Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Kamis, 13 Oktober 2011

Es Nyiur Jahe Gula Aren

BANJARMASIN – Sebuah wirausaha seorang ibu untuk membantu kebutuhan keluarga, dengan kreatif menciptakan racikan menu minuman yang akhirnya digemari. Es kelapa muda biasanya menjadi salah satu minuman alami yang menyegarkan, apalagi dengan variasi menu yang menarik.
Es Nyiur Jahe Gula Aren itulah sebuah warung yang akan memberikan citarasa tersendiri pada es kelapa muda. Warung ini terletak di jalan Ahmad Yani Kilometer 12
Mariatul Qibtiah adalah pemilik warung tersebut, sajian dalam warung ini adalah Es Nyiur Jahe Gula Aren, yang khas dan menyehatkan. Mama Icha adalah panggilan akrab dari Mariatul Qibtiah.
Menurut Mama Icha pada Minggu (19/12) sore, ia menuturkan, awalnya sekitar tahun 1998, berangkat dari keinginan untuk membantu suaminya yang hanya supir angkot. Untuk menambah penghasilan keluarga, ia berjualan makanan didepan rumah kontrakannya. Merintis usaha dengan hanya 5 sd 10 butir kelapa muda sehari.
Karena tak ada kemajuan, ia berusaha mencari terobosan, dari buku Majarrobat yang menuliskan tentang khasiat jahe, terlintaslah sebuah ide untuk membuat es kelapa muda jahe.
Untuk mempromosikan menu baru es kelapa mudanya, Mama Icha menawarkan langsung kepada pembeli yang datang. Dari pembeli inilah kemudian menceritakan dengan orang lain. Dari mulut kemulut, warung Mama Icha mulai dikenal masyarakat.
Sekarang warung es kelapa muda jahenya, mempunyai pelanggan hingga luar Kalimantan. Warungnya setiap harinya buka sekitar pukul 09.00 sd 17.00 Wita, yang seharinya rata-rata menghabiskan 300 butir kelapa muda. Sedangkan pada hari-hari libur, bisa dua kali lipat dari biasanya.
Kelapa mudanya sendiri sengaja didatangkan dari wilayah Kapuas Kalteng, yang selama ini di kenal sebagai kawasan penghasil kelapa muda kualitas unggul.
Selain menyajikan minuman favorit es kelapa muda jahe gula aren, pengunjung juga bisa mencoba menu lain, seperti es nyiur kelapa muda aren, es nyiur karamel. Cara disajikanpun disesuaikan dengan pesanan pengunjung. Umumnya pelanggan lebih memilih minum langsung di batok kelapa muda.
“Pengunjung mendapatkan tambahan manfaat kesehatan seperti menyembuhkan asam urat, kolesterol, masuk angin dan keracunan. Karena, bahan baku es ini terdiri dari bahan alami yang biasa di gunakan sebagai ramuan obat-obatan. Untuk menikmati satu kelapa jahe gula aren yang penuh khasiat ini, cukup merogoh kocek Rp 8 Ribu hingga Rp 9 Ribu Rupiah” katanya.
Menurut Mama Icha, warung es nyiur jahenya, mulai dikenal masyarakat sekitar tahun 2004 yang lalu. dalam menjalankan usahanya, ia di bantu kedua putrinya Rezeki Fitria Safitri dan Khairunnisa, serta suami. Serta ada juga 7 orang karyawan yang semuanya masih satu ikatan keluarga.
Sehingga pelayanan untuk pelanggan bisa dengan cepat disajikan. Tidak ingin berpuas diri dengan apa yang sudah ada, Mama Icha mempunyai keinginan untuk terus mengembangkan es kelapa jahenya. Ia sedang berusaha mengumpulkan modal untuk berjualan mi dari sagu khas Pontianak “dengan do’a dan usaha, semua akan tercapai” pungkasnya. ara/mb06

Di masukkan di kolom Ekonomi & Bisnis, Mata Banua
-         pada Minggu 19 Desember 2010 – TIDAK DI MUAT
-         pada Senin 20 Desember 2010 – TIDAK DI MUAT

PIPM Targetkan 1000 Orang Investor Pada 2011

BANJARMASIN – Peluang Investasi Pasar Modal Indonesia, menjadi tema dalam Workshop Wartawan untuk Sosialisasi Pasar Modal, yang diselenggarakan oleh Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) perwakilan Banjarmasin, pada Senin (20/12) pagi di Swiss Bell Hotel Borneo.
Dalam workshop ini menghadirkan nara sumber dari Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Joko Saptono dan dipandu oleh M.Wira Adibrata kuasa perwakilan PIPM Banjarmasin.
Pada awal pemaparannya tentang saham, menurut Joko, media massa dan wartawan adalah ujung tombak dari Bursa Saham, oleh karena itu kerjasama antara Bursa Efek dengan media massa adalah sesuatu yang sangat penting.
Seusai workshop, M Wira Adibrata menjelaskan kepada Mata Banua, mengenai keoptimisannya akan peningkatan investor saham, dari masyarakat Kalsel pada 2011 mendatang.
“Saham memang tidak bisa dipredeksi dengan pasti, tapi dengan pendekatan-pendekatan ekonomi. Seperti BI yang juga masih mematok 6,5 persen BI retnya. Kemudian pemerintah kita, juga optimis bahwa 2011 ini, pertumbuhan ekonomi masih positif.
Maka berdasarkan itu, dalam pasar modal Indonesia, kami juga yakin, indeks kita akan terus meningkat, dan ini menjadi peluang bagi masyarakat Banjarmasin, yang belum terbiasa dengan saham, bisa mulai berenvestasi dari sekarang.
Upaya-upaya yang akan kami lakukan, dengan terus melakukan sosialisasi. Serta melakukan kunjungan kebeberapa instansi
Sehingga, untuk transaksi lokal, kami targetkan jumlah investor di Kalsel bisa 100 persen meningkat, kalau sekarang ada 520 investor yang sudah tercatat, kita harapkan di 2011 ada 1000 investor” pungkas Wira. ara/mb06

-----------------

Di masukkan di kolom Ekonomi & Bisnis, Mata Banua
pada Kamis 20 Desember 2010 – TIDAK DI MUAT

Korban Tabrakan Malah Dipukuli

BANJARMASIN – Biasanya pelaku yang menabrak yang dihajar, tetapi terjadi kejadian sebaliknya. Sabtu (4/12) sekitar pukul 15.00 Wita, situasi lalulintas di sekitar jalan Pahlawan, dekat MAN1 Banjarmasin, menjadi macet. Warga sekitar berlarian menuju lokasi kejadian.
Seorang pria menghajar remaja yang baru saja di serempetnya. Warga berusaha menengahi keributan. Setelah puas melampiaskan kemarahannya, pria tersebut melepaskan korban yang baru saja dipukulinya, sambil terus marah-marah masuk ke dalam mobil sedan warna merah, yang mempunyai nomor polisi DA9720AQ, selanjutnya ia meninggalkan TKP.
Kejadiannya berlangsung dengan cepat. Menurut Iwan, sopir mobil barang yang menyaksikan kejadian “saat itu aku sedang memuat barang ke mobil, kemudian mendengar suara benturan, kulihat pria dari mobil sedan merah tersebut menghajar remaja itu, dia dipukul beberapa kali, lehernya dicengkram dengan tangan dan diangkat kedinding pagar, kemudian dibanting ketanah” katanya.
Berdasarkan kesaksian warga, mobil sedan merah yang menyerempet lebih dulu, sehinga kendaraan yang didigunakan sepasang remaja tersebut hampir terjatuh ketanah, tahu-tahu pemilik mobil sedan, langsung menghajarnya. “Jangan mentang-mentang orang kaya lalu seenaknya” umpat warga.
Seusai kejadian, korban segera melaporkan penganiyaan yang terlah terjadi padanya ke Poltabes. Korban bernama Fredy Yunatas, mahasiswa Unlam Banjarmasin. ia menderita luka lecet,  lebam dan pakaiannya yang sobek karena dibanting.
Fredy menuturkan “aku hendak ke rumah sakit Ulin Banjarmasin bersama pacarku, ada keluarganya yang sedang operasi. Keadaan jalan di Pahlawan saat itu, sebenarnya tidak terlalu ramai.
Kemudian dari belakang sebuah sedan merah melewatiku, tanpa memberi lampu sein ia menepikan mobilnya. Karena kaget aku reflek merem dan kaki kananku, menendang mobil itu agar kendaraanku tidak membentur mobil. Sementara kaki kiri menahan kendaraan, agar pacarku yang dibonceng tidak jatuh.
Karena kuanggap tidak terjadi apa-apa, aku kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar 20 meter kemudian, mobil sedan merah tersebut mengejar dan menabrakku dari belakang.
Kemudian pemilik sedan warna merah, yang mempunyai nomor polisi DA9720AQ tersebut keluar dari mobil, lalu langsung menghajarku. Katanya aku mau merusak mobilnya” ungkap Fredy. Pernyataan Fredy, diiyakan pacarnya yang menjadi saksi peristiwa naas hari itu. ara/mb

