Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Jumat, 24 Februari 2012

180112-rabu(kamis)-Peran Mahasiswa Mengawal Isu-Isu Daerah (Dm.200112).doc

Photo: Presiden Mahasiswa Unlam, M Pazri

Meningkatkan Peran Mahasiswa Mengawal Isu-Isu Daerah


BANJARMASIN – Peran utama mahasiswa sebagai tonggak utama bagi perubahan, apabila dibiarkan tanpa koordinasi yang bagus, akan menjadi tiada berarti. Harus ada gebrakan baru, yang akan memberikan penyegaran terhadap peran dan keorganisasian mahasiswa dalam mengawal isu-isu daerah.
Saat ini kerjasama antar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan pergerakan BEM sangat kurang, terutama pergerakan untuk menindak lanjuti isu daerah, seperti SDA, lingkungan, pemerintahan (eksekutif dan legislatif).
Sebelum BEM Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) perode kepengurusan 2012, lebih jauh mengawal isu-isu daerah. Maka merapikan keadaan internal keorganisasian di Unlam harus lebih dulu dilakukan.
“Apabila sudah ada kesepakatan bersama dengan ketua-ketua BEM Fakultas se Unlam, dilanjutkan dengan membentuk forum BEM se Unlam, forum Hima se Unlam, dan hal advokasi serta kebijakan yaitu pengawasan, budgeting dan legislasi, terkait aturan keorganisasian.
Unlam tidak cuma memikirkan di internalnya, kedepannya ada kontribusi minimal untuk masyarakat. Sehingga peran mahasiswa dalam mengawal isu-isu daerah, kembali hidup lagi” ungkap M Pazri, Presiden Mahasiswa (Presma) Unlam periode 2012, pada Rabu (18/1) sore dengan Mata Banua.
Menurutnya, setelah membenahi situasi internal keorganisasian, barulah mencari link dari luar kampus yang ada di Banjarmasin, Kalsel dan Nasional. Serta melanjutkan Forum BEM se Kalimantan (BEM SEKA). Baik itu rekomendasi dalam pertemuan pertama di Unlam, maupun dalam Kongres Pertama BEM SEKA di IAIN Antasari.
Menindak lanjuti terhadap advokasi isu-isu daerah, dan merumuskan lebih jauh lagi, sehingga ada feedback peran mahasiswa untuk mengawal isu-isu daerah.
Ia kembali menekankan terhadap dua rekomendasi yang telah disepakati BEM SEKA, dan BEM Unlam 2012 akan memodifikasi beberapa point tersebut. “Tidak sepenuhnya sama konsepnya, tapi beberapa gebrakan baru. Minimal bisa memberikan kontribusi yang nyata terhadap kondisi sebenarnya yang ada di Kalsel” ujarnya. ara/mb05

180112-rabu(kamis)-BEM Unlam 2012 Tekankan Kewirausahaan.doc

Photo: Presiden Mahasiswa Unlam, M Pazri

BEM Unlam 2012 Tekankan Kewirausahaan Mahasiswa


BANJARMASIN - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) perode kepengurusan 2012, akan melakukan pengimbangan kegiatan yang sifatnya rame-rame, lebih kepada kegiatan ilmiah, pekan ilmiah, dan yang utama kewirausahaan.
Hal ini diungkapkan oleh M Pazri, Presiden Mahasiswa (Presma) Unlam periode 2012, pada Rabu (18/1) sore dengan Mata Banua. Menurutnya, selain pengimbangan kegiatan dan kewirausahaan mahasiswa, BEM Unlam 2012 ingin merapikan keadaan internal keorganisasian lebih dulu.
Dengan kata lain, membuat program yang tidak muluk-muluk, mencari hal-hal yang realistis, menggenjot lebih kepada akademik dan prestasi. Ini yang akan digodok lebih mendalam lagi.
Merapikan dan merapatkan keadaan internal keorganisasian menjadi fondasi sinergisitas semua BEM Fakultas yang ada di Unlam dan BEM Unlam itu sendiri. Ada 10 Bem Fakultas di Unlam, sama-sama membangun terkait kebijakan di dalam dan di luar kampus.
Pazri mengakui, bahwa dunia mahasiswa di Kalsel tengah menghadapi krisis kepemimpinan, serta krisis keanggotaan organisasi, dan situasi ini terjadi pula di Unlam. Rata-rata mahasiswa enggan berorganisasi, sehingga menjadi mahasiswa Kupu, yaitu mahasiswa yang hanya kuliah dan pulang kerumah. Mahasiswa beranggapan kalau berorganisasi hanya merepotkan dan bisa membuat kuliah menjadi lambat selesai.
Bagaimana cara membangkitkan kembali minat mahasiswa berorganisasi inilah yang menjadi salah satu program dari BEM Unlam 2012. Pola yang akan dilakukan dengan memberikan gambaran yang nyata kepada mahasiswa.
Mahasiswa diberi gambaran dan tahu apa keuntungannya bila bergabung dalam organisasi, tanpa membuat nilai kuliahnya merosot. Sehingga ada keseimbangan, yaitu aktif berorganisasi tapi juga aktif di perkuliahan dan prestasi bisa jalan.
Salah satu caranya dengan membuat training organisasi yang menawarkan konsep baru, dari segi pendidikan karakter, moral, dan etikanya. Serta menekankan keteladanan dari para organisastor. “Jangan sampai ketua BEM, UKM, dan Hima, malah memberi teladan yang salah, baik diri segi manajemen dll. Teladan yang salah membuat mahasiswa enggan berorganisasi” ujar M Pazri, yang terpilih dan dilantik sebagai Presma pada akhir Desember 2011.
Dilain pihak, terkait pentingnya organisasi mahasiswa, Pembantu Rektor III Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi, mengatakan bahwa karakter manusia tidak mungkin dapat diperoleh dengan tiba-tiba, tapi harus diasah, antara lain diasah melalui organisasi kemahasiswaan, yang program-programnya sungguh-sungguh dapat membina karakter mahasiswa. ara/mb05

170112-Waspada Penawaran Fogging

Photo: drg Hj Diah Ratnani Praswati

Waspada Terhadap Penawaran Fogging


BANJARMASIN – Januari sd Maret adalah masa yang rentan terjadi penyebaran DB atau DBD. Terkadang masyarakat mencari jalan keluar yang mudah untuk menghindari DB atau DBD, yaitu dengan cara fogging (pengasapan nyamuk). Penawaran fogging inilah yang harus diwaspadai.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Banjarmasin drg Hj Diah Ratnani Praswati, kepada Mata Banua di ruang kerjanya, beberapa waktu yang lalu. Sekaligus juga untuk menjawab keluhan masyarakat, yang merasa wilayah tempat tinggalnya tidak dilakukan fogging oleh petugas Dinkes.
Menurutnya, ada masyarakat yang mau difogging atau ingin di fogging di lingkungan tempat tinggalnya. Fogging memang salah satu jalan keluar, tapi yang terpenting adalah pemberantasan sarang nyamuk dan menjaga kebersihan.
Dari keinginan masyarakat inilah yang menyebabkan munculnya fogging swasta, yang mengatas namakan Dinkes. Fogging ini dengan biaya/ membayar sekitar Rp 300 ribu atau lebih. “Dinkes sudah menemukan beberapa laporan dari masyarakat, mengenai fogging swasta ini” katanya.
Diah melanjutkan, kalaupun ada fogging, hanya pada tempat-tempat tertentu. Yaitu fogging sebelum masa penularan dan fogging sesudah masa penularan DB atau DBD. Apabila dengan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di masing-masing Kelurahan/ RT sudah dianggap cukup, dan berhasil memberantas jentik nyamuk, maka tidak perlu dilakukan fogging.
Di sinilah peran dari kader-kader jumantik yang telah di bentuk Dinkes Kota Banjarmasin, dalam memberikan penyuluhan tentang pentingnya melaksanakan 3M (menguras bak air, menutup tempat air, dan mengubur barang-barang bekas).
Pada sebuah kasus DBD yang ditemukan dalam suatu wilayah, Fogging yang dilakukan juga tidak secara menyeluruh. Namun hanya sekitar radius 100 sd 200 m disekitar tempat DBD positif tadi. Artinya 10 rumah dari rumah yang dinyatakan positif DBD. Karena memang sudah ada prosedur tetap secara nasional, mengikuti aturan dari kementrian kesehatan.
Fogging adalah racun dan sangat berbahaya, jadi harus hati-hati dilakukan. Fogging ada takarannya. Fogging yang sembarangan, akhirnya membuat nyamuk kebal atau malah meracuni masyarakat yang menghirup asapnya.
Fogging yang dilakukan Dinkes adalah gratis dan sudah dibiayaai oleh pemerintah daerah. Petugas tidak diperkenankan menerima upah atau pembayaran sepeserpun dari masyarakat.
“Apabila ada pihak yang menawarkan fogging atau petugas Dinkes yang meminta bayaran dari masyarakat, segera laporkan ke Puskesmas atau ke Dinkes” ujarnya. ara/mb05

170112-selasa(rabu)-bahasa banjar3.doc

Photo: Mukhlis Maman

Banyak Istilah Banjar Semakin Asing


BANJARMASIN – Beberapa istilah bahasa Banjar, semakin terdengar asing di telinga orang Banjar itu sendiri. Baik karena sudah tidak dipergunakan, maupun tidak diketahui lagi apa maksudnya.
Hal ini diungkapkan oleh pemerhati budaya Banjar, Mukhlis Maman pada Minggu (15/1) sore. Ia mencontohkan dua kata istilah dalam bahasa Banjar, seperti Mamang Papadah dan Pameo Huhulutan.
“Pada zaman dulu orang-orang tua sering memberikan Mamang Papadah dengan anak-anaknya, Mamang yang disusun dengan bahasa yang indah dan penuh dengan makna. Begitu pula dengan Pameo Huhulutan, mempunyai tata bahasa yang lembut atau tidak kasar, sehingga tidak menyinggung orang yang dituju” katanya.
Menurut Tajuddin Noor Ganie, Mamang Papadah adalah kata-kata dalam bahasa Banjar, yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk baris-baris puisi. Mamang Papadah dipergunakan sebagai sarana untuk memberikan pengertian, menganjurkan, melarang, mengajarkan suatu pegangan hidup, memberi petuah, dan menyuruh kepada suatu kebaikan.
Contoh Mamang Papadah, antara lain:
Adat urang main, ada kalah ada manang. Akal diakali, pikir dipikirakan. Allahhu wahadah, Inya mambari kada bawadah, Inya maambil kada bapadah. Badiri sadang baduduk sadang. Baik sakit di mata pada sakit di hati. Baik manyasal di hulu riam, pada manyasal sudah ka hilir riam. Halus-halus iwak, ganal-ganal biawak. Kada diam parang kada diam pisau. Kambang kada sakaki, kumbang kada saikung, alam kada batawing. Lain danau lain iwaknya. Raja lawan putri, pantul lawan amban. Dan tabarusuk batis kawa dicabut, tabarusuk basa jadi hual.
Sedangkan Pameo Huhulutan adalah kata-kata dalam bahasa Banjar yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk baris-baris puisi. Pameo Huhulutan dipergunakan sebagai sarana untuk mengolok-olok, mencaci-maki, mengejek, mengeritik, menghina, atau menyindir seseorang atau suatu keadaan.
Contoh Pameo Huhulutan, antara lain:
Ada kada malabihi, kada ada kada mangurangi. Ada sifat ada kijik. Asam janar, siapa marasa banar. Diam parang, diam pisau. Dicari sahari dimakan sahari. Di situ makan di situ bahira. Diulah baju kaganalan, diulah salawar kahalusan. Handak angkung langsat tadapat bangkung tiwadak. Ia kandang ia babi. Imbah satabul satabul pulang. Kada purun tikus, matan purun banar. Lagi di banua saurang kaya macan, sudah di banua urang kaya acan. Lain nang disurung, lain nang dikalang. Lancar paandir bahira maucir. Mana manyatang mana manyatupur. Mata kaya mata maling. Salagi bungkuk, salagi dihantak. Tabang nani rabah ka natu, tabang natu rabah ka nani. Tangga urang diulur, tangga saurang ditarik. Turun hayam naik hayam. Urang manyurung tungkat, inya manyurung galagar. Dan ya surak ya maling. ara/mb05

