Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 05 (Mei) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 05 (Mei) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2011

310511-selasa(rabu)-aliran buddha therawada


Photo: mb/ara
SEMBAHYANG – Tempat sembahyang aliran Buddha Theravada di vihara Dhammasoka Banjarmasin

Photo: Bikkhu Karunaviro

Theravada Aliran Buddha Tertua Dan Terbesar Di Banjarmasin

BANJARMASIN – Agama Buddha dan Hindu sudah ada di Kalsel, semenjak berdirinya kerajaan Nan Sarunai (Kerajaan Tanjung Puri). Keberadaan yang di buktikan dengan adanya candi Agung di Amuntai.
Ratusan tahun sudah agama Buddha berada di Kalsel hingga sekarang, dan salah satu aliran agama Buddha terbesar yang ada di Kalsel adalah aliran Theravada atau Therawada Dari beberapa sumber, menjelaskan perkembangan agama Buddha dan sejarah aliran Theravada, beserta vihara terbesarnya yang ada di Banjarmasin yaitu vihara Dhammasoka.
            Menurut Tajuddin Noor Ganie MPd “kerajaan Nan Sarunai berdiri pada 242-226 SM, kerajaan yang didirikan oleh suku Dayak Maanyan. Kemudian pada kerajaan Negara Dipa, lalu kerajaan Negara Daha, hingga berdirinya kerajaan Islam yaitu kerajaan Banjar. Masa keberadaan agama Buddha dan Hindu yang diperkuat dengan adanya candi Agung, berdasarkan pengujian C-14 terhadap sample arang candi Agung yang menghasilkan angka tahun dengan kisaran 242-226 SM.”
Bikkhu Pembina Daerah Kalsel dan Kalteng, Bikkhu Karunaviro, beberapa hari yang lalu, pada Senin (16/5) sore, di vihara Dhammasoka, mengatakan “Theravada adalah aliran Buddha tertua di dunia.
Vihara Dhammasoka merupakan tempat ibadah umat Buddha Theravada terbesar yang ada di Banjarmasin. Vihara ini terletak di kawasan Kampung Pacinan Laut, Kelurahan Gadang Banjarmasin Tengah. Di dirikan pada tahun 1960-an dengan ukuran yang kecil, namun dengan berkembangnya umat Buddha Theravada di Banjarmasin, akhirnya dimulai sejak 25 Februari 2001, vihara di perbesar” katanya.
Dhammasoka sendiri adalah nama seorang raja di Sri Lanka dari abad ke-13, yang dalam bahasa Pali artinya kewajiban tanpa rasa sedih. Sedangkan Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera (sesepuh) dan vada (perkataan atau ajaran), jadi Theravada berarti Ajaran Para Sesepuh. Istilah Theravada muncul dalam catatan awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 M. Sejarah Theravada tidak lepas dari sejarah Buddha Gotama sebagai pendiri agama Buddha.
Pada 543 SM, diadakan sidang agung di kota Rajagaha, dengan tujuan untuk menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan.
Sidang Agung Sangha ke-2, pada 443 SM , dimana awal Buddhisme mulai terbagi menjadi dua. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya, di sisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada (ajaran para sesepuh).
Sidang Agung Sangha ke-3 (313 SM), hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya, dan Moggaliputta Tissa. Kemudian mensahkan ajaran-ajaran Tripitaka yang di bawa ke Sri Lanka dan disebarkan di sana,  kemudian dikenal sebagai Theravada atau Therawada.
Di Banjarmasin ada sekitar 3000 umat Buddha, sedangkan se Kalsel kurang lebih ada 15 ribu umat Buddha. Dan umat Buddha terbanyak ada dalam sangga Terawada, yaitu sekitar sekitar 11 ribu orang” tutur Bikkhu Karunaviro . ara/mb05

310511-selasa(rabu)-6 vihara buddha

Photo: mb/ara

ALIRAN – Tiga aliran (Buddhisme, Taoisme, dan Konfuciusisme) dalam satu vihara, seperti yang terlihat pada vihara atau kelenteng Tri Dharma Tri Soetji Nurani di jalan Kapten Pere Tendean (pecinan laut) Banjarmasin

Keberagaman Dalam Enam Vihara Buddha Di Banjarmasin

BANJARMASIN – Beragam bukan berarti berpecah, tetapi adalah kebersamaan dan saling teloransi. Keberagaman yang juga terlihat dalam aliran (sangga) 6 vihara Buddha di Banjarmasin. Kenyataan itu yang di tunjukkan umat Buddha di Kalsel dalam memperingati Dharmasanti Waisak, pada Sabtu malam, 28 Mei 2011 di Shinta Restoran Banjarmasin.
            Dalam pesan sambutan pembukaan Dharmasanti Waisak, ketua Mettacittena DPD Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kalsel, Drs Ec Sumpono Kangmartono MM, mengatakan “umat Buddha di Kalsel yang tergabung dalam beberapa majelis atau sekte melaksanakan Dharmasanti Waisak 2555 BE/2011, dengan penuh rasa kebersamaan, kerukunan dan kekeluargaan.
Kita berdoa, agar beragam bencana yang melanda dewasa ini, baik itu gempa bumi, tsunami, badai, tanah longsor, gunung meletus, aksi teroris dan yang lainnya, tidak terjadi lagi. Sehingga, dengan semangat kebersamaan itu, hidup menjadi lebih damai bersaudara.
Kedamaian yang perlu diwujudkan dan direnungkan serta dijadikan acuan, untuk memperbaiki moralitas, mentalitas dan spiritualitas, dengan harapan dan tujuan agar bumi ini kembali normal, alam menjadi harmonis, umat manusia bisa hidup rukun sejahtera dan langgengnya perdamaian dunia, sehingga kondisi bumi ini nyaman untuk dihuni” ujarnya.
Sementara itu Yohanes Handoko ketua tempat ibadah Tri Dharma, mengharapkan agar tali silaturahmi antar umat beragama semakin meningkat, dan pembangunan daerah berjalan dengan baik.
Mengenai keberagaman dan keunikan pada vihara umat Buddha di Banjarmasin, Awang Sumargo ketua panitia waisak bersama, sambil memperlihatkan buku  kegiatan Dharmasanti, ia memaparkan “ vihara adalah rumah ibadah agama Buddha, bisa juga dinamakan kuil. Kelenteng adalah rumah ibadah penganut taoisme, maupun konfuciusisme.
Tetapi di Indonesia, karena orang yang ke vihara (kuil/kelenteng), umumnya adalah etnis tionghoa, maka menjadi agak sulit untuk di bedakan, karena sudah terjadi sinkritisme antara Buddhisme, Taoisme, dan Konfuciusisme dalam satu vihara, seperti yang terlihat pada vihara atau kelenteng Tri Dharma.
Banyak yang tidak mengerti perbedaan dari klenteng dan vihara. Klenteng dan vihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat dan fungsi. Klenteng pada dasarnya beraritektur tradisional Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain daripada fungsi spiritual.
Vihara berarsitektur lokal dan biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, vihara juga ada yang berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada vihara Buddhis aliran Mahayana yang memang berasal dari Tiongkok.
Tapi, seperti yang kita lihat dalam perbedaan fungsi vihara itu terdapat perpaduan dan kebersamaan umat Buddha, Tao, dan Konfucius di Banjarmasin. Enam vihara yang ada di Banjarmasin yaitu, vihara Tri Dharma Karta Raharja (Poo An Kiong) di jalan Niaga yang didirikan pada 1314, dan Vihara Tri Dharma Tri Soetji Nurani (The Shen Kiong) di jalan Kapten Pere Tendean (pecinan laut) yang didirikan pada 1930, keduanya menganut aliran Khong Hu Cu.
Kemudian , vihara Dhammasoka di jalan Kapten Pere Tendean gang Vihara yang didirikan sekitar 1960, beraliran Buddha Terawada. Vihara Bhavana Maitreya di jalan Veteran yang didirikan pada 1973, beraliran Buddha Maitreya. Vihara Yuen Te di jalan Pramuka yang didirikan pada 1988, beraliran Tao. Dan terakhir Vihara Duta Prabha Banjarmasin” pungkasnya. ara/mb05.

