Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2010 - 11 (November) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2010 - 11 (November) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

291111-selasa(rabu)-penjual ember keliling (Dm.di ekonomi)

Photo: mb/ara
KELILING – Penjual baskom keliling, tiap hari harus berjalan lebih dari 35 km, dari satu komplek ke komplek yang lain, keluar masuk kampung

Jual Baskom Keliling Untuk Biaya Sekolah Anak

MARTAPURA – Duk duk duk, dari jauh terdengar dua benda dibenturkan. Tampak seorang pria di berjalan di terik matahari, dengan membawa tumpukan baskom plastik di atas kepala dan digantung di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
            Suara duk duk berasal dari dua baskom kecil dan baskom besar yang dibenturkan oleh pria tersebut, untuk menarik perhatian masyarakat di wilayah perumahan yang dilewatinya.
            Raji (40 th) penjual baskom keliling, tiap hari harus berjalan lebih dari 35 km. Dari satu komplek ke komplek yang lain, keluar masuk kampung, dari Martapura hingga kota Banjarbaru.
            “Tumpukan baskom yang ada di kepala ini beratnya minimal 35 kg. Membenturkan dua baskom untuk menarik perhatian orang, kalau tidak tahu tekniknya bisa pecah.
Hari ini baru laku satu baskom kecil. Satu baskom paling untungnya Rp 3 ribu. Kalau lagi ramai bisa laku 7 baskom atau ember. Tapi bila lagi sepi, bisa saja tidak ada yang membeli” katanya bercerita kepada Mata Banua.
            Raji hanya mengenyam pendidikan hingga bangku kelas 3 SD. Jauh merantau dari kampung halamannya di Kota Probolinggo Jawa Timur, ke Kalimantan Selatan untuk mengumpulkan uang buat biaya sekolah dua putrinya.
            Di Kota Probolinggo, sebelumnya ia hanya seorang tukang bangunan. Putri pertamanya berusia 15 tahun duduk di kelas 1 SMA, dan putri ke duanya berusia 13 tahun duduk di kelas 2 SMP.
            “Sulit mencari kerja di Probolinggo, oleh karena itu aku merantau ke Kalsel. Apabila sudah terkumpul hingga Rp 300 ribu, baru dikirim ke sana.
Ini kulakukan untuk mencari uang buat biaya sekolah dua putriku, mudah-mudahan keduanya bisa sekolah hingga perguruan tinggi” harapnya dengan pandangan sendu, merindukan keluarganya yang nun jauh di seberang lautan. ara/mb06


Rabu, 21 Desember 2011

301110-selasa(rabu)-lomba tari radap rahayu STKIP (Dm.011210)

Photo: mb/ ara
LOMBA TARI - Lomba tari Radap Rahayu Anak Perseorangan, tingkat SMP dan SMA se-Kalimantan Selatan yang dilaksanakan oleh STKIP PGRI Banjarmasin.

MENGGIATAN SENI TARI DILINGKUNGAN PELAJAR

BANJARMASIN – Untuk lebih menggiatan seni tari dilingkungan pelajar, STKIP PGRI Banjarmasin telah menggelar lomba tari Radap Rahayu Anak Perseorangan, tingkat SMP dan SMA se-Kalimantan Selatan.
Sekertaris Jurusan Tari STKIP PGRI Banjarmain, Drs.Suwarjiya menjelaskan “alhamdulillah kita sudah selesai melaksanakan lomba tari Radap Rahayu Anak Perseorangan, tingkat SMP dan SMA se-Kalimantan Selatan, yang dilaksanakan pada 27 Nopember 2010 yang lalu.
Pemenang dari lomba untuk tingkat SMP yaitu juara I diraih oleh Noor Amalia dari SMPN23 Banjarmasin, juara II diraih oleh Septiana Nur Baiti dari SMPN1 Banjarmasin, dan juara III diraih oleh Indah Permata Sari dari SMPN23 Banjarmasin.
Juara harapan untuk tingkat SMP yaitu Khairunnisa dari SMPN1 Banjarmasin (harapan I), Anggrita Fitriana dari SMPN14 Banjarmasin (harapan II) dan Nadia Olfah dari SMPN13 Banjarmasin (harapan III)” katanya.
Kemudian untuk tingkat SMA, Suwarjiya melanjutkan “juara I diraih oleh Gusti Nur Ilma Ariella dari SMAN3 Banjarmasin, juara II diraih oleh Irisa Nur Radhityana dari SMKN4 Banjarmasin, dan juara III diraih oleh Syahrina Mahrom dari SMKN1 Marabahan.
Juara harapan untuk tingkat SMA yaitu Rindu Riri Herliani dari SMKN1 Marabahan (harapan I), Noni Deseana PY dari SMAN2 Kotabaru (harapan II) dan Fitry Aprianty dari SMAN3 Banjarmasin (harapan III).
Juri yang menilai dalam lomba ini ada tiga orang yaitu Drs.Heriyadi Haris, Suharyanti,S.Sn dan Indriani Nuralita Dwi.”
Sedangkan pengembangan dari lomba yang telah dilaksanakan, menurut Suwarjiya “kedepan akan kita kembangkan kejuaraannya dengan pembinaan yang akan diberikan kepada sekolah. Dengan syarat sekolah tersebut mengikuti kegiatan lomba yang kita adakan berturut-turut dua atau tiga kali, walaupun tidak mendapat peringkat juara.
Serta nantinya akan kita berikan pula piala berbakat (kategore sekolah pembina terbaik) untuk sekolah yang mampu membina siswinya, ini juga non rangking, hanya dinilai dari keaktifannya dalam mengikuti lomba. Kita juga akan usahakan ada uang pembinaan untuk sekolah tersebut.
Kami harapkan mudah-mudahan bapak gubernur kita untuk lomba selanjutnya, bersedia  memberikan piala bergilir, sebagai tanda kepedulian terhadap seni tari kita” pungkas Suwarjiya di ruang kerjanya di STKIP PGRI Banjarmasin pada Senin (29/11) siang. ara/mb05