-----------------

Di masukkan di kolom Hukum & Kriminal, Mata Banua
pada Minggu 05 Desember 2010 – TIDAK DI MUAT

Memancing Sebagai Latihan Dalam Bisnis

BANJARMASIN – Jangan menganggap remeh aktivitas memancing. Memancing, tidak sekadar diam menunggu ikan. Bagi sebagian orang yang benar-benar mengerti nilai-nilai dalam memancing, merupakan latihan bagi mereka untuk menjalani dunia bisnis.
Ipi pemilik toko Della Virna Farfume di komplek Pandu Km 3,5 Banjarmasin, menuturkan pengalamannya dalam memancing, dan bagaimana mengaplikasikannya dalam berbisnis.
“Dulu aku memancing hanya sekedar memancing, cuma hobi dan refresing. Boleh dibilang menjadi hobi yang mahal, karena ikan yang di dapat tidak sebanding dengan biaya memancing yang dikeluarkan.
Karena hanya hobi, tiap minggu dimana ada mendengar tempat yang menantang untuk memancing, akan aku datangi biarpun jauh tempatnya. Dari danau bendungan di Riam Kanan, sungai-sungai yang jauh di tengah hutan, sampai kelautan.
Tanpa sadar dari pengalaman memancing, malah banyak aku gunakan dalam menjalankan bisnis farfum. Kemudian aku perdalam lagi seni memancing ini, dari beragam referensi buku yang aku gabungkan dalam pengalamanku memancing.
Karena berbisnis itu sendiri adalah mancing. Seperti menentukan tempat memancing, adalah bagaimana kita melihat pangsa pasar pada suatu tempat. Alat pancing yang digunakan, adalah bagaimana cara kita mempromosikan produk kita” ujarnya.
Menurut ayah dua anak perempuan ini “kemampuan dalam memancing, merupakan latihan dalam persaingan bisnis. Umpan pancing yang digunakan, adalah bagaimana kita menarik minat customer. Resiko saat memancing, yaitu saat kita memperhitungkan resiko bisnis pada suatu tempat.
Dan sabar saat menanti ikan menggigit mata pancing dan terus berusaha mencobanya, tentunya mengasah kita dalam kesabaran berbisnis. Mengikuti gerak ikan yang terpancing agar tidak lepas, merupakan latihan bagaimana kita mengarahkan keinginan costumer” ungkapnya pada Kamis (25/11) malam.
Saat ini Ipi sudah mempunyai beberapa toko farfum di luar daerah, antara lain di Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Rantau. Rata-rata penghasilan bersih satu toko kata Ipi kurang lebih Rp 2 juta perbulan. ara/mb

-----------------

Di masukkan :
-         di kolom Ekonomi & Bisnis, Mata Banua
pada Kamis 25 November 2010 – TIDAK DI MUAT
-         di kolom Mozaik, Mata Banua
pada Jumat 26 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

Dominasi Buah Mangga Luar Daerah

BANJARMASIN – Kebanyakan buah-buahan yang dijual di pinggiran jalan utama di kota Banjarmasin, lebih didominasi oleh oleh buah-buahan dari luar daerah Kalsel. Padahal Kalsel juga mempunyai beragam buah-buahan lokalnya sendiri.
. Menurut pengakuan salah satu pedagang buah mangga, yang mangkal di Jl Brigjen TNI.H.Hasan Basry “susah mas mencari buah mangga kita, apalagi orang Banjar sukanya dengan mangga muda untuk dibuat rujak, belum masak sudah dipetik. Kalau mangga itu di jual masak kan harganya lebih mahal. Untuk buah lokal paling kita menjual durian, karena mudah mendapatkannya.
Buah mangga yang dijual ini, berasal dari Madura, kita mengambinya dari pelabuhan, langsung dari perahu. Satu keranjang mangga Gadur modalnya 65 ribu, sedang manga Golek satu keranjang 50 ribu.
Untuk harga jualnya mangga Gadur dan Golek, 20 ribu dari harga modal. Penjualan per kilonya mangga Gadur 25 ribu per kilo, sedang mangga Golek 15 ribu per kilo.
Besarnya harga perbandingan antara modal dan penjualan, adalah untuk menutupi bila tidak habis, karena mangga yang sudah mulai rusak, terpaksa dijual seperempat dari harga modal.
Biasanya, aku sekali pengambilan (satu kali angkat) diperahu bisa sampai 40 keranjang, dalam lima hari harus habis. Bila tidak habis akan rusak. Untuk satu angkatan tadi keuntungannya bisa sampai 1 juta. Tapi semuanya tergantung cuaca, kalau sering hujan, ya tidak banyak yang beli.
Sayangnya, untuk mangga lokal kita, sedikit sekali ada pedagang pengumpul yang mau mencarinya langsung dari petani. Padahal mangga lokal kita punya rasa sendiri, yang tentunya kalau dijual harganya akan bersaing dengan mangga dari luar daerah” pungkasnya. ara/mb06

-----------------

Di masukkan di kolom Ekonomi & Bisnis, Mata Banua
pada Kamis 19 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT


Nilai Ekonomi Dari Segi Sosial

BANJARMASIN – Nilai ekonomi keuntungan dari suatu usaha, tidak hanya dinilai dari  rupiah. Tetapi juga ada keuntungan lain dari sisi sosial masyarakat.
Subhan Fitriadi SP MP, Dosen Pengajar Kewirausahaan Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani Banjarmasin, pada Sabtu (13/11) siang, memisalkan sebuah keuntungan yang diperoleh dari segi sosial.
Ada seorang pedagang bakso keliling, yang setiap harinya bisa menjual 50 mangkok bakso. Namun pada suatu hari, ia hanya bisa menjual 40 mangkok bakso. Berarti hari itu ia bisa dikatakan rugi 10 mangkok bakso.
Daripada bakso tersebut menjadi rusak pada keesokan harinya, pedagang tersebut memberikan 5 mangkok bakso gratis kepada kenalan-kenalannya para tukang ojek yang sedang menanti penumpang dipangkalan ojek.
Sedangkan 5 mangkok sisanya lagi, diberikan dengan tetangga di sekitar rumahnya. Dari 10 mangkok yang diberikannya dengan gratis dan iklas, si penjual bakso malah mendapat keuntungan yang berkali lipat.
Dalam kebudayaan masyarakat, khususnya orang Banjar, akan membalas apa yang diberikan oleh orang lain kepadanya.
Tukang-tukang ojek, akan membantu dengan suka rela pula, pada saat tukang bakso memerlukan bantuan, yang bila dinilai dengan rupiah, bisa saja bantuan itu lebih besar dari harga 1 mangkok bakso.
Begitupun dengan tetangga yang ada disekitar rumah. Mangkok yang dikembalikan, tidak akan kembali kosong, tetapi berisi dengan makanan lain. Entah itu nasi sop, nasi goreng ataupun makanan lain.
Inilah nilai ekonomi berdasar keuntungan sosial yang diperoleh diluar dari rupiah” ujarnya. ara/mb06

-----------------

Di masukkan di kolom Ekonomi & Bisnis, Mata Banua
pada Kamis 18 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

Klotok Masih Di Minati

BANJARMASIN – Daerah Banjarmasin yang mempunyai banyak sungai, hingga kepelosok daerah. Tentunya bagi penduduk bantaran sungai, transportasi air merupakan bagian kehidupan yang tak terpisahkan.
Walaupun transportasi darat dengan menggunakan motor atau angkutan mobil lainnya lebih mendominasi, namun bagi sebagian masyarakat bantaran sungai, lebih suka tetap menggunakan angkutan sungai. 
Acil Imah pedagang barang kebutuhan rumah tangga yang punya toko kecil di depan rumahnya di Kelayan B Dalam, pada Jumat (12/11) pagi, berkata “mun naik taksi kuning kapasar lima nukar barang, takananya macit. Nyaman naik klotok, lawan ongkosnya tamurah (kalau beli barang pakai taxi angkutan dalam kota pergi ke pasar lima, sering macet di jalan. Lebih baik memakai kapal klotok, dan biayanya lebih murah)”
Bukan cuma ibu-ibu pedagang yang lebih suka menggunakan transportasi air, siswa-siswi juga tampak terlihat masih banyak menggunakan klotok untuk pulang pergi ke sekolah.
Pemandangan ini bisa dilihat di sungai Martapura depan kantor Pemprov Kalsel atau Masjid Raya Sabilal Muhtadin, pada pagi dan siang seusai jam sekolah.
Menurut Utuh Duan pemilik klotok penyeberangan “Mun kulihan tu, cukupanlah gasan dirumah. Tapi kada sa rami bahari, sualnya wahini banyak sudah urang nang baisi kandaraan saurangan, wan banyak taksi kuning. Gasan urang nang tinggal dipinggir sungai, nyata katuju naik klotok. Bila sampai tinggal bacapil karumah ja lagi” ujarnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Jumat 12 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

