Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Sabtu, 25 Februari 2012

250112-rabu(kamis)-pentas teater API di TB.2.doc

Photo: mb/ara
PESAN – Lakon Bronkos tidak hanya menyampaikan pesan tentang RSJ, mall dan dunia yang palsu saja, tapi juga persoalan eksploitasi alam dll.

Melalui Aksi Panggung Melahirkan Aksi Jalanan


BANJARMASIN – Seni adalah rasa. Sehinga pertunjukan seni yang bisa dikatakan berhasil, yaitu seni yang bisa membangkitkan rasa kepedulian. Melalui pesan yang disampaikan, kemudian terwujud dalam kehidupan. Berangkat dari pertunjukan panggung, rasa yang terlahir bisa saja menjadi aksi jalanan.
Dalam perbincangan Mata Banua dengan Luhur Kayungga, seusai pementasan Brongkos oleh Teater Api Indonesia (TAI) dari Surabaya di gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel, pada Jumat (20/1) malam yang lalu. Terungkap beragam pesan dan permasalahan yang ingin disampaikan melalui lakon Brongkos.
Luhur Kayungga adalah sutradara dan salah satu aktor dari lakon Brongkos yang dipentaskan. Menurutnya, dari seni lalu menimbulkan sebuah empati yang akhirnya menimbulakan aksi turun kejalan. Jangan pernah menganggap remeh seni, seni adalah kekuatan yang terbangun dari dalam diri.
Apabila secara naluri masyarakat bisa tersentuh, mempengaruhi pola pikir seseorang. Sehinga bisa merubah suatu sikap, sehinga kesadaran itu akan melahirkan geraka sosial. Kesenian adalah memberikan suatu stimulus dan inspirasi, sehingga melahirkan pemikiran, dan penyadaran.
“Kami adalah aktivis seni, kami menyuarakan kepedulian melalui seni. Kami mengkritisi dan mengangkat permasalahan melalui seni. Ketika aktivis sosial merasa perlu melakukan penekanan dengan cara begitu (turun kejalan). Maka dalam kesenian, para aktivisnya juga melakukan penekanan permasalahan, namun dengan cara yang berbeda.
Bagaimana kawan-kawan harus melawan setelah menonton pementasan ini. Sebagai kreator kami mempunyai cara sendiri. Secara kebetulan menyentuh semua persoalan yang ada disuatu kota, apakah masalah tanah, lingkungan dll. Artinya sama-sama berkometmen untuk melakukan kontrol di dalam masyarakat, walau pada media yang tidak sama.” katanya.
Luhur melanjutkan, bahwa ia ingin melihat, bagaimana penonton suatu daerah menafsirkan apa yang sudah ditampilkan TAI. Begitu pula dengan ulasan yang akan dilakukan media massa. Sejauh mana dapat menangkap pesan yang disampaikan.
Apakah hanya terbatas pada sinopsis yang diberikan, atau yang disampaikan dalam dialog? Atau lebih jauh menggali realitas yang terjadi dari kehidupan, tidak hanya terbatas dari pementasan maupun dari perbincangan. Disinilah letak kedalaman pemikiran dan penafsiran.
Lakon Brongkos tidak hanya menyampaikan pesan tentang potret kematian orang-orang, dunia yang palsu tidak berotak dan tidak punya nyali. Atau penjungkirbalikan logika dan kebenaran sebuah Rumah Sakit Jiwa, yang dipadamkan dengan etalase di mall atau plasa dalam kehidupan modern.
Beberapa media massa di Surabaya, mengaitkan lakon Brongkos dengan persolan TKW. Sehingga ulasan yang diberikan menyoroti tentang masalah TKW, bagaimana TKW diperlakukan dll. “Melalui pengalaman dan pengetahuan masing-masing, bisa mempersepsikan dan menafsirkan dalam beragam keadaan dan situasi” ujarnya. ara/mb05

250112-rabu(kamis)-pentas teater API di TB.1.doc

Photo: mb/ara
MERAMPAS – Brongkos mengajak untuk memikirkan persolan kebijakan pemerintah yang telah merampas kearifan lokal suatu suku pedalaman

Brongkos Simbol Ketidak Adilan Dan Perampasan Hak


BANJARMASIN – Lakon Brongkos ingin menyampaikan, bahwa ada satu persoalan-persoalan penyadaran yang yang harus dilakukan bersama. Untuk berpikir kembali tentang hubungan-hubungan sosial, hubungan manusia dengan lingkungan.
Banyak kasus-kasus dalam realitas kehidupan yang menjadi problem. Baik yang menyangkut masalah tanah, dll. Sama-sama berpikir, inilah suatu peristiwa yang ironi tentang suatu realitas yang diterima.
Hal ini diungkapkan Luhur Kayungga, sutradara dan salah satu aktor dari lakon Brongkos, dengan Mata Banua seusai pementasan Teater Api Indonesia (TAI) dari Surabaya di gedung Balairung Sari Taman Budaya (TB) Kalsel, pada Jumat (20/1) malam yang lalu.
Menurutnya, lakon Brongkos adalah adaptasi dari novel One Flew Over The Chuckoo’s Nest, karya Ken Kessey. Novelnya sendiri menceritakan kondisi suku Indian yang terampas hak-hak terhadap tanahnya. Brongkos merupakan nama dari Kepada Suku Indian tersebut.
Tidak hanya hak terhadap materil yang dirampas, tetapi juga tatanan-tatanan kearifan ikut terampas. Yaitu bagaimana menjaga keseimbangan hubungan dengan alam, hubungan dengan manusia, dan kultur.
Disini (di Indonesia) bisa dilihat pula, bagaimana hutan dibabat habis, kekayaan alam yang dieksploitasi. Situasi ini akan selalu bergulir menjadi suatu problem, dimana alam dan lingkungan kita sudah mulai rusak. Lalu berdampak pada iklim-iklim yang mulai ekstrim. “Masalah ini tetap menjadi suatu siklus, dan persoalan-persolan bola salju yang menggerus kita” katanya.
Proses latihan dan persiapan lakon Brongkos, dari eksplorasi hingga final eksekusi (siap tampil), memakan waktu hampir satu tahun. Kota pementasan pertama di Surabaya pada Oktober 2011. Banjarmasin adalah kota yang ke 6 sebagai tempat pementasan. Selanjutnya akan dilanjutkan dengan kota lainnya di Indonesia.
Luhur kembali menekankan, untuk bisa mulai berfikir dari mana mencari akar persolan. Apakah persolan kapitalisasi, atau persolan kebijakan pemerintah yang telah menentukan aturan-aturan main didalam bermasyarakat. Perundang-undangan di dalam menata masyarakat.
Seperti masyarakat suku pedalaman yang secara turun temurun merasa memiliki suatu wilayah, tiba-tiba berbenturan dengan hukum pemerintah dan realitas formal, hingga akhirnya kehidupan suku pedalaman menjadi tercerabut dan hilang. Bagaimana sama-sama mencoba dan mencari kontemplasi. Serta memetakan lagi persolan-persoalan seperti sejenis.
“Dalam pertunjukan Brongkos, tidak memilih satu orang menjadi brongkos. Ini adalah suatu simbol masalah yang terjadi di setiap daerah” ujarnya. ara/mb05

240112-selasa(rabu)-manyanggar banua di barikin.2 (Dm.270112 di berita kaki hal.1).doc

Photo: mb/ara

(Penelusuran Bagian ke Dua)
Asal Muasal Upacara Manyanggar Banua

Perjalanan Mata Banua bersama Rombongan Taman Budaya Kalsel, menghadiri upacara adat Manyanggar Banua di Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HSU), pada 22 sd 23 Januari 2012.

Seiring datangnya Islam di Kalsel, ritual adat masyarakat berasimilasi dengan ritual Islam. Ritual yang sudah diIslamkan tersebut, sampai sekarang masih dikerjakan oleh urang Banjar. .
Di antara ritual yang sampai sekarang masih dikerjakan adalah Manyanggar Banua. Ritual ini sering kali dilakukan setiap ada perluasan suatu daerah baru, dan wabah penyakit mulai berjangkit di wilayah tersebut. .
Versi riwayat lain yang beredar di kalangan masyarakat, mengenai asal mula Manyanggar Banua di Desa Barikin.Bahwa dahulu kala di Desa Barikin yang mulanya bernama Pasanggrahan Tambak Pamatang Kambat, hidup Datuk Taruna yang mempunyai ilmu sakti mantraguna dengan isterinya Mayangsari. .
Datukl Taruna memilki seperangkat gamelan yang sangat disayanginya, dan senang menolong masyarakat yang keamanannya terancam oleh kawanan perampok. Pada suatu waktu, Datuk Taruna pergi meninggalkan kampungnya berangkat ke sebuah desa, untuk membantu penduduk desa yang sedang memerangi perampok. .
Namun kepergiannya kali ini cukup lama, sehingga isterinya Mayangsari merasa cemas, maka untuk mengamankan gamelan kesayangannya dan sebuah belanga yang berisi daging (pakasam) disembunyikan di dalam sumur. .
Mayangsari yang sangat mencintai suaminya, berusaha untuk mencarinya. Sebelum meninggalkan desa Barikin, ia menanam sepohon kembang yang bernama Bunga Panggang. Serta berpesan dengan anak cucunya, kalau ada setetes darah diatas kembang dan kembang layu sebagai pertanda ia berubah menjadi orang ghaib. Kemudian hendaklah pada setiap tahun mengadakan upacara Manyanggar, agar anak cucu yang ditinggalkan dalam keadaan selamat, sehat dan mendapat hasil panen ynag melimpah ruah. .
Tidak berapa lama setelah Mayangsari pergi meninggalkan desa Barikin, Datuk Taruna kembali ke kampung dan kepadanya disampaikan pesan Mayangsari. Datuk Taruna mendekati pohon Kembang Bunga Panggang, dan tidak menyadari sebelah telinganya yang luka, darahnya menetes ke atas bunga yang kemudian menjadi layu. Datuk Taruna berusaha mencari isterinya kesana-kemari, dan tidak ada beritanya. .