291110-minggu(senin)-telaah bahasa dan sastra

BAHASA BANJAR PERWAJAHAN JATI DIRI ORANG BANJAR

BANJARMASIN – Apabila hendak mengetahui sifat dan karakter seseorang, dengarkan tutur kata yang diucapkan oleh orang tersebut. Serta dari bahasa yang digunakan seseorang akan jelas tergambar aspek budaya yang mendasari kehidupannya.
Prof.Dr.H.Djantera Kawi berkata “ada ungkapan bahwa bahasa menunjukkan bangsa, kiranya dapat pula kita labelkan pada penutur Banjar.
Bahasa Banjar yang telah tumbuh dan berkembang berabad-abad dengan jumlah penutur yang cukup besar merupakan salah satu di antara 10 bahasa daerah terkemuka (selain bahasa Jawa, Sunda, Madura, Bali, Bugis, Melayu Riau, Aceh, Batak, Minang, dsb)” katanya.
Tokoh Bahasa Kalimantan Selatan ini melanjutkan “aspek-aspek kebudayaan yang melekat pada perwujudan bahasa dan sastra tersebut merupakan perwajahan jati diri orang Banjar.
Dengan kata lain jika kita ingin mengenali watak, tabiat, cara berpikir, filosofi, etos kerja, egalitarian, tata kehidupan dsb, tentu dengan sangat gampang menelusurinya melalui fenomena bahasa dan sastra” ungkapnya.
Bahasa yang telah menjadi kebiasaan sehari-hari, cenderung membuat seseorang melupakan aspek-aspek yang mendasari dari bahasa yang ia pergunakan.
Untuk itu menurut Djantera Kawi “pertanyaan mendasar ialah apakah kita sudah melakukan telaah atau pengkajian terhadap berbagai aspek kebudayaan yang terkandung dalam bahasa dan sastra dalam rangka memperkokoh jati diri kita sebagai orang Banjar” pungkasnya pada Sabtu (27/11) siang. ara/mb05

291110-minggu(senin)-prestasi bjm di aruh sastra VII

Photo: mb/ara
JUARA III – Penampilan dari Tim Lomba Basyair kota Banjarmasin yang membawakan syair berjudul Sejarah Nagara Dipa.

BANJARMASIN JUARA III BASYAIR ARUH SASTRA KALSEL VII DI TANJUNG

BANJARMASIN – Upaya memperkuat kesenian, bahasa dan sastra daerah antara lain melalui Aruh Sastra Kalimantan Selatan, dimulai dari Aruh Sastra pertama hingga Aruh Sastra yang ke-VII di Tanjung, Kabupaten Tabalong, 26 s.d 28 November 2010.
Dalam salah satu lomba yang dilaksanakan dalam Aruh Sastra VII adalah  lomba basyair, dan Tim Basyair Banjarmasin (M.Humaidi dan Erma Normawati, Mahasiswa STIKIP PGRI Banjarmasin) berhasil memperoleh juara III basyair se-Kalsel.
Sebelumnya, saat pelepasan keberangkatan kontingen  yang akan menghadiri dan mengikuti kegiatan dalam Aruh Sastra Kalsel, Kepala Dinas Pariwisata kota Banjarmasin Hesly Junianto dalam sambutan pelepasan antara lain berkata “bagi peserta yang akan tampil mengikuti lomba bisa memberikan prestasi, karena itu kita perlu menjaga kerjasama kekompakan, kebersamaan dan rasa kesetiakawanan serta saling mensuport selama kita ada disana” pesannya pada Jumat pagi 28 Nopember 2010.
Prestasi lain dari kota Banjarmasin di Aruh Sastra VII adalah  dalam lomba cipta puisi bahasa Banjar dan cerpen bahasa Banjar , yaitu Erika Adriani dengan judul puisi Manyanggar Banua dan judul cerpen Tagaian (keduanya memperoleh juara I).
Kemudian puisi nominasi antara lain, Apriadi Darmawan dengan judul puisi Karasmin Sungai, Arief Al Rifany dengan judul puisi Sajak Panjual Kalakai. A.Rahman Al Hakim dengan judul puisi, Syair Mangganang Paguruan, dan Randi Arma Prayuda dengan judul puisi Kunci Naraka.
Daftar pemenang dari daerah lain untuk lomba basyair yaitu HSU peringkat I dan Tabalong peringkat II. Pemenang lomba madihin yaitu HST juara I, Balangan juara II dan Batola juara III, dari 13 kabupaten/ kota yang ada di Kalimantan Selatan.
Juri dalam dua lomba ini yaitu Drs. Syarifuddin R, Drs.H.Syamsiar Seman dan Jon Tralala. ara/mb05

281110-minggu(senin)-sastra melayu bjr1 (Dm.021210)

SASTRA MELAYU BANJAR KINI TERSESAT JALAN

BANJARMASIN – Beberapa waktu yang lalu banyak terjadi polemik di media massa lokal tentang sastra di Banua Banjar, khususnya tentang sastra melayu Banjar. Menurut salah satu pemerhati budaya Banjar, Setia Budhi pada Minggu (28/11) siang “bahwa dalam beberapa tahun kebelakang, penulisan karya sastra di tanah melayu Banjar ini mulai kehilangan haluannya.”
Katanya kemudian “bahwa sastra melayu Banjar terutama bersumber dari karya klasik sarat dan identik dengan perenungan diri terhadap perikehidupan komunitas Banjar, yang dibahasakan dengan sederhana dan bersahaja.
Sastra melayu Banjar merupakan serangkaian kata-kata yang memiliki makna intrinsik, bait-bait syair yang memiliki unsur-unsur lahiriyah dan bathiniyah yang mendalam terhadap Tuhan dan alam semesta.”
Setia Budhi melanjutkan “kebanyakan sastra melayu Banjar adalah sastra lisan yang kaya dengan simbol, pesan moral, peringatan-peringatan. Penuturan baik mengambil kisah dalam Al-Qur’an, tentang sebuah hikayat-hikayat yang menggambarkan rasa cinta terhadap Tuhan dan berdosa karena melanggar perintah Tuhan.
Sastra melayu Banjar juga menggambarkan kedamaian dan ketentraman jiwa melalui keyakinan yang dalam terhadap Tuhan” tuturnya.   
Melihat dari Sastra melayu Banjar tempo dulu, kemudian membandingkannya dengan karya sastra melayu Banjar sekarangn Setia Budhi mempertegas perubahannya, katanya “karya sastra melayu Banjar kekinian telah terlihat dipersimpangan jalan. Berubah menjadi kontemporer ataukah pop yang merupakan tersesat jalan.
Apakah para penyair akan mampus ditelan Tsunami karya sastra entertainment dan mengekor pada arus birahi sajak-sajak tentang Myabi ataukah tetap menjaga kearifannya pada akar tunjangnya yaitu ke-Melayu-an dan ke Islaman” pungkas Setia Budhi dengan pertanyaan untuk penyair Banjar sekarang.  Ara/mb05

281110-minggu(senin)-lokalitas1 (Dm.021210)

