusun sangat baik dan apik, yakni puisi dari beberapa penyair dan puisi dari peserta Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia. Judul yang ditampilkan juga sangat menarik, yakni PARA KEKASIH - Mengurai Rasa Dalam Kata Bagi Jiwa Penyaksi” ujarnya.
APRI di terbitkan oleh Kelompok Studi Seni Budaya Sosial Sastra (KeloS SeBSoS), yang hampir semua anggotanya dari FKIP Unlam Banjarmasin. APRI merupakan rangkaian dari kegiatan sebelumnya, yaitu Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia 1431 H, Ramadhan tahun lalu, di mana dalam support publikasi lombanya juga di bantu oleh Harian Pagi Mata Banua.
Penyair yang puisinya di muat dalam APRI, terdiri dari peyair nasional dan daerah, ada 10 penyair, yang sebagian diantaranya adalah Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Nur, Asrizal Nur dan Diah Hadaning. Kemudian, puisi sms, facebook, email dan puisi dari panitia sendiri, yang keseluruhannya ada 72 orang.
Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan APRI, pada Sabtu (20/8) dalam acara Sahur Bersama Seniman dan Wakil Gubernur Kalsel. Ia mengungkapkan “Satu tahun rentang waktu yang di jalani dari lomba tahun lalu, hingga APRI bisa diwujudkan Ramadhan ini.
Satu yang sangat penting untuk di ketahui, antologi ini bukan dengan tujuan komersil. Antologinya tidak di perjual belikan, tetapi atas bantuan donator yang menyumbangkan dananya, antologinya di bagikan untuk peserta lomba, penyair, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan di panti asuhan.
Banyak permasalahan dan kesulitan yang kami hadapi selama prosesnya, baik dari pendanaan untuk lomba dan cetak buku yang tidak mencukupi, maupun masalah pada percetakan. Tapi bukan berarti tidak banyak peminat dalam lomba Cipta Puisi SMS Religius, peminat yang mengirimkan puisinya sangat banyak sekali. Namun yang menjadi kendala, yaitu fasilitas dan dana itu sendiri.
Katakanlah ada empat jalan yang harus di lewati dalam prosesnya. Sepertiga jalan pertama, ketika persoalan lomba telah bisa di lewati, lagi-lagi terhalang oleh jurang dana. Kalau mencetak buku dengan jumlah yang sedikit, harganya akan lebih mahal, bahkan kalau pun di cetak, dan dibagikan untuk peserta sendiri tidak akan mencukupi” katanya.
Laila melanjutkan “kami panitia, sempat patah semangat. Tapi kakak-kakak di Art Partner yang membantu sejak awal proses kegiatan di mulai, terus mendorong kami agar untuk tetap maju menyelesaikannya.
Pada jalan ini, kakak kordinator di Komunitas Wartawan Seni Budaya & Pendidikan (Prasasti Pena), turut membantu mencarikan jalan keluar dan donator. Akhirnya terkumpul dana dari donator untuk mencetak antologi, sebesar Rp 4 juta untuk 300 eksemplar. Maka setengah jalan sudah di lalui, sedangkan rentang waktu semakin jauh, dan peserta lomba terus menanyakan bagaimana kelanjutan kegiatan.
Seper enam jalan berikutnya, kembali menghadapi dinding terjal, adanya permasalahan dari percetakan, satu bulan lebih draf antologi yang sudah diserahkan belum juga oleh percetakan di buat masternya, tentunya dengan beragam alasan kendala yang dilontarkan. Sekali lagi kakak-kakak di Art Parter yang mengambil alih, untuk membuatkan master antologinya melalui program Page Maker.
Setelah draf aster antologi siap di cetak, lagi-lagi dari percetakan terkendala dengan No ISBN  dari Perpustakaan Nasional, belum juga datang, hingga setelah dua bulan baru No ISBN di dapat. Dan di cetaklah pada minggu terkhir Juli 2011, yang selesai pada pertengahan Agustus 2011.
Seharusnya kami memang mengadakan launching, tapi karena dana kegiatannya sudah tidak mencukupi lagi, maka dana untuk launching itu di alihkan untuk biaya pengiriman antologi, kepada penyair dan peserta yang tersebar di seluruh Indonesia” ujarnya.
Menurut Laila “pagi ini, di gedung Mahligai Pancasila saat sahur bersama Wakil Gubernur (Wagub) Kalsel H Rudy Resnawan, anggaplah sebagai launching Antologi Puisi Para Kekasih. Karena donator utama dari kegiatan adalah bapak Gubernur Kalsel dan kami ingin menyerahkan dengan beliau antologinya. Tapi beliau berhalangan hadir, jadi penyerahan di wakili oleh Wagub.
Membagikan antologi untuk penyair dan peserta, memerlukan biaya pengiriman yang tidak sedikit, inilah jalan terakhir yang harus kami lalui. Untuk membesarkan semangat kami agar tidak menyerah, kakak koordinator Prasasti Pena mengatakan:
Sesuatu yang akan menjadi besar dan bertahan dalam waktu lama atau mungkin abadi hingga alam ini berakhir, tentunya tidak akan menemui jalan yang mudah dalam prosesnya” pungkas Laila mengutip nasehat. ara/mb02

230811-selasa(rabu)-Hukum penukaran uang (Dm.250811 di kolom ramadhan hal.16)

Photo: Drs H Murjani Sani MAg

Penukaran Uang Dalam Hukum Islam Di Bolehkan

BANJARMASIN – Semakin mendekati lebaran, terlihat di beberapa ruas jalan utama di Banjarmasin, tampak kian marak warga yang menawarkan jasa penukaran uang receh. Fenomena ini oleh beberapa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di luar Kalsel, ada yang mengharamkannya.
Sementara itu dalam perbincangan Mata Banua, dengan beberapa tokoh agama Islam di Banjarmasin, ternyata membolehkannya, tetapi ada syarat tertentu yang harus di penuhi, oleh si penawar jasa dan si penerima jasa.
Drs H Murjani Sani MAg, yang juga sebagai Ketua MUI Banjarmasin, pada Jumat (19/8) sore di tempat kediamannya di Pekapuran Raya, menjelaskan “secara resmi kelembagaan di bahas oleh MUI kota Banjarmasin memang tidak ada.
Tetapi karena saat ini, sedang marak terjadi di kota Banjarmasin, menurut saya itu bukan menjual atau menukar uang, hanya bahurup dengan uang pecahan di sertai tambahan sedikit upah atas uang jasa. Jadi hal ini hanya upah, maka sah-sah saja. Meskipun ada beberapa MUI di luar Kalsel yang mengharamkan.
Syarat dari upah uang jasa ini, dengan dasar secara suka rela atas pemberian dari pihak ke dua. Kalaupun akhirnya pihak pertama sebagai penawar jasa, ada menentukan berapa upah yang harus di bayar, asal pihak pertama rela dan tidak merugikan ke dua belah pihak, itupun sah saja, dengan niat dari pihak pertama hanya untuk membantu memudahkan pihak ke dua mendapatkan uang receh” ujarnya.
Pendapat dari H Murjani Sani, tidak berbeda dengan Prof Dr KH Artany Hasbi dari Rais Suriah PBNU, ia mengatakan “memang ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan, jadi ikut saja dengan yang membolehkan.
MUI Pusat sudah membolehkan, tapi bentuknya adalah jasa. Serta dia tetap meniatkan bahwa nilai uang itu tetap. Misalnya seratus ribu, maka kemudian setelah ditukar dengan uang receh jumlah nilainya tetap seratus ribu, kemudian ada memberi sebagai uang jasa, walau ada ketentuan uang jasa itu sekian rupiah” pungkasnya seusai buka puasa bersama PWNU Kalsel pada Jumat (19/8) malam. ara/mb06


