Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hindu. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

150412-minggu(senin)-dharma santi nyepi hindu (di mozaik).doc


Photo: mb/ara
TARI BALI – Tari Puspanjali yang dibawakan sanggar Hata Widya dari Banjarbaru, dalam Dharma Santi Nyepi di Pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel

Dharma Santi Nyepi Untuk Meningkatkan Kerukunan Umat

Dharma Santi sangat penting dilaksanakan untuk menjaga keutuhan dan tata krama umat Hindu, serta menjaga kerukunan antar umat.
Acara mengangkat tema yaitu Dilandasi Nilai Nyepi Saka Warsa 1934 dan Tri Kaya Parisudha, Kita Tingkatkan Keukunan, Kedamaian dan Kesejahteraan.
            Hal ini disampaikan oleh I Ketut Artika, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalsel (periode 2011 – 2016), kepada Mata Banua pada Sabtu (14/4) malam, ditengah-tengah prosesi acara Dharma Santi umat Hindu Kalsel di Pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel di jalan Gatot Subroto Banjarmasin.
            Acara Dharma Santi dihadiri semua perwakilan umat hindu yang ada di kabupaten/kota di Kalsel, baik umat hindu dari etnis Bali, Jawa, dan Dayak. Serta tokoh  Hindu yang datang dari pulau Bali, yaitu Drs Gede Rudia Adiputra mantan pembina Hindu di Kalsel dan Nengah Mandiarsa.
Gede Rudia adalah salah satu sesepuh yang turut membangun Pura Agung Jagat Natha. Selanjutnya ada pula hadir dari tokoh Konghucu yang juga turut membantu keberadaan Pura Agung Jagat Natha, yaitu Theo Han Ing..
            Menurut Ketut Artika, Dharma Santi adalah rangkaian terakhir dari hari raya Nyepi yang dilaksanakan pada 23 Maret 2012 yang lalu. Dalam Dharma Santi umat Hindu berkumpul untuk bersilaturahmi, saling maaf memaafkan serta mendapat siraman rohani. Sebelumnya juga ada kegiatan sosial (bakti sosial), dan kegiatan kemanusiaan (donor darah). Pengertian Dharma Santi kalau dalam umat Islam seperti Halal Bihalal.
            Ketut Artika meminta maaf, karena Dharma Santi kali ini (2012) belum bisa mengundang lembaga kerukunan lain seperti FKUB, IKASBA dan lembaga pemerintah. Dharma Santi kali ini dilakukan sangat sederhana di pura dan untuk konsolidasi intern umat Hindu di Kalsel. Konsolidasi berisi bagaimana agar umat hindu di Kalsel bisa hidup rukun, damai dan sejahtera dengan umat lain.
            Ia berjanji, untuk tahun depan (2012) pada peringatan Dharma Santi akan mengundang tokoh agama umat lain dan lembaga kerukunan dan lembaga pemerintah. Karena PHDI selalu berusaha turut menjaga kerukunan antar umat serta mendukung program pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat.
            Ketut Artika menghimbau Hindu di Kalsel, agar selalu ingat bahwa berdirinya Pura Agung Jagat Natha berkat jasa serta bantuan dari tokoh-tokoh umat lain. Pura Agung Jagat Natha dirintis sejak 1982 dan diresmikan pada 1986. “Pura ini bukan umat Hindu saja yang membangunnya, oleh karena itu saya tekankan untuk umat hindu di Kalsel untuk tetap dan terus saling harga menghargai dan menjaga kedamaian” katanya.
            Made Supana, Sekertaris Panitia Dharma Santi Nyepi menambahkan. Bahwa selain konsolidasi intern umat Hindu Kalsel dan siraman rohani. Juga ada penyerahan penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang telah berjasa membantu membangun pura.
Antara lain, Nengah Mandiarsa, Theo Han Ing, Made Wirata, Putu Sastrawan. Kemudian tokoh yang telah meninggal dunia yaitu Gde Udayana, Subiarsa, Made Sumartana,  Damang Pepen dan Suriansyah.
Selanjutnya ada beberapa persembahan tari Bali, yaitu Tari Puspanjali yang dibawakan sanggar Hata Widya dari Banjarbaru, pimpinan Hata Widya. Tari Sekar yang dibawakan sanggar Cendendrawasih dari kampung Baru Pelaihari, pimpinan Made Mastri. Tari Tenun yang dibawakan sanggar Hata Widya dari Banjarbaru. Dan tari Bondres dari Batu Licin, yang ditarikan oleh Putu Subagia dan Putu Sudana.
“Tari Bondres adalah tari topeng Bali yang langka ditarikan, karena hanya dalam acara ritual keagamaan” ujar Made Supana. ara/mb02

