Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2010 - 10 (Oktober) - Rilis Tidak Dimuat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2010 - 10 (Oktober) - Rilis Tidak Dimuat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2011

Terbentuknya Komunitas Wartawan Seni Budaya Dan Pendidikan

BANJARMASIN - Menindak lanjuti wacana yang mengemuka diantara keinginan seniman akan adanya suatu Komunitas Wartawan Seni Budaya dan Pendidikan, diadakanlah pertemuan di rumah Budayawan Kalsel Syaripuddin.R, yang dihadiri oleh  beberapa seniman, kalangan pendidik, mahasiswa dan wartawan, pada Selasa (26/10) pukul 15.00 -18.00 wita, yang lalu.
Tamu yang hadir, diantaranya yaitu Hajriansyah (Ketua KSI Banjarmasin),  Nailiya Nikmah (Dosen Poliban Banjarmasin), dan beberapa mahasiswa yaitu :  M.Arsyad (LPM Kinday), Muhammad Pazri (KAMMI Bjm), M.Didi Rusadi (IMM Unlam), Darul Huda.M (LP2DH FH Unlam) dan Novia Winda (Himbi Sastra).
Sedangkan dari kalangan wartawan, antaralain Wulan (MB), A.Rahman.A (MB), A.Maghfur (Banjar TV), Hendra (MK), dan Frans (Metro Banjar). Wartawan yang tidak bisa berhadir, tetapi menyatakan setuju dengan hasil kesepakatan antara lain, Yuni (Duta TV), Firman (MK), Erwin (Banjar TV), Helman Gellyrian (Nirwana FM), Chintia (Barito Post) dan Isur (Radar Banjarmasin)
Dalam sambutan pembukaan Syaripuddin.R yang juga Ketua Harian Dewan Kesenian Kalsel, mengatakan ”kita berharap dengan adanya komunitas ini, para pelaku seni yang biasanya kesulitan untuk menghubungi wartawan, sekarang bisa lebih mudah untuk mempublikasikan kegiatannya.
Dengan komunitas ini dan pemberitaan yang rutin dari wartawan, akan sangat membantu kita Dewan Kesenian dan Disbudpar dalam menilai kreatifitas seniman, untuk memberikan penghargaan seni tahunan” ujarnya.
Hasil pembahasan pertemuan, menetapkan tujuan dasar pembentukan Komunitas Wartawan Seni Budaya dan Pendidikan, yaitu:
Memperluas komunikasi, informasi dan sambung rasa antar sesama wartawan (media cetak dan elektronik) yang bertugas di bidang Seni Budaya dan Pendidikan serta wartawan yang peduli dengan dunia Seni Budaya dan Pendidikan walau tidak betugas pada bidang itu.
Mempermudah akses akses bagi instansi/ organisasi/ pelaku seni budaya dan pendidikan untuk menghubungi wartawan (media cetak dan elektronik) Seni Budaya dan Pendidikan serta wartawan yang peduli dengan dunia Seni Budaya dan Pendidikan walau tidak betugas pada bidang itu.
Menjadi sebuah kekuatan untuk membantu permasalahan yang terjadi dalam dunia Seni Budaya dan Pendidikan, baik dalam pemberitaan maupun dalam memberikan solusi pada permasalahan tersebut.
Disebutkan pula dalam pembahasan, bahwa komunitas ini tidak untuk menciptakan blog antar sesama wartawan dan media, tetapi hanya sebagai wadah seperti yang tertuang dalam tujuan dasar. Dalam liputan dan pemberitaan tetap menjunjung tinggi kode etik Jurnalistik serta kebebasan pers antar sesama wartawan dan media.
Serta untuk membuat sinergi dalam kerjasama terhadap perkembangan dunia seni budaya dan pendidikan, dibentuk pula Generasi Muda Peduli Seni Budaya dan Pendidikan, yang anggotanya dari Mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda dan sumber insan pembangunan, dengan ketua Kelompok M Arsyad.
Disepakati pula sebagai kordinator yang akan mengorganisir komunitas yaitu A.Rahman.A, dan mengangkat Syarifuddin R sebagai penasehat dari perwakilan Budayawan. Sedang mengenai nama sebutan, lambang dan lain sebagainya, akan dibahas pada kesempatan lain. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Rabu 27 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT


