Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

140212-selasa(rabu)-bag.6 Media Massa Dan Sastra Era Jepang (di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Keenam-habis) Peringatan Hari Pers
Media Massa Dan Sastra Era Jepang di Borsel

Selayaknya untuk dikatakan, bahwa hanya untuk mempublikasika karya sastra tempo dulu (1930-1945), penuh dengan perjuangan darah dan air mata. Pada era kolonial Belanda dibayangi penjara dan pada era Jepang media massa diberangus serta di kontrol.

Keterbatasan waktu dan minimnya anggaran membuat penggalian tak dapat dilakukan maksimal. Masih banyak karya sastrawan Kalsel zaman Belanda (1930-1945) dan zaman Jepang (1942-1945) yang belum tergali.
Sebab penggalian lebih jauh, dapat dilacak di perpustakaan, lembaga arsip dan dokumentasi, sekurangnya di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional RI dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, yang kesemuanya berada di Jakarta.
Hal ini diungkapkan oleh oleh Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Selama zaman Jepang (1942-1945), gairah bersastra di Kalsel di dukung 6 koran/majalah yang membuka rubrik secara berkala. Dukungan yang telah menciptakan kondisi bagi lahirnya kelompok sastrawan Kalsel zaman Jepang. Koran/majalah tersebut yaitu:
Surat kabar Kalimantan Raya (Banjarmasin), surat kabar Borneo Shimbun (Banjarmasin), dan surat kabar Borneo Shimbun (Kandangan). Kemudian majalah Purnama Raya (Kandangan), majalah Puspa Wangi (Kandangan), dan majalah Pawana (Rantau).
Pada 10 Februari 1942, tanpa perlawanan berarti, pasukan Kaigun/Rikugun Jepang merebut Banjarmasin dari tangan Belanda. Namun sebelum jatuh ke tangan Jepang, Belanda telah membumi hanguskan sarana dan prasarana vital di Banjarmasin.
Percetakan Suara Kalimantan milik AA Hamidhan juga menjadi sasaran pengrusakan. Setelah berusaha keras Hamidhan berhasil memperbaiki mesin cetaknya, dan pada 5 Maret 1942 kembali menerbitkan Kalimantan Raya.
Tidak lama berselang, komandan pasukan Kaigun Jepang melarang penerbitan Kalimantan Raya. Hamidhan dan wartawan lainnya dipekerjakan di Borneo Shimbun (Banjarmasin), di bawah kendali Jepang.
Hal yang sama juga terjadi pada wartawan majalah Purnama Raya, majalah Puspa Wangi, dan majalah Pawana. Ketiganya dilarang menerbitkan majalahnya dan dipekerjakan di Borneo Shimbun (Kandangan).
Akibatnya tidak ada pilihan lain bagi sastrawan Kalsel, kecuali mempublikasikan karyanya di Borneo Simbun. Meskipun karya-karya sastrawan dikontrol, tetapi Jepang memberikan honorarium atas karya yang dimuat. Honorarium puisi antara 3 sampai 4 ringgit, cerpen 10 ringgit (menurut data Arthum Artha di Tabloid Wanyi, Banjarmasin, edisi 12/ September 1996).
Selain mempublikasikan karyanya di Borneo Shimbun, sastrawan Kalsel juga mempublikasikan karya di majalah yang terbit di luar daerah, antara lain:
Majalah Waktu, majalah Taman Siswa, dan majalah Panca Warna (ketiganya di Medan). Lalu majalah Bhakti (Denpasar), majalah Kebudayaan Timur (Jakarta), majalah Pustaka Timur (Yogyakarta), majalah Terang Bulan (Surabaya), dan majalah Sastrawan (Malang).
Majalah-majalah tersebut juga dibawah pengawasan Jepang. Bahkan majalah Kebudayaan Timur dan Pustaka Timur diterbitkan oleh Jepang sendiri.
Sastrawan generasi zaman Jepang (1942-1945) antara lain:
Abubakar Razi, Ahmad Samidri, Ahmad Zakaria (Ahzar), Aliansyah Ludji, Anggraini Antemas, Asyikin Noor Zuhry, Fakhruddin Mohani, Gusti Maswan, Husien Razak, Ilham Se Banjar, Maseri Matali, SM Darul, Sir Rosihan, Syahran Syahdan, Tanar Eka, Zafury Zumry, dan Zainal.
Menurut Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945) ini, adalah kumpulan dari tulisan-tulisan yang dimuat dan tercecer dimana-mana. Ia menganggap masih banyak data yang kurang, karena masih banyak catatan maupun kliping sastra di masyarakat.
“Dengan adanya buku ini, mudah-mudahan ini bisa memberi motifasi. Mungkin saja akhirnya masyarakat yang mempunyai data, dan setelah dibandingkan dengan data yang ada dalam buku, lalu merasa masih ada kekurangan. Selanjutnya dapat memberikan masukan sebagai pelengkap untuk edisi buku sastra akan datang” ujarnya dengan Mata Banua beberapa waktu yang lalu. ara/mb02

130212-senin(selasa)-bag.5 Sastra Menumbuhkan Gelora Kebebasan (di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Kelima) Peringatan Hari Pers
Sastra Menumbuhkan Gelora Kebebasan Dalam Media Massa

INDONESIA
Angin penghabisan dari Pantai Laut Selatan
Mengheningkan cipta bagi segala pejuang
Keraguan telah mati
Persatuan di atas kebangsaan
Meluap ke atas meninggikan derajat bagi tanah air …
(karya Arthum Artha)

Melalui kata-kata bersajak menumbuhkan gelora kebebasan dalam media massa. Sastrawan Borneo Selatan (Borsel/ Kalsel), mengawali sastra modern (berbahasa Melayu), sebelum Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Hal ini diungkapkan oleh oleh Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Sastrawan Borsel zaman Belanda (1930-1942) antara lain:
Abdul Hamid Utir, Abdul Jabbar, Abdul Muin Cuty, Abdurrahman Karim, Ahmad Basuni, Amir Hassan Bondan, Anak Martapura, Arsyad Manan, Arthum Artha, Asmail Gafury, Asnawi Rais, Darmawan Saruji, Gusti Abdul Malik Thaha, Gusti Abdurrahman, Gusti Abubakar, Gusti Mayur, Hadharyah M Sulaiman, Hamdi Redwansyah, Harun Muhammad Arsyad, Haspan Hadna, Hassan Basry, HMAS Amandit, Kasyful Anwar, IAB alias Pembaca, M Yusuf, Masdari, Merah Daniel Bangsawan, Merah Johansyah, Merayu Sukma, Muhammad Yusuf Aziddin, Ramlan Marlin, Sarasakti dan Zafry Zamzam.
Beberapa karya sastra sastrawan Borsel zaman Belanda, dari dokumentasi koleksi Arthum Artha pada 1983, antara lain:
WANGI// Bau wangi puas puspita/ Semerbak bau menyebar wangi/ Dahulu mendaki kita menuju/ Mencipta raya ibu pertiwi (karya Merah Johansyah).
TANAH AIR// Nyiur melambai laut bergelora/ Awan berarak merah putih/ Burung berkicau menari-nari/ Itulah suara Indonesia Putera/ Barisan bergerak cinta kasih/ Menjunjung bakti ibu pertiwi (karya Merah Johansyah).
MELATI// Engkau melati putih suci/ Hidup bersama mawar desa/ Ingin bahagia hidup berbakti/ Kepada bangsa nusa tercinta (karya Abdul Jabbar).
MERPATI// Merpati terbang bebas di awan/ Awan biru di lintasannya/ Janji bebas dalam perjuangan/ Kawan bersatu membela bangsanya (karya Abdul Jabbar).
DI SUNGAI MARTAPURA// Sebentar kuning keruh airnya/ di kala sepi jernih kemilau/ ‘Gitu air sepanjang masa/ Mengalirkan jasa bagi manusia/ Purnama menyibak sungai Martapura/ Air melaju membawa teratai/ Semoga mulia jasamu air/ Teladan manusia berjuang senantiasa (karya Merayu Sukma).
OMBAK SAMUDERA// O, nelayan lautan/ Dari Malukukah?/ Halmaherakah?/ Atau kau anak Jasa Sundakah?// O, satukan barisan tuju laut bebas/ Ombak dapat ditempuh/ Gelombang dapat dilewati/ Karang-karang laut dapat dihancurkan/ Lekas! Kembangkan layar bebas/ Ke pantai kita menyanyikan lagu/ Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (karya Merayu Sukma).
TANAH AIR// Sawah dan lading terhampar luas/ Tanaman subur tumbuh menghijau/ Burung putih terbang di angkasa// Tanah air luas bangsa bebas/ Rakyat makmur bangsa menghimbau/ Hiduplah bangsaku Indonesia Raya/ Di sana-sini nyiur melambai-lambai/ Sawah terbentang berbuah emas merata/ Kaum petani hidup gembira/ Di sinilah kami berbaris menuju pantai/ Pantai bahagia Indonesia Mulia/ Tanah Air kita kaya raya (karya Abdul Muin Cuti).
BAHASAKU BAHASA INDONESIA// Jika lambaian daun kelapa/ Atau daun nyiur melambai di tepi pantai/ Kulihat seolah memanggil kita/ Untuk bersatu berjuang berbakti/ Membela persada Ibu Pertiwi/ Jika aku dan kawan-kawan sejati/ Atau pujangga bersatu mengikat janji/ Setia sumpah membela negeri/ Hai! Marilah kita berkorban selalu/ Demi kebangsaan dan kemuliaan bangsaku// Bahasaku bahasa Indonesia/ Bahasa persatuan se-Nusantara/ Bahasaku bahasa ibunda/ Bahasa Indonesia nan kaya raya (karya Abdul Muin Cuti).
NYIUR MELAMBAI// Jauh di pantai selatan/ Di pantai landai nyiur melambai/ Seamsal dia bendera tanah airku/ Akan kupanggul tiang bendera pertiwi/ Kupertaruhkan demi bumi/ Tanah air Indonesia (karya Kasyful Anwar). ara/mb02

130212-senin(selasa)-bag.4 Delik Pers Sastra Era Kolonial Belanda (di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Keempat) Peringatan Hari Pers
Delik Pers Terhadap Karya Sastra Era Kolonial Belanda

Mula-mula sastrawan Borneo Selatan (Borsel/Kalsel) mengawali terbentuknya sastra koran/majalah dengan memanfaatkan kolom-kolom di koran/majalah sebagai media publikasi. Namun karya yang dinilai subversive sebagai delik pers, berakhir dalam penjara Belanda.