220811-senin(selasa)-tetapkan rumusan budaya banjar

Rumusan Budaya Banjar Harus Segera Di Tetapkan

BANJARMASIN – Jangan membingungkan generasi muda, dengan perdebatan dan diskusi yang tiada ada kesudahannya, sementara rumusan, kesepakatan, dan ketetapannya tidak pernah di buat menjadi suatu dasar dalam bentuk buku untuk pengajaran.
            Kalau sudah ada buku yang dengan jelas menerangkan seni dan budaya Banjar, lalu di bagikan ke setiap sekolah dan perpustakaan, maka generasi muda bisa mempelajarinya dengan baik, inilah yang seharusnya dilakukan” ungkap Sirajul Huda dengan Mata Banua pada akhir Juli 2011 yang lalu.
            Apa yang dikatakan Sirajul Huda memang tidak berbeda dengan Prof MP Lambut, serta Mukhlis Maman. Perdebatan dan diskusi bukan hal yang penting lagi saat ini, karena malah menyebabkan semakin biasnya seni dan budaya Banjar.
Seperti halnya tentang sebutan sebagai orang Banjar, beragam definisi dilontarkan, hanya menjadi pro dan kontra yang berkepanjangan. Menurut Mukhlis “siapapun orangnya, entah dia dari etnis mana saja, bila ia mengaku sebagai orang Banjar, walau berada di luar tanah Banjar, maka ia adalah orang Banjar. Cukup itu sebagai definisi” katanya.
Pendapat Mukhlis diamini pula oleh Sirajul yang mengatakan “yang dicari itu orang Banjar ataukah etnis? Bila membicarakan etnis maka Banjar tidak ada. Kalau kita tarik keatas, yang namanya orang Kalimantan itu mesti Dayak, inilah akibatnya bila mencari etnis.
Kalau dikatakan identitas orang Banjar itu bahasa, tapi bahasa Banjar itu bahasa siapa? Kalau kita mengambil bahasa bukit, bukan bahasa Maanyan atau Ngaju, bahasa bukit itu yang seperti ini, yang sebenarnya biasa kita gunakan sehari-hari. Hingga garis akhirnya mesti kembali lagi ke Dayak, inilah akibatnya bila membicarakan etnis.
Jangan pula mencari asal dari tradisi, dari mana trasisi itu berasal, itu urusan orang bahari, misalnya seperti wayang gong yang dikatakan mengadaptasi wayang wong dari Jawa. Kalau sudah ada di Banjar sejak dulu, maka wayang gong memang punya orang Banjar” ujar mantan kepala Taman Budaya Kalsel dan Musium Lambung Mangkurat ini.
Rajul Menambahkan “bahkan tari baksa kembang pernah di klaim oleh Banyuwangi, sekarang kita lihat apa di sana masih ada, kalau tidak ada lagi, berarti tari baksa kembang itu milik orang Banjar.
Kemudian Kaltim pernah mengatakan bahwa mamanda punya mereka, setelah di selidiki yang memainkannya adalah orang Banjar juga. Walaupun di kaltim ada mamanda, di tambilahan ada mamanda, tapi setiap daerah mempunyai ciri khas masing-masing. Ciri khas itulah yang menjadi milik kita, itulah seni dan budaya Banjar.
            Tidak ada jalan lain, para pelaku , pemerhati dan akademisi seni dan budaya, atau seperti Lembaga Budaya Banjar (LBB) dan lembaga lainnya, harus duduk sama-sama tanpa mementingkan pendapat pribadi atau kepentingan sempit, mari buat rumusan yang jelas dan mudah di pahami, bagi generasi daerah kita mendatang” pungkasnya. ara/mb05

210811-minggu(senin)-buka puasa NU Kalsel (Dm.di kolom ramadhan hal.16)

Photo: mb/ara
PENCERAHAN – Buka puasa bersama NU Kalsel bersama Kapolda untuk memberikan pencerahan tentang Kamtibnas

NU Kalsel Buka Puasa Bersama Dengan Kapolda

BANJARMASIN – Nahdlatul Ulama (NU) Kalsel ingin memberikan pencerahan kepada warga NU di sini, bukan hanya tentang agama, tetapi juga yang menyangkut Kamtibnas.
            Oleh karena itu kami hari ini mengundang Kapolda Kalsel, untuk memberikan ceramah, sekaligus memprkenalkannya kepada warga nahdiyin” ungkap Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel H Sarbaini Khairat, seusai buka puasa bersama pada Sabtu (19/8) di yang juga di hadiri oleh guru-guru, pelajar, santri dan mahasiswa.
            Menurut H Saprudin “selanjutnya NU Kalsel juga akan mengadakan pertemuan dengan masyarakat pesantren, yang tentu juga akan di hadiri dan di isi oleh Kapolda” ujarnya.
Meskipun gerakan fundamentalis dan radikalisme di Kalsel sepi-sepi saja, tetapi gerakan mereka secara kasat mata gencar di mana-mana. Sebelum semuanya terjadi, NU akan berusaha mengantisifasinya, karena NU konsisten menjaga NKRI.
             Sebelumnya, sambil menanti waktu berbuka puasa, Kapolda Kalsel Brigjen H Saprudin, mengatakan “untuk menjaga kesatuan NKRI, dalam sejarah bangsa, kaum nahdiyinlah yang terdepan dan terbesar peran serta partisifasinya dalam menumpas pemberontakan, komunisme dll.
            Dewasa ini, semakin banyak faham-faham fundamentalisme dan radikalisme yang mengatasnamakan agama, padahal agama Islam itu rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, kita harus lebih waspada dan berhati-hati dengan gerakan-gerakan bawah tanah, munculnya kembali gerakan DITII dan terorisme, karena apabila kita tidak hati-hati akan sangat berbahaya dengan generasi kita mendatang” katanya.
Lanjutnya “ke hati-hatian yang mesti di mulai dari lingkungan keluarga, yaitu peran serta  orang tua untuk lebih memperhatikan setiap kegiatan anak-anaknya, agar tidak terpengaruh atau terlibat dengan ideologi yang menyimpang, serta ideologi radikalisme ataupun terlibat masalah narkoba.
Maka menjalin kerjasama yang baik antara masyarakat dan polisi, dan peran ulama dalam memberikan pendidikan terhadap masyarakat, menjadi faktor utama ketentraman daerah dan bangsa” pungkasnya. ara/mb06