Festival Musik Underground Di Saksikan Wakil Walikota Banjarmasin

BANJARMASIN - Persepsi masyarakat yang menilai underground adalah musik yang keras dan brutal, membuat UKM MG.Poliban Present, menggelar Spirit Music Of South Borneo (SMOSB) pada malam Minggu (16/10) yang lalu, di halaman Taman Budaya Kalsel.
Arti musik buat komunitas underground tidak hanya sebatas seni, tapi juga menganggap musik sebagai karya seni. Musik menjadi alat untuk menyampaikan protes, kritik, kemarahan, dan kemuakan terhadap peraturan-peraturan yang ada. Suara musik yang kencang, berisik, dan berat dipadu dengan lirik yang kritis, merupakan ciri khas musik underground.
Kata underground pada periode 1990 sd 2004 sempat naik daun, dan jadi basis sayap kiri bagi kalangan musisi independen. Kata underground sendiri diterjemahkan sebagai bawah tanah, dengan arti khusus kebebasan buat berkarya.
Aliran musik dalam underground bisa sangat beragam, yang load voice, midlle voice sampai yang kalem pun bisa, karena dalam musik underground yang terpenting adalah  semangat dalam pembawaannya.
Menurut Ketua Umum UKM Musik Generation Poliban, Sandy Gustiawan ”yang mendasari kegiatan ini, yaitu menunjukkan kreatifitas generasi muda di Kalsel, didepan khalayak secara positif.
Kami ingin mengubah persepsi masyarakat, yang menyatakan bahwa musik underground itu musik yang keras, padahal musik underground itu adalah musik kebersamaan persatuan dan kesatuan
Event seperti ini sudah kami laksanakan dari tahun 2007, dan terus akan kami laksanakan tiap tahun. Tidak ada target berapa kali dalam setahun di selenggarakan, tergantung waktu kosong dari aktivitas kampus, dan kesepakatan dengan sponsor.
Kami tidak mengira, kalau bapak wakil walikota Banjarmasin, yang usai menyaksikan Dramatisai Puisi di Gedung Seni Balairung Sari, pulangnya mampir kesini. Dari yang beliau sampaikan, bahwa beliau sangat mendukung dan mensuport acara kami” ujarnya diantara hangar-bingar suara musik yang keras menghentak gendang telinga.
Dilain pihak, Kepala Bidang Kebudayaan Disparpora Kota Banjarmasin, Mujiyat. SSn MPd, berkomentar “Yang namanya kaula muda sifatnya yang penting kumpul-kumpul, secara subtantif esensinya tidak begitu diperhatikan, tapi  kumpul-kumpulnya itu yang penting bagi mereka.
Secara regenerasi apapun bentuknya sejarah pertunjukan itu harus dikembangkan, tergantung bagaimana kita memberikan ruang. Bila semuanya teragenda dengan rutin, itu sangat bagus“ ugkapnya seusai mengantar Wakil Walikota Banjarmasin H.Irwan Anshari  di SMOSB. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Selasa 19 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT

Sulis Mengajak Warga Banjarmasin Bersholawat

BANJARMASIN – Kehadiran Sulis di kota Banjarmasin disambut antusias penggemarnya, sehingga halaman depan masjid Raya Sabilal Muhtadin pada Sabtu (16/10) malam, dipadati warga.
Gandi, Ketua Panitia yang melaksanakan acara bersholawat bersama Sulis, mengatakan “ini adalah apresiasi bersama dari Sulis selaku penyanyi lagu relegi, bersama  propidernya dan telkomsel.
Pada dasarnya acara ini atas rasa sukur, dengan banyaknya apresiasi masyarakat Indonesa, khususnya warga Banjarmasin atas NSP Sulis. Acara pertama kita mulai dengan marawis, setelah itu ada tausiah dari Drs KH Rajudin, kemudian nasyid. Insyaallah dengan apresiasi masyarakat, kedepannya kami akan kembali mendatangkan Sulis” ujarnya.
Ita bersama teman kos-kosannya sudah datang semenjak pukul 19.00 wita, padahal acaranya sendiri baru dimulai dari pukul 20.00 wita, dan Sulis sendiri baru tampil pada pukul 21.30 wita.
Duduk tidak jauh dari tenda penonton di depan panggung pertunjukan, menanti kedatangan Sulis, ia berkomentar ““Sulis itu cantik, suaranya merdu. Lagu-lagu sholawatnya banyak memotifasi untuk mencintai Rasul, aku sangat fans sama Sulis” ungkap mahasiswi Akademi Kebidanan, yang berasal dari daerah Kandangan ini.
Penonton yang awalnya hanya duduk bersantai cukup jauh dari panggung pertunjukan, sambil mendengarkan tampilan acara marawis, tausiah dan nasyid. Sepotan beranjak mendekati panggung, saat Sulis datang.
Sebelum melantunkan lagu sholawatnya, Sulis mengatakan “hampir semua lagu-lagu sholawatku di ilhami dari Banjarmasin, begitu juga lagu Cinta Rasul. Setiap kali aku diundang ke Banjarmasin, aku selalu bilang “ya”, karena aku selalu rindu untuk datang menjiarahi maqam Guru Sekumpul di Martapura”. ara/mb05 

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Senin 18 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT


Akhir Oktober 1300 Orang Guru Sudah Melek Teknologi

BANJARMASIN – Balai Teknologi, Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BTIKP) Disdik Kalsel, menargetkan akhir Oktober kurang lebih 1300 orang guru di Kalsel, akan sudah melek teknologi komputer.
Dalam rangka menunjang program melek teknologi untuk guru, BTIKP mengadakan beragam kegiatan lomba yang bertemakan pendidikan dan teknologi, yang dinamakan Festival E-Pendidikan.
Kegiatan dilaksanakan di Taman Budaya (TB) Kalsel, selama tiga hari, di mulai dari Minggu 10 Oktober sd 12 Oktober 2010. Selain itu juga di laksanakan pameran dan bazar yang diikuti oleh beberapa lembaga pendidikan yang ada di kota Banjarmasin.
Chairul Saleh, kepala BTIKP menuturkan “BTIKP operasionalnya baru pada 2009. Dalu subtansinya itu masuk di BPKB Banjarbaru, kalau lebih jauh lagi sejarah tekom ini di tahun 96an di Kanwil Depdiknas saat itu ada sanggar tekom di bawah pimpinan Pustekom.
Namun di era otonomi pada 2000 subtansi tekom, tidak dijadikan UPTD sendiri, tapi dimasukkan menjadi salah satu subtansi di BPKB, sehingga sempat namanya Balai Pengembangan Teknologi Komonikasi dan Pengembangan Kegiatan Belajar Masyarakat  (BPTKPKB).
Ternyata dari PP 41, Pemerintah Provinsi Kalsel merasa perlu ada balai tersendiri, yang khusus menangani teknologi. Karena melihat bidang TIK untuk pendidikan perlu di garap serius, jadi terbentuklah balai BTIKP yang baru berjalan satu tahun setengah.
BTIKP merupakan UPTD Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel, yang secara subtansi linknya di PUSTEKOM Pendidikan Nasiaonal. Sehingga yang membina, yang menghendel, yang mem back up segala kekurangan SDM kami dari Pustekom.
Ditengah-tengah perjalanan selama ini, BTIKP melakukan diklat-diklat, memberikan pengayaan, pelatihan, dan bimbingan. Hampir tiap hari ada saja guru yang di didik dan di latih” ujarnya.
Menurut Chairul, untuk pengembangan SDM guru di 2009 ketika start BTIKP, data sasaran ada 49000 lebih guru yang belum melek TK, belum pernah didiklat. “Maka mulai tahun ini, BTIKP melakukan upaya agar setiap Dinas Pendidikan (Disdik) di Kabupaten kota, untuk membentuk tim pengembang  ICT. Tim ini yang bertugas menghendel dan membantu balai, melakukan diklat bimbingan terhadap guru-guru.
Tahun ini sasaran 100 orang guru perkabupaten, dan sebagian besar sudah terlaksana. Artinya kalau nanti akhir Oktober ini selesai, maka yang sudah di diklat itu ada 1300 orang guru.
Tahun depan BTIKP akan memperbanyak lagi sasarannya, masing-masng 200 orang guru. Sehingga insyaallah di tiap Kabupaten Kota akan ada terdiklat 2600 orang guru. BTIKP akan membantu dana, begitu juga instruktur, kalau Disdik Kabupaten memerlukan, akan kami berikan juga” pungkasnya bersemangat. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Selasa 12 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT



Galuh Langkar Berikan Unsur Kejutan Pada Audisi IMB 2

BANJARMASIN – Semenjak pagi-pagi sekali peserta Audisi Indonesia Mencari Bakat (IMB) 2, sudah memenuhi halaman Hotel Arum (HA) Banjarmasin, untuk menunjukkan bakatnya masing-masing. Sementara seleksinya sendiri baru dimulai pukul 08.00 Wita.
Dari pantauan Mata Banua, audisi IMB 2 wilayah Kalimantan ini, dilaksanakan selama dua hari yaitu Sabtu dan Minggu (9 sd 10 Oktober 2010), Hari pertama, didominasi peserta yang datang dari luar kota dan luar daerah Kalsel. Ada yang berasal dari palangkaraya, samarinda  dan kota lainnya. Salah satu peserta dari Kalteng mengatakan datang berombongan, dan sudah ada di Kota Banjarmasin semenjak Jumat.
Setelah peserta mengambil nomor di meja panitia yang ada di halaman HA, harus menunggu panggilan dulu, sebelum dipersilahkan naik kelantai tiga HA, di mana ruangan audisi berada.
Peserta yang sudah dipersilahkan naik kelantai tiga, masih harus menunggu panggilan masuk keruangan audisi. Secara bergerombol dengan kelompok masing-masing, tiap peserta melakukan latihan. Wajah-wajah cemas dan tegang Nampak terlihat.
Salah satu kelompok peserta, menampilkan tarian adat suku dayak, lengkap dengan pakaian adatnya. Perpaduan antara tari tradisional, permainan senjata Mandau dan tari moderen, diantara iringan musik dayak yang ditampilkan, cukup mendapat pujian dari juri IMB 2.
Hari kedua, didominasi peserta seputar Kalsel, terutama kota Banjarmasin. Kelompok tari dari Perpekindo yaitu sanggar Galuh Langkar (GL) memperlihatkan kebolehannya menarikan tarian Banjar yang dipoles dengan menggabungkan sedikit gerakan dari tari moderen.
Kepada juri IMB 2, salah satu penari yang bernama Rena, mengatakan “motifasi kami ikut Indonesia Mencari Bakat adalah untuk menampilkan tarian daerah Banjar kepentas Nasional dan mancanegara.” Penampilan dari Sanggar GL ini juga mendapat sambutan yang baik dari para juri IMB 2, karena ada satu unsur kejutan yang tidak dikira dalam penampilan.
Kemudian tampil sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Panting Bliz (PB). Unsur musik panting yang dipadukan dengan lagu barat, dan rap, membuat juri terkesan Walau ada salah satu anggota dari PB, dinilai juri kurang memuaskan penampilannya, dan diberi kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki penampilan.
PB di persilahkan berlatih dulu diluar ruangan audisi, dan bila telah siap baru kembali keruangan audisi. Usaha keras dari PB pada kesempatan kedua, menjadi pertimbangan juri IMB 2 mengirimkan rekaman penampilannya ke Jakarta. Selanjutnya  tinggal menanti dihubungi oleh Trans TV, tentunya yang dihubungi berarti telah lolos dan berhak untuk ikut audisi tingkat nasional di Jakarta. ara/mb