Alat sesajen dan bentuk upacara manyanggar banua pada masa lalu, dari versi masyarakat

Alat Upacara, antara lain: .
Panggung digunakan untuk tempat pelaksanaan upacara. Binatang, biasanya kerbau atau kambing, sebagai simbol menebus daerah tempat yang terkena wabah penyakit atau yang dianggap tidak aman. Ranting kayu uringin, diletakkan diatas panggung. Tombak, diletakkan bersama ranting kayu tadi. .
Lalu ada Tatungkal (tapung tawar), dipercaya dapat mendinginkan daerah yang dianggap tidak aman. Ancak, tempat sesasjen. Seperangkat alat kesenian (wayang kulit dan topeng). Piduduk, paket yang berisi beras, gula merah, jarum, kelapa, dan uang secukupnya, dimaksudkan untuk menutupi kekurngan dalam upacara tersebut. .
Ada beras merah dan beras kuning, gunanya utuk memanggil makhluk halus. Sesajen Lemang (beras ketan), gunanya agar penduduk tidak diganggu makhlik halus. Telur ayam atau bebek, merupakan simbol agar selalu bersatu dan tidak melakukan perpecahan. Nasi ketan dan Tapai, simbol harapan supaya cita-cita tercapai. .
Ada bubur merah dan bubur putih, simbol agar daerah menjadi subur dan penyakit cepat hilang. Pisang emas, harapan mengenai hasil panen agar lebih baik dari tahun-tahun kemarin. Kakicak, gunanya sebagai simbol agar pekerjaan, dan perbuatan mereka selalu bermanfaat. .
Ada Kakulih, gunanya sebagi simbol pengharapan agar usaha selau memperoleh keuntungan. Cucur, sebagai simbol pengharapan agar apa yang dikerjakan berjalan dengan lancar. Nasi topeng, pengharapan agar usaha semakin meningkat (berkembang). Ketupat.dan Wajik, simbol agar gemar melakukan kebajikan. Dua ekor ayam sudah masak hitam (mengusir penyakit) dan putih (makhluk halus tidak mendiami tempat itu lagi) dan ada kue Serabi. .
Upacara ini di awali dengan mempersiapkan peralatan dan sesajen. Selagi sesajen disiapkan, diadakanlah upacara badudus (mandi-mandi atau selamatan tahunan), yang biasanya dilakukan pada hari minggu sebelum tengah hari. Umumnya yang didudus adalah anak-anak. Anak-anak yang didudus tadi harus menyerahkan piduduk. .
Dalam upacara badudus ini, dipergunakan seperangkat gamelan yang di tabuh oleh keluarga yang memakai pakaian khas banjar kuning bagi pria, dan hitam bagi wanita. .
Upacara ini dilaksanakan dalam sebuah atap khas yang berlangit-langit berwarna kuning, dan sekeliling tingnya diikat pohon pisang dan tebu. Disamping kiri-kanan atap berdiri dua orang yang memegang tombak. Saat rangkaian upacara ini biasanya, terdapat beberapa orang keluarga yang kesurupan. .
Setelah tengah hari, kira-kira pukul 14.00 waktu setempat, dimulailah arak-arakan mengantarkan sesajen. Arak-arakan ini diikuti oleh seluruh keluarga Datuk Taruna, lelaki memakai baju berwarna kuning sedangkan wanitanya memakai selendang berwarna hitam. .
Ada lagi seorang wanita muda pembawa pakaian warna hitam untuk Datuk taruna yang didampingi pimpinan upacara dan para pembantunya. Seorang diantaranya membawa sebilah keris Naga Runting dan tombak ambulung. Di belakang pembawa tombak terdapat para pembawa ancak sesajen dan diapit oleh sekitar 40-50 orang menuju sumur sambil membunyikan gamelan. .
Sesampainya di sumur, pimpinan upacara mengambil kepala hewan (kerbau atau kambing) yang masih berdarah dan di letakkan disebatang pohon bambu disekitar lokasi upacara. Seorang wanita yang kesurupan mengambilnya sambil menari-nari memakan kepala kambing sambil menghisap darahnya. Acara mengantar sesajen diakhiri dengan dipercikannya tapung tawar dan batampungas (membasuh muka) di sumur Datu Taruna. .
Pada malam harinya diadakan acara wayang sampir yang membawakan lakon khas penyerahan sesajen, dalangnya ialah dalang khusus dari keturunan Datuk Taruna. Mejelang subuh diadakan Baayun Wayang yang menceritakan anak cucu sudah di Dudus di Ayun dan resmi menjadi keluarga Datu taruna. .
Rangkaian terakhir dari upacara ini ialah upacara manopeng. Pada acara tari topeng ini, dimainkan peran Pantul dan Amban sebagai pengasuh anak-anak dengan gerak-gerik yang menggelikan. .
Sebagai penutup, diadakan upacara memulangkan undangan. Dalang selaku pemimpin upacara mengucapkan mantera-mantera yang mempersilakan para makhluk ghaib yang dipercayai telah hadir dalam upacara untuk kembali ke alamnya. ara/mb02

Jumat, 24 Februari 2012

240112-selasa(rabu)-manyanggar banua di barikin.1 (Dm.260112 di berita kaki hal.1).doc

Photo: mb/ara

(Penelusuran Bagian Pertama)
Datu Taruna Pelatih Karawitan Kerajaan Negara Dipa

Perjalanan Mata Banua bersama Rombongan Taman Budaya Kalsel, menghadiri upacara adat Manyanggar Banua di Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), pada 22 sd 23 Januari 2012.

Selama dua hari berturut-turut baik siang maupun malam, Desa Barikin dipenuhi oleh juriat Datu Taruna, baik yang masih berada di Kalsel, maupun yang ada di luar Kalsel. Begitu pula warga yang ingin menyaksikan upacara adat Manganggar Banua. Sejarah, mitos, kepercayaan gaib, dan harapan serta doa, menjadi satu dalam tradisi.
Terdapat Beragam versi riwat Datu Taruna, sebagai tokoh sentral awal mula diadakannya upacara adat Manyanggar Banua di Desa Barikin. Perbedaan-perbedaan, maupun penggalan-penggalan riwayat yang belum menjadi satu kesatuan.
Baik versi riwayat dari satu juriat/keturunan Datu Taruna dengan juriat Datu Taruna lainnya, maupun riwayat yang beredar di kalangan masyarakat Perbedaan dan penggalan riwayat inilah, yang ingin diluruskan kembali oleh beberapa tokoh adat Desa Barikin, dengan membuat sebuah prasasti riwayat hidup Datu Taruna.
Berdasarkan penuturan AW Syarbaini salah satu juriat Datu Taruna, yang juga tokoh adat Desa Barikin, serta sebagai ketua sanggar Ading Bastari Barikin. Bahwa Datu Taruna berasal dari masa berkuasanya Pangeran Suryanata di kerajaan Negara Dipa. Datu Taruna adalah seorang kesatria yang disegani pada masa itu. Ia adalah seorang pemandu/pelatih kerawitan kerajaan.
Setelah terjadinya pergolakan di dalam kerajaan, ia pergi mengasingkan diri dengan saudaranya keluar dari istana menyisir sungai mulai dari Muara Bahan arah ke Hulu Sungai, sampai akhirnya membuka sebuah perkampungan yang dikenal sekarang dengan nama Desa Barikin.
Kepergian Datu Taruna dari istana dikarenakan tidak ingin ikut campur tangan, pergolakan kerajaan. Sehingga ia mengasingkan diri dengan membawa seperangkat gamelan dan perabot-perabot lainnya.
Sebelum menjadi Desa Barikin, awalnya adalah Desa Pamatang Kambat yang di buka oleh Datu Taruna. Nama Datu Taruna adalah gelar setelah ia menetap di Desa Pematang Kambat, sedangkan nama aslinya diamanatkan Datu Taruna kepada anak cucunya untuk untuk dirahasiakan sampai sekarang.
Datu Taruna telah dikenal dikalangan para bangsawan kerajaan Negara Daha dan Negara Dipa. Oleh karena Datu Taruna dikenal para sahabat-sahabat beliau, maka apabila para sahabat yang dari kerajaan Negara Daha mau ke Candi Agung singgah dahulu di Desa Pematang Kambat di Pasanggrahan Datu Taruna.
Apabila para sahabat-sahabat beliau datang di Desa Pematang Kambat, selalu disambut oleh Datu Taruna dengan suguhan berupa sajian dan pertunjukan kesenian klasik di sebuah tempat pasanggrahan.
Kesenian klasik yang di tampilkan antara lain, Wayang Sampir pada malamnya, dan siangnya sebelum para sahabat meneruskan perjalanan, ditampilkan Tari Klasik Topeng.
Sebelum Datu Taruna menggaibkan diri, ia beramanat kepada anak cucunya di Desa Barikin supaya melanjutkan kebiasaan untuk menjamu para sahabat dan kerabat dalam waktu satu tahun sekali. Sekaligus diadakannya upacara selamatan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat dan juriat di Desa Barikin. Upacara ini disebut Babunga Tahun.
Sebagian masyarakat menyebut nama Pesanggrahan dengan Penyanggaran, dan kemudian dengan berlalunya waktu berubah lagi penyebutannya menjadi Menyanggar.

Pengertian dan Susunan acara Manyanggar Banua yang dilaksanakan dari 22 sd 23 Januari 2012

Persiapan acara sudah dimulai satu minggu sebelumnya. Puncak persiapan dari Jumat hinga Sabtu, dengan menyiapkan sesaji dan perlengkapan lainnya.
Minggu, pukul 09.30 ritual Badudus, pukul 13.30 ritual Turun Wadai (sesajian), pukul 14.30 ritual Maarak Ancak ke Tempat Upacara, pukul 15.00 ritual di Tempat Upacara, dan pukul 20.00 ritual Wayang Sampir.
Senin, pukul 01.00 acara Bawayang, pukul 03.30 ritual Baayun Wayang, pukul 04.30 ritual Tari Klasik Topeng dan pukul 15.30 ritual Baayun Topeng hingga selesai.
Di tempat ritual Mandi Badudus Bapagar Mayang , sebelum ritual dimulai diiringi gamelan irama lagu Ayakan Miring. Saat ritual Badudus diiringi gamelan irama lagu Galaganjur. Sesudah ritual Badudus diiringi diiringi gamelan irama lagu Senen. Dan sebagai penutup ritual Badudus kembali diiringi gamelan irama lagu Ayakan Miring.
Di tempat ritual Penyerahan Sesajian di mulai dengan seremonial laporan panitia, sambutan para pejabat yang menghadiri acara, dan pembacaan doa dari tokoh agama. Selanjutnya ritual Penyerahan sesajian diiringi gamelan irama lagu Ayakan Miring. Lalu Tapung Tawar, doa selamat sesajian di susun di ancak, diiringi gamelan irama lagu Galaganjur hingga ancak dibawa ke tempat upacara.
Pada penyerahan sesajian di tempat upacara hingga upacara sakral berlangsung, diiringi gamelan irama lagu Galaganjur. Saat menggantung kepala Kambing, diiringi gamelan irama lagu Senin. Dan seusai upacara sakral diiringi gamelan irama lagu Ayakan Miring.
Babunga Tahun Manyanggar Banua, artinya mengharumi dan selamatan kampung. Semoga tahun akan datang keluarga dan warga di Desa Barikin selalu rukun, damai, sehat dan dijauhkan dari bala bencana.
Pada Bawayang Sampir, terdapat dua pengertian kata. Wayang artinya adalah alat kesenian, dan Sampir yang artinya hampir atau persamaan. Jadi dengan alat kesenian Wayang Kulit bisa mengambil contoh, yaitu seperti apa bila sedang menghadapi Raja atau pimpinan, seperti apa bila menghadapi orang yang lebih tua, dan seperti apa bila menghadapi sahabat. Sehingga di dalam kesenian wayang Kulit, dapat mengetahui dan memilih antara sifat yang baik dan buruk.
Mandi Badudus Bapagar Mayang, terdapat pula dua pengertian kata. Mandi adalah kebersihan, dan Mayang merupakan kembang Pinang yang harum baunya. Jadi dengan anak keluarga Mandi Badudus yang disaksikan orang banyak, maka diharapkan menjadi bersih lahir batin dan terhindar dari malapetaka. ara/mb02

230112-Obat Tradisional Untuk Batumbal

Jantung Pisang Untuk Obat Tumbal


Apabila pada telapak kaki, ada bagian yang keras dan mati rasa, dalam bahasa Banjar penyakit ini disebut Tumbal. Ini adalah penyakit biasa dan tidak menular.
Menurut Drs H Syarifuddin R, ada dua cara mengobati Tumbal, dalam pengobatan tradisional Banjar, yaitu:
Pertama, menggunakan tungkul pisang (jantung pisang). Cara pengolahan obatnya yaitu jantung pisang dibakar hingga lembek. Teknis pengobatannya yaitu telapak kaki yang terkena Tumbal dijejakkan berulang-ulang pada jantung pisang yang sudah lembek tadi (dalam keadaan masih hangat) hingga hancur.
Kedua, menggunakan panjar, yaitu besi tajam yang biasa digunakan untuk menganyam lampit (rotan). Cara pengobatannya, panjar dipanggang (dipanaskan) sampai hangat, kemudian sentuhkan berulang-ulang pada Tumbal.
Dari keterangan masyarakat yang didapat Mata Banua. Cara lain untuk mengobati Tumbal, yaitu dengan mengoleskan darah sapi yang baru dipotong (darahnya masih terasa hangat/segar) pada bagian kaki yang terkena Tumbal. Lakukan beberapa kali secara rutin, hingga Tumbalnya hilang. ara/mb07