300511-senin(selasa)-ngaben (Dm. di Headline hal.1)


Photo: syarif

Ngaben Pertama Di Kecamatan Wana Raya Batola

BATOLA - Ngaben adalah upacara pembakaran mayat atau kremasi umat Hindu di Indonesia. Acara Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengirim jenasah kepada kehidupan mendatang.
Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan demikian (tertidur). Tidak ada airmata, karena jenasah secara sementara waktu tidak ada dan akan menjalani reinkarnasa atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi).
            Mata Banua berkesempatan menyaksikan prosesi ritual ngaben yang dilaksanakan pertama kali oleh desa Dwipa Sari, kecamatan Wanaraya, kabupaten Batola, pada Senin (30/5). Ritual ngaben juga dihadiri oleh Camat Wanaraya, Sunarno beserta staf kecamatan, warga desa Dwipa Sari maupun desa sekitarnya, serta warga muslim yang ikut menyaksikan.
            Menurut penuturan kepala desa, Inyoman Kajeng, “desa Dwipa Sari ada 131 kepala keluarga, 29 kepala keluarga diantaranya muslim dan sisanya adalah umat Hindu Bali. Ini adalah pertama kali di desa kami mengadakan ngaben. Biasanya ngaben dilakukan bersama-sama atau dengan beberapa kepala keluarga, sebab biayanya yang sangat mahal.
Tapi karena yang meninggal ini adalah Pinandita I Wayan Reza (51) yaitu tokoh agama Hindu di sini, maka sebagai penghormatan atas status derajatnya, dari pihak keluarga dan warga di sini saling tolong menolong menyelenggarakan ngaben. Pinandita sama dengan Pendeta, sama-sama untuk memimpin ritual keagamaan, tetapi tingkatannya lebih rendah, katanya menjelaskan.
            Ketua PHDI Basarang, Wayan Sindra menambahkan “pada hari ini, acara ngaben di pimpin oleh pandita Sri Rsi Yasa Subrata dari Kapuas. Tubuh jenasah diletakkan di dalam wadah berbentuk vihara yang terbuat dari kayu dan kertas dan di iringi dengan patung lembu. Bentuk lembu atau vihara dibawa ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Prosesi ini tidak berjalan pada satu jalan lurus. Hal ini guna mengacaukan roh jahat dan menjauhkannya dari jenasah.
Puncak acara Ngaben adalah pembakaran keseluruhan struktur (Lembu atau vihara yang terbuat dari kayu dan kertas), berserta dengan jenasah. Api dibutuhkan untuk membebaskan roh dari tubuh dan memudahkan reinkarnasi.
Ngaben tidak senantiasa dilakukan dengan segera. Untuk anggota kasta yang tinggi, sangatlah wajar untuk melakukan ritual ini dalam waktu 3 hari. Tetapi untuk anggota kasta yang rendah, jenasah terlebih dahulu dikuburkan dan kemudian, biasanya dalam acara kelompok untuk suatu kampung, dikremasikan.
Upacara ngaben dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi” pungkasnya. ara/mb02

300511-senin(selasa)-bagandut.4


Photo: mb/ara
ADU KEAHLIAN - Tari Gandut menjadi arena persaingan adu keahlian menari para  para lelaki dalam menari, seperti pada pesta perkawinan yang di selenggarakan salah satu warga Banjarmasin yang membawakan hiburan tari Gandut.
.
Bagandut Adu Keahlian Laki-Laki Menari

BANJARMASIN – Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut” ungkap tokoh tari Kalsel Sirajul Huda.
            Pertengahan Mei yang lalu, Sabtu (14/5) malam, pada sebuah pesta perkawinan salah satu warga di Komplek Kebun Jeruk 3, Mata Banua menyaksikan salah satu kesenian rakyat yang sudah sangat langka di pentaskan di daerah perkotaan, yaitu Bagandut. Sedangkan para kru dan penari gandut di bawakan oleh Sanggar Seni Ading Bastari Barikin Kabupaten HST, yang di pimpin oleh AW Sarbaini.
Rajul juga mengatakan “tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa.
Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkawinan, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah.
Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin memikatnya memakai ilmu hitam” ujarnya.
Sanggar Seni Ading Bastari sering diminta untuk membawakan pertunjukan Gandut, bila ada pesta perkawinan ke berbagai daerah di Kalsel hingga ke Kalteng. Mengenai saweran, Sarbaini menjelaskan “sawer atau menyawer yaitu bila seseorang memberi uang kepada penari agar menari bersamanya, atau meminta lagu tertentu untuk dibawakan sebagai pengiring tari Gandut.
Di daerah Bontok Kalteng banyak yang menyawer, karena masyarakat di sana sangat suka menari. Biasanya mereka menari dengan istrinya atau pacarnya sendiri. Tidak ada patokan berapa harus menyawer, paling sedikit Rp5 ribu tapi ada juga yang sampai Rp10 ribu” katanya.
Dalam pesta perkawinan yang membawakan tari Gandut tersebut, Mata Banua melihat gerakan tari yang di bawakan para pria mirip dengan tari Japin. Untuk itu Mata Banua meminta penjelasan dari Mukhlis Maman pemerhati budaya Banjar.
Kamis (26/5) malam, Mukhlis mengakui kalau sekarang sedikit sekali generasi yang mengetahui bagamana gerakan tari Gandut yang sebenarnya, begitu juga lagu-lagu Banjar yang di gunakan untuk mengiringi tarian Gandut.
Menurut Mukhlis “gerakan tari ada beberapa macam, antara lain Gandut Mandung-mandung, Gandut Mangandangan, Gandut Manunggul dan Gandut Mangaruncung.
Maka, mengenalkan gerakan tari Gandut yang sebenarnya kepada masyarakat sangat perlu dilakukan” pungkasnya. ara/mb05

290511-minggu(senin)-Skul brwwsn lingkungan


Pendidikan Lingkungan Sejak Dini

BANJARBARU – Pendidikan berwawasan lingkungan harus ditanamkan sejak dini, namun sejauh ini masih sedikit sekolah-sekolah di Kalsel, yang mempunyai kurikulum mendukung kelestarian lingkungan.
            Beberapa waktu yang lalu Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta dalam sosialisasi pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan hidup di Kalsel, di Banjarmasin, juga telah menyampaikan pentingnya mendorong siswa sekolah mulai dari SD, SMP dan SMA untuk peduli terhadap lingkungan.
Beberapa waktu yang lalu, HE Benyamine, pemerhati sosial yang tinggal di Banjarbaru ini, pada perbincangan Selasa (22/2) malam di Minggu Raya Banjarbaru mengatakan “perkembangan dan kemajuan suatu sekolah yang berwawasan lingkungan disuatu daerah, tidak terlepas dari bersinerginya visi kepala daerah dan kerja keras kepala sekolah yang merupakan model hubungan yang saling mendukung.
Kepala sekolah mempunyai peran yang penting dalam kemajuan dan perkembangan sekolah, berbagai terobosan dan kedisplinan tergambar dari keadaan sekolah. Seperti mengembangkan budaya sadar sampah pada pelajar. Kemudian mengadakan berbagai lomba untuk membangkitkan keberanian para pelajarnya dalam berekspresi dan berkreasi, misalnya Lomba Lukis Lingkungan Sehat” ujarnya.
Menurut Benyamine “sekolah yang berwawasan lingkungan, akan terus berupaya dalam berbagai terobosan, menggerakkan penanaman pohon yang beragam dilingkungan sekolah menjadi faktor penting, khususnya tanaman lokal seperti kasturi dan tiwadak (cempedak) dan tanaman lokal lainnya.
Agar siswa siswi mengenal akan pohon yang ditanam, maka pohon-pohon lokal tersebut diberi keterangan nama dan jenisnya. Sehingga hutan sekolah dapat menjadi tempat belajar langsung bagi pelajarnya. Selain itu, sekolah yang bersih, hijau dan rindang akan membuat suasana belajar menjadi sejuk dan menyenangkan.
Oleh karena itu, sekolah yang berwawasan lingkungan,  sudah seharusnya mendapatkan dukungan yang semestinya dari berbagai pihak. Karena kesadaran lingkungan yang ditanamkan sejak dini, akan melekat dengan baik di jiwa anak-anak kita” pungkasnya. ara/mb05


Di setor - 220211-selasa(rabu) – tidak di muat
Di setor kembali - 290511 - tidak di muat

290511-minggu(senin)-dharmasanti waisak (Dm.310511)

Photo: mb/ara
DHARMASANTI – Gemulai Tarian Baksa Kembang, menjadi suguhan dalam pembukaan Dharmasanti Waisak di Shinta Restoran Banjarmasin

