Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Kamis, 01 Maret 2012

140212-selasa(rabu)-bag.6 Media Massa Dan Sastra Era Jepang (di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Keenam-habis) Peringatan Hari Pers
Media Massa Dan Sastra Era Jepang di Borsel

Selayaknya untuk dikatakan, bahwa hanya untuk mempublikasika karya sastra tempo dulu (1930-1945), penuh dengan perjuangan darah dan air mata. Pada era kolonial Belanda dibayangi penjara dan pada era Jepang media massa diberangus serta di kontrol.

Keterbatasan waktu dan minimnya anggaran membuat penggalian tak dapat dilakukan maksimal. Masih banyak karya sastrawan Kalsel zaman Belanda (1930-1945) dan zaman Jepang (1942-1945) yang belum tergali.
Sebab penggalian lebih jauh, dapat dilacak di perpustakaan, lembaga arsip dan dokumentasi, sekurangnya di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional RI dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, yang kesemuanya berada di Jakarta.
Hal ini diungkapkan oleh oleh Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Selama zaman Jepang (1942-1945), gairah bersastra di Kalsel di dukung 6 koran/majalah yang membuka rubrik secara berkala. Dukungan yang telah menciptakan kondisi bagi lahirnya kelompok sastrawan Kalsel zaman Jepang. Koran/majalah tersebut yaitu:
Surat kabar Kalimantan Raya (Banjarmasin), surat kabar Borneo Shimbun (Banjarmasin), dan surat kabar Borneo Shimbun (Kandangan). Kemudian majalah Purnama Raya (Kandangan), majalah Puspa Wangi (Kandangan), dan majalah Pawana (Rantau).
Pada 10 Februari 1942, tanpa perlawanan berarti, pasukan Kaigun/Rikugun Jepang merebut Banjarmasin dari tangan Belanda. Namun sebelum jatuh ke tangan Jepang, Belanda telah membumi hanguskan sarana dan prasarana vital di Banjarmasin.
Percetakan Suara Kalimantan milik AA Hamidhan juga menjadi sasaran pengrusakan. Setelah berusaha keras Hamidhan berhasil memperbaiki mesin cetaknya, dan pada 5 Maret 1942 kembali menerbitkan Kalimantan Raya.
Tidak lama berselang, komandan pasukan Kaigun Jepang melarang penerbitan Kalimantan Raya. Hamidhan dan wartawan lainnya dipekerjakan di Borneo Shimbun (Banjarmasin), di bawah kendali Jepang.
Hal yang sama juga terjadi pada wartawan majalah Purnama Raya, majalah Puspa Wangi, dan majalah Pawana. Ketiganya dilarang menerbitkan majalahnya dan dipekerjakan di Borneo Shimbun (Kandangan).
Akibatnya tidak ada pilihan lain bagi sastrawan Kalsel, kecuali mempublikasikan karyanya di Borneo Simbun. Meskipun karya-karya sastrawan dikontrol, tetapi Jepang memberikan honorarium atas karya yang dimuat. Honorarium puisi antara 3 sampai 4 ringgit, cerpen 10 ringgit (menurut data Arthum Artha di Tabloid Wanyi, Banjarmasin, edisi 12/ September 1996).
Selain mempublikasikan karyanya di Borneo Shimbun, sastrawan Kalsel juga mempublikasikan karya di majalah yang terbit di luar daerah, antara lain:
Majalah Waktu, majalah Taman Siswa, dan majalah Panca Warna (ketiganya di Medan). Lalu majalah Bhakti (Denpasar), majalah Kebudayaan Timur (Jakarta), majalah Pustaka Timur (Yogyakarta), majalah Terang Bulan (Surabaya), dan majalah Sastrawan (Malang).
Majalah-majalah tersebut juga dibawah pengawasan Jepang. Bahkan majalah Kebudayaan Timur dan Pustaka Timur diterbitkan oleh Jepang sendiri.
Sastrawan generasi zaman Jepang (1942-1945) antara lain:
Abubakar Razi, Ahmad Samidri, Ahmad Zakaria (Ahzar), Aliansyah Ludji, Anggraini Antemas, Asyikin Noor Zuhry, Fakhruddin Mohani, Gusti Maswan, Husien Razak, Ilham Se Banjar, Maseri Matali, SM Darul, Sir Rosihan, Syahran Syahdan, Tanar Eka, Zafury Zumry, dan Zainal.
Menurut Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945) ini, adalah kumpulan dari tulisan-tulisan yang dimuat dan tercecer dimana-mana. Ia menganggap masih banyak data yang kurang, karena masih banyak catatan maupun kliping sastra di masyarakat.
“Dengan adanya buku ini, mudah-mudahan ini bisa memberi motifasi. Mungkin saja akhirnya masyarakat yang mempunyai data, dan setelah dibandingkan dengan data yang ada dalam buku, lalu merasa masih ada kekurangan. Selanjutnya dapat memberikan masukan sebagai pelengkap untuk edisi buku sastra akan datang” ujarnya dengan Mata Banua beberapa waktu yang lalu. ara/mb02