Perkembangan Sastra Modern di Kalsel khususnya dalam kurun waktu 1930 sd 1945, tentu memberi warna dan khazanah terhadap perjalanan dan perkembangan sastra di Tanah Air.
Sangat diyakini, banyak catatan karya sastra yang tersebar pada waktu itu, yang memiliki nilai urgensi sejarah. Serta catatan karya sastra yang mencerminkan eksistensi dan kontribusi sastrawan Kalsel ,dalam memberikan perannya terhadap perkembangan sastra Tanah Air. Peran serta yang tentunya oleh dukungan media massa itu sendiri.
Hal ini diungkapkan oleh oleh Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Pada 1930-an, ketika sastrawan Borsel zaman Belanda mulai mempublikasikan karyanya, pemuda-pemuda saat itu sedang menyambut Sumpah Pemuda. Karya sastra yang ditulis dan dipublikasikan di koran/majalah, secara tematis, selaras dengan semangat zaman. Karya sastra yang mengungkapkan impian anak bangsa untuk memiliki tanah air merdeka, yang terbebas dari kolonial.
Tapi impian itu tidak dapat diungkapkan dengan leluasa. Sastrawan yang berani menulis karya kritis, yang oleh Belanda di nilai subversif, akan di tangkap dengan tuduhan melakukan delik pers, dan di penjara.
Beberapa kasus yang di nilai karya sastra yang subversive oleh Belanda. Antara lain roman/novel karya Hasan Basry (Kandangan, 1939) yang berjudul Amanat Ibu. Kemudian roman/novel karya Hadharyah M Sulaiman (Medan, 1941) yang berjudul Suasana Kalimantan. Keduanya berusaha di tangkap oleh petugas PID Belanda.
Belanda gagal menangkap Hasan Basry, tapi berhasil menangkap Hadharyah M Sulaiman. Pada 1942, Hakim JB Kan yang mengadili Hadharyah di Landraad Banjarmasin, menjatuhkan vonis 4 tahun penjara. Upaya banding yang dilakukan Hadharyah, ditolak Landraad Surabaya.
Terkait kasus yang sama, Matumona pemilik perusahaan percetakan Cenderawasih (Medan) juga ditangkap dan diadili di Landraad Medan. Matumona dituduh ikut menyebar luaskan pikiran-pikiran subversive dari karya Hadharyah. Demi melindungi dirinya dari incaran petugas PID, sastrawan zaman itu umumnya memakai nama samaran (psedonim).
Dalam perjuangan memerdekakan tanah air, sastrawan Borsel zaman Belanda menulis karya sastra dengan visi dan misi menggugah rasa cinta kepada tanah air (nasionalisme), dan menumbuhkan sikap antipati terhadap kolonial.
Roman/novel karya sastrawan Borsel era 1930 sd 1942, antara lain:
Kucing Hitam karya Abdul Hamid Utir (Banjarmasin 1930), Percintaan yang Membawa Korban karya Abdurrahman Karim (Kotabaru 1937), Air Mata Nurani karya Ramlan Marlim (Yogyakarta 1937), Asmara Suci karya Gusti Abubakar (Banjarmasin 1939), Amanat Ibu karya Hasan Basry (Kandangan 1939), Tersalah Sangka karya Sarasakti (Banjarmasin 1939), dan Suasana Kalimantan karya Hadharyah M Sulaiman (Penerbit Cenderawasih, Medan 1941).
Kemudian karya roman/novel karya Merayu Sukma yaitu yang berjudul Berlindung di Balik Tabir Rahasia dan Sinar Membuka Rahasia (keduanya dari Penerbit Cerdas, Medan 1940), Kunang Kunang Kuning (1940), Menanti Kekasih dari Mekkah (1940), Teratai Terkulai (Penerbit Dunia Pengalaman, Solo 1940), dan Yurni Yusri (Penerbit Penyiaran Ilmu, Ford de Kock 1940).
Koran/majalah yang terbit di Borsel dalam kurun waktu 1930 sd 1942 sebanyak 14 buah, yaitu:
Suara Kalimantan (Banjarmasin 1930), Bintang Borneo (Banjarmasin 1930), Malam Jumat (Banjarmasin 1930), Suara Nachdlatul Ulama (Barabai 1935), Canang (Banjarmasin 1936), Semarak (Banjarmasin 1936), Bingkisan (Banjarmasin 1937), Utusan Kalimantan (Banjarmasin 1937), Panggilan Waktu (Kotabaru 1937), Kesadaran Kalimantan (Banjarmasin 1938), Panca Warna (Banjarmasin 1938), Pelita Masyarakat (Banjarmasin 1938), Perintis (Banjarmasin 1930-1940), dan Suara Musyawaratthothalibin (Kandangan 1939-1940).
Selain di media massa lokal, kelompok sastrawan Borsel juga mempublikasikan karyanya di koran/majalah yang terbit di luar daerah, antara lain di majalah:
Terang Bulan (Surabaya), Mandau (Surabaya), Al Bayan (Samarinda), Palang Merah (Medan), Abad Dua Puluh (Medan), Keinsyafan (Gorontalo), Sastrawan (Malang), dan Pustaka Timur (Yogyakarta).
Salah satu puisi dari karya Hadharyah M Sulaiman yang berjudul Cita-Cita:
Angin topan ombak lautan/ Gulung-gemulung menebah pantai/ Cita-cita sepanjang zaman/ Bebas berjuang melepas rantai (dokumentasi data dari koleksi Artum Artha, 1983). ara/mb02

120212-minggu(senin)-bag.3 Dokumen Yang Berharga (di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Ketiga) Memperingati Hari Pers
Informasi Sastra dan Seni Budaya Merupakan Dokumen Yang Berharga

Di era 1930 disimpulakn , surat kabar Suara Kalimantan dan Bintang Borneo (Banjarmasin), menandai awal kesusastraan Indonesia modern di Borneo Selatan (Borsel/ Kalsel)

Para sastrawan tentu sangat berterimakasih dengan media massa yang turut membantu mempublikasikan karyanya, apalagi dengan menyediakan kolom tersendiri.
Diantara sekian banyak orang yang tidak peduli dengan informasi sastra dan seni budaya umumnya, di media massa. Maka akan selalu ada segelintir orang, yang dengan setia dan intens mengumpulkan serta mengkliping semua informasi sastra dan seni budaya tersebut.
Kliping inilah yang menjadi bukti sejarah, kepedulian media massa terhadap sastra dan seni budaya. Serta menjadi informasi yang berharga terhadapa perjalanan dan perkembangan sastra dan seni budaya.
Menurut Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Pendekatan yang dipergunakan dalam penggalian untuk buku sastra ini, adalah pendekatan sejarah sastra. Yaitu penelitian yang dilakukan dengan merekontruksi sejarah sastra, berdasarkan bahan-bahan dokumentasi.
Dokumen yang dikumpulkan dari media massa koran/ majalah dan buku-buku sastra. Baik dokumen yang berisi paparan sastrawan, dan berita tentang aktivitas sastra/ sastrawan.
Sejarah penerbitan surat kabar di Borsel, sebetulnya sudah dimulai pada 1905. Saat itu, Mozes Neis menerbitkan Sinar Borneo, dan Liem Kok In menerbitkan Pengharapan. Namun dua surat kabar ini bukan milik pribumi.
Mozes Neis adalah orang Belanda, dan Liem Kok In adalah orang Tionghoa. Mozes Neis lebih memihak kepentingan pemerintah kolonial Belanda, daripada kepentingan pribumi.
Sementara Liem Kok In, lebih tertarik menjadi warga Negara Republik Rakyat Cina (yang saat itu baru diproklamasikan Dr Sun Yat Sen) daripada menjadi warga Negara Republik Indonesia (yang saat itu masih berupa wacana).
Selain tidak sepenuhnya menggunkan bahasa Indonesia (Melayu), Sinar Borneo dan Pengharapan tidak memuat berita, feature, opini, dan karya sastra dengan semangat Sumpah Pemuda, ide-ide nasionalisme bangsa Indonesia, atau gagasan Indonesia merdeka.
Berbeda ketika Anang Abdullah Hamidan menerbitkan Suara Kalimanta pada 1930-an. Bangsa Indonesia yang tinggal di Borsel dan warga Hindia Belanda lainnya, sedang dimabuk euforia Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Jakarta.
Dokumentasi data surat kabar Suara Kalimantan, edisi September 1932 memuat puisi karya pembaca (IAB/ nama samaran) yang berjudul Syair Tiga Sejalan. Sebagian dari isi puisi tersebut antara lain:
Banjar itu ibuku/ Tanah tumpah darahku/ Kalimantan menjadi suku/ Indonesia jumlah bangsaku// Kejadian baru berselang/ OKL suara garang/ Bangsa Banjar diserang/ Dihina di muka orang// Kita tidak bersalah/ Tentu berhati susah/ orang boleh timbanglah/ Betapa rasanya gundah// …//
Ampun tidak bersangkut/ Kepada menonton turut/ Masing-masing tidak dipaut/ Merdeka untuk menyahut// …// Nasihat lipat berganda/ Sudah kita terima/ Suruh tegak pun tidak/ Masing-masing hati merdeka// Melihat pemandangan lalu/ Banjar merasa tentu/ Nama bangsa diganggu/ Sabar rupanya perlu// …//
Derajat kepada bangsa/ Segenap pelosok dunia/ Dijunjung oleh anaknya/ Dipuja pada hatinya// Selamat kita ucapkan/ Kepada pembaca sekalian/ Saudara se Kalimantan/ Terimalah salam kebangsaan (teks asli ditulis dengan ejaan Van Ophnysen). ara/mb02

120212-minggu(senin)-bag.2 Surat Kabar Pribumi Pertama (Dm.150212 di Berita kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)
- Kliping-kliping informasi sastra dan seni budaya di media massa

(Bagian Kedua) Memperingati Hari Pers
Surat Kabar Pribumi Pertama Di Boeneo Selatan

Koran/ majalah itu menjadi sarana efektif untuk menyebarluaskan pikiran dan perasaan anak bangsa yang terjajah. Melalui Puisi, Cerpen, Roman/ Novel dan Naskah Drama, para sastrawan berusaha menggugah hati pembacanya.