Dharmasanti Waisak Untuk Mempererat Kerukunan Umat Beragama

BANJARMASIN – Semua perwakilan sangga (aliran) Buddha di Kalsel, berkumpul memperingati Dharmasanti Waisak, pada Sabtu malam, 28 Mei 2011 di Shinta Restoran Banjarmasin.
            Setiap tamu yang datang di Shinta Restoran, mendapat suguhan iringan gamelan musik panting. Selanjutnya dalam acara pembukaan menampilkan Tarian Baksa Kembang, untuk menyambut tamu yang datang.
            Acara di hadiri pula oleh Gubernur Kalsel yang di wakili oleh Sekertaris Provinsi Kalsel, Kakanwil Agama Provinsi Kalsel, Pembina Agama Buddha, Ketua Walubi Kalsel, Ketua-ketua Majelis Agama Buddha di Kalsel dan ratusan tamu dari berbagai umat Buddha di Kalsel.
            Sesaat sebelum acara di mulai, Awang Sumargo ketua panitia pelaksana, menuturkan kepada Mata Banua” peringatan Dharmasanti Waisak tahun ini, bertema Mewujudkan Kedamaian Karena Kedamaian Adalah Sumber Kebahagiaan, dengan tujuan untuk mempererat hubungan antar umat beragama.
            Semua perwakilan umat Buddha di Kalsel, malam ini berkumpul di sini. Dari makanan yang kami sediakan untuk 1200 orang sudah habis, dan kami tambah lagi. Kepanitiaan Dharmasanti waisak terdiri dari 6 majelis agama Buddha yang ada di Kalsel, yaitu  Tri Dharma (kunghuccu), Terawada, Mahayana, Udayana, Meteria, dan Sing Teng. Setiap perwakilan sangga, akan memberikan penampilan yang termasuk juga kesenian tarian. Acara di tutup dengan pencerahan dari Bikkhu Sadowiro” ujarnya.
Lanjut Sumargo” rangkaian kegiatan sosial Hari Raya Tri suci Waisak, hingga  Dharmasanti Waisak yaitu ziarah ke Taman Makam Pahlawan Bumi Kencana pada 2 Mei 2011, kunjungan dan memberi bantuan ke Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Martapura pada 8 Mei 2011, menjenguk dan memberi bantuan kerumah sakit, pemberian bantuan alat tulis dan pakaian seragam sekolah kepada anak-anak di salah satu desa di Kotabaru, dan aksi donor darah beberapa panitia” katanya.
Sebelumnya pada perbincangan Mata Banua dengan Bikkhu Pembina Daerah Kalsel dan Kalteng, Bikkhu Karunaviro, beberapa hari yang lalu, pada Senin (16/5) sore, di vihara Dhammasoka sangga Buddha Terawada di Banjarmasin, mengatakan “setiap sangga Buddha memperingati Hari Raya Tri suci Waisak di vihara masing-masing, dan dengan tata cara masing-masing. Kemudian, semua sangga akan berkumpul dan bersama-sama memperingati Hari Raya Tri suci Waisak yaitu Dharmasanti Waisak.
Di Banjarmasin ada sekitar 3000 umat Buddha, sedangkan se Kalsel kurang lebih ada 15 ribu umat Buddha. Dan umat Buddha terbanyak ada dalam sangga Terawada, yaitu sekitar sekitar 11 ribu orang.
Kemudian jumlah vihara di Kalsel Teng, ada 15 vihara, antara lain vihara Dhammasoka di Banjarmasin, vihara Bhavana Maitreya di Banjarmasin, vihara Yuen Te Banjarmasin, vihara Duta Prabha Banjarmasin, vihara Tri Dharma Soetji Nurani Banjarmasin dan vihara Buddha Sasana Pelaihari.
Dharmasanti Waisak adalah sebagai ungkapan kebersamaan dan teloransi terhadap perbedaan” pungkasnya. ara/mb05




270511-jumat(sabtu)-racun lahan gambut

Racun Lahan Gambut Mengancam Petani

BANJARBARU – Lahan rawa adalah lahan yang kompleks. Pada kedalaman tertentu mengandung racun yang berbahaya bagi tanaman. Sehingga bila di eksploitasi secara berlebihan, akan menimbulkan masalah yang juga kompleks.
Menurut Ir Hastirullah Fitrah, Purek III Universitas Achmad Yani (Uvaya) Banjarmasin yang dulunya juga sebagai dosen pengajar Ilmu Tanah di Fakultas Pertanian Uvaya di Banjarbaru. Secara lebih jelas mengatakan kepada kepada Mata Banua.
“Daya Rusak tanah dan air Rawa yaitu, terkumpulnya air dengan debit besar ditandai dengan terlewatinya batas elevasi muka air tertentu sehingga terjadi banjir. Terjadinya kecepatan aliran air baik di sungai saluran maupun di lahan yang melebihi batas kecepatan kritisnya, sehingga terjadi erosi yang diendapkan di saluran drainase utama dan berakibat banjir. Terjadinya genangan pada tempat yang tak dikehendaki.
Lalu, penurunan muka tanah akibat amblesan tanah organik, pemadatan tanah mineral dan konsolidasi tanah mineral. Daya kering tak kembali pada tanah gambut yang berakibat tak dapat menyerap air dan hilangnya unsur - unsur hara. Daya kembang susut tanah mineral akibat menyerap dan mengeluarkan air yang besar.
            Kemudian, terkumpulnya larutan-larutan racun ( Fe3+ , Mn 1+ , Al3+ , SO42- ), asam (ph) dalam konsentrasi yang besar.(umumnya terkumpul di bagian bawah), sehingga apabila keluar kepermukaan tanah dan teroksidasi akan menjadi racun yang berbahaya bagi tanaman. Oksidasi kimia ini menjadikan emisi karbon dioksid akibat oksidasi tanah gambut/organik, salah satu penyebab pemanasan global” ujarnya.
Lanjut Hastirullah “lapisan tanah yang berada di bawah lahan gambut berupa tanah endapan yang mengandung pirit, yaitu mineral tanah yang mengandung unsur besi dan belerang, disebut juga bahan sulfidik (rumus kimianya FeS2).  Kedalaman lapisan pirit di tanah, yaitu dangkal (kurang dari 50 cm), sedang (51 - 100 cm), dalam (101 - 150 cm), dan sangat dalam (lebih dari 150 cm). 
Tanda-tanda lahan lahan yang mengandung pirit, yaitu dipenuhi oleh tumbuhan purun tikus. Di tanggul saluran terdapat bongkah-bongkah tanah berwarna kuning jerami.  Pada bagian yang terkena alir terdapat garis-garis berwarna kuning jerami. Bongkahan tersebut berbau belerang. Dan di saluran drainase (pembuangan), terdapat air yang mengandung karat besi berwarna kuning kemerahan.
Bila pirit teroksidasi unsur besi yang terkandung di dalam pirit berubah bentuk dan bersifat racun bagi tanaman.  Bukan hanya itu, proses oksidasi pirit juga menyebabkan tanah menjadi lebih masam. 
Menanggapi, persoalan kompleksnya lahan rawa atau lahan gambut, Dwitho Frasetiandy Manager Kampanye Walhi Kalsel, pada Rabu (25/5) malam di sekretariat Walhi di Banjarbaru, mengatakan “sudah jelas bahwa masyarakat lokal secara turun temurun mampu mengolah dan bertahan hidup dengan kompleksnya keadaan lahan gambut, sehingga ekonomi mereka bisa sudah lebih baik.
Pemerintah dan perusahaan yang melihat bahwa lahan gambut bisa dialih pungsikan untuk perkebunan sawit, setelah melihat proses teknologi tradisional masyarakat lokal dalam mengolahnya serta kemampuan bertahan hidup mereka. Begitu saja mencari alasan, untuk mengambil alih, bahwa lahan rawa atau lahan gambut adalah lahan non produktif. Ini adalah kenyataan yang terbalik dari sebenarnya.
Pada saat lahan rawa dan lahan gambut di buka untuk perkebunan kelapa sawit, di buatlah saluran-saluran air, dan gundukan-gundukan tanah untuk menanam sawit. Saluran air akan mengeluarkan racun dalam tanah, yang kemudian mengalir kebanyak lahan pertanian lain, gagal panen padi akan membayangi petani, belum lagi racun dari pestisida dan ditambah kerusakan ekosistim habitat alami” pungkasnya. ara/mb 05

