Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label Wakil Walikota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wakil Walikota. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

250811-kamis(jumat)-17 ramadhan 17 agustus

Makna Agustus Dan Ramadhan Menuju Kemerdekaan Fitri

BANJARMASINAgustus dan Ramadhan, beberapa hari lagi berakhir. Sejauh mana para pejabat publik dan tokoh agama memaknai Agustus dan Ramadhan, baik secara pribadi maupun untuk umum. Apalagi bertepatannya 17 Ramadhan dan 17 Agustus, suatu fenomena langka yang hanya terjadi ratusan tahun lagi.
Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM, berkata “Ramadhan tahun ini sangat luar biasa, karena 58 tahun yang lalu, aku lahir pada 17 Agustus dan pada tahun ini bertepatan dengan 17 Ramadhan.
Kemerdekaan dan Ramadhan menjadi harapan bagi kita semua, dilimpahkannya rahmat yang lebih besar lagi oleh Allah SWT, untuk kedamaian dan kemakmuran daerah dan bangsa. Fenomena ini menurut ahli astronomi, baru bisa ditemui kembali sekitar 400 tahun mendatang” katanya pada Sabtu (20/8) yang lalu, saat buka puasa bersama alumni SMPN 6 Banjarmasin di gedung Mahligai Pancasila.
            Begitu pula Wakil Walikota Banjarbaru Drs H Ogi Fajar Nuzuli, juga berhadir, sebagai alumni SMPN 6 angkatan 1980, ia mengungkapkan “17 Agustus bagiku sangat mempunyai makna khusus, yang dalam secara pribadi, yang tidak pernah hilang, Karena 26 tahun yang lalu, saat itu aku bertugas sebagai pengibar bendera di istana Negara. Kemudian 17 Ramadhan adalah hari kelahiranku.
            Sedangkan untuk negeri ini, mudah-mudahan terjadi perubahan ke arah yang lebih baik lagi, sehingga Idul Fitri mempunyai makna kemerdekaan yang sesungguhnya untuk bangsa” ujarnya.
Itulah pemaknaan dari dua kepala daerah. Merdeka berarti kesadaran dan berkemampuan mengubah keadaan diri menjadi lebih baik, untuk masing-masing pribadi maupun bagi masyarakat dan bangsa.
Kesadaran dan kemampuan mengubah diri itu perlu kejernihan dan kebersihan hati. Apalagi ketika peringatan kemerdekaan 17 Agustus yang ke-66 sekarang, dipertemukan dengan 17 Ramadhan, turunnya ajaran kebenaran berupa ayat Al Qur’an pertama, sekitar 1400 tahun yang lalu, yakni tahun 611 Masehi.
Sebelumnya dalam perbincangan Mata Banua dengan dua orang tokoh agama Islam, menceritakan:
Menurut Ketua MUI Banjarmasin Drs H Murjani Sani MAg, pada Jumat (19/8) sore, mengatakan “bertepatannya 17 Agustus dan 17 Ramadhan memang sangat menarik untuk direnungkan oleh masyarakat muslim di Indonesia. Karena Ramadhan tahun ini menjadi istemewa bagi Indonesia.
Merenungkan perjuangan para pahlawan dan mendoakan mereka, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini. Pada 17 Ramadhan 1400 tahun silam, ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra, dan filsafat Iqra sangat dalam. Iqra bukan hanya perintah membaca atau berzikir tapi bermakna mengingat, maka ingatlah jasa pahlawan.
Mudah-mudahan dengan bertepatannya dua 17 ini, ada titik terang dengan harapan agar negeri menjadi lebih baik” ujarnya.
Kemudian, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel H Sarbaini Khairat, pada Jumat (19/8) malam, mengatakan “secara konteks kenegaraan 17 Agustus adalah peringatan hari proklamasi negeri ini, dan dalam konteks 17 Ramadhan adalah hari turunnya Al Qur’an. Sedangkan Al Qur’an sangat banyak berisi petunjuk bagi semua manusia.
Petunjuknya itu sangat luar biasa, salah satu yang paling subtantif adalah menyampaikan pesan bahwa Islam itu rahmat bagi seluruh isi alam. Makna dari Rahmat seluruh isi alam, bahwa artinya Islam itu harus memberikan sesuatu, yang membuat masyarakat kita damai, dan tujuan kemerdekaan yang di cetuskan pada 17 Agustus 66 tahun yang lalu, adalah untuk menciptakan kedamaian.
Sekarang, bisa tidak masyarakt kita hidup damai, walau berbeda kepentingan, berbeda politik, kalau tidak bisa damai percuma menjadi muslim dan menjadi warga Negara.
Makna damai bukan tidak ada gejolak, tapi bisa saling mengisi, saling menolong, saling menghargai. Perbedaan itu adalah rahmat, dan itulah yang harus di maknai dalam 17 Ramadhan dan 17 Agustus, di jadikan perenungan sehingga setelah Ramadhan benar-benar bisa di wujudkan kedamainan tersebut di tengah masyarakat” pungkasnya. ara/mb05