150412-minggu(senin)-Tri Kaya Parisudha dlm dharma santi nyepi hindu (di mozaik).doc


Menyucikan Pikiran Demi Kerukunan Antar Umat

Pikiran adalah asal mula dari tindakan, oleh karena itu harus disucikan. Pikiran yang murni akan terpantul, serta terpancarkan sinar yang menyejukkan orang-orang yang ada di sekitar.
Hal ini diungkapkan oleh I Ketut Artika, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalsel (periode 2011 – 2016), kepada Mata Banua pada Minggu (15/4) siang. Apa yang dijelaskan Ketut Artika tentang pikiran, terkait makna Dharma Santi umat Hindu Kalsel di Pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel di jalan Gatot Subroto Banjarmasin, pada Sabtu (14/4) malam.
            Menurutnya, menyucikan pikiran merupakan bagian dari Tri Kaya Parisudha, yang merupakan tema dalam Dharma Santi umat Hindu di 2012. Yaitu Dharma Santi yang dilandasi Nilai Nyepi Saka Warsa 1934 dan Tri Kaya Parisudha, Kita Tingkatkan Keukunan, Kedamaian dan Kesejahteraan.
            Tri Kaya Parisudha artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berpikir yang bersih dan jernih (Manacika), berkata yang benar (Wacika), dan berbuat yang jujur (Kayika).
Tri berarti tiga, kaya berarti karya atau perbuatan atau kerja atau perilaku. Parisudha berarti upaya penyucian. Maka arti keseluruhannya yaitu upaya pembersihan/ penyucian atas tiga perbuatan atau perilaku.
Berpikir yang bersih dan jernih untuk pengendalian pikiran dalam upaya penyuciannya, ada tiga macam. Yaitu tidak menginginkan sesuatu yang tidak layak atau halal, tidak berpikiran negatif terhadap makhluk lain, serta tidak mengingkari hukum Karma Phala yaitu hukum pengatur yang bersifat universal.
            Berkata yang benar, untuk pengendalian dalam upaya penyuciannya, ada empat macam. Yaitu tidak suka mencaci maki, tidak berkata-kata kasar kepada siapapun, tidak menjelek-jelekkan, apalagi memfitnah makhluk lain, serta tidak ingkar janji atau berkata bohong.
            Berbuat yang jujur, untuk pengendaliannya dalam upaya penyucian fisik dan perilaku. Yaitu tidak menyakiti, menyiksa, apalagi membunuh makhluk lain. Tidak berbuat curang, sehingga merugikan orang lain. serta Tidak melakukan perbuatan tercela seperti berjinah dll.
            Oleh karena itu, sangat penting menyucikan pikiran. Karena bila pikiran keruh akan meruwetkan segala urusan. Pikiran murni dan pikiran keruh, sangat tergantung dari cara memandang serta menyikapi persoalan. Untuk menyucikan pikiran, perlu memperbaiki pandangan melalui pemahaman yang baik dan mencukupi tentang ajaran agama.
            “Orang yang mempunyai pikiran yang jernih, tentunya juga akan menjaga kerukunan, kedamaian dan kesejahteraan antar umat” ujarnya. ara/mb02