270511-jumat(sabtu)-marimba

Marimba Kearifan Lokal Masyarakat Banjar

BANJARMASIN – Masyarakat tradisional Banjar mempunyai kearifan sendiri dalam mengolah lahan pertanian rawa, dengan cara Marimba atau Barimba.. Sehingga lapisan tanah yang mengandung Pirit tidak sampai keluar kepermukaan.
Menurut Ir Hastirullah Fitrah beberapa waktu yang lalu, pirit adalah mineral tanah yang mengandung unsur besi dan belerang, disebut juga bahan sulfidik. Kandungan kimia Pirit yang dirumuskan dengan FeS2, apabila keluar kepermukaan tanah kemudian teroksidasi dengan air di udara terbuka, akan menjadikan tanah masam dan menjadi racun bagi tanaman. FeS2 dikatakan juga sebagai salah satu penyebab pemanasan global.
Di daerah Jawa, mengolah lahan pertanian agar gembur dengan cara di cangkul atau di bajak atau dengan menggunakan teknologi yaitu dengan traktor. Sedangkan masyarakat tradisional petani Banjar, mengolah lahan pertanian rawa mereka dengan cara marimba dengan alat yang disebut tajak.
Tajak adalah sejenis parang yang mempunyai gagang yang panjang dan membentuk sudut 90 derajat atau menyerupai huruf L. Pungsi tajak hampir sama dengan cangkul, yaitu membalikan tanah. “Sedangkan cangkul sulit digunakan di lahan pertanian yang tergenang air cukup dalam” kata Purek III Universitas Achmad Yani (Uvaya) Banjarmasin ini yang juga sebagai dosen pengajar Ilmu Tanah di Fakultas Pertanian Uvaya di Banjarbaru.
Membicarakan kearifan lokal, pemerhati budaya Mukhlis Maman pada Kamis (26/5) malam, menegaskan “masyarakat tradisional Banjar mempunyai banyak kearifan lokal dalam mengolah lahan pertanian khususnya di lahan rawa atau lahan gambut, salah satunya yang di sebut marimba.
Marimba menggunakan alat tradisional yang di sebut dengan tajak. Di beberapa daerah di Kalsel, marimba di sebut juga manajak, marincah, marangai, atau manabas” ujarnya.
Dilain pihak Marzuki (65) yang tinggal di Banjarmasin, dengan pekerjaan sehari-hari sebagai tukang ojek, dan bila musim tanam padi baru ia menggarap sawahnya di Gambut Kabupaten Banjar, pada Jumat (27/5) siang, mengatakan bahwa tajak ada bebeberapa macam, antara lain ada tajak bulan, dan tajak parang. Setiap tajak mempunyai fungsi masing-masing
Ia lebih suka menggunakan tajak, dari pada menggunakan traktor. Dengan alasan, apabila menggunakan traktor, pada awalnya tanah sangat luluk (gembur), tapi setelah itu tanah akan pisit (keras). Selain itu setelah musim panen, rumput akan tumbuh lebih banyak dari sebelumnya. Serta tanah yang sangat luluk, bila ditanam padi akarnya tidak kuat, sehingga bila angin bertiup kencang, akar padi akan mudah tercerabut.
Beda dengan menggunakan tajak tanah tidak terlalu luluk. Karena tanah pada prinsipnya dibalikkan, yaitu bagian yang subur diletakkan keatas. Dan akar rumput yang awalnya di dalam atau di bawah tanah, menjadi terbalik ke atas, sehingga akan busuk, dan memerlukan waktu yang lama untuk tumbuh kembali.
“Tanah yang tidak terlalu luluk, akar padi akan cukup kuat berada di tanah, walau di tiup angin kencang, tidak akan tercerabut” pungkasnya. ara/mb05.

260511-kamis(jumat)-keseimbangan alami (Dm.280511)

Pentingnya Menjaga Keseimbangan Ekosistem

BANJARBARU – Beberapa daerah di Tanah Air, sempat di hebohkan dengan meningkatnya populasi ulat bulu, seperti yang terjadi Probolinggo Jatim dan Kendal Jateng. Serta ditemukannya peningkatan pupulasi ulat bulu yang juga terjadi Jl Simpang Anem Banjarmasin.
            Dari beberapa sumber menyebutkan, bahwa peningkatan populasi ulat bulu penyebabnya kurang lebih pada perubahan ekosistem, baik yang hayati (biotik) maupun nonhayati (abiotik), yaitu hilangnya faktor keseimbangan alami. Faktor hayatinya disebabkan berkurangnya pemangsa alaminya, seperti burung, kelelawar, dan semut rangrang, dan musuh alaminya, misalnya parasitoid.
            Sebelumnya, Mata Banua pernah melakukan perbincangan dengan Ir Mahyudin Msi, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani Banjarmasin di Banjarbaru, pada beberapa waktu yang lalu.
            Mahyudin mengatakan “keseimbangan alami tercipta bila kita benar-benar menjaga lingkungan dengan baik. Sementara pembukaan lahan dalam sekala besar, dapat menjadi faktor penyebab hilangnya keseimbangan alam. Kemudian penggunaan pestisida dalam dosis yang banyak juga menjadi salah satu penyebabnya.
Penanggulangan hama secara alami atau pengendalian hayati, walaupun usahanya memerlukan waktu yang cukup lama dan hanya pada satu jenis inang tertentu, tetapi banyak keuntungannya. Pengendalaian secara hayati antara lain lebih aman, relatif permanen, dalam jangka panjang relatif murah dan efisien, serta tidak akan menyebabkan pencemaran lingkungan.
Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara alami dengan melindungi, melestarikan atau memberi kesempatan kepada musuh alami untuk berkembang biak lebih banyak, juga diusahakan untuk memelihara dan melakukan pelepasan musuh-musuh alami.
Kemudian secara klasik dengan mengimpor musuh-musuh alami dari daerah asal hama, lalu mengembangkannya secara massal dan melepaskan ke lapangan untuk menekan populasi serangga hama sasaran” ujarnya.
Mahyudin menegaskan “oleh karena itu dalam pengelolaan hama, cara pengendalian hayati perlu ditingkatkan  dan penggunaan pestisida hendaknya dilakukan secara bijaksana agar keseimbangan alami tidak terganggu.
Keseimbangan yang sudah terjadi ratusan tahun bahkan lebih lama lagi, pada lahan rawa maupun hutan-hutan di Kalsel, apabila di ganggu dan dialih pungsikan, akan menimbulkan bencana jangka panjang yang lebih merugikan, dari pada keuntungan sementara yang di dapat dari ekspolitasi sebuah proyek pembangunan ekonomi atau apapun namanya” pungkasnya. ara/mb05

260511-kamis(jumat)-jadikan TB milik daerah (Dm.310511)


Photo: Noor Hidayat Sultan

Jadikan Taman Budaya Juga Milik Seniman Daerah

BANJARMASIN – Beberapa tahun terakhir, Taman Budaya (TB) Kalsel terkesan hanya menjadi milik beberapa seniman saja, dan khususnya yang hanya berada di seputar kota Banjarmasin, atau seniman yang dekat dengan orang-orang tertentu di TB.
Kesan ini, tentu saja menimbulkan imej negatif dan perasaan asing, bahwa banyak daerah-daerah di Kalsel merasa tidak memiliki TB Kalsel. Menanggapi persoalan ini, beberapa hari yang lalu (14/5) Mata Banua meminta tanggapan Noor Hidayat Sultan
Ia mengatakan ”untuk tahun ini, kami selesaikan dulu program yang telah disusun oleh kepala TB terdahulu. Tetapi, sekaligus juga kita inventarisir semua persoalan yang berkaitan dan bertebaran mengenai TB Kalsel. Sehingga dari permasalahan tadi bisa kita cari solusinya.
Begitu juga mengenai, imej yang melekat pada TB bahwa daerah merasa tidak memiliki TB Kalsel. Maka beberapa hari kedepan, Insyaallah kami akan turun langsung kedaerah-daerah, menginventaris masalah dan mendiskusikannya bersama-sama di sana.
Kemudian memotivasi mereka, serta mencoba mengajak seniman-seniman daerah untuk bergelar di TB. Karena TB akan di buka seluas-luasnya dan disediakan ruang khusus bagi daerah untuk bergelar di sini” ujarnya.
Noor Hidayat Sultan yang baru menjalani masa jabatan sebagai Kepala TB Kalsel, terhitung dari April 2011 ini, kemudian melanjutkan “dengan pendekatan yang baik dan kontinyu, semua program untuk meningkatkan seni budaya kita bisa dilaksanakan.
Agar implementasi perda No 6 tahun 2009, tentang kesenian daerah, sama-sama bisa kita wujudkan, artinya benar-benar menjamin peningkatan kesenian daerah. Sehingga bukan hanya pada tingkat provinsi, yang berupaya meningkatkan kesenian daerah, tapi daerah juga berusaha meningkatkan keseniannya sendiri.
Dengan dukungan semua pihak, kedepannya akan di susun kalender pagelaran seni dari daerah-daerah di TB. Selanjutnya, adanya masukan untuk melibatkan pihak lain dalam pengembangan seni budaya di TB, yaitu bekerjasama dengan hotel dan travel wisata adalah sebuah pemikiran yang bagus.
Maka nantinya, akan kami coba untuk mengundang manager hotel dan travel wisata untuk datang ke TB, lalu mendiskusikan apa sih kesenian daerah yang ingin di lihat  oleh turis, lalu sama-sama mengembangkan dan mengapresiasikannya, sekaligus mensosialisasikan kalender pagelaran seni dari daerah-daerah tadi.
Dengan kerjasama yang selaras seperti ini, bukan cuma kesenian daerah yang bisa maju tapi sektor pariwisata kita juga akan turut berkembang lebih baik lagi” pungkasnya. ara/mb05