240811-rabu(kamis)-antologi puisi relegius KeloS SeBSos (di Berita Kaki)


Photo: mb/ara
PENYERAHAN - Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan Antologi Puisi Religius, saat menyerahkan dengan Wakil Gubernur Kalsel

Photo: Cover Antologi Puisi Religius Indonesia

Jalan Terjal Antologi Puisi Para Kekasih

“KARYA puisi religius yang terkumpul dalam buku ini, sepintas terlihat sederhana. Tetapi justeru dari kesederhanaan itulah, buku ini mewariskan dan memelihara karya-karya puisi religius Indonesia.
Gagasan-gagasan segar, cerdas, dan kritis yang tertuang dalam puisi-puisi religius dalam buku ini, harus bisa dipetik sebagai sebuah inspirasi untuk memperkaya kreativitas kita dalam berkehidupan. Semoga buku ini menjadi sebuah karya yang membawa manfaat untuk memperkaya nilai-nilai kehidupan kita, demi meraih ridho ilahi” kata Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM, dalam kata sambutan untuk Antologi Puisi Religius Indonesia (APRI).
Selanjutnya, Wakil Walikota Banjarmasin H Irwan Anshari, berkomentar “kehadiran APRI ini, diharapkan dapat menambah khasanah perbendaharaan buku-buku yang memuat tentang beragam puisi, yang tentunya akan sangat bermanfaat, tidak hanya bagi para pecinta dan pencipta karya-karya puisi, namun juga untuk mereka yang ingin lebih mempelajari tentang puisi, khususnya bagi para mahasiswa dan pelajar.
Saya juga sangat apresiasi sekali dengan APRI, yang disusun sangat baik dan apik, yakni puisi dari beberapa penyair dan puisi dari peserta Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia. Judul yang ditampilkan juga sangat menarik, yakni PARA KEKASIH - Mengurai Rasa Dalam Kata Bagi Jiwa Penyaksi” ujarnya.
APRI di terbitkan oleh Kelompok Studi Seni Budaya Sosial Sastra (KeloS SeBSoS), yang hampir semua anggotanya dari FKIP Unlam Banjarmasin. APRI merupakan rangkaian dari kegiatan sebelumnya, yaitu Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia 1431 H, Ramadhan tahun lalu, di mana dalam support publikasi lombanya juga di bantu oleh Harian Pagi Mata Banua.
Penyair yang puisinya di muat dalam APRI, terdiri dari peyair nasional dan daerah, ada 10 penyair, yang sebagian diantaranya adalah Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Nur, Asrizal Nur dan Diah Hadaning. Kemudian, puisi sms, facebook, email dan puisi dari panitia sendiri, yang keseluruhannya ada 72 orang.
Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan APRI, pada Sabtu (20/8) dalam acara Sahur Bersama Seniman dan Wakil Gubernur Kalsel. Ia mengungkapkan “Satu tahun rentang waktu yang di jalani dari lomba tahun lalu, hingga APRI bisa diwujudkan Ramadhan ini.
Satu yang sangat penting untuk di ketahui, antologi ini bukan dengan tujuan komersil. Antologinya tidak di perjual belikan, tetapi atas bantuan donator yang menyumbangkan dananya, antologinya di bagikan untuk peserta lomba, penyair, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan di panti asuhan.
Banyak permasalahan dan kesulitan yang kami hadapi selama prosesnya, baik dari pendanaan untuk lomba dan cetak buku yang tidak mencukupi, maupun masalah pada percetakan. Tapi bukan berarti tidak banyak peminat dalam lomba Cipta Puisi SMS Religius, peminat yang mengirimkan puisinya sangat banyak sekali. Namun yang menjadi kendala, yaitu fasilitas dan dana itu sendiri.
Katakanlah ada empat jalan yang harus di lewati dalam prosesnya. Sepertiga jalan pertama, ketika persoalan lomba telah bisa di lewati, lagi-lagi terhalang oleh jurang dana. Kalau mencetak buku dengan jumlah yang sedikit, harganya akan lebih mahal, bahkan kalau pun di cetak, dan dibagikan untuk peserta sendiri tidak akan mencukupi” katanya.
Laila melanjutkan “kami panitia, sempat patah semangat. Tapi kakak-kakak di Art Partner yang membantu sejak awal proses kegiatan di mulai, terus mendorong kami agar untuk tetap maju menyelesaikannya.
Pada jalan ini, kakak kordinator di Komunitas Wartawan Seni Budaya & Pendidikan (Prasasti Pena), turut membantu mencarikan jalan keluar dan donator. Akhirnya terkumpul dana dari donator untuk mencetak antologi, sebesar Rp 4 juta untuk 300 eksemplar. Maka setengah jalan sudah di lalui, sedangkan rentang waktu semakin jauh, dan peserta lomba terus menanyakan bagaimana kelanjutan kegiatan.
Seper enam jalan berikutnya, kembali menghadapi dinding terjal, adanya permasalahan dari percetakan, satu bulan lebih draf antologi yang sudah diserahkan belum juga oleh percetakan di buat masternya, tentunya dengan beragam alasan kendala yang dilontarkan. Sekali lagi kakak-kakak di Art Parter yang mengambil alih, untuk membuatkan master antologinya melalui program Page Maker.
Setelah draf aster antologi siap di cetak, lagi-lagi dari percetakan terkendala dengan No ISBN  dari Perpustakaan Nasional, belum juga datang, hingga setelah dua bulan baru No ISBN di dapat. Dan di cetaklah pada minggu terkhir Juli 2011, yang selesai pada pertengahan Agustus 2011.
Seharusnya kami memang mengadakan launching, tapi karena dana kegiatannya sudah tidak mencukupi lagi, maka dana untuk launching itu di alihkan untuk biaya pengiriman antologi, kepada penyair dan peserta yang tersebar di seluruh Indonesia” ujarnya.
Menurut Laila “pagi ini, di gedung Mahligai Pancasila saat sahur bersama Wakil Gubernur (Wagub) Kalsel H Rudy Resnawan, anggaplah sebagai launching Antologi Puisi Para Kekasih. Karena donator utama dari kegiatan adalah bapak Gubernur Kalsel dan kami ingin menyerahkan dengan beliau antologinya. Tapi beliau berhalangan hadir, jadi penyerahan di wakili oleh Wagub.
Membagikan antologi untuk penyair dan peserta, memerlukan biaya pengiriman yang tidak sedikit, inilah jalan terakhir yang harus kami lalui. Untuk membesarkan semangat kami agar tidak menyerah, kakak koordinator Prasasti Pena mengatakan:
Sesuatu yang akan menjadi besar dan bertahan dalam waktu lama atau mungkin abadi hingga alam ini berakhir, tentunya tidak akan menemui jalan yang mudah dalam prosesnya” pungkas Laila mengutip nasehat. ara/mb02