230112-Obat Tradisional Untuk Bincul

Asam Kamal Dan Garam Obat Untuk Bincul


Apabila kepala terbentur benda keras, akan menimbulkan benjolan yang terasa nyeri. Penyakit ini dalam bahasa Banjar disebut Bincul. Penyakit ini dianggap biasa dan dapat disembuhkan sendiri.
Menurut Drs H Syarifuddin R, ada dua cara mengobati Bincul, dalam pengobatan tradisional Banjar, yaitu:
Pertama, menggunakan asam kamal dan garam. Cara pengolahan obatnya, asam kamal dan garam diambil secukupnya, lalu diberi air sedikit. Kemudian diperas dan diambil airnya yang kental. Teknis pengobatannya, oleskan air yang kental tadi pada Bincul. Lakukan beberapa kali agar cepat sembuh.
Cara kedua, berdasarkan kepercayaan masyarakat Banjar dapat menggunakan rambut yang dipuntal (digulung padat). Cara pengobatannya, yaitu ujung rambut yang digulung padat tadi dimasukkan diantara kedua bibir, lalu ditiup dan langsung ditempelkan pada Bincul. ara/mb07

200112-jumat(sabtu)-mula sastra dr Dimas.2.doc

Photo: Dr Sudaryono MPd

Hubungan Antara Penyair Dengan Tuhan


BANJARMASIN – Bagaimanakan hubungan antara penyair dengan Tuhan dalam seni sastra religius? Sementara seni susastra bergerak pada arus bawah hidup, dan memunculkan kepermukaan, atas undangan ke arah kedalaman. Arus bawah yang di kenal dengan istilah religiusitas (bukan beragama). .
Hal ini diungkapkan oleh Dr Sudaryono MPd, beberapa waktu yang lalu. Ia adalah sastrawan dan sebagai Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di FKIP Universitas Jambi. Nama penanya dalam dunia sastra adalah Dimas Arika Mihardja. .
Menurutnya, karya puisi secara maknawi tidak dimaksudkan untuk menambah jumlah pemeluk, melainkan memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Tuhan. .
Sedangkan komunikasi antara manusia-penyair dengan Tuhan, realisasinya bisa meluas, bisa pula menyempit perspektifnya. Secara luas, bentuk komunikasi antara manusia-penyair dengan Tuhan teraktualisasi dalam bentuk kekaguman manusia-penyair, yaitu kekaguman terhadap berbagai bentuk ciptaan Tuhan (Allah adalah Maha Kreator yang mampu menciptakan alam semesta beserta isinya). .
Manusia-penyair, dalam konteks ini hanyalah peniru secara mimesis. Dari tangan manusia-penyair lalu lahir berbagai karya, yang secara mimesis tidak dimaksudkan menandingi kreativitas Tuhan. Melainkan semacam perpanjangan tangan. .
“Hitung-hitung manusia-penyair bertindak sebagai kafilah di bumi, yang dengan suntuk mengagungkan berbagai Keindahan Ciptaan Tuhan” katanya. .
Selain itu, lanjut Dimas, manusia-penyair ternyata juga merupakan makhluk individu dan makhluk sosial dalam pranata sosiologis. Secara individual, manusia-penyair memiliki atensi pada masalah-masalah personal. Dari masalah-masalah personal inilah, sebagai pangkal tolak konsepsi estetis dalam setiap berkarya. .
Dalam perspektif individual pula, manusia-penyair selalu di rundung kegelisahan untuk berdekatan dengan Sang Khalik. Lantaram Sang Khalik sifatnya serba Maha. Secara personal manusia terkadang serupa debu diterompah-Nya. .
Manusia lantas merasa kecil, kotor, dan silau oleh Cahaya Maha Cahaya. Manusia secara personal juga terkadang penasaran untuk menyibak rahasia ciptaan-Nya. Alam semesta beserta isinya acapkali membuat manusia terluka, oleh berbagai penyebab. .
“Melalui luka dan rasa penasaran tersebut, secara watak personal manusia memiliki rasa ingin tahu segalanya, termasuk rahasia-Nya” ujarnya. ara/mb05

200112-jumat(sabtu)-Kesehatan Libatkan Masyarakat.doc

Photo: drg Hj Diah Ratnani Praswati

2012 Peran Serta Peduli Kesehatan Libatkan Masyarakat


BANJARMASIN – Pola hidup bersih dan sehat bagi masyarakat pinggiran kota sangat rendah. Pola hidup sehat yang paling mudah seperti bersikat gigi dan cuci tangan saja, masih belum menjadi kebiasaan.
Hal ini pernah diungkapkan Ketua Kemuslimahan KAMMI Komisariat Banjarmasin, Nur Laily Anggraini kepada Mata Banua, pada akhir Desember 2011 yang lalu. Yaitu seusai kegiatan pelayanan kesehatan gratis untuk warga Alalak Selatan, yang dilaksanakan KAMMI Kalsel, bersama tim kesehatan dari STIKES Muhammadiyah Banjarmasin.
Apa yang dikatakan Nur, dibenarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Banjarmasin drg Hj Diah Ratnani Praswati, saat di hubungi via telepon, pada Rabu (18/1) siang.
Menurutnya, Dinkes dan Puskesmas selalu memberikan penyuluhan pola hidup bersih dan sehat bagi masyarakat. Untuk program cuci tangan pakai sabun, itu pencanangannya dilakukan setiap tahun.
Namun ketika kita ingin merubah perilaku masyarakat, itu memerlukan waktu yang cukup panjang dan lama. Bahkan harus dilakukan terus menerus, karena masyarakat terkadang lupa untuk melaksanakannya.
Prilaku hidup bersih dan sehat menjadi program unggulan sektor kesehatan, Dinkes dan Puskesmas tidak berdiri sendiri, tapi bersama-sama seluruh SKPD se kota Banjarmasin. Sebab dengan tenaga kesehatan yang hanya 1000 sekian di Kota Banjarmasin, tidak mungkin menjangkau masyarakat seluruhnya.
“Kedepannya program kesehatan, diusahakan agar bisa terus bekerjasama dengan kelompok-kelompok tertentu. Sehingga program-program kesehatan bisa berjalan dengan baik” katanya.
Menanggapi keluhan masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas, Kadinkes Kota Banjarmasin, menjelaskan. Bahwa Puskesmas adalah pusat kesehatan masyarakat yang berbasis wilayah, artinya Puskesmas harus bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat diwilayahnya.
Di puskesmas ada pula badan penyantun Puskesmas, yang diketua tokoh masyarakat. Apabila ada keluhan dari masyarakat terhadap pelayanan kesehatan Puskesmas, maka dari tahun ketahun kita upayakan peningkatan koordinasi yang lebih baik. Baik dari tokoh masyarakat ke Puskesmas, atau pun lainnya.
Setiap bulan ada lokakarya mini, yaitu setiap Puskesmas merencanakan kegiatan yang berdasarkan permasalahan bulan sebelumnya atau dari keluhan masyarakat. Kemudian dijadikan program yang akan dijalankan untuk bulan berikutnya.
Hj Diah Ratnani Praswati, juga berterimakasih kepada kelompok sosial atau organisasi yang membantu Dinkes dan Puskesmas dalam penyuluhan atau memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Tapi ia juga meminta agar setiap kelompok sosial atau organisasi yang melakukan kegiatan kesehatan, untuk berkordinasi dengan Puskesmas wilayah setempat. Dan bila wilayahnya lebih luas, maka berkordinasi dengan Dinkes.
“Di 2012 akan lebih banyak melibatkan masyarakat untuk peran serta peduli kesehatan. Agar kesehatan masyarakat menjadi lebih baik, dan apabila masyarakat lebih banyak peduli dengan kesehatan, maka persentasi keberhasilan menjadi lebih meningkat” ujarnya. ara/mb05

190112-kamis(jumat)-syarat Pos Yandu Lansia (Dm.260112).doc

Photo: drg Hj Diah Ratnani Praswati

Posyandu Lansia di Kota Banjarmasin Masih Kurang


BANJARMASIN – Bagi orang tua yang sudah berusia lanjut (lansia), melakukan pemeriksaan kesehatan atau berobat ke Puskesmas yang jaraknya cukup jauh, sangat memberatkan. Beberapa warga di Kota Banjarmasin yang dalam lingkungan tempat tinggalnya banyak terdapat lansia, mengharapkan ada Posyandu lansia.
Seperti yang diungkapkan oleh Latifah (37) ketua RT 1, Kelurahan Alalak Selatan, beberapa waktu yang lalu kepada Mata Banua. Untuk tiga RT yang berdekatan saja yaitu RT 1, RT 2 dan RT 11, ada lebih dari 100 lansia yang rata-rata berusia 70 tahun.
“Pengobatan langsung di tengah masyarakat untuk lansia yang dilakukan Puskesmas, terakhir pada 2010. setelah itu tidak ada lagi. paling tidak di tiga RT kami yang saling berdekatan ini ada Posyandu lansia” katanya.
Dilain pihak, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Banjarmasin drg Hj Diah Ratnani Praswati, saat di hubungi via telepon, pada Rabu (18/1) siang. Ia menjelaskan, bahwa jumlah lansia dan jumlah balita di Kota Banjarmasin, hampir sama.
Ia juga mengakui, kalau Posyandu balita sudah banyak, sedang Posyandu lansia masih kurang. Posyandu balita ada sekitar 374, sedangkan Posyandu lansia hanya ada sekitar 63.
Menurut Kadinkes, dalam sektor kesehatan suatu siklus kehidupan manusia, adalah berupaya untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dimulai dari masa kehamilan dan masa persalinan/kelahiran, bayi/balita sd remaja. Kemudian pasangan yang subur hingga lansia.
Minat masyarakat membawa anaknya ke Pos Yandu balita cukup tinggi, sehingga apabila Puskesmas membuat Posyandu balita di suatu wilayah, tidak menjadi sia-sia. Berbeda dengan Posyandu lansia, harus ada keinginan dan peran serta masyarakat untuk membuat Posyandu lansia.
Dinkes dan Puskesmas akan memberikan kemudahan kepada masyarakat, apabila ingin membuat Posyandu lansia. Minimal 3 RT dalam dalam suatu kelurahan, bisa mengajukan permohonan pembuatan Posyandu lansia.
Apabila di suatu RW atau beberapa RT sudah ada Posyandu lansianya, maka tim kesehatan dari Puskesmas, setiap bulannya akan membantu pelayanan kesehatan, pengobatan gratis, dan pemeriksaan laboratoriaum dasar.
“Tentunya kami mengharapkan peran serta masyarakat, agar Posyandu lansia bisa kita wujudkan. Silahkan ajukan proposal, atau berkonsultasi dulu dengan petugas yang ada di Puskesmas” ujarnya. ara/mb05