250511-rabu(kamis)-Geramm Kompak demo PLN


Photo: mahfuz

GERAMM Benar-Benar Geram

BANJARMASIN – Pemadaman listrik oleh PT PLN dalam beberapa waktu ini, membuat Gerakan Aksi Mahasiswa Masyarakat (GERAMM) Kalsel dan KOMPAK kemabali turun kejalan, pada Rabu (25/5) siang. Dari gedung DPRD Provinsi dilanjutkan menyuarakan aspirasi di depan kantor PLN.
            Aksi yang pada awalnya hanya untuk berdialog mengenai pemadaman listrik tersebut, dengan wakil rakyat di gedung DPRD Kalsel, berubah menjadi aksi sweeping keruangan-ruangan anggota DPRD, dan melemparkan telur busuk.
            Terkait mengenai aksi dialog yang berubah menjadi swepping, kepada Mata Banua, koordinator aksi Lukman, menjelaskan “itu merupakan luapan kekesalan kami, karena kami sudah menyurati DPRD Provinsi, bahwa hari ini (Rabu) kami akan mengadakan dialog dengan mereka, tapi kami tidak bertemu dengan satu orang pun dari anggota Dewan yang terhormat tersebut, yang ada hanya stafnya, katanya semua anggota DPRD sedang studi banding.
Walau hari ini tidak bertemu, tapi kami tidak akan menyerah, selanjutnya kami akan kembali melakukan aksi lanjutan, untuk mempertanyakan kepada anggota DPRD Provinsi, hanya saja waktunya kapan itu masih belum kami rapatkan.
Selanjutnya, dari gedung DPRD Provinsi kami meneruskan aksi ke Kantor PLN, dan menyuarakan aspirasi di sana” ujarnya.
Menurut Lukman “pemadaman listrik, akhir-akhir ini telah merugikan masyarakat dan tidak bisa ditolerir lagi. Hampir tidak ada upaya apapun, yang dilakukan oleh anggota Dewan dan PT PLN, untuk memperbaiki pelayanan. Paling tidak, kalau memang ada pemadaman, seharusnya terlebih dulu disosialisasikan.
Maka, kami mendesak kepada PT PLN untuk memberikan kompensasi ganti rugi kepada para pelanggan dan warga Kalsel atas pemadaman listrik selama ini. Agar bisa adil, sebab kalau pelanggan terlambat membayar, PLN mengenakan denda dengan pelanggan. Sekarang, dengan pelayanan buruk PLN, maka PLN wajib membayar ganti rugi dengan pelanggan.
Kemudian kami mendesak pejabat PT PLN untuk mundur, jika dalam satu minggu ini, pemadaman listrik masih tetap terjadi. Bila tidak, kami akan mengadakan aksi yang lebih besar lagi” pungkasnya. ara/mb05

250511-rabu(kamis)-CMR (Dm.280511)


Photo: mb/ara
KESADARAN – CMR PKBI melakukan sosialisasi tentang HIV dan AIDS, serta memberikan kesadaran bahwa penderitanya tidak untuk dijauhi

Tanamkan Kepedulian Terhadap Penyandang HIV Dan AIDS

BANJARMASIN – HIV dan AIDS, menjadi penomena penyakit yang berkesan menjijikkan dan menakutkan di tengah masyarakat. Sehingga penderita penyakit ini, seringkali dikucilkan dan di jauhi.
            Sejauh mana kesadaran masyarakat akan HIV dan AIDS serta terhadap para penderitanya, maka Citra Mitra Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (CMR PKBI) Kalsel, mengadakan Malam Renungan Aids Nusantara 2011 (MRAN 2011), pada Selasa malam kemaren (24 Mei 2011), pukul 20.30 wita di Student Building Center (SBC) Unlam Banjarmasin.
            Koordinator CMR PKBI - MRAN 2011, Cholida Khurmatun Nisa mengatakan “CMR didirikan pada 1996, tapi beberapa tahun belakangan ini ada kevakuman kegiatan. Selain karena anggota relawannya yang sangat sedikit. Sekarang anggota relawannya sudah ada sekitar 20 orang, yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar.
Acara malam ini adalah merupakan wujud simpati dan empati kami sebagai remaja kepada penderita HIV/ AIDS. Tidak banyak yang mengetahui apa perbedaan dari HIV (Human Immonodeficieny Virus) dan AIDS (Acquiriered Deficiency Syndrome) atau gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang diakibatkan oleh virus HIV.
Pengidap HIV adalah orang yang telah terinfeksi HIV, tetapi masih terlihat sehat-sehat saja. Sedangkan penderita AIDS adalah pengidap HIV yang telah menunjukkan gejala-gejala AIDS” ujar Nisa yang sudah bergabung di CMR selama 3 tahun.
Mahasiswi FKIP Unlan, semester X ini kemudian melanjutkan “Karena HIV hanya terdapat dalam darah, sperma dan cairan vagina, maka HIV tidak menular melalui hubungan sosial. Seperti jabatan tangan, sentuhan, ciuman, pelukan, menggunakan alat makan/ minum bersama, gigitan nyamuk, berenang bersama, memakai WC dan kamar mandi bersama atau tinggal serumah dengan ODHA (orang dengan HIV/ AIDS.
Seseorang yang terinfeksi HIV secara kasat mata, tidak dapat dibedakan dengan orang yang tidak terinfeksi. Maka cara untuk mengetahuinya adalah dengan melalui tes HIV. Tetapi tidak mungkin kita memaksa seseorang untuk melakukan tes tersebut.
Sementara penomena penderita HIV/ AIDS seperti gunung es, mereka cenderung menyembunyikan penyakitnya, karena malu atau takut dikucilkan masyarakat, sehingga sulit di deteksi.
Oleh karena itu, perlunya kesadaran masyarakat bahwa penderita HIV/ AIDS tidak untuk dijauhi dan dikucilkan, tapi mereka diberi perhatian agar tetap bersemangat menjalani sisa kehidupan, serta tetap menaruh harapan akan adanya kesembuhan” pungkas gadis yang berasal dari Tanah Bumbu ini, dan bercita-cita bila nanti telah pulang kampung, akan membentuk CMR di sana. ara/mb05

240511-selasa(rabu)-Uniska jumat membara


Photo: mb/ara
TRAGEDI – BEM Fisip Unlam Banjarmasin peringati tragedi Jumat kelabu, di waktu yang sama mahasiswa Uniska Banjarmasin peringati tragedi Uniska Membara

Dua Tragedi Ditanggal Yang Sama

BANJARMASIN – Dua tragedi pada tanggal yang sama, tapi berbeda tahun. Pada 23 Mei 1997 tragedi Jumat kelabu Banjarmasin, kerusuhan berdarah beraroma politis, yang menimbulkan banyak korban nyawa dan harta benda. Kemudian pada 23 Mei 1999, Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary di Banjarmasin, terbakar.
            Senin 23 Mei 2011 selepas Magrib, BEM Fisip Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin memperingati tragedi Jumat kelabu, di bundaran Lambung Mangkurat. Dilain pihak di halaman Uniska Banjarmasin, dalam waktu yang sama Sanggar Titian Berantai Uniska Banjarmasin, melakukan aksi teaterikal untuk memperingati terbakarnya kampus Uniska.
            Aksi teaterikal dimulai dari lantai 3 Uniska. Semua lampu yang akan dilalui peserta teaterikal di matikan. Di iringi tetabuhan gong, dan hanya diterangi obor, setapak demi setapak ruangan dilalui, satu persatu tangga dituruni, hingga peserta teaterikal sampai di halaman kampus.
            Dengan melingkar, mengelilingi api unggun sebagai simbol Uniska. Di balut tarian dan mimik wajah perih, yang menggambarkan kepedihan hati mengenang tragedi Uniska membara, kehilangan kampus yang menjadi tempat menimba ilmu.
            M Agus Humaidi, Ketua BEM PT Uniska, menjelaskan “pada 23 Mei 1999, sekitar pukul 23.00 wita, suasananya sangat tenang. Ada 23 orang aktivis dari berbagai kampus, yang berkumpul untuk membicarakan peringatan Jumat kelabu 23 Mei 1997.
            Isyu yang akan diusung dalam rapat tersebut, adalah meminta pemerintah daerah untuk mengusut kejadian Jumat kelabu. Setelah beberapa jam rapat berlangsung dan tinggal menetapkan rute dan tempat aksi, kemudian dari luar ruangan pertemuan terdengar teriakan api (kebakaran). Rapat langsung bubar, properti aksi dibiarkan tergeletak, termasuk catatan yang akan menjadi agenda.
            Setelah di cari, tidak ada kebakaran. Para aktivis kembali berkumpul untuk melanjutkan rapat. Tetapi agenda yang tadi ditinggalkan di ruang rapat, telah hilang. beberapa properti aksi dan sepanduk, juga rusak dan robek.
Tiba-tiba, kembali terdengar teriakan kebakaran, ternyata di selatan di mana Uniska berdiri telah menjadi kobaran api” ujarnya.
            Wahyudi mahasiswa Fisip Uniska semester II, menambahkan “ada hal yang aneh dalam kebakaran tersebut. Menurut hasil penyelidikan aparat keamanan api berkobar dari lantai tiga di ruangan perpustakaan, dan penyebab dari kebakaran adalah konsleting listrik.
            Sedangkan malam itu, sebelum Uniska membara, sedang mati lampu dan masih belum menyala hingga terjadinya kebakaran. Jadi bagaimana mungkin bisa terjadi konsleting listrik. Sungguh, ini adalah rekayasa kronologis kejadian yang di buat-buat.
            Maka malam ini (Senin) di tanggal yang sama pada 12 tahun yang lalu, kami kembali memperingati kejadian tersebut, dan menggaungkan pertanyaan, Uniska terbakar atau di bakar?” pungkasnya. ara/mb05