130212-senin(selasa)-bag.5 Sastra Menumbuhkan Gelora Kebebasan (di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Kelima) Peringatan Hari Pers
Sastra Menumbuhkan Gelora Kebebasan Dalam Media Massa

INDONESIA
Angin penghabisan dari Pantai Laut Selatan
Mengheningkan cipta bagi segala pejuang
Keraguan telah mati
Persatuan di atas kebangsaan
Meluap ke atas meninggikan derajat bagi tanah air …
(karya Arthum Artha)

Melalui kata-kata bersajak menumbuhkan gelora kebebasan dalam media massa. Sastrawan Borneo Selatan (Borsel/ Kalsel), mengawali sastra modern (berbahasa Melayu), sebelum Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Hal ini diungkapkan oleh oleh Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Sastrawan Borsel zaman Belanda (1930-1942) antara lain:
Abdul Hamid Utir, Abdul Jabbar, Abdul Muin Cuty, Abdurrahman Karim, Ahmad Basuni, Amir Hassan Bondan, Anak Martapura, Arsyad Manan, Arthum Artha, Asmail Gafury, Asnawi Rais, Darmawan Saruji, Gusti Abdul Malik Thaha, Gusti Abdurrahman, Gusti Abubakar, Gusti Mayur, Hadharyah M Sulaiman, Hamdi Redwansyah, Harun Muhammad Arsyad, Haspan Hadna, Hassan Basry, HMAS Amandit, Kasyful Anwar, IAB alias Pembaca, M Yusuf, Masdari, Merah Daniel Bangsawan, Merah Johansyah, Merayu Sukma, Muhammad Yusuf Aziddin, Ramlan Marlin, Sarasakti dan Zafry Zamzam.
Beberapa karya sastra sastrawan Borsel zaman Belanda, dari dokumentasi koleksi Arthum Artha pada 1983, antara lain:
WANGI// Bau wangi puas puspita/ Semerbak bau menyebar wangi/ Dahulu mendaki kita menuju/ Mencipta raya ibu pertiwi (karya Merah Johansyah).
TANAH AIR// Nyiur melambai laut bergelora/ Awan berarak merah putih/ Burung berkicau menari-nari/ Itulah suara Indonesia Putera/ Barisan bergerak cinta kasih/ Menjunjung bakti ibu pertiwi (karya Merah Johansyah).
MELATI// Engkau melati putih suci/ Hidup bersama mawar desa/ Ingin bahagia hidup berbakti/ Kepada bangsa nusa tercinta (karya Abdul Jabbar).
MERPATI// Merpati terbang bebas di awan/ Awan biru di lintasannya/ Janji bebas dalam perjuangan/ Kawan bersatu membela bangsanya (karya Abdul Jabbar).
DI SUNGAI MARTAPURA// Sebentar kuning keruh airnya/ di kala sepi jernih kemilau/ ‘Gitu air sepanjang masa/ Mengalirkan jasa bagi manusia/ Purnama menyibak sungai Martapura/ Air melaju membawa teratai/ Semoga mulia jasamu air/ Teladan manusia berjuang senantiasa (karya Merayu Sukma).
OMBAK SAMUDERA// O, nelayan lautan/ Dari Malukukah?/ Halmaherakah?/ Atau kau anak Jasa Sundakah?// O, satukan barisan tuju laut bebas/ Ombak dapat ditempuh/ Gelombang dapat dilewati/ Karang-karang laut dapat dihancurkan/ Lekas! Kembangkan layar bebas/ Ke pantai kita menyanyikan lagu/ Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (karya Merayu Sukma).
TANAH AIR// Sawah dan lading terhampar luas/ Tanaman subur tumbuh menghijau/ Burung putih terbang di angkasa// Tanah air luas bangsa bebas/ Rakyat makmur bangsa menghimbau/ Hiduplah bangsaku Indonesia Raya/ Di sana-sini nyiur melambai-lambai/ Sawah terbentang berbuah emas merata/ Kaum petani hidup gembira/ Di sinilah kami berbaris menuju pantai/ Pantai bahagia Indonesia Mulia/ Tanah Air kita kaya raya (karya Abdul Muin Cuti).
BAHASAKU BAHASA INDONESIA// Jika lambaian daun kelapa/ Atau daun nyiur melambai di tepi pantai/ Kulihat seolah memanggil kita/ Untuk bersatu berjuang berbakti/ Membela persada Ibu Pertiwi/ Jika aku dan kawan-kawan sejati/ Atau pujangga bersatu mengikat janji/ Setia sumpah membela negeri/ Hai! Marilah kita berkorban selalu/ Demi kebangsaan dan kemuliaan bangsaku// Bahasaku bahasa Indonesia/ Bahasa persatuan se-Nusantara/ Bahasaku bahasa ibunda/ Bahasa Indonesia nan kaya raya (karya Abdul Muin Cuti).
NYIUR MELAMBAI// Jauh di pantai selatan/ Di pantai landai nyiur melambai/ Seamsal dia bendera tanah airku/ Akan kupanggul tiang bendera pertiwi/ Kupertaruhkan demi bumi/ Tanah air Indonesia (karya Kasyful Anwar). ara/mb02