Mengumpulkan data sejarah kesusastraan Indonesia modern di Kalsel, selain dari koran/ majalah tempo dulu,  juga melalui buku-buku sastra. Baik buku-buku koleksi perorangan, koleksi instansi/ lembaga dokumentasi dan perpustakaan yang ada di Kalsel maupun diluar daerah.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Taman Budaya Kalsel (TB), Drs H Noor Hidayat Sultan, mengenai buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945), yang diterbitkan TB Kalsel.
Menurutnya, awalnya penggalian sejarah sastra Kalsel, direncanakan meliputi kurun waktu 1890 sd 1945. namun, minimnya data dan dokumentasi karya sastra Indonesia di Kalsel akhir abad XIX, membuat penggalian akhirnya difokuskan pada bahan-bahan yang dapat ditemukan, terbatas pada awal abad XX.
Minimnya data sastra Indonesia modern di Kalsel sebelum abad XX, karena saat itu belum ada media cetak di Kalsel. Serta kemampuan membaca dan menulis aksara latin yang rendah. Lebih dominant saat itu pada sastra lisan (madihin, basyair, lamut dan pantun) yang dikenal masyarakat. Maka, penggalian kembali lebih difokuskan pada jenis karya sastra (berbahasa Melayu – Indonesia) modern, yang diciptakan/dipublikasikan dalam kurun waktu 1930 sd 1945.
Sehubungan adanya politik etis pemerintah kolonial Belanda pada 1909 sd 1916 di tanah jajahan. Maka pemerintah Belanda juga memperbolehkan wartawan pribumi menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia (Melayu).
Suara Kalimantan adalah surat kabar pribumi pertama di Boeneo Selatan/Borsel (Kalsel), diterbitkan oleh Anang Abdul Hamidhan di Banjarmasin pada 23 Maret 1930. Langkah pertama ini, selanjutnya banyak diikuti oleh wartawan pribumi lainnya. Dalam tempo singkat, 14 koran/majalah terbit di Borsel.
Koran/ majalah itu menjadi sarana efektif untuk menyebarluaskan pikiran dan perasaan anak bangsa yang terjajah.
Hampir semua surat kabar yang terbit pada 1930-an, selain berita juga memuat karya sastra berbahasa Indonesia (Melayu). Contohnya dokumentasi data Bintang Borneo, edisi 15 September 1930, yang memuat puisi karya Anak Martapura (AM/ nama samaran), yang berjudul Bangsaku Sadarlah. Sebagian dari isi puisi tersebut antara lain:
Bangun bangsaku janganlah malas/ Bahana Merdeka sangatlah jelas/ Bangsa tertindas asik memberantas/ Bagi segala kungkungan yang pantas/…/ Nah, sekarang Kalimantan dimaksud/ Negeri kita mesti bersujud/ Ngabdikan badan agar serajut/ Nasihat ibu suatu rajud/ Gayakan zaman sudah dirasa/ Getir dan pahit jangan dikata/ Gunakan waktu kata bujangga/ Girangkan hati bila bekerja//
Suluh itulah suatu obor/ Sinarnya terang tidaklah kabur/ Suburkan onderwijs yang masih datur/ Supaya kita jangan teledor// Ajaklah saudara suka berkumpul/ Asah otak mana yang tumpul/ Arahkan haluan kepada yang kepul/ Agar terjadi maksud yang betul// Ketinggian derajat diselami serta/ Kalimantan kita gelap gulita/ Kirimkan obor penerang mata/ Kalungkan tenaga dan ilmu kita//…// (teks asli ditulis dengan ejaan Van Ophnysen).
Edisi 13 November1930, Bintang Borneo kembali memuat puisi karya AM yang berjudul Semangat Nasional. Sebagian dari isi puisi antara lain:
Salam takzim penulis ucapkan/ Saudara sekalian penulis pohonkan/ Suka mengampuni kalau kesalahan/ Selalu jangan hati sisipkan// Esa dan empat jadilah lima/ Engkau dan enci marilah bersama/ Enakkan kali zaman drama/ Embuskan kolot sifat yang lama/ …// Aduhai saudara putra dan putri/ Adakah sedih dipikiran ini/ Akan bangsa kita hampirlah mati/ …//
Nasibnya sekarang amatlah ado/ Nyatalah sudah di ini solo/ Nah, intelectuelien perlu membantu/ Nasib rakyat jangan dipaku// Adalah kerap kali orang berkata/ Ada memuji dirinya semata/ Akan ia sebagai pemuka/ Aduhai sebenarnya itu tiada// Teradat sekarang harus dikenal/ Tak usah mengingat miring diagonal/ Terutama membantu teman dan kawal/ Terharusnya sekarang janganlah gagal (teks asli ditulis dengan ejaan Van Ophnysen). ara/mb02

100212-jumat(sabtu)-pers & sastra masa kolonial di Bjm.doc

Photo:
Drs H Noor Hidayat Sultan
Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945).

Perkembangan Pers Dan Sastra Koran Era Kolonialis Di Banjarmasin


BANJARMASIN – Pers Merdeka, Rakyat Punya Suara, menjadi tema peringatan Hari Pers 2012. Di sisi lain para sastrawan turut menginginkan tema tersebut menjadi Pers Merdeka, Sastra Punya Suara.
Menengok kembali kebelakang, melihat dari catatan sejarah bagaimana awal mula kebangkitan Pers dan Sastra Koran di bumi Lambung Mangkurat. Terkait dengan perkembangan sastra di Kalsel, Taman Budaya (TB) Kalsel telah membuat sebuah buku yang berjudul Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945).
Dalam buku ini juga disinggung bagaimana perkembangan Pers dan Sastra Koran. Buku yang mempunyai latar sampul warna coklat, dan dengan ketebalan 172 halaman, di terbitkan pada akhir 2011. Sayangnya keterbatasan dana, membuat buku ini hanya dicetak terbatas dan diperuntukkan untuk mengisi perpustakaan-perpustakaan umum dan sekolah.
Beberapa waktu yang lalu, kepada Mata Banua, Kepala TB Kalsel, Drs H Noor Hidayat Sultan menceritakan sebagian isi buku tersebut, termasuk yang berkaitan dengan Pers dan Sastra Koran.
Menurutnya, pada era 1909-1916, Alexander WF Idenburg menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Saat itulah pemerintah kolonial Belanda mulai menerapkan politik etis di tanah jajahannya. Dengan adanya politik etis, pemerintah Belanda juga memperbolehkan wartawan pribumi menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia (Melayu).
Suara Kalimantan adalah surat kabar pribumi pertama di Boeneo Selatan/Borsel (Kalsel), diterbitkan oleh Anang Abdul Hamidhan di Banjarmasin pada 23 Maret 1930. Langkah pertama ini, selanjutnya banyak diikuti oleh wartawan pribumi lainnya. Dalam tempo singkat, 14 koran/majalah terbit di Borsel.
“Hampir semua surat kabar yang terbit pada 1930-an juga memuat karya sastra berbahasa Indonesia (Melayu). Contohnya Bintang Borneo, 15 September1930, yang memuat puisi karya Anak Martapura (nama samaran), yang berjudul Bangsaku Sadarlah” ujar Dayat (nama panggilan Noor Hidayat Sultan). ara/mb05

100212-jumat(sabtu)-bag.1 pers merdeka sastra punya suara (Dm.140212 di Berita Kaki).doc

Photo:
- Drs H Noor Hidayat Sultan
- Buku Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945)

(Bagian Pertama) Memperingati Hari Pers
Pers Merdeka, Sastra Punya Suara, Media Massa Menjadi Abadi

Untuk Memperingati Hari Pers 2012, para sastrawan juga mendengungkan tema Pers Merdeka, Sastra Punya Suara. Melalui karya-karya sastrawan, pikiran dan suara-suara anak bangsa turut pula didengungkan.