210811-minggu(senin)-buka puasa alumni SMP6 Bjm (Dm.di kolom ramadhan hal.16)

Photo:mb/ara
BERBAGI – Buka puasa bersama alumni SMPN 6 tidak hanya untuk silaturahmi, tetapi juga melakukan pembagian paket sembako untuk fakir miskin

Buka Puasa Bersama IKA SMPN 6 Dengan Berbagi

BANJARMASIN – Di sini para alumni saling berbagi dengan guru-guru SMPN 6, yang sudah menunaikan masa pengabdian atau tugas, maupun berbagi dengan masyarakat. Kami bersyukur teman-teman masih punya kebersamaan ” ungkap Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM kepada wartawan seusai menghadiri Buka Puasa Bersama Alumni, Guru-guru, dan Pensiunan Guru, pada Sabtu (20/8) di gedung Mahligai Pancasila.
            Lanjutnya “walau masih banyak alumni SMPN 6 yang tidak bisa datang, karena kesibukan masing-masing. Tapi setidaknya hari ini bisa berkumpul dengan sejumlah alumni dan merupakan kebahagiaan, karena yang datang ini bukan cuma yang muslim tetapi yang non muslim juga berhadir.
Semoga ikatan silaturahmi kami bisa lebih erat lagi, walaupun berada jauh dimana saja” ujar Rudi Arifin yang juga sebagai alumni angkatan ke tiga pada 1968, dan sekaligus sebagai penasehat Ikatan Alumni (IKA) SMPN 6 Banjarmasin.
Kemudian, Wakil Walikota Banjarbaru Drs H Ogi Fajar Nuzuli yang juga berhadir, sebagai alumni angkatan 1980, mengatakan “SMPN 6 dulu tidak hanya mengajarkan tentang akademis, tapi juga mengisi kreatifitas siswa melalui kegiatan ekstrakulikulernya, terutama dalam olahraga. Oleh karena itu, sangat banyak kenangan masa sekolah dulu, yang sampai sekarang tidak pernah hilang” ujarnya.
            Sedangkan Ketua IKA SMPN 6 Hadi Nugraha Gema, mengatakan “kami mengutamakan kebersamaan, kalau satu orang mau mengubah dunia, tentunya sangat sulit, tapi kalau bersama-sama akan menjadi lebih dasyat. Sehingga bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar maupun luar” kata angkatan 1976 SMPN 6 ini.
            Dan mengenai berbagi, Irma Noviarti Aham SH MKn Ketua Panitia Buka Puasa Bersama, menjelaskan “hari ini kami menyerahkan pula paket bantuan kepada guru-guru SMPN 6 yang telah purna bakti.
Dan dari partisipasi para alumni telah terkumpul dana, yang digunakan untuk paket bantuan guru-guru SMPN 6 yang telah purna bakti, serta pada H-4 hingga H-1 akan di bagikan 1000 paket sembako untuk fakir miskin di kota Banjarmasin. Ini adalah bentuk dari kepedulian IKA untuk masyarakat yang tidak mampu” pungkasnya. ara/mb06

190811-jumat(sabtu)-penguburan ketua DPW PKB Kalsel (Dm.di Berita Kaki.hal 1)

Photo:mb/ara
JENAZAH – Sekalian tokoh masyarakat, fungsionaris DPW PKB Kalsel, serta keluarga almarhum, nampak berduka mengantarkan jenazah Mulyadi Mangin ke tempat peristirahatan terakhirnya

DPW PKB Kalsel Berduka

DPP PKB sangat berduka, dan merasa kehilangan atas putra terbaik PKB di Kalsel. Serta mohon maaf kepada keluarga almarhum, karena walaupun saat sakit, kami sempat menjenguk,  tapi saat berpulang ke Rahmatullah tidak sempat menemani” ungkap H Imam Nahrawi sekertaris jenderal DPP PKB, yang khusus datang melayat ke pemakaman Ketua DPW PKB Kalsel H Mulyadi Mangin SE, pada Jumat (19/8) sekitar pukul 14.30 wita di pemakaman umum Guntung Loa Banjarbaru, setelah jenazah di sholatkan di Masjid Agung Al Karomah Martapura.
Dengan sedikit tersendat menahan perasaannya, Nahrawi melanjutkan “dia sudah membuktikan kemampuannya memimpin DPW PKB Kalsel. Seperti yang kita lihat, dalam situsi PKB yang penuh masalah dan khususnya di DPW PKB Kalsel, Mulyadi mampu memimpin, serta memberikan semangat, motivasi sekaligus suritauladan kepada kader-kader PKB. Sikapnya yang penuh dengan kesabaran dan ketekunan, tidak pernah marah, hanya senyum, tapi ada solusi.
Itulah yang kami kagumi dan banggakan dari kepribadiannya. Semangatnya akan kami terus perjuangkan. Saya harap semua kader PKB juga meniru kebaikan-kebaikannya, model dan wataknya dalam memimpin partai DPW PKB di Kalsel.
Hari ini kami masih berduka, tentang pengganti kepemimpinan di DPW PKB Kalsel, setelah saya kembali ke Jakarta, akan kami bicarakan lebih lanjut dengan partai” katanya.
            Diantara yang turut menghadiri prosesi pemakaman, antara lain Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel H Sarbaini Khairat, Rosehan NB SH dan Wakil Walikota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli, serta fungsionaris DPW PKB Kalsel, ketua DPC PKB Banjarmasin, kader-kader PKB Kalsel, keluarga almarhum, sahabat dan rekan-rekan politiknya, serta beberapa tokoh masyarakat dari Banjarbaru dan Martapura.
            Hilyah Aulia sekertaris DPW PKB Kalsel, mengatakan “kami keluarga besar PKB Kalsel merasa sangat kehilangan, beliau sosok ketua yang bersahaja dan akrab sama semuanya” ujarnya seusai pemakaman.
            Sebelumnya mengenai keadaan kesehatan Mulyadi Mangin, Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi DPP PKB Ahmad Ni’am Salim, dalam acara peresmian sekretariat baru DPW PKB Kalsel di km 3 Banjarmasin, pada Senin (27/6) malam, mengatakan “saya sangat prihatin dengan kondisi Mulyadi Mangin, karena yang menemani maupun yang menjenguk saat dirumah sakit Surabaya, mereka agak panik, katanya Mulyadi seperti sudah mau pergi jauh dan tak akan kembali, saat itu kami berharap beliau sehat kembali, kalau memang Allah menghendaki lain, semoga beliau tetap khusnul khatimah” pungkasnya. ara/mb02