240511-selasa(rabu)-pesta perkawinan dgn bagandut.3


Photo: mb/ara
PESTA – Salah satu warga Banjarmasin, mementaskan tari gandut dalam pesta perkawinan, untuk melestarikan budaya tradisional

Lestarikan Bagandut di Pesta Perkawinan

BANJARMASIN – Sangat menarik menyaksikan sebuah tarian tradisional, yang dulunya menjadi kesenian rakyat dan sering dipentaskan, tapi dewasa ini sangat jarang di temui apalagi di kota Banjarmasin.
            Beberapa hari yang lalu, Sabtu (14/5) malam, Mata Banua berkesempatan melihat salah satu kesenian rakyat, yang sudah sangat langka di pentaskan di daerah perkotaan, yaitu bagandut.
Tarian radisional ini, dipentaskan pada suatu pesta perkawinan, putri dari Ahmad Firdaus BA di Komplek Kebun Jeruk 3. Sedangkan para kru dan penari gandut di bawakan oleh Sanggar Seni Ading Bastari Barikin Kabupaten HST, yang di pimpin oleh AW Sarbaini.
Menurut penuturan Sarbaini “di daerah Banjarmasin, memang sangat jarang dimainkan atau dipentaskan kesenian rakyat bagandut. Karena orang lebih suka acara dangdutan dalam pesta perkawinan.
Pada 2008 yang lalu, terakhir kami membawakan gandut di Taman Budaya Kalsel, saat ada turis asing dari pertukaran pemuda. Namun, di Banjarbaru kami malah sering di undang membawakan gandut dalam pesta perkawinan, mungkin karena di Banjarbaru, warga Banjarnya lebih mencintai kesenian tradisional” ujarnya.
Lanjut Sarbaini “begitu juga di Pahuluan, seperti Kandangan dan Barabai, dalam satu bulan ada saja 2 atau 3 kali kami diminta membawakan gandut. Masyarakat yang turut menari juga sangat banyak.
Kami juga sering di undang ke daerah Bontok Kalteng, bila ada warga Banjar di sana yang melaksanakan pesta perkawinan. Kerinduan mereka akan kampung halaman, dilampiaskan dengan menyelenggarakan pesta kesenian rakyat, antusias warga Banjar di sana begitu besar, banyak yang turut serta menari, sehingga terkadang dimainkan selama tiga malam.
Dan penari gandut kami, yang akan turun malam ini ada empat orang, semua dari generasi muda, gadis-gadis yang berumur sekitar 17 dan 18 tahun” katanya.
Dilain pihak, tuan rumah penyelenggara pesta perkawinan, Ahmad Firdaus BA mengatakan “aku dan istriku, sebagai warga Banjar, merasa terpanggil untuk menampilkan kesenian rakyat, yang sekarang memang jarang di mainkan. Kami ingin agar anak-anak kami tahu, inilah kesenian kita. Jadi dalam kesempatan pesta perkawinan inilah kami laksanakan.
Selain bagandut, ada juga dilaksanakan bamandi-mandi, bausung panganten dan bakuda gepang. Aku berharap, warga Banjar yang lain, juga turut melestarikan budaya tradisional kita, agar tidak punah” pungkasnya. ara/mb05

230511-senin(selasa)-PA Putri Harapan Ibu (Dm.310511)


Photo: mb/ara
RATUSAN – Sudah ratusan anak-anak yang purna asuh di PA Putri Harapan Ibu

PA Putri Harapan Ibu
Tiga Puluh Empat Tahun Mengasuh Anak-Anak putri 

SEMENJAK didirikan pada 1977 hingga sekarang, Panti Asuhan (PA) Putri Harapan Ibu yang terletak di Jl Cendana I No 52 Kayu Tangi Banjarmasin, sudah membina ratusan anak-anak putri yang purna asuh.
Sejauh mana perkembangan PA Putri Harapan Ibu, Mauizoh salah satu pengurus panti menceritakan kepada Mata Banua.
 “Pertama berdiri tentunya masih kembang kempis, tapi setelah dikenal masyarakat hingga sekarang, menjadi lebih mudah,  cukup banyak bantuan untuk biaya anak-anak. Di sini ada yang anak yatim, ada yang piatu, dan yang terbanyak adalah anak-anak yang tidak mampu, walau orang tuanya masih lengkap. Mereka semua berasal dari berbagai daerah di Kalsel.
Karena sudah lama berdiri, tentunya sudah ratusan anak-anak yang purna asuh. Dari yang sudah purna asuh, sekitar 30 persen yang sudah mandiri, sering datang untuk menyisihkan sedikit penghasilannya membantu adik-adiknya yang masih ada di sini.
Jumlah batuan rata-rata Rp20 juta per bulan, antaralain diperoleh dari bantuan Pemerintah kota sekitar Rp4 juta, Yayasan Dharmais Jakarta Rp1 juta, PKPS BBM Depsos Jakarta Rp4 juta, Insedentil (tidak tetap) Rp10 juta, dan Donator (tetap) Rp1 juta. Kebanyakan penyumbangnya dari luar Banjarmasin
Sedangkan pengeluaran dari SPP Rp1 juta lebih, uang saku Rp2 juta lebih, uang makan sekitar Rp5 juta, kemudian operasional dan lain-lain, yang jumlah keseluruhannya kurang lebih Rp20 juta pula per bulan.
Kalau di hitung-hitung, Alhamdulillah kadang-kadang ada saja sisa lebih dari bantuan perbulan, yaitu ditambah dengan bantuan masyarakat tiap harinya yang mengasih sembako, pakaian dll” ujarnya.
Mauizoh melanjutkan “jumlah anak yang diasuh ada 40 orang putri. Dengan tingkat pendidikan dari yang sudah kuliah, SMA, SMP, dan SD. Kemudian ada satu anak masih TK berumur 7 tahun, ia masuk disini saat berumur 6 tahun, berasal dari Kurau, bapaknya sudah meninggal, sedang ibunya tidak mampu.
Di sini ada 14 kamar, satu kamar 2 smpai 3 orang anak. Masing-masing kamar, diatur ada yang besar dan ada yang kecil, sehingga yang besar bisa membimbing yang lebih muda. Setiap anak bertanggung jawab dengan tempat tidurnya, dan untuk membersihkan kamar mereka atur sendiri secara bergiliran.
Seperti layaknya sebuah keluarga, ada yang baik, ada yang suka bertengkar, ada yang susah diatur, sehingga harus tiap hari di nasehati. Apabila ada yang tidak ikut sholat berjamaah, dipotong uang saku, tapi uang nya dimasukkan dalam tabungannya masing-masing.
Ada pula yang hukumannya bersih-bersih rumah dan bersih-bersih musholla. Anak yang terlampau sering melanggar peraturan, akan diberi surat perjanjian dan apabila tetap melanggar terpaksa dikeluarkan. Untuk jumlah tabungan mereka, kita perlihatkan dan hanya boleh diambil bila mereka sudah keluar dari panti. Ada juga anak yang punya inisiatif sendiri, minta uangnya ditabung.
            Kegiatan rutin anak-anak, habis Ashar mengaji dan habis Magrib belajar. Kemudian setengah bulan sekali pada Minggu ada pengajian (ceramah agama) dari Ustadjah.
Waktu santai atau bermain, entah itu nonton TV di bolehkan sore hari bila tugas mereka sudah selesai, dan pada malam Minggu dan Minggunya. Sedang Minggunya selain senam pagi bersama, juga kerja bakti membersihkan panti” katanya.
            Menurut Mauizoh “lebih banyak senang dari pada sedihnya mengasuh mengasuh anak-anak di panti. Apalagi bila melihat mereka berprestasi di sekolah. Seperti tahun ini ada yang masuk rangking tiga besar disekolahnya yaitu di SMA Korpri Banjarmasin.
            Kalau ada anak yang sudah lulus SMA, dan ia ingin kuliah akan kami kuliahkan. Semua biaya ditanggung oleh panti, asal jangan setengah-setengah, artinya sampai selesai. Apabila ada yang mau bekerja akan kami carikan pekerjaan.
            Mauizoh menyayangkan beberapa tahun ini, tidak ada lomba yang diadakan oleh Pemko. Ia memperlihatkan piala lomba yang pernah diaraih anak-anak. “ini adalah prestasi yang pernah diraih anak-anak” pungkasnya. araska