Pembuatan Film Perjuangan Kalsel, Selalu Hanya Menjadi Wacana

BANJARMASIN – Sejauh mana generasi mudanya mengenal pahlawan daerahnya, dan mempelajari sejarah perjuangannya. Selama ini cerita pahlawan daerah, hanya tertulis dalam buku-buku sejarah.
Akan berbeda halnya bila sejarah itu, telah dijadikan sebuah film dokumenter perjuangan pahlawan daerah. Pemahaman dan minat keinginan tahuan generasi muda, pada perjuangan pahlawan akan lebih terbangkitkan.
Pada Selasa (10/11) sore, Dramawan Kalsel Yadi Muryadi, yang sering memerankan tokoh pejuang dalam pentas teater, berkata “sampai saat ini yang sering mengangkat sejarah perjuangan pahlawan daerah, hanya dari orang-orang teater. Film perjuangan Kalsel akan sangat membantu dalam pendidikan sejarah perjuangan daerah.
Bagai mana dengan pemerintah, sampai sekarang hanya wacana dan wacana. Setiap gubernur yang memimpin Kalsel, selalu saja mewacanakan untuk membuat dokumentasi film perjuangan daerah. Baik itu perang Banjar maupun perjuangan Hasan Basri, tapi itu cuma tinggal wacana. Sampai sekarang tidak ada realisasinya” ujarnya.
Sementara menurut Alfonso, aktivis budaya “disini banyak pengusaha-pengusaha tambang yang kaya, mereka keruk hasil bumi Antasari, mereka injak tanah yang diperjuangkan dengan darah para pejuang. Tapi mereka enggan menyisihkan sedikit saja dari kekayaan yang diperoleh tersebut, untuk kemajuan pendidikan.
Membuat film tentang sejarah perjuangan daerah, adalah termasuk dalam pendidikan tersebut. Film yang tidak cuma diputar di gedung-gedung biokop, atau setiap peringatan hari pahlawan. Tapi juga di putar di sekolah-sekolah, sehingga generasi kita akan menjadi lebih mengenal akan pahlawan daerah sendiri.
Saat ini, kita hanya menonton film-film perjungan dari daerah lain di luar Kalsel, tidak ada satupun film perjuangan yang berasal dari daerah kita. Rasanya hati ini sedih sekali.
Daerah Kalsel yang kaya dengan hasil tambangya, tapi tidak mampu membiayai untuk membuat film perjuangan pahlawan daerah, apalagi membiayai pendidikan yang gratis dengan fasilitas yang lengkap” pungkasnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Kamis 11 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT


Sastrawan Kalsel Era Tahun 80-An

BANJARMASIN – Seringkali pihak luarlah yang melakukan penelitian terhadap perkembangan sastra Kalsel. Sedang dari dinas maupun instansi terkait, kalaupun ada hampir-hampir tidak diketahui masyarakat luas.
Kembali menyusuri jejak sejarah pelaku dan pejuang sastra, Mata Banua meminta Micky Hidayat pada Rabu (10/11) siang, untuk menceritakan apa yang diketahuinya.
Menurut Micky, pada dekade 1980-an berdasarkan hasil penelitian tak resmi penyair Jogja Bambang Widiatmoko, Kalsel diklaim menduduki peringkat kedua, dalam kategori populasi penyair terbanyak di Indonesia setelah Jogjakarta. Event-event sastra seperti forum diskusi, atau temu sastrawan juga marak diselenggarakan di berbagai kota dan kabupaten di wilayah Kalsel.
Forum sastra paling monumental di era 1980-an, adalah Forum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan 1982, yang digagas oleh Himpunan Penyair  Muda Banjarmasin  (HPMB). 
Sastrawan atau penyair  yang menonjol,  dengan  wawasan estetik puisi dan menemukan gaya pengucapan atau bahasanya sendiri, serta beberapa di antaranya memiliki reputasi kepenyairan nasional pada dekade ini, antara lain  Ajamuddin Tifani, Ahmad Fahrawi, Burhanuddin Soebely, Tarman Effendi Tarsyad  (walaupun  awal  ke-munculan keempat sastrawan ini pada dekade 1970-an, tapi oleh Abdul Hadi WM di Forum Puisi Indonesia ’87 di TIM dikategorikan sebagai generasi penyair 80-an).
Selanjutnya penyair lain yang dikategorikan penyair tahun 80-an, yaitu “Agus Suseno, M Rifani Djamhari, Noor Aini Cahya Khairani, Ali Syamsuddin Arsi, Ariffin Noor Hasby, Sandi Firly, Fahruraji Asmuni, Eddy Wahyuddin SP, Muhammad Radi, Zain Noktah, Kony Fahran (kini bermukim di Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim).
Kemudian, Jamal T Suryanata,  Eko Suryadi WS,  Abdul Karim, Tajuddin Noor Ganie, Radius Ardanias, Maman. S Tawie, Iwan Yusi, Micky Hidayat, Akhmad setia Budhi, Aria Patrajaya, Sri Supeni, Mas Alkalani Muchtar, dan lain-lain.
“Iklim bersastra yang terbilang kondusif dan bergairah pada dekade 80-an dan 90-an tersebut, boleh dikata merupakan era kebangkitan sastra Kalsel, dengan ledakan-ledakan kreativitas, yang telah berimplikasi melahirkan sejumlah sastrawan, dengan kapasitas intelektual dan  kegigihan  idealisme, yang  cukup  penting  diperhitungkan pada khasanah sastra Indonesia” ujar Micky. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Rabu 10 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

HTI Salahkan Media Massa Dukung Obama

BANJARMASIN – Pada dialog Forum Intelektual Muslim yang diselenggarakan DPD 1 Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kalsel, terlontar pernyataan dari moderator acara yang menyalahka media massa. Bahwa media massa tidak berimbang dalam pemberitaan, atas aksi-aksi HTI menolak kedatangan  Obama.
Mengkritisi Komprehensip Indonesia AS, menjadi tema yang dipaparkan dalam dialog pada Sabtu (06/11) tadi. Acara bertempat di aula gedung Pasadena, komplek Kejaksaan Kayu Tangi II jalur 2, dimulai dari pukul 14.00 sd 17.00 Wita. Dihadiri oleh perwakilan berbagai organisasi mahasiswa dan masyarakat.
Nara sumber dialog pertama dari pengamat hukum, Deden Koswara SH MH, yang juga menjadi dosen Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), dan sebagai anggota DPD 1 HTI Kalsel.
Deden Koswara menyimpulkan alasan menolak kedatangan Obama, yaitu bukan sebuah kemitraan, tetapi tekanan agar Indonesia mengakomodasi kepentingan AS. Kemudian, kemitraan komprehensif adalah stategi baru AS, untuk menjadikan Indonesia sebagai bidak. Menurutnya Deden, kemitraan komprehensif adalah politik penjajahan.
Nara sumber kedua dari pengamat ekonomi nasional, Hidayatullah Muttaqin SE MSi, yang juga menjadi Ketua Lajnah Siyasiyah (Departemen Politik) DPD 1 HTI Kalsel, dan sebagai dosen Fakultas Ekonomi Unlam.
Acara tersebut dimoderatori oleh Akhid Yulianto MSc, yang juga menjadi dosen Fakultas Ekonomi Unlam. “Sudah menjadi kebiasaan dari HTI, apabila menyelenggarakan Diskusi, Dialog maupun Seminar, maka selalu menggunakan nara sumber dari kalangannya sendiri” ungkap salah satu peserta yang hadir kepada Mata Banua.
Beberapa saat sebelum dialog berakhir, moderator mengeluarkan pernyataan “opini HTI yang kuat di media massa, pada acara-acara besar HTI tidak masuk (dimuat), kalaupun masuk hanya di Runing Back.
Jelas sekali kelihatan, media massa mendukung kedatangan Obama. Biasanya pro dan kontra masih disampaikan, tapi sekarang kelihatan sekali yang kontra tidak ditampilkan. Mungkin karena ada sesuatu dibalik itu, ini merupakan persoalan berikutnya.
Bisa saja sesuatu itu, berdasarkan data yang dipunyai HTI, karena Amerika banyak memberi beasiswa kepada beberapa wartawan, ini merupakan persoalan juga bagi HTI.
Mudah-mudahan ada wartawan yang jujur dan berimbang. Tak perlu mengagungkan Islam, yang penting kalau ada Islam yang demo dan menolak, disampaikan segera” ucap Akhid Yulianto.
Seusai Akhid berkata, secara sepontan salah satu wartawan yang berhadir meliput kegiatan, mengangkat tangan untuk meminta klarifikasi terhadap pernyataan tersebut, namun tidak diberi kesempatan oleh moderator, dengan alasan waktu telah habis. Karena merasa protes tidak di tanggapi, wartawan meninggalkan ruangan dialog sebelum acara selesai.
Selepas magrib, salah satu anggota HTI menghubungi wartawan tadi, yang isinya meminta ma’af karena tidak menyediakan waktu untuk wartawan berbicara, saat acara masih berlangsung. Dalam pembicaraan via telepon, wartawan berusaha mengejar klarifikasi atas pernyataan yang sudah dikeluarkan, tapi nada bicara penelepon tetap tidak menarik ucapan yang telah dilontarkan untuk media massa dan wartawan. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Minggu 07 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