Sepanjang sejarah sastra, peran pers sangatlah besar. Melalui penerbitan koran/majalah karya-karya sastrawan dapat diketahui masyarakat. Di tinjau dari kepentingan informasi instant, politis dan bisnis, maka karya sastra hanya diminati segelintir orang. Hal inilah yang menyebabkan karya sastra terkadang tidak mempunyai ruang khusus dalam sebagian media massa.
Disisi lain, walau hanya diminati segelintir orang, karya sastra yang dimuat sebagian media massa, menjadi abadi. Karena dijadikan referensi, kliping dan catatan sejarah perjalalan sastra itu sendiri. Baik yang dilakukan perorangan, instansi terkait, lembaga pendidikan khususnya siswa yang mendapat tugas dari gurunya. Ini berlaku pula untuk informasi seni budaya secara umumnya.
Dari pengamatan Mata Banua, dalam tugas makalah, tugas skripsi ataupun buku-buku yang dibuat oleh sastrawan. Maka akan tercantum nama media massa yang memuat karya tersebut. Ini adalah timbal balik yang sebenarnya saling menguntungkan, tetapi hanya di lirik oleh segelintir media massa.
Bisa dikatakan media massa yang mengapresiasi karya sastra dan informasi seni budaya, akan menjadi abadi pula, selama bumi masih ada.
Menengok kembali kebelakang, melihat dari catatan sejarah bagaimana awal mula kebangkitan Pers dan Sastra Koran di bumi Lambung Mangkurat. Terkait dengan perkembangan sastra di Kalsel, Taman Budaya (TB) Kalsel telah membuat sebuah buku yang berjudul Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan, Sebelum Perang (1930-1945).
Dalam buku ini juga disinggung bagaimana perkembangan Pers dan Sastra Koran. Buku yang mempunyai latar sampul warna coklat, dan dengan ketebalan 172 halaman, di terbitkan pada akhir 2011. Beberapa tim Dokumentasi, penggali dan nara sumber buku, antara lain Drs Fahrurrazie, Drs Mukhlis Maman, Aman Waloyo SSn dan Tajudin Noor Ganie MPd.
Sayangnya karena persoalan dana, membuat buku ini hanya dicetak terbatas dan diperuntukkan untuk mengisi perpustakaan-perpustakaan umum dan sekolah.
Beberapa waktu yang lalu, kepada Mata Banua, Kepala TB Kalsel, Drs H Noor Hidayat Sultan menceritakan sebagian isi buku tersebut, termasuk yang berkaitan dengan Pers dan Sastra Koran.
Menurutnya, semua informasi yang ada dalam buku adalah dari tulisan-tulisan yang tercecer di mana-mana, baik di media cetak, catatan-catatan, makalah dll.
Sejarah kesusastraan Indonesia modern di Kalsel identik dengan sastra koran/majalah dan buku, maka yang harus dilakukan adalah mencari dan mengumpulkan lagi koran/majalah tempo dulu. Tapi terbatas pada koran/majalah yang hanya mempunyai rubrik sastra, sebab tidak semua koran/majalah mempunyainya.
Tidak mudah menggali dan mengumpulkan lagi data sastra sebelum perang. Sebab buku-buku sastra koleksi perorangan, koleksi instansi/lembaga dokumentasi dan perpustakaan ini, tersebar di dalam daerah maupun di luar Kalsel. Data ini adalah harta karun perkembangan sastra Kalsel, dan ini adalah pekerjaan besar.
Pada era 1909-1916, Alexander WF Idenburg menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Saat itulah pemerintah kolonial Belanda mulai menerapkan politik etis di tanah jajahannya. Sekolah untuk kalangan menengah pribumi (kaum bangsawan, birokrat, hartawan) mulai dibuka di berbagai kota di Hindia Belanda.
Kebijakan membangun sekolah menengah, ternyata hanya berlaku di kota-kota besar di pulau Jawa. Sedangkan di Banjarmasin situasinya tidak berubah. Terbukti, sampai dengan 1909, sekolah yang ada cuma Sekolah Kelas II. Sekolah itu dibangun 1906 oleh Johannes van Weert, Residen Borneo Selatan (Borsel). Sampai akhir masa jabatannya (1911), Johannes tidak membangun sekolah baru.
Sekolah HIS (Holland Indische School) baru di bangun di Banjarmasin pada 1913, oleh Residen LFJ Rycman. Dua puluh empat tahun kemudian (1913), Residen Moggenstrom membangun MOLO (Midlebaar Uitgebreid Loger Onderwijs).
Sehubungan adanya politik etis, pemerintah Belanda juga memperbolehkan wartawan pribumi menerbitkan surat kabar berbahasa Indonesia (Melayu). ara/mb02

Jumat, 24 Februari 2012

160112-senin(selasa)-bahasa banjar2.doc

Photo: Tajuddin Noor Ganie

Ragam Peribahasa Banjar


BANJARMASIN – Menjadikan bahasa Banjar dalam sebuah karya sastra dewasa ini, memang sangat berharga. Namun akan menjadi sangat sulit menggunakan bahasa Banjar dalam karya sastra, apabila tidak mengetahui ragam dari bahasa Banjar itu sendiri.
Menurut Tajuddin Noor Ganie, beberapa waktu yang lalu. Bahwa bahasa Banjar yang digunakan dalam sastra pada masa lalu, mempunyai karakteristik tersendiri. Baik dalam bentuk gurindam maupun kiasan.
Gurindam Banjar, istilah Gurindam tidak ada padanannya dalam bahasa Banjar. Sehubungan dengan itu istilah ini langsung diadopsi untuk memberi nama fenomena yang sama, dalam khasanah peribahasa Banjar berbentuk puisi.
Gurindam Banjar adalah kata-kata dalam bahasa Banjar yang disusun dalam bentuk 2 baris puisi bersajak akhir a-a baik secara vertikal maupun horisontal, kata-kata pada baris 1 berstatus sebagai syarat (sebab) dan kata-kata pada baris 2 berstatus sebagai jawaban (akibat).
Contoh Gurindam Banjar antara lain:
Banyak muntung bagawi kada manuntung. Kabanyakan guring awak kurus karing, Kabanyakan rangka habis kada sahama-hama. Ngalih mambuang batu di palatar, ngalih mambuang laku amun sudah dasar. Talalu harap, tatiharap. Talalu pilih, taplih bangkung. Talalu puji, takujiji. Dan Talalu runding takujihing.
Kiasan Banjar, Kias dalam bahasa Indonesia sama saja artinya dengan kias dalam bahasa Banjar. Kiasan Banjar adalah kata-kata kiasan dalam bahasa Banjar, yang disusun sedemikian rupa dalam bentuk baris-baris puisi. Kiasan dipergunakan sebagai sarana untuk menyampaikan suatu maksud, namun secara tidak langsung kepada orang lain.
Contoh Kiasan Banjar antara lain:
Baduduk salah, badiri salah. Bapatah bilah, bapatah harang. Dalas jadi habu jadi harang. Disambat mati uma, kada disambat mati abah. Kada ada kukus amun kada ada api. Kaya kalambuai, naik kawa, turun kada kawa. Kaya bulan lawan bintang. Kuduk kada mati, ular kada kanyang. Lapas muntung harimau, masuk ka muntung buhaya. Makin tuha makin baminyak. Naik di kapuk turun di hanau. Naik di pinang turun di hanau. Naik di pinang turun di rukam. Pilanduk bisa kalumpanan lawan jarat, jarat kada kalumpanan lawan pilanduk. Salapik sakaguringan, sabantal sakalang gulu. Sarantang saruntung samuak saliur. Urang nangkanya, saurang gatahnya. Dan Wani manimbai, wani manajuni.
Di lain pihak, pemerhati budaya Banjar, Mukhlis Maman pada Minggu (15/1) sore. Ia menekankan pentingnya sebuah buku yang secara khusus membahas mengenai tata bahasa Banjar secara lengkap dan mendetail. “Dengan adanya buku ini, bisa menjadi pedoman bagi pengajaran bahasa daerah untuk muatan lokal di sekolah-sekolah” ujarnya. ara/mb05

150112-minggu(senin)-gumam asa2.doc

Photo: Sainul Hermawan

Aforisma Sastra Dalam Gumam


BANJARMASIN – Sastra dalam beragam alirannya, mempunyai genre yang bermacam-macam. Salah satu genre yang belakangan ini menjadi pembicaraan di Kalsel adalah Guman. Gumam sendiri diperkenalkan oleh Ali Syamsudin Arsi (ASA), penyair Kalsel yang telah menghasilkan empat buku genre Gumam.
Menurut Sainul Hermawan, beberapa waktu yang lalu, indikasi karakteristik wacana dalam buku kumpulan Gumam ASA, bisa disebut salah satu genre sastra yang bernama aforisma (aforisme).
Aforisma biasanya berupa pernyataan-pernyataan singkat berisi kebenaran subyektif yang disampaikan secara lisan, ataupun dengan tulisan prosais ataupun puitik yang mengulang-ulang kata, frase, atau kalimat.
Bahkan pengulangan kata, frase atau kalimat, ketiganya dipermainkan dengan bahasa yang tak tertata. Ini sebagai bentuk pembangkangan kreatif terhadap tatanan berbahasa untuk menyegarkan persepsi pembaca yang serba otomatis, dengan mengaduk-aduk konvensi bahasa dalam pikiran.
Dalam buku kumpulan gumam ASA, penulisnya sendiri menanyakan, apakah Gumam termasuk dalam salah satu jenis penulisan sastra? Meski ASA menyerahkan jawaban pada keputusan pembaca dalam segala kemungkinan tafsirnya. Kalau Emha Ainun Nadjib, menyederhanakan yang rumit. Sebaliknya Gumam merumitkan yang sederhana sekaligus yang rumit.
Sebagai sebuah permainan bahasa, makna Gumam akan dapat dipahami dengan baik jika tahu aturan mainnya. Untuk itulah dalam catatan kreatifnya ASA tampak mencoba menggagas aturan main.
Pertama, bahasa Gumam adalah bahasa yang liar. Kedua, dalam keliaran itu dia menyelipkan pesan yang dapat diraih secara keseluruhan, atau sebagian saja dalam bentuk percikan atau bias. Ketiga, akrobat kata-kata dalam Gumam ini bukan sekadar sarana melainkan juga sasaran.
Karakteristik teks Gumam, bisa di baca dari mana saja. Bisa dari awal, belakang, dari tengah, bisa satu baris atau beberapa baris, satu paragraph atau beberapa paragraph. Sebab peranti kohesi dan koherensi sebagai fasilititas tekstual untuk memahami hubungan antarkata, antarparagraf, dan antarbab, banyak diabaikan dan ini salah satu faktor penyebab rumitnya Gumam ASA.
Meski ada pertanyaan, mengapa dalam Gumam ASA tidak ditemukan tanda tanya, dan meski banyak seruan, tanda seru tak satupun digunakan.
Gumam ASA memang tak sepenuhnya patuh pada aturan penulisan tanda baca titik atau koma. Tampak keinginan penulis untuk tak terlalu sibuk menyandingkan sastra dan bahasa. ASA membiarkan estetika mengalir semaunya tanpa kekangan tata bahasa. Namun konvensi penulisan kata masih tetap dipatuhi.
Ada sebagian isi buku Gumam ASA yang bisa dibaca sebagai prosa naratif, dan sangat banyak berupa prosa lirik atau puisi yang ditampilkan dengan tifografi prosa, dan ada puisi dalam tifografi bait per-bait.
“Wajar jika ada pembaca, yang sudah terbiasa dengan bacaan yang mudah diterima persepsi, akan sulit memahami Gumam. Karena memang bahasa Gumam jungkir-balik, dan aneh, meski jika dipahami dengan pelan akan ditemukan pesan yang ingin disampaikan. Cara terbaik menikmati Gumam ASA, bukan dengan mulai menanyakan mana pangkal dan ujungnya. Nikmatilah seperti anak kecil menikmati hujan” ujar Sainul, staf pengajar FKIP Unlam ini. ara/mb05