190811-jumat(sabtu)-harus ada ciri khas masjid banjar

Tempat Ibadah Harus Ada Ciri Khas Tradisional Banjar

BANJARMASIN – Tidak terhitung banyaknya tempat ibadah di Kalsel, khususnya masjid dan musholla, tapi sangat sedikit menampilkan ornament maupun bentuk bangunan, yang menunjukkan ciri khas tradisional Banjar.
Sejauh ini, yang banyak menampilkan ornament Banjar hanya pada masjid Sultan Suriansyah, kemudian bentuk kubah yang bisa dikategorikan mengambil unsur tradisional ada pada masjid Raya Sabilal Muhtadin.
Pemerhati budaya Banjar Mukhlis Maman,  pada Kamis (18/8) mengatakan “agama Islam sangat menghargai budaya daerah, alahkah indahnya bila masjid atau musholla menampilkan ornament atau bentuk bangunan yang mencirikan tradisional Banjar.
Kita bisa membandingkan dengan beberapa daerah di luar Kalimantan, misalnya Jawa yang kebanyakan tempat ibadahnya, selalu mempunyai ornament tradisional Jawa, baik berupa ukiran maupun bentuk bangunan, yang disesuaikan dengan tradisi masyarakat setempatnya.
Begitu pula banyak negara lain, misalnya masjid di Cina yang dengan harmonis memadukan nuansa Islam dengan seni bangunan cinanya. Apabila kita mau menilai, disinilah wujud dari kecintaan masyarakatnya terhadap seni budaya tradisionalnya.
Bagaimana dengan kita di Kalsel, yang katanya mau menunjukkan diri sebagai masyarakat Islami, tapi dewasa ini mengenyampingkan bentuk-bentuk bangunan tradisional, atau lebih bangga dengan bentuk bangunan yang diambil dari luar negeri sana. Tampak sekali tidak adanya harmonisasi antara budaya daerah setempat dengan Islam itu sendiri, paling tidak pada ciri bangunan tempat ibadahnya” katanya.
Menurutnya “masjid Sultan Suriansyah, wajar bila menggunakan ornament tradisional Banjar, karena didirikan pada era kerajaan Banjar yang memang menjaga nilai-nilai tradisional. Untuk bangunan baru, mungkin hanya pada masjid Raya Sabilal Muhtadin yang menggunakan bentuk kubah seperti tanggui. Dari sisi tradisional Banjar, tanggui adalah ciri khas peralatan orang Banjar yang berfungsi sebagai payung.
Tidak hanya masyarakat yang mesti menyadari ini, tapi juga sangat di perlukan kesadaran pemerintah daerah, untuk menunjukkan ciri khas daerah, agar kita benar-benar menjadi orang Banjar, bukan hanya bisa meniru-niru ornament dan bentuk bangunan dari Timur Tengah” ujarnya.
Dilain pihak, mengenai ciri khas daerah pada tempat ibadah, Prof MP Lambut berkomentar “kita sebagai orang Banjar harus terikan dengan bumi dimana kita berada, oleh karena itu kita mesti mempunyai ciri khas sendiri. Coba lihat mesjid, apa ciri khas mesjid orang Banjar, pasti ada, harus bisa ditemukan hal itu.
Kalau mau mengatakan, bahwa kita menjadikan Islam sebagai identitas, tunjukkalah bentuk ke Islaman orang Banjar. Ke Islaman yang membuat dia berbeda dengan Islamnya orang Aceh, orang Jawa, orang Madura bahkan orang Arab sama sekali” pungkasnya. ara/mb05

180811-kamis(jumat)-isu calon ketua DPW PKB Kalsel

Ketua DPW PKB Kalsel Harus Kader

BANJARMASIN - Kita lihat siapa orang yang pas untuk memimpin DPW PKB Kalsel, apabila DPW PKB Kalsel bisa maju dengan saya, maka saya akan maju, tidak karena maju untuk  mengejar masalah  pribadi.
Pemimpin yang seharusnya di DPW PKB Kalsel, adalah benar-benar kader PKB, bukan orang yang mengaku seperti model penyelamat” ungkap Drs H Bambang Heri Purnama ST, anggota DPR-RI dari Dapil DPR Kalsel I Komisi XI partai PKB, memberi komentar kepada Mata Banua, seusai buka puasa bersama, pada Senin (9/8) yang lalu di sekretariat DPW PKB Kalsel, km 3 Banjarmasin, saat di minta komentarnya calon ketua DPW PKB Kalsel mendatang.
H Imam Nahrawi sekertaris jenderal DPP PKB, yang juga menghadiri acara buka bersama tersebut, mengatakan “silahakan seluruh kader terbaik PKB untuk bersama-sama membesarkan partai. Persyaratannya harus bekerja, mau berjuang, mampu menyatukan seluruh kekuatan partai yang ada.
Karena DPP melihat untuk bulan Ramadhan ini, seluruh konsentrasi partai PKB di fokuskan untuk bersilaturahmi, buka puasa bersama, dan intropeksi diri, jadi agenda Muswil sengaja diundur oleh DPP PKB. Batasan waktu yang di berikan untuk melaksanakan Muswil, maksimal akhir September semua harus sudah kelar” ujarnya.
Keinginan Bambang agar ketua DPW PKB Kalsel berasal dari kader PKB, ternyata berbeda dengan peluang yang dinyatakan oleh Hilyah Aulia sekertaris DPW PKB Kalsel. Menurut Hilyah “walau bukan sebagai kader PKB, siapapun akan kami terima, asal berkometment untuk membesarkan PKB.
Sementara belum ada calon yang bersilaturahmi ke DPW PKB Kalsel, tapi sudah ada beberapa calon yang bersilaturahmi kebeberapa cabang. Sejauh ini ada beberapa nama yang mencuat seperti Drs H Idis Nurdin Halidi M AP bupati Tapin, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel H Sarbaini Khairat dan Rosehan NB SH” katanya.
Sebelumnya, mengenai di sebut-sebutnya nama Rosehan NB yang akan kembali memimpin DPW PKB Kalsel, Budi Wijaya ketua DPC PKB Banjarmasin, berkomentar “dengan kembalinya Rosehan itu adalah suatu berita besar bagi kader PKB, karena Rosehan adalah salah satu tokoh yang disegani di Kalsel, dan nama Rosehan dikalangan internal PKB masih tetap diperhitungkan.
            Serta tidak sedikit orang-orang yang menjadikan Rosehan sebagai panutan, tentunya akan mengembalikan suara-suara yang telah terpecah belah, untuk kembali ke PKB pada pemilu akan datang.
Dari yang aku dengar, bahwa Garda Bangsa PKB sebagai ormas pemuda PKB, juga mendukung kembalinya Rosehan, karena dengan kembalinya Rosehan, besar harapan Garda Bangsa DPW PKB Kalsel dapat menemukan kembali kejayaannya dan kembali disegani seperti saat rosehan memimpin PKB Kalsel dulu” pungkasnya. ara/mb05