250312-minggu(senin)-Nyepi hindu mengendalikan korupsi (di berita kaki).doc


Photo: mb/ara
NYEPI – Prosesi ritual perayaan Hari Raya Nyepi di Pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel di jalan Gatot Subroto Banjarmasin

Nyepi Mengendalikan Keinginan Korupsi

Keinginan korupsi tergantung dari diri sendiri dan seberapa dalam pendalaman kerohanian. Pengendalian dari keinginan yang akan membawa seseorang, apakah ia akan melakukan perbuatan yang terpuji atau sebaliknya.
Pengendalian diri yang utama tentu tidak terlihat, karena lahir dari rohani. Ibadah luar yang dilakukan juga tidak akan berarti, bila pendalaman rohaninya tidak sebenar-benarnya. Atau tidak seimbang antara rohani dan jasmani, karena bisa saja keinginan yang menyimpang yang tetap dominan.
Semua agama tentunya mengharapkan korupsi hilang, demi kemakmuran dan kesejahteraan umat. Kesadaran dan penyadaran keinginan inilah, yang merupakan hukum sebenarnya.
Hal ini diungkapkan oleh I Ketut Artika, Ketua PHDI Kalsel (periode 2011 – 2016), kepada Mata Banua pada Kamis (22/3) sore, menjelang prosesi ritual perayaan Hari Raya Nyepi di Pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel di jalan Gatot Subroto Banjarmasin.
Kita Adalah Satu, Keragaman Agama Dan Persaudaraan Sesama Umat Beriman Mewujudkan Kedamaian Dan Kesejahteraan, menjadi tema perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934.
Menurut Ketut Artika, dalam hidup sudah pasti ada keinginan. Keinginan yang tidak terkendali yang akan mengarah pada penyimpangan. Dalam agama Hindu, disebut Catur Purusarttha (empat tujuan akhir).
Tujuan hidup yang pertama adalah Dharma yang berarti agama atau kewajiban. Menjadi manusia yang beragama berarti hidup bermoral, yang akan menjadi landasan hidup berikutnya.
Tujuan hidup kedua adalah Artha, artinya materi atau secara sempit disebut uang. Secara luas Artha diartikan sebagai keberhasilan atau kesuksesan. Untuk hidupnya manusia memerlukan materi, tapi bagaimana mencapai materi itu harus berdasarkan agama dan dipergunakan sesuai dengan moral agama.
Tujuan hidup ketiga adalah Kama, yang dalam arti sempit yaitu kesenangan atau kegemaran, kesenangan bisa berarti pula keinginan. Kama yang dilihat sebagai sarana untuk membantu yang lain, bukan hanya untuk diri sendiri. Kesenangan yang memang harus dikendalikan agar tidak menyimpang.
Tujuan hidup keempat adalah Moksa, yaitu pembebasan akhir dari keinginan. Memperoleh moksa dianggap pencerahan dan kebebasan. Ada empat jalan untuk menuju  Moksa, yaitu pengetahuan, tindakan, pengabdian dan penolakan.
Rangkaian ritual hari raya Nyepi sudah dilaksanakan satu hari sebelumnya yaitu Mekis, Melasti dan hari ini Tahur Sesangu Mecaru di halaman depan pura, dilanjutkan malamnya dengan sembahyang bersama, baru melaksanakan Catur Brata Penyepian empat larangan.
Umat Hindu di Banjarmasin, berkisar 100 kepala keluarga. Itupun yang terdaftar di di Pura Agung Jagat Natha, yang mengikuti kegiatan arisan rutin. Sedangkan yang tidak ikut lebih banyak lagi.
Untuk se-Kalsel kurang lebih ada 35 ribu jiwa. Hampir ditiap kabupaten di Kalsel ada pura, seperti di Batola, Pelaihari, Sebamban, Tanjung, Tapin, dan lainnya. Dan sebagai pusat pura yaitu di Pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel yang terletak di jalan Gatot Subroto Banjarmasin. Setiap perayaan hari raya Nyepi akan datang umat hindu dari daerah lain ke pura Agung Jagat Natha.
Puncak perayaan Nyepi berlangsung pada Jumat dari pukul 06.00 wita hingga pukul 06.00 Sabtu pagi. Dimana di isi dengan melakukan Catur Brata Penyepian, yakni tidak bekerja (Amati Karya), tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak bersenang senang (Amati Lelanguan).
“Pantangan ini sangat sulit dihadapi, dan sungguh amat sulit dilaksanakan. Pantangan yang harus dilewati dengan perjuangan yang sangat berat, karena musuh yang dihadapi adalah nafsu yang ada didalam diri” katanya.
            Tidak bekerja adalah membiarkan pikiran hening, agar bisa melakukan perenungan yang dalam atas apa yang telah dilakukan. Tidak menyalakan api atau mematikan api adalah mematikan nafsu buruk. Tidak bepergian dan tidak mencari hiburan adalah menghilangkan dari pikiran semua kemewahan dan kegemaran yang biasa dilakukan.
Brata penyepian ini dilakukan tanpa ada paksaan dari luar, tanpa pengawasan dari orang lain. Karena pengendalian diri harus muncul dari dalam diri sendiri
            Ketut Artika menghimbau umat hindu di Kalsel, untuk intropeksi diri, mawas diri, mempertebal keimanannya, kerukunan agamanya, baik intern dan antar agama.. Jika tahun lalu suka curang, emosional, berjanji tanpa bukti, korupsi besar atau kecil, maka berbuat baiklah di tahun depan. Kendalikan diri, merenungi kehidupan yang lalu, untuk hari esok yang lebih baik.
Apabila perlu, mari semua agama bersembayang bersama, tentunya dengan cara masing-masing. Lalu berkumpul bersama dan berdoa, semakin sering dilaksanakan  semakin bagus. Karena dengan kebersamaan akan semakin lebih baik.
            “Tidak lupa kami mendoakan saudara-saudara kita yang mendapat musibah air pasang di Tanah Bumbu. Berdoa utuk keamanan semua makhaluk hidup yang ada, mudah-mudahan semua alam semesta selalu bersahabat dengan kita semua”ujarnya. ara/mb02