SASTRA YANG MENGHILANG

BANJARMASIN – Maraknya penerbitan karya sastra di Kalimantan Selatan, baik di media massa maupun dalam bentuk buku adalah merupakan sebuah perkembangan bagi budaya daerah dan pendidikan.
Disisi lain, dari maraknya penerbitan tersebut juga banyak hal lain dalam dunia sastra Kalimantan Selatan yang terlewat dan terlupakan, yang sekarang sudah semakin tidak dikenal lagi.
Raudal Tanjung Banua, seorang sastrawan Indonesia yang menetap di Yogyakarta, pada suatu kesempatan bertandang di Kalimantan Selatan (28/11) mengungkapkan pendapatnya tentang perkembangan seni dan budaya yang ada di Bumi Antasari ini.
Menurut Raudal “perkembangan kesenian, bahasa, sastra daerah dan sastra Indonesia di Kalimantan Selatan cukup mengesankan. Indikasinya tampak dari maraknya karya sastra yang mereka ciptakan. Entah berbahasa Indonesia maupun berbahasa daerah.
Kendati demikian, upaya memperkuat kesenian, bahasa dan sastra daerah harus terus dilakukan. Arus global yang datang tak terbendung kian menggerus akar budaya lokal dan semakin melemahkan sendi-sendi kehidupan masyarakat” katanya.
Selanjutnya Raudal menambahkan “sejumlah kesenian, bahasa dan sastra di daerah Kalsel diambang kepunahan. Meskipun masih mengenal ragam sastra lisan seperti pantun, madihin, basyair dan lamut, tapi sebagian masyarakat Kalimantan Selatan sudah tak kenal lagi dundam dan andi-andi” pungkasnya. ara/mb05

261110-jumat(sabtu)-nilai konsep dasar ekonomi

TEKANKAN PEMBELAJARAN NILAI BUDAYA BERBAGI DALAM KAMPUS

BANJARMASIN – Berbagi dengan orang yang ada disekitar, adalah nilai-nilai budaya yang sudah ada dalam masyarakat Banjar dari tempo dulu. Perkembangan jaman dan cara pandang materialistik mulai merubah nilai-nilai budaya berbagi ini.
Dosen Pengajar Kewirausahaan Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani (Uvaya), Subhan Fitriadi,SP,MP, dalam perbincangan santai menuturkan “pengenalan kembali dan latihan akan nilai-nilai budaya berbagi dan keterkaitan nilai-nilai budaya berbagi dalam segi ekonomi atau keuntungan harus ditanamkan kembali pada generasi muda melalui dunia kampus, sehingga saat mereka berada ditengah masyarakat, bisa dipraktekkan tanpa harus memperhitungkan untung dan rugi dari segi materi.
Pembelajaran nilai ekonomi keuntungan dari suatu usaha, tidak hanya dinilai dari  rupiah. Tetapi juga ada keuntungan lain dari sisi sosial masyarakat” kata Subhan.
Untuk lebih mudah memahaminya, Subhan memberikan sebuah permisalan “seorang pedagang bakso keliling yang setiap harinya bisa menjual 50 mangkok bakso. Namun pada suatu hari ia hanya bisa menjual 40 mangkok bakso. Berarti hari itu ia bisa dikatakan rugi 10 mangkok bakso.
Dari pada bakso tersebut menjadi rusak pada keesokan harinya, pedagang tersebut memberikan 5 mangkok bakso gratis kepada kenalannya yang sedang menunggu penumpang dipangkalan ojek.
Sedangkan 5 mangkok sisanya lagi diberikan dengan tetangga di tempat ia tinggal. Dari 10 mangkok yang diberikannya dengan gratis dan iklas, si penjual bakso malah mendapat keuntungan yang berkali lipat” katanya.
Subhan melanjutkan “dalam kebudayaan masyarakat khususnya orang Banjar, akan membalas apa yang diberikan oleh orang lain kepadanya.
Tukang-tukang ojek akan membantu dengan suka rela pula pada saat tukang bakso memerlukan bantuan, yang bila dinilai dengan rupiah bisa saja bantuan itu lebih besar dari harga 1 mangkok bakso.
Begitupun dengan tetangga yang ada disekitar rumah. Mangkok yang dikembalikan, tidak akan kembali kosong, tetapi berisi dengan makanan lain. Entah itu nasi sop, nasi goreng ataupun makanan lain. Inilah nilai ekonomi keuntungan sosial dari saling berbagi, yang diperoleh diluar dari nilai rupiah” ungkap Subhan. ara/mb05

261110-jumat(sabtu)-Madihin1 (Dm.291110)

SEDIKIT YANG BERMINAT MENJADI PAMADIHINAN

BANJARMASIN- Ada yang berpendapat bahwa madihin berasal dari kata madah, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah.
Sastrawan Kalsel, Arsyad Indradi (25/11) menuturkan seputar kesenian daerah Kalsel yang dikenal dengan madihin “dalam perkembangannya humor atau lelocon, sindiran yang sehat, tak ketinggalan disuguhkan oleh Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin ) sebagai bumbu kehidupan sastra Banjar madihin seperti juga sastra Banjar balamut, kesenian tradisional yang hampir tipis, bahkan mengalami kerisis kemusnahannya.
Setelah 1970an jarang atau dapat dihitung dengan jari orang yang berminat menjadi Pamadihinan. Agar menjadi Pamadihinan yang mengarah kepada pemain profesional, ia harus memiliki keterampilan dalam bamadihin” katanya.
Arsyad melanjutkan “keterampilan itu antara lain, menguasai lagu khas madihin, terampil memukul tarbang dengan irama sebagai pukulan pembuka atau membunga, pukulan memecah bunga, pukulan menyampaikan isi pesan, dan pukulan penutup.
Seorang pamadihinan juga harus mempunyai suara atau vokal yang lantang dan merdu. Disamping hapal naskah syair, ia juga terampil berimpropisasi yaitu secara spontan menciptakan syair tanpa dipersiapkan terlebih dahulu. Memang seorang pamadihinan perlu latihan yang terus – menerus agar dapat menjadi Pamadihinan yang baik” kata Arsyad.
Menilik dari sejarah madihin, banyak pendapat mengenai asal mula madihin. Ada yang mengatakan berasal dari Kecamatan Angkinan yaitu di kampung Tawia, Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Pendapat ini berpijak pada bahwa Pamadihinan banyak tersebar di pelosok Kalimantan Selatan berasal dari kampung Tawia bernama Dulah Nyangnyang.Ada juga yang berpendapat Sastra Banjar Madihin berasal dari Kecamatan Paringin, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan, sebab dahulu Dulah Nyanyang lama bermukim di ingin dan mengembangkan madihin di sana.
Namun yang jelas bahwa Sastra Banjar Madihin menggunakan bahasa Banjar, Pamadihinannya etnik Banjar. Madihin adalah kesenian tradisional Banjar yang khas Banjar yang tidak ada pada etnik lain di Nusantara.
Madihin sudah ada diperkirakan tahun 1800 yaitu setelah Islam masuk dan berkembang di Kalimantan. Lahirnya madihin banyak dipengaruhi oleh kesenian Islam yaitu kasidah dan syair – syair bercerita yang dibaca oleh masyarakat Banjar. ara/mb05