130212-senin(selasa)-bag.4 Delik Pers Sastra Era Kolonial Belanda (di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Keempat) Peringatan Hari Pers
Delik Pers Terhadap Karya Sastra Era Kolonial Belanda

Mula-mula sastrawan Borneo Selatan (Borsel/Kalsel) mengawali terbentuknya sastra koran/majalah dengan memanfaatkan kolom-kolom di koran/majalah sebagai media publikasi. Namun karya yang dinilai subversive sebagai delik pers, berakhir dalam penjara Belanda.

Perkembangan Sastra Modern di Kalsel khususnya dalam kurun waktu 1930 sd 1945, tentu memberi warna dan khazanah terhadap perjalanan dan perkembangan sastra di Tanah Air.
Sangat diyakini, banyak catatan karya sastra yang tersebar pada waktu itu, yang memiliki nilai urgensi sejarah. Serta catatan karya sastra yang mencerminkan eksistensi dan kontribusi sastrawan Kalsel ,dalam memberikan perannya terhadap perkembangan sastra Tanah Air. Peran serta yang tentunya oleh dukungan media massa itu sendiri.
Hal ini diungkapkan oleh oleh Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Pada 1930-an, ketika sastrawan Borsel zaman Belanda mulai mempublikasikan karyanya, pemuda-pemuda saat itu sedang menyambut Sumpah Pemuda. Karya sastra yang ditulis dan dipublikasikan di koran/majalah, secara tematis, selaras dengan semangat zaman. Karya sastra yang mengungkapkan impian anak bangsa untuk memiliki tanah air merdeka, yang terbebas dari kolonial.
Tapi impian itu tidak dapat diungkapkan dengan leluasa. Sastrawan yang berani menulis karya kritis, yang oleh Belanda di nilai subversif, akan di tangkap dengan tuduhan melakukan delik pers, dan di penjara.
Beberapa kasus yang di nilai karya sastra yang subversive oleh Belanda. Antara lain roman/novel karya Hasan Basry (Kandangan, 1939) yang berjudul Amanat Ibu. Kemudian roman/novel karya Hadharyah M Sulaiman (Medan, 1941) yang berjudul Suasana Kalimantan. Keduanya berusaha di tangkap oleh petugas PID Belanda.
Belanda gagal menangkap Hasan Basry, tapi berhasil menangkap Hadharyah M Sulaiman. Pada 1942, Hakim JB Kan yang mengadili Hadharyah di Landraad Banjarmasin, menjatuhkan vonis 4 tahun penjara. Upaya banding yang dilakukan Hadharyah, ditolak Landraad Surabaya.
Terkait kasus yang sama, Matumona pemilik perusahaan percetakan Cenderawasih (Medan) juga ditangkap dan diadili di Landraad Medan. Matumona dituduh ikut menyebar luaskan pikiran-pikiran subversive dari karya Hadharyah. Demi melindungi dirinya dari incaran petugas PID, sastrawan zaman itu umumnya memakai nama samaran (psedonim).
Dalam perjuangan memerdekakan tanah air, sastrawan Borsel zaman Belanda menulis karya sastra dengan visi dan misi menggugah rasa cinta kepada tanah air (nasionalisme), dan menumbuhkan sikap antipati terhadap kolonial.
Roman/novel karya sastrawan Borsel era 1930 sd 1942, antara lain:
Kucing Hitam karya Abdul Hamid Utir (Banjarmasin 1930), Percintaan yang Membawa Korban karya Abdurrahman Karim (Kotabaru 1937), Air Mata Nurani karya Ramlan Marlim (Yogyakarta 1937), Asmara Suci karya Gusti Abubakar (Banjarmasin 1939), Amanat Ibu karya Hasan Basry (Kandangan 1939), Tersalah Sangka karya Sarasakti (Banjarmasin 1939), dan Suasana Kalimantan karya Hadharyah M Sulaiman (Penerbit Cenderawasih, Medan 1941).
Kemudian karya roman/novel karya Merayu Sukma yaitu yang berjudul Berlindung di Balik Tabir Rahasia dan Sinar Membuka Rahasia (keduanya dari Penerbit Cerdas, Medan 1940), Kunang Kunang Kuning (1940), Menanti Kekasih dari Mekkah (1940), Teratai Terkulai (Penerbit Dunia Pengalaman, Solo 1940), dan Yurni Yusri (Penerbit Penyiaran Ilmu, Ford de Kock 1940).
Koran/majalah yang terbit di Borsel dalam kurun waktu 1930 sd 1942 sebanyak 14 buah, yaitu:
Suara Kalimantan (Banjarmasin 1930), Bintang Borneo (Banjarmasin 1930), Malam Jumat (Banjarmasin 1930), Suara Nachdlatul Ulama (Barabai 1935), Canang (Banjarmasin 1936), Semarak (Banjarmasin 1936), Bingkisan (Banjarmasin 1937), Utusan Kalimantan (Banjarmasin 1937), Panggilan Waktu (Kotabaru 1937), Kesadaran Kalimantan (Banjarmasin 1938), Panca Warna (Banjarmasin 1938), Pelita Masyarakat (Banjarmasin 1938), Perintis (Banjarmasin 1930-1940), dan Suara Musyawaratthothalibin (Kandangan 1939-1940).
Selain di media massa lokal, kelompok sastrawan Borsel juga mempublikasikan karyanya di koran/majalah yang terbit di luar daerah, antara lain di majalah:
Terang Bulan (Surabaya), Mandau (Surabaya), Al Bayan (Samarinda), Palang Merah (Medan), Abad Dua Puluh (Medan), Keinsyafan (Gorontalo), Sastrawan (Malang), dan Pustaka Timur (Yogyakarta).
Salah satu puisi dari karya Hadharyah M Sulaiman yang berjudul Cita-Cita:
Angin topan ombak lautan/ Gulung-gemulung menebah pantai/ Cita-cita sepanjang zaman/ Bebas berjuang melepas rantai (dokumentasi data dari koleksi Artum Artha, 1983). ara/mb02