250312-minggu(senin)-nyepi hindu di Bjm.doc



Photo: mb/ara
NYEPI – Prosesi ritual perayaan Hari Raya Nyepi di Pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel di jalan Gatot Subroto Banjarmasin

Keragaman Agama Dan Persaudaraan Dalam Nyepi

BANJARMASIN – Kita Adalah Satu, Keragaman Agama Dan Persaudaraan Sesama Umat Beriman Mewujudkan Kedamaian Dan Kesejahteraan, menjadi tema perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934.
Menurut I Ketut Artika, Ketua PHDI Kalsel (periode 2011 – 2016), kepada Mata Banua pada Kamis (22/3) sore, menjelang prosesi ritual perayaan Hari Raya Nyepi di Pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel di jalan Gatot Subroto Banjarmasin. Bahwa dalam hidup sudah pasti ada keinginan. Keinginan yang tidak terkendali yang akan mengarah pada penyimpangan.
Tujuan hidup dalam agama Hindu, disebut Catur Purusarttha (empat tujuan akhir). Tujuan hidup yang pertama adalah Dharma, kedua adalah Artha, ketiga adalah Kama, dan yang keempat adalah Moksa, yaitu pembebasan akhir dari keinginan. Memperoleh moksa dianggap pencerahan dan kebebasan. Ada empat jalan untuk menuju  Moksa, yaitu pengetahuan, tindakan, pengabdian dan penolakan.
Ketut Artika menghimbau umat hindu di Kalsel, untuk intropeksi diri, mawas diri, mempertebal keimanannya, kerukunan agamanya, baik intern dan antar agama.. Jika tahun lalu suka curang, emosional, berjanji tanpa bukti, korupsi besar atau kecil, maka berbuat baiklah di tahun depan. Kendalikan diri, merenungi kehidupan yang lalu, untuk hari esok yang lebih baik.
Abila perlu, mari semua agama bersembayang bersama, tentunya degan cara masing-masing. Lalu berkumpul bersama dan berdoa, semakin sering dilaksanakan  semakin bagus. Karena dengan kebersamaan akan semakin lebih baik.
            “Tidak lupa kami mendoakan saudara-saudara kita yang mendapat musibah air pasang di Tanah Bumbu. Berdoa utuk keamanan semua makhaluk hidup yang ada, mudah-mudahan semua alam semesta selalu bersahabat dengan kita semua”ujarnya. ara/mb05