-----------------

Di masukkan :
-         di kolom Pentas, Mata Banua
pada Minggu 10 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT
-         di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Senin 11 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT
-         di Berita Kaki, halaman 1 Mata Banua
pada Selasa 12 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT

DG Adakan Lomba Musik Panting Tertutup

BANJARMASIN – Seni adalah milik masyarakat, sangat tidak menyenangkan dan tidaklah baik, ketika sebuah kegiatan seni mempunyai kesan tertutup.
Senen (4/10) sore, sesuai janji dan atas permintaan Abdullah Sp, Mata Banua menemuinya di Taman Budaya Kalsel. Perihal kegiatan seni yang akan dilaksanakannya, yaitu Lomba Musik Panting. Dalam pertemuan tersebut, Abdullah mengatakan kalau ia sebagai konsultan lomba pada rangkaian peringatan ulang tahun Super Market Bahan Bangunan, Depo Gemilang (DG) di Banjarmasin. 
“Peserta di batasi hingga 10 kelompok saja, jadi siapa yang terlambat menyatakan kesediaan, maka tidak bisa untuk ikut lomba. Kami sudah mengundang 14 Grup musik panting, yaitu:
Nan Sarunai (IAIN Antasari Banjarmasin), Janar Putih (Jl.Manggis), Baturai Lagu (SMA 6 Banjarmasin), Junjungan Naga Pusaka (Jl.Gatsu), Anum Banua Etnik (STIKIP PGRI Banjarmasin), Musik Panting Banjar (Jl.Pangambangan), Titian Barantai (Uniska Banjarmasin), Cahaya Banjar (Kelayan B), Samaban Suasana (Unlam Banjarmasin), Sanggar SMPN 2 (Banjarmasin), Kembang Naga Sari (Jl.Vetran), Rampak Pesona (Sei.Mesa), Ruhui Rahayu (Banjarbaru), dan G Anpa (Banjarmasin)”.
Untuk lebih jelas mengenai kegiatan lomba musik panting ini, Mata Banua mencoba mengkonfirmasinya dengan panitia pelaksana di DG.
Kesan yang didapat sangat tidak menyenangkan, tatapan satpam DG yang penuh curiga, padahal sudah memakai ID Card Wartawan. Ditambah dengan permintaan Costomer Service DG, agar semua perlengkapan yang di bawa untuk ditinggalkan saja di penitipan, termasuk melepas jaket, seakan wartawan adalah pencuri.
Setelah mengaikuti aturan yang berbelit-belit, akhirnya bertemu dengan Manager DG, yang kemudian mengatakan “peserta dibatasi, kami tidak mengagendakan mengundang seniman lain (selain juri), atau instansi yang terkait (Taman Budaya dan Dinas Pariwisata), bahkan juga dari media massa, ini hanya untuk kalangan sendiri.
Kalau kamu mau membuat beritanya, nanti rilisnya bawa kemari dulu. Saya ingin melihat isinya, mana yang boleh dimuat mana yang tidak” ujarnya, yang ternyata baru 4 bulan bekerja di Banjarmasin. Dengan mangkel wartawan Mata Banua meninggalkan gedung DG.
Di lain pihak Mukhlis Maman, pemerhati seni budaya, berkomentar “seni adalah milik masyarakat, tidak sewajarnya dalam lomba peserta dibatasi apalagi berkesan tertutup. Kecuali pembatasan perwakilan utusan daerah, itu bisa dibenarkan.
Alasan panitia yang takut peserta lebih dari yang ditentukan dalam lomba itu juga tidak relevan. Kalau kesannya seperti itu malah akan menimbulkan kecurigaan para seniman.
Hak informasi yang dibatasi, hanya akan membuat kegiatan seni budaya tidak di ketahui masyarakat. Kita harus membina hubungan yang baik dengan wartawan” pungkasnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Rabu 06 Oktober 2010 – TIDAK DI MUAT