120212-minggu(senin)-bag.3 Dokumen Yang Berharga (di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Ketiga) Memperingati Hari Pers
Informasi Sastra dan Seni Budaya Merupakan Dokumen Yang Berharga

Di era 1930 disimpulakn , surat kabar Suara Kalimantan dan Bintang Borneo (Banjarmasin), menandai awal kesusastraan Indonesia modern di Borneo Selatan (Borsel/ Kalsel)

Para sastrawan tentu sangat berterimakasih dengan media massa yang turut membantu mempublikasikan karyanya, apalagi dengan menyediakan kolom tersendiri.
Diantara sekian banyak orang yang tidak peduli dengan informasi sastra dan seni budaya umumnya, di media massa. Maka akan selalu ada segelintir orang, yang dengan setia dan intens mengumpulkan serta mengkliping semua informasi sastra dan seni budaya tersebut.
Kliping inilah yang menjadi bukti sejarah, kepedulian media massa terhadap sastra dan seni budaya. Serta menjadi informasi yang berharga terhadapa perjalanan dan perkembangan sastra dan seni budaya.
Menurut Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Pendekatan yang dipergunakan dalam penggalian untuk buku sastra ini, adalah pendekatan sejarah sastra. Yaitu penelitian yang dilakukan dengan merekontruksi sejarah sastra, berdasarkan bahan-bahan dokumentasi.
Dokumen yang dikumpulkan dari media massa koran/ majalah dan buku-buku sastra. Baik dokumen yang berisi paparan sastrawan, dan berita tentang aktivitas sastra/ sastrawan.
Sejarah penerbitan surat kabar di Borsel, sebetulnya sudah dimulai pada 1905. Saat itu, Mozes Neis menerbitkan Sinar Borneo, dan Liem Kok In menerbitkan Pengharapan. Namun dua surat kabar ini bukan milik pribumi.
Mozes Neis adalah orang Belanda, dan Liem Kok In adalah orang Tionghoa. Mozes Neis lebih memihak kepentingan pemerintah kolonial Belanda, daripada kepentingan pribumi.
Sementara Liem Kok In, lebih tertarik menjadi warga Negara Republik Rakyat Cina (yang saat itu baru diproklamasikan Dr Sun Yat Sen) daripada menjadi warga Negara Republik Indonesia (yang saat itu masih berupa wacana).
Selain tidak sepenuhnya menggunkan bahasa Indonesia (Melayu), Sinar Borneo dan Pengharapan tidak memuat berita, feature, opini, dan karya sastra dengan semangat Sumpah Pemuda, ide-ide nasionalisme bangsa Indonesia, atau gagasan Indonesia merdeka.
Berbeda ketika Anang Abdullah Hamidan menerbitkan Suara Kalimanta pada 1930-an. Bangsa Indonesia yang tinggal di Borsel dan warga Hindia Belanda lainnya, sedang dimabuk euforia Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Jakarta.
Dokumentasi data surat kabar Suara Kalimantan, edisi September 1932 memuat puisi karya pembaca (IAB/ nama samaran) yang berjudul Syair Tiga Sejalan. Sebagian dari isi puisi tersebut antara lain:
Banjar itu ibuku/ Tanah tumpah darahku/ Kalimantan menjadi suku/ Indonesia jumlah bangsaku// Kejadian baru berselang/ OKL suara garang/ Bangsa Banjar diserang/ Dihina di muka orang// Kita tidak bersalah/ Tentu berhati susah/ orang boleh timbanglah/ Betapa rasanya gundah// …//
Ampun tidak bersangkut/ Kepada menonton turut/ Masing-masing tidak dipaut/ Merdeka untuk menyahut// …// Nasihat lipat berganda/ Sudah kita terima/ Suruh tegak pun tidak/ Masing-masing hati merdeka// Melihat pemandangan lalu/ Banjar merasa tentu/ Nama bangsa diganggu/ Sabar rupanya perlu// …//
Derajat kepada bangsa/ Segenap pelosok dunia/ Dijunjung oleh anaknya/ Dipuja pada hatinya// Selamat kita ucapkan/ Kepada pembaca sekalian/ Saudara se Kalimantan/ Terimalah salam kebangsaan (teks asli ditulis dengan ejaan Van Ophnysen). ara/mb02