Jumat, 30 Desember 2011

300511-senin(selasa)-ngaben (Dm. di Headline hal.1)


Photo: syarif

Ngaben Pertama Di Kecamatan Wana Raya Batola

BATOLA - Ngaben adalah upacara pembakaran mayat atau kremasi umat Hindu di Indonesia. Acara Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengirim jenasah kepada kehidupan mendatang.
Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan demikian (tertidur). Tidak ada airmata, karena jenasah secara sementara waktu tidak ada dan akan menjalani reinkarnasa atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi).
            Mata Banua berkesempatan menyaksikan prosesi ritual ngaben yang dilaksanakan pertama kali oleh desa Dwipa Sari, kecamatan Wanaraya, kabupaten Batola, pada Senin (30/5). Ritual ngaben juga dihadiri oleh Camat Wanaraya, Sunarno beserta staf kecamatan, warga desa Dwipa Sari maupun desa sekitarnya, serta warga muslim yang ikut menyaksikan.
            Menurut penuturan kepala desa, Inyoman Kajeng, “desa Dwipa Sari ada 131 kepala keluarga, 29 kepala keluarga diantaranya muslim dan sisanya adalah umat Hindu Bali. Ini adalah pertama kali di desa kami mengadakan ngaben. Biasanya ngaben dilakukan bersama-sama atau dengan beberapa kepala keluarga, sebab biayanya yang sangat mahal.
Tapi karena yang meninggal ini adalah Pinandita I Wayan Reza (51) yaitu tokoh agama Hindu di sini, maka sebagai penghormatan atas status derajatnya, dari pihak keluarga dan warga di sini saling tolong menolong menyelenggarakan ngaben. Pinandita sama dengan Pendeta, sama-sama untuk memimpin ritual keagamaan, tetapi tingkatannya lebih rendah, katanya menjelaskan.
            Ketua PHDI Basarang, Wayan Sindra menambahkan “pada hari ini, acara ngaben di pimpin oleh pandita Sri Rsi Yasa Subrata dari Kapuas. Tubuh jenasah diletakkan di dalam wadah berbentuk vihara yang terbuat dari kayu dan kertas dan di iringi dengan patung lembu. Bentuk lembu atau vihara dibawa ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Prosesi ini tidak berjalan pada satu jalan lurus. Hal ini guna mengacaukan roh jahat dan menjauhkannya dari jenasah.
Puncak acara Ngaben adalah pembakaran keseluruhan struktur (Lembu atau vihara yang terbuat dari kayu dan kertas), berserta dengan jenasah. Api dibutuhkan untuk membebaskan roh dari tubuh dan memudahkan reinkarnasi.
Ngaben tidak senantiasa dilakukan dengan segera. Untuk anggota kasta yang tinggi, sangatlah wajar untuk melakukan ritual ini dalam waktu 3 hari. Tetapi untuk anggota kasta yang rendah, jenasah terlebih dahulu dikuburkan dan kemudian, biasanya dalam acara kelompok untuk suatu kampung, dikremasikan.
Upacara ngaben dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi” pungkasnya. ara/mb02

280411-kamis(jumat)-lokasaba hindu (Dm.300411)


Photo: mb/ara
MUSDA – Loka Sabha (Musda) IV Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalsel, dimeriahkan pula dengan persembahan Tari Baksa Kembang yang dibawakan oleh sanggar Para Nusa Taman Budaya Banjarmasin.