251110-kamis(jumat)-yg berangkat aruh dr bjm

BANJARMASIN OPTIMIS MENANG LOMBA BASYAIR DI TANJUNG

BANJARMASIN – Jumat pagi 26 Nopember, tim yang akan menghadiri Aruh Sastra Kalsel VII di Tanjung akan bertolak dari kantor Balai Kota. Segala persiapan untuk mengikuti lomba telah dilakukan.
Aruh Sastra Kalsel VII di Tanjung kali ini melaksanakan Lomba Cipta Puisi Bahasa Banjar, Lomba Mengarang Cerpen Bahasa Banjar, Lomba Basyair, Lomba Madihin, dan Penerbitan Buku Kumpulan Puisi Sastrawan Kalsel.
Event tahunan sastrawan di Tanjung yang dimulai dari 26 s.d 28 November 2010, dibuka pada pukul 15.00 wita, dengan agenda acara antara lain sambutan-sambutan dari Gubernur Kalsel, Bupati Tabalong, Kepala Dinas Sosial Kebudayaan Pariwisata Tabalong dan sambutan dari Ketua Umum Dewan Kesenian Kalsel.
Kemudian dilanjutkan dengan pengumuman/ penyerahan hadiah kepada juara lomba cipta puisi bahasa Banjar dan lomba mengarang cerpen bahasa Banjar. Setelah itu ada lomba Basyair (berpasangan).
Pada 27 November ada ziarah kemakam sastrawan/ budayawan kabupaten Tabalong, gelar baca puisi dari utusan kabupaten/ kota, seminar kesenian bahasa dan sastra daerah. Malamnya dilanjutkan dengan lomba madihin (berpasangan).
Dan 28 Nopember ada gelar baca puisi kembali dari utusan kabupaten/ kota, dialog sastra, pengumuman lomba basyair dan madihin.
Mengenai tim kota Banjarmasin yang akan menghadiri Aruh Sastra Kalsel VII di Tanjung, Mujiyat. SS.n,M.Pd menjelaskan “tim berkumpul di Balai Kota Banjarmasin pada Jumat pukul 07.00 wita, dari daftar nama-nama di bawah ini adalah yang sudah menyatakan diri bersedia untuk ikut serta, memang masih ada beberapa orang yang akan berangkat belakangan” katanya sambil memperlihatkan daftar peserta yang akan turut serta berangkat ke Tanjung.
Dari mahasiswa STIKIP PGRI Banjarmasin untuk tim lomba madihin, Rahmani dan Lia Novita Ariani, didampingi Abdurrahman Ayip. Kemudia tim lomba basyair, M.Humaidi dan Erma Normawati, didampingi Hermanto Misbach.
Tim gelar sastra atau musikalisasi puisi dari Forum Apresiasi Seni Fakultas Huku Unlam Banjarmasin, yaitu Betty Sitohang, Hasanul Fikrie, Sulistya Ayu Maladjim Assyiffa, Hendra Fajar, Syahrul dan Riyan Rismayadi Yahya.
Dari Sastrawan dan budayawan yaitu Drs.H.Syamsiar Seman bersama istri dan putrinya, Drs Hamberan Syahbana, Tajuddin Noor Ganie,M.Pd, Rosydi Aryadi Saleh, Maman S.Tawie, Ana Tresna Setiawati, Tarman Effendi Tarsyad,M.Pd, Jailani dan Drs.Mukhlis Maman.
M.humaidi dari tim lomba basyair berkata “naskah syair yang akan kami bawakan adalah Sejarah Nagara Dipa, salah satu yang kami pilih dari 5 judul yang ditentukan panitia Aruh Sastra Kalsel VII. Untuk lomba ini kami sudah siap 100%” pungkas mahasiswa jurusan tari STIKIP PGRI Banjarmasin ini dengan optimis. Ara/mb05

241110-rabu(kamis)-gerobak barang (Dm.di Ekonomi & Bisnis hal.9)

Photo: mb/ara
JASA ANGKUTAN – Geraobak barang adalah jasa angkutan barang paling murah di pasar Lima

ANGKUTAN BARANG PASAR LIMA PALING EKONOMIS

BANJARMASIN – Pasar Lima yang merupakan sentral dari perdagangan di kota Banjarmasin, tentunya menjadi tujuan dari pedagang kecil untuk membeli barang dagangan masing-masing. Proses selanjutnya setelah barang-barang dagangan dibeli adalah mengangkut..
Dalam jumlah kecil masih bisa diangkut sendiri, tapi dalam jumlah banyak, maka akan memerlukan jasa angkutan. Selain becak barang yang mangkal dipasar Lima menanti pedagang yang memerlukan jasa angkutan, yang paling murah dari jasa angkutan ada pada gerobak barang.
Mani salah satu penarik gerobak barang, menuturkan “dalam satu minggu cuma 3 hari yang paling ramai untuk jasa angkutan, biasanya pada saat kapal barang dating. Yaitu pada Senin, Selasa dan Rabu, hari lain akan sepi.
Dalam satu hari kalau lagi ramai, bisa 2 s.d 3 kali angkutan (tarikan). Satu kali tarikan rata-rata Rp 50 ribu. Jasa angkutan untuk barang biasanya satu karung gula (50 Kg) Rp 3 ribu, satu karung tepung Rp 1500, dan satu kotak mie Rp 300” tuturnya.
Menurut Mani, ia sudah menjalani profesi sebagai penarik gerobak barang selama 6 tahun, dulunya ia buruh bangunan. Tempat mangkal Mani sebagai penarik gerobak sehari-hari ada di pasar ayam dekat pasar Lima.
Katanya “para penarik gerobak barang juga ada persatuannya, bila kita menarik barang memasuki wilayah persatuan lain, paling tidak dalam mengangkat barangnya kita harus melibatkan buruh yang ada dipersatuan tersebut. Bagi-bagi rejeki lah, kata Mani sambil tertawa” saat duduk melepas lelah dipelabuhan depan kantor Pemko Banjarmasin, setelah menarik gerobak yang penuh dengan barang dari pasar Lima ke pelabuhan Lama pada Selasa (23/11) siang. Ara/mb06