120212-minggu(senin)-bag.2 Surat Kabar Pribumi Pertama (Dm.150212 di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Kedua) Memperingati Hari Pers
Surat Kabar Pribumi Pertama Di Boeneo Selatan

Koran/ majalah itu menjadi sarana efektif untuk menyebarluaskan pikiran dan perasaan anak bangsa yang terjajah. Melalui Puisi, Cerpen, Roman/ Novel dan Naskah Drama, para sastrawan berusaha menggugah hati pembacanya.

Mengumpulkan data sejarah kesusastraan Indonesia modern di Kalsel, selain dari koran/ majalah tempo dulu,  juga melalui buku-buku sastra. Baik buku-buku koleksi perorangan, koleksi instansi/ lembaga dokumentasi dan perpustakaan yang ada di Kalsel maupun diluar daerah.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Menurutnya, awalnya penggalian sejarah sastra Kalsel, direncanakan meliputi kurun waktu 1890 sd 1945. namun, minimnya data dan dokumentasi karya sastra Indonesia di Kalsel akhir abad XIX, membuat penggalian akhirnya difokuskan pada bahan-bahan yang dapat ditemukan, terbatas pada awal abad XX.
Minimnya data sastra Indonesia modern di Kalsel sebelum abad XX, karena saat itu belum ada media cetak di Kalsel. Serta kemampuan membaca dan menulis aksara latin yang rendah. Lebih dominant saat itu pada sastra lisan (madihin, basyair, lamut dan pantun) yang dikenal masyarakat. Maka, penggalian kembali lebih difokuskan pada jenis karya sastra (berbahasa Melayu – Indonesia) modern, yang diciptakan/dipublikasikan dalam kurun waktu 1930 sd 1945.
Sehubungan adanya politik etis pemerintah kolonial Belanda pada 1909 sd 1916 di tanah jajahan. Maka pemerintah Belanda juga memperbolehkan wartawan pribumi menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia (Melayu).
Suara Kalimantan adalah surat kabar pribumi pertama di Boeneo Selatan/Borsel (Kalsel), diterbitkan oleh Anang Abdul Hamidhan di Banjarmasin pada 23 Maret 1930. Langkah pertama ini, selanjutnya banyak diikuti oleh wartawan pribumi lainnya. Dalam tempo singkat, 14 koran/majalah terbit di Borsel.
Koran/ majalah itu menjadi sarana efektif untuk menyebarluaskan pikiran dan perasaan anak bangsa yang terjajah.
Hampir semua surat kabar yang terbit pada 1930-an, selain berita juga memuat karya sastra berbahasa Indonesia (Melayu). Contohnya dokumentasi data Bintang Borneo, edisi 15 September 1930, yang memuat puisi karya Anak Martapura (AM/ nama samaran), yang berjudul Bangsaku Sadarlah. Sebagian dari isi puisi tersebut antara lain:
Bangun bangsaku janganlah malas/ Bahana Merdeka sangatlah jelas/ Bangsa tertindas asik memberantas/ Bagi segala kungkungan yang pantas/…/ Nah, sekarang Kalimantan dimaksud/ Negeri kita mesti bersujud/ Ngabdikan badan agar serajut/ Nasihat ibu suatu rajud/ Gayakan zaman sudah dirasa/ Getir dan pahit jangan dikata/ Gunakan waktu kata bujangga/ Girangkan hati bila bekerja//
Suluh itulah suatu obor/ Sinarnya terang tidaklah kabur/ Suburkan onderwijs yang masih datur/ Supaya kita jangan teledor// Ajaklah saudara suka berkumpul/ Asah otak mana yang tumpul/ Arahkan haluan kepada yang kepul/ Agar terjadi maksud yang betul// Ketinggian derajat diselami serta/ Kalimantan kita gelap gulita/ Kirimkan obor penerang mata/ Kalungkan tenaga dan ilmu kita//…// (teks asli ditulis dengan ejaan Van Ophnysen).
Edisi 13 November1930, Bintang Borneo kembali memuat puisi karya AM yang berjudul Semangat Nasional. Sebagian dari isi puisi antara lain:
Salam takzim penulis ucapkan/ Saudara sekalian penulis pohonkan/ Suka mengampuni kalau kesalahan/ Selalu jangan hati sisipkan// Esa dan empat jadilah lima/ Engkau dan enci marilah bersama/ Enakkan kali zaman drama/ Embuskan kolot sifat yang lama/ …// Aduhai saudara putra dan putri/ Adakah sedih dipikiran ini/ Akan bangsa kita hampirlah mati/ …//
Nasibnya sekarang amatlah ado/ Nyatalah sudah di ini solo/ Nah, intelectuelien perlu membantu/ Nasib rakyat jangan dipaku// Adalah kerap kali orang berkata/ Ada memuji dirinya semata/ Akan ia sebagai pemuka/ Aduhai sebenarnya itu tiada// Teradat sekarang harus dikenal/ Tak usah mengingat miring diagonal/ Terutama membantu teman dan kawal/ Terharusnya sekarang janganlah gagal (teks asli ditulis dengan ejaan Van Ophnysen). ara/mb02