150112-minggu(senin)-gumam asa1.doc

Photo:
- Ali Syamsudin Arsi
- Tiga buku kumpulan Gumam ASA antara lain berjudul Istana Daun Retak, Tubuh Di Hutan-Hutan, dan negeri benang pada Sekeping Papan.

Biarkan Gumam Memantulkan Dirinya Sendiri


BANJARMASIN – Pertanyaan besarnya, adakah Gumam ini masuk dalam salah satu jenis gaya penulisan, sebagai karya dalam jenis apa ia? Tanya Ali Syamsudin Arsi (ASA), beberapa waktu yang lalu dengan Mata Banua.
Kumpulan Gumam ASA telah terangkum dalam empat buku, yang akan dilanjutkan dengan buku Gumam berikutnya. Tiga buku kumpulan Gumam ASA antara lain berjudul Istana Daun Retak, Tubuh Di Hutan-Hutan, dan negeri benang pada Sekeping Papan.
Menurut penyair Kalsel ini, ia tidak akan menjawab pertanyaan itu. Tapi menyerahkan kepada kejelian pembaca. Serta tidak memaksakan diri, untuk masuk ke tata ruang mana pun dalam gaya sastra. Walaupun ia mengakui, ada dorongan dalam dirinya untuk memproklamasikan Gumam, agar masuk dalam ranah sastra.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, ASA membebaskan saja hasrat besar (memproklamasikan Gumam) ke udara luas. Melepaskan Gumam untuk memantulkan dirinya sendiri, menjadi sesuatu yang liar. Namun dalam keliaran pantulan Gumam, dapat ditarik percik-perciknya, dapat dipungut bias-biasnya. Karena sumber bias itu sendiri teramat jauh, tetapi tetap ada.
Pada Gumam Dari Istana Daun Retak, ASA menulis:
telunjuk mengarah pada satu titik, istana daun retak/ bertahun sudah mencoba membangun/ lembar-lembar daun, dari yang berserak/ kepada menghimpun/ telunjuk itu membuka garis-garis/ di telapak// lihat, ini pasukan cicak/ di belantara rimbun daun dan jejak-jejak/ dengan, suara-suara gemeretak/ dari helai-helai daun yang mulai retak/ kering, lusuh-lapuk menuju lenyap//
sebagaimana hikayat dari bangunan sebuah istana/ pasir-pasir menjadi perih di tempias-tempias kelopak/ buih-buih dari berjuta bahwa akan selesai bila telah berucap/ ternyata tidak segampang itu ternyata tidak semudah itu/ ternyata tanah tempat bangunan istana itu/ terbuat dari serak-serak rerimbun/ daun-daun tetak/ runtuh pun mengancam di puncak/ mahkota-mahkota, ya mahkota dari/ cuaca terkuak/ tak jua tak tak memperjelas gerak, tak//
lihat, ini pasukan manusia kelas paling miskin/ berduyun berjejal terinjak-injak/ dengar, gemuruh di dapur-dapur lusuh dan sakit/ pasukan perut yang selalu melilit// setelah ini, siap lagi tampil mendaftar/ istaqna daun retak// banjarbaru, 19 Januari 2010.
ASA berharap, dari secercah detil dalam Gumam, bisa memberikan inspirasi untuk melakukan sesuatu tindakan nyata yang lebih besar dan bermakna.
“Apapun bentuk peristiwa yang dialami oleh gumam dalam perjalanannya, tetaplah sebagai sebuah proses kreatif penulisan. Sebagai jejak telapak di sepanjang perjalanannya. Tidak perlu dipaksakan menjadi harus jelas, sebab ada beberapa petunjuk tersimpan sebagai rahasia. Seperti saat roda-roda kekuasaan digelindingkan, saat gerigi tajam kekuasaan dijalankan” ujarnya. ara/mb05

Sabtu, 18 Februari 2012

110112-rabu(kamis)-puisi bahasa banjar abdurrahman el husaini (Dm.130112).doc

Mengalirkan Ungkapan Puisi Berbahasa Banjar


BANJARMASIN – Tidak banyak penyair Kalsel yang membuat antologi puisi dalam bahasa Banjar. Penggunaan bahasa Banjar dalam percakapan sehari-hari orang Banjar mungkin sudah biasa, namun dalam sebuah karya sastra adalah sangat berharga. Inilah yang dilakukan oleh Abdurrahman El Husaini (AEH) dalam antologi puisi berbahasa Banjar yang berjudul Doa Banyu Mata.
Seperti yang diungkapkan kembali oleh Drs Rustam Effendi MPd PHd dengan Mata Banua, di ruangan S2 Manajemen Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat, pada Rabu (11/1) pagi.
Bahwa, semakin bahasa Indonesia difungsikan dalam berbagai aspek (karya), maka semakin berprestise dan semakin kuat kedudukannya di mata warganya. Kekuatan kedudukan bahasa Indonesia, harus diimbangi dengan kuatnya kedudukan dan fungsi bahasa daerah. Kalau tidak, kekuatan bahasa Indonesia akan memangsa kelemahan bahasa daerah.
“Dapat dilihat, bahwa untuk melestarikan bahasa dan budaya minoritas (bahasa dan budaya daerah) bukanlah hal yang mudah. Seperti halnya bahasa Inggris yang sudah memangsa gaya berbahasa dan berbudaya di seluruh dunia, apalagi budaya dan bahasa daerah” katanya.
Menurut HE Benyamine, kumpulan puisi berbahasa Banjar yang ditulis AEH, mengungkapkan berbagai perilaku manusia yang berhubungan dengan orang Banjar, keromantisan, persaudaraan, dan nasehat-nasehat dalam bergaulan.
Kesedihan, penyesalan, keharuan, keperihan, ketidakberdayaan, permohonan atau doa, hingga kebahagiaan mengalir melalui air mata. Terkadang banyu mata mengalir dengan sendirinya. Kilir-kilaran teringat orang yang dirindukan, membasahi segala keinginan membara untuk menerima kenyataan yang dapat teraih.
Air mata yang mengalir adalah kekuatan sekaligus kesadaran yang mampu melihat ke dalam diri sendiri, meskipun terlihat sebagai ketidak berdayaan. Mengalir hangat, mengalir perih, mengalir syahdu, dan mengalir sebagai kesadaran dan kekuatan yang terungkap dalam antologi puisi Doa Banyu Mata.
“AEH cukup berhasil mengalirkan ungkapan-ungkapan yang merupakan bahasa Banjar sehari-hari dalam bentuk puisi. Sehingga terasa mengusik dan menggelitik karena merupakan bagian dari kehidupan sendiri” ujarnya. ara/mb05

Jumat, 17 Februari 2012

020112-senin(selasa)-rencana kegiatan TB di 2012 (Dm.050112).doc

Photo: Drs Noor Hidayat Sultan

2012 Penggalian Seni Tradisi Kalsel


BANJARMASIN – Kalau di 2011, Taman Budaya (TB Kalsel) membukukan hasil penggalian data sastra sebelum perang. Maka di 2011, akan melakukan pengalian data dan membukukan beberapa kesenian tradisi.
Hal ini Hal ini diungkapkan oleh kepala Taman Budaya (TB) Kalsel Drs Noor Hidayat Sultan, beberapa waktu yang lalu dengan Mata Banua, di ruang kerjanya.
Menurutnya, salah satu pungsi dari TB adalah dokumentasi perkembangan seni budaya darah. Dan pembuatan buku sejarah sastra Kalsel adalah program TB Kalsel untuk 2011. Buku ini berjudul Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan Sebelum Perang (1930-1945). Mempunyai cover sampul berwarna coklat, dengan ketebalan 172 halaman.
Daftar isi buku antara lain, Bab pertama menceritakan tentang latar belakang, rumusan, tujuan dan manfaat penggalian data sejarah sastra Kalsel. Bab ke dua berisi karya sastra dan sastrawan Kalsel zaman Belanda. Bab ke tiga berisi karya sastra dan sastrawan Kalsel zaman Jepang. Dan Bab ke empat mengenai sejumlah nama dan karya sastrawan Kalsel.
Dengan keterbatasan dana, buku sejarah sastra Kalsel tersebut, hanya bisa dicetak 500 eksemplar. Bukunya tidak dikomersilkan, tapi dibagikan untuk sekolah, kampus, perpustakaan di Kalsel, maupun perpustakaan nasional. “Siapa yang memerlukan dan bukunya masih tersedia akan kami berikan” katanya.
Noor Hidayat  mengatakan, bahwa untuk di 2012, rencananya melakukan inventarisasi dan penggalian seni tradisi seperti tari, wayang gong, dan mamanda. Karena ada ke khawatiran, apabila tidak didokumentasikan menjadi sebuah buku, nantinya akan hilang.
Dokumentasi data saat ini hanya dalam bentuk makalah-makalah, dan kliping-kliping informasi seni tradisi yang dimuat oleh media massa. Serta banyak data yang hilang dan tercecer kemana-mana.
“Akan lebih baik apabila dokumentasi data tersebut, disatukan dalam sebuah buku literature. Selain akan menambah minat orang untuk membacanya, juga dapat dijadikan referensi pustaka dan penelitian lainnya” ujarnya. ara/mb05