PLN Ganti Kabel Yang Hangus

BANJARMSIN – Sebagian wilayah Kayu Tangi pada Kamis (04/11) mengalami pemadaman listrik, dari pagi hingga sore. Hal ini dikarenakan salah satu kabel besar di jalan S.Parman Banjarmasin, mengalami penggantian oleh PLN.
Mengenai penyebab pemadaman ini, Suhadi wakil ketua teknisi lapangan PLN cabang Banjarmasin, yang tengah mengawasi proses penggantian kabel, menjelaskan “ini ada kabel yang diganti, karena hangus.
Kejadiannya dari Rabu kemaren, ada pelindung luar kabel besar yang terbuat dari karet, yang terbakar. Penyebab hangusnya dikarenakan ada baut pengait kabel yang kendor, yang lama-lama menjadi panas.
Pelindung luar kabel besar yang hangus memang cuma kurang lebih 10 centimeter, tapi tidak bisa kita diamkan saja. Karena bisa menjadi lebih berbahaya,” katanya.
Sambil mengangkut kabel yang telah diganti kedalam mobil, Suhadi meneruskan “pekerjaan penggantian kabel besar ini sangat sulit dan berat, kita sudah mengerjakannya dari pagi tadi.
Sedikit saja ada kabel yang rusak, maka harus diganti sepanjang sekian meter. Panjang kabel yang saat ini diganti ada 8 gawang (jarak antara tiang), satu gawang ada 8 meter kabel. Jadi panjang kabel yang diganti seluruhnya ada 64 meter.
Sekaran kabel sudah diganti dan baut pengaitnya sudah kita press, maka salah satu jalur listrik yang arah ke Kayu Tangi sore ini sudah bisa dinyalakan lagi” pungkasnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Jumat 05 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

Sabtu, 08 Oktober 2011

Terbentuknya Komunitas Wartawan Seni Budaya Dan Pendidikan

BANJARMASIN - Menindak lanjuti wacana yang mengemuka diantara keinginan seniman akan adanya suatu Komunitas Wartawan Seni Budaya dan Pendidikan, diadakanlah pertemuan di rumah Budayawan Kalsel Syaripuddin.R, yang dihadiri oleh  beberapa seniman, kalangan pendidik, mahasiswa dan wartawan, pada Selasa (26/10) pukul 15.00 -18.00 wita, yang lalu.
Tamu yang hadir, diantaranya yaitu Hajriansyah (Ketua KSI Banjarmasin),  Nailiya Nikmah (Dosen Poliban Banjarmasin), dan beberapa mahasiswa yaitu :  M.Arsyad (LPM Kinday), Muhammad Pazri (KAMMI Bjm), M.Didi Rusadi (IMM Unlam), Darul Huda.M (LP2DH FH Unlam) dan Novia Winda (Himbi Sastra).
Sedangkan dari kalangan wartawan, antaralain Wulan (MB), A.Rahman.A (MB), A.Maghfur (Banjar TV), Hendra (MK), dan Frans (Metro Banjar). Wartawan yang tidak bisa berhadir, tetapi menyatakan setuju dengan hasil kesepakatan antara lain, Yuni (Duta TV), Firman (MK), Erwin (Banjar TV), Helman Gellyrian (Nirwana FM), Chintia (Barito Post) dan Isur (Radar Banjarmasin)
Dalam sambutan pembukaan Syaripuddin.R yang juga Ketua Harian Dewan Kesenian Kalsel, mengatakan ”kita berharap dengan adanya komunitas ini, para pelaku seni yang biasanya kesulitan untuk menghubungi wartawan, sekarang bisa lebih mudah untuk mempublikasikan kegiatannya.
Dengan komunitas ini dan pemberitaan yang rutin dari wartawan, akan sangat membantu kita Dewan Kesenian dan Disbudpar dalam menilai kreatifitas seniman, untuk memberikan penghargaan seni tahunan” ujarnya.
Hasil pembahasan pertemuan, menetapkan tujuan dasar pembentukan Komunitas Wartawan Seni Budaya dan Pendidikan, yaitu:
Memperluas komunikasi, informasi dan sambung rasa antar sesama wartawan (media cetak dan elektronik) yang bertugas di bidang Seni Budaya dan Pendidikan serta wartawan yang peduli dengan dunia Seni Budaya dan Pendidikan walau tidak betugas pada bidang itu.
Mempermudah akses akses bagi instansi/ organisasi/ pelaku seni budaya dan pendidikan untuk menghubungi wartawan (media cetak dan elektronik) Seni Budaya dan Pendidikan serta wartawan yang peduli dengan dunia Seni Budaya dan Pendidikan walau tidak betugas pada bidang itu.
Menjadi sebuah kekuatan untuk membantu permasalahan yang terjadi dalam dunia Seni Budaya dan Pendidikan, baik dalam pemberitaan maupun dalam memberikan solusi pada permasalahan tersebut.
Disebutkan pula dalam pembahasan, bahwa komunitas ini tidak untuk menciptakan blog antar sesama wartawan dan media, tetapi hanya sebagai wadah seperti yang tertuang dalam tujuan dasar. Dalam liputan dan pemberitaan tetap menjunjung tinggi kode etik Jurnalistik serta kebebasan pers antar sesama wartawan dan media.
Serta untuk membuat sinergi dalam kerjasama terhadap perkembangan dunia seni budaya dan pendidikan, dibentuk pula Generasi Muda Peduli Seni Budaya dan Pendidikan, yang anggotanya dari Mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda dan sumber insan pembangunan, dengan ketua Kelompok M Arsyad.
Disepakati pula sebagai kordinator yang akan mengorganisir komunitas yaitu A.Rahman.A, dan mengangkat Syarifuddin R sebagai penasehat dari perwakilan Budayawan. Sedang mengenai nama sebutan, lambang dan lain sebagainya, akan dibahas pada kesempatan lain. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Rabu 27 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT


Festival Musik Underground Di Saksikan Wakil Walikota Banjarmasin

BANJARMASIN - Persepsi masyarakat yang menilai underground adalah musik yang keras dan brutal, membuat UKM MG.Poliban Present, menggelar Spirit Music Of South Borneo (SMOSB) pada malam Minggu (16/10) yang lalu, di halaman Taman Budaya Kalsel.
Arti musik buat komunitas underground tidak hanya sebatas seni, tapi juga menganggap musik sebagai karya seni. Musik menjadi alat untuk menyampaikan protes, kritik, kemarahan, dan kemuakan terhadap peraturan-peraturan yang ada. Suara musik yang kencang, berisik, dan berat dipadu dengan lirik yang kritis, merupakan ciri khas musik underground.
Kata underground pada periode 1990 sd 2004 sempat naik daun, dan jadi basis sayap kiri bagi kalangan musisi independen. Kata underground sendiri diterjemahkan sebagai bawah tanah, dengan arti khusus kebebasan buat berkarya.
Aliran musik dalam underground bisa sangat beragam, yang load voice, midlle voice sampai yang kalem pun bisa, karena dalam musik underground yang terpenting adalah  semangat dalam pembawaannya.
Menurut Ketua Umum UKM Musik Generation Poliban, Sandy Gustiawan ”yang mendasari kegiatan ini, yaitu menunjukkan kreatifitas generasi muda di Kalsel, didepan khalayak secara positif.
Kami ingin mengubah persepsi masyarakat, yang menyatakan bahwa musik underground itu musik yang keras, padahal musik underground itu adalah musik kebersamaan persatuan dan kesatuan
Event seperti ini sudah kami laksanakan dari tahun 2007, dan terus akan kami laksanakan tiap tahun. Tidak ada target berapa kali dalam setahun di selenggarakan, tergantung waktu kosong dari aktivitas kampus, dan kesepakatan dengan sponsor.
Kami tidak mengira, kalau bapak wakil walikota Banjarmasin, yang usai menyaksikan Dramatisai Puisi di Gedung Seni Balairung Sari, pulangnya mampir kesini. Dari yang beliau sampaikan, bahwa beliau sangat mendukung dan mensuport acara kami” ujarnya diantara hangar-bingar suara musik yang keras menghentak gendang telinga.
Dilain pihak, Kepala Bidang Kebudayaan Disparpora Kota Banjarmasin, Mujiyat. SSn MPd, berkomentar “Yang namanya kaula muda sifatnya yang penting kumpul-kumpul, secara subtantif esensinya tidak begitu diperhatikan, tapi  kumpul-kumpulnya itu yang penting bagi mereka.
Secara regenerasi apapun bentuknya sejarah pertunjukan itu harus dikembangkan, tergantung bagaimana kita memberikan ruang. Bila semuanya teragenda dengan rutin, itu sangat bagus“ ugkapnya seusai mengantar Wakil Walikota Banjarmasin H.Irwan Anshari  di SMOSB. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Selasa 19 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT

Sulis Mengajak Warga Banjarmasin Bersholawat

BANJARMASIN – Kehadiran Sulis di kota Banjarmasin disambut antusias penggemarnya, sehingga halaman depan masjid Raya Sabilal Muhtadin pada Sabtu (16/10) malam, dipadati warga.
Gandi, Ketua Panitia yang melaksanakan acara bersholawat bersama Sulis, mengatakan “ini adalah apresiasi bersama dari Sulis selaku penyanyi lagu relegi, bersama  propidernya dan telkomsel.
Pada dasarnya acara ini atas rasa sukur, dengan banyaknya apresiasi masyarakat Indonesa, khususnya warga Banjarmasin atas NSP Sulis. Acara pertama kita mulai dengan marawis, setelah itu ada tausiah dari Drs KH Rajudin, kemudian nasyid. Insyaallah dengan apresiasi masyarakat, kedepannya kami akan kembali mendatangkan Sulis” ujarnya.
Ita bersama teman kos-kosannya sudah datang semenjak pukul 19.00 wita, padahal acaranya sendiri baru dimulai dari pukul 20.00 wita, dan Sulis sendiri baru tampil pada pukul 21.30 wita.
Duduk tidak jauh dari tenda penonton di depan panggung pertunjukan, menanti kedatangan Sulis, ia berkomentar ““Sulis itu cantik, suaranya merdu. Lagu-lagu sholawatnya banyak memotifasi untuk mencintai Rasul, aku sangat fans sama Sulis” ungkap mahasiswi Akademi Kebidanan, yang berasal dari daerah Kandangan ini.
Penonton yang awalnya hanya duduk bersantai cukup jauh dari panggung pertunjukan, sambil mendengarkan tampilan acara marawis, tausiah dan nasyid. Sepotan beranjak mendekati panggung, saat Sulis datang.
Sebelum melantunkan lagu sholawatnya, Sulis mengatakan “hampir semua lagu-lagu sholawatku di ilhami dari Banjarmasin, begitu juga lagu Cinta Rasul. Setiap kali aku diundang ke Banjarmasin, aku selalu bilang “ya”, karena aku selalu rindu untuk datang menjiarahi maqam Guru Sekumpul di Martapura”. ara/mb05 

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Senin 18 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT


Akhir Oktober 1300 Orang Guru Sudah Melek Teknologi

BANJARMASIN – Balai Teknologi, Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BTIKP) Disdik Kalsel, menargetkan akhir Oktober kurang lebih 1300 orang guru di Kalsel, akan sudah melek teknologi komputer.
Dalam rangka menunjang program melek teknologi untuk guru, BTIKP mengadakan beragam kegiatan lomba yang bertemakan pendidikan dan teknologi, yang dinamakan Festival E-Pendidikan.
Kegiatan dilaksanakan di Taman Budaya (TB) Kalsel, selama tiga hari, di mulai dari Minggu 10 Oktober sd 12 Oktober 2010. Selain itu juga di laksanakan pameran dan bazar yang diikuti oleh beberapa lembaga pendidikan yang ada di kota Banjarmasin.
Chairul Saleh, kepala BTIKP menuturkan “BTIKP operasionalnya baru pada 2009. Dalu subtansinya itu masuk di BPKB Banjarbaru, kalau lebih jauh lagi sejarah tekom ini di tahun 96an di Kanwil Depdiknas saat itu ada sanggar tekom di bawah pimpinan Pustekom.
Namun di era otonomi pada 2000 subtansi tekom, tidak dijadikan UPTD sendiri, tapi dimasukkan menjadi salah satu subtansi di BPKB, sehingga sempat namanya Balai Pengembangan Teknologi Komonikasi dan Pengembangan Kegiatan Belajar Masyarakat  (BPTKPKB).
Ternyata dari PP 41, Pemerintah Provinsi Kalsel merasa perlu ada balai tersendiri, yang khusus menangani teknologi. Karena melihat bidang TIK untuk pendidikan perlu di garap serius, jadi terbentuklah balai BTIKP yang baru berjalan satu tahun setengah.
BTIKP merupakan UPTD Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel, yang secara subtansi linknya di PUSTEKOM Pendidikan Nasiaonal. Sehingga yang membina, yang menghendel, yang mem back up segala kekurangan SDM kami dari Pustekom.
Ditengah-tengah perjalanan selama ini, BTIKP melakukan diklat-diklat, memberikan pengayaan, pelatihan, dan bimbingan. Hampir tiap hari ada saja guru yang di didik dan di latih” ujarnya.
Menurut Chairul, untuk pengembangan SDM guru di 2009 ketika start BTIKP, data sasaran ada 49000 lebih guru yang belum melek TK, belum pernah didiklat. “Maka mulai tahun ini, BTIKP melakukan upaya agar setiap Dinas Pendidikan (Disdik) di Kabupaten kota, untuk membentuk tim pengembang  ICT. Tim ini yang bertugas menghendel dan membantu balai, melakukan diklat bimbingan terhadap guru-guru.
Tahun ini sasaran 100 orang guru perkabupaten, dan sebagian besar sudah terlaksana. Artinya kalau nanti akhir Oktober ini selesai, maka yang sudah di diklat itu ada 1300 orang guru.
Tahun depan BTIKP akan memperbanyak lagi sasarannya, masing-masng 200 orang guru. Sehingga insyaallah di tiap Kabupaten Kota akan ada terdiklat 2600 orang guru. BTIKP akan membantu dana, begitu juga instruktur, kalau Disdik Kabupaten memerlukan, akan kami berikan juga” pungkasnya bersemangat. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Selasa 12 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT



Galuh Langkar Berikan Unsur Kejutan Pada Audisi IMB 2

BANJARMASIN – Semenjak pagi-pagi sekali peserta Audisi Indonesia Mencari Bakat (IMB) 2, sudah memenuhi halaman Hotel Arum (HA) Banjarmasin, untuk menunjukkan bakatnya masing-masing. Sementara seleksinya sendiri baru dimulai pukul 08.00 Wita.
Dari pantauan Mata Banua, audisi IMB 2 wilayah Kalimantan ini, dilaksanakan selama dua hari yaitu Sabtu dan Minggu (9 sd 10 Oktober 2010), Hari pertama, didominasi peserta yang datang dari luar kota dan luar daerah Kalsel. Ada yang berasal dari palangkaraya, samarinda  dan kota lainnya. Salah satu peserta dari Kalteng mengatakan datang berombongan, dan sudah ada di Kota Banjarmasin semenjak Jumat.
Setelah peserta mengambil nomor di meja panitia yang ada di halaman HA, harus menunggu panggilan dulu, sebelum dipersilahkan naik kelantai tiga HA, di mana ruangan audisi berada.
Peserta yang sudah dipersilahkan naik kelantai tiga, masih harus menunggu panggilan masuk keruangan audisi. Secara bergerombol dengan kelompok masing-masing, tiap peserta melakukan latihan. Wajah-wajah cemas dan tegang Nampak terlihat.
Salah satu kelompok peserta, menampilkan tarian adat suku dayak, lengkap dengan pakaian adatnya. Perpaduan antara tari tradisional, permainan senjata Mandau dan tari moderen, diantara iringan musik dayak yang ditampilkan, cukup mendapat pujian dari juri IMB 2.
Hari kedua, didominasi peserta seputar Kalsel, terutama kota Banjarmasin. Kelompok tari dari Perpekindo yaitu sanggar Galuh Langkar (GL) memperlihatkan kebolehannya menarikan tarian Banjar yang dipoles dengan menggabungkan sedikit gerakan dari tari moderen.
Kepada juri IMB 2, salah satu penari yang bernama Rena, mengatakan “motifasi kami ikut Indonesia Mencari Bakat adalah untuk menampilkan tarian daerah Banjar kepentas Nasional dan mancanegara.” Penampilan dari Sanggar GL ini juga mendapat sambutan yang baik dari para juri IMB 2, karena ada satu unsur kejutan yang tidak dikira dalam penampilan.
Kemudian tampil sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Panting Bliz (PB). Unsur musik panting yang dipadukan dengan lagu barat, dan rap, membuat juri terkesan Walau ada salah satu anggota dari PB, dinilai juri kurang memuaskan penampilannya, dan diberi kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki penampilan.
PB di persilahkan berlatih dulu diluar ruangan audisi, dan bila telah siap baru kembali keruangan audisi. Usaha keras dari PB pada kesempatan kedua, menjadi pertimbangan juri IMB 2 mengirimkan rekaman penampilannya ke Jakarta. Selanjutnya  tinggal menanti dihubungi oleh Trans TV, tentunya yang dihubungi berarti telah lolos dan berhak untuk ikut audisi tingkat nasional di Jakarta. ara/mb

-----------------

Di masukkan :
-         di kolom Pentas, Mata Banua
pada Minggu 10 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT
-         di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Senin 11 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT
-         di Berita Kaki, halaman 1 Mata Banua
pada Selasa 12 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT

DG Adakan Lomba Musik Panting Tertutup

BANJARMASIN – Seni adalah milik masyarakat, sangat tidak menyenangkan dan tidaklah baik, ketika sebuah kegiatan seni mempunyai kesan tertutup.
Senen (4/10) sore, sesuai janji dan atas permintaan Abdullah Sp, Mata Banua menemuinya di Taman Budaya Kalsel. Perihal kegiatan seni yang akan dilaksanakannya, yaitu Lomba Musik Panting. Dalam pertemuan tersebut, Abdullah mengatakan kalau ia sebagai konsultan lomba pada rangkaian peringatan ulang tahun Super Market Bahan Bangunan, Depo Gemilang (DG) di Banjarmasin. 
“Peserta di batasi hingga 10 kelompok saja, jadi siapa yang terlambat menyatakan kesediaan, maka tidak bisa untuk ikut lomba. Kami sudah mengundang 14 Grup musik panting, yaitu:
Nan Sarunai (IAIN Antasari Banjarmasin), Janar Putih (Jl.Manggis), Baturai Lagu (SMA 6 Banjarmasin), Junjungan Naga Pusaka (Jl.Gatsu), Anum Banua Etnik (STIKIP PGRI Banjarmasin), Musik Panting Banjar (Jl.Pangambangan), Titian Barantai (Uniska Banjarmasin), Cahaya Banjar (Kelayan B), Samaban Suasana (Unlam Banjarmasin), Sanggar SMPN 2 (Banjarmasin), Kembang Naga Sari (Jl.Vetran), Rampak Pesona (Sei.Mesa), Ruhui Rahayu (Banjarbaru), dan G Anpa (Banjarmasin)”.
Untuk lebih jelas mengenai kegiatan lomba musik panting ini, Mata Banua mencoba mengkonfirmasinya dengan panitia pelaksana di DG.
Kesan yang didapat sangat tidak menyenangkan, tatapan satpam DG yang penuh curiga, padahal sudah memakai ID Card Wartawan. Ditambah dengan permintaan Costomer Service DG, agar semua perlengkapan yang di bawa untuk ditinggalkan saja di penitipan, termasuk melepas jaket, seakan wartawan adalah pencuri.
Setelah mengaikuti aturan yang berbelit-belit, akhirnya bertemu dengan Manager DG, yang kemudian mengatakan “peserta dibatasi, kami tidak mengagendakan mengundang seniman lain (selain juri), atau instansi yang terkait (Taman Budaya dan Dinas Pariwisata), bahkan juga dari media massa, ini hanya untuk kalangan sendiri.
Kalau kamu mau membuat beritanya, nanti rilisnya bawa kemari dulu. Saya ingin melihat isinya, mana yang boleh dimuat mana yang tidak” ujarnya, yang ternyata baru 4 bulan bekerja di Banjarmasin. Dengan mangkel wartawan Mata Banua meninggalkan gedung DG.
Di lain pihak Mukhlis Maman, pemerhati seni budaya, berkomentar “seni adalah milik masyarakat, tidak sewajarnya dalam lomba peserta dibatasi apalagi berkesan tertutup. Kecuali pembatasan perwakilan utusan daerah, itu bisa dibenarkan.
Alasan panitia yang takut peserta lebih dari yang ditentukan dalam lomba itu juga tidak relevan. Kalau kesannya seperti itu malah akan menimbulkan kecurigaan para seniman.
Hak informasi yang dibatasi, hanya akan membuat kegiatan seni budaya tidak di ketahui masyarakat. Kita harus membina hubungan yang baik dengan wartawan” pungkasnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Rabu 06 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT

Puncak Perkembangan Sastra Di Kalsel

BANJARMASINAda masa dimana suatu perkembangan mencapai puncaknya, hingga akhirnya mengalami kemunduran. Tidak terkecuali dalam sastra. Menyusuri catatan sejarah perkembangan sastra Kalsel, memang memerlukan pengorbanan waktu yang tidak sedikit. Tetapi ini memang harus dilakukan agar generasi mendatang bisa mengenal akan tokoh-tokoh sastranya sendiri.
Sabtu (30/10) sore, Mata Banua kembali menggali arsip-arsip sastra Micky Hidayat, kali ini lewat via telepon. Setelah berbasa-basi dan menunggu beberapa saat, ia mulai bercerita “Bila ada anggapan bahwa Kalsel adalah gudang sastrawan, hal itu tak bisa dimungkiri dan stigma itu masih melekat hingga hari ini.
Dekade awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an, untuk sementara diklaim sebagai puncak pertumbuhan ataupun perkembangan sastra di Kalsel. Namun di dua dekade ini, karya sastra yang paling dominan hadir adalah genre puisi. Hal ini terbukti dari jumlah karya sastra (sajak) dan penyair Kalsel yang muncul ke permukaan” ujarnya.
Micky kemudian mengutif pendapat dari tokoh sastrawan dan kritikus sastra Korrie Layun Rampan, bahwa “bukan hanya perkembangan kuantitas sastrawan dan karya sastra, tapi juga perkembangan kualitas sastra sangat pesat di Kalsel.
Lanjut Micky “rubrik-rubrik sastra di media cetak lokal maupun nasional didominasi oleh puisi. Khususnya untuk publikasi karya puisi, cerpen, cerber, dan esai di media cetak lokal, para sastrawan Kalsel merasa terbantu dengan kehadiran rubrik-rubrik sastra.
Sedemikian banyaknya penyair yang menulis untuk Dahaga, sehingga pada setiap hari pemunculannya rubrik ini dijejali oleh sajak dan sangat luar biasa dalam melahirkan penyair, tentu dengan klasifikasi; penyair yang sajaknya berkualitas dan tidak berkualitas.
Secara representatif dapat digambarkan, bahwa sepanjang tahun 1981 saja tercatat sebanyak 251 orang penyair yang menulis untuk Dahaga, dengan jumlah sajak tak kurang dari 2.336 buah (berdasarkan data penelitian pengamat sastra Kalsel, Tajuddin Noor ganie).
Rubrik puisi Dahaga yang sempat bertahan sekitar 7 tahun (1978-1985) ini digawangi oleh tiga serangkai sastrawan, yaitu Yustan Aziddin, D Zauhidhie, dan Hijaz Yamani (ketiganya kini sudah almarhum).
Tumbuh suburnya perpuisian, hingga muncul anggapan Kalsel mengalami inflasi puisi dan kepenyairan. Di Kalsel juga memacu antar penyair untuk saling berkompetisi menerbitkan sajak-sajaknya, baik secara perseorangan maupun secara kolektif,  bersama penyair luar Kalsel yang diterbitkan di Banjarmasin, Surabaya, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Tasikmalaya, Padang, dan beberapa kota lainnya, hingga Brunei Darussalam dan Malaysia” tutur Micky Hidayat yang selalu mendukung aktivitas seni kaum muda. ara/mb05

-----------------
Di setor Minggu, 31 Oktober 2010
Di muat Kamis, 04 Nopember 2010/ 27 Dzulkaidah 1431 H
-         dengan judul Puncak Perkembangan Sastra Di Kalsel
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5

Gerakan Pemuda Dan Transaksi Politik Dalam Demokrasi

BANJARMASIN - Dalam demokrasi, kita ketahui ada transaksi politik antara orang yang ingin memimpin, dengan yang mendukungnya. Apalagi biaya politik demokrasi itu sangat besar, sehingga setiap calon memerlukan sumber dana untuk, melakukan kampanye-kampanye politik pencitraan agar masyarakat mengenalnya.
Tentunya sumber dana itu tidak bisa dari dia sendri, tetapi dari pihak lain” kata Fadlan Hidayat perwakilan HTI Chapter Unlam pada saat Mimbar bebas (28/10) di halaman Gedung Serba Guna (GSG) Unlam Banjarmasin.
Kepada Mata Banua, Fadlan menjelaskan “pada saat orang yang ingin memimpin sudah duduk dikursi pemerintahan, akhirnya akan membuat kebijakan berdasarkan transaksi politik yang telah dilakukannya.
Kemudian yang mempunyai uanglah, yang akan menggolkan kebijakan politik tersebut, hingga mengarah kepada penguasaan sumber daya alam oleh swasta asing dalam bidang domestik. Maka akan ada kepentingan ekonomi pihak asing, yang lebih diutamakan dari pada dalam negeri dan daerah” ujarnya.
Fadlan mengakui bahwa menjelang pemilihan kepala daerah atau kepala negara, sangat memungkinkan kalau mahasiswa atau pemuda dibacking oleh calon-calon pemimpin. Apalagi ketika terjadi persentuhan-persentuhan dengan pihak luar. Ini terlihat dengan adanya gerakan mahasiswa pada akar rumput, yang mengadakan aksi untuk mendukung salah satu calon.
Dan tidak bisa dipungkiri dalam demonstrasi yang menyerukan perubahan, bahwa ada orang-orang yang mempunyai niat yang tidak tulus untuk memperbaiki negeri, melepaskan penjajahan (ekonomi) dan meletakkan pondasi yang lebih bagus dari yang sekarang. Tapi demonstrasi yang dilakukan hanaya dilandasi karena sakit hati karena tidak duduk dikursi pemerintahan, atau memang sudah benar-benar muak dengan rezim yang berkuasa.
Menurut Fadlan “tiap kejatuhan rezim, disana mahasiswa dan pemuda mempunya porsi tersendiri, dalam mengumpulkan massa dan menggoyang pemerintahan. Dan pada saat ini setelah 10 tahun reformasi, geralkan pemuda tidak terlalu terdengar lagi suara kritis mereka. Karena banyak aktivis pemuda yang telah masuk kedalam sistem.
Saat ini kami melihat para pemuda mengalami krisis idealisme, dimana banyak pemuda (mahasiswa) yang tidak peduli dengan kondisi negerinya dan daerahnya sendiri. Kebanyakan para pemuda hanya mengkritisi tapi tidak memberikan solusi bagaimana yang seharusnya.
Bagaimana agar ada visi kedepan bagi gerakan pemuda, sehingga tidak terpilih lagi pemimpin antek penjajah. Kita mengharapkan akan ada perubahan mendasar bagi negeri ini, karena perubahan pada daerah dipengaruhi oleh perubahan politik dalam negeri kita.
Sedang perubahan itu harus dari kesadaran pemuda (mahasiswa) dan masyarakat sendiri, tidak bisa perubahan itu melalui sistem pemerintahan, karena dalam parlemen hanya akan ada transaksi politik. Dan itu tidak akan mampu ngantarkan negeri pada tujuan sebenarnya” pungkasnya. ara/mb05