100212-jumat(sabtu)-pers & sastra masa kolonial di Bjm.doc

Photo:
Drs H Noor Hidayat Sultan
Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945).

Perkembangan Pers Dan Sastra Koran Era Kolonialis Di Banjarmasin


BANJARMASIN – Pers Merdeka, Rakyat Punya Suara, menjadi tema peringatan Hari Pers 2012. Di sisi lain para sastrawan turut menginginkan tema tersebut menjadi Pers Merdeka, Sastra Punya Suara.
Menengok kembali kebelakang, melihat dari catatan sejarah bagaimana awal mula kebangkitan Pers dan Sastra Koran di bumi Lambung Mangkurat. Terkait dengan perkembangan sastra di Kalsel, Taman Budaya (TB) Kalsel telah membuat sebuah buku yang berjudul Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945).
Dalam buku ini juga disinggung bagaimana perkembangan Pers dan Sastra Koran. Buku yang mempunyai latar sampul warna coklat, dan dengan ketebalan 172 halaman, di terbitkan pada akhir 2011. Sayangnya keterbatasan dana, membuat buku ini hanya dicetak terbatas dan diperuntukkan untuk mengisi perpustakaan-perpustakaan umum dan sekolah.
Beberapa waktu yang lalu, kepada Mata Banua, Kepala TB Kalsel, Drs H Noor Hidayat Sultan menceritakan sebagian isi buku tersebut, termasuk yang berkaitan dengan Pers dan Sastra Koran.
Menurutnya, pada era 1909-1916, Alexander WF Idenburg menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Saat itulah pemerintah kolonial Belanda mulai menerapkan politik etis di tanah jajahannya. Dengan adanya politik etis, pemerintah Belanda juga memperbolehkan wartawan pribumi menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia (Melayu).
Suara Kalimantan adalah surat kabar pribumi pertama di Boeneo Selatan/Borsel (Kalsel), diterbitkan oleh Anang Abdul Hamidhan di Banjarmasin pada 23 Maret 1930. Langkah pertama ini, selanjutnya banyak diikuti oleh wartawan pribumi lainnya. Dalam tempo singkat, 14 koran/majalah terbit di Borsel.
“Hampir semua surat kabar yang terbit pada 1930-an juga memuat karya sastra berbahasa Indonesia (Melayu). Contohnya Bintang Borneo, 15 September1930, yang memuat puisi karya Anak Martapura (nama samaran), yang berjudul Bangsaku Sadarlah” ujar Dayat (nama panggilan Noor Hidayat Sultan). ara/mb05

100212-jumat(sabtu)-bag.1 pers merdeka sastra punya suara (Dm.140212 di Berita Kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)

(Bagian Pertama) Memperingati Hari Pers
Pers Merdeka, Sastra Punya Suara, Media Massa Menjadi Abadi

Untuk Memperingati Hari Pers 2012, para sastrawan juga mendengungkan tema Pers Merdeka, Sastra Punya Suara. Melalui karya-karya sastrawan, pikiran dan suara-suara anak bangsa turut pula didengungkan.