210811-minggu(senin)-buka puasa alumni SMP6 Bjm (Dm.di kolom ramadhan hal.16)

Photo:mb/ara
BERBAGI – Buka puasa bersama alumni SMPN 6 tidak hanya untuk silaturahmi, tetapi juga melakukan pembagian paket sembako untuk fakir miskin

Buka Puasa Bersama IKA SMPN 6 Dengan Berbagi

BANJARMASIN – Di sini para alumni saling berbagi dengan guru-guru SMPN 6, yang sudah menunaikan masa pengabdian atau tugas, maupun berbagi dengan masyarakat. Kami bersyukur teman-teman masih punya kebersamaan ” ungkap Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM kepada wartawan seusai menghadiri Buka Puasa Bersama Alumni, Guru-guru, dan Pensiunan Guru, pada Sabtu (20/8) di gedung Mahligai Pancasila.
            Lanjutnya “walau masih banyak alumni SMPN 6 yang tidak bisa datang, karena kesibukan masing-masing. Tapi setidaknya hari ini bisa berkumpul dengan sejumlah alumni dan merupakan kebahagiaan, karena yang datang ini bukan cuma yang muslim tetapi yang non muslim juga berhadir.
Semoga ikatan silaturahmi kami bisa lebih erat lagi, walaupun berada jauh dimana saja” ujar Rudi Arifin yang juga sebagai alumni angkatan ke tiga pada 1968, dan sekaligus sebagai penasehat Ikatan Alumni (IKA) SMPN 6 Banjarmasin.
Kemudian, Wakil Walikota Banjarbaru Drs H Ogi Fajar Nuzuli yang juga berhadir, sebagai alumni angkatan 1980, mengatakan “SMPN 6 dulu tidak hanya mengajarkan tentang akademis, tapi juga mengisi kreatifitas siswa melalui kegiatan ekstrakulikulernya, terutama dalam olahraga. Oleh karena itu, sangat banyak kenangan masa sekolah dulu, yang sampai sekarang tidak pernah hilang” ujarnya.
            Sedangkan Ketua IKA SMPN 6 Hadi Nugraha Gema, mengatakan “kami mengutamakan kebersamaan, kalau satu orang mau mengubah dunia, tentunya sangat sulit, tapi kalau bersama-sama akan menjadi lebih dasyat. Sehingga bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar maupun luar” kata angkatan 1976 SMPN 6 ini.
            Dan mengenai berbagi, Irma Noviarti Aham SH MKn Ketua Panitia Buka Puasa Bersama, menjelaskan “hari ini kami menyerahkan pula paket bantuan kepada guru-guru SMPN 6 yang telah purna bakti.
Dan dari partisipasi para alumni telah terkumpul dana, yang digunakan untuk paket bantuan guru-guru SMPN 6 yang telah purna bakti, serta pada H-4 hingga H-1 akan di bagikan 1000 paket sembako untuk fakir miskin di kota Banjarmasin. Ini adalah bentuk dari kepedulian IKA untuk masyarakat yang tidak mampu” pungkasnya. ara/mb06