-----------------
Di setor Minggu, 31 Oktober 2010
Di muat Senin, 02 Nopember 2010/ 25 Dzulkaidah 1431 H
-         dengan judul Transaksi Politik Dalam Demokrasi
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5

Yang Tidak Dapat Bantuan, Malah Menang Lomba Web

BANJARMASIN – Apabila SMA dan SMP membuat webblog, itu sudah wajar. Tetapi bagi Banjarmasin ada SD yang mempunyai webblog adalah sesuatu yang luar biasa. Apalagi memenangkan lomba Desain Web dan Blog Sekolah se-Kalsel.
Pada event tahunan yang dilaksanakan oleh Balai Teknologi, Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BTIKP) Disdik Kalsel dalam festival e-Pendidikan tingkat daerah pada Minggu (10/10) yang lalu. Untuk tingkat SD hanya diikuti oleh dua sekolah yaitu SDN Pekauman 1 Banjarmasin dan SDN Internasional Kabupaten Banjar.
Prestasi dan kemauan dari SDN Pekauman 1 untuk mempelajari teknologi informasi internet dalam hal webblog merupakan usaha yang patut dibanggakan, karena mereka mampu mengalahkan SDN yang lebih maju dan berstandar Internasional.
Dibalik prestasi tersebut, terselip cerita lain yang menarik untuk disimak. Hj Mariaty Azizie SPd, Kepala Sekolah SDN Pekauman 1, menuturkan “kami bersyukur karena sudah menang, tapi kemaren kami dijanjikan untuk mendapat bantuan laboratorium komputer, setelah ada peninjauan dari Dinas Pendidikan Provinsi (Disdik Prov) bagin TIK. Ternyata malah tidak dapat, sedang yang dapat adalah SD lain. Padahal semua surat-surat yang diminta telah kami lengkapi.
Sebagai pemenang lomba Web tingkat daerah, SD kami akan mewakili Kalsel untuk lomba tingkat nasional. Sedang fasilitas kami disini tidak memungkinkan, sehingga agak berat rasanya bagi kami tiap hari harus ke warnet” tuturnya dengan ramah tetapi terkesan sedih, diruang kantornya pada Selasa (26/10) pagi.
Berbeda dengan sekolah lain yang dalam pembuatan blog untuk lomba terdiri dari dua atau tiga orang guru, sedangkan SDN Pekauman 1 hanya dilakukan oleh seorang guru.
M.Zain Arifuddin N MPd, guru bahasa Inggris yang mendesain Blog SDN Pekauman 1, berkata “saya juga tidak menyangka kalau blog yang saya buat akan menang.
Setelah menang saya mendengar isu, kalau saya akan dipindah ke SD yang mendapat bantuan laboratorium komputer. Untuk itu kami mengharapkan kepada Disdik Prov untuk membantu kami, paling tidak ada tindak lanjut dari janji bantuan laboratorium komputer kemaren“ pungkas guru muda ini dengan nada berharap, dan enggan untuk dipindah ke SD lain, karena ia sudah merasa senang mengajar di SDN Pekauman 1, walau fasilitasnya masih kurang. ara/mb05

-----------------
Di setor Jumat, 29 Oktober 2010
Di muat Senin, 01 Nopember 2010/ 24 Dzulkaidah 1431 H
-         dengan judul Menang Lomba Web, Malah Tak Dapat Bantuan
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5

Memorandum Banjarmasin

BANJARMASIN – Mimbar Bebas Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2010, yang dijadwalkan pada pukul 14.00 wita, baru bisa dilaksanakan pada pukul 15.00 wita, setelah peserta berhadir sepenuhnya di halaman Gedung Serba Guna (GSG) Unlam Banjarmasin.
Peserta yang berhadir dalam mimbar bebas antara lain perwakilan-perwakilan dari KAMMI Daerah Kalsel, KAMMI Komisariat IAIN Antasari, KMHDI, BEM Uvaya, BEM STIE Pancasetya, BEM STIMIK Indonesia Banjarmasin, BEM Unlam, HTI Chapter Unlam, KKI Fisip Unlam, HMI Komisariat Unlam, KSI Ulul Albab, UKMM Unlam, dan LP2DH FH Unlam, serta beberapa seniman muda Banjarmasin.
Satu persatu secara bergantian peserta menyampaikan orasi atau mendeklamasikan puisi mereka. Hampir senada dalam orasinya, mereka menyerukan kepada para pemuda untuk peduli kepada Bangsa dan daerah, menjaga persatuan dan meningkatkan bidang keilmuan. Sebagian lagi dari peserta juga mengkritisi pemerintahan daerah dan pusat.
Dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Universtas Lambung Mangkurat menyerukan kepada seluruh pemuda dan masyarakat, seluruh lapisan mahasiswa Kalsel, untuk menolak segala bentuk kekerasan dan mencintai serta   menjadikan negeri ini lebih baik.
Kurang lebih pukul 17.30 wita, rangkaian acara ditutup dengan menetapkan kesepakatan memorandum yaitu:
Mengembalikan peran gerakan kepemudaan yang berperan aktif dalam membangun Kalimantan Selatan. Reposisi gerakan pemuda yang berkontribusi nyata dalam mengatasi problem-problem masyarakat akar rumput. Mengokohkan kembali komitmen idealisme dan konsistensi serta moralitas gerakan pemuda. Menguatkan basis karakter keilmuan, pengetahuan dan pemikiran yang matang dalam membangun aksi dan menawarkan solusi. Membangun karakter gerakan pemuda yang mampu menjadi perekat atau pemersatu segala elemen dalam upaya perbaikan banua.
Muhammad Pazri, Ketua Umum  KAMMI Komisariat Banjarmasin, menjelaskan bahwa “memorandum ini didorong oleh keinginan luhur untuk memurnikan kembali jiwa gerakan kepemudaan, yang sesungguhnya berakar dari kepedulian sosial, dan keinginan kuat untuk membaktikan intelektualitasnya, dalam memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa khususnya daerah.
Maka kami gerakan pemuda Kalsel, dengan ini menyatakan mosi rekonstruksi gerakan pemuda, yang kami namakan “Memorandum Banjarmasin”.
Mosi rekonstruksi gerakan yang juga kami jadikan rekomendasi gerakan pemuda se-Kalsel ini, kami rangkum dalam 5 butir point dari memorandum tersebut” ujarnya.
Pazri menegaskan “dengan Memorandum Banjarmasin ini, kami nyatakan dengan harapan akan masa depan gerakan pemuda, yang semakin kontributif serta menjadi bagian dari solusi problematika banua”. ara/mb05

-----------------
Di setor Jumat, 29 Oktober 2010
Di muat Senin, 01 Nopember 2010/ 24 Dzulkaidah 1431 H
-         dengan judul Memorandum Sumpah Pemuda
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5

Sabtu, 01 Oktober 2011

Wayang Kulit Masihkah Bisa Bertahan

BANJARMASIN – Pertunjukan wayang kulit yang semakin jarang ditemui di kota Banjarmasin,  menimbulkan kekawatiran bagi banyak tokoh budaya. Kalau pun ada hanya pertunjukan satu tahun sekali, yang biasanya dilaksanakan oleh Taman Budaya Kalsel.
Menurut beberapa komentar masyarakat Banjar terutama kalangan tua, mereka sebenarnya sangat merindukan pertunjukan-pertunjukan wayang kulit, yang rutin semalam suntuk seperti dulu dibawah tahun 90an, “sekarang satu tahun sekali itu sangat pemprihatinkan, andai bisa minimal satu bulan sekali saja ada pertunjukan wayang kulit, kami akan sangat bersyukur” katanya.
Menanggapi permasalahan ini, menurut Mukhlis Maman, pemerhati budaya Kalsel “untuk kota Banjarmasin pertunjukan wayang memang sudah sangat langka. Karena terjadinya pergeseran budaya pada masyarakat kota.
Dulu pertunjukan wayang kulit, biasa dilakukan atau ditanggap pada saat ada pesta perkawinan. Sedang sekarang, kebanyakan masyarakat menyelenggarakan pesta perkawinan, lebih suka hiburannya dengan pertunjukan karaoke dangdut, atau mendatangkan artis dangdut yang memang penggemarnya adalah kaum muda.
Perubahan rasa suka, tentunya banyak dipengaruhi pula oleh faktor pendidikan, bila dari dini disekolah-sekolah, tidak ditanamkan rasa cinta pada budaya tradisional, maka pada akhirnya generasi mudanya lebih condong pada budaya modern atau budaya barat.
Untuk mengatasi permasalahan ini, tidak bisa hanya dilakukan oleh pihak sekolah saja, tapi juga harus didukung oleh dinas-dinas terkait dan pemerintah daerah, terutama masyarakatnya sendiri” ujarnya pada Kamis (28/10) pagi.
Sementara itu Arsyad Indradi, menanggapi permasalahan pertunjukan wayang kulit yang semakin jarang ditemui, ia menyoroti dari sudut pandang para pelaku pewayangannya sendiri, katanya “memang beberapa tahun ini kehidupan wayang kulit semakin berkurang penontonnya dan kekhawatiran matinya wayang kulit sangat beralasan.
Di era globalosasi ini, peradaban manusia semakin bergeser dari porosnya, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju. Maka apakah wayang kulit masih bertahan pada paradigma lama ?
Wayang kulit seyogyanyalah merubah sikap, meninggalkan paradigma lama, pandai mengikuti perkembangan zaman, dan lebih lagi berani bersaing dengan tayangan yang ada di TV, atau pun di tempat pertunjukkan lainnya” tutur seniman tua Kalsel ini. ara/mb05