Mengedepankan Kerukunan Antar Umat Beragama

BANJARMASIN – Menjaga kerukunan antar umat beragama menjadi faktor penting dalam mewujudkan kedamaian dan pembangunan daerah.
            Menurut Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin, dalam sambutannya pada Loka Sabha (Musda) IV Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalsel, yang dibacakan oleh kesbang polimas provinsi Kalsel, H Fahrudin “kerukunan yang terbina selama ini di Kalsel, akan menjadi kekuatan kita untuk membangaun daerah, untuk lebih maju dan berkembang”
            Dilain kesempatan, wawancara khusus Mata Banua dengan Ketua PHDI Kalsel terpilih untuk periode 2011 – 2016, I Ketut Artika yang di dampingi oleh Wakil Ketua Bidang Sosial dan Kemasyarakatan, I Made Supana, pada Rabu (27/4) malam, seusai ritual Pagar Wesi yang merupakan rangkaian acara Hari Raya Saraswati, di Pura Agung Jagat Natha Banjarmasin. Ia menjelaskan tentang program kerja PHDI IV, serta peran serta umat Hindu dalam kerukunan antar umat beragama di Kalsel.
Ketut Artika mengatakan “program kerja dari PHDI IV adalah mengedepankan bidang pendidikan dalam artian luas, meningkatkan kualitas SDM Hindu.
Kemudian, menjaga hubungan intern antar umat Hindu di Kalsel dan yang terutama menjaga hubungan antar umat beragama di Kalsel, serta menjaga hubungan yang baik dengan pemerintah daerah” ujarnya.
Menurut Ketut “bergabungnya kami dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Kalsel, merupakan sesuatu yang sangat bagus sekali. Bersama umat lain di FKUB, kita saling syering dan khususnya membahas permasalahan daerah kita.
Untuk program PHDI IV yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini, yaitu lebih dulu menyatukan umat Hindu yang ada Kalsel” katanya.
            Sebelumnya, Musda IV PHDI Kalsel, dilaksanakan pada 22 sd 23 April yang lalu di Aula Gedung PWI Kalsel, antara lain dihadiri pula oleh Ketua DPRD dan Muspida TK I Prov Kalsel yang diwakili ketua Komisi IV, M.Anshor Ramadhan. Ketua FKUB Kalsel, yang diwakili oleh M Ilham Masykuri Hamdie. Ketua FKUB Banjarbaru. Ketua Suku Bangsa (IKASBA) Kalsel. Ketua PHDI-Indonesia yang diwakili oleh Drs Inengah Dane, serta para tokoh agama Hindu se Kalsel.
            Musda IV PHDI yang mengangkat tema Kita Galang Kerukunan dan Kedamaian Antar Umat Beragama di Bumi Lambung Mangkurat. Acara pembukaan dimeriahkan pula dengan persembahan Tari Baksa Kembang yang dibawakan oleh sanggar Para Nusa Taman Budaya Banjarmasin.
Sementara itu sambutan Kepala Kantor Kementrian Agama Kalsel, yang diwakili dan dibacakan oleh Mercedes dari Bimas Hindu, mengatakan “Om Suastiastu kalau menurut bahasa umat Hindu suku Dayak yaitu Jangan Balah Manangan, Jangan Batulak Sajikan, Suruh Manang Pada Manang, Suruh Baik Pada Baik, Sakurungan Sakandangan, Sapasal Sakajinya, yang artinya mari kita ciptakan kerukunan, dari dalam diri sendiri, ditengah keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara, jadi kalau dia sebagai umat Hindu, malu kalau membuat olah di Kalsel.
Maka, mari Kita Bangun Kerukunan dan Kedamaian Antar Umat dan Inter Umat Beragama. Mari kita tanamkan kedamaian dulu dari dalam diri sendiri, sehingga vibrasi umat Hindu bisa memancar kerukunan dan kedamaian bagi umat-umat beragama di Kalsel, yang pada akhirnya umat Hindu akan berkometmen menjadi salah satu elemen penentu pembangaun di Kalsel” pungkas Mercedes, membacakan sambutan Kepala Kantor Kementrian Agama Kalsel ara/mb05