190112-kamis(jumat)-bahasa banjar4.doc

Photo: Tajuddin Noor Ganie

Budaya Sopan Santun Berkata-Kata


BANJARMASIN – Pada zaman dahulu, kemampuan seseorang dalam merangkai kata-kata menggunakan bahasa sastra menjadi budaya dalam masyarakat Banjar. Suatu budaya yang menunjukkan tingkat adab (sopan santun) bertutur orang tersebut.
Berbicara tidak hanya asal mengeluarkan kata-kata, tetapi diiringi dengan untaian kata yang indah dan bermakna. Gaya berpantun, syair atau puisi menjadi pilihan. Baik itu saluka maupun tamsil atau kiasan.
Menurut Tajuddin Noor Ganie, beberapa waktu yang lalu. Saluka Banjar adalah kata-kata dalam bahasa Banjar, yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk puisi 2 baris atau 4 baris bersajak. Saluka mempunyai akhiran vertikal a-a, a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-a-b.
Contoh Saluka Banjar, antara lain:
Nang manis, jangan lakas ditaguk. Nang pahit, jangan lakas diluak. Parak bau tahi, jauh bau kambang. Parak bakalahi, jauh bagaganangan. Tik nung kalikir pacah. Itik bakunyung kada basah. Dan ujar habar banyak baiwak, saikung-ikung kada mawadi. Ujar habar banyak nang handak, saikung-ikung kadada nang jadi.
Sedangkan Tamsil Banjar adalah kata-kata kiasan yang bersajak dan berirama dalam bahasa Banjar, yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk barias-baris puisi.
Contoh Tamsil Banjar, antara lain:
Baundur supan, bamara takutan, bagana kada tahan. Dan mambatat mangadalun, dijamur kada mau karing, dirandam kada mau bangai, dibanam kada mau hangit.
Tajuddin menyimpulkan, bahwa Peribahasa Banjar berbentuk puisi, terdiri atas Gurindam, Kiasan, Mamang Papadah, Pameo Huhulutan, Saluka, dan Tamsil. Peribahasa Banjar berbentuk kalimat, terdiri atas Ibarat, Papadah, Papatah-patitih, Paribasa, dan Paumpamaan.
“Bahwa semua ragam/jenis peribahasa Banjar berbentuk puisi, setidak-tidaknya memiliki salah satu dari 3 ciri karakteristik bentuk, yakni adanya pengulangan atas kosa-kata yang sama, adanya kosa-kata yang hampir sama secara morfologis, dan adanya kosa-kata yang saling bersajak.
Baik akhiran kosa kata tersebut secara vertikal maupun secara horisontal di awal, di tengah, atau di akhir baris/larik. Ciri-ciri karakteristik bentuk yang demkian itu identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi)” ujarnya. ara/mb05

180112-rabu(kamis)-Peran Mahasiswa Mengawal Isu-Isu Daerah (Dm.200112).doc

Photo: Presiden Mahasiswa Unlam, M Pazri

Meningkatkan Peran Mahasiswa Mengawal Isu-Isu Daerah


BANJARMASIN – Peran utama mahasiswa sebagai tonggak utama bagi perubahan, apabila dibiarkan tanpa koordinasi yang bagus, akan menjadi tiada berarti. Harus ada gebrakan baru, yang akan memberikan penyegaran terhadap peran dan keorganisasian mahasiswa dalam mengawal isu-isu daerah.
Saat ini kerjasama antar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan pergerakan BEM sangat kurang, terutama pergerakan untuk menindak lanjuti isu daerah, seperti SDA, lingkungan, pemerintahan (eksekutif dan legislatif).
Sebelum BEM Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) perode kepengurusan 2012, lebih jauh mengawal isu-isu daerah. Maka merapikan keadaan internal keorganisasian di Unlam harus lebih dulu dilakukan.
“Apabila sudah ada kesepakatan bersama dengan ketua-ketua BEM Fakultas se Unlam, dilanjutkan dengan membentuk forum BEM se Unlam, forum Hima se Unlam, dan hal advokasi serta kebijakan yaitu pengawasan, budgeting dan legislasi, terkait aturan keorganisasian.
Unlam tidak cuma memikirkan di internalnya, kedepannya ada kontribusi minimal untuk masyarakat. Sehingga peran mahasiswa dalam mengawal isu-isu daerah, kembali hidup lagi” ungkap M Pazri, Presiden Mahasiswa (Presma) Unlam periode 2012, pada Rabu (18/1) sore dengan Mata Banua.
Menurutnya, setelah membenahi situasi internal keorganisasian, barulah mencari link dari luar kampus yang ada di Banjarmasin, Kalsel dan Nasional. Serta melanjutkan Forum BEM se Kalimantan (BEM SEKA). Baik itu rekomendasi dalam pertemuan pertama di Unlam, maupun dalam Kongres Pertama BEM SEKA di IAIN Antasari.
Menindak lanjuti terhadap advokasi isu-isu daerah, dan merumuskan lebih jauh lagi, sehingga ada feedback peran mahasiswa untuk mengawal isu-isu daerah.
Ia kembali menekankan terhadap dua rekomendasi yang telah disepakati BEM SEKA, dan BEM Unlam 2012 akan memodifikasi beberapa point tersebut. “Tidak sepenuhnya sama konsepnya, tapi beberapa gebrakan baru. Minimal bisa memberikan kontribusi yang nyata terhadap kondisi sebenarnya yang ada di Kalsel” ujarnya. ara/mb05

180112-rabu(kamis)-BEM Unlam 2012 Tekankan Kewirausahaan.doc

Photo: Presiden Mahasiswa Unlam, M Pazri

BEM Unlam 2012 Tekankan Kewirausahaan Mahasiswa


BANJARMASIN - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) perode kepengurusan 2012, akan melakukan pengimbangan kegiatan yang sifatnya rame-rame, lebih kepada kegiatan ilmiah, pekan ilmiah, dan yang utama kewirausahaan.
Hal ini diungkapkan oleh M Pazri, Presiden Mahasiswa (Presma) Unlam periode 2012, pada Rabu (18/1) sore dengan Mata Banua. Menurutnya, selain pengimbangan kegiatan dan kewirausahaan mahasiswa, BEM Unlam 2012 ingin merapikan keadaan internal keorganisasian lebih dulu.
Dengan kata lain, membuat program yang tidak muluk-muluk, mencari hal-hal yang realistis, menggenjot lebih kepada akademik dan prestasi. Ini yang akan digodok lebih mendalam lagi.
Merapikan dan merapatkan keadaan internal keorganisasian menjadi fondasi sinergisitas semua BEM Fakultas yang ada di Unlam dan BEM Unlam itu sendiri. Ada 10 Bem Fakultas di Unlam, sama-sama membangun terkait kebijakan di dalam dan di luar kampus.
Pazri mengakui, bahwa dunia mahasiswa di Kalsel tengah menghadapi krisis kepemimpinan, serta krisis keanggotaan organisasi, dan situasi ini terjadi pula di Unlam. Rata-rata mahasiswa enggan berorganisasi, sehingga menjadi mahasiswa Kupu, yaitu mahasiswa yang hanya kuliah dan pulang kerumah. Mahasiswa beranggapan kalau berorganisasi hanya merepotkan dan bisa membuat kuliah menjadi lambat selesai.
Bagaimana cara membangkitkan kembali minat mahasiswa berorganisasi inilah yang menjadi salah satu program dari BEM Unlam 2012. Pola yang akan dilakukan dengan memberikan gambaran yang nyata kepada mahasiswa.
Mahasiswa diberi gambaran dan tahu apa keuntungannya bila bergabung dalam organisasi, tanpa membuat nilai kuliahnya merosot. Sehingga ada keseimbangan, yaitu aktif berorganisasi tapi juga aktif di perkuliahan dan prestasi bisa jalan.
Salah satu caranya dengan membuat training organisasi yang menawarkan konsep baru, dari segi pendidikan karakter, moral, dan etikanya. Serta menekankan keteladanan dari para organisastor. “Jangan sampai ketua BEM, UKM, dan Hima, malah memberi teladan yang salah, baik diri segi manajemen dll. Teladan yang salah membuat mahasiswa enggan berorganisasi” ujar M Pazri, yang terpilih dan dilantik sebagai Presma pada akhir Desember 2011.
Dilain pihak, terkait pentingnya organisasi mahasiswa, Pembantu Rektor III Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi, mengatakan bahwa karakter manusia tidak mungkin dapat diperoleh dengan tiba-tiba, tapi harus diasah, antara lain diasah melalui organisasi kemahasiswaan, yang program-programnya sungguh-sungguh dapat membina karakter mahasiswa. ara/mb05

170112-Waspada Penawaran Fogging

Photo: drg Hj Diah Ratnani Praswati

Waspada Terhadap Penawaran Fogging


BANJARMASIN – Januari sd Maret adalah masa yang rentan terjadi penyebaran DB atau DBD. Terkadang masyarakat mencari jalan keluar yang mudah untuk menghindari DB atau DBD, yaitu dengan cara fogging (pengasapan nyamuk). Penawaran fogging inilah yang harus diwaspadai.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Banjarmasin drg Hj Diah Ratnani Praswati, kepada Mata Banua di ruang kerjanya, beberapa waktu yang lalu. Sekaligus juga untuk menjawab keluhan masyarakat, yang merasa wilayah tempat tinggalnya tidak dilakukan fogging oleh petugas Dinkes.
Menurutnya, ada masyarakat yang mau difogging atau ingin di fogging di lingkungan tempat tinggalnya. Fogging memang salah satu jalan keluar, tapi yang terpenting adalah pemberantasan sarang nyamuk dan menjaga kebersihan.
Dari keinginan masyarakat inilah yang menyebabkan munculnya fogging swasta, yang mengatas namakan Dinkes. Fogging ini dengan biaya/ membayar sekitar Rp 300 ribu atau lebih. “Dinkes sudah menemukan beberapa laporan dari masyarakat, mengenai fogging swasta ini” katanya.
Diah melanjutkan, kalaupun ada fogging, hanya pada tempat-tempat tertentu. Yaitu fogging sebelum masa penularan dan fogging sesudah masa penularan DB atau DBD. Apabila dengan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di masing-masing Kelurahan/ RT sudah dianggap cukup, dan berhasil memberantas jentik nyamuk, maka tidak perlu dilakukan fogging.
Di sinilah peran dari kader-kader jumantik yang telah di bentuk Dinkes Kota Banjarmasin, dalam memberikan penyuluhan tentang pentingnya melaksanakan 3M (menguras bak air, menutup tempat air, dan mengubur barang-barang bekas).
Pada sebuah kasus DBD yang ditemukan dalam suatu wilayah, Fogging yang dilakukan juga tidak secara menyeluruh. Namun hanya sekitar radius 100 sd 200 m disekitar tempat DBD positif tadi. Artinya 10 rumah dari rumah yang dinyatakan positif DBD. Karena memang sudah ada prosedur tetap secara nasional, mengikuti aturan dari kementrian kesehatan.
Fogging adalah racun dan sangat berbahaya, jadi harus hati-hati dilakukan. Fogging ada takarannya. Fogging yang sembarangan, akhirnya membuat nyamuk kebal atau malah meracuni masyarakat yang menghirup asapnya.
Fogging yang dilakukan Dinkes adalah gratis dan sudah dibiayaai oleh pemerintah daerah. Petugas tidak diperkenankan menerima upah atau pembayaran sepeserpun dari masyarakat.
“Apabila ada pihak yang menawarkan fogging atau petugas Dinkes yang meminta bayaran dari masyarakat, segera laporkan ke Puskesmas atau ke Dinkes” ujarnya. ara/mb05