180811-kamis(jumat)-H Matani (Dm.di Berita Kaki.hal 1)

Photo: H Matani

Ragam Keahlian Tradisional Dari Tokoh Tua Yang Tersisa

MASYARAKAT Banjar adalah kelompok sosial heterogen, yang terkonfigurasi dari berbagai suku bangsa dan ras, yang selama ratusan tahun telah menjalin kehidupan bersama, sehingga kemudian membentuk identitas etnis atau suku Banjar.
Diantara ras dari masyarakat Banjar adalah suku Dayak, yang hingga kini beberapa adat istiadanya, masih terpelihara hingga sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya daerah Kalsel.
Suku Dayak sendiri terbagi lagi menjadi beberapa suku, salah satunya adalah suku Dayak Bakumpai, yang mempunyai ritual pengobatan tradisional yang dinamakan Badewa. Sedangkan prosesi pengobatan tradisional dalam bahasa Banjar, disebut batatamba dan pelakunya di sebut tabib.
Secara umum ahli pengobatan tradisional pada suku Dayak disebut balian, dan pada suku Dayak Bakumpai ahli pengobatan Badewa di sebut Padewa.
Tidak banyak kini tersisa, tokoh tradisional daerah yang mempunyai beragam keahlian, baik dalam budaya tradisi suku maupun kesenian tradisional Banjar. Ragam keahlian yang memang bermula dari kecintaan akan kesenian tradisi daerah, yang sepatutnya dicontoh oleh generasi muda.
H Matani adalah salah satu tokoh keturunan dayak Bakumpai, yang bisa melakukan ritual pengobatan tradisional Badewa. Keahliannya bukan cuma sebagai Padewa, tetapi juga sebagai seniman tadisional. Pada sanggar Seni Sinar Pusaka Selidah yang dibinanya, terdapat beragam kesenian tradisional Kalsel, seperti wayang kulit, wayang gong, mamanda, kuda gepang, tari topeng, musik panting, dan beladiri tradisional Kalsel yaitu kuntau.
Dalam perbincangan Mata Banua dengan H Matani di tempat kediamannya yang telah ditempati selama 16 tahun, yaitu di jalan Arya Bujangga kelurahan Berangas Timur kecamatan Alalak Kabupaten Batola, pada akhir April yang lalu.
Dengan bahasa Banjar berlogat Dayak, ia menuturkan  “seorang pemain wayang gong harus bisa ilmu beladiri kuntau dan menari, dalam ilmu beladiri aku menguasai jurus bangkui dan simbing, yang aku pelajari dari empat orang guru yang semuanya sudah meninggal dunia, antara lain guru kuntau Marjunit, Jagau, dan Biye. Rata-rata dalam seni beladiri pertarungan, jurus-jurus kuntau sangat mematikan.
Kalau bermain wayang gong, aku berperan sebagai Hanoman Pancasona, apabila bermain mamanda, aku berperan sebagai menteri atau pembantu raja” kata H Matani yang sudah belajar kesenian semenjak umur 14 tahun.
H Matani atau dikenal dengan panggilan pak Rudi, dilahirkan pada 27 April enam puluh tahun yang lalu. Rudi adalah nama anak pertama H Matani. Sedangkan mengenai kemampuannya sebagai Padewa, sudah dikuasainya semenjak 30 tahun yang lalu, tepatnya semenjak 1981 dan lebih dari 4290 pasien yang sudah ia tangani. “Alhamdulillah semua sembuh setelah diobati” ujarnya.
Menurut H Matani, kemampuan Padewa yang dimilikinya diwarisi dari leluhur, ia adalah keturunan ke enam dari datu kutai dan datu radap (dua saudara). Pada generasi keluarganya sejak datu kutai, kemampuan Padewa selanjutnya diwarisi oleh Bukusin, lalu di warisi oleh H Jahri, hingga kemudian di warisi oleh H Matani.
Jalur pewarisan Padewa, tidak harus dari satu garis keturunan, dan hanya bisa di warisi oleh keturunan laki-laki saja, tapi dari keturunan perempuan juga bisa mewarisinya. Bisa saja dari keturunan pihak saudara melompat ke saudara yang lain, atau yang mulanya dari pihak ibu, kemudian diwarisi oleh keturunan pihak paman, tetapi semuanya masih bermula dari keturunan awal yang pertama sebagai Padewa yaitu datu Kutai.
Oleh karena itu, tidak semua keturunan datu Kutai, sanggup menjadi Padewa, karena memang harus mempunyai jiwa yang kuat, dan kata H Matani “urang nang kada jujur wan mancari harta haja kada kawa manjadi Padewa, sualnya gasan manulung urang kada bulih maminta bayaran. Bila maminta bayaran itu dingarani dukun, bagi urang Banjar mun manjadi dukun tu gawian nang kada baik. (orang yang tidak jujur tidak bisa menjadi Padewa, karena untuk menolong orang yang kesusahan tidak dibolehkan meminta bayaran. Apabila meminta bayaran itu di sebut dukun, di mata orang Banjar yang menjadi dukun adalah profesi yang tidak baik)” pungkasnya. ara/mb02

