Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 11 (November) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 11 (November) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

301111-rabu(kamis)-eksplorasi puisi dr p'asa (Dm.021211)

Photo: Drs Ali Syamsudin Arsi

Dicari Tafsiran Baru Pementasan Puisi

BANJARMASIN – Pencarian bentuk-bentuk tafsiran baru terhadap puisi sangat memungkinkan. Interprestasi puisi di atas panggung harus dikembangkan lebih jauh lagi, kita tidak bisa terpaku pada sesuatu yang sudah ada saat ini.
Hal ini diungkapkan Drs Ali Syamsudin Arsi atau yang akrab disapa dengan Asa, dengan Mata Banua beberapa waktu yang lalu di Taman Budaya (TB) Kalsel.
            Menurut penyair Kalsel ini, adanya jurusan Sendratasik di Universitas Lambung Mangurat dan jurusan Seni Tari di FKIP STKIP PGRI, membuka peluang pemikiran yang lebih maju terhadap pementasan sastra dan puisi.
            Jangan sampai lomba-lomba puisi hanya terbatas pada dramatisasi atau teaterikalisasi puisi, musikalisasi puisi, dan puisi yang dinyanyikan saja.
Penjelajahan pada puisi tidak terikat atau tidak berdiri pada satu posisi, tapi puisi akan merambat pada celah-celah yang lain, dan itu sangat memungkinkan. Karena puisinya sendiri adalah membuka untuk tafsiran.
“Akan menjadi lebih kaya apabila puisi berada dalam multi tafsir pertunjukan. Seperti satu kesatuan pertunjukan puisi dalam drama yang terdapat pula tarian, lalu diiringi dengan musik dan nyanyian” katanya.
            Bentuk-bentuk tampilan baru memperkaya khajanah perpuisian, tiap orang boleh mencari tanpa batasan. Eksplorasi-eksplorasi seperti ini, pada akhirnya menimbulkan istilah baru, dan itu sah saja. Sehigga kehidupan berseni menjadi lebih dinamis, dan bersaing untuk menjadi lebih kreatif.
            Untuk mencari bentuk-bentuk baru, dalam menafsirkan sastra dan perpuisian, diperluakan wawasan yang luas dan mau belajar kemana saja. Tidak terpaku dengan keadaan di dalam daerah saja.
            “Siapa dan dimana harus memulai ini? Siapapun dan tidak ada tempat yang dapat membatasi. Dimana bisa memungkinkan, disitulah bisa ditampilkan.
            Tapi, TB sebagai sentral seni budaya di Kalsel, tentunya lebih memungkinkan, untuk melakukan eksplorasi dan pengembangan bentuk-bentuk baru pementasan sastra” ujarnya. ara/mb05


301111-rabu(kamis)-bangunan tanpa penghijauan (Dm.011211)

Photo: mb/ara
BETON – Sangat banyak bangunan ruko di Kota Banjarmasin, mempunyai halaman yang hanya tertutup beton dan tanpa penghijauan

DKP Himbau Ruko Laksanakan Penghijauan

BANJARMASIN – Upaya penghijauan tidak hanya dijalan-jalan utama di Banjarmasin maupun pada kawasan hijau atau hutan kota.
Penghijauan juga harus digalakkan pada bangunan-bangunan yang halamannya semua tertutup beton, dan tak ada celah bagi serapan air. Ini jelas terlihat pada kebanyakan bangunan ruko di Kota Banjarmasin
Berdasarkan kajian Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, polusi udara di Kota Banjarmasin sudah di ambang batas. Salah satu faktor penyebab polusi udara adalah asap dari hasil pembuangan, yang disebabkan dari tingginya mobilitas dari kendaraan bermotor.
Kualitas udara terburuk dari sampel beberapa bulan terakhir, terdapat di empat titik. Titik-titik tersebut adalah kawasan Lingkar Basirih, kawasan Belitung, Sultan Adam dan Veteran.
            Menanggapi pertanyaan Mata Banua, menurut Drs H Hamdi selaku Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Banjarmasin, beberapa waktu yang lalu di Gedung PWI Kalsel. Kebersihan dan polusi menjadi masalah utama di kota ini. kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan penghijauan kota, tidak hanya menjadi beban pemerintah, tapi juga tanggung jawab masyarakat. Begitupula pada para pengembang atau pemilik bangunan ruko.
Penanaman pohon di sekitar kawasan-kawasan yang rawan polusi. Diharapkan dapat mengurangi partikel debu dan polusi yang dapat mengganggu pernapasan manusia.
“Yang penting partisipasi masyarakat dalam mendukung gerakan penghijauan. Kami juga menghimbau dan mendorong kepada pemilik ruko untuk melaksanakan penghijauan. Bahkan apabila ruko tidak punya lahan, bisa saja dimanfaatkan bagian atas gedung dengan sistem demplot.
Maka untuk mendorong ini, kami akan memberi penghargaan bagi bangunan dan ruko yang paling hijau. Sehingga Banjarmasin benar-benar menjadi hijau dan teduh” ujarnya. ara/mb05

281111-senin(selasa)-PPC YPPC Mtp

Photo: mb/ara
PRESTASI – Anak-anak panti YPPC Keraton mempunyai segudang prestasi

Panti Penyandang Cacat YPPC Keraton