160112-senin(selasa)-Uniska membenahi fasilitas.doc

Photo: Rektor Uniska, Drs H Mustatul Anwar M MPd MKes

Uniska Terus Melakukan Pembenahan Fasilitas


BANJARMASIN – Terlihat Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjary, terus melakukan pembangunan dan pembenahan ruangan. Apa yang menjadi tujuan dalam pembenahan ini, terungkap dalam perbincangan dengan Rektor Uniska.
Menurut Rektor Uniska, Drs H Mustatul Anwar M MPd MKes, beberapa waktu yang lalu. Bahwa Universitas ada karena mahasiswa, dan mahasiswa adalah pemuda-pemuda yang diharapkan bisa melanjutkan masa depan. Sehingga masa depan inilah yang perlu dibenahi.
Ia mengakui, kalau masih banyak perhatian yang kurang diberikan dengan mahasiswa, karena Uniska masih dalam rangka melakukan pengembangan-pengembangan. Terutama mengenai pembenahan fasilitas perkuliahan, seperti adanya TV Plat dalam setiap ruangan dalam kuliah.
Khusus kemahasiswaan, bagi mahasiswa yang berprestasi dalam kegiatan, baik tingkat daerah, provinsi maupun nasional, akan memperoleh penghargaan dari Universitas. Sehingga semangat kreatifitas dan minat mahasiswa dalam organisasi dan kegiatan kampus, terus berkembang lebih baik lagi.
Selain itu, ia menginginkan agar mahasiswa melalui keorganisasian Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultasnya masing-masing, dapat menyampaikan keluhannya dengan secara tertulis. Keluhan secara tertulis lebih mudah dibawa dan dibicarakan, dalam rapat rektorat dengan pihak yayasan Uniska.
Bahkan Rektor Uniska, mempersilahkan mahasiswa menyampaikan keluhan langsung melalui SMS kepadanya. “Apabila hal itu dianggap penting dan mendesak, silahkan SMS saja secara langsung. Diharapkan dengan keterbukaan seperti ini, segala permasalahan bisa langsung ditindak lanjuti” ujarnya. ara/mb05

160112-senin(selasa)-bahasa banjar2.doc

Photo: Tajuddin Noor Ganie

Ragam Peribahasa Banjar


BANJARMASIN – Menjadikan bahasa Banjar dalam sebuah karya sastra dewasa ini, memang sangat berharga. Namun akan menjadi sangat sulit menggunakan bahasa Banjar dalam karya sastra, apabila tidak mengetahui ragam dari bahasa Banjar itu sendiri.
Menurut Tajuddin Noor Ganie, beberapa waktu yang lalu. Bahwa bahasa Banjar yang digunakan dalam sastra pada masa lalu, mempunyai karakteristik tersendiri. Baik dalam bentuk gurindam maupun kiasan.
Gurindam Banjar, istilah Gurindam tidak ada padanannya dalam bahasa Banjar. Sehubungan dengan itu istilah ini langsung diadopsi untuk memberi nama fenomena yang sama, dalam khasanah peribahasa Banjar berbentuk puisi.
Gurindam Banjar adalah kata-kata dalam bahasa Banjar yang disusun dalam bentuk 2 baris puisi bersajak akhir a-a baik secara vertikal maupun horisontal, kata-kata pada baris 1 berstatus sebagai syarat (sebab) dan kata-kata pada baris 2 berstatus sebagai jawaban (akibat).
Contoh Gurindam Banjar antara lain:
Banyak muntung bagawi kada manuntung. Kabanyakan guring awak kurus karing, Kabanyakan rangka habis kada sahama-hama. Ngalih mambuang batu di palatar, ngalih mambuang laku amun sudah dasar. Talalu harap, tatiharap. Talalu pilih, taplih bangkung. Talalu puji, takujiji. Dan Talalu runding takujihing.
Kiasan Banjar, Kias dalam bahasa Indonesia sama saja artinya dengan kias dalam bahasa Banjar. Kiasan Banjar adalah kata-kata kiasan dalam bahasa Banjar, yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk baris-baris puisi. Kiasan dipergunakan sebagai sarana untuk menyampaikan suatu maksud, namun secara tidak langsung kepada orang lain.
Contoh Kiasan Banjar antara lain:
Baduduk salah, badiri salah. Bapatah bilah, bapatah harang. Dalas jadi habu jadi harang. Disambat mati uma, kada disambat mati abah. Kada ada kukus amun kada ada api. Kaya kalambuai, naik kawa, turun kada kawa. Kaya bulan lawan bintang. Kuduk kada mati, ular kada kanyang. Lapas muntung harimau, masuk ka muntung buhaya. Makin tuha makin baminyak. Naik di kapuk turun di hanau. Naik di pinang turun di hanau. Naik di pinang turun di rukam. Pilanduk bisa kalumpanan lawan jarat, jarat kada kalumpanan lawan pilanduk. Salapik sakaguringan, sabantal sakalang gulu. Sarantang saruntung samuak saliur. Urang nangkanya, saurang gatahnya. Dan Wani manimbai, wani manajuni.
Di lain pihak, pemerhati budaya Banjar, Mukhlis Maman pada Minggu (15/1) sore. Ia menekankan pentingnya sebuah buku yang secara khusus membahas mengenai tata bahasa Banjar secara lengkap dan mendetail. “Dengan adanya buku ini, bisa menjadi pedoman bagi pengajaran bahasa daerah untuk muatan lokal di sekolah-sekolah” ujarnya. ara/mb05

150112-minggu(senin)-gumam asa2.doc

Photo: Sainul Hermawan

Aforisma Sastra Dalam Gumam


BANJARMASIN – Sastra dalam beragam alirannya, mempunyai genre yang bermacam-macam. Salah satu genre yang belakangan ini menjadi pembicaraan di Kalsel adalah Guman. Gumam sendiri diperkenalkan oleh Ali Syamsudin Arsi (ASA), penyair Kalsel yang telah menghasilkan empat buku genre Gumam.
Menurut Sainul Hermawan, beberapa waktu yang lalu, indikasi karakteristik wacana dalam buku kumpulan Gumam ASA, bisa disebut salah satu genre sastra yang bernama aforisma (aforisme).
Aforisma biasanya berupa pernyataan-pernyataan singkat berisi kebenaran subyektif yang disampaikan secara lisan, ataupun dengan tulisan prosais ataupun puitik yang mengulang-ulang kata, frase, atau kalimat.
Bahkan pengulangan kata, frase atau kalimat, ketiganya dipermainkan dengan bahasa yang tak tertata. Ini sebagai bentuk pembangkangan kreatif terhadap tatanan berbahasa untuk menyegarkan persepsi pembaca yang serba otomatis, dengan mengaduk-aduk konvensi bahasa dalam pikiran.
Dalam buku kumpulan gumam ASA, penulisnya sendiri menanyakan, apakah Gumam termasuk dalam salah satu jenis penulisan sastra? Meski ASA menyerahkan jawaban pada keputusan pembaca dalam segala kemungkinan tafsirnya. Kalau Emha Ainun Nadjib, menyederhanakan yang rumit. Sebaliknya Gumam merumitkan yang sederhana sekaligus yang rumit.
Sebagai sebuah permainan bahasa, makna Gumam akan dapat dipahami dengan baik jika tahu aturan mainnya. Untuk itulah dalam catatan kreatifnya ASA tampak mencoba menggagas aturan main.
Pertama, bahasa Gumam adalah bahasa yang liar. Kedua, dalam keliaran itu dia menyelipkan pesan yang dapat diraih secara keseluruhan, atau sebagian saja dalam bentuk percikan atau bias. Ketiga, akrobat kata-kata dalam Gumam ini bukan sekadar sarana melainkan juga sasaran.
Karakteristik teks Gumam, bisa di baca dari mana saja. Bisa dari awal, belakang, dari tengah, bisa satu baris atau beberapa baris, satu paragraph atau beberapa paragraph. Sebab peranti kohesi dan koherensi sebagai fasilititas tekstual untuk memahami hubungan antarkata, antarparagraf, dan antarbab, banyak diabaikan dan ini salah satu faktor penyebab rumitnya Gumam ASA.
Meski ada pertanyaan, mengapa dalam Gumam ASA tidak ditemukan tanda tanya, dan meski banyak seruan, tanda seru tak satupun digunakan.
Gumam ASA memang tak sepenuhnya patuh pada aturan penulisan tanda baca titik atau koma. Tampak keinginan penulis untuk tak terlalu sibuk menyandingkan sastra dan bahasa. ASA membiarkan estetika mengalir semaunya tanpa kekangan tata bahasa. Namun konvensi penulisan kata masih tetap dipatuhi.
Ada sebagian isi buku Gumam ASA yang bisa dibaca sebagai prosa naratif, dan sangat banyak berupa prosa lirik atau puisi yang ditampilkan dengan tifografi prosa, dan ada puisi dalam tifografi bait per-bait.
“Wajar jika ada pembaca, yang sudah terbiasa dengan bacaan yang mudah diterima persepsi, akan sulit memahami Gumam. Karena memang bahasa Gumam jungkir-balik, dan aneh, meski jika dipahami dengan pelan akan ditemukan pesan yang ingin disampaikan. Cara terbaik menikmati Gumam ASA, bukan dengan mulai menanyakan mana pangkal dan ujungnya. Nikmatilah seperti anak kecil menikmati hujan” ujar Sainul, staf pengajar FKIP Unlam ini. ara/mb05

150112-minggu(senin)-gumam asa1.doc

Photo:
- Ali Syamsudin Arsi
- Tiga buku kumpulan Gumam ASA antara lain berjudul Istana Daun Retak, Tubuh Di Hutan-Hutan, dan negeri benang pada Sekeping Papan.