170811-rabu(kamis)-mimpi pasar seni dr Nanang MY

Photo: Nanang M Yus

Pasar Seni Jangan Cuma Sekedar Mimpi

BANJARMASIN – Kalau memang walikota Banjarmasin dan wakil walikota ingin membuat pasar seni, entah lokasinya di siring atau di tempat lain, sebenarnya itulah yang diharapkan oleh seniman Banjar, kami seniman tentunya sangat setuju sekali. Tapi jangan sampai itu hanya sebuah mimpi dan wacana” ujar Nanang M Yus, pelukis senior Kalsel yang lahir di Hulu Sungai Tengah pada 19 September 1945.
Dalam perbincangan Mata Banua tentang seni lukis Kalsel bersama Nanang, pada Senin (15/8) yang lalu, ia juga mengatakan “pasar seni adalah tempat seniman berjualan, jadi ada karya untuk dapur dan ada karya memang khusus untuk galeri.
Dengan adanya pasar seni, maka para seniman untuk  memajang karya, selain itu juga menjadi tempat masyarakat berekreasi, bisa melihat karya seniman dan terjadi interaksi, yang akhirnya akan terjadi negoisasi.
Aku pernah mengajukan proposal pasar seni atau tempat rekreasi seni, saya bikin gambarnya, tujuannya, maksudnya dll, tapi tidak ada tanggapan pemerintah daerah. Kemudian sekitar 1999, pernah pemerintah provinsi merencanakan membuat Banjarmasin Park.
Aku sudah melihat cetak birunya dan master plannya, dimana dalam Banjarmasin Park itu akan dibangun galeri dan pasar seni, tapi kemudian hingga sekarang tidak ada kabarnya lagi” ujarnya.
Menurut Nanang, yang sudah sering mengadakan pameran lukis di luar daerah Kalimantan ini, melanjutkan “seniman lukis tanpa ada tempat untuk memajang karyanya, baik berupa pasar seni atau sebuah gedung galeri, perkembangan seni lukis di Banjarmasin maupun Kalsel umumnya, maka tidak akan berkembang dengan baik, bila tidak ada support dari pemerintah daerah.
Karena tanpa dua hal tersebut, menjadi pelukis di Kalsel tidak bisa menjadi tumpuan hidup sebagai pekerjaan utama, dapur tidak akan menyala. Sehingga melukis hanya menjadi pekerjaan sampingan.
Tanpa pasar seni dan galeri lukis di daerah Kalsel, melukis tidak dapat menjadi pekerjaan full sebagai profesi profesional Oleh karena itu jangan salahkan pelukis bila tidak bisa aktif dalam melahirkan karya” pungkasnya. ara/mb05

170811-rabu(kamis)-Diah Yulianti tentang lukis kalsel (Dm.230811)

Photo: mb/ara
LUKISAN – Diah Yulianti dengan lukisannya yang berjudul Lintas Dan Penglihatan Batin, saat di pamerkan  dalam Barito Sign

Jangan Biarkan Kekayaan Budaya Kalsel Sia-Sia

BANJARMASIN - Setiap aku pameran lukis di Singapore, Maroko, Aljazair, Irlandia, Belanda, Canada dan Negara lainnya, saya selalu membawa nama daerah, bahwa saya orang Kalsel dan putra daerah Borneo” sms Diah Yulianti dengan bangga terhadap daerah kelahirannya, menjelang 17 Agustus 2011, ketika Mata Banua menanyakan kabarnya, pada Selasa (16/8) malam.
            Sebelumnya, dalam perbincangan dengan Diah Yulianti saat Pameran Karya Pilihan Galeri Nasional Indonesia  dan Perupa Kalsel yang di bertema Barito Sign bertempat di Gedung Warga Sari Taman Budaya Kalsel, pada Sabtu 16 Juli 2011 yang lalu, ia menceritakan “pada tahun 80-an, dari usia nol hingga 18 tahun, aku hidup dengan seni rupa di Kalimantan, saya adalah putri almarhum Budi Santoso yang juga pelukis.
            Dari usian 18 tahun yaitu pada 1992, aku sekolah di Institut Seni Indonesia, yang setelah lulus aku menetap di sana. Tapi aku sering bolak-balik antara Yogyakarta dan Banjarmasin, di manapun aku berada, aku tidak akan pernah bisa melupakan daerah kelahiranku sendiri” ujarnya.
            Diah yang lahir di Rantau pada 14 Juli 1973 ini kemudian mengatakan “Banjarmasin itu sangat luar biasa, penuh dengan kekayaan budaya, baik akar budaya yang berhubungan dengan dunia spiritual, dunia mistik dan juga akar sosial. Potensi Kalsel itu sangat besar, maka harus dilestarikan.
Aku bersyukur telah lahir sebagai orang Banjar, dan sebagai orang Banjar mesti pula mensyukuri tanah Banjar yang mempunyai warna kebudayaan beragam. Potensi objek-objek di Kalsel, yang akan dituangkan dalam karya, tidak pernah ada habisnya.
            Di kancah Nasional dan Internasional, secara umum selalu kudengungkan, bahwa Kalimantan adalah pulau terbesar di Indonesia, nilai eksotis Borneo sangat luar biasa, ada beragam suku, baik itu suku Dayak, Melayu, Bugis dll.
            Hari ini (Sabtu 16 Juli 2011) aku sangat senang bisa berpameran dengan kawan-kawan seniman lukis disini, baik yang muda maupun yang telah senior. Tapi masih banyak hal yang harus di benahi tentang dunia seni di Kalsel, agar kekayaan budayanya tidak menjadi sia-sia, di sinilah peran pemerintah daerah sangat di perlukan” pungkas pelukis kelahiran Kalsel yang telah sukses menjadi pelukis Nasional. ara/mb05

150811-senin(selasa)-F.Teknik Uniska syukuran (Dm.190811)

Photo: mb/ara
SYUKURAN – Dekan Fakultas Teknik Uniska Ir HM Muflih memotong nasi tumpeng menjelang acara buka puasa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan Fakultas Teknik yang sudah berusia 13 tahun