Sepanjang sejarah sastra, peran pers sangatlah besar. Melalui penerbitan koran/majalah karya-karya sastrawan dapat diketahui masyarakat. Di tinjau dari kepentingan informasi instant, politis dan bisnis, maka karya sastra hanya diminati segelintir orang. Hal inilah yang menyebabkan karya sastra terkadang tidak mempunyai ruang khusus dalam sebagian media massa.
Disisi lain, walau hanya diminati segelintir orang, karya sastra yang dimuat sebagian media massa, menjadi abadi. Karena dijadikan referensi, kliping dan catatan sejarah perjalalan sastra itu sendiri. Baik yang dilakukan perorangan, instansi terkait, lembaga pendidikan khususnya siswa yang mendapat tugas dari gurunya. Ini berlaku pula untuk informasi seni budaya secara umumnya.
Dari pengamatan Mata Banua, dalam tugas makalah, tugas skripsi ataupun buku-buku yang dibuat oleh sastrawan. Maka akan tercantum nama media massa yang memuat karya tersebut. Ini adalah timbal balik yang sebenarnya saling menguntungkan, tetapi hanya di lirik oleh segelintir media massa.
Bisa dikatakan media massa yang mengapresiasi karya sastra dan informasi seni budaya, akan menjadi abadi pula, selama bumi masih ada.
Menengok kembali kebelakang, melihat dari catatan sejarah bagaimana awal mula kebangkitan Pers dan Sastra Koran di bumi Lambung Mangkurat. Terkait dengan perkembangan sastra di Kalsel, Taman Budaya (TB) Kalsel telah membuat sebuah buku yang berjudul Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945).
Dalam buku ini juga disinggung bagaimana perkembangan Pers dan Sastra Koran. Buku yang mempunyai latar sampul warna coklat, dan dengan ketebalan 172 halaman, di terbitkan pada akhir 2011. Beberapa tim Dokumentasi, penggali dan nara sumber buku, antara lain Drs Fahrurrazie, Drs Mukhlis Maman, Aman Waloyo SSn dan Tajudin Noor Ganie MPd.
Sayangnya karena persoalan dana, membuat buku ini hanya dicetak terbatas dan diperuntukkan untuk mengisi perpustakaan-perpustakaan umum dan sekolah.
Beberapa waktu yang lalu, kepada Mata Banua, Kepala TB Kalsel, Drs H Noor Hidayat Sultan menceritakan sebagian isi buku tersebut, termasuk yang berkaitan dengan Pers dan Sastra Koran.
Menurutnya, semua informasi yang ada dalam buku adalah dari tulisan-tulisan yang tercecer di mana-mana, baik di media cetak, catatan-catatan, makalah dll.
Sejarah kesusastraan Indonesia modern di Kalsel identik dengan sastra koran/majalah dan buku, maka yang harus dilakukan adalah mencari dan mengumpulkan lagi koran/majalah tempo dulu. Tapi terbatas pada koran/majalah yang hanya mempunyai rubrik sastra, sebab tidak semua koran/majalah mempunyainya.
Tidak mudah menggali dan mengumpulkan lagi data sastra sebelum perang. Sebab buku-buku sastra koleksi perorangan, koleksi instansi/lembaga dokumentasi dan perpustakaan ini, tersebar di dalam daerah maupun di luar Kalsel. Data ini adalah harta karun perkembangan sastra Kalsel, dan ini adalah pekerjaan besar.
Pada era 1909-1916, Alexander WF Idenburg menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Saat itulah pemerintah kolonial Belanda mulai menerapkan politik etis di tanah jajahannya. Sekolah untuk kalangan menengah pribumi (kaum bangsawan, birokrat, hartawan) mulai dibuka di berbagai kota di Hindia Belanda.
Kebijakan membangun sekolah menengah, ternyata hanya berlaku di kota-kota besar di pulau Jawa. Sedangkan di Banjarmasin situasinya tidak berubah. Terbukti, sampai dengan 1909, sekolah yang ada cuma Sekolah Kelas II. Sekolah itu dibangun 1906 oleh Johannes van Weert, Residen Borneo Selatan (Borsel). Sampai akhir masa jabatannya (1911), Johannes tidak membangun sekolah baru.
Sekolah HIS (Holland Indische School) baru di bangun di Banjarmasin pada 1913, oleh Residen LFJ Rycman. Dua puluh empat tahun kemudian (1913), Residen Moggenstrom membangun MOLO (Midlebaar Uitgebreid Loger Onderwijs).
Sehubungan adanya politik etis, pemerintah Belanda juga memperbolehkan wartawan pribumi menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia (Melayu). ara/mb02