241110-rabu(kamis)-aruh 2012

Photo : Mujiyat. SS.n,M.Pd

SIAPKAH BANJARMASIN SEBAGAI PELAKSANA ARUH SASTRA 2012

BANJARMASIN – Aruh Sastra yang rutin dilaksanakan setiap tahun di kabupaten/ kota di Kalimantan Selatan, sebagai event pertemuan dan kegiatan para sastrawan dan seniman daerah. Banjarmasin sebagai ibu kota provinsi dituntut kesiapannya sebagai penyelenggara pada suatu waktu mendatang.
Aruh sastra pertama pada 2004 di Kandangan, selanjutnya 2005 di Tanah Bumbu, 2006 di Kotabaru, 2007 di Amuntai, 2008 di Balangan, 2009 di Batola dan tahun ini untuk kota Tanjung pelaksanaan Aruh Sastra di gelar dari 26 s.d 28 November 2010.
Dalam setiap Aruh Sastra maka Dinas Pariwisata sebagai instansi terkait dalam setiap pelaksanaannya, tentunya tidak bisa bekerja sendiri tapi bekerja sama dengan Dewan Kesenian yang ada di daerah tersebut.
Beragam wacana dari para seniman mengenai Banjarmasin sebagai ibu kota provinsi Kalsel, bahwa bila menjadi pelaksana Aruh Sastra haruslah lebih baik dari pada kabupaten lain.
Menyikapi hal ini Kepala Bidang Kebudayaan Disparpora Kota Banjarmasin, Mujiyat. SS.n,M.Pd (24/11) berkata “sebuah program kerja kegiatan dinas, itu diajukan satu tahun lebih dulu, jadi kalau kita mau menjadi pelaksana Aruh Sastra maka 2011 kita ajukan anggarannya. Dan bila disetujui anggaran yang kita ajukan, selanjutya 2012 akan kita laksanakan Aruh Sastra di kota Banjarmasin.
Hanya saja, sastrawan dan seniman kita di Kota Banjarmasin ini masih banyak persoalan yang belum selesai. Dewan Kesenian Kotanya saja higga sekarang masih tidak jelas, sudah fakum selama 3 tahun. Bagaimana kita bisa bekerja sama dengan para sastrawan dan seniman dengan baik untuk melaksanakan Aruh Sastra kalau masih begini keadaannya” katanya.
Kabid Kebudayaan ini melanjutkan “mereka para sastrawan dan seniman yang punya kegiatan, seharusnya mereka yang lebih aktif. Bahkan rekan-rekan media massa sendiri sudah berulang kali menyoroti dan memberitakan persolan Dewan Kesenian Kota ini, namun hingga sekarang orang-orang yang terlibat dalam Dewan Kesenian Kota periode dulu masih diam-diam saja.
Bereskan dulu persoalan Dewan Kesenian, baru kita bicarakan pelaksanaan Aruh Sastra di kota Banjarmasin” pungkas Mujiyat. Ara/mb05

231110-selasa(rabu)-seni memancing (Dm.291110)

Photo: mb/ara
SENI MEMANCING - Beberapa orang pria di pelabuhan depan kantor Pemko Banjarmasin, sedang asik menanti ikan yang akan menggigit mata kail.

SENI MEMANCING TIDAK CUMA SEKEDAR HOBI

BANJARMASIN – Bagi masyarakat Kalsel memancing sudah menjadi hal yang biasa, penggemarnya dari masyarakat biasa sampai direktur dan pejabat. Yang membedakan hanyalah lokasi dan cara memancingnya.
Bagi orang berduit akan lebih suka memancing dikolam-kolam ikan tempat pemancingan, sedang masyarakat biasa lebih menikmati situasi memancing langsung dialam terbuka dengan ikan-ikan yang masih liar dan alami.
Selasa (23/11) siang yang panas di pelabuhan depan kantor Pemko Banjarmasin, tampak beberapa orang pria yang sedang asik menanti ikan, yang akan menggigit mata kail.
Wito, supir truk yang saat itu sedang memancing berkata ”dari pada tidak ada yang dikerjakan, kan lebih baik memancing. Aku memancing untuk mengisi waktu bila tidak ada angkutan.
Hasil mancing lumayan buat lauk makan dirumah, bahkan bisa lebih satu kilo. Kalau siang, ya kita mancing Lundu. Tapi kadang-kadang juga dapat Baung dan Patin” katanya.
Pemancing juga harus tahu keadaan air sungai, menurut Wito bila airnya keruh seperti ini yang ramai itu mancing ikan lundu atau udang.
Menurut dia “cara melempar mata kail, menunggu umpan dimakan ikan, merasakan patukan ikan dan saat mendapatkan ikan, merupakan seni tersendiri yang hanya bisa dinikmati para pemancing. Meski hanya banyak diam menunggu umpan dimakan, semua masalah keruwetan sehari-hari bisa dilupakan sejenak saat asik memancing” pungkas Wito. Ara/mb05

231110-selasa(rabu)-pameran UKM

PAMERAN UKM 2010

BANJARMASIN – Banyak hasil kerajinan masyarakat Banjarmasin yang belum terekspos, padahal produk-produk yang dihasilkan tidak kalah dengan produk luar daerah. Maka digelar Pameran UKM 2010 yang bertema 100% Produk Dalam Negeri, dari 24 s.d 28 Nopember  2010, bertempat di halaman kantor Pos Indonesia Banjarmasin.
Humas pelaksana pameran, Dhea menuturkan “kami dari Nela Aftah Production sebagai pelaksana kegiatan dari pameran ini, bekerja sama dengan Disperindak yang berpungsi sebagai wadah dan membantu pengusaha-pengusaha kecil yang belum terekspos.
Kami berharap produk-produk kerajinan kita  dapat bersaing dengan produk-produk dari daerah luar Kalsel. Dengan pameran ini kita memperkenalkan beragam kekayaan kerajinan masyarakat kita” katanya.
Mengenai kegiatan selain  pameran Dhea berkata “ada juga Parade Band pada Sabtu siang, peserta terbuka untuk grup band umum, lagu bebas, peserta boleh membawakan 2 buah lagu selama 12 menit. Untuk parade band sudah ditutup pendaftarannya.
Pemenang parade band dipilih berdasarkan polling terbanyak penonton. Dilain pihak Nela Aftah Production juga akan menilai kelompok musik mana yang paling baik dalam penampilannya dan nantinya akan kita kontrak untuk tampil pada setiap kegiatan kita.
Sedang pendaftaran yang masih dibuka hingga pelaksanaan acara yaitu lomba Photography Contest dengan biaya pendaftaran 25 ribu rupiah, Photo-photo yang dilombakan adalah hasil dari jepretan dari beragam kerajinan yang ada dilingkungan pameran.
Kemudian ada jalan sehat yang masih terbuka pendaftarannya hingga Minggu pagi, dengan biaya pendaftaran 15 ribu rupiah. Peserta akan mendapat baju kaos dan makan mie ayam. Hadiah lomba Parade Band, Photography Contest dan Jalan Sehat akan dibagiakan pada hari penutupan” kata Dhea.
Produk yang ditampilkan dalam pameran antara lain, Kerupuk Ikan Haruan Aneka Kue Kering, Amplang Keripik Singkong, Industri Kreatif Abon Ikan Seluang, Luluran dan Timungan Jamu, Sulam Bordir, Sasirangan, Pemanfaatan Limbah, Aneka Pigura, Meubel Rotan, Kerajinan Daun Purun, Kerajinan Aksesoris Handmade, Kerajinan Batu Permata, Aneka Kerajinan Kulit, Aneka Kerajinan Eceng Gondok, Aneka Kerajinan Bunga, Limbah Kayu, Tanggui, Lampu Akar, Aneka Anggrek dan Aneka Ikan Hias. Ara/mb05