230511-senin(selasa)-Demo jumat kelabu Bjm dr Uniska


Photo: syarif

Mengenang Tragedi Jumat Kelabu

BANJARMASIN – Tragedi Jumat kelabu Banjarmasin pada 23 Mei 1997, hari terakhir kampanye Pemilu untuk anggota legislatif tahun 1997. Kerusuhan berdarah yang berbau unsur politis.  Setelah sholat Jumat, ratusan nyawa manusia menjadi korban, dan menyerang pula berbagai kepentingan usaha (toko dan hotel), serta tempat ibadah yang turut musnah terbakar.
Setidaknya 137 orang terbunuh, terbanyak di lantai dua pusat belanja Mitra Plaza yang sebelumnya dipenuhi para penjarah yang tidak mau menyerah pada polisi. Beragam informasi kematian simpang siur, ada yang mengatakan tewas terbakar, ada pula disinyalir tertembak oleh aparat.
Mengenang tragedi Jumat kelabu tersebut, Sanggar Titian Berantai Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary di Banjarmasin, melakukan aksi teaterikal pada Senin (23/5) siang di bundaran Lambung Mangkurat dan di halaman Mitra Plaza Banjarmasin.
Kordinator Aksi, Upik Barikin mengatakan “aksi ini adalah untuk mengingatkan pemerintah akan tragedi yang pernah melanda Banjarmasin. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
Pada Jumat kelabu tersebut, kota Banjarmasin bagai di koyak-koyak dan di bumi hanguskan. Prasangkapun menjadi bahasa yang satu. Keberagaman yang semula bersenergi dengan indahnya, menjadi luluh lantak dengan adanya isu tak bertanggung jawab. Sampai sekarang, kasusnya belum selesai dan di tindak lanjuti. Ada isu bahwa skenario kerusuhan itu telah direkayasa oleh pihak yang tidak bertanggung jawab” ujarnya.
Menurut mahasiswa FKIP Uniska, semester IV ini, melanjutkan “padahal bukti sosiologis justru mengatakan lain. Warga Banjar yang dominan di Banjarmasin, bukanlah warga yang fanatik terhadap suatu kelompok politik atau hitung dagang warga tertentu. Sehingga boleh jadi kejadian ini, adalah digerakkan oleh elit politik tertentu demi kepentingan mereka.
Maka biarkan hari ini kami mengenang dan mengingatkan tragedi Jumat kelabu. Untuk mereka yang kehilangan anggota keluarganya, kehilangan lahan usahanya, dan mereka yang merindukan keadilan dan kebenaran yang telah lama tenggelam” pungkasnya. ara/mb05


220511-minggu(senin)-WALHI petani tolak sawit3.kondisi ekonomi


Photo: mb/ara
LAHAN – Areal lahan produktif, sumber penghasilan masyarakat yang akan dialih pungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit

Perekonomian Mayarakat Lebih Baik Tanpa Perkebunan Sawit

BANJARBARU – Bagaimana kondisi perekonomian masyarakat Kecamatan Gunung Makmur Desa Handil Birayang Atas dan Handil Birayang Bawah, sehingga menolak di bukanya perkebunan kelapa sawit, lebih jelas terungkap dalam perbincangan Mata Banua dengan Dwitho Frasetiandy Manager Kampanye WALHI Kalsel, di Sekretariat Walhi Kalsel di Banjarbaru pada awal Mei yang lalu, Senin (9/5) malam.
Dari data yang diperlihatkan Andy:
Kondisi areal yang di rencanakan untuk perkebunan berada di desa handil birayang atas dan handil birayang bawah, merupakan hutan rawa yang menjadi sumber ekonomi masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Gunung Makmur, Kecamatan Bati-Bati dan Kecamatan Kurau.
Lebih dari 5000 jiwa mengandalkan sumber ekonomi dari hutan galam tersebut. adalah Desa Handil Birayang Atas, Handil Birayang Bawah, Handil Gayam, Handil Babirik (kecamatan Gunung Makmur), Desa Liang anggang dan Desa Pandahan (kecamatan Bati-Bati), Desa Kali Besar, Handil Negara (Kecamatan Kurau).
Sumber Daya alam yang di manfaatkan dari Hutan Galam yaitu sumber Perikanan dan kayu galam (sebagai komoditi kayu bakar) dan mampu memberikan penghasilan rata-rata masyarakat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu perhari
Dari 3000 Ha hutan rawa yang tersisa 1800 berada di desa handil birayang atas dan handil birayang bawah yang rencananya akan di alih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit PT KJW.
            Menurut Andy “masyarakat tentu menolak adanya perkebunan kelapa sawit di lahan rawa mereka, karena konsisi ekonomi mereka saat ini cukup baik, dan apabila perkebunan dibuka akan banyak mata pencarian masyarakat, yang bergantung dengan lahan rawa akan hilang.
            Luas wilayah Desa Handil Birayang atas adalah 20 Km persegi, dengan tingkat kepadatan penduduk 55 jiwa per Km persegi, dan Desa Handil Birayang Bawah 16 Km persegi, dengan tingkat kepadatan penduduk 35 jiwa per Km persegi (Data statistik tahun 2008)” ujarnya.
Lanjut Andy “Desa Handi Birayang Atas kurang lebih memiliki 300 KK, dan Handil Birayang Bawah kurang lebih 284 KK. Dari masyarakat kedua desa tersebut, 80 persen memiliki lahan pertanian rawa, dengan tingkat produksi  rata-rata 4,5 ton gabah perhektar pertahun, untuk jenis padi tahunan (siam unus) dan 13.4 ton gabah perhektar pertahun untuk jenis padi  IR dan sejenis  (masa tanam 2 kali setahun).
Selain mengupayakan lahan pertanian, masyarakat kedua desa tersebut juga memanfaatkan perikanan, dan kayu galam sebagai sumber utama penghasilan mereka. Setidaknya dari sumber perikanan masyarakat, memperoleh penghasilan rata-rata Rp65 ribu perhari, dan dari pemanfaatan kayu galam memperoleh penghasilan rata-rata Rp100 ribu perhari.
Dari data diatas, telah jelas kondisi perekonomian masyarakat. Tapi bila di buka perkebunan kelapa sawit, banyak masyarakat yang akan kehilangan penghasilan. Walaupun perkebunan kelapa sawit telah panen, belum tentu penghasilan mereka akan lebih baik dari sekarang ini” pungkasnya. ara/mb05

220511-minggu(senin)-ketua Bem PT Uniska yg baru


Photo:
BEM – Uniska laksanakan pelantikan Ketua BEM PT beserta pengurusnya ditengah krisis minat kepemimpinan mahasiswa di kampus