Faklultas Teknik Uniska Bertekad Mencetak Mahasiswa Mandiri

BANJARMASIN – Dukungan segenap civitas akademika menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemajuan sebuah fakultas, sehingga bisa lebih maju, dan berkembang bukan hanya bersaing ditingkat lokal maupun regional Kalimantan tapi juga secara nasional” ungkap Dekan Fakultas Teknik Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary, Ir HM Muflih pada Minggu (14/8) seusai berbuka puasa bersama dan syukuran atas usia 13 tahunnya usia Fakultas Teknik Uniska.
            Menurut Muflih “apresiasi masyarakat terhadap Fakultas Teknik Uniska dari tahun-ketahun terus meningkat peminatnya, maka sudah menjadi kewajiban bagi kami meningkatkan kualitas akademik menjadi lebih baik lagi.
            Di Fakultas Teknik Uniska ada 3 prodi, yaitu D3 Teknik Mesin, S1 Teknik Mesin dan S1 Teknik Informatika. D3 Teknik Mesin di dirikan pada 1998, namun belakangan karena trendnya belakangan orang lebih tertarik ke S1, maka di bukalah prodi S1 Teknik Mesin pada 2006 dan efektif menerima mahasiswa pada 2007.
            Dari segi jumlah mahasiswa, Uniska paling besar di antara Universitas swasta di Kalimantan. Dan untuk jumlah mahasiswa S1 Teknik Mesin saat ini, hampir 600 orang dan Teknik Informatika ada 1300 orang. Tahun ini, pada penerimaan mahasiswa baru untuk gelombang pertama, sudah tercatat ada 525 calon mahasiswa yang mendaftar.
            Tapi kami masih memberi kesempatan pendaftaran di gelombang kedua, yang telah di buka dari 1 Agustus tadi, saat ini tercatat ada 270 calom mahasiswa yang mendaftar” ujarnya.
Muflih mengatakan “Fakultas Teknik Uniska sendiri tidak hanya mengandalkan peluang kerja, karena jurusan kami kebetulan sesuai dengan trend yang sekarang, yaitu informatika dan mesin.
Lulusan S1 informatika memang banyak diperlukan, di mulai dari lingkungan swasta maupun pemerintahan. Kemudian lulusan S1 Mesin banyak diperlukan di industri pertambangan-pertambangan.
Untuk S1 mesin, 90 persen lulusan terserap oleh dunia kerja, sisanya berwirausaha. Sedangkan bidang informatika, dengan visi dan misinya disamping mencetak tenaga kerja yang kompeten juga mendidik mahasiswa untuk berwirausaha. Maka dengan bekal pengetahuannya yang di timba di kampus, mereka sudah bisa membuka usaha sendiri.
Bahkan kami tekadkan, dengan ilmu-ilmu yang kami berikan di bangku kuliah, bahwa sebelum lulus mereka sudah akan bisa mandiri dan kreatif menciptakan peluang kerja. Kami juga membuat program modal kerja, bagi mahasiswa yang mau berwirausaha. Berapa modal yang diberikan, tergantung proposal yang diajukan mahasiswa” pungkasnya. ara/mb05

150811-senin(selasa)-F.Teknik Uniska Buka puasa (Dm.180811 di kolom ramadhan hal.16)

Photo: mb/ara
BUKBER – Fakultas Teknik Uniska mengadakan buka puasa bersama (bukber) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT

Faklultas Teknik Uniska Buka Puasa Bersama Anak Yatim

BANJARMASIN – Berbuka puasa serta mensyukuri atas segala rahmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, menjadi semakin terasa nikmat dan hikmat saat dilakukan bersama-sama dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah.
Hal itulah yang dilakukan oleh seluruh civitas akademik Fakultas Teknik Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary, pada Minggu (14/8) kemaren. Sambil menanti waktu berbuka puasa, acara di isi dengan pembacaan syair-syair sholawat nabi, tausiah agama, serta menyerahkan santunan kepada anak yatim.
            M Agus Mawardi ketua panitia pelaksana menjelaskan “bantuan yang kami berikan antara lain sejumlah sajadah, kain sarung, kopiah dan kitab suci Al Qur’an, serta sedikit uang santunan. Ada sekitar 20 anak-anak Panti Asuhan Al Muddakir, yang turut serta berhadir dalam buka puasa ini.
            Panitia kegiatan dilakukan bersama-sama oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM FT) Uniska, Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala) Agas, dan dari divisi Band” kata mahasiswa semester III, Fakultas Teknik Jurusan Informatika Uniska Banjarmasin ini kepada Mata Banua.
            Sebelumnya, seusai berbuka puasa bersama Dekan Fakultas Teknik Ir HM Muflih, mengatakan “acara buka puasa bersama ini sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan Fakultas Teknik Uniska yang sudah 13 tahun berdiri, serta atas apresiasi masyarakat terhadap Fakultas Teknik Uniska yang dari tahun-ketahun terus meningkat peminatnya. Ungkapan rasa syukur yang juga di wujudkan dengan memberi bantuan dan santunan kepada anak-anak panti asuhan.
            Kebersamaan, saat berbuka puasa ini juga untuk menyatukan visi dan misi serta tekad, untuk lebih meningkatkan kualitas Fakultas Teknik Uniska, agar lebih maju dan berkembang lebih baik lagi, dan mampu bersaing tidak hanya ditingkat lokal, dan regional Kalimantan, tapi juga di tingkat nasional” pungkasnya. ara/mb06



140811-minggu(senin)-rencana muswil PKB (Dm.180811)

Photo: H Imam Nahrawi

Akhir September Muswil Semua DPW PKB Harus Kelar

BANJARMASIN - Karena PKB mengalami beberapa konflik dan terjadi pegantian pengurus di tengah jalan, sehingga menyebabkan beberapa DPW dan DPC PKB masih banyak yang belum melaksanakan Muswil dan Muscab” ungkap Ketua bidang organisasi dan kaderisasi DPP PKB Ahmad Ni’am Salim, pada Senin (27/6) malam, seusai peresmian sekretariat baru DPW PKB Kalsel di km 3 Banjarmasin.
            Menurut Ni’am “oleh karena itu DPP PKB mengeluarkan kebijakan nasional, bahwa sebelum verifikasi rampung, dimulai dari Maret sampai Oktober maka PKB tidak akan ada berfikir untuk Muswil atau Muscab.
Kalau ada DPC yang belum melakukan Muscab lalu habis di bulan-bulan ini (Juni 2011), maka masa kepengurusannya diperpanjang satu tahun, untuk persiapan melakukan Muscab di tahun berikutnya. Tapi ferifikasi sudah selesai, sekarang menuju 2012, PKB akan melakukan penataan kembali” ujarnya.
Kemudian pada Senin (9/8) malam yang lalu, seusai buka puasa bersama DPW dan DPC PKB se Kalsel, sekertaris jenderal DPP PKB H Imam Nahrawi, mempertegas kebijakan DPP PKB.
Menurut Imam “adanya DPW dan DPC PKB yang masih belum melakukan Muswil, ini murni karena persoalan teknis. Tetapi, untuk daerah-daerah yang belum melaksanakan Muswil DPW PKB, maka tidak boleh melaksanakan Muswil di bulan ini (Agustus 2011). Karena DPP melihat untuk bulan Ramadhan ini, seluruh konsentrasi partai PKB di fokuskan untuk bersilaturahmi, buka puasa bersama, dan intropeksi diri, jadi agenda Muswil sengaja diundur oleh DPP PKB.
Ada beberapa wilayah yang belum melaksanakan Muswil dan diundur waktunya, antara lain Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Kepulauan Riau dan Kalimantan Selatan. Batasan waktu yang di berikan untuk melaksanakan Muswil, maksimal akhir September semua harus sudah kelar” pungkasnya. ara/mb05


140811-minggu(senin)-PA Nur Azizah (Dm.230811)