010811-senin(selasa)-ogi & penerbitan

Photo: mahfuz

Membangung Masyarakat Melalui Menulis

BANJARBARU – “Kota pada dasarnya adalah kumpulan manusia yang memerlukan fasilitas seperti; gedung pemerintah, sekolah, plaza atau pasar. Pengertian ini menjadi sangat berbahaya jika logikanya dijungkir balikkan menjadi ‘Kota adalah kumpulan bangunan yang perlu di isi oleh manusia’.
            Pada pemahaman yang keblinger inilah manusia dijadikan objek dari sebuah kota. Artinya, kebijakan pembangunan dibuat, kemudian dicocok-cocokkan dengan manusia yang ada didalamnya” kata Ogi Fazar Nuzuli
            Selanjutnya menurut Ogi “kreatifitas adalah satu hal yang mudah diucapkan, namun relative sulit untuk dibentuk atau dibangun. Apalagi misalnya dengan slogan ‘Dengan Kesenian Kita Tingkatkan Kreatifitas Remaja’, adalah slogan yang benar-benar memerlukan kesungguhan untuk mewujudkannya.
            Kesungguhan yang dimaksud adalah keseriusan dalam pemikiran daya dan upaya, karena kalimat romantis atau heroik saja, belum cukup untuk mewujudkan cita-cita itu. Membangun kreatifitas masyarakat melalui kesenian, tak cukup dengan talenta. Diperlukan mekanisme manajerial untuk sampai pada titik pencapaian” itulah sebagian tulisan dalam kumpulan esai wakil walikota Banjarbaru ini, dalam bukunya yang berjudul Melawan Dengan Budaya.
            Sabtu (29/7) malam, di Minggu Raya Banjarbaru dalam acara launching novel karya Rico Hasyim yang berjudul Minggu Raya, dan dihadiri oleh tokoh-tokoh teman sepermainan Ogi angakatan tahun 70-an, dan para seniman Banjarbaru.
            Sebagai tanda persahabatan teman lama, saat itu Ogi juga menyerahkan buku esai yang telah diterbitkannya, kepada H Fachruddin Nor Ifansyah Pimpinan Redaksi Harian Pagi Mata Banua yang turut menghadiri acara pada malam tersebut.
            Di lain pihak, Ogi menuturkan lebih jauh kepada Mata Banua “esai saya bercerita tentang apa yang saya ketahui tentang seputar Banjarbaru. Isinya banyak bernada sinis dan tidak sepakat dengan pemerintah, hingga pada akhirnya saya sendiri menjadi bagian dari pemerintah. Tetapi itulah hasil pemikiran yang saya ungkapkan, terhadap ketidak puasan pada pemerintah saat itu, baik pembangunannya atau pun yang lainnya.
            Tetapi pemikiran, hanya menjadi pemikiran apabila tidak diupayakan sebuah jalan untuk mewujudkannya, maka bersama kawan-kawan yang sering nongkrong dan berdiskusi di Minggu Raya Banjarbaru, melalui penerbitan Mingguraya Press, impian menerbitkan buku tidak hanya menjadi impian lagi. Ini adalah sesuatu yang menggembirakan bagi kawan-kawan yang gemar menulis dan ingin diterbitkan.
            Lahirnya penerbitan buku, merupakan gerakan dari sisi sosial, kemudian dilanjutkan dengan dukungan dari pemerintah, karena dengan kita sering menulis atau menerbitkan suatu tulisan, berarti membangun suatu masyarakat” pungkasnya. ara/mb05
.

310711-minggu(senin)-launching novel minggu raya (Dm.di Cat.kaki.hal 1)

Photo: mahfuz

MGR Banjarbaru Memacu Sastra Melalui Penerbitan Buku

Kebersamaan dan saling mendukung menjadi modal untuk meningkatkan perkembangan sastra pada suatu kota.