Biarkan Gumam Memantulkan Dirinya Sendiri


BANJARMASIN – Pertanyaan besarnya, adakah Gumam ini masuk dalam salah satu jenis gaya penulisan, sebagai karya dalam jenis apa ia? Tanya Ali Syamsudin Arsi (ASA), beberapa waktu yang lalu dengan Mata Banua.
Kumpulan Gumam ASA telah terangkum dalam empat buku, yang akan dilanjutkan dengan buku Gumam berikutnya. Tiga buku kumpulan Gumam ASA antara lain berjudul Istana Daun Retak, Tubuh Di Hutan-Hutan, dan negeri benang pada Sekeping Papan.
Menurut penyair Kalsel ini, ia tidak akan menjawab pertanyaan itu. Tapi menyerahkan kepada kejelian pembaca. Serta tidak memaksakan diri, untuk masuk ke tata ruang mana pun dalam gaya sastra. Walaupun ia mengakui, ada dorongan dalam dirinya untuk memproklamasikan Gumam, agar masuk dalam ranah sastra.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, ASA membebaskan saja hasrat besar (memproklamasikan Gumam) ke udara luas. Melepaskan Gumam untuk memantulkan dirinya sendiri, menjadi sesuatu yang liar. Namun dalam keliaran pantulan Gumam, dapat ditarik percik-perciknya, dapat dipungut bias-biasnya. Karena sumber bias itu sendiri teramat jauh, tetapi tetap ada.
Pada Gumam Dari Istana Daun Retak, ASA menulis:
telunjuk mengarah pada satu titik, istana daun retak/ bertahun sudah mencoba membangun/ lembar-lembar daun, dari yang berserak/ kepada menghimpun/ telunjuk itu membuka garis-garis/ di telapak// lihat, ini pasukan cicak/ di belantara rimbun daun dan jejak-jejak/ dengan, suara-suara gemeretak/ dari helai-helai daun yang mulai retak/ kering, lusuh-lapuk menuju lenyap//
sebagaimana hikayat dari bangunan sebuah istana/ pasir-pasir menjadi perih di tempias-tempias kelopak/ buih-buih dari berjuta bahwa akan selesai bila telah berucap/ ternyata tidak segampang itu ternyata tidak semudah itu/ ternyata tanah tempat bangunan istana itu/ terbuat dari serak-serak rerimbun/ daun-daun tetak/ runtuh pun mengancam di puncak/ mahkota-mahkota, ya mahkota dari/ cuaca terkuak/ tak jua tak tak memperjelas gerak, tak//
lihat, ini pasukan manusia kelas paling miskin/ berduyun berjejal terinjak-injak/ dengar, gemuruh di dapur-dapur lusuh dan sakit/ pasukan perut yang selalu melilit// setelah ini, siap lagi tampil mendaftar/ istaqna daun retak// banjarbaru, 19 Januari 2010.
ASA berharap, dari secercah detil dalam Gumam, bisa memberikan inspirasi untuk melakukan sesuatu tindakan nyata yang lebih besar dan bermakna.
“Apapun bentuk peristiwa yang dialami oleh gumam dalam perjalanannya, tetaplah sebagai sebuah proses kreatif penulisan. Sebagai jejak telapak di sepanjang perjalanannya. Tidak perlu dipaksakan menjadi harus jelas, sebab ada beberapa petunjuk tersimpan sebagai rahasia. Seperti saat roda-roda kekuasaan digelindingkan, saat gerigi tajam kekuasaan dijalankan” ujarnya. ara/mb05

130112-jumat(sabtu)-rencana konsolidasi walhi (Dm.170112).doc

Batasan Wewenang Dijadikan Alasan


BANJARMASIN – Banyak harapan yang ditujukan kepada Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat dan instansi lainnya, untuk menyelesaikan konflik sosial, konflik agraria dan lingkungan. Namun harapan tersebut seringkali menjadi bias.
Hal ini diungkapkan oleh Rahmat Mulyadi atau yang biasa di panggil Abu, dari Divisi P3OR Walhi Kalsel, kepada Mata Banua seusai aksi demonstrasi damai menuntut Pemulihan Hak-Hak Rakyat, pada Kamis (12/1) siang, di depan DPRD Kalsel.
Menurut Abu, menanggapi alasan keterbatasan wewenang dan sistem yang diberikan oleh dua anggota DPRD Kalsel yang menemui demonstran.
Bahwa sistem yang dirancang dan disusun oleh pemerintah, terkadang hanya mengatasnamakan rakyat, dalam prakteknya malah tidak berpihak dengan rakyat. Tapi berpihak dengan pengusaha dan pemodal asing, yang hanya memberi keuntungan sepihak kepada kelompok-kelompok tertentu saja.
Akhirnya sistem kembali dijadikan alasan, pembenaran keterbatasan Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat dan instansi dalam mengatasi dan mengantisipasi konflik sosial, konflik agraria dan lingkungan.
Ketika Pemerintah diminta bertindak, pemerintah akan berlindung dengan undang-undang dan perda yang telah ditetapkan Dewan Perwakilan Rakyat. Saat Dewan Perwakilan Rakyat diminta penyelesaiannya, ia akan mengetengahkan alasan batasan wewenang. Sampai kapanpun persoalan tidak akan pernah selesai, bila saling melempar tanggung jawab.
Mediasi-mediasi yang dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat dalam menyelesaikan permasalahan seringkali hanya bersifat politis, atau hanya untuk mengulur waktu. Dikatakan bersifat politis, karena anggota Dewan Perwakilan Rakyat kekuasaannya dan keputusannya ada pada kebijakan partai masing-masing.
Sementara partai-partai yang mempunyai jaringan hingga tingkat paling dasar dalam masyarakat, tidak melakukan tindakan apa-apa dengan konflik sosial, konflik agraria dan lingkungan yang terjadi pada rakyat kecil. Kalaupun permasalahan itu dimunculkan oleh partai, sekali lagi itu hanya untuk mendongkrak kekuasanan politik.
Di sisi lain Abu mengakui, kalau selama ini gerakan-gerakan aktivis pro lingkungan dan demokrasi yang dapat menjaga pilar-pilar penyangga keberlangsungan kehidupan rakyat dan lingkungan tengah mengalami kelesuan dan kevakuman. Baik karena disebabkan permasalahan internal ataupun kurangnya konsolidasi.
Untuk tercapainya pengembalian kedaulatan rakyat atas pengelolaan sumber daya alam. “Maka perlu proses penyadaran akan pentingnya pergerakan melawan dominasi neoliberalisme. Pemahaman ideologi yang kuat yang disertai konsolidasi yang intensif oleh para penggerak pro lingkungan dan demokrasi. Kemudian menetapkan rencana advokasi dan kampanye lingkungan di 2012” ujarnya. ara/mb05

130112-jumat(sabtu)-ekologi diabaikan dr walhi (Dm.160112).doc

Pembangunan Berkeadilan Ekologi Masih Diabaikan


BANJARMASIN – Praktek pengelolaan sumber daya alam masih mengabaikan keberlanjutan pelayanan alam, keselamatan serta produktifitas rakyat. Padahal ketiga prinsip tersebut merupakan dasar utama pembangunan berlandaskan keadilan ekologi (ecological justice) dan pemenuhan HAM.
Hal ini diungkapkan oleh Dwitho Frasetiandy Manager Kampanye WALHI Kalsel, kepada Mata Banua seusai aksi demonstrasi damai menuntut Pemulihan Hak-Hak Rakyat, pada Kamis (12/1) siang, di depan DPRD Kalsel.
Menurut Andy, terabaikannya keberlanjutan pelayanan alam, keselamatan serta produktifitas rakyat, diakibatkan oleh corak, watak dan orientasi pembangunan di Indonesia pada umumnya dan daerah khususnya.
Yaitu corak, watak dan orientasi pembangunan yang tidak bersifat demokratis-kerakyatan. Corak produksinya masih eksploatif, liberal, memuja pasar, serta mengabaikan keselamatan lingkungan hidup dan rakyat.
Krisis dan bencana ekologis, bukanlah keadaan yang datang secara tiba-tiba. Ada struktur ketidakadilan yang bekerja secara sistematis di dalamnya. Evaluasi atas kondisi ini amat penting untuk dilakukan Negara. Agar ke depan, keadaan krisis dan bencana ekologis tidak terus melanda Indonesia dan daerah.
”Pemerintah pusat dan daerah patut bercermin dari gagalnya Negara memenuhi kepentingan ekonomi, sosial, budaya, keamanan dan kesejahteraan umum rakyat secara berkeadilan dan bermartabat” katanya.
Lanjut Andy, pada tingkat lokal, permasalahan lingkungan di Kalsel semakin bermunculan dari tahun ke tahun. Dari permasalahan klasik tentang kebijakan pemerintah, pertambangan, kehutanan, kelautan sampai pada permasalahan sampah dan sungai yang tak kunjung berakhir. Sementara isu lingkungan masih belum menjadi isu utama di tingkat masyarakat.
Selama 3 tahun terakhir setidaknya Walhi Kalsel mendapat banyak laporan kasus yang telah tercatat. Dan kasus yang sedang ditangani oleh Walhi Kalsel, terbagi menjadi 11 kasus pertambangan, 11 kasus perkebunan sawit dan kayu, 2 kasus pedagang kaki lima, serta 1 kasus penganiayaan.
“Fenomena ini terus berlangsung di beberapa kawasan, yakni kawasan Meratus, Banua Anam, perkotaan, hingga daerah pesisir dan kepulauan di Kotabaru dan Tanah Bumbu. Fenomea terkait pencemaran (udara, air, tanah), pelanggaran tata ruang, alih fungsi lahan, praktek eksploitasi, hingga pelanggaran hukum lingkungan” ujarnya. ara/mb05

120112-kamis(jumat)-aksi demo tanah walhi se indonesia vs DPRD.doc

DPRD Tidak Bisa Merubah Sistem Begitu Saja


BANJARMASIN – Kalaupun tuntutan demostran, agar DPR bisa menyelesaikan persoalan konflik sosial secepatnya. Itu tidak bisa dilakukan begitu saja, karena ada sistem yang mengatur fungsi dan wewenang masing-masing.
Hal ini diungkapkan oleh Riswandi, anggota DPRD Kalsel dari komisi III, seusai menemui demonstras aksi damai menuntut Pemulihan Hak-Hak Rakyat, pada pada Kamis (12/1) siang.
Demostran bergerak dari Universitas Lambung Mangkurat sekitar pukul 10.00 Wita, dan sampai di depan DPRD sekitar pukul 11.00 Wita. Setelah lebih dari satu jam demonstran berorasi bergantian dan sempat menampilkan tarian adat Balian dari suku Dayak, baru dua anggota DPRD Kalsel (Riswandi dan Faturrahman) menemui demostran.
Itupun setelah koordinator aksi (Rahmat Mulyadi atau yang biasa di panggil Abu, dari Divisi P3OR Walhi Kalsel) mengancam, apabila anggota DPRD Kalsel tidak bersedia keluar menemui demostran, maka demonstran akan masuk ke komplek DPRD Kalsel.
Terjadi perdebatan yang sengit antara demostran dengan Riswandi politisi dari PKS ini. Demostran menginginkan agar DPRD Kalsel segera bertindak mengatasi konflik sosial yang terjadi seperti yang ada dalam tuntutan. Serta jangan hanya memfasilitasinya saja, tapi mengambil tindakan yang nyata dan tegas.
Kepada Mata Banua, Riswandi menjelaskan bahwa persoalannya ada di sistem, Tentunya setiap DPR mempunyai kewenangan masing-masing, tidak bisa di tabrak tabrak begitu saja. DPR RI ada mempunyai kewenangan, DPRD Provinsi ada mempunyai kewenangan, begitu pula DPRD Kabupaten/kota. Selain itu, adapula kewenangan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
Ia mengakui kalau konflik sosial tidak hanya banyak terjadi di luar Kalsel, namun di Kalsel juga telah terjadi, begitu pula konflik mengenai agraria.
Menurutnya, wewenang yang menangani masalah hukum dan agraria ada pada DPRD Kalsel komisi I. “Kami merespon positif atas demonstrasi hari ini, ini bagian dari aspirasi masyarakat yang harus dihormati. Apabila kasus yang diajukan tersebut adalah rill, akan segera kami tindak lanjuti” ujarnya.
Tuntutan demostran yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Perlawanan Terhadap Perampasan Tanah-Tanah Rakyat.
Tuntutan untuk Kalsel antara lain:
Mendesak Gubernur Kalsel dan seluruh pemerintahan di Kalsel, untuk menghentikan ekspansi industri perkebunan besar sawit.
Mendesak DPRD Kalsel untuk proaktif melindungi tanah-tanah rakyat dari perampasan.
Tarik dan evaluasi seluruh aparat POLRI dan TNI di lokasi konflik sumber daya alam di Kalsel.
Mendesak Kapolda Kalsel untuk menindak oknum polisi yang terlibat bisnis disektor sumber daya alam.
Penegakan hukum bagi pelanggar Perda no 3 tahun 2008, tentang larangan penggunaan jalan Negara untuk batubara dan sawit.
Pengakuan hak-hak masyarakat adat, serta menolak rencana PT Adaro untuk peningkatan kapasitas produksi batubara menjadi 80 juta ton per tahun.
Tuntutan secara nasional yaitu:
Hentikan segala bentuk perampasan tanah rakyat yang mengatasnamakan investasi untuk pertumbuhan ekonomi, serta kembalikan tanah rakyat yang dirampas.
Mendesak pelaksanaan reforma agrarian sejati, sesuai amanat konstitusi 1945 dan UUPA tahun 1960.
Mendesak DPR RI untuk membentuk Pansus Penyelesaian Konflik Agraria.
Tarik dan evaluasi seluruh aparat POLRI dan TNI di lokasi konflik sumber daya alam. Serta bebaskan para pejuang rakyat yang ditahan dalam melawan perampasan tanah.
Mendesak DPR RI menggunakan hak interpelasinya untuk meminta pertanggung jawaban SBY atas terjadinya pelanggaran HAM berat di sektor agraria dan sumber daya alam.
Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati sesuai dengan Konsitusi 1945 dan UUPA 1960.
Melakukan Audit Legal dan Sosial Ekonomi terhadap segala Hak Guna Usaha (HGU) Perkebunan, Hak Guna Bangunan (HGB), SK Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Izin Usaha Pertambangan (IUP) baik kepada Swasta dan BUMN yang telah diberikan dan segera mencabutnya untuk kepentingan rakyat.
Membubarkan Perhutani dan memberikan hak yang lebih luas kepada rakyat, penduduk desa dan masyarakat adat dalam mengelola hutan.
Penegakan Hak Asasi Petani dengan cara mengesahkan RUU Perlindungan Hak Asasi Petani dan RUU Kedaulatan Pangan sesuai tuntutan rakyat.
Penegakan Hak Masyarakat Adat melalui Pengesahan RUU Pengakuan dan Perlindungan Hak – Hak Masyarakat Adat.
Pemulihan Hak dan Wewenang Desa dengan segera menyusun RUU Desa yang bertujuan memulihkan hak dan wewenang desa, atau nama lain yang sejenis dalam bidang ekonomi, politik hukum dan budaya.
Penegakan Hak Asasi Buruh dengan Menghentikan Politik Upah Murah dan Sistem Kerja Out Sourcing, serta membangun Industrialisasi Nasional.
Penegakan Hak Asasi Nelayan Tradisional, melalui perlindungan wilayah tangkap nelayan tradisional.
Pencabutan sejumlah UU yang telah mengakibatkan perampasan tanah yaitu : UU No.25/2007 Penanaman Modal, UU 41/1999 Kehutanan, UU 18/2004 Perkebunan, UU 7/2004 Sumber Daya Air, UU 27/2007 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU 4/2009 Minerba, UU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan.
Serta Pencabutan UUPPTKILN No.39 tahun 2004 dan Bentuk Undang-undang yang menjamin hak-hak Buruh Migran Indonesia dan Keluarganya. ara/mb05