Minggu, 25 Desember 2011

060311-minggu(senin)-ritual nyepi di pura Bjm

Photo: mb/ara
NYEPI – Puluhan warga Hindu dari ibu-bu dan bapak-bapak, tidak ketinggalan anak-anak kecil memenuhi pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel di jalan Gatot Subroto Banjarmasin, untuk melaksanakan rangkaian ritual perayaan hari raya Nyepi.

Teloransi Dalam Perayaan Nyepi

BANJARMASIN – Mengikat tali persaudaraan dan sejauh mungkin menghindari konflik-konflik yang kadangkala terjadi di antara kelompok etnis maupun agama.
Penghargaan terhadap kemajemukan menjadi prioritas utama sebagai pelecut semangat untuk membangun perdamaian dan keharmonisan dengan umat agama-agama lain. Itulah konsep dalam agama Hindu, sebuah sikap toleran terhadap kehadiran umat agama-agama lain.
            Dua hari yang lalu, momentum hari Nyepi jatuh pada Sabtu 5 Maret 2011, merupakan perayaan keagamaan yang paling monomental bagi perjalanan agama Hindu di Indonesia. Wali Kota Banjarmasin, H Muhidin, mengatakan Pemko Banjarmasin menghormati perayaan beragama umat Hindu tersebut. Dan sesuai aturan yang berlaku, setiap malam keagamaan semua tempat hiburan malam (THM) ditutup.
            Cokorda Anom Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Kalsel, kepada Mata Banua pada Jumat (4/3) sore, menuturkan bahwa pada hari raya Nyepi tahun Saka 1933 ini, ia mengharapkan kepada umat hindu di Kalsel  untuk menjaga toleransi dengan umat yang lain, dan menjaga agar tidak ada kesalah pahaman antara umat beragama.
ia juga menghimbau kepada umat Hindu di Kalsel untuk tampil sesuai dengan kapasitas masing-masing. “Perbanyak belajar, agar kedepan lebih baik lagi, mari kita tinggalkan tahun yang lalu, kita bangkit kepada langkah awal dalam lembaran yang baru” katanya.
Rangkaian ritual hari raya Nyepi sudah dilaksanakan satu hari sebelumnya yaitu Mekis, Melasti dan hari ini Tahur Sesangu Mecaru di halaman depan pura, dilanjutkan malamnya dengan sembahyang bersama, baru melaksanakan Catur Brata Penyepian empat larangan.
Umat Hindu di Banjarmasin, berkisar 60 kepala keluarga. Se-Kalsel kurang lebih ada 35 ribu jiwa. Hampir ditiap kabupaten di Kalsel ada pura, seperti di Batola, Pelaihari, Sebamban, Tanjung, Tapin, dan lainnya. Dan sebagai pusat pura yaitu di pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel yang terletak di jalan Gatot Subroto Banjarmasin. Setiap perayaan hari raya Nyepi akan datang umat hindu dari daerah lain ke pura Agung Jagat Natha.
Puncak perayaan Nyepi berlangsung pada Sabtu dari pukul 06.00 wita hingga pukul 06.00 pagi Minggu, dimana di isi dengan melakukan Catur Brata Penyepian, yakni tidak bekerja (Amati Karya), tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak bersenang senang (Amati Lelanguan).
“Makna hari Raya Nyepi secara global adalah memahami dalam menjaga persatuan dan kesatuan dan memperkokoh kedamaian antara umat beragama” ujar Cokorda. ara/mb05