SUASANA malam Minggu 30 Juli 2011 di Warung Seniman (WS) Kedai Kopi Nusantara, yang terletak disudut Minggu Raya seberang Lapangan Dr Murjani Banjarbaru, terlihat ramai dengan kehadiran tokoh-tokoh seni dan sastra, serta tokoh-tokoh era 70-an yang pernah mewarnai perjalanan dan perkembangan Minggu Raya hingga sekarang.
            Berkumpulnya tokoh-tokoh 70-an yang telah sukses dengan karier masing-masing, untuk melepas rentang waktu perpisahan, mengulang kisah kenakalan dan keceriaan masa remaja. Diantara tokoh-tokoh yang hadir pada malam itu antara lain Ogi Fajar Nuzuli, Dewa Pahuluan, Adi Yusfa, Tribuana, Fachruddin Nor Ifansyah, Arsyad Indradi, Hamami Adaby, Sirajul Huda, Ali Syamsudin Arsy, Abdurrahman El Husaini, HE Benyamine, dll.
            Bukan tanpa sebab hadirnya para tokoh tersebut, melainkan dalam rangka launching novel Rico Hasyim yang juga merupakan salah satu tokoh 70-an Minggu Raya. Pada waktu yang bersamaan, Ogi Fajar Nuzuli turut membagikan bukunya yang berjudul Melawan Dengan Budaya, begitu pula dengan Abdurrahman El Husaini yang membagikan kumpulan puisi bahasa Banjarnya yang berjudul Doa Banyu Mata.
            Mengenai novel yang dikarangnya, Rico Hasyim berkata “novel ini menceritakan pengalaman masa remaja kami di Banjarbaru pada 30 tahun yang lalu, ada 7 orang yang menjadi tokoh cerita, alur cerita 70 persen diangkat dari kisah nyata, sisanya adalah hiasan sebuah imajinasi.Minggu Raya menjadi kenangan kami, kenangan itulah yang saya tuangkan dalam novel yang berjudul Minggu Raya” ujarnya.
            Nico mengakui bahwa dorongan terbesar yang menyebabkan ia mengarang novel ini, adalah dari kawan-kawan sepermainan masa kecilnya, serta dari para sastrawan yang sering berkumpul dan berdiskusi di Warung Seniman Minggu Raya. “Namun novel ini tidak akan terwujud, apabila bukan karena peran serta MGR dengan penerbitan Minggu Raya Pres Banjarbaru” ungkapnya.
            Dilain pihak Dewa Pahuluan selaku Presiden MGR Banjarbaru, berkomentar “novel Rico Hasyim ini menceritakan kehidupan anak muda kota Banjarbaru pada masa penulisnya, bertutur tentang kesetiakawanan dan persaudaraan, keceriaan yang diwarnai dengan imajinasi dan kreativitas, yang ditulis secara ringan dan mengalir.
            Sementara itu, kebersamaan para penulis di Banjarbaru untuk saling mendukung dalam berkarya, itulah yang aku kagumi. Oleh karena itu, MGR akan selalu siap membantu para pelaku seni di Banjarbaru yang ingin membuat buku” pungkasnya. ara/mb02
           
           

140711-kamis(jumat)-TB.PKBSS-topeng carita

Photo: mb/ara
DISAKSIKAN - Irwan Anshari menampilkan kebolehannya memainkan gitar, seusai menyaksikan Penampilan Topeng Carita pada Sabtu malam, sedangkan penampilan musik Kuriding dan tari pada Minggu malam mewarnai panggung Gedung Balairungsari.

Topeng Carita Disaksikan Irwan Anshari

BANJARMASIN – Sebuah kebanggan apabila suatu penampilan seni, turut disaksikan oleh kepala daerah. Pada penampilan Topeng Carita dari Kabupaten Tapin, ternyata turut disaksikan oleh wakil walikota Banjarmasin H Irwan Anshari.
            Sabtu 9 Juli yang lalu pukul 21.00 Wita, dalam Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai (PKBSS) Taman Budaya (TB) Kalsel di Gedung Balairung Sari, diiringi tetabuhan gamelan Banjar, seorang lelaki berperut buncit, badan agak bungkuk, dan rambut beruban, layaknya sosok seorang kakek tua, terlihat lincah melakoni gerak dan perilaku Semar, tokoh punakawan dari para ksatria dalam dunia pewayangan. Uniknya, Semar yang ini mengisap rokok dari pipa. Ia juga muncul bersama Bagong, Petruk, Gareng dan tokoh pewayangan lain, dalam Topeng Carita.
            Sedangkan Minggu 10 Juli, lantunan musik Kuriding dari kabupaten Batola, mengiringi gemulai gerakan tujuh penari di panggung Gedung Balairung Sari. Musik Kuriding merupakan salah satu musik tradisional Kalsel yang kian langka, seperti halnya musik Karung-karung Panting, dan Kintunglit.
            Untuk Topeng Carita biasanya membawakan cerita Ramayana, seperti penculikan "Dewi Sinta" dan episode lainnya. Namun dalam penampilan di PKBSS malam itu, yang hanya diberi waktu satu jam, tidaklah cukup untuk membawakan cerita secara keseluruhan, sehingga hanya pada cerita pembukaan.
            Walaupun singkat, tapi cukup membuat penonton merasa terhibur oleh kelincahan gerak semar, punakawan dan wayang lainnya. Sehingga seusai penampilan, Irwan Anshari langsung naik kepanggung, untuk menyalami para pemain Topeng Carita.
            Kepada Mata Banua, Irwan Anshari berkata “topeng carita ini baru sekali saya lihat, karena jarang ditampilkan, maka mudah-mudahan dengan acara seperti ini kita bisa lebih mengenal kebudayaan daerah yang ada, saya lihat pemainnya sudah senior-senior, patut dipikirkan bagaimana caranya agar ada regenarasi dari yang muda.
            Saya harap, setiap ulang tahun daerah kabupaten/kota di Kalsel, juga menampilkan kesenian-kesenian tradisional seperti ini, agar lebih dikenal masyarakat” ujarnya.
            Setelah penampilan Topeng Carita dilanjutkan dengan pagelaran social control musik yang dibawakan oleh kelompok seni Suara Hati di Panggung Terbuka TB. Kali ini Irwan Anshari memperlihatkan kebolehannya dalam memetik gitar bersama pemain musik yang lain. ara/mb05
             