170112-selasa(rabu)-bahasa banjar3.doc

Photo: Mukhlis Maman

Banyak Istilah Banjar Semakin Asing


BANJARMASIN – Beberapa istilah bahasa Banjar, semakin terdengar asing di telinga orang Banjar itu sendiri. Baik karena sudah tidak dipergunakan, maupun tidak diketahui lagi apa maksudnya.
Hal ini diungkapkan oleh pemerhati budaya Banjar, Mukhlis Maman pada Minggu (15/1) sore. Ia mencontohkan dua kata istilah dalam bahasa Banjar, seperti Mamang Papadah dan Pameo Huhulutan.
“Pada zaman dulu orang-orang tua sering memberikan Mamang Papadah dengan anak-anaknya, Mamang yang disusun dengan bahasa yang indah dan penuh dengan makna. Begitu pula dengan Pameo Huhulutan, mempunyai tata bahasa yang lembut atau tidak kasar, sehingga tidak menyinggung orang yang dituju” katanya.
Menurut Tajuddin Noor Ganie, Mamang Papadah adalah kata-kata dalam bahasa Banjar, yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk baris-baris puisi. Mamang Papadah dipergunakan sebagai sarana untuk memberikan pengertian, menganjurkan, melarang, mengajarkan suatu pegangan hidup, memberi petuah, dan menyuruh kepada suatu kebaikan.
Contoh Mamang Papadah, antara lain:
Adat urang main, ada kalah ada manang. Akal diakali, pikir dipikirakan. Allahhu wahadah, Inya mambari kada bawadah, Inya maambil kada bapadah. Badiri sadang baduduk sadang. Baik sakit di mata pada sakit di hati. Baik manyasal di hulu riam, pada manyasal sudah ka hilir riam. Halus-halus iwak, ganal-ganal biawak. Kada diam parang kada diam pisau. Kambang kada sakaki, kumbang kada saikung, alam kada batawing. Lain danau lain iwaknya. Raja lawan putri, pantul lawan amban. Dan tabarusuk batis kawa dicabut, tabarusuk basa jadi hual.
Sedangkan Pameo Huhulutan adalah kata-kata dalam bahasa Banjar yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk baris-baris puisi. Pameo Huhulutan dipergunakan sebagai sarana untuk mengolok-olok, mencaci-maki, mengejek, mengeritik, menghina, atau menyindir seseorang atau suatu keadaan.
Contoh Pameo Huhulutan, antara lain:
Ada kada malabihi, kada ada kada mangurangi. Ada sifat ada kijik. Asam janar, siapa marasa banar. Diam parang, diam pisau. Dicari sahari dimakan sahari. Di situ makan di situ bahira. Diulah baju kaganalan, diulah salawar kahalusan. Handak angkung langsat tadapat bangkung tiwadak. Ia kandang ia babi. Imbah satabul satabul pulang. Kada purun tikus, matan purun banar. Lagi di banua saurang kaya macan, sudah di banua urang kaya acan. Lain nang disurung, lain nang dikalang. Lancar paandir bahira maucir. Mana manyatang mana manyatupur. Mata kaya mata maling. Salagi bungkuk, salagi dihantak. Tabang nani rabah ka natu, tabang natu rabah ka nani. Tangga urang diulur, tangga saurang ditarik. Turun hayam naik hayam. Urang manyurung tungkat, inya manyurung galagar. Dan ya surak ya maling. ara/mb05

160112-senin(selasa)-Uniska membenahi fasilitas.doc

Photo: Rektor Uniska, Drs H Mustatul Anwar M MPd MKes

Uniska Terus Melakukan Pembenahan Fasilitas


BANJARMASIN – Terlihat Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjary, terus melakukan pembangunan dan pembenahan ruangan. Apa yang menjadi tujuan dalam pembenahan ini, terungkap dalam perbincangan dengan Rektor Uniska.
Menurut Rektor Uniska, Drs H Mustatul Anwar M MPd MKes, beberapa waktu yang lalu. Bahwa Universitas ada karena mahasiswa, dan mahasiswa adalah pemuda-pemuda yang diharapkan bisa melanjutkan masa depan. Sehingga masa depan inilah yang perlu dibenahi.
Ia mengakui, kalau masih banyak perhatian yang kurang diberikan dengan mahasiswa, karena Uniska masih dalam rangka melakukan pengembangan-pengembangan. Terutama mengenai pembenahan fasilitas perkuliahan, seperti adanya TV Plat dalam setiap ruangan dalam kuliah.
Khusus kemahasiswaan, bagi mahasiswa yang berprestasi dalam kegiatan, baik tingkat daerah, provinsi maupun nasional, akan memperoleh penghargaan dari Universitas. Sehingga semangat kreatifitas dan minat mahasiswa dalam organisasi dan kegiatan kampus, terus berkembang lebih baik lagi.
Selain itu, ia menginginkan agar mahasiswa melalui keorganisasian Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultasnya masing-masing, dapat menyampaikan keluhannya dengan secara tertulis. Keluhan secara tertulis lebih mudah dibawa dan dibicarakan, dalam rapat rektorat dengan pihak yayasan Uniska.
Bahkan Rektor Uniska, mempersilahkan mahasiswa menyampaikan keluhan langsung melalui SMS kepadanya. “Apabila hal itu dianggap penting dan mendesak, silahkan SMS saja secara langsung. Diharapkan dengan keterbukaan seperti ini, segala permasalahan bisa langsung ditindak lanjuti” ujarnya. ara/mb05

160112-senin(selasa)-bahasa banjar2.doc

Photo: Tajuddin Noor Ganie

Ragam Peribahasa Banjar


BANJARMASIN – Menjadikan bahasa Banjar dalam sebuah karya sastra dewasa ini, memang sangat berharga. Namun akan menjadi sangat sulit menggunakan bahasa Banjar dalam karya sastra, apabila tidak mengetahui ragam dari bahasa Banjar itu sendiri.
Menurut Tajuddin Noor Ganie, beberapa waktu yang lalu. Bahwa bahasa Banjar yang digunakan dalam sastra pada masa lalu, mempunyai karakteristik tersendiri. Baik dalam bentuk gurindam maupun kiasan.
Gurindam Banjar, istilah Gurindam tidak ada padanannya dalam bahasa Banjar. Sehubungan dengan itu istilah ini langsung diadopsi untuk memberi nama fenomena yang sama, dalam khasanah peribahasa Banjar berbentuk puisi.
Gurindam Banjar adalah kata-kata dalam bahasa Banjar yang disusun dalam bentuk 2 baris puisi bersajak akhir a-a baik secara vertikal maupun horisontal, kata-kata pada baris 1 berstatus sebagai syarat (sebab) dan kata-kata pada baris 2 berstatus sebagai jawaban (akibat).
Contoh Gurindam Banjar antara lain:
Banyak muntung bagawi kada manuntung. Kabanyakan guring awak kurus karing, Kabanyakan rangka habis kada sahama-hama. Ngalih mambuang batu di palatar, ngalih mambuang laku amun sudah dasar. Talalu harap, tatiharap. Talalu pilih, taplih bangkung. Talalu puji, takujiji. Dan Talalu runding takujihing.
Kiasan Banjar, Kias dalam bahasa Indonesia sama saja artinya dengan kias dalam bahasa Banjar. Kiasan Banjar adalah kata-kata kiasan dalam bahasa Banjar, yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk baris-baris puisi. Kiasan dipergunakan sebagai sarana untuk menyampaikan suatu maksud, namun secara tidak langsung kepada orang lain.
Contoh Kiasan Banjar antara lain:
Baduduk salah, badiri salah. Bapatah bilah, bapatah harang. Dalas jadi habu jadi harang. Disambat mati uma, kada disambat mati abah. Kada ada kukus amun kada ada api. Kaya kalambuai, naik kawa, turun kada kawa. Kaya bulan lawan bintang. Kuduk kada mati, ular kada kanyang. Lapas muntung harimau, masuk ka muntung buhaya. Makin tuha makin baminyak. Naik di kapuk turun di hanau. Naik di pinang turun di hanau. Naik di pinang turun di rukam. Pilanduk bisa kalumpanan lawan jarat, jarat kada kalumpanan lawan pilanduk. Salapik sakaguringan, sabantal sakalang gulu. Sarantang saruntung samuak saliur. Urang nangkanya, saurang gatahnya. Dan Wani manimbai, wani manajuni.
Di lain pihak, pemerhati budaya Banjar, Mukhlis Maman pada Minggu (15/1) sore. Ia menekankan pentingnya sebuah buku yang secara khusus membahas mengenai tata bahasa Banjar secara lengkap dan mendetail. “Dengan adanya buku ini, bisa menjadi pedoman bagi pengajaran bahasa daerah untuk muatan lokal di sekolah-sekolah” ujarnya. ara/mb05

150112-minggu(senin)-gumam asa2.doc

Photo: Sainul Hermawan

Aforisma Sastra Dalam Gumam


BANJARMASIN – Sastra dalam beragam alirannya, mempunyai genre yang bermacam-macam. Salah satu genre yang belakangan ini menjadi pembicaraan di Kalsel adalah Guman. Gumam sendiri diperkenalkan oleh Ali Syamsudin Arsi (ASA), penyair Kalsel yang telah menghasilkan empat buku genre Gumam.
Menurut Sainul Hermawan, beberapa waktu yang lalu, indikasi karakteristik wacana dalam buku kumpulan Gumam ASA, bisa disebut salah satu genre sastra yang bernama aforisma (aforisme).
Aforisma biasanya berupa pernyataan-pernyataan singkat berisi kebenaran subyektif yang disampaikan secara lisan, ataupun dengan tulisan prosais ataupun puitik yang mengulang-ulang kata, frase, atau kalimat.
Bahkan pengulangan kata, frase atau kalimat, ketiganya dipermainkan dengan bahasa yang tak tertata. Ini sebagai bentuk pembangkangan kreatif terhadap tatanan berbahasa untuk menyegarkan persepsi pembaca yang serba otomatis, dengan mengaduk-aduk konvensi bahasa dalam pikiran.
Dalam buku kumpulan gumam ASA, penulisnya sendiri menanyakan, apakah Gumam termasuk dalam salah satu jenis penulisan sastra? Meski ASA menyerahkan jawaban pada keputusan pembaca dalam segala kemungkinan tafsirnya. Kalau Emha Ainun Nadjib, menyederhanakan yang rumit. Sebaliknya Gumam merumitkan yang sederhana sekaligus yang rumit.
Sebagai sebuah permainan bahasa, makna Gumam akan dapat dipahami dengan baik jika tahu aturan mainnya. Untuk itulah dalam catatan kreatifnya ASA tampak mencoba menggagas aturan main.
Pertama, bahasa Gumam adalah bahasa yang liar. Kedua, dalam keliaran itu dia menyelipkan pesan yang dapat diraih secara keseluruhan, atau sebagian saja dalam bentuk percikan atau bias. Ketiga, akrobat kata-kata dalam Gumam ini bukan sekadar sarana melainkan juga sasaran.
Karakteristik teks Gumam, bisa di baca dari mana saja. Bisa dari awal, belakang, dari tengah, bisa satu baris atau beberapa baris, satu paragraph atau beberapa paragraph. Sebab peranti kohesi dan koherensi sebagai fasilititas tekstual untuk memahami hubungan antarkata, antarparagraf, dan antarbab, banyak diabaikan dan ini salah satu faktor penyebab rumitnya Gumam ASA.
Meski ada pertanyaan, mengapa dalam Gumam ASA tidak ditemukan tanda tanya, dan meski banyak seruan, tanda seru tak satupun digunakan.
Gumam ASA memang tak sepenuhnya patuh pada aturan penulisan tanda baca titik atau koma. Tampak keinginan penulis untuk tak terlalu sibuk menyandingkan sastra dan bahasa. ASA membiarkan estetika mengalir semaunya tanpa kekangan tata bahasa. Namun konvensi penulisan kata masih tetap dipatuhi.
Ada sebagian isi buku Gumam ASA yang bisa dibaca sebagai prosa naratif, dan sangat banyak berupa prosa lirik atau puisi yang ditampilkan dengan tifografi prosa, dan ada puisi dalam tifografi bait per-bait.
“Wajar jika ada pembaca, yang sudah terbiasa dengan bacaan yang mudah diterima persepsi, akan sulit memahami Gumam. Karena memang bahasa Gumam jungkir-balik, dan aneh, meski jika dipahami dengan pelan akan ditemukan pesan yang ingin disampaikan. Cara terbaik menikmati Gumam ASA, bukan dengan mulai menanyakan mana pangkal dan ujungnya. Nikmatilah seperti anak kecil menikmati hujan” ujar Sainul, staf pengajar FKIP Unlam ini. ara/mb05

150112-minggu(senin)-gumam asa1.doc

Photo:
- Ali Syamsudin Arsi
- Tiga buku kumpulan Gumam ASA antara lain berjudul Istana Daun Retak, Tubuh Di Hutan-Hutan, dan negeri benang pada Sekeping Papan.