Photo: mb/ara
SELALU – Anak-anak asuh PA Putri Nur Azizah sudah membiasakan diri untuk selalu melaksanakan tugas kebersihan dan selalu giat menabung

PA Putri Nur Azizah
Anak Asuh Lebih Sadar Menabung

SETIAP mempunyai uang atau diberi orang, dengan penuh kesadaran anak-anak menyerahkan kepada pengasuhnya untuk ditabungkan. Masing-masing anak mempunyai tabungan sendiri” ungkap Hj Nurul Hasanah (72) pembina Panti Asuhan (PA) Putri Nur Azizah, yang beralamat di Jl Cendrawasih, Gg I, Komplek Pembangunan I Ujung, Kelurahan Belitung Selatan.
             Bagaimana proses berdirinya panti, Hj Nurul menceritakan “PA Putri Nur Azizah didirikan pada 2000, tapi saat itu masih belum terdaftar, dan hanya masih mempunyai satu anak asuh, kemudian bertambah menjadi 2 anak, hingga 7 anak pada 2003.
Dan selama beberapa bulan, biaya hidup anak aku yang menanggungnya, dari uang simpanan. Kami tidak pernah meminta sumbangan, tapi setelah orang banyak tahu, sumbangan datang sendiri. Sempat tiga kali membeli beras sendiri, namun sekarang tidak pernah membeli beras lagi atau pun lauk dan lainnya, semuanya ada yang mengantar.
            Waktu itu ada kejadian yang menghebohkan, yaitu beberapa bulan setelah didirikan, ada yang meletakkan bayi perempuan di depan pintu, tanpa di ketahui siapa orang tuanya. Setelah kejadian itu, baru panti ini didaftarkan di Dinas Sosial. Sekarang bayi tersebut sudah berumur 9 tahun dan telah duduk di kelas 4 SD.
            Saat ini ada 30 anak putrid yang diasuh, dan dalam satu kamar tidur ada 4 anak. Dari 30 anak tadi, 2 anak masih belum sekolah, 11 anak di SD, 6 anak di SMP dan 11 anak di SMK/MA. Paling banyak anak-anak berasal dari daerah Hulu Sungai.
            PA Putri Nur Azizah hanya membiayai pendidikan anak-anak hingga lulus SMA/ sederajat dan kursus keterampilan, sesudahnya mereka harus mandiri. Kalau mereka mau kuliah, panti tidak sanggup membiayainya.” ujarnya.
            Mengenai besarnya bantuan per bulan menurut Hj Nurul “kalau dihitung-hitung pemasukan ada sekitar Rp10 juta perbulan, di banding dengan pengeluaran alhamdulillah ada saja sisanya sedikit, yang bisa disimpan untuk tabungan panti, apabila ada hal-hal yang mendesak atau ada perbaikan panti.
            Aku rasa mengasuh dan membina anak-anak gadis sedari  kecil atau SD lebih mudah, dari pada mengasuh anak yang masuk ke panti saat mau sekolah di SMP atau sudah duduk di bangku SMP, karena pada masa umur seperti itu lebih sulit untuk diarahkan.
Sedangkan kegiatan panti, setiap hari minggu ada ceramah agama. Untuk kegiatan kebersihan panti, mereka sendiri yang menyusun jadwalnya. Selama ini hampir tidak pernah ada yang melalaikan tugasnya, baik itu menyapu, mengepel dll” katanya.
Suci Ridayati (30) Administrasi Panti dan sekaligus sebagai pengasuh, menambahkan “Selama bulan Ramadhan, anak-anak tidak ada yang pulang kampung, apalagi banyak undangan dari warga untuk berbuka puasa bersama dan tentunya banyak yang memberi uang saku, oleh karena itu mereka lebih suka tinggal dipanti” pungkasnya. araska

120811-jumat(sabtu)-pembagian sembako berjejal

Photo: mb/ara
BERJEJAL – Operasi pasar yang dilakukan oleh BUMN di kantor kelurahan Kebun Bunga, penuh sesak di jejali warga

Warga Kebun Bunga Berebut Membeli Beras Murah

BANJARMASIN – Seusai sholat Jumat (12/8), sekitar pukul 14.00 Wita, walau tengah berpuasa dan siang yang panas menyengat, tidak membuat ratusan warga baik ibu-ibu maupun bapak-bapak, mengurungkan niat untuk berdesakan membeli beras, minyak goreng dan gula putih yang katanya harganya lebih murah dari pasar.
Operasi pasar yang di lakukan oleh BUMN di kantor kelurahan Kebun Bunga, kecamatan Banjarmasin Timur, jalan Kenanga Km 3.5 ini, dari pantauan Mata Banua, masih berlangsung hingga pukul 17.00 Wita. Sebagian warga yang tidak kuat berjejal, terpaksa menitipkan dengan warga lain, untuk mengambilkan, bahkan ada satu orang warga yang mengambilkan milik 5 warga.
Sebelumnya, salah seorang warga, Marzuki (65) yang baru saja lolos dari desakan manusia, menuturkan “pagi tadi kurang lebih pukul sembilan, ketua RT 39 di tempat kami membagikan karcis yang katanya bisa ditukarkan di kelurahan dengan beras 5 kg, 2 liter minyak goreng, dan 2 kg gula putih, dengan hanya Rp.55 ribu, yang kalau di pasar kurang lebih semuanya bisa mencapai Rp.75 ribu. Satu kepala keluarga mendapat satu karcis, kegiatan yang dilaksanakan oleh BUMN ini waktunya juga satu hari saja.
Di halaman kantor kelurahan, ada dua meja tempat untuk menstempel karcis, satu di sebelah kanan pintu kelurahan dan satunya lagi di sebelah kiri pintu kelurahan. Aku mengantri tadi siang setelah sholat Jumat, karena lebih dulu datang, jadi bisa langsung berada di dekat meja panitia yang akan menstempel karcis di sebelah kiri pintu kelurahan. Tapi aku lihat manusia dibelakangku sudah penuh sesak dan saling berjejal, sehingga aku tergencet di meja panitia.
Walau karcis sudah di stempel panitia, untuk keluar dari desakan manusia sangat sulit, sehingga harus bersusah payah kembali menerobos manusia. Seharusnya panitia, membuat jalur antrian, agar tidak terjadi tumpang tindih manusia seperti ini, yang baru datang dan mau menstempel karcis, dan yang sudah di stempel tapi mau keluar saling berdesakan.
Mengambil beras, minyak, dan gulanya yang dilakukan di depan pintu kelurahan, juga tidak mudah, berjejal, berebut dan berdesakan, untunglah tidak ada yang pingsan” pungkasnya. ara/mb05