Jumat, 30 Desember 2011

050511-kamis(jumat)-250 juta DK Bjb


Photo: Ogi Fajar Nuzuli

DK Banjarbaru Mendapat Dana Kegiatan Seni 250 Juta

BANJARBARU – Dewan Kesenian (DK) tanpa dana yang pasti, akan sulit menjalankan program yang telah disusun. Walaupun dana kegiatan tersebut dititipkan di salah satu instansi tertentu, tetap saja harus membuat dan memasukkan proposal setiap kali kegiatan akan dilaksanakan.
            Sebuah langkah maju, dilakukan oleh DK Banjarbaru. Melalui usaha Ketua DK beserta para senimannya, telah berhasil memperjuangkan dana anggaran kegiatan untuk berkesenian. Tentunya hal ini tidak terlepas dari dukungan dan perhatian Pemda Banjarbaru terhadap para seniman.
            Sebelumnya, pada awal Januari 2011 dalam suatu perbincangan Mata Banua dengan Sirajul Huda di tempat kediamannya di Banjarbaru.
Ungkap Rajul (panggilan akrabnya) “pada awalnya dari program kegiatan DK Banjarbaru selama satu tahun yang diajukan ke Pemda, yang disetujui hanya untuk melaksanakan kegiatan Tadarus Puisi dan mengikuti kegiatan Aruh Sastra.
Dan dana tersebut dititipkan di Dinas Pariwisata Kota Banjarbaru, sebesar 15 juta. Yang apabila mau melaksanakan kegiatan harus mengajukan proposal dulu, tentu sangat merepotkan. Dengan dana hanya 15 juta, sangat sulit meningkatkan kesenian di Banjarbaru melalui kegiatan” katanya.
Lanjut Rajul “tapi kemudian, kita mendapat kabar dari Wakil Walikota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli bahwa untuk 2011, DK Banjarbaru mendapat anggaran sebesar 250 juta. Dana ini akan kita efektifkan, kemungkinan akan kita laksanakan workshop-workshop untuk meningkatkan kualitas seni di sekolah-sekolah. Selain itu juga akan kita laksanakan pagelaran-pagelaran seni.
Untuk workshop masih kita rumuskan, apakah pesertanya dari siswa atau langsung para gurunya, entah itu nantinya workshop teater atau yang lainnya. Kalau kita hitung dari 250 juta, maka dalam sebulan ada sekitar 20 juta untuk melaksanakan kegiatan, yang kalau dibanding dengan kegiatan yang lebih besar, tentunya masih minim.
Paling tidak, kita sudah bersyukur dengan adanya kepastian dana yang telah disediakan Pemda untuk kegiatan DK Banjarbaru. Sehingga kegiatan seni di Banjarbaru bisa lebih terarah dan terprogram dengan baik. Mengenai dana ini, Wakil Walikota Banjarbaru juga berpesan, agar dana dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan bisa dihemat, agar mencukupi” ujar tokoh tari Kalsel yang berdomisili di Banjarbaru ini.
Dilain pihak, saat di Temui Mata Banua dikantor Wakil Walikota Banjarbaru, pada awal April yang lalu, Ogi membenarkan mengenai adanya dana untuk DK Banjarbaru sebesar 250 juta.
Ogi mengatakan “250 juta tersebut adalah dana kegiatan dalam bentuk hibah, yang diperuntukkan bagi kegiatan DK Banjarbaru. Entah itu lomba puisi, berangkat mengikuti kegiatan dll. Sekarang tinggal DK Banjarbaru memasukkan program kerjanya selama 2011 kebagian keuangan, maka dana sudah bisa dicairkan.
Karena kesibukanku sebagai Wakil Walikota, maka untuk mengkordinir DK Banjarbaru akan kuserahkan kepada Sirajul Huda sebagai ketua pelaksana harian, dan aku hanya sebagai pengarah saja” ujarnya.
Ogi Fajar Nuzuli, sesekali dalam sebulan pada malam hari, ia menyempatkan diri turut hadir dan duduk bersama seniman. Aktifitas ini dilakukan Ogi di luar dari rutinitas kantor sebagai wakil wali kota Banjarbaru yang padat. Sebuah aktifitas yang dulu sering dilakukannya sebelum menjabat sebagai Wakil Walikota dan tetap dilakukan hingga saat ini.
Ogi yang juga sebagai ketua DK Banjarbaru, tetap berusaha menyerap suara dan aspirasi seniman khususnya dan masyarakat pada umumnya, sekaligus mengawasi situasi Minggu Raya. Seperti, perjumpaan Mata Banua beberapa kali dengan Ogi di Warung Seni Minggu Raya.
Menurut Ogi “saat ini, kita hidupkan dulu masyarakat seni di Banjarbaru, baru setelah itu kita mencoba tampil keluar.
Kehidupan berkesenian tidak bisa dibanding-bandingkan antara setiap zaman, karena setiap pelaku seni mempunyai zaman masing-masing, yang belum tentu menurut pelaku seni pada masa lalu, seni masa sekarang lebih baik dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu mari kita sama-sama membangun kesenian di kota Banjarbaru, dan  yang terpenting adalah  kehidupan berkesenian tetap berjalan” pungkasnya. ara/mb05.