BEM PT Uniska Programkan Semangat Berorganisasi

BANJARMASIN – Permasalahan SDM yang dewasa ini sering dihadapi oleh Perguruan Tinggi di Kalsel, adalah minimnya minat mahasiswa untuk berorganisasi, sehingga menyebabkan krisis kepemimpinan mahasiswa dalam kampus.
Seperti yang terjadi pada pemilihan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Universitas Islam Kalimantan (BEM PT Uniska) Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary di Banjarmasin.
Terkait permasalahan ini, Ahmad Wijaya Ketua KPU Mahasiswa Uniska, pada Sabtu (21/5) mengatakan“kami sudah menganggendakan program KPU Mahasiswa Uniska dalam rentang waktu yang cukup lama.
Dan kami juga telah menyiapkan program kegiatan pemilihan lanjutan apabila ada lebih dari satu bakal calon (balon) ketua, dengan agenda masa kampanye dan debat antar Balon. Namun agenda ini melenceng dari yang diprogramkan dan diharapkan” ujar mahasiswa Fakultas Tekhnik Uniska jurusan kesehatan masyarakat, semester VIII ini.
Lebih jauh bagaimana kronologis pemilihan ketua BEM PT Uniska, Halidi ketua MPM menjelaskan “awal Pebruari 2011, panitia KPU Mahasiswa Uniska dibentuk, yang anggotanya dari kepengurusan BEM-BEM Fakultas yang terdahulu, dan perwakilan semua UKM-UKM Fakultas, agar pemilihannya terbuka dan transparan.
Proses sosialisasi dan penjaringan berlangsung hingga 25 Maret 2011, dengan menyurati BEM-BEM Fakultas, dan pengumumam melalui pamlet-pamlet agar setiap BEM Fakultas (BEMF) mengirimkan calonnya untuk mendaftar.
Tapi selama proses itu, hanya ada satu Balon yang mendaftar. Menyikapi situasi ini, kami lakukan pengunduran waktu penjaringan selama dua kali dan hasilnya tetap sama. Akhirnya dari pada kepastian kepengurusan BEM PT Uniska berlarut-larut, maka pada awal April kita putuskan secara aklamasi Balon yang satu-satunya mendaptar menjadi Ketua BEM PT Uniska.
Setelah hal ini diputuskan, barulah timbul polemik, banyak mahasiswa yang mempertanyakannya. Lalu kami adakan dialog mahasiswa Uniska, setelah berdiskusi dan menjelaskan situasi yang terjadi, kawan-kawan mahasiswa mau menerima keputusan kami kemudian disepakati bersama.
Dan hari ini (Sabtu.Red), dimulai dari pukul 09.30 wita pagi hingga siang, dilangsungkan pelantikan ketua BEM PT beserta pengurusnya yang lain. Dihadiri mahasiswa Uniska, undangan dari Ketua Bem PT lain, dosen dan PR III Uniska” kata mahasiswa dari Fisip, semester IV ini dengan panjang lebar.
            Sementara itu M Agus Humaidi, Ketua BEM PT Uniska yang terpilih secara aklamasi, mengatakan “saya mencalonkan diri sebagai Ketua BEM PT, karena merasa terpanggil untuk meningkatkan keorganisasian dalam kampus, yang sekarang semangatnya semakin menurun. Sejujurnya saya prihatin, dari 11 ribu mahasiswa di Uniska, tidak ada yang mau mencalonkan diri sebagai Ketua BEM PT, ini adalah krisis kepemimpinan.
            Mencermati sikap mahasiswa sekarang, banyak yang hanya bercita-cita menjadi PNS, kalau kita adakan poling dari sepuluh mahasiswa, hanya 2 yang mau menjadi aktivis. Kebanyakan mahasiswa bersifat apatis, terhadap kondisi kampusnya ataupun kondisi daerah dan kebangsaan. Mereka hanya menjadi kupu (kuliah – pulang).
            Maka, selain dari meningkatkan semangat keorganisasian dalam kampus, program BEM PT Uniska kedepan antara lain tetap mengedepankan kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmiah, advokasi masyarakat dan politik nilai. Baik itu nanti berupa kegiatan intra kampus maupun ekstra kampus” pungkas mahasiswa Fisip semester VI ini, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua BEM Fisip Uniska. ara/mb05


200511-jumat(sabtu)-pedagang arang tergusur (Dm.080411.di Ekonomi & Bisnis hal.9)

Photo: mb/ara
ARANG – Rudi pedagang arang di sepanjang jalur hijau Pasar Lama yang tergusur

Lima Juta Perbulan Dari Menjual Arang

BANJARMASIN – Apabila sudah lama berjualan pada satu tempat, sudah dikenal luas dan diketahui pelangan. Kemudian pindah ketempat lain, tentunya akan mempengaruhi omset penjualan.
            Sebelum sebagian toko yang berada di Jalur Hijau Pasar Lama Laut di bongkar, Mata Banua sempat berbincang dengan pedagang yang ada di sana. Salah satunya adalah Rudi (41) atau yang biasa dipanggil Acang Pasar Lama.
Rudi adalah pedagang arang, tokonya tepat di samping jembatan Pasar Lama. Pada Kamis (12/5) siang yang lalu, ia menuturkan “dulu sekitar 1967 orang tuaku berdagang kelontongan disini, kemudian 1970 beralih berdagang arang. Setelah orang tua meninggal, aku dan dua orang saudaraku melanjutkan usaha ini.
Seingatku, awalnya disini pasar sajumput, lalu Dinas Pasar membangun toko, kami menebus harga toko waktu itu Rp 40 ribu. Sedangkan sewa tanah dari 65 rupiah, sampai sekarang Rp 225 ribu per bulan.
Bagi yang berjualan disini, bila hak sewa dapat penggantian dari Rp 24 juta sampai Rp 35 juta, tergantung kondisi bangunan. Tapi kalau yang punya sertifikat tanah dan lain-lain tentunya harganya lain lagi” ujarnya menceritakan sejarah awal mula keluarganya berjualan di Pasar Lama Laut.
            Lanjutnya “kami mengambil arang di Pelaihari, dengan jenis arang dari kayu Halaban, kayu Akasia dan kayu Galam. Sebulan omset penjualan arang sekitar 25 ton dengan keuntungan bersih sekitar Rp 4 juta sampai Rp 5 juta.
Rasanya memang berat meninggalkan usahan disini, karena usaha disini adalah peninggalan dari orang tua, dan tentunya dalam beberapa bulan kedepan omset penjualan akan menurun, karena banyak pelanggan yang belum mengetahui toko yang baru” pungkas Rudi. ara/mb06

200511-jumat(sabtu)-Ancaman Sawit benyamine.2


Photo: mb/ara
SIKAP – Diskusi seniman, sastrawan dan pemerhati sosial di warung seniman Banjarbaru menyikapi kebijakan pemerintah

Sikapi Kebijakan Perkebunan Kelapa Sawit Dari Warung Seniman

BANJARBARU – Perkebunan besar kelapa sawit sedang menjadi primadona kabupaten-kabupaten di Kalsel sebagai bukti adanya investasi yang masuk. Dilain pihak perubahan bentang alam yang cukup luas dan peralihan pungsi terhadap lahan rawa, berakibat perubahan tata air, yang sering menimbulkan banjir pada musim hujan tapi juga kekeringan pada musim kemarau.
Warung Seniman Kedai Kopi Nusantara (WSKKN), di sudut Minggu Raya seberang Lapangan Dr Murjani Banjarbaru memang selain menjadi tempat bersantai, sekaligus menjadi wadah berdiskusi bagi para seniman, sastrawan maupun pemerhati sosial di Banjarbaru, dalam menyikapi sebuah kebijakan pemerintah.
Salah satu pemerhati sosial masyarakat HE Benyamine, kembali menyatakan ke khawatirannya kepada Mata Banua, akan dampak ekspansi perkebunan kelapa sawit di lahan rawa.
Menurut Benyamine, beberapa waktu yang lalu di WSKKN, pada awal Mei mengatakan “penanggulangan kebanjiran memerlukan penanganan yang terintegrasi secara bersama antara daerah kabupaten dan provinsi. Karena permasalahan ini lebih tepat didekati dengan mengkaji kembali pemanfaatan lahan rawa, sebagai satu kesatuan dengan sungai untuk perkebunan besar kelapa sawit dan lintas wilayah administrasi.
Apalagi, masalah pencemaran dari perkebunan besar kelapa sawit di lahan rawa, dapat dengan mudah melewati batas administrasi, dan juga begitu banyak berhubungan dengan mata pencaharian warga masyarakat, yang masih bergantung dengan produktivitas dari lahan rawa dan sungai.
 Perkebunan besar kelapa sawit sedang menjadi primadona kabupaten-kabupaten di Kalsel, sebagai bukti adanya investasi yang masuk, yang dilakukan masing-masing kabupaten, tanpa memperhatikan keterkaitannya dengan wilayah lainnya” ujarnya.
Benyamine melanjutkan “lahan rawa yang terhubung dengan sungai-sungai, menjadi sasaran dari perkebunan besar sawit dalam menanamkan investasinya, yang menjadikan lahan rawa yang kaya dan keragaman hayati tinggi, hanya diarahkan menghasilkan satu produk sawit.
Kalsel harus mulai memperhatikan dampak dari perkebunan besar kelapa sawit yang masif dan ekspansif, selain konflik dengan warga masyarakat, juga kerusakan lingkungan hidup, khususnya ekosistem rawa dan sungai yang merupakan bagian penting dari kehidupan warga banua.
Oleh karena itu, masuknya investasi perkebunan besar sawit perlu juga memperhatikan pengetahuan lokal, yang sebenarnya ramah dalam pemanfaatan lahan rawa, dan adanya koordinasi antara daerah-daerah dan provinsi, yang lebih memandang lahan rawa sebagai bagian penting dari kehidupan warga masyarakat selama ini, yang menyediakan berbagai produk dalam memenuhi kebutuhan mereka” katanya.
Benyamine menegaskan “ancaman perkebunan besar kelapa sawit terhadap lahan rawa perlu diwaspadai, karena ekosistem lahan rawa dan sungai begitu mudah rusak, yang melebihi batas administrasi di mana perusahaan tersebut berada, yang dengan mudah menuju tragedi kehidupan. Perubahan bentang alam yang cukup luas, akan menuai banjir dikala musim hujan, kekeringan di musim kemarau dan pencemaran yang meracuni ekosistim hayati” pungkasnya. ara/mb05