221110-senin(selasa)-unlam aruh seni 3

Photo: mb/ara
ARUH SENI – Beragam Pagelaran dalam Aruh Seni mahasiswa Unlam Banjarmasin.

PAGELARAN ARUH SENI III MAHASISWA UNLAM BANJARMASIN

BANJARMASIN – Melihat keadaan kesenian daerah yang terkikis oleh kemajuan jaman, beberapa mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin berinisiatif untuk melestarikan kebudayaan banjar tersebut melalui Kampung Seni Budaya (KSB).
Pagelaran dari KSB ini dinamakan Aruh Seni, yang sekarang telah memasuki tahun ke-3. Pelaksanaannya sendiri telah dilangsungkan pada malam Minggu (20/11) tadi di halaman Unlam Banjarmasin.
Achmad Fajar, mahasiswa FKIP Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) Unlam, berkata “kegiatan ini memang diperuntukkan untuk mahasiswa baru Unlam, agar mereka lebih mengenal kesenian daerah sendiri”
Beragam kesenian tradisional dan daerah Banjar di pentaskan dalam Aruh Seni III, antara lain Karawitan, Madihin, Musik Panting, Vokal Group, dan Musik Keroncong.
Kemudian Tari Japin Hadrah yang merupakan perpaduan dari tari Japin dan tari Hadrah dibawakan oleh penari wanita antara lain Anggi Kusuma Wijaya, Erma Fitriani, Gita Leona Wulansari, Istiqomah, Maulida Hayati, Melly Ayu Wulandari dan Windarwati.
Baturai Pantun oleh Achmas Fajar, M.Budi Zakaria Sani dan Windarwaty.
Selanjutnya Tari Kuda Gepang yang dibawakan oleh Novita Anggeriani, Halidi, Khairunnisa, Leo Chandra, Rinto Sujaka Purba dan Rizka Halila. Menceritakan tentang sekelompok pasukan berkuda dari kerajaan yang gagah berani, diantara perkelahian dan percekcokan serta peperangan. Hingga pasukan berkuda inilah yang akhirnya menciptakan suasana membangun banua mereka menjadi aman dan sejahtera.
Ada juga Monolog dengan judul Leluhur Ku, disutradarai Hasby Rifani, dimainkan oleh Umi Ma’sumah.
Terakhir ditutup dengan Pentas Teater dengan judul Welcome to Banjarmasin, karya Suci Suryana R yang juga sebagai Sutradaranya, dimainkan oleh 12 orang.
Menceritakan tentang suasana suatu kampung yang ada di kota Banjarmasin. Dalam kampung tersebut  terdapat beragam suku dari nusantara. Interaksi dari beragam bahasa yang berbeda antar suku dalam kampung itu menjadi inti dari cerita dari pentas teater ini.
Sulisno, Dosen mata kuliah seni drama Sendratasik FKIP Unlam, berkomentar “kreatifitas generasi muda, khususnya mahasiswa dalam melestarikan budaya daerahnya sendiri adalah hal yang paling penting dalam dunia pendidikan dan kesenian” pungkasnya. ara/mb05



221110-senin(selasa)-sejarah sasirangan (Dm.291110)

KAIN SASIRANGAN AWALNYA HANYA DIGUNAKAN UNTUK MENGOBATI ORANG SAKIT

BANJARMASIN – Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan, mempunyai sejarah yang panjang. hingga sebelum kerajaan Islam Banjar berdiri. Sebuah sejarah yang bercampur dengan hikayat cerita rakyat yang disampaikan secara lisan turun temurun. Kain yang pada awalnya hanya digunakan untuk pengobatan orang sakit.
Diceritakan bahwa dimulai dari sekitar abad XII sampai abad ke XIV pada masa kerajaan Dipa atau kerajaan Banjar yang beragama hindu. Kain sasirangan yang pertama dibuat yaitu tatkala Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu.
Menjelang akhir tapanya rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengan suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini.
Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi atau padiwaringin.
Itulah kain calapan atau sasirangan yang pertama kali dibuat dan sering disebut oleh masyarakat sebagai batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.
Pemerhati budaya Banjar Mukhlis Maman menjelaskan bahwa: “sasirangan asal katanya dari menyirang atau kain yang dijelujur dengan benang, kemudian diikat (disisit) yang kemudian diwarnai.
Dengan kata lain Kain Sasirangan adalah kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu. Pada dasarnya teknik pewarnaan rintang mengakibatkan tempat-tempat tertentu akan terhalang atau tidak tertembus oleh penetrasi larutan zat warna” kata Mukhlis.
Salah seorang pengrajin kain sasirangan, Hj.Hajrah bercerita “menurut para tetua masyarakat, dulunya kain sasirangan digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit.
Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari” tutur Hajrah pemilik Rubiyah Sasirangan di jalan Gatot Sobroto XI Banjarmasin, pada Senin (22/11) sore. ara/mb05

211110-minggu(senin)-rumah lanting1

Photo: mb/ara
LANTING - Keberadaan rumah lanting di kota Banjarmasin Kalimantan Selatan mulai menghilang