Biarkan Gumam Memantulkan Dirinya Sendiri


BANJARMASIN – Pertanyaan besarnya, adakah Gumam ini masuk dalam salah satu jenis gaya penulisan, sebagai karya dalam jenis apa ia? Tanya Ali Syamsudin Arsi (ASA), beberapa waktu yang lalu dengan Mata Banua.
Kumpulan Gumam ASA telah terangkum dalam empat buku, yang akan dilanjutkan dengan buku Gumam berikutnya. Tiga buku kumpulan Gumam ASA antara lain berjudul Istana Daun Retak, Tubuh Di Hutan-Hutan, dan negeri benang pada Sekeping Papan.
Menurut penyair Kalsel ini, ia tidak akan menjawab pertanyaan itu. Tapi menyerahkan kepada kejelian pembaca. Serta tidak memaksakan diri, untuk masuk ke tata ruang mana pun dalam gaya sastra. Walaupun ia mengakui, ada dorongan dalam dirinya untuk memproklamasikan Gumam, agar masuk dalam ranah sastra.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, ASA membebaskan saja hasrat besar (memproklamasikan Gumam) ke udara luas. Melepaskan Gumam untuk memantulkan dirinya sendiri, menjadi sesuatu yang liar. Namun dalam keliaran pantulan Gumam, dapat ditarik percik-perciknya, dapat dipungut bias-biasnya. Karena sumber bias itu sendiri teramat jauh, tetapi tetap ada.
Pada Gumam Dari Istana Daun Retak, ASA menulis:
telunjuk mengarah pada satu titik, istana daun retak/ bertahun sudah mencoba membangun/ lembar-lembar daun, dari yang berserak/ kepada menghimpun/ telunjuk itu membuka garis-garis/ di telapak// lihat, ini pasukan cicak/ di belantara rimbun daun dan jejak-jejak/ dengan, suara-suara gemeretak/ dari helai-helai daun yang mulai retak/ kering, lusuh-lapuk menuju lenyap//
sebagaimana hikayat dari bangunan sebuah istana/ pasir-pasir menjadi perih di tempias-tempias kelopak/ buih-buih dari berjuta bahwa akan selesai bila telah berucap/ ternyata tidak segampang itu ternyata tidak semudah itu/ ternyata tanah tempat bangunan istana itu/ terbuat dari serak-serak rerimbun/ daun-daun tetak/ runtuh pun mengancam di puncak/ mahkota-mahkota, ya mahkota dari/ cuaca terkuak/ tak jua tak tak memperjelas gerak, tak//
lihat, ini pasukan manusia kelas paling miskin/ berduyun berjejal terinjak-injak/ dengar, gemuruh di dapur-dapur lusuh dan sakit/ pasukan perut yang selalu melilit// setelah ini, siap lagi tampil mendaftar/ istaqna daun retak// banjarbaru, 19 Januari 2010.
ASA berharap, dari secercah detil dalam Gumam, bisa memberikan inspirasi untuk melakukan sesuatu tindakan nyata yang lebih besar dan bermakna.
“Apapun bentuk peristiwa yang dialami oleh gumam dalam perjalanannya, tetaplah sebagai sebuah proses kreatif penulisan. Sebagai jejak telapak di sepanjang perjalanannya. Tidak perlu dipaksakan menjadi harus jelas, sebab ada beberapa petunjuk tersimpan sebagai rahasia. Seperti saat roda-roda kekuasaan digelindingkan, saat gerigi tajam kekuasaan dijalankan” ujarnya. ara/mb05

130112-jumat(sabtu)-rencana konsolidasi walhi (Dm.170112).doc

Batasan Wewenang Dijadikan Alasan


BANJARMASIN – Banyak harapan yang ditujukan kepada Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat dan instansi lainnya, untuk menyelesaikan konflik sosial, konflik agraria dan lingkungan. Namun harapan tersebut seringkali menjadi bias.
Hal ini diungkapkan oleh Rahmat Mulyadi atau yang biasa di panggil Abu, dari Divisi P3OR Walhi Kalsel, kepada Mata Banua seusai aksi demonstrasi damai menuntut Pemulihan Hak-Hak Rakyat, pada Kamis (12/1) siang, di depan DPRD Kalsel.
Menurut Abu, menanggapi alasan keterbatasan wewenang dan sistem yang diberikan oleh dua anggota DPRD Kalsel yang menemui demonstran.
Bahwa sistem yang dirancang dan disusun oleh pemerintah, terkadang hanya mengatasnamakan rakyat, dalam prakteknya malah tidak berpihak dengan rakyat. Tapi berpihak dengan pengusaha dan pemodal asing, yang hanya memberi keuntungan sepihak kepada kelompok-kelompok tertentu saja.
Akhirnya sistem kembali dijadikan alasan, pembenaran keterbatasan Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat dan instansi dalam mengatasi dan mengantisipasi konflik sosial, konflik agraria dan lingkungan.
Ketika Pemerintah diminta bertindak, pemerintah akan berlindung dengan undang-undang dan perda yang telah ditetapkan Dewan Perwakilan Rakyat. Saat Dewan Perwakilan Rakyat diminta penyelesaiannya, ia akan mengetengahkan alasan batasan wewenang. Sampai kapanpun persoalan tidak akan pernah selesai, bila saling melempar tanggung jawab.
Mediasi-mediasi yang dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat dalam menyelesaikan permasalahan seringkali hanya bersifat politis, atau hanya untuk mengulur waktu. Dikatakan bersifat politis, karena anggota Dewan Perwakilan Rakyat kekuasaannya dan keputusannya ada pada kebijakan partai masing-masing.
Sementara partai-partai yang mempunyai jaringan hingga tingkat paling dasar dalam masyarakat, tidak melakukan tindakan apa-apa dengan konflik sosial, konflik agraria dan lingkungan yang terjadi pada rakyat kecil. Kalaupun permasalahan itu dimunculkan oleh partai, sekali lagi itu hanya untuk mendongkrak kekuasanan politik.
Di sisi lain Abu mengakui, kalau selama ini gerakan-gerakan aktivis pro lingkungan dan demokrasi yang dapat menjaga pilar-pilar penyangga keberlangsungan kehidupan rakyat dan lingkungan tengah mengalami kelesuan dan kevakuman. Baik karena disebabkan permasalahan internal ataupun kurangnya konsolidasi.
Untuk tercapainya pengembalian kedaulatan rakyat atas pengelolaan sumber daya alam. “Maka perlu proses penyadaran akan pentingnya pergerakan melawan dominasi neoliberalisme. Pemahaman ideologi yang kuat yang disertai konsolidasi yang intensif oleh para penggerak pro lingkungan dan demokrasi. Kemudian menetapkan rencana advokasi dan kampanye lingkungan di 2012” ujarnya. ara/mb05

130112-jumat(sabtu)-ekologi diabaikan dr walhi (Dm.160112).doc

Pembangunan Berkeadilan Ekologi Masih Diabaikan


BANJARMASIN – Praktek pengelolaan sumber daya alam masih mengabaikan keberlanjutan pelayanan alam, keselamatan serta produktifitas rakyat. Padahal ketiga prinsip tersebut merupakan dasar utama pembangunan berlandaskan keadilan ekologi (ecological justice) dan pemenuhan HAM.
Hal ini diungkapkan oleh Dwitho Frasetiandy Manager Kampanye WALHI Kalsel, kepada Mata Banua seusai aksi demonstrasi damai menuntut Pemulihan Hak-Hak Rakyat, pada Kamis (12/1) siang, di depan DPRD Kalsel.
Menurut Andy, terabaikannya keberlanjutan pelayanan alam, keselamatan serta produktifitas rakyat, diakibatkan oleh corak, watak dan orientasi pembangunan di Indonesia pada umumnya dan daerah khususnya.
Yaitu corak, watak dan orientasi pembangunan yang tidak bersifat demokratis-kerakyatan. Corak produksinya masih eksploatif, liberal, memuja pasar, serta mengabaikan keselamatan lingkungan hidup dan rakyat.
Krisis dan bencana ekologis, bukanlah keadaan yang datang secara tiba-tiba. Ada struktur ketidakadilan yang bekerja secara sistematis di dalamnya. Evaluasi atas kondisi ini amat penting untuk dilakukan Negara. Agar ke depan, keadaan krisis dan bencana ekologis tidak terus melanda Indonesia dan daerah.
”Pemerintah pusat dan daerah patut bercermin dari gagalnya Negara memenuhi kepentingan ekonomi, sosial, budaya, keamanan dan kesejahteraan umum rakyat secara berkeadilan dan bermartabat” katanya.
Lanjut Andy, pada tingkat lokal, permasalahan lingkungan di Kalsel semakin bermunculan dari tahun ke tahun. Dari permasalahan klasik tentang kebijakan pemerintah, pertambangan, kehutanan, kelautan sampai pada permasalahan sampah dan sungai yang tak kunjung berakhir. Sementara isu lingkungan masih belum menjadi isu utama di tingkat masyarakat.
Selama 3 tahun terakhir setidaknya Walhi Kalsel mendapat banyak laporan kasus yang telah tercatat. Dan kasus yang sedang ditangani oleh Walhi Kalsel, terbagi menjadi 11 kasus pertambangan, 11 kasus perkebunan sawit dan kayu, 2 kasus pedagang kaki lima, serta 1 kasus penganiayaan.
“Fenomena ini terus berlangsung di beberapa kawasan, yakni kawasan Meratus, Banua Anam, perkotaan, hingga daerah pesisir dan kepulauan di Kotabaru dan Tanah Bumbu. Fenomea terkait pencemaran (udara, air, tanah), pelanggaran tata ruang, alih fungsi lahan, praktek eksploitasi, hingga pelanggaran hukum lingkungan” ujarnya. ara/mb05