Sabtu, 31 Desember 2011

261211-senin(selasa)-latar belakang buku sastra TB

Photo: Buku sejarah sastra Kalsel yang diterbitkan TB Kalsel

Harta Karun Perkembangan Sastra Kalsel

BANJARMASIN – Sastra Indonesia modern di Kalsel identik dengan sastra koran/majalah yaitu karya sastra yang dipublikasikan di koran/majalah, dan sastra buku yaitu karya sastra yang dipublikasikan dalam bentuk buku.
            Hal ini diungkapkan oleh kepala Taman Budaya (TB) Kalsel Drs Noor Hidayat Sultan, beberapa waktu yang lalu dengan Mata Banua, mengenai buku perkembangan sastra yang diterbitkan TB pada awal Desember 2011. Buku ini berjudul Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan Sebelum Perang (1930-1945).
            Menurut Noor Hidayat, karena sejarah kesusastraan Indonesia modern di Kalsel identik dengan sastra koran/majalah dasn buku, maka yang harus dilakukan adalah mencari dan mengumpulkan lagi koran/majalah tempo dulu. Tapi terbatas pada koran/majalah yang hanya mempunyai rubrik sastra, sebab tidak semua koran/majalah mempunyainya.
            Tidak mudah menggali dan mengumpulkan lagi data sastra sebelum perang. Sebab buku-buku sastra koleksi perorangan, koleksi instansi/lembaga dokumentasi dan perpustakaan ini, tersebar di dalam daerah maupun diluar Kalsel. Data ini adalah harta karun perkembangan sastra Kalsel, dan ini adalah pekerjaan besar.
            “Amat disayangkan apabila tidak ada pihak yang melakukannya, sekurang-kurangnya dalam bentuk sederhana. Oleh karena itu penggalian ini penting” katanya.
            Awalnya penggalian sejarah sastra Kalsel, direncanakan meliputi kurun waktu 1890 sd 1945. namun, minimnya data dan dokumentasi karya sastra Indonesia di Kalsel akhir abad XIX, membuat penggalian akhirnya difokuskan pada bahan-bahan yang dapat ditemukan, terbatas pada awal abad XX.
            Minimnya data sastra Indonesia modern di Kalsel sebelum abad XX, karena saat itu belum ada media cetak di Kalsel. Serta kemampuan membaca dan menulis aksara latin yang rendah. Lebih dominant saat itu pada sastra lisan (madihin, basyair, lamut dan pantun) yang dikenal masyarakat. Maka, penggalian lebih difokuskan pada jenis karya sastra (berbahasa Melayu – Indonesia) modern, yang diciptakan/dipublikasikan dalam kurun waktu 1930 sd 1945.
            “Dengan keterbatasan dana, saat ini hanya bisa dicetak 500 eksemplar. Bukunya tidak dikomersilkan, tapi dibagikan untuk sekolah, kampus, perpustakaan di Kalsel, maupun perpustakaan nasional. Siapa yang memerlukan dan bukunya masih tersedia akan kami berikan” pungkanya. ara/mb05

231211-jumat(sabtu)-TB terbitkan buku sastra

Photo: Buku sejarah sastra Kalsel yang diterbitkan TB Kalsel

TB Kalsel Terbitkan Buku Sejarah Sastra Kalsel

BANJARMASIN – Banyak kumpulan-kumpulan tulisan dan data-data sejarah seni budaya Kalsel, khususnya sastra yang tercecer dan tersebar dimana-mana. Akan sangat disayangkan, apabila data-data ini hilang begitu saja. Maka harus dikumpulkan dalam satu buku, sehinga memudahkan untuk mempelajarinya.
            Hal ini diungkapkan oleh kepala Taman Budaya (TB) Kalsel Drs Noor Hidayat Sultan, beberapa waktu yang lalu dengan Mata Banua.
            Salah satu pungsi dari TB adalah dokumentasi perkembangan seni budaya darah. Dan pembuatan buku sejarah sastra Kalsel adalah program TB Kalsel untuk 2011. Buku ini berjudul Sastra Indonesia Modern Di Kalimantan Selatan Sebelum Perang (1930-1945). Mempunyai cover sampul berwarna coklat, dengan ketebalan 172 halaman.
            Daftar isi buku antara lain, Bab pertama menceritakan tentang latar belakang, rumusan, tujuan dan manfaat penggalian data sejarah sastra Kalsel. Bab ke dua berisi karya sastra dan sastrawan Kalsel zaman Belanda. Bab ke tiga berisi karya sastra dan sastrawan Kalsel zaman Jepang. Dan Bab ke empat mengenai sejumlah nama dan karya sastrawan Kalsel.
            “Penggalian datanya dimulai dari bulan Juni 2011 Berisi kontribusi sastra di Kalsel, dan baru selesai di bukukan bulan Desember ini. Isinya mengenai tulisan-tulisan yang tercecer di mana-mana, baik di media cetak, catatan-catatan, makalah dll. Dengan keterbatasan dana, saat ini hanya bisa dicetak 500 eksemplar. Bukunya tidak dikomersilkan, tapi dibagikan untuk sekolah, kampus, perpustakaan di Kalsel, maupun perpustakaan nasional” ujar Noor Hidayat Sultan.
            Ia mengakui, kalau buku sejarah sastra yang diterbitkan TB Kalsel ini masih banyak kekurangan. Karena mungkin saja masih banyak data dan catatan sejarah sastra yang tidak tergali TB Kalsel.
Maka ia berharap agar masyarakat menginformasikan kekurangannya setelah membanding dengan yang telah dibukukan. Sehingga untuk selanjutnya bisa lebih disempurnakan lagi.
“Dengan waktu yang relatif singkat, memang masih jauh dari sempurna. Apabila ada sumber lain yang dapat melengkapi, kami sangat bersyukur dan itulah yang kami harapakan. Siapa yang memerlukan dan bukunya masih tersedia akan kami berikan” pungkanya. ara/mb05


240811-rabu(kamis)-antologi puisi relegius KeloS SeBSos (di Berita Kaki)


Photo: mb/ara
PENYERAHAN - Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan Antologi Puisi Religius, saat menyerahkan dengan Wakil Gubernur Kalsel