RUMAH LANTING RUMAH TRADISIONAL BANJAR YANG TERGUSUR

BANJARMASIN Keberadaan rumah lanting di kota Banjarmasin Kalimantan Selatan mulai menghilang, tergusur. Seiring penataan kota yang tidak berpihak pada penataan kawasan sungai. Lanting dianggap mengganggu pemandangan karena menimbulkan kesan jorok dan kumuh.
Rumah Lanting adalah rumah rakit tradisional suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan dengan pondasi rakit mengapung terdiri dari susunan dari batang-batang pohon yang besar atau dengan pondasi dari susunan batang bambu (paring).
Secara umum rumah lanting banyak terdapat di sepanjang sungai-sungai Kalimantan. Terombang-ambing diayun gelombang merupakan pengalaman yang sangat mengasikkan berada diatas rumah lanting.
Sejak sepuluh tahun lalu, keberadaan lanting sedikit demi sedikit mulai menghilang. Wakil Sekretaris Lembaga Budaya Banjar Syarifudin R mengatakan  “pengembangan rumah lanting sebagai kebudayaan berarti membiarkan rumah lanting tersebut tetap berada di tempatnya, namun nantinya ada penataan yang lebih baik” kata syarifuddin (20/11).
Beberapa warga Banjar juga sangat menyayangkan menghilangnya rumah lanting, yang berarti salah satu ciri khas rumah tradisional masyarakat Banjar juga menghilang. Warga Banjar yang peduli mengharapkan agar pemerintah daerah, bisa kembali melestarikan rumah lanting.
Saat ini, rumah lanting hanya ada di beberapa daerah yaitu di Kecamatan Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Martapura, Tamban dan Kabupten Banjar.
Seluruh daerah tersebut merupakan daerah yang masih sangat tergantung dengan sungai baik untuk transportasi maupun kegiatan sehari-hari. Ara/mb05

         

211110-minggu(senin)-festival musik SMAN3 Bjm (Dm.231110)

Photo: mb/ara
MUSIK - Festival Musik Rock Pelajar yang dilaksanakan SMAN 3 Banjarmasin untuk memperingati ulang tahun sekolah.

FESTIVAL MUSIK ROCK SMAN 3 BANJARMASIN

BANJARMASIN – Dalam rangka memperingati ulang tahun sekolah ke-43, SMAN 3 Banjarmasin mengadakan Festifal Musik Rock Pelajar pada Minggu 21 NoPember 2010. Peserta festival diikuti oleh 15 sekolah dari 6 daerah yang ada di Kalimantan Selatan.
Grup band pelajar yang ikut festival ini antara lain dari Banjarmasin yaitu SMAN 2, SMAN 7, SMAN 11, SMAN 13, SMA Muhammadiyah 1, SMKN 3, SMKN 5, SMK Bina Banua, dan SMPN 6. Kemudian dari grup band pelajar SMAN 1 Batola dan grup band pelajar SMAN 1 Tamban.
Dari Banjarbaru diikuti oleh grup band pelajar SMA PGRI dan SMKN 3 Banjarbaru. Sedang dari Martapura diikuti oleh grup band MAN 1 dan dari Tanah Laut di ikuti oleh grup band pelajar SMAN Bati-bati.
Ada 4 grup band pelajar yang mengundurkan diri antara lain dari SMKN 1 Banjarmasin, SMK YPT, SMA PGRI 5 Banjarmasin, SMAN 5 Banjarmasin.
Ketua pelaksana festival musik rock SMAN 3 Banjarmasin, Khalid Wahyudi menjelaskan “ festifal ini adalah kegiatan tahunan dalam rangka ulang tahun sekolah ke 43, pada Agustus tadi. Tapi karena terbentur bulan puasa jadi acaranya ditunda hingga Nopember ini.
Sebelumnya masih dalam rangkaian peringatan ulang tahun sekola, juga telah dilaksanakan beberapa lomba yaitu lomba nasyid, lomba mading dan lomba futsal. Jadi festival musik rock ini adalah rabgkaian acara yang ke-3” katanya.
Khalid mengharapkan “melalui festival musik rock ini kami ingin memberikan gambaran kepada masyarakat, bahwa musik rock itu tidak selalu negatif, tapi juga bisa menjadi media untuk penyampai pesan-pesan, menyalurkan aspirasi, berkreasi dan sebagai hiburan. Serta untuk menumbuhkan bibit-bibit musik rock daerah.
Juara pertama diraih oleh Grup Musik Nice Band dari MAN 1 Martapura yang juga meraih katergore The Best Plyer gitar dan bass, juara ke dua diraih grup musik Utuh Itah Kla Band dari SMAN 1 Batola yang juga meraih katergore The Best Plyer keyboard dan drum, sedang juara ke tiga diraih grup musik  Cereal Killers Band dari SMAN 7 Banjarmasin yang juga meraih katergore The Best Plyer Vocal. 
Untuk hadiah nanti dibagikan pada acara puncak peringatan ulang tahun sekolah yaitu jalan santai pada 28 November 2010, mendatang” tutur siswa kelas XII IPA 1 SMAN 3 Banjarmasin ini.
Guru kesenian SMAN 3 Banjarmasin, mengatakan bahwa “festival ini adalah media bagi pelajar untuk menampilkan dan menyalurkan bakat mereka. Kita sebagai pengajar mempunyai kewajipan mensuport segala aktivitas positif siswa-siswi kita. Mudah-mudahan dari festival ini akan lahir bibit-bibit pemusik daerah yang bisa merambah dunia musik Nasional” pungkas Sulisno. Ara/mb05


191110-jumat(sabtu)-ritual dalang wayang3 (Dm.221110)

MASIHKAH ADA RITUAL MENJADI DALANG

BANJARMASINAda ritual tertentu sebelum seseorang menjadi dalang wayang Banjar. Namun seiring perubahan nilai budaya pada masyarakat di kota Banjarmasin membuat ritual menjadi dalang juga menghilang, bersama nilai-nilai tradisi wayang kulit Banjar itu sendiri..
Di era 1990an masih banyak pagelaran wayang kulit Banjar di seputar kota Banjarmasin, hingga memasuki abad milenium ‘2000’ hampir-hampir tidak terdengar lagi. Pertunjukan wayang kulit Banjar biasanya diselenggarakan pada kesempatan khitanan, upacara perkawinan, dan memenuhi nazar seseorang. Kini hanya dimainkan pada hari-hari besar nasional satu tahun sekali.
Sedang upacara perkawinan dan khitanan saat ini hanya menggelar acara karaoke dan musik dangdut. Pergeseran nilai budaya masyarakat Banjar ini tidak hanya pada wayang kulit Banjar tapi juga pertunjukan tradisional lain.
Untuk mengingat kembali pertunjukan wayang kulit Banjar, seperti halnya yang dituturkan pemerhati budaya Drs.Mukhlis Maman pada Jumat (19/11) sore “tempat pertunjukan wayang kulit Banjar biasanya di tanah lapang, halaman kantor atau rumah yang dapat menampung penonton, yang menyaksikannya dengan berdiri, duduk ataupun lesehan.
Untuk pertunjukan wayang kulit Banjarnya di atas panggung, lengkap dengan layar dan alat penerangan ‘blencong’, yaitu lampu dengan sumbu api berbahan bakar dari minyak kelapa.
Pada saat wayang kulit dimainkan oleh dalang, blencong tersebut dipasang di belakang layar (kelir), sehingga jatuhnya bayangan dari wayang kulit tepat pada layar. Di sisi kiri dan kanan dalang dipasang barisan wayang kulit, sementara pada penabuh gamelan duduk di belakang dalang sambil memainkan alat musiknya masing-masing.
Mukhlis melanjutkan “pengetahuan untuk menjadi dalang memiliki tatacara tertentu. Mula-mula diserahkan piduduk yaitu semacam sesajen atau syarat, yang dalam bahasa Banjar disebut pula mahar, kepada guru dalang untuk belajar. Bila murid sudah mengetahui pakem, tahu tentang tembang, mengetahui tentang gamelan maka ia batamat dengan jalan upacara mandi yang disebut badudus kemudian melakukan upacara pernafasan yang disebut bajumbang.
Dalam kondisi ini ia (calon dalang) kawin dengan Arjuna. Sebelum memainkan wayang, ia harus mampu mengucapkan Bisik Semar (mantera sebelum mendalang) dan menyarung diri (menitis) dengan Arjuna sebagai dalang sejati” tutur Mukhlis. ara/mb05