090212-kamis(jumat)-Kosa Kata Banjar dari jantra kawi.doc

Kosa Kata banjar Tidak Hanya Milik Orang Banjar


BANJARMASIN – Karena sering mendengar, mengucapkan atau karena sudah menjadi kebiasaan, maka suatu kata seperti milik pribadi daerah tertentu. Pada kenyataannya kata tersebut, digunakan pula oleh daerah lain, seperti kosa kata banjar.
Menurut tokoh linguistik bahasa Banjar, Prof Dr H Djantera Kawi, pada Rabu (8/2) siang, bahwa kosa kata banjar dalam KBBI, bermakna jajar, deret, leret, dan baris. Selain itu juga bermakna desa atau dukuh, yang dikepalai oleh seorang balian (kepala desa yang juga berfungsi sebagai pemangku adat).
Kata banjar juga dikenal di Bali (dalam makna dukuh), di Jawa Barat digunakan untuk nama tempat yaitu Banjar Negara. Boleh jadi kata banjar masih dapat ditemukan di daerah lainnya.
Dalam bahasa Banjar itu sendiri, kata banjar dengan makna dukuh telah tergantikan dengan kosa kata kampung. Di kota Banjarmasin dapat dijumpai nama kampung, seperti Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Bugis, Kampung Ambon dan Kampung Jawa yang terletak disekitar Pasar Lama.
Penamaan kampung ini, cenderung mengindikasikan adanya pilihan wilayah hunian berdasarkan kesatuan etnis atau sub-etnis. Serta cenderung dikepalai atau ditokohi oleh seorang pemangku adat yang berlaku sebagai pemimpin.
Ini adalah sebuah kecenderungan dari karakter masyarakat tradisional. Secara geografis wilayah hunian antar kampung ditandai oleh sebuah jarak yang signifikan. Para penghuni atau penduduk kampung-kampung, selanjutnya mengidentifikasikan diri dengan sebutan nama kampung huniannya. Seperti orang Uya, orang Tanjung, orang Barabai dll.
“Maka dengan demikian kosa kata banjar merupakan kosa kata asli Indonesia. Secara sederhana kata banjar dapat dimaknai sebagai sebuah wilayah geografis yang di huni oleh sekelompok orang, dengan struktur perumahan berderet-deret yang dikepalai oleh seorang pemangku adat” ujarnya. ara/mb05

090212-kamis(jumat)-Efektifkah Peningkatan Seni Budaya dari syarifuddin.doc

Seberapa Efektif Usaha Peningkatan Seni Budaya Daerah


BANJARMASIN – Setiap tahun di Kalsel maupun khususnya di kota Banjarmasin, beragam kegiatan event dan festifal seni budaya daerah dilaksanakan. Hanya saja, sejauh mana semua event dan festifal tadi benar-benar meningkatkan seni budaya daerah. Baik dilihat dari segi seni budayanya maupun untuk masyarakat itu sendiri. Serta seberapa efektif usaha yang telah dilakukan?
Menurut budayawan Kalsel Drs H Syarifuddin R beberapa waktu yang lalu dengan Mata Banua. Semakin luas dan mendalam pengetahuan tentang berbagai permasalahan kesenian, dapat semakin efektif pula program kegiatan yang diajukan dan mampu melaksanakannya.
Pembangunan bidang kesenian baik yang dilakukan dan diemban pemerintah, maupun oleh berbagai pihak dalam masyarakat pada dasarnya mempunyai sifat dasar tertentu.
Sifat dasar tersebut adalah pemeliharaan, perawatan, pelestarian, penggalian dan pengkajian, pengemasan informasi kesenian dan penyebarluasannya, perangsangan inovasi dan kreasi, perumusan nilai-nilai ideal bangsa dan sosialisasinya.
Kemudian semua usaha yang dilakukan juga harus bersifat menjawab tantangan masa kini. Baik usaha yang berkaitan dengan warisan budaya yang diperoleh melalui proses sejarah, maupun dengan karya-karya aktual lainnya.
Pemerintah atau pembina kesenian pada dasarnya bertugas mensosialisasikan nilai-nilai dan sikap-sikap tertentu, serta merancangnya ke dalam sejumlah kegiatan yang mengarah kepada satu tujuan besar yang sama.
Tujuan besar di maksud seperti memperkokoh jati diri kesenian daerah, memperkuat ketahanan kesenian daerah, melestarikan warisan kesenian sebagai budaya bangsa, meningkatkan kesadaran sejarah kesenian, dan memperlancar dialog kesenian, semuanya merupakan tujuan-tujuan payung yang harus dijabarkan ke dalam berbagai program kegiatan.
Dalam penjabaran dan penerapan tujuan besar itulah diperlukan pengayoman pihak pengambil kebijakan dan daya cipta yang tinggi para penggiat kesenian.
“Efektifitas dapat di ukur dari dangkal atau dalamnya kesan yang ditumbuhkan oleh pihak-pihak yang terlibat pada kegiatan yang diprogramkan. Selanjutnya efektifitas itu dapat di anggap lebih besar lagi apabila pihak-pihak yang mendapat kesan mendalam jumlahnya meningkat pula” ujarnya. ara/mb05