120112-kamis(jumat)-aksi demo tanah walhi se indonesia (Dm.140112).doc

Empat Tahun Terakhir Ada 28 Kasus Konflik Sosial di Kalsel


BANJARMASIN – Dari 2008 sd 2012, di Kalsel tercatat 28 kasus konflik sosial yang terkait dengan perkebunan sawit. Kemudian ditambah lagi kasus-kasus pertambangan.
Hal ini diungkapkan Direktur Esekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Hegar Wahyu Hidayat, pada Kamis (12/1) pagi dengan Mata Banua, sebelum melakukan aksi demonstrasi damai menuntut Pemulihan Hak-Hak Rakyat yang dilaksanakan serentak di Indonesia.
Menurut Hegar, secara nasional telah diketahui beragam konflik sosial yang terjadi. Seperti peristiwa Mesuji, Riau, Jambi, Tiaka Sulawesi Tengah, Sorikmas di Sumatera Utara, Senyarang, Papua, dan terakhir pada 24 Desember 2011 di Sape Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat.
Dalam satu tahun terakhir di Indonesia terjadi setidaknya 103 kasus kekerasan aparat Negara terhadap rakyat, atas dasar konflik agraria. Konflik yang menempatkan rakyat sebagai korban.
Di Kalsel, baru-baru ini pada 2004 dan kasusnya belum tuntas. Terkait tewasnya Hardiansyah, seorang guru SD di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu yang dibantai karena memperjuangkan dampak pertambangan. Kemudian banjir dilingkar tambang Tanah Bumbu pada 2008 dan 2010 yang menewaskan warga. Kasus ini hanya sebagian kecil yang terekpos, masih banyak lagi kasus yang lainnya.
Pemerintah harus mencabut ijin-ijin perusahaan yang terlibat konflik. Karena pemberian ijin dan keberadaan perusahaan yang merusak dan berpotensi merusak sumber-sumber kehidupan rakyat, adalah faktor utama terjadinya konflik berdarah.
“Liberalisasi ijin tambang dan sawit, tidak hanya berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan. Namun sudah dalam tahap perampasan kawasan produksi rakyat, menuju kepada bencana ekologi. Menyempitnya ruang hidup dan kelola rakyat, menjadi penyebab utama terjadinya konflik agraria” katanya.
Sekitar pukul 10.00 Wita, para demonstran bergerak bersama-sama melakukan longmarch dimulai dari Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), kemudian stop di titik Polda dan DPRD.
Demonstran terdiri dari Walhi Kalsel, AMAN Kalsel, LK3 Banjarmasin, Komunitas SUMPIT Banjarbaru, Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru, Forum Pedagang Kaki Lima Murjani (FORKAMU) Banjarbaru, Kompas Borneo Unlam, dan HMI Kalsel.
Kemudian BEM Uniska, BEM Unlam, BEM Fakultas Pertanian Unlam, BEM Fakultas Hukum Unlam, Mapala Graminea Fakultas Pertanian Unlam, Mapala Justitia Fakultas Hukum Unlam, Mapala Apache STMIK Banjarbaru, MAHIPA STAI Darussalam Martapura, dan MARYSA Universitas Achmad Yani (UVAYA) Banjarbaru. ara/mb05

110112-rabu(kamis)-rencana demo tanah walhi se indonesia.doc

Photo: Dwitho Frasetiandy

Demonstrasi Hak Tanah Serentak di Indonesia


BANJARMASIN – Kamis 12 Januari 2012, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia bersama organisasi Petani, Buruh, Masyarakat Adat, Perempuan, Pemuda Mahasiswa, Perangkat Pemerintahan Desa, dan NGO, akan melakukan aksi serentak di seluruh Indonesia.
Hal ini diungkapkan oleh Dwitho Frasetiandy Manager Kampanye WALHI Kalsel, via telepon pada Rabu (11/1) siang, dengan Mata Banua. Aksi ini dilaksanakan oleh aliansi 77 organisasi yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat Indonesia.
Di Banjarmasin, rencananya pada pukul 10.00 Wita, akan dilakukan longmarch dimulai dari Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), kemudian stop di titik Polda dan DPRD.
Menurut Andy, banyak terjadi konflik lahan antar masyarakat dan perusahaan perkebunan kelapa sawit, hingga konflik antar sektor perkebunan berhadapan dengan sektor pertambangan.
“Dengan kata lain bahwa semakin tinggi perluasan perkebunan sawit maka akan semakin tinggi pula persoalan konflik lahan yang terjadi” ujarnya.
Tujuan aksi adalah Menyuarakan Perlawanan dan Membentuk Aliansi Gerakan Perlawanan Terhadap Perampasan Tanah-Tanah Rakyat, yang difasilitasi oleh rezim SBY-Boediono di seluruh Indonesia.
Anggota Sekretariat Bersama, antara lain Walhi, Serikat Petani Indonesia (SPI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Serikat Petani Pasundan (SPP), Parade Nusantara, Persatuan Pergerakan Petani Indonesia (P31), Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS). Asosiasi Tani Nusantara (ASTANU), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Serikat Hijau Indonesia (SHI), Paguyuban Petani Hutan Jawa (PPHJ), Serikat Petani Merdeka (Setam - Cilacap), Rumah Tani Indonesia (RTI), Gabungan Serikat Buruh Independent (GSBI), dan Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).
Kemudian, Federasi Perjuangan Buruh Jabodetabek (FPBJ), Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI-Tangerang), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), KPO - PRP, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), GreenPeace, KONTRAS, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Sawit Watch, Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (PERGERAKAN), Persatuan Perjuangan Indonesia (PPI), ELSAM, LBH Jakarta, JKPP, IHCS, Koalisi Anti Utang (KAU), KpSHK, dan Formada NTT.
Selanjutnya, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII), Liga Mahasiswa Nasional Demokratik (LMND), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Front Aksi Mahasiswa (FAM Indonesia), Liga Pemuda Bekasi (LPB), GMPI, Repdem, INDIES, Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Punk Jaya, PPMI, SBTNI, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), SBTPI, Gesburi, Serikat Pekerja Kereta Api Jakarta (SPKAJ), dan SPTBG. ara/mb05

Sabtu, 18 Februari 2012

110112-rabu(kamis)-puisi bahasa banjar abdurrahman el husaini (Dm.130112).doc

Mengalirkan Ungkapan Puisi Berbahasa Banjar


BANJARMASIN – Tidak banyak penyair Kalsel yang membuat antologi puisi dalam bahasa Banjar. Penggunaan bahasa Banjar dalam percakapan sehari-hari orang Banjar mungkin sudah biasa, namun dalam sebuah karya sastra adalah sangat berharga. Inilah yang dilakukan oleh Abdurrahman El Husaini (AEH) dalam antologi puisi berbahasa Banjar yang berjudul Doa Banyu Mata.
Seperti yang diungkapkan kembali oleh Drs Rustam Effendi MPd PHd dengan Mata Banua, di ruangan S2 Manajemen Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat, pada Rabu (11/1) pagi.
Bahwa, semakin bahasa Indonesia difungsikan dalam berbagai aspek (karya), maka semakin berprestise dan semakin kuat kedudukannya di mata warganya. Kekuatan kedudukan bahasa Indonesia, harus diimbangi dengan kuatnya kedudukan dan fungsi bahasa daerah. Kalau tidak, kekuatan bahasa Indonesia akan memangsa kelemahan bahasa daerah.
“Dapat dilihat, bahwa untuk melestarikan bahasa dan budaya minoritas (bahasa dan budaya daerah) bukanlah hal yang mudah. Seperti halnya bahasa Inggris yang sudah memangsa gaya berbahasa dan berbudaya di seluruh dunia, apalagi budaya dan bahasa daerah” katanya.
Menurut HE Benyamine, kumpulan puisi berbahasa Banjar yang ditulis AEH, mengungkapkan berbagai perilaku manusia yang berhubungan dengan orang Banjar, keromantisan, persaudaraan, dan nasehat-nasehat dalam bergaulan.
Kesedihan, penyesalan, keharuan, keperihan, ketidakberdayaan, permohonan atau doa, hingga kebahagiaan mengalir melalui air mata. Terkadang banyu mata mengalir dengan sendirinya. Kilir-kilaran teringat orang yang dirindukan, membasahi segala keinginan membara untuk menerima kenyataan yang dapat teraih.
Air mata yang mengalir adalah kekuatan sekaligus kesadaran yang mampu melihat ke dalam diri sendiri, meskipun terlihat sebagai ketidak berdayaan. Mengalir hangat, mengalir perih, mengalir syahdu, dan mengalir sebagai kesadaran dan kekuatan yang terungkap dalam antologi puisi Doa Banyu Mata.
“AEH cukup berhasil mengalirkan ungkapan-ungkapan yang merupakan bahasa Banjar sehari-hari dalam bentuk puisi. Sehingga terasa mengusik dan menggelitik karena merupakan bagian dari kehidupan sendiri” ujarnya. ara/mb05