181110-kamis(jumat)-lamut berlumut

TRADISI BERKISAH YANG KIAN BERLUMUT

BANJARMASIN - Lamut adalah salah satu sastra Banjar. Dikatakan juga sebagai cerita bertutur atau sebuah tradisi berkisah, yang kian hari semakin menghilang.
“Dikhawatirkan suatu saat nanti lamut akan punah. Disebabkan hampir tidak ada lagi yang berminat untuk menjadi Palamutan (orang yang bercerita lamut), dan tidak adanya kepedulian dari masyarakat banjar itu sendiri, lembaga atau instansi senibudaya untuk melestarikian kehidupan Lamut yang semakin langka ini” kata Arsyad Indradi.
Pemerhati Budaya Drs.Mukhlis Maman pada Kamis (18/11) siang, menuturkan seputar sejarah “lamut berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Seperti halnya wayang yang diiringi dengan alat gamelan, lamut juga seperti itu . Bedanya lamut hanya diiringi dengan terbang, alat tabuh untuk seni hadrah. Mereka yang baru melihat seni lamut selalu mengira kesenian ini mendapat pengaruh dari Timur Tengah.
Pada masa Kerajaan Banjar dibawah pimpinan Sultan Suriansyah, lamut hidup bersama seni tutur Banjar yang lain, seperti Dundam, Madihin, Bakesah, dan Bapantun.”
Arsyad Idradi menambahkan “berlamut sudah ada pada zaman kuno yaitu tahun 1500 masehi sampai tahun 1800 masehi, tetapi berceritanya tidak diiringi tarbang. Ketika Agama Islam masuk ke Kalimantan Selatan, setelah Raja Banjar Sultan Suriansyah itulah  baru berlamut memakai tarbang.
Pengaruh dari alat musik Islam Hadrah dan Burdah itulah yang akhirnya mempengaruhi tatacara balamut. Sehingga Lamut juga mendapat tempat yang strategis dalam penyebaran Islam di masyarakat Banjar” kata sastrawan Kalsel ini.
Untuk waktu pelaksanaan lamut, Mukhlis menjelaskan “pelaksanaan lamut biasanya dilakukan pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 wita atau menjelang subuh tiba, sama seperti wayang.”
Kemudian lanjut Mukhlis “pembawa cerita dalam lamut ini diberi julukan Palamutan. Pada acara, Palamutan dengan membawa terbang besar yang diletakkan dipangkuannya duduk bersandar di tawing halat (dinding tengah), dikelilingi oleh pendengarnya yang terdiri dari tua-muda laki-perempuan. Khusus untuk perempuan disediakan tempat di sebelah dinding tengah tadi.
Lamut berasal dari negeri China, bahasanya pun semula menggunakan bahasa Tionghoa kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Banjar. Datangnya lamut di tanah Banjar kira-kira pada tahun 1816 yang di bawa oleh para pedagang Tionghoa ke Banjar hingga ke Amuntai
Konon orang-orang dulu sangat menyukainya karena lamut membawa cerita yang sangat banyak dan merupakan cerita pengalaman di banyak negeri yang di sampaikan secara bertutur” pungkas Mukhlis. Ara/mb05


171110-rabu(kamis)-jualan pemanggang sate (Dm.di Ekonomi & Bisnis hal.9)

Photo: mb/ara
LAKU – Panggangan sate laku keras di hari raya kurban.

PANGGANGAN SATE LAKU KERAS DI HARI RAYA KURBAN.

BANJARMASIN – Hari Raya Kurban, ternyata mendatangkan rejeki pula bagi penjual panggangan sate. Seorang pedagang  mengubah rak (tempat menjual bensin) dipinggir jalan Veteran, menjadi tempat untuk menjual panggangan sate, tusuk sate dan arang.
Menurut Sam’ani “ia menggelar dagangan panggangan sate dari pukul sepuluh pagi. Panggangan sate yang ukuran kecil harganya antara 15 sampai 16 ribu rupiah, untuk yang besar 25 ribu rupiah.
Sedang satu bungkus arang kurang lebih setengah kilo harganya 4 ribu rupiah. Untuk satu ikat tusuk sate kurang lebih 25 tusuk, harganya 3 ribu rupiah. Yang beli arang dan tusuk sate kebanyakan warga yang ada disekitar sini. Kalau panggangan satenya, banyak yang beli dari warga yang keberulan lewat di jalan Veteran ini” katanya.
Pangangan sate yang kecil terbuat dari plat seng yang cukup tebal, panggangan sate yang besar dari plat besi. Panggangan sate ini asli produksi daerah kecamatan Nagara, kabupaten Hulu Sungai Utara.
Memang seperti yang terlihat, silih berganti beberapa orang yang sedang lewat, sengaja berhenti untuk memilih panggangan sate yang akan dibelinya.
Sehari-hari, Sam’ani cuma menggelar dagangan alat-alat rumah tangga di depan rumah di gang Janar Putih, dulunya sebelum pembongkaran toko di sepanjang sungai jalan Veteran, ia punya tempat untuk menggelar dagangannya, walau hanya sebagai penyewa saja.
“Untungnya untuk satu panggangan sate tidak banyak mas” kata Sam’ani kepada Mata Banua, setelah melayani seorang ibu yang membeli panggangan sate. Kemudian katanya lagi “Paling-paling satu pangangan saya cuma mengambil untung seribu atau dua ribu rupiah, satu bungkus arang dan satu ikat tusuk sate paling untungnya tiga ratus rupiah. Tapi alhamdulillah banyak yang beli hari ini, dibanding hari biasanya” pungkasnya. ara/mb06