120112-kamis(jumat)-aksi demo tanah walhi se indonesia vs DPRD.doc

DPRD Tidak Bisa Merubah Sistem Begitu Saja


BANJARMASIN – Kalaupun tuntutan demostran, agar DPR bisa menyelesaikan persoalan konflik sosial secepatnya. Itu tidak bisa dilakukan begitu saja, karena ada sistem yang mengatur fungsi dan wewenang masing-masing.
Hal ini diungkapkan oleh Riswandi, anggota DPRD Kalsel dari komisi III, seusai menemui demonstras aksi damai menuntut Pemulihan Hak-Hak Rakyat, pada pada Kamis (12/1) siang.
Demostran bergerak dari Universitas Lambung Mangkurat sekitar pukul 10.00 Wita, dan sampai di depan DPRD sekitar pukul 11.00 Wita. Setelah lebih dari satu jam demonstran berorasi bergantian dan sempat menampilkan tarian adat Balian dari suku Dayak, baru dua anggota DPRD Kalsel (Riswandi dan Faturrahman) menemui demostran.
Itupun setelah koordinator aksi (Rahmat Mulyadi atau yang biasa di panggil Abu, dari Divisi P3OR Walhi Kalsel) mengancam, apabila anggota DPRD Kalsel tidak bersedia keluar menemui demostran, maka demonstran akan masuk ke komplek DPRD Kalsel.
Terjadi perdebatan yang sengit antara demostran dengan Riswandi politisi dari PKS ini. Demostran menginginkan agar DPRD Kalsel segera bertindak mengatasi konflik sosial yang terjadi seperti yang ada dalam tuntutan. Serta jangan hanya memfasilitasinya saja, tapi mengambil tindakan yang nyata dan tegas.
Kepada Mata Banua, Riswandi menjelaskan bahwa persoalannya ada di sistem, Tentunya setiap DPR mempunyai kewenangan masing-masing, tidak bisa di tabrak tabrak begitu saja. DPR RI ada mempunyai kewenangan, DPRD Provinsi ada mempunyai kewenangan, begitu pula DPRD Kabupaten/kota. Selain itu, adapula kewenangan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
Ia mengakui kalau konflik sosial tidak hanya banyak terjadi di luar Kalsel, namun di Kalsel juga telah terjadi, begitu pula konflik mengenai agraria.
Menurutnya, wewenang yang menangani masalah hukum dan agraria ada pada DPRD Kalsel komisi I. “Kami merespon positif atas demonstrasi hari ini, ini bagian dari aspirasi masyarakat yang harus dihormati. Apabila kasus yang diajukan tersebut adalah rill, akan segera kami tindak lanjuti” ujarnya.
Tuntutan demostran yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Perlawanan Terhadap Perampasan Tanah-Tanah Rakyat.
Tuntutan untuk Kalsel antara lain:
Mendesak Gubernur Kalsel dan seluruh pemerintahan di Kalsel, untuk menghentikan ekspansi industri perkebunan besar sawit.
Mendesak DPRD Kalsel untuk proaktif melindungi tanah-tanah rakyat dari perampasan.
Tarik dan evaluasi seluruh aparat POLRI dan TNI di lokasi konflik sumber daya alam di Kalsel.
Mendesak Kapolda Kalsel untuk menindak oknum polisi yang terlibat bisnis disektor sumber daya alam.
Penegakan hukum bagi pelanggar Perda no 3 tahun 2008, tentang larangan penggunaan jalan Negara untuk batubara dan sawit.
Pengakuan hak-hak masyarakat adat, serta menolak rencana PT Adaro untuk peningkatan kapasitas produksi batubara menjadi 80 juta ton per tahun.
Tuntutan secara nasional yaitu:
Hentikan segala bentuk perampasan tanah rakyat yang mengatasnamakan investasi untuk pertumbuhan ekonomi, serta kembalikan tanah rakyat yang dirampas.
Mendesak pelaksanaan reforma agrarian sejati, sesuai amanat konstitusi 1945 dan UUPA tahun 1960.
Mendesak DPR RI untuk membentuk Pansus Penyelesaian Konflik Agraria.
Tarik dan evaluasi seluruh aparat POLRI dan TNI di lokasi konflik sumber daya alam. Serta bebaskan para pejuang rakyat yang ditahan dalam melawan perampasan tanah.
Mendesak DPR RI menggunakan hak interpelasinya untuk meminta pertanggung jawaban SBY atas terjadinya pelanggaran HAM berat di sektor agraria dan sumber daya alam.
Laksanakan Pembaruan Agraria Sejati sesuai dengan Konsitusi 1945 dan UUPA 1960.
Melakukan Audit Legal dan Sosial Ekonomi terhadap segala Hak Guna Usaha (HGU) Perkebunan, Hak Guna Bangunan (HGB), SK Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Izin Usaha Pertambangan (IUP) baik kepada Swasta dan BUMN yang telah diberikan dan segera mencabutnya untuk kepentingan rakyat.
Membubarkan Perhutani dan memberikan hak yang lebih luas kepada rakyat, penduduk desa dan masyarakat adat dalam mengelola hutan.
Penegakan Hak Asasi Petani dengan cara mengesahkan RUU Perlindungan Hak Asasi Petani dan RUU Kedaulatan Pangan sesuai tuntutan rakyat.
Penegakan Hak Masyarakat Adat melalui Pengesahan RUU Pengakuan dan Perlindungan Hak – Hak Masyarakat Adat.
Pemulihan Hak dan Wewenang Desa dengan segera menyusun RUU Desa yang bertujuan memulihkan hak dan wewenang desa, atau nama lain yang sejenis dalam bidang ekonomi, politik hukum dan budaya.
Penegakan Hak Asasi Buruh dengan Menghentikan Politik Upah Murah dan Sistem Kerja Out Sourcing, serta membangun Industrialisasi Nasional.
Penegakan Hak Asasi Nelayan Tradisional, melalui perlindungan wilayah tangkap nelayan tradisional.
Pencabutan sejumlah UU yang telah mengakibatkan perampasan tanah yaitu : UU No.25/2007 Penanaman Modal, UU 41/1999 Kehutanan, UU 18/2004 Perkebunan, UU 7/2004 Sumber Daya Air, UU 27/2007 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU 4/2009 Minerba, UU Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan.
Serta Pencabutan UUPPTKILN No.39 tahun 2004 dan Bentuk Undang-undang yang menjamin hak-hak Buruh Migran Indonesia dan Keluarganya. ara/mb05

120112-kamis(jumat)-aksi demo tanah walhi se indonesia (Dm.140112).doc

Empat Tahun Terakhir Ada 28 Kasus Konflik Sosial di Kalsel


BANJARMASIN – Dari 2008 sd 2012, di Kalsel tercatat 28 kasus konflik sosial yang terkait dengan perkebunan sawit. Kemudian ditambah lagi kasus-kasus pertambangan.
Hal ini diungkapkan Direktur Esekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Hegar Wahyu Hidayat, pada Kamis (12/1) pagi dengan Mata Banua, sebelum melakukan aksi demonstrasi damai menuntut Pemulihan Hak-Hak Rakyat yang dilaksanakan serentak di Indonesia.
Menurut Hegar, secara nasional telah diketahui beragam konflik sosial yang terjadi. Seperti peristiwa Mesuji, Riau, Jambi, Tiaka Sulawesi Tengah, Sorikmas di Sumatera Utara, Senyarang, Papua, dan terakhir pada 24 Desember 2011 di Sape Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat.
Dalam satu tahun terakhir di Indonesia terjadi setidaknya 103 kasus kekerasan aparat Negara terhadap rakyat, atas dasar konflik agraria. Konflik yang menempatkan rakyat sebagai korban.
Di Kalsel, baru-baru ini pada 2004 dan kasusnya belum tuntas. Terkait tewasnya Hardiansyah, seorang guru SD di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu yang dibantai karena memperjuangkan dampak pertambangan. Kemudian banjir dilingkar tambang Tanah Bumbu pada 2008 dan 2010 yang menewaskan warga. Kasus ini hanya sebagian kecil yang terekpos, masih banyak lagi kasus yang lainnya.
Pemerintah harus mencabut ijin-ijin perusahaan yang terlibat konflik. Karena pemberian ijin dan keberadaan perusahaan yang merusak dan berpotensi merusak sumber-sumber kehidupan rakyat, adalah faktor utama terjadinya konflik berdarah.
“Liberalisasi ijin tambang dan sawit, tidak hanya berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan. Namun sudah dalam tahap perampasan kawasan produksi rakyat, menuju kepada bencana ekologi. Menyempitnya ruang hidup dan kelola rakyat, menjadi penyebab utama terjadinya konflik agraria” katanya.
Sekitar pukul 10.00 Wita, para demonstran bergerak bersama-sama melakukan longmarch dimulai dari Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), kemudian stop di titik Polda dan DPRD.
Demonstran terdiri dari Walhi Kalsel, AMAN Kalsel, LK3 Banjarmasin, Komunitas SUMPIT Banjarbaru, Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru, Forum Pedagang Kaki Lima Murjani (FORKAMU) Banjarbaru, Kompas Borneo Unlam, dan HMI Kalsel.
Kemudian BEM Uniska, BEM Unlam, BEM Fakultas Pertanian Unlam, BEM Fakultas Hukum Unlam, Mapala Graminea Fakultas Pertanian Unlam, Mapala Justitia Fakultas Hukum Unlam, Mapala Apache STMIK Banjarbaru, MAHIPA STAI Darussalam Martapura, dan MARYSA Universitas Achmad Yani (UVAYA) Banjarbaru. ara/mb05

110112-rabu(kamis)-rencana demo tanah walhi se indonesia.doc

Photo: Dwitho Frasetiandy

Demonstrasi Hak Tanah Serentak di Indonesia


BANJARMASIN – Kamis 12 Januari 2012, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia bersama organisasi Petani, Buruh, Masyarakat Adat, Perempuan, Pemuda Mahasiswa, Perangkat Pemerintahan Desa, dan NGO, akan melakukan aksi serentak di seluruh Indonesia.
Hal ini diungkapkan oleh Dwitho Frasetiandy Manager Kampanye WALHI Kalsel, via telepon pada Rabu (11/1) siang, dengan Mata Banua. Aksi ini dilaksanakan oleh aliansi 77 organisasi yang tergabung dalam Sekretariat Bersama Pemulihan Hak-Hak Rakyat Indonesia.
Di Banjarmasin, rencananya pada pukul 10.00 Wita, akan dilakukan longmarch dimulai dari Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), kemudian stop di titik Polda dan DPRD.
Menurut Andy, banyak terjadi konflik lahan antar masyarakat dan perusahaan perkebunan kelapa sawit, hingga konflik antar sektor perkebunan berhadapan dengan sektor pertambangan.
“Dengan kata lain bahwa semakin tinggi perluasan perkebunan sawit maka akan semakin tinggi pula persoalan konflik lahan yang terjadi” ujarnya.
Tujuan aksi adalah Menyuarakan Perlawanan dan Membentuk Aliansi Gerakan Perlawanan Terhadap Perampasan Tanah-Tanah Rakyat, yang difasilitasi oleh rezim SBY-Boediono di seluruh Indonesia.
Anggota Sekretariat Bersama, antara lain Walhi, Serikat Petani Indonesia (SPI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Serikat Petani Pasundan (SPP), Parade Nusantara, Persatuan Pergerakan Petani Indonesia (P31), Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS). Asosiasi Tani Nusantara (ASTANU), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Serikat Hijau Indonesia (SHI), Paguyuban Petani Hutan Jawa (PPHJ), Serikat Petani Merdeka (Setam - Cilacap), Rumah Tani Indonesia (RTI), Gabungan Serikat Buruh Independent (GSBI), dan Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).
Kemudian, Federasi Perjuangan Buruh Jabodetabek (FPBJ), Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI-Tangerang), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), KPO - PRP, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), GreenPeace, KONTRAS, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Sawit Watch, Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (PERGERAKAN), Persatuan Perjuangan Indonesia (PPI), ELSAM, LBH Jakarta, JKPP, IHCS, Koalisi Anti Utang (KAU), KpSHK, dan Formada NTT.
Selanjutnya, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII), Liga Mahasiswa Nasional Demokratik (LMND), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Front Aksi Mahasiswa (FAM Indonesia), Liga Pemuda Bekasi (LPB), GMPI, Repdem, INDIES, Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Punk Jaya, PPMI, SBTNI, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), SBTPI, Gesburi, Serikat Pekerja Kereta Api Jakarta (SPKAJ), dan SPTBG. ara/mb05