070411-kamis(jumat)-buku ogi


Photo: Ogi Fajar Nuzuli

Ogi Fajar Nuzuli Terbitkan Buku

BANJARBARU – Keterbukaan seorang pemimpin memang harus diketahui masyarakatnya. Keterbukaan dalam pemikiran dan pendapat tentang suatu keadaan. Sehingga masyarakat luas mengenal lebih baik bagaimana sosok pemimpinnya sendiri. Hal inilah yang dilakukan oleh Wakil Walikota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli, melalui buku yang sedang disiapkannya untuk di terbitkan.
            Harie Insani Putra, koordinator buku Ogi, mengabarkan ” isi dari buku Ogi Fajar Nuzuli, merupan hasil pemikiran pribadi, tentang pandangan dan semangat membangun kearah yg lebih baik. Bentuk dari tulisan Ogi, lebih cenderung seperti sebuah esay, karena berisi tentang kritik, masalah dan penyelesaiannya.
Secara keseluruhan apa yang dia tuliskan adalah berdasarkan pengalaman pribadi, yg melihat lansung perkembangan di luar dari Banjarbaru khususnya dan Kalsel pada umumnya. Bahwa daerah kitapun mampu melakukan sesuatu yang lebih baik, seperti yang telah dilakukan oleh daerah lain atau Negara lain.
Buku yang berisi sebuah perbandingan menuju pembangunan daerah. Ogi sendiri banyak memberi semangat dan motivasi, bahwa kita mampu seperti mereka” ujarnya.
Harie melanjutkan “dalam bukunya Ogi berbicara tentang pengelolaan dan perawatan daerah serta sistem pemerintahan yang lebih baik, yang mencakup antara lain penataan kota, kesenian, olah raga, perkembangan teknologi dan yang terbanyak membicarakan pendidikan dan budaya.
Buku Ogi ini mempunyai ketebalan kurang lebih 250 halaman, dengan warna dasar sampul hitam, yang akan diterbitkan oleh Minggu Raya Pres Banjarbaru. Direncanakan terbit pada April sebanyak seribu eksemplar. 99 persen proses pengerjaannya sudah selesai, tinggal menunggu pengantar dari salah satu tokoh Banjarbaru, untuk judul buku Melawan Dengan Budaya” ungkapnya.
Dilain pihak, saat di Temui Mata Banua dikantor Wakil Wali Kota Banjarbaru, pada Rabu (6/4), Ogi mengatakan “buku ini merupakan pandangan aku tentang berbagai hal, tentang permasalahan dan solusi suatu keadaan.
Perlu diketahui, tulisanku dalam buku ini bukan sebagai Wakil Walikota ataupun sebagai ketua Dewan Kesenian Banjarbaru. Maupun sebagai seseorang dalam suatu jabatan yang pernah kupegang. Tapi murni secara pribadi sebagai masyarakat umum, tidak keterkaitan dengan jabatan.
Bukuku ini lebih banyak berbicara tentang pikiran dan hati. Sebelumnya, setelah aku dilantik sebagai Wakil Walikota Banjarbaru, pada 2010 yang lalu, aku berpikir bahwa masyarakat perlu tahu bagaimana pemikiranku. Karena itulah kususun buku ini, ditengah kesibukan tugas jabatan yang sangat banyak” pungkasnya. ara/mb05

Sabtu, 08 Oktober 2011

Festival Musik Underground Di Saksikan Wakil Walikota Banjarmasin

BANJARMASIN - Persepsi masyarakat yang menilai underground adalah musik yang keras dan brutal, membuat UKM MG.Poliban Present, menggelar Spirit Music Of South Borneo (SMOSB) pada malam Minggu (16/10) yang lalu, di halaman Taman Budaya Kalsel.
Arti musik buat komunitas underground tidak hanya sebatas seni, tapi juga menganggap musik sebagai karya seni. Musik menjadi alat untuk menyampaikan protes, kritik, kemarahan, dan kemuakan terhadap peraturan-peraturan yang ada. Suara musik yang kencang, berisik, dan berat dipadu dengan lirik yang kritis, merupakan ciri khas musik underground.
Kata underground pada periode 1990 sd 2004 sempat naik daun, dan jadi basis sayap kiri bagi kalangan musisi independen. Kata underground sendiri diterjemahkan sebagai bawah tanah, dengan arti khusus kebebasan buat berkarya.
Aliran musik dalam underground bisa sangat beragam, yang load voice, midlle voice sampai yang kalem pun bisa, karena dalam musik underground yang terpenting adalah  semangat dalam pembawaannya.
Menurut Ketua Umum UKM Musik Generation Poliban, Sandy Gustiawan ”yang mendasari kegiatan ini, yaitu menunjukkan kreatifitas generasi muda di Kalsel, didepan khalayak secara positif.
Kami ingin mengubah persepsi masyarakat, yang menyatakan bahwa musik underground itu musik yang keras, padahal musik underground itu adalah musik kebersamaan persatuan dan kesatuan
Event seperti ini sudah kami laksanakan dari tahun 2007, dan terus akan kami laksanakan tiap tahun. Tidak ada target berapa kali dalam setahun di selenggarakan, tergantung waktu kosong dari aktivitas kampus, dan kesepakatan dengan sponsor.
Kami tidak mengira, kalau bapak wakil walikota Banjarmasin, yang usai menyaksikan Dramatisai Puisi di Gedung Seni Balairung Sari, pulangnya mampir kesini. Dari yang beliau sampaikan, bahwa beliau sangat mendukung dan mensuport acara kami” ujarnya diantara hangar-bingar suara musik yang keras menghentak gendang telinga.
Dilain pihak, Kepala Bidang Kebudayaan Disparpora Kota Banjarmasin, Mujiyat. SSn MPd, berkomentar “Yang namanya kaula muda sifatnya yang penting kumpul-kumpul, secara subtantif esensinya tidak begitu diperhatikan, tapi  kumpul-kumpulnya itu yang penting bagi mereka.
Secara regenerasi apapun bentuknya sejarah pertunjukan itu harus dikembangkan, tergantung bagaimana kita memberikan ruang. Bila semuanya teragenda dengan rutin, itu sangat bagus“ ugkapnya seusai mengantar Wakil Walikota Banjarmasin H.Irwan Anshari  di SMOSB. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Selasa 19 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT

Selasa, 16 Agustus 2011

MB - Irwan Anshari Ingin Buat Malioboro Di Banjarmasin

BANJARMASIN – Wakil Walikota Banjarmasin H Irwan Anshari, saat memberikan  sambutan di Badundang Dalam Puisi Kota Seribu Sungai yang dilaksanakan di Kecamatan Banjarmasin Tengah, pada Jumat (1/10) malam yang lalu mengatakan, ingin membuat sebuah pasar seni seperti yang ada di jalan Malioboro Yogyakarta. Hal ini lahir dari wacana yang mengemuka, mengenai perlunya tempat terbuka untuk berkumpul para seniman selain dari Taman Budaya.
Menurut Irwan “bagi yang pernah datang ke Malioboro, tentunya akan selalu rindu ingin kembali kesana, kembali dapat merasakan susananya yang sangat khas. Suatu tempat dimana senimannya berkumpul menampilkan keahliannya masing-masing, tempat dimana karya-karya seni dipasarkan.
Oleh karena itu terbetik keinginan saya ingin membuat Malioboro di Banjarmasin, agar para senimannya bisa menampilkan dan memasarkan hasil karya seninya. Dan masyarakat bisa menikmati pasar seni khas Banjarmasin.
Dimana pasar seni itu dibangun, akan kita pikirkan sama-sama dan mencari tempatnya yang sesuai. Entah itu nantinya di Taman Budaya Banjarmasin, atau di pasar Sudimampir yang saat ini menjadi lapangan parkir. Pembuatan pasar seni ini, akan disinergikan dengan program pembangunan ruang terbuka hijau di Banjarmasin” katanya.
Sebelumnya, pada Kamis siang (30/8), Camat Banjarmasin Tengah H.Hermansyah, bercerita bahwa ia menginginkan ada suatu tempat di mana para seniman bisa bertemu sambil bersantai, katanya “saat ini kita punya Taman Budaya, tempat seniman bertemu. Tetapi Taman Budaya lebih sesuai untuk tempat latihan dan pertunjukan khusus.
Kita perlu tempat terbuka yang bisa didatangi siapa saja tanpa ada rasa enggan. Seperti Banjarbaru yang punya Minggu Raya, tempat bersantai masyarakat juga tempat mejeng anak muda. serta menjadi tempat bertemunya para seniman yang ingin bersantai dan berdiskusi, bahkan mengapresiasikan karyanya.
Potensi Banjarmasin sangat besar, jumlah senimannya disini juga lebih banyak, dibanding Banjarbaru yang senimannya lebih sedikit. Kalau Banjarbaru bisa kenapa Banjarmasin tidak. Mengenai lokasinya, bisa saja bekas lapangan Kamboja bisa menjadi alternatif untuk merealisasikan hal ini” ujarnya.
Ketika wacana camat Banjarmasin Tengah ini konfirmasikan dengan wakil walikota Banjarmasin, Anshari berkomentar “itu adalah pemikiran yang bagus, nantinya akan kita bicarakan lebih jauh.
Yang terpenting marilah kita meningkatkan dunia seni, lewat kegiatan-kegiatan budaya ataupun lomba-lomba, agar generasi muda seni lebih bersemangat dan dunia seni itu sendiri menjadi lebih hidup. Apa yang telah dilakukan di Kecamatan Banjar Tengah ini, dapat pula diikuti dan dilaksanakan oleh kecamatan lain yang ada dikota Banjarmasin” pungkasnya dengan penuh harapan. ara/mb05

-----------------
Di setor Senin, 04 Oktober 2010
Di muat Rabu, 06 Oktober 2010/ 27 Syawal 1431 H
-         dengan judul Ingin Bangun Malioboro di Banjarmasin
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5