-----------------
Di setor Kamis, 28 Oktober 2010
Di muat Sabtu, 30 Oktober 2010/ 22 Dzulkaidah 1431 H
-         dengan judul Wayang Kulit Bisakah Bertahan
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5


Awal Mula Majalah Kebudayaan Kalsel

BANJARMASIN – Pengajaran tentang sejarah sastra lokal disekolah-sekolah, hampir-hampir tidak terdengar. Padahal sangatlah penting bagi pengajar Bahasa Indonesia di SMP maupu SMA mengenalkan akan sejarah sastra daerahnya. Sehingga generasi muda bisa lebih mengetahui akan penyair-penyair daerahnya sendiri.
Rabu (27/10) siang yang panas di seputar kota Banjarmasin, tidak membuat beberapa seniman yang duduk di warung minum Taman Budaya Kalsel, menghentikan perbincangan mereka.
Saat melihat Mata Banua datang Micky Hidayat, penyair Kalsel Micky Hidayat yang rajin mengumpulkan dan banyak menyimpan arsip tentang perkembangan dunia seni dan sastra ini kemudian berkata “seperti janji, apa akan kita lanjutkan pembicaraan kita kemaren tentang dunia sastra di Kalsel” Mata Banua hanya mengangguk mengiyakan.
Sambil mengeluarkan arsip Micky memulai ceritanya “ setelah Dewan Kesenian Daerah (DKD) dibentuk pada Musyawarah Seniman (Musen) pertama se-Kalimantan Selatan, 28 April s.d. 2 Mei 1971 di kota Amuntai
Maka melalui program komite sastranya, DKD Kalsel menerbitkan majalah bulanan kebudayaan Bandarmasih, penerbitan rutin antologi puisi bersama maupun perorangan, antara lain Panorama, Bandarmasih, Jembatan, Jembatan II, Air Bah, 10 Penyair Hulu Sungai Utara, Banjarbaru Kotaku, Penjuru Angin, Riak-riak Barito, dll.
Tahun 1978, Pustaka Jaya Jakarta menerbitkan antologi puisi Tanah Huma dari tiga penyair Kalsel, D Zauhidhie, Yustan Aziddin, dan Hijaz Yamani. Demikian pun sayembara penulisan puisi dan even lomba deklamasi dan baca puisi secara rutin diselenggarakan dan diprakarsai DKD Kalsel.
Para sastrawan yang muncul pada dekade ini adalah Ajamuddin Tifani, Eza Thabry Husano, Arsyad Indradi, Hamami Adaby, M Syarkawi Mar’ie, Yuniar M Ary, A Rasyidi Umar, Bakhtiar Sanderta, Sabrie Hermantedo, Andi Amrullah, Ibrahim Yati, Soufyan Surya, A Mudjahidin S, Ulie S Sebastian, Ibramsyah Amandit, Adjim Arijadi, Roeck Syamsuri Saberi, A Dimyati Riesma, Rizhanuddin Rangga, Syarkian Noor Hadie, Johan Kalayan, Yan Pieter AK (Nayan van Houten), Dardy C Hendrawan, Mas Husaini Maratus, Ahmad Fahrawi, Tarman Effendi Tarsyad, Burhanuddin Soebely, dan lain-lain.
Oleh karena aktivitas bersastra di Kalsel kemunculannya lebih awal, maka penulisan sastra di daerah ini tumbuh dan berkembang lebih pesat dibandingkan provinsi lainnya di Kalimantan.
Dan sebagai salah satu kantong kesusastraan di Indonesia, Kalimantan Selatan memiliki sastrawan-sastrawan yang kreatif dan eksis dengan karya-karya sastranya yang tidak kalah kualitasnya dengan karya para sastrawan luar Kalsel.
Karya para sastrawan Kalsel baik secara kuantitas maupun kualitas tidak hanya hadir sebagai khasanah lokal (Kalsel), tetapi juga memberi kontribusi bagi masyarakat dan perkembangan sastra Indonesia moderen” sesaat Micky berhenti berbicara, lalu katanya “kita lanjutkan lain waktu, aku ada keperluan lain. ara/mb05

-----------------
Di setor Kamis, 28 Oktober 2010
Di muat Sabtu, 30 Oktober 2010/ 22 Dzulkaidah 1431 H
-         dengan judul Sejarah Majalah Kebudayaan Kalsel
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5


Madihin Dan Tari Garapan Tradisional Dayak Tampil Di Jakarta

BANJARMASIN – Akan dilaksanakan Konsolidasi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (KNBTI), dari 25 sd 31 Oktober 2010, bertempat di LPMP Jakarta Selatan. Rangkaian agenda Kebangsaan Indonesia ini diikuti beragam organisasi dan instansi pemerintah, serta menggelar pentas-pentas seni dari daerah-daerah di Nusantara.
Alfonso, salah satu dari tim kesenian Kalsel yang akan berangkat ke KNBTI, menjelaskan “kami akan berangkat Jumat 29 Oktober, terdiri dari 11 orang. Sedangkan tim konsolidasi dari Kesbanglimas Provinsi ada 15 orang, sudah berangkat  dari Senin tadi.
Karena untuk penampilan seni dari Banjarmasin, dijadwalkan tampil hari terakhir yaitu Minggu. Madihin dibawakan oleh Sahrani dari Kurau, sedang tari garapan dibawakan oleh Nurdin Yahya dan Saiful Ahmad” ujarnya.
Lanjut Alfonso “sedangkan materi acara diskusi pada KNBTI, antara lain, Kebebasan beragama serta berkeyakinan, dengan nara sumber H.Drs.Mum’in DZ (Kesbangpol Pemprov Sulut). Hukum dan hak asasi manusia, dengan nara sumber Prof.Maria Farida,SH (MK) dan M.Ridha Saleh (Komnas HAM).
Pemenuhan hak dasar (Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi), dengan nara sumber Sri Palupi (Ecosos), Bapenas, dan Ilham Cendikia (PATTIRO). Pengolahan SDA serta pertahanan integrasi budaya, dengan nara sumber Inda Fatinaware (Sawit Watch), Ishak Hallatu (Ketua Bappeda Papua) dan Andrie (JATAM).
Kemudian materi diskusi terakhir yaitu Daerah perbatasan pulau terdepan, pulau dalam perbatasan antar provinsi serta kelola Negara berbasis kekuatan maritime, dengan nara sumber Adijaya Yusuf, SH,LLM (Pakar Hukum Internasional dan Hukum Lingkungan), Melda Kamil, SH,LLM(Pakar Hukum Internasional dan Hukum Kelautan), Rohmat Suprayadi (Sub-Dit Wilayah Khusus dan Perbatasan BABPENAS), Nada Faza (Pemerhati wilayah Perbatasan-Batam), serta perwakilan dari pemerintah daerah Maluku dan pemerintah Kabupaten Talaud.
Nantinya dalam KNBTI ini akan mengkritisi 100 hari pemerintahan SBY dan membuat rekomendasi untuk pemerintah” katanya.
Nurdin Yahya, menambahkan “tari garapan ini adalah tari tradisional pedalaman atau tari bukit  yang dikreasi, diiringi dengan gamelan dan narasi, yang menceritakan tentang masyarakat suku Dayak Bukit Meratus, yang kehilangan balai mereka.
Kehidupan, adat istiadat, kesederhanaan, ketulusan dan semua nilai yang mereka miliki menjadi berserakan. Itu semua dikarenakan eksploitasi hutan dan pertambangan yang berlebihan” pungkasnya di warung kopi Taman Budaya Kalsel pada Rabu (27/10) siang. ara/mb05

-----------------
Di setor Rabu, 27 Oktober 2010
Di muat Sabtu, 30 Oktober 2010/ 22 Dzulkaidah 1431 H
-         dengan judul Mamanda Tampil Di Jakarta
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 4