100112-selasa(rabu)-BEM Unlam 2012 dukung BEM SEKA.doc

BEM Unlam 2012 Akan Modifikasi Rekomendasi BEM SEKA


BANJARMASIN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) perode kepengurusan 2012, sudah tentu akan meneruskan apa yang sudah di suarakan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan (BEM SEKA). Baik itu rekomendasi dalam pertemuan pertama di Unlam, maupun dalam Kongres Pertama BEM SEKA di IAIN Antasari.
Hal ini diungkapkan oleh M Pazri, Presiden Mahasiswa (Presma) Unlam periode 2012, pada Senin (9/1) malam via telepon dengan Mata Banua. Menurutnya, dari dua rekomendasi yang disepakati BEM SEKA, ada point yang akan di modifikasi BEM Unlam 2012. “Tidak sepenuhnya sama konsep, tapi akan ada beberapa gebrakan baru. Minimal bisa memberikan kontribusi yang nyata, terhadap kondisi sebenarnya yang ada di Kalsel” ujarnya.
Sebelumnya, Kongres Pertama BEM SEKA di IAIN Antasari, telah digelar pada 17 sd 20 November 2011 yang lalu. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Rendy Saputra, Ketua panitia pelaksana kongres, mengenai isi rekomendasi yaitu:
Mendesak terhubungnya jalan trans Kalimantan. Mendesak pemerataan pembangunan di Kalimantan oleh pemerintah pusat. Mendesak secepatnya moratorium dicabut dan pemekaran Kalimantan Utara. Mendesak pemerintah pusat membuat otonomi khusus untuk Kalimantan. Dan mendesak perbaikan kesejahteraan pada masyarakat Indonesia yang ada di perbatasan.
Selanjutnya tuntutan revisi Undang-Undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Daerah dan Pusat. Menuntut realisasi anggaran pendidikan 20 persen secara utuh. Menuntut pemerintah pusat memfokuskan pengelolaan tempat-tempat wisata di Kalimantan. Serta dana hasil bumi alam Kalimantan agar kembali ke daerah 70 persen dan 30 persen untuk pusat. Setelah itu merekomendasikan juga untuk menolak RUU Perguruan Tinggi.
Ada 32 BEM dari seluruh Kalimantan yang terlibat dalam kongres pertama, dan menandatangani rekomendasi. Antara lain yaitu IAIN Antasari, Unlam, Uniska, STIE Indonesia, STIE Banjarmasin, STIE Pancasetia, STIPER Amuntai, STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, STMIK Banjarbaru, STMIK Indonesia Banjarmasin, STAI Rakha Amuntai, AMKI Ketapang Kalbar, Politeknik Sendawar, STIE Widya Praja Tanah Grogot, STAIN Pontianak, STIMIK Wicida Samarinda, Politeknik Pertanian Samarinda, UNTAG 45 Samarinda, STIE Bulungan Tarakan, STIE Muhammadiyah Berau, Unikal Tanjung Selor, STAI Sangata, STT Migas Balikpapan, STIT Balikpapan, STIS Hidayatullah Balikpapan, IKIP PGRI Kaltim, UN Borneo Tarakan, STIE Tenggarong, Univ Kristen Palangkaraya, Univ Palangkaraya, STIKIP PGRI Pontianak, dan Univ Anta Kusuma Pangkalambun.
Perwakilan koordinator wilayah di pegang oleh BEM Unlam untuk Kalsel, BEM STIKIP PGRI Pontianak untuk Kalbar, BEM Univ Palangkaraya untuk Kalteng, dan IKIP PGRI untuk Kaltim. ara/mb05

100112-selasa(rabu)-BEM SEKA.2 (Dm.130112).doc

Pergerakan Mahasiswa Tidak Berarti Tanpa Dukugan Kampus


BANJARMASIN – Sejauh mana pergerakan mahasiswa Kalimantan selanjutnya pada 2012, tidak akan berlanjut seperti yang diharapkan. Apabila tiada dukungan sepenuhnya dari institusi pendidikan masing-masing.
Menurut Arif Syubhan, mantan Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) periode kepengurusan 2011 dan sebagai Presidium Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan (BEM SEKA) untuk Kalsel, pada Minggu (8/1) malam via telepon.
Bahwa ia dan penggerak awal BEM SEKA lainnya, akan mengawal dan memantau setiap perkembangan dari pergerakan mahasiswa Kalimantan. “Ini adalah sebuah jalan bagi mahasiswa Unlam untuk menunjukkan eksistensinya dalam pergerakan mahasiswa” kata Arif.
Di Unlam sendiri, sangat besar dukungan dari Pembantu Rektor (Purek) III Unlam, Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi. Yang mana dalam sambutan pembukaan pertemuan pertama Forum BEM se Kalimantan di Aula Rektorat Unlam Banjarmasin, pada Maret 2011.
Idiannor berpesan agar pergerakan menuntut pembangunan, harus dimulai dari para mahasiswa. Bahkan dengan pergerakan Forum BEM se-Kalimantan ini, juga bisa memberikan pesan aspirasinya hingga ke pemerintah pusat, terutama Presiden.
Kalau hanya terbentuk, tetapi apa yang diperjuangkan tidak sampai ke presiden, hal itu tidak berarti. Melalui Forum BEM se-Kalimantan, adalah sebuah kesempatan untuk mewujudkannya.
Berdasarkan penuturan Arif Syubhan, delegasi dalam pertemuan pertama forum BEM se Kalimantan, antara lain:
Universitas Ahmad Yani Banjarmasin, UNISKA Banjarmasin, IAIN Antasari Banjarmasin, STKIP PGRI Banjarmasin, STMIK Indonesia Banjarmasin, STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, STIENAS Banjarmasin, STIEI Banjarmasin, ATPN Banjarbaru, STMIK Indonesia Banjarbaru, STAI Al Falah Banjarbaru, Politeknik Tanah Laut, Universitas Muhammdiyah Palangkaraya, Univ Palangkaraya (Unpar), dan Univ Mulawarman (Unmul). Sedang wakil BEM dari Kalimantan Barat berhalangan hadir.
Setelah melakukan studium general, dan rapat bersama pembentukan Forum Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan. Akhirnya diputuskan pendeklarasian suatu aliansi, yang diberi nama Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan.
Presidium BEM SEKA untuk Kalsel diwakili oleh Arif Syubhan (Ketua BEM Unlam), Kalteng diwakili Jusuf Rony (Ketua BEM Unpar) dan Kaltim diwakili Dimas Prasetyo (Ketua BEM Unmul). Serta menetapkan tuan rumah selanjutnya adalah IAIN Antasari, sekaligus sebagai Kongres Pertama BEM SEKA.
“Peserta deklarasi sepakat, pertemuan tersebut menjadi perjuangan awal mahasiswa se Kalimantan, dalam menyuarakan ke prihatinan daerah, serta memajukan pembangunan daerah hingga nasional” ujarnya. ara/mb05

090112-senin(selasa)-guru jangan malas.doc

Photo: Drs Muhammad Amin MT

Kualitas Sekolah Ditentukan Oleh Kualitas Guru


BANJARMASIN – Secara bertahap Dinas Pendidikan (Disdik) kota Banjarmasin, terus berupaya meningkatkan kualitas sekolah. Terutama menghadapi tantangan dunia pendidikan yang dari tahun ketahun, kian berat.
Baik dari melakukan pergantian kepala sekolah (Kepsek), mencukupi kekurangan guru mata pelajaran, memberikan tunjangan kepada guru, memberi kesempatan mengikuti diklat dll.
Apalagi di 2012 anggaran Disdik sudah meningkat sebanyak 8 milyar. Dari 86 milyar yang dianggarkan di 2011, meningkat menjadi 94 milyar. Sehingga diharapkan bisa menutupi beberapa kekurangan yang dirasakan.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Banjarmasin, Drs Muhammad Amin MT, kepada Mata Banua beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, dengan guru yang berkualitas, maka sekolah akan berkualitas dan anak-anak didik juga akan berkualitas.
Ia menekankan agar para guru di semua tingkatan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitasnya, sesuai dengan tunjangan sertifikasi yang sudah didapatkan. Peningkatan kualitas guru, merupakan bagian dari program wajib belajar 12 tahun (hingga SMA) yang ditetapkan pemerintah pusat di 2012.
“Diharapakan tidak ada lagi guru yang santai,.karena pemerintah sudah memberikan hak yang cukup banyak kepada guru. Baik hak tunjangan-tunjangan yang sudah ada, termasuk kesempatan mengikuti diklat, workshop, seminar dll. Kesempatan ini terbuka bagi semua guru. Hampir tiap minggu selalu ada guru yang dikirim mengikuti diklat agar berkualitas” katanya.
Pemerintah pusat menyadari bahwa program Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan swakelola, pada tahun-tahun sebelumnya memang banyak menimbulkan masalah. Tapi setelah melalui pertimbangan secara umum, cara swakelola masih lebih baik dibanding apabila DAK di tenderkan.
Maka ditetapkan untuk sistem DAK di 2012 dengan swakelola, dan dananya langsung di transfer ke rekening sekolah. Selanjutnya Kepala Sekolah yang mengelolakannya bagi rehabilitasi maupun pembangunan fisik. Penggunaan DAK akan di pertanggung jawabkan oleh Kepsek, dengan pengawasan dan monitoring oleh Disdik dan pengawas-pengawas yang ada di setiap jenjang.
Kadisdik kota Banjarmasin, menghimbau agar Kepsek berhati-hati dalam menggunakan DAK dan BOS. “Apabila tidak mengerti dengan teknik pembangunan atau lainnya, silahkan sekolah mencari konsultan, atau orang yang ahli dalam soal pembangunan. Cara yang paling aman adalah sesuai ketentuan” ujarnya. ara/mb05

090112-senin(selasa)-BEM SEKA.1.doc

Photo: Arif Syubhan

Amanat BEM SEKA Bagi BEM Unlam 2012


BANJARMASIN – Apa yang sudah dilakukan dan diprakarsai oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) pada perode kepengurusan 2011, menjadi tanggung jawab BEM Unlam pada perode kepengurusan 2012.
Hal ini diungkapkan oleh Arif Syubhan (mantan Ketua BEM Unlam periode kepengurusan 2011), pada Minggu (8/1) malam via telepon dengan Mata Banua. Menurutnya, pergerakan mahasiswa adalah tonggak utama bagi perubahan. Oleh karena itu, mahasiswa memang sudah seharusnya menunjukan taring, sebagai garda terdepan agent of change.
“Dari hasil rekomendasi yang disepakati bersama, dalam pertemuan pertama forum Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan (BEM SEKA). Sekarang tugas pengawasannya ada pada BEM Unlam periode kepengurusan 2012, yaitu sejauh mana pemerintah menjalankan rekomendasi tersebut. Ini adalah amat kami” katanya
Sebelumnya Arif Subhan yang juga sebagai Presidium BEM SEKA untuk Kalsel, telah menceritakan bagaimana proses dan hasil rekomendasi BEM SEKA.
Bahwa Kalimantan yang dulunya kaya dengan hutan belantara, kini kondisinya merana. Lubang-lubang menganga hasil pertambangan, menunggu bencana. Ketidak adilan pembangunan, menjadi budaya. Maka mahasiswa harus lantang bersuara.
Terlahir dari keprihatinan mahasiswa melihat ketidak adilan dan kondisi lingkungan daerah yang merana, mahasiswa Kalsel pun merapatkan barisan. BEM Unlam perode kepengurusan 2011, memprakarsai terbentuknya BEM SEKA.
Maret 2011, pertemuan Forum BEM se Kalimantan di Aula Rektorat Unlam Banjarmasin, menjadi titik tolak pergerakan dan perjuangan mahasiswa Kalimantan menuntut keadilan pembangunan.
Rekomendasi yang dihasilkan oleh 15 delegasi BEM dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, dalam aliansi forum Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan, antara lain yaitu:
Rekomendasi Umum, yaitu mendesak terhubungnya jalan trans Kalimantan. Mendesak pemerataan pembangunan di Kalimantan oleh pemerintah pusat. Revisi undang- undang no 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan daerah dan pusat. Mengelola SDA yg lebih baik demi kepentingan Rakyat Kalimantan. Perbaikan pendidikan secara umum di Kalimantan. Mendesak dan menuntut pemerintah pusat maupun pemerintah daerah supaya mewujudkan Kalimantan sejahtera dan bermartabat.
Selanjutnya, mengharuskan pemerintah meningkatkan dana bantuan untuk usaha kecil dan menengah yang ada di Kalimantan. Menuntut pemerintah memfokuskan pengelolaan tempat-tempat pariwisata di Kalimantan. Mendesak perbaikan kesejahteraan pada masyarakat Indonesia yang ada di perbatasan.
Rekomendasi Khusus Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kalimantan Selatan. Transparansi APBD yang ada di Provinsi Kalsel dan kabupaten/kota yang ada di Kalsel. Serta melibatkan partisipasi mahasiswa dalam pembangunan di Kalsel. ara/mb05