Photo: Cover Antologi Puisi Religius Indonesia

Jalan Terjal Antologi Puisi Para Kekasih

“KARYA puisi religius yang terkumpul dalam buku ini, sepintas terlihat sederhana. Tetapi justeru dari kesederhanaan itulah, buku ini mewariskan dan memelihara karya-karya puisi religius Indonesia.
Gagasan-gagasan segar, cerdas, dan kritis yang tertuang dalam puisi-puisi religius dalam buku ini, harus bisa dipetik sebagai sebuah inspirasi untuk memperkaya kreativitas kita dalam berkehidupan. Semoga buku ini menjadi sebuah karya yang membawa manfaat untuk memperkaya nilai-nilai kehidupan kita, demi meraih ridho ilahi” kata Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM, dalam kata sambutan untuk Antologi Puisi Religius Indonesia (APRI).
Selanjutnya, Wakil Walikota Banjarmasin H Irwan Anshari, berkomentar “kehadiran APRI ini, diharapkan dapat menambah khasanah perbendaharaan buku-buku yang memuat tentang beragam puisi, yang tentunya akan sangat bermanfaat, tidak hanya bagi para pecinta dan pencipta karya-karya puisi, namun juga untuk mereka yang ingin lebih mempelajari tentang puisi, khususnya bagi para mahasiswa dan pelajar.
Saya juga sangat apresiasi sekali dengan APRI, yang disusun sangat baik dan apik, yakni puisi dari beberapa penyair dan puisi dari peserta Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia. Judul yang ditampilkan juga sangat menarik, yakni PARA KEKASIH - Mengurai Rasa Dalam Kata Bagi Jiwa Penyaksi” ujarnya.
APRI di terbitkan oleh Kelompok Studi Seni Budaya Sosial Sastra (KeloS SeBSoS), yang hampir semua anggotanya dari FKIP Unlam Banjarmasin. APRI merupakan rangkaian dari kegiatan sebelumnya, yaitu Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia 1431 H, Ramadhan tahun lalu, di mana dalam support publikasi lombanya juga di bantu oleh Harian Pagi Mata Banua.
Penyair yang puisinya di muat dalam APRI, terdiri dari peyair nasional dan daerah, ada 10 penyair, yang sebagian diantaranya adalah Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Nur, Asrizal Nur dan Diah Hadaning. Kemudian, puisi sms, facebook, email dan puisi dari panitia sendiri, yang keseluruhannya ada 72 orang.
Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan APRI, pada Sabtu (20/8) dalam acara Sahur Bersama Seniman dan Wakil Gubernur Kalsel. Ia mengungkapkan “Satu tahun rentang waktu yang di jalani dari lomba tahun lalu, hingga APRI bisa diwujudkan Ramadhan ini.
Satu yang sangat penting untuk di ketahui, antologi ini bukan dengan tujuan komersil. Antologinya tidak di perjual belikan, tetapi atas bantuan donator yang menyumbangkan dananya, antologinya di bagikan untuk peserta lomba, penyair, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan di panti asuhan.
Banyak permasalahan dan kesulitan yang kami hadapi selama prosesnya, baik dari pendanaan untuk lomba dan cetak buku yang tidak mencukupi, maupun masalah pada percetakan. Tapi bukan berarti tidak banyak peminat dalam lomba Cipta Puisi SMS Religius, peminat yang mengirimkan puisinya sangat banyak sekali. Namun yang menjadi kendala, yaitu fasilitas dan dana itu sendiri.
Katakanlah ada empat jalan yang harus di lewati dalam prosesnya. Sepertiga jalan pertama, ketika persoalan lomba telah bisa di lewati, lagi-lagi terhalang oleh jurang dana. Kalau mencetak buku dengan jumlah yang sedikit, harganya akan lebih mahal, bahkan kalau pun di cetak, dan dibagikan untuk peserta sendiri tidak akan mencukupi” katanya.
Laila melanjutkan “kami panitia, sempat patah semangat. Tapi kakak-kakak di Art Partner yang membantu sejak awal proses kegiatan di mulai, terus mendorong kami agar untuk tetap maju menyelesaikannya.
Pada jalan ini, kakak kordinator di Komunitas Wartawan Seni Budaya & Pendidikan (Prasasti Pena), turut membantu mencarikan jalan keluar dan donator. Akhirnya terkumpul dana dari donator untuk mencetak antologi, sebesar Rp 4 juta untuk 300 eksemplar. Maka setengah jalan sudah di lalui, sedangkan rentang waktu semakin jauh, dan peserta lomba terus menanyakan bagaimana kelanjutan kegiatan.
Seper enam jalan berikutnya, kembali menghadapi dinding terjal, adanya permasalahan dari percetakan, satu bulan lebih draf antologi yang sudah diserahkan belum juga oleh percetakan di buat masternya, tentunya dengan beragam alasan kendala yang dilontarkan. Sekali lagi kakak-kakak di Art Parter yang mengambil alih, untuk membuatkan master antologinya melalui program Page Maker.
Setelah draf aster antologi siap di cetak, lagi-lagi dari percetakan terkendala dengan No ISBN  dari Perpustakaan Nasional, belum juga datang, hingga setelah dua bulan baru No ISBN di dapat. Dan di cetaklah pada minggu terkhir Juli 2011, yang selesai pada pertengahan Agustus 2011.
Seharusnya kami memang mengadakan launching, tapi karena dana kegiatannya sudah tidak mencukupi lagi, maka dana untuk launching itu di alihkan untuk biaya pengiriman antologi, kepada penyair dan peserta yang tersebar di seluruh Indonesia” ujarnya.
Menurut Laila “pagi ini, di gedung Mahligai Pancasila saat sahur bersama Wakil Gubernur (Wagub) Kalsel H Rudy Resnawan, anggaplah sebagai launching Antologi Puisi Para Kekasih. Karena donator utama dari kegiatan adalah bapak Gubernur Kalsel dan kami ingin menyerahkan dengan beliau antologinya. Tapi beliau berhalangan hadir, jadi penyerahan di wakili oleh Wagub.
Membagikan antologi untuk penyair dan peserta, memerlukan biaya pengiriman yang tidak sedikit, inilah jalan terakhir yang harus kami lalui. Untuk membesarkan semangat kami agar tidak menyerah, kakak koordinator Prasasti Pena mengatakan:
Sesuatu yang akan menjadi besar dan bertahan dalam waktu lama atau mungkin abadi hingga alam ini berakhir, tentunya tidak akan menemui jalan yang mudah dalam prosesnya” pungkas Laila mengutip nasehat. ara/mb02

010811-senin(selasa)-ogi & penerbitan

Photo: mahfuz

Membangung Masyarakat Melalui Menulis

BANJARBARU – “Kota pada dasarnya adalah kumpulan manusia yang memerlukan fasilitas seperti; gedung pemerintah, sekolah, plaza atau pasar. Pengertian ini menjadi sangat berbahaya jika logikanya dijungkir balikkan menjadi ‘Kota adalah kumpulan bangunan yang perlu di isi oleh manusia’.
            Pada pemahaman yang keblinger inilah manusia dijadikan objek dari sebuah kota. Artinya, kebijakan pembangunan dibuat, kemudian dicocok-cocokkan dengan manusia yang ada didalamnya” kata Ogi Fazar Nuzuli
            Selanjutnya menurut Ogi “kreatifitas adalah satu hal yang mudah diucapkan, namun relative sulit untuk dibentuk atau dibangun. Apalagi misalnya dengan slogan ‘Dengan Kesenian Kita Tingkatkan Kreatifitas Remaja’, adalah slogan yang benar-benar memerlukan kesungguhan untuk mewujudkannya.
            Kesungguhan yang dimaksud adalah keseriusan dalam pemikiran daya dan upaya, karena kalimat romantis atau heroik saja, belum cukup untuk mewujudkan cita-cita itu. Membangun kreatifitas masyarakat melalui kesenian, tak cukup dengan talenta. Diperlukan mekanisme manajerial untuk sampai pada titik pencapaian” itulah sebagian tulisan dalam kumpulan esai wakil walikota Banjarbaru ini, dalam bukunya yang berjudul Melawan Dengan Budaya.
            Sabtu (29/7) malam, di Minggu Raya Banjarbaru dalam acara launching novel karya Rico Hasyim yang berjudul Minggu Raya, dan dihadiri oleh tokoh-tokoh teman sepermainan Ogi angakatan tahun 70-an, dan para seniman Banjarbaru.
            Sebagai tanda persahabatan teman lama, saat itu Ogi juga menyerahkan buku esai yang telah diterbitkannya, kepada H Fachruddin Nor Ifansyah Pimpinan Redaksi Harian Pagi Mata Banua yang turut menghadiri acara pada malam tersebut.
            Di lain pihak, Ogi menuturkan lebih jauh kepada Mata Banua “esai saya bercerita tentang apa yang saya ketahui tentang seputar Banjarbaru. Isinya banyak bernada sinis dan tidak sepakat dengan pemerintah, hingga pada akhirnya saya sendiri menjadi bagian dari pemerintah. Tetapi itulah hasil pemikiran yang saya ungkapkan, terhadap ketidak puasan pada pemerintah saat itu, baik pembangunannya atau pun yang lainnya.
            Tetapi pemikiran, hanya menjadi pemikiran apabila tidak diupayakan sebuah jalan untuk mewujudkannya, maka bersama kawan-kawan yang sering nongkrong dan berdiskusi di Minggu Raya Banjarbaru, melalui penerbitan Mingguraya Press, impian menerbitkan buku tidak hanya menjadi impian lagi. Ini adalah sesuatu yang menggembirakan bagi kawan-kawan yang gemar menulis dan ingin diterbitkan.
            Lahirnya penerbitan buku, merupakan gerakan dari sisi sosial, kemudian dilanjutkan dengan dukungan dari pemerintah, karena dengan kita sering menulis atau menerbitkan suatu tulisan, berarti membangun suatu masyarakat” pungkasnya. ara/mb05
.

310711-minggu(senin)-launching novel minggu raya (Dm.di Cat.kaki.hal 1)

Photo: mahfuz

MGR Banjarbaru Memacu Sastra Melalui Penerbitan Buku

Kebersamaan dan saling mendukung menjadi modal untuk meningkatkan perkembangan sastra pada suatu kota.

SUASANA malam Minggu 30 Juli 2011 di Warung Seniman (WS) Kedai Kopi Nusantara, yang terletak disudut Minggu Raya seberang Lapangan Dr Murjani Banjarbaru, terlihat ramai dengan kehadiran tokoh-tokoh seni dan sastra, serta tokoh-tokoh era 70-an yang pernah mewarnai perjalanan dan perkembangan Minggu Raya hingga sekarang.
            Berkumpulnya tokoh-tokoh 70-an yang telah sukses dengan karier masing-masing, untuk melepas rentang waktu perpisahan, mengulang kisah kenakalan dan keceriaan masa remaja. Diantara tokoh-tokoh yang hadir pada malam itu antara lain Ogi Fajar Nuzuli, Dewa Pahuluan, Adi Yusfa, Tribuana, Fachruddin Nor Ifansyah, Arsyad Indradi, Hamami Adaby, Sirajul Huda, Ali Syamsudin Arsy, Abdurrahman El Husaini, HE Benyamine, dll.
            Bukan tanpa sebab hadirnya para tokoh tersebut, melainkan dalam rangka launching novel Rico Hasyim yang juga merupakan salah satu tokoh 70-an Minggu Raya. Pada waktu yang bersamaan, Ogi Fajar Nuzuli turut membagikan bukunya yang berjudul Melawan Dengan Budaya, begitu pula dengan Abdurrahman El Husaini yang membagikan kumpulan puisi bahasa Banjarnya yang berjudul Doa Banyu Mata.
            Mengenai novel yang dikarangnya, Rico Hasyim berkata “novel ini menceritakan pengalaman masa remaja kami di Banjarbaru pada 30 tahun yang lalu, ada 7 orang yang menjadi tokoh cerita, alur cerita 70 persen diangkat dari kisah nyata, sisanya adalah hiasan sebuah imajinasi.Minggu Raya menjadi kenangan kami, kenangan itulah yang saya tuangkan dalam novel yang berjudul Minggu Raya” ujarnya.
            Nico mengakui bahwa dorongan terbesar yang menyebabkan ia mengarang novel ini, adalah dari kawan-kawan sepermainan masa kecilnya, serta dari para sastrawan yang sering berkumpul dan berdiskusi di Warung Seniman Minggu Raya. “Namun novel ini tidak akan terwujud, apabila bukan karena peran serta MGR dengan penerbitan Minggu Raya Pres Banjarbaru” ungkapnya.
            Dilain pihak Dewa Pahuluan selaku Presiden MGR Banjarbaru, berkomentar “novel Rico Hasyim ini menceritakan kehidupan anak muda kota Banjarbaru pada masa penulisnya, bertutur tentang kesetiakawanan dan persaudaraan, keceriaan yang diwarnai dengan imajinasi dan kreativitas, yang ditulis secara ringan dan mengalir.
            Sementara itu, kebersamaan para penulis di Banjarbaru untuk saling mendukung dalam berkarya, itulah yang aku kagumi. Oleh karena itu, MGR akan selalu siap membantu para pelaku seni di Banjarbaru yang ingin membuat buku” pungkasnya. ara/mb02
           
           

Jumat, 30 Desember 2011

060511-jumat(sabtu)-anak rege bagi buku


Photo: mb/ara
BAGI BUKU – Sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Komunitas Rege Banjarmasin, membagi-bagikankan buku kepada masyarakat Banjarmasin.

Komunitas Rege Bagikan Buku

BANJARMASIN – Penampilan yang sangar dengan rambut gimbal dan tubuh yang tatoan, bukan berarti hatinya sesangar penampilannya. Sementara banyak orang yang berpenampilan rapi dan necis, tetapi hanya memikirkan dirinya sendiri.
Sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Komunitas Rege Banjarmasin, pada Kamis (5/5) sore, di simpang empat depan kantor pos, tampak membagi-bagikankan buku yang berjudul Total Quality Management (TQM) dan Six Sigma (SS), kepada masyarakat Banjarmasin.
Avet, koordinator pembagian buku, mengatakan “buku yang kami bagikan ini membahas tentang penggunaan teknologi informasi dalam penerapan TQM dasn SS, yaitu dua manajemen kualitas yang popular di Indonesia. Kegiatan ini merupakan bentuk dari peringatan ulang tahun Komunitas Rege Banjarmasin (KRB) yang baru berusia satu tahun.
Kami ingin mengasih pandangan pada masyarakat, bahwa orang-orang gimbal tidak seperti yang terlihat. Kami juga mempunyai kepedulian terhadap pendidikan, salah satunya dengan membagi-bagikan buku kepada masyarakat, dan juga membagikan buku tulis untuk sekolah anak-anak jalanan yang ada di pasar lima. Total buku yang kami bagiakan semuanya, ada 1000 eksemplar” ujarnya.
Menurut Avet “saat ini anggota KRB sudah ada 65 orang, dan kami sudah sering mengadakan event-event di Banjarmasin. Kami juga punya usaha, seperti kafe dan photo grafi” pungkasnya. ara/mb05

070411-kamis(jumat)-buku ogi


Photo: Ogi Fajar Nuzuli

Ogi Fajar Nuzuli Terbitkan Buku

BANJARBARU – Keterbukaan seorang pemimpin memang harus diketahui masyarakatnya. Keterbukaan dalam pemikiran dan pendapat tentang suatu keadaan. Sehingga masyarakat luas mengenal lebih baik bagaimana sosok pemimpinnya sendiri. Hal inilah yang dilakukan oleh Wakil Walikota Banjarbaru Ogi Fajar Nuzuli, melalui buku yang sedang disiapkannya untuk di terbitkan.
            Harie Insani Putra, koordinator buku Ogi, mengabarkan ” isi dari buku Ogi Fajar Nuzuli, merupan hasil pemikiran pribadi, tentang pandangan dan semangat membangun kearah yg lebih baik. Bentuk dari tulisan Ogi, lebih cenderung seperti sebuah esay, karena berisi tentang kritik, masalah dan penyelesaiannya.
Secara keseluruhan apa yang dia tuliskan adalah berdasarkan pengalaman pribadi, yg melihat lansung perkembangan di luar dari Banjarbaru khususnya dan Kalsel pada umumnya. Bahwa daerah kitapun mampu melakukan sesuatu yang lebih baik, seperti yang telah dilakukan oleh daerah lain atau Negara lain.
Buku yang berisi sebuah perbandingan menuju pembangunan daerah. Ogi sendiri banyak memberi semangat dan motivasi, bahwa kita mampu seperti mereka” ujarnya.
Harie melanjutkan “dalam bukunya Ogi berbicara tentang pengelolaan dan perawatan daerah serta sistem pemerintahan yang lebih baik, yang mencakup antara lain penataan kota, kesenian, olah raga, perkembangan teknologi dan yang terbanyak membicarakan pendidikan dan budaya.
Buku Ogi ini mempunyai ketebalan kurang lebih 250 halaman, dengan warna dasar sampul hitam, yang akan diterbitkan oleh Minggu Raya Pres Banjarbaru. Direncanakan terbit pada April sebanyak seribu eksemplar. 99 persen proses pengerjaannya sudah selesai, tinggal menunggu pengantar dari salah satu tokoh Banjarbaru, untuk judul buku Melawan Dengan Budaya” ungkapnya.
Dilain pihak, saat di Temui Mata Banua dikantor Wakil Wali Kota Banjarbaru, pada Rabu (6/4), Ogi mengatakan “buku ini merupakan pandangan aku tentang berbagai hal, tentang permasalahan dan solusi suatu keadaan.
Perlu diketahui, tulisanku dalam buku ini bukan sebagai Wakil Walikota ataupun sebagai ketua Dewan Kesenian Banjarbaru. Maupun sebagai seseorang dalam suatu jabatan yang pernah kupegang. Tapi murni secara pribadi sebagai masyarakat umum, tidak keterkaitan dengan jabatan.
Bukuku ini lebih banyak berbicara tentang pikiran dan hati. Sebelumnya, setelah aku dilantik sebagai Wakil Walikota Banjarbaru, pada 2010 yang lalu, aku berpikir bahwa masyarakat perlu tahu bagaimana pemikiranku. Karena itulah kususun buku ini, ditengah kesibukan tugas jabatan yang sangat banyak” pungkasnya. ara/mb05

Minggu, 25 Desember 2011

270311-Inventarisasi Pengobatan Tradisional Kalsel

Inventarisasi Pengobatan Tradisional Kalsel

BANJARMASIN - Inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah (IDKD) Kalsel, untuk menggali dan mengungkapkan khasanah budaya luhur bangsa. Memang sudah seharusnya dilakukan agar dari beragam suku yang berbeda dapat saling memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang pada tiap-tiap daerah. Serta bisa menjadi sumber referensi dalam usaha meningkatkan kebudayaan daerah.
            Di Kalsel sangat banyak kebudayaan pengobatan tradisional daerah dari tumbuh-tumbuhan. Inventarisasi dan dokumentasi dari kekayaan pengobatan tradisional ini memang menjadi hal mutlak dilakukan, sehingga dapat dikembangkan lebih jauh lagi.
            Terkait dengan inventarisasi dan dokumentasi pengobatan tradisional, pada perbincangan Mata Banua dengan Drs.Syarifuddin R, Sabtu (26/03) sore, mengatakan “kami sudah pernah melakukan inventarisasi dan dokumentasi pengobatan tradisional dan hasil dari penelitian tersebut sudah dijadikan buku. Walaupun saat itu tidak dicetak dalam jumlah besar.
            Seperti yang tertulis dalam pengantar buku oleh Attabranie Kasuma, kata Syarifuddin “penelitian tersebut dilakukan pada proyek IDKD Kalsel dalam tahun anggaran 1988-1989. Untuk mendapatkan data dan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan, kami menetapkan ketua tim yang sekaligus dapat memilih anggotanya. Tim ini kemudian turun kelapangan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang relevan dan sesuai dengan aspeknya. Dari data yang terkumpul dijadikan sebuah naskah (draft I).
            Pelaksanaan tugas tidak berdiri, karena penelitian tidak akan berhasil tanpa bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, kecamatan, desa dan sampai perorangan.
            Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah di Kalsel ini sejak tahun anggaran 1977-1978 sampai dengan 1987-1988. sebagai pemimpin proyek adalah Drs H Yustan Aziddin dari Kaneil Dinas Pendidikan Kalsel. Sedangkan tahun anggaran 1988-1989 sebagai pemimpin proyek adalah Attabranie Kasuma.
            Dan untuk penelitian pengobatan tradisional Kalsel, sebagai konsultan Drs Soekarno. Sebagai peneliti/ penulis yaitu Drs H Yustan Aziddin (ketua) dan aku sendiri sebagai anggota” ujarnya.
            Lanjut Syarifuddin “hasil penelitian dijadikan buku pada 1990 dengan judul Pengobatan Tradisional Kalimantan Selatan. Diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, dan Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya.
            Bukunya setebal 153 halaman, terdiri dari tujuh BAB. Pada BAB tiga berisi 34 pengobatan tradisonal penyakit luar. BAB empat berisi 41 pengobatan tradisional untuk penyakit dalam. BAB lima berisi 9 tindakan dalam perawatan pengobatan tradisional. Dan BAB enam berisi 5 macam ahli pengobatan tradisional di Kalsel.
            Tentunya apa yang sudah kami lakukan, bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Sehingga hasil penelitian yang sudah kami lakukan bisa menjadi referensi untuk mengangkat lebih jauh tentang pengobatan tradisional daerah kita, agar tidak hilang ditelan zaman” pungkasnya. ara/mb05