Sabtu, 18 Februari 2012

110112-rabu(kamis)-puisi bahasa banjar abdurrahman el husaini (Dm.130112).doc

Mengalirkan Ungkapan Puisi Berbahasa Banjar


BANJARMASIN – Tidak banyak penyair Kalsel yang membuat antologi puisi dalam bahasa Banjar. Penggunaan bahasa Banjar dalam percakapan sehari-hari orang Banjar mungkin sudah biasa, namun dalam sebuah karya sastra adalah sangat berharga. Inilah yang dilakukan oleh Abdurrahman El Husaini (AEH) dalam antologi puisi berbahasa Banjar yang berjudul Doa Banyu Mata.
Seperti yang diungkapkan kembali oleh Drs Rustam Effendi MPd PHd dengan Mata Banua, di ruangan S2 Manajemen Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat, pada Rabu (11/1) pagi.
Bahwa, semakin bahasa Indonesia difungsikan dalam berbagai aspek (karya), maka semakin berprestise dan semakin kuat kedudukannya di mata warganya. Kekuatan kedudukan bahasa Indonesia, harus diimbangi dengan kuatnya kedudukan dan fungsi bahasa daerah. Kalau tidak, kekuatan bahasa Indonesia akan memangsa kelemahan bahasa daerah.
“Dapat dilihat, bahwa untuk melestarikan bahasa dan budaya minoritas (bahasa dan budaya daerah) bukanlah hal yang mudah. Seperti halnya bahasa Inggris yang sudah memangsa gaya berbahasa dan berbudaya di seluruh dunia, apalagi budaya dan bahasa daerah” katanya.
Menurut HE Benyamine, kumpulan puisi berbahasa Banjar yang ditulis AEH, mengungkapkan berbagai perilaku manusia yang berhubungan dengan orang Banjar, keromantisan, persaudaraan, dan nasehat-nasehat dalam bergaulan.
Kesedihan, penyesalan, keharuan, keperihan, ketidakberdayaan, permohonan atau doa, hingga kebahagiaan mengalir melalui air mata. Terkadang banyu mata mengalir dengan sendirinya. Kilir-kilaran teringat orang yang dirindukan, membasahi segala keinginan membara untuk menerima kenyataan yang dapat teraih.
Air mata yang mengalir adalah kekuatan sekaligus kesadaran yang mampu melihat ke dalam diri sendiri, meskipun terlihat sebagai ketidak berdayaan. Mengalir hangat, mengalir perih, mengalir syahdu, dan mengalir sebagai kesadaran dan kekuatan yang terungkap dalam antologi puisi Doa Banyu Mata.
“AEH cukup berhasil mengalirkan ungkapan-ungkapan yang merupakan bahasa Banjar sehari-hari dalam bentuk puisi. Sehingga terasa mengusik dan menggelitik karena merupakan bagian dari kehidupan sendiri” ujarnya. ara/mb05

100112-selasa(rabu)-BEM Unlam 2012 dukung BEM SEKA.doc

BEM Unlam 2012 Akan Modifikasi Rekomendasi BEM SEKA


BANJARMASIN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) perode kepengurusan 2012, sudah tentu akan meneruskan apa yang sudah di suarakan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan (BEM SEKA). Baik itu rekomendasi dalam pertemuan pertama di Unlam, maupun dalam Kongres Pertama BEM SEKA di IAIN Antasari.
Hal ini diungkapkan oleh M Pazri, Presiden Mahasiswa (Presma) Unlam periode 2012, pada Senin (9/1) malam via telepon dengan Mata Banua. Menurutnya, dari dua rekomendasi yang disepakati BEM SEKA, ada point yang akan di modifikasi BEM Unlam 2012. “Tidak sepenuhnya sama konsep, tapi akan ada beberapa gebrakan baru. Minimal bisa memberikan kontribusi yang nyata, terhadap kondisi sebenarnya yang ada di Kalsel” ujarnya.
Sebelumnya, Kongres Pertama BEM SEKA di IAIN Antasari, telah digelar pada 17 sd 20 November 2011 yang lalu. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Rendy Saputra, Ketua panitia pelaksana kongres, mengenai isi rekomendasi yaitu:
Mendesak terhubungnya jalan trans Kalimantan. Mendesak pemerataan pembangunan di Kalimantan oleh pemerintah pusat. Mendesak secepatnya moratorium dicabut dan pemekaran Kalimantan Utara. Mendesak pemerintah pusat membuat otonomi khusus untuk Kalimantan. Dan mendesak perbaikan kesejahteraan pada masyarakat Indonesia yang ada di perbatasan.
Selanjutnya tuntutan revisi Undang-Undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Daerah dan Pusat. Menuntut realisasi anggaran pendidikan 20 persen secara utuh. Menuntut pemerintah pusat memfokuskan pengelolaan tempat-tempat wisata di Kalimantan. Serta dana hasil bumi alam Kalimantan agar kembali ke daerah 70 persen dan 30 persen untuk pusat. Setelah itu merekomendasikan juga untuk menolak RUU Perguruan Tinggi.
Ada 32 BEM dari seluruh Kalimantan yang terlibat dalam kongres pertama, dan menandatangani rekomendasi. Antara lain yaitu IAIN Antasari, Unlam, Uniska, STIE Indonesia, STIE Banjarmasin, STIE Pancasetia, STIPER Amuntai, STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, STMIK Banjarbaru, STMIK Indonesia Banjarmasin, STAI Rakha Amuntai, AMKI Ketapang Kalbar, Politeknik Sendawar, STIE Widya Praja Tanah Grogot, STAIN Pontianak, STIMIK Wicida Samarinda, Politeknik Pertanian Samarinda, UNTAG 45 Samarinda, STIE Bulungan Tarakan, STIE Muhammadiyah Berau, Unikal Tanjung Selor, STAI Sangata, STT Migas Balikpapan, STIT Balikpapan, STIS Hidayatullah Balikpapan, IKIP PGRI Kaltim, UN Borneo Tarakan, STIE Tenggarong, Univ Kristen Palangkaraya, Univ Palangkaraya, STIKIP PGRI Pontianak, dan Univ Anta Kusuma Pangkalambun.
Perwakilan koordinator wilayah di pegang oleh BEM Unlam untuk Kalsel, BEM STIKIP PGRI Pontianak untuk Kalbar, BEM Univ Palangkaraya untuk Kalteng, dan IKIP PGRI untuk Kaltim. ara/mb05

100112-selasa(rabu)-BEM SEKA.2 (Dm.130112).doc

Pergerakan Mahasiswa Tidak Berarti Tanpa Dukugan Kampus


BANJARMASIN – Sejauh mana pergerakan mahasiswa Kalimantan selanjutnya pada 2012, tidak akan berlanjut seperti yang diharapkan. Apabila tiada dukungan sepenuhnya dari institusi pendidikan masing-masing.
Menurut Arif Syubhan, mantan Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) periode kepengurusan 2011 dan sebagai Presidium Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan (BEM SEKA) untuk Kalsel, pada Minggu (8/1) malam via telepon.
Bahwa ia dan penggerak awal BEM SEKA lainnya, akan mengawal dan memantau setiap perkembangan dari pergerakan mahasiswa Kalimantan. “Ini adalah sebuah jalan bagi mahasiswa Unlam untuk menunjukkan eksistensinya dalam pergerakan mahasiswa” kata Arif.
Di Unlam sendiri, sangat besar dukungan dari Pembantu Rektor (Purek) III Unlam, Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi. Yang mana dalam sambutan pembukaan pertemuan pertama Forum BEM se Kalimantan di Aula Rektorat Unlam Banjarmasin, pada Maret 2011.
Idiannor berpesan agar pergerakan menuntut pembangunan, harus dimulai dari para mahasiswa. Bahkan dengan pergerakan Forum BEM se-Kalimantan ini, juga bisa memberikan pesan aspirasinya hingga ke pemerintah pusat, terutama Presiden.
Kalau hanya terbentuk, tetapi apa yang diperjuangkan tidak sampai ke presiden, hal itu tidak berarti. Melalui Forum BEM se-Kalimantan, adalah sebuah kesempatan untuk mewujudkannya.
Berdasarkan penuturan Arif Syubhan, delegasi dalam pertemuan pertama forum BEM se Kalimantan, antara lain:
Universitas Ahmad Yani Banjarmasin, UNISKA Banjarmasin, IAIN Antasari Banjarmasin, STKIP PGRI Banjarmasin, STMIK Indonesia Banjarmasin, STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, STIENAS Banjarmasin, STIEI Banjarmasin, ATPN Banjarbaru, STMIK Indonesia Banjarbaru, STAI Al Falah Banjarbaru, Politeknik Tanah Laut, Universitas Muhammdiyah Palangkaraya, Univ Palangkaraya (Unpar), dan Univ Mulawarman (Unmul). Sedang wakil BEM dari Kalimantan Barat berhalangan hadir.
Setelah melakukan studium general, dan rapat bersama pembentukan Forum Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan. Akhirnya diputuskan pendeklarasian suatu aliansi, yang diberi nama Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan.
Presidium BEM SEKA untuk Kalsel diwakili oleh Arif Syubhan (Ketua BEM Unlam), Kalteng diwakili Jusuf Rony (Ketua BEM Unpar) dan Kaltim diwakili Dimas Prasetyo (Ketua BEM Unmul). Serta menetapkan tuan rumah selanjutnya adalah IAIN Antasari, sekaligus sebagai Kongres Pertama BEM SEKA.
“Peserta deklarasi sepakat, pertemuan tersebut menjadi perjuangan awal mahasiswa se Kalimantan, dalam menyuarakan ke prihatinan daerah, serta memajukan pembangunan daerah hingga nasional” ujarnya. ara/mb05

090112-senin(selasa)-guru jangan malas.doc

Photo: Drs Muhammad Amin MT

Kualitas Sekolah Ditentukan Oleh Kualitas Guru


BANJARMASIN – Secara bertahap Dinas Pendidikan (Disdik) kota Banjarmasin, terus berupaya meningkatkan kualitas sekolah. Terutama menghadapi tantangan dunia pendidikan yang dari tahun ketahun, kian berat.
Baik dari melakukan pergantian kepala sekolah (Kepsek), mencukupi kekurangan guru mata pelajaran, memberikan tunjangan kepada guru, memberi kesempatan mengikuti diklat dll.
Apalagi di 2012 anggaran Disdik sudah meningkat sebanyak 8 milyar. Dari 86 milyar yang dianggarkan di 2011, meningkat menjadi 94 milyar. Sehingga diharapkan bisa menutupi beberapa kekurangan yang dirasakan.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Banjarmasin, Drs Muhammad Amin MT, kepada Mata Banua beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, dengan guru yang berkualitas, maka sekolah akan berkualitas dan anak-anak didik juga akan berkualitas.
Ia menekankan agar para guru di semua tingkatan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitasnya, sesuai dengan tunjangan sertifikasi yang sudah didapatkan. Peningkatan kualitas guru, merupakan bagian dari program wajib belajar 12 tahun (hingga SMA) yang ditetapkan pemerintah pusat di 2012.
“Diharapakan tidak ada lagi guru yang santai,.karena pemerintah sudah memberikan hak yang cukup banyak kepada guru. Baik hak tunjangan-tunjangan yang sudah ada, termasuk kesempatan mengikuti diklat, workshop, seminar dll. Kesempatan ini terbuka bagi semua guru. Hampir tiap minggu selalu ada guru yang dikirim mengikuti diklat agar berkualitas” katanya.
Pemerintah pusat menyadari bahwa program Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan swakelola, pada tahun-tahun sebelumnya memang banyak menimbulkan masalah. Tapi setelah melalui pertimbangan secara umum, cara swakelola masih lebih baik dibanding apabila DAK di tenderkan.
Maka ditetapkan untuk sistem DAK di 2012 dengan swakelola, dan dananya langsung di transfer ke rekening sekolah. Selanjutnya Kepala Sekolah yang mengelolakannya bagi rehabilitasi maupun pembangunan fisik. Penggunaan DAK akan di pertanggung jawabkan oleh Kepsek, dengan pengawasan dan monitoring oleh Disdik dan pengawas-pengawas yang ada di setiap jenjang.
Kadisdik kota Banjarmasin, menghimbau agar Kepsek berhati-hati dalam menggunakan DAK dan BOS. “Apabila tidak mengerti dengan teknik pembangunan atau lainnya, silahkan sekolah mencari konsultan, atau orang yang ahli dalam soal pembangunan. Cara yang paling aman adalah sesuai ketentuan” ujarnya. ara/mb05