080112-minggu(senin)-tari-tari tradisional dari rajul.1 (Dm.100112).doc

Photo: Sirajul Huda

Banyak Tari Tradisional Sudah Langka Dipentaskan


BANJARMASIN – Banyak keragaman tari tradisional Banjar yang semakin tidak di kenal oleh generasi muda, jauh kata bisa menarikannya. Rencana Taman Budaya (TB) Kalsel untuk melakukan inventarisasi dan penggalian seni tradisi seperti tari, mendapat dukungan dari seniman tari lainnya.
Menurut Sirajul Huda, dokumentasi yang akan dilakukan TB Kalsel bisa menjadi rujukan sumber data bagi masyarakat, yang ingin mengetahui jenis-jenis tari daerah Banjar. “Apalagi bila dijadikan buku literatur, lalu dibagikan untuk perpustakaan umum dan sekolah. Akan sangat membantu pengajaran muatan lokal di sekolah-sekolah” katanya.
Beberapa jenis tari tradisional Banjar antara lain, Bagandut, Baksa, Balatik, Baleha, Batarasulan, Bogam, Dara Manginang, Garah Rahwana, Hantak Sisit, Hanoman, Japin, Kuda Gepang, Ladon, Maayam Tikar, Ning Tak Ning Gung, Paris Tangkawang, Radap Rahayu, Rudat, Sinoman Hadrah, Tanggui, Tameng Cakrawati, Tirik, dan Topeng.
Tari Baksa terbagi lagi menjadi beberapa jenis yaitu Baksa Dadap, Baksa Hupak, Baksa Kambang, Baksa Kantar, Baksa Kupu-Kupu Atarung, Baksa Lilin, Baksa Panah, Baksa Tameng, dan Baksa Tumbak.
Lalu tari terbagi menjadi Japin Batuah, Japin Bujang Marindu, Japin Dua Saudara, Japin Hadrah, Japin Kuala, Japin Pasanggrahan, Japin Rantauan, dan Japin Sisit. Kemudian tari Tirik terbagi menjadi Tirik Kuala dan Tirik Lalan. Sedang tari Topeng terbagi menjadi Topeng Kelana dan Topeng Wayang.
“ Ini hanya sebagian kecil dari tarian daerah yang terdata, mungkin saja masih ada tarian daerah Banjar lain yang tidak diketahui. Banyak tari tradisional sudah sangat langka dipentaskan, apalagi para penarinya sudah banyak yang meninggal dunia. Sedangkan generasi penerusnya tidak ada lagi yang bisa menarikannya” ujar tokoh tari Kalsel ini pada Jumat (6/1) pagi. ara/mb05

080112-minggu(senin)-panti Harus Memenuhi Standar.doc

Photo: Dra Maria Sri Sulisetyaningsih

Lembaga Pelayanan Sosial Harus Memenuhi Standar


BANJARMASIN – Panti adalah sebuah lembaga pelayanan sosial, oleh karena itu harus mempunyai standar pelayanan. Dan Dinas Sosial (Dinsos) sudah menetapkan standar pelayanan bagi panti, yang penilaiannya melalui sertifikasi serta akreditasi.
Hal ini diungkapkan oleh Dra Maria Sri Sulisetyaningsih, Kabid pembinaan kesejahteraan sosial, Dinsos Kota Banjarmasin, beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, sertifikasi dan akreditasi di nilai oleh pusat. Apakah panti itu memang benar-benar layak atau tidak untuk sebuah panti.
Penilaian sertifikasi dan akreditasi antara lain sebuah panti harus lengkap administrasinya, mempunyai pekerja sosial, mempunyai ruang belajar, mempunyai asrama, harus mempunyai dapur, tidak berada di jalur hijau dll. Dua panti berada dalam wilayah jalur hijau, yaitu Panti Al Hidayah dan Al Asri.
Apabila di nilai tidak layak ada, kemungkinan panti itu tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Di kota Banjarmasin, ada 5 panti yang telah mengikuti sertifikasi dan akreditasi.
Dinsos kota Banjarmasin sudah berupaya agar panti memenuhi standar penilaian, terutama melalui sumber daya manusianya (pengurus dan pengasuh) melalui pelatihan-pelatihan yang dilakukan.
Maria juga menyayangkan adanya panti yang tidak bergabung dalam Forum Panti se Kota Banjarmasin. Ada tiga panti yang memang sudah terdaftar di Dinsos kota Banjarmasin, tapi tidak melakukan pertanggung jawaban, atau melaporkan semua kegiatan yang dilaksanakan ke Dinsos. Dan juga tidak mau bergabung dalam forum.
Beberapa masalah lain pada panti yaitu mengenai administrasi. Seperti panti Al Asri yang sudah habis ijin operasionalnya, tapi tidak memperpanjangnya.
“Padahal banyak nilai positif yang diperoleh dalam forum, agar keadaan panti menjadi lebih baik. Ini juga mempermudah Dinsos kota Banjarmasin untuk memberikan pembinaan dan pelatihan” ujarnya. ara/mb05

060112-jumat(sabtu)-sejarah tari baksa kembang dari arsyad (Dm.090112).doc

Photo: mb/ara
BAKSA KAMBANG – Tari Baksa Kambang yang ditarikan saat menyambut tamu dalam Musda IV PHDI Kalsel, di gedung PWI Banjarmasin

Roh Tari Baksa Kembang


BANJARMASIN – Tari Baksa Kambang sering ditampilkan oleh remaja putri, dalam perayaan tertentu untuk menyambut tamu. Tapi sejauh mana para penari mengenal dan tahu dengan tarian yang dibawakannya.
Hal ini diungkapkan oleh Arsyad Indradi salah satu tokoh sastra Kalsel yang juga dikenal sebagai seorang tokoh tari tradisional Banjar, pada Kamis (5/1). Menurutnya, bila penari mengenal dengan baik setiap tari yang dibawakan, maka penjiwaan (roh) dari tarian akan benar-benar hidup dalam gerakan tarian.
Tari Baksa Kambang merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalsel dan ditarikan oleh wanita. Pada awalnya tari Baksa Kembang, berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar, dan ditarikan pula pada perayaan pengantin Banjar atau hajatan.
Tari Baksa Kambang menggunakan sepasang kembang Bogam, yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Dan dihadiahkan kepada tamu pejabat, setelah taraian ini selesai.
Tarian ini bercerita tentang putri-putri remaja yang cantik sedang bermain di taman bunga. Kemudian memetik beberapa bunga dan dirangkai menjadi kembang bogam. Lalu kembang bogam ini dibawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai.
Tari Baksa Kembang memakai mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama Halilipan.
Tari Baksa Kembang biasanya ditarikan oleh sejumlah hitungan ganjil misalnya satu orang, tiga orang, lima orang dan seterusnya. Dan tarian ini diiringi seperangkat tetabuhan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau Kambang Muni.
Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi , ini terjadi setiap keturunan mempunya gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang.
Pada 1990-an, Taman Budaya Kalsel mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk dijadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku. Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembanag dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalsel.
Biarpun bentuk baku dari tari Baksa Kembang sudah ditentukan, beberapa penari masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada. Tapi hanya berkisar pada keluarga atau lokal. Sedang dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalsel harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.
“Terlepas dari versi tari Baksa Kembang masing-masing daerah dan yang sudah dibakukan, cerita dan sejarah dari tari ini menjadi roh tari Baksa Kembang” ujarnya. ara/mb05

060112-jumat(sabtu)-Pengenalan tari tradisional dari arsyad.doc

Photo: Arsyad Indradi

Pentingnya Mengenalkan Sejarah Tari Tradisional


BANJARMASIN – Mengajarkan dan melatih anak-anak (generasi muda) mengenal tarian-tarian tradisional daerah sejak dini, menjadi sangat penting bila menyangkut kelestarian kesenian tari tradisional tersebut. Walaupun pada akhirnya generasi muda ini kemudian mengenal dan lebih menggeluti seni tari modern.
Hal ini diungkapkan oleh Arsyad Indradi salah satu tokoh sastra Kalsel yang juga dikenal sebagai seorang tokoh tari tradisional Banjar, yang dalam perjalanan seni tarinya, akhirnya Arsyad lebih dominant dengan tari Japin.
Menurut Arsyad pada Kamis (5/1), apabila dasar-dasar tari tradisional daerah sudah dikenalkan sejak dini. Maka biarpun generasi muda di kemudian harinya lebih memilih untuk mendalami tari modern, tapi dasar-dasar tari tradisional daerah tadi akan tetap menjadi jiwa (roh) dari tarian apapun yang akan dipelajari.
“Pengenalan tari tradisional sejak dini, merupakan cara mengatasi pengaruh jajahan kebudayaan modern. Tentunya agar kebudayaan lokal tidak tergilas dan tertinggal” katanya.
Dewasa ini, memang perkembangan seni tari modern atau yang disebut trend, memang menuju pada tari kreasi. Karena tari kreasi dianggap layak di jual sebagai pertunjukan hiburan. Menanamkan tari tradisional sejak dinilah untuk mengatasinya.
Tidak hanya mengenalkan tari tradisionalnya saja, mengenalkan sejarah tarinya tidak kalah pentingnya. Sebab sejarah tari menjadi akar budaya. Kehilangan akar budaya akan menyebabkan kehilangan identitas.
Mengemas tari tradisi dengan tari kreasi atau tari modern lainnya. Mengemas kostum dan musik dengan kreatif antara musik modern dan tradisional, akan menjadi warna yang indah.
“Roh dari tari adalah seberapa kuat kekuatan sumber dari gerakan tari yang berdasarkan tari tradisi” ujarnya. ara/mb05

050112-kamis(jumat)-Masih Kekurangan Guru (Dm.070112).doc

Photo: Drs Muhammad Amin MT

Banjarmasin Masih Kekurangan Guru


BANJARMASIN – Beberapa mata pelajaran di sekolah-sekolah yang ada di Kota Banjarmasin, kekurangan guru pengajar. Tapi ada pula beberapa mata pelajaran yang gurunya sudah mencukupi. Dinas Pendidikan (Disdik) kota Banjarmasin, di 2012 berusaha menyeimbangkan kekurangan guru pengajar mata pelajarann tersebut.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Banjarmasin, Drs Muhammad Amin MT, kepada Mata Banua beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, untuk menyeimbangkan kekurangan guru mata pelajaran di kota Banjarmasin, tidak bisa instant, tapi memerlukan proses waktu.
Disdik kota Banjarmasin sudah melakukan koordinasi dengan BKD. Untuk tingkat SD masih banyak kekurangan guru kelas, sedangkan di tingkat SMP dan SMA/SMK kekurangan guru mata pelajaran. Kelompok IPA, IPS dan Bahasa itu lebih. Tapi kelompok seperti kesenian, komputer, dan olahraga mulai kekurangan. “Mudah-mudahan di 2012 ada formasi penerimaan pegawai negeri baru terutama di sektor guru” katanya.
Sekertaris Disdik Kota Banjarmasin Dra Hj Nurhidayah MM, menambahkan bahwa tenaga pendidik yang diperlukan di kota Banjarmasin pada 2012, cukup banyak. Karena banyak guru yang sudah memasuki masa pensiun.
Untuk tingkat SD, pengajarnya memang harus lebih banyak guru yang sudah senior. Karena pengalaman mengajar dalam menghadapi anak-anak sangat diperlukan. Guru yang sudah senior tentunya sudah lebih memahami emosi anak, serta cepat menangkap bakat dan prestasi anak.
“Kebutuhan guru pengajar, rata-rata setiap tahun di perlukan kurang lebih seratus guru baru. Termasuk guru olah raga, guru seni, guru umum, guru komputer, bahkan tenaga administratif untuk tata usaha pada SMP” ujarnya. ara/mb05

050112-kamis(jumat)-kekayaan bahasa banjar.doc

Photo: Drs Mukhlis Maman

Kekayaan intelektual daerah


BANJARMASIN – Ketika globalisasi menggilas semuanya, bukanlah kekayaan alam yang ditampilkan ke depan. Melainkan kekayaan intelektual yang harus diutamakan. Kekayaan intelektual daerah harus menjadi semangat hidup, harus menjadi kekuatan hidup dimasa mendatang.
Hal ini diungkapkan oleh Prof MP Lambut, dalam wawancara dengan Mata Banua beberapa waktu yang lalu. Dilain pihak Drs Mukhlis Maman, sependapat dengan MP Lambut. Dan Mukhlis lebih menekankan pada kebanggaan generasi muda daerah sendiri dengan budaya daerah.
Menurutnya, budaya yang sebenarnya digunakan sehari-hari terletak pada bahasa daerah. Namun seringkali generasi muda mulai gengsi menggunakan bahasa daerahnya sendiri, yaitu bahasa Banjar. Fenomena yang terlihat jelas di daerah perkotaan.
Kebanggaan menggunakan bahasa Banjar tidak akan bisa muncul pada generasi muda, apabila tidak mengetahui kekayaan bahasa daerahnya. Di sinilah peran guru di sekolah menjadi faktor penting.
Bahasa Banjar menjadi bahasa pemersatu dari beragam suku bangsa yang ada di Kalsel. Bahasa ini dipakai sebagai bahasa penghubung antar suku.Kosa kata bahasa Banjar merupakan bahasa serapan dari beragam suku bangsa tersebut. Kemudian bahasa Banjar mempunyai dealek yang beragam pula, dan terkadang pengertian kata dalam beberapa delaek turut berbeda.
Sangat sayang kekayaan bahasa Banjar tidak ditunjang oleh kaum intelektualnya dalam membuatkan sebuah buku panduan tata bahasa Banjar. Buku khusus tata bahasa Banjar yang akan menjadi pedoman, bagi pengajaran bahasa muatan lokal di sekolah-sekolah.
“Dengan tidak adanya buku acuan khusus mengenai tata bahasa Banjar, pengajaran disekolah tidak bisa maksimal dan mendalam” ujar Mukhlis pada Rabu (4/1) pagi. ara/mb05

040112-rabu(kamis)-sinoman hadrah.2.doc

Photo: Abdurrasyid

Hadrah Hidup Bersama Orang Banjar di Perantauan


BANJARMASIN – Sebagai salah satu kesenian Islam yang sudah berusia puluhan tahun, kesenian hadrah masih sering di tampilkan pada beberapa daerah di Kalsel. Pembinaan dan kegiatan lomba menjadi salah satu cara, agar hadrah tetap lestari dalam kesenian tradisional religius Banjar.
Hadrah ditampilkan dalam berbagai acara bernuansa keagamaan, seperti sunatan, perayaan perkawinan, atau menyambut tamu kehormatan. Dalam perkembangannya, kesenian hadrah ada pula di luar Kalsel yaitu di darah yang terdapat perantauan orang Banjar.
Menurut Abdurrasyid, seniman pelaku hadrah lebih menikmati hadrah sebagai puja dan puji untuk Tuhan serta Rasul Muhammad SAW. Karena puja dan puji dalam bentuk syair dan pantun tersebut, menjadi qasidah yang pengiring dari gerakan dinamis hadrah.
Merdu qasidah diikuti gerakan tari yang menggunakan putaran payung ubur-ubur (lambang keagungan dalam kehidupan tradisional), dan umbul-umbul, diantara ritmis pukulan musik tarbang.
Seniman pelaku hadrah, lebih banyak ada di Martapura. Dimana dalam penampilannya memadukan antara generasi tua dan anak muda. Untuk di Banjarmasin, seniman hadrah banyak terdapat di Taluk Tiran. Namun di sini generasi mudanya lebih sedikit, malah lebih banyak di dominasi seniman hadrah perempuan.
Di luar Kalsel, hadrah turut hidup bersama orang-orang Banjar yang menetap di sana. Seperti Kalteng di daerah Saruyan, hingga pulau Jawa. Dimana ada komunitas orang Banjar, hadrah masih di tampilkan dalam beragam perayaan.
“Pengembangan hadrah lebih pada pembinaan pada tiap daerah, sehinga apabila ada perlombaan.akan banyak pesertanya. Adanya ferstival inilah yang akan turut menggairahkan para seniman hadrah untuk tetap eksis” ujarnya pada Selasa (3/1) siang. ara/mb05

030112-selasa(rabu)-ketua MUI Bjm tentang diskotik.doc

Photo: Drs H Murjani Sani MAg

Pemkot Harus Mempertimbangkan Dengan Baik


BANJARMASIN – Soal bangun-membangun dan kegiatan usaha memang harus ada ijin dari pemerintah kota. Pemerintah mengijinkan tentu saja melihat aspek-aspek kelengkapan dari persyaratan.
Katakanlah belum ada ijin bangunan dan ijin udaha karena masih ada sengketa atau masalah hukum. Yang terlebih penting adalah ijin atas materi apa yang akan dilakukan ditempat tersebut.
Hal ini diungkapkan Drs H Murjani Sani MAg, Ketua MUI Banjarmasin, dengan Mata Banua pada Selasa (3/1) sore, di tempat kediamannya di Pekapuran Raya. Menurutnya apa yang disampaikan ini, bukan dari kesepakatan lembaga (MUI Banjarmasin) karena belum sempat dirapatkan, tapi dari pendapat pribadi.
Lanjutnya, apalagi bila ada rencana membuat tempat hiburan malam atau diskotik besar-besaran di Banjarmasin pada tempat itu. Kita berharap pemerintah akan melakukan pertimbangan yang matang.
Bila kabar mengenai diskotik ini benar terjadi, dan mendapat ijin. Dikhawatirkan membawa dampak negatif bagi umat yang umumnya beragama islam. Seperti sudah diketahu, bahwa diskotik lebih pada ketidak bagusan moral. Karena ada kebebasan disitu, ada pergaulan tanpa batas. Ini akan sangat berdampak pada generasi kita kedepan. Sementara pergaulan bebas itu dilarang agama.
Bagi pihak pengusaha atau siapapun, tolonglah untuk mempertimbangkan segala sesuatunya, apabila dampaknya membawa akibat yang tidak baik dan berhubungan dengan akhlak karimah masyarakat dan umat.
Bila akhlak sudah ternoda, dan terkontaminasi dengan tindakan yang tidak baik. Maka Allah akan menurunkan berbagai kegelisahan dan keresahan umat. Hingga bala bencana yang akan diturunkan bukan hanya pada pemilik usaha, tapi juga kepada masyarakat.
“Segala pihak yang terkait, tolong pertimbangkan dengan baik, apalagi kota Banjarmasin dikenal pula sebagai kota seribu masjid dan masyarakatnya sangat panatik beragama” ujarnya. ara/mb05

Jumat, 17 Februari 2012

030112-selasa(rabu)-2012 Kepsek Harus Siap Menghadapi Tantangan.doc

Photo: Drs Muhammad Amin MT

2012 Kepsek Harus Siap Menghadapi Tantangan


BANJARMASIN – Tantangan dunia pendidikan dari tahun ke tahun semakin berat. Maka memasuki tahun ajaran 2012, semua sekolah di kota Banjarmasin sudah siap. Siap menghadapi tantangan dunia pendidikan.
Selain itu, siap menghadapi permasalahan-permasalahan dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat yaitu orang tua dari siswa atau murid yang ada disekolah tersebut. Kesiapan yang harus lebih dulu di mulai dari Kepala Sekolah (Kepsek) masing-masing.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Banjarmasin, Drs Muhammad Amin MT, kepada Mata Banua seusai melantik sejumlah Kepsek dan Pengawas Sekolah di Aula Disdik Kota Banjarmasin, pada akhir Desember 2011 yang lalu.
Menurutnya, semua pelaksana tugas (Plt) Kepsek akan diprioritaskan di 2012 untuk dilantik menjadi Kepsek, tetapi setelah mengikuti diklat calon Kepsek. Peluang menjadi Kepsek juga terbuka bagi semua guru yang sudah memenuhi persyararatan menjadi Kepsek. Baik pendidikan formalnya, pangkatnya, maupun masa kerjanya.
“Peluang yang terbuka baik bagi guru yang masih muda atau sudah senior, semua mempunyai kesempatan yang sama. Tapi memang apabila ada yang lebih senior dan mempunyai pengalaman mengajar yang lebih lama, akan lebih diutamakan” kata Kadisdik Kota Banjarmasin.
Dikatakannya, bidang PTK Disdik Kota Banjarmasin, sudah memprogramkan untuk 2012 mengadakan diklat pelatihan calon Kepsek. Diklat yang dilaksanakan pada semua tingkatan dari TK, SD, SMP, SMA dan SMK. Dan Diklat ini terbuka bagi semua guru yang sudah memenuhi syararat.
Jumlah SD sangat banyak di Kota Banjarmasin, dan hampir tiap bulan selalu saja ada Kepsek yang pensiun. Program PTK inilah yang akan mencukupi stok Kepsek di Kota Banjarmasin, terutama bagi Kepsek SD.
Ia mengharapkan pula agar semua Kepsek, Plt Kepsek, pengawas sekolah, kepala UPK yang ada dikecamatan, dapat melaksanakan tugas dengan baik dan selalu bekerja sama. Serta selalu melakukan kordinasi dengan semua sektor yang terkait.
“Kordinasi yang terjalin selama 2011 sudah cukup baik, mudah-mudahan di 2012 menjadi semakin lebih baik” ujarnya. ara/mb05

020112-senin(selasa)-rencana kegiatan TB di 2012 (Dm.050112).doc

Photo: Drs Noor Hidayat Sultan

2012 Penggalian Seni Tradisi Kalsel


BANJARMASIN – Kalau di 2011, Taman Budaya (TB Kalsel) membukukan hasil penggalian data sastra sebelum perang. Maka di 2011, akan melakukan pengalian data dan membukukan beberapa kesenian tradisi.
Hal ini Hal ini diungkapkan oleh kepala Taman Budaya (TB) Kalsel Drs Noor Hidayat Sultan, beberapa waktu yang lalu dengan Mata Banua, di ruang kerjanya.
Menurutnya, salah satu pungsi dari TB adalah dokumentasi perkembangan seni budaya darah. Dan pembuatan buku sejarah sastra Kalsel adalah program TB Kalsel untuk 2011. Buku ini berjudul Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan Sebelum Perang (1930-1945). Mempunyai cover sampul berwarna coklat, dengan ketebalan 172 halaman.
Daftar isi buku antara lain, Bab pertama menceritakan tentang latar belakang, rumusan, tujuan dan manfaat penggalian data sejarah sastra Kalsel. Bab ke dua berisi karya sastra dan sastrawan Kalsel zaman Belanda. Bab ke tiga berisi karya sastra dan sastrawan Kalsel zaman Jepang. Dan Bab ke empat mengenai sejumlah nama dan karya sastrawan Kalsel.
Dengan keterbatasan dana, buku sejarah sastra Kalsel tersebut, hanya bisa dicetak 500 eksemplar. Bukunya tidak dikomersilkan, tapi dibagikan untuk sekolah, kampus, perpustakaan di Kalsel, maupun perpustakaan nasional. “Siapa yang memerlukan dan bukunya masih tersedia akan kami berikan” katanya.
Noor Hidayat  mengatakan, bahwa untuk di 2012, rencananya melakukan inventarisasi dan penggalian seni tradisi seperti tari, wayang gong, dan mamanda. Karena ada ke khawatiran, apabila tidak didokumentasikan menjadi sebuah buku, nantinya akan hilang.
Dokumentasi data saat ini hanya dalam bentuk makalah-makalah, dan kliping-kliping informasi seni tradisi yang dimuat oleh media massa. Serta banyak data yang hilang dan tercecer kemana-mana.
“Akan lebih baik apabila dokumentasi data tersebut, disatukan dalam sebuah buku literature. Selain akan menambah minat orang untuk membacanya, juga dapat dijadikan referensi pustaka dan penelitian lainnya” ujarnya. ara/mb05

020112-senin(selasa)-2012 Ada 16 Panti di Banjarmasin Mendapat Bantuan Rehab

Photo: Dra Maria Sri Sulisetyaningsih

2012 Ada 16 Panti di Banjarmasin Mendapat Bantuan Rehab


BANJARMASIN – Panti Asuhan (PA) tidak hanya untuk memberikan makan, dan tempat tidur bagi anak-anak asuhnya. Tapi PA adalah sebagai tempat untuk membentuk karakter anak. Peningkatan pelayanan untuk PA di 2012 yang berkaitan pembinaan karakter anak ini yang menjadi fokus Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banjarmasin.
Hal ini diungkapkan oleh Dra Maria Sri Sulisetyaningsih, Kabid pembinaan kesejahteraan sosial, Dinsos Kota Banjarmasin.
Menurutnya, dari hasil monitoring Dinsos Kota Banjarmasin, sebenarnya keperluan dari PA yang mendasar adalah mengenai sarana dan prasarana, seperti asrama dan rehab bangunan.
Maka realisasi bantuan dari sarana dan prasarana tersebut rencananya disalurkan di 2012. Ada 16 PA di kota Banjarmasin yang akan mendapat bantuan dari Pemko kota Banjarmasin, yang disalurkan melalui Dinsos Kota Banjarmasin.
“Dari 20 panti yang telah terdaftar di Dinsos kota Banjarmasin dan menjadi anggota Forum Panti se Kota Banjarmasin (FPKB), hanya 16 panti yang memasukkan proposal, lainnya tidak ada, jadi hanya 16 ini yang mendapat bantuan” ujarnya.
Dilain pihak, Eni Rahnisa Yanti, staf Kesra Pemko Banjarmasin, mengatakan bahwa bantuan uang makan untuk anak yang pada 2011 hanya Rp 3500 per anak per hari, pada 2012 rencananya akan dinaikan.
Hal ini sebagai jawaban atas harapan yang dilontarkan oleh ketua FPKB. Agar ada peningkatan bantuan dana di 2012 dari Kesra Pemko Banjarmasin, bagi bantuan uang makan untuk PA yang diberikan setiap tiga bulan sekali. Sebab kata M Zaini SPd, ketua FPKB, tiap tahun biaya anak akan terus meningkat, Bantuan sebesar Rp 3500 per anak sudah tidak mencukupi lagi. ara/mb05

010112-Obat Tradisional Tampiyaan

Kapur Sirih Untuk Obat Tampiyaan


Apabila terlalu banyak berjalan, maupun terlalu banyak duduk, maka terkadang pada selangkangan (kunci paha) terdapat benjolan sebesar kelereng. Bila dipegang terasa bergerak-gerak.
Penyakit ini dalam bahasa Banjar di sebut Tampiyaan. Adapula yang mengatakan bahwa penyebab benjolan sebesar kelereng itu adalah angin yang terkumpul dalam selangkangan dan membentuk benjolan. Tampiyaan jangan di pijat (di urut) karena akan menjadi besar benjolannya, atau malah menambah ngilu selangkangan.
Menurut Drs H Syarifuddin R, walau Tampiyaan dianggap tidak berbahaya, namun rasa ngilu (katur) pada selangkangan cukup menganggu aktivitas saat berjalan. Tampiyaan dapat diobati sendiri.
Bahan ramuan obat yang dapat digunakan dalam pengobatan tradisional Banjar adalah kapur sirih. Cara pengobatannya yaitu:
Bila yang terkena Tampiyaan di selangkangan kanan, maka dioleskan kapur sirih pada buku lali (ruas pegelangan kaki) yang kiri. Sebaliknya jika selangkangan kiri yang Tampiyaan, maka buku lali kanan yang dioleskan kapur. ara/mb07

Selasa, 07 Februari 2012

040112-rabu(kamis)-Muatan Lokal di 2012 Terjajah.doc

Photo: Prof MP Lambut

Jangan Biarkan Muatan Lokal di 2012 Terjajah

BANJARMASIN – Selama beberapa tahun semenjak otonomi daerah, perbincangan, perdebatan dan pelaksanaan muatan lokal, masih dalam area abu-abu. Terutama pada pengajaran di sekolah-sekolah.
Siapakah sebenarnya yang mempunyai peran penting dalam pengenalan dan membangun muatan lokal. Sehingga di 2012 muatan lokal dan kebudayaan lokal, menjadi tuan rumah di di tanahnya sendiri.
Menurut Prof MP Lambut, dalam wawancara dengan Mata Banua beberapa waktu yang lalu. Ia memulai perbincangan dengan pertanyaan, siapa yang mengajar muatan lokal, siapa yang merancang muatan lokal?
Seberapapun usaha pemerintah daerah dan dinas terkait, untuk meningkatkan pengajaran muatan lokal, tidak akan berjalan dengan baik. Apabila pemahaman antara pentingnya kekayaan muatan lokal dan konsep NKRI masih tidak selaras. Apalagi bila pemahaman itu tidak benar-benar dimiliki oleh pengajar yang bersangkutan.
Memahami keterkaitan antara konsep NKRI dan otonomi darah dalam muatan lokal adalah sesuatu yang sangat penting, dalam merancang pengajaran dan pengajarnya. Ketika berbicara tentang NKRI, daerah lebur dan hanya pendukung NKRI dalam kebudayaan nasional. Ketika berbicara otonomi daerah, maka sekarang daerah berkembang memperkenalkan dirinya. Tidak hanya memperkenalkan diri ditingkat nasional tapi juga di tingkat internasional.
Disinilah peran seluruh kekayaan intelektual, ketika globalisasi menggilas semuanya. Bukan kekayaan alam, tapi kekayaan intelektual daerah harus tampil kedepan. Kekayaan intelektual daerah harus menjadi semangat hidup, harus menjadi kekuatan hidup dimasa mendatang.
Yang berperan penting adalah guru. Guru jangan hanya mengajar, tapi juga bertanggung jawab. Setiap guru harus sangat waspada memperhatikan muatan lokalnya.
Dulu kita sangat kaya dan merdeka dengan muatan lokal. Sekarang dapat diliahat sejauh mana muatan lokal, dibanding kebudayan modern yang berkembang. Dapat dikatakan perkembangannya tertinggal.
Daerah masih/menjadi miskin dengan muatan lokal, atau dapat dikatakan terus tertinggal. Serta menjadi jajahan kebudayaan modern. Kalau kebudayaan modern sepuluh kali melangkah, muatan lokal hanya satu kali melangkah. Peran serta intelektual daerah dalam membangun dan memperkenalkan muatan lokal dan kebudayaan lokal di dunia internasional menjadi faktor penting.
“Kuasai bahasa orang lain, atau bahasa asing, tapi gunakan untuk memperkenalkan muatan lokal dan kebudayaan lokal kita. Kuasai kebudayaan modern tapi gunakan untuk meningkatkan kebudayaan lokal kita.
Saya ingin melihat, generasi muda keluar dari jerat penjajahan kebudayaan asing, menjadi orang Indonesia yang berakar di daerah, dimana ia lahir. Generasi yang membela daerahnya. Semoga di tahun mendatang (2012) muatan lokal dan kebudayaan lokal daerah kita menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri” ujar Guru Besar FKIP Unlam ini. ara/mb05

010112-minggu(senin)-pengamanan BPK utk th baru

Photo: mb/ara
BPK – Pada malam pergantian tahun 2011, semua BPK yang ada di Kota Banjarmasin bersiaga, sebagian BPK lainnya turut mengatur kelancaran lalu lintas di jalan raya

Malam Pergantian Tahun Baru BPK Siaga

BANJARMASIN
– Setiap tanggal merah atau hari libur, kami selalu siap sedia lebih full. Dan kawan-kawan juga ada yang memantau di jalan-jalan pusat keramaian, agar informasi kejadian yang tidak diinginkan bisa cepat diketahui.
Hal ini diungkapkan oleh Abidin Noor wakil ketua BPK Setia Kawan (Seka) Kelayan B, gang Famili, dalam perbincangan via telepon, pada Sabtu (31/12) malam. Menurutnya, kemeriahan malam tahun baru menyambut detik-detik pergantian tahun 2011-2012, yang tentunya selalu dengan pesta kembang api disetiap pelosok kota dan tempat-tempat keramaian.
“Malam tahun baru yang menjadi puncak kewaspadaan adalah pada saat detik-detik pergantian tahun, karena saat itu banyak masyarakat yang menyalakan kembang api secara serentak, sehingga tidak terkontrol lagi” ujarnya.
Dari pantauan Mata Banua, selepas magrib terlihat warga Banjarmasin sudah mulai memadati jalan protokol dan pusat-pusat keramaian lainnya. Beberapa ruas jalan menjadi pusat konsentrasi warga untuk merayakan malam pergantian tahun, di antaranya Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Sutoyo S, sebagian Jalan A Yani, Jalan Kamboja, dan Jalan Hasan Basri (Kayu Tangi).
Ledakan-ledakan kembang api sudah mulai terdengan semenjak sore harinya, dan seiring malam semakin banyak terdengar. Namun pada pukul 22.00 Wita, hujan turun disertai angin kencang, membuat warga yang berada di jalan raya berlarian mencari tempat berteduh di rumah toko (ruko) dan perkantoran yang berada di tepi jalan.
Hingga detik-detik pergantian tahun, hujan tetap menyertai, sementara Ledakan-ledakan kembang api mengiringi. ara/mb05