060311-minggu(senin)- tari rajang dewa di Bjm (Dm.090311 di Mozaik hal.7)

Photo, di mozaik: mb/ara
TARI SAKRAL – Gemulai tarian Rejang Dewa membuat suasana semakin sakral dalam rangkaian prosesi ritual perayaan hari raya Nyepi bagi warga Hindu di pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel di jalan Gatot Subroto Banjarmasin.

Tarian Sakral Rajang Dewa di Pura Agung Jagat Natha

BANJARMASIN – Lemah gemulai gerakan tiga gadis yang membawakan tarian Rejang Dewa, diantara suara gamelan dan aroma dupa, menambah suasana semakin sakral dan khidmad bagi warga Hindu yang mengikuti rangkaian prosesi ritual perayaan hari raya Nyepi di pura Agung Jagat Natha provinsi Kalsel di jalan Gatot Subroto Banjarmasin, pada Jumat malam.
Tari Rejang adalah tarian sakral religius yang biasa digunakan untuk upacara keagamaan antara lain meliputi tari Rejang Dewa, baris gede, topeng side karye. Tari Rejang tidak boleh dilakukan disembarang tempat, hanya dibolehkan di area suci Pura.
Tari Rejang Dewa merupakan simbol menyambut kehadiran Hyang Widhi Waca dan para dewata dari Kahyangan ke dunia. Pementasan tarian itu memang merupakan rangkaian ritual tawur kesangka, yaitu upacara bersih bumi untuk menyongsong tahun baru Saka
Cokorda Anom Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Kalsel, kepada Mata Banua pada Jumat (4/3) sore mengatakan “hari raya Nyepi tahun Saka 1933 ini, kita mengharapkan kepada umat hindu di Kalsel  untuk menjaga toleransi dengan umat yang lain, jaga komunitas kita agar tidak ada kesalah pahaman antara umat beragama.
Sesaji yang kita persembahakan sesuai dengan situasi lingkungan disekitar kita. Sebagai hari istimewa bagi umat Hindu, Nyepi memiliki makna ritual khusus yang berbeda dengan ritual lainnya dalam agama Hindu. Ini karena, perayaan Nyepi mengandung unsur-unsur kebaktian menuju kepada Tuhan Sang Pencipta” ujarnya.
Hari Raya Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada tanggal 1 sasih Kedasa.
Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/ Mekiyis. Sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem) melaksanakan upacara Bhuta Yadnya (mecaru) untuk mengusir semua roh jahat atau Buta Kala dari lingkungan sekitar.
Pada hari raya Nyepi yaitu awal tahun baru Saka yang jatuh pada tanggal 1 sasih Kedasa bertepatan dengan 5 Maret ini dilaksanakan upacara Yoga Samadhi. Ada empat berata pantangan yang wajib diikuti pada saat hari raya Nyepi, disebut Catur Berata Penyepian, yakni tidak bekerja (Amati Karya), tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak bersenang senang (Amati Lelanguan).
Dalam kesenyapan hari suci Nyepi, warga Hindu mengisi dengan mengadakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri  dan inti sari kehidupan semesta. Melakukan Berata penyepian upawasa (tidak makan dan minum), mona brata (tidak berkomunikasi), dan jagra (tidak tidur).
Keesokan harinya yaitu hari raya Ngembak Geni, segenap isi rumah keluar pekarangan dan bermaaf-maafan dengan tetangga dan handai tolan yang ditemui, dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia) dan Buwana Agung (alam semesta).
Dalam konsep agama Hindu, penghargaan terhadap kemajemukan menjadi prioritas utama sebagai pelecut semangat untuk membangun perdamaian dan keharmonisan dengan umat agama-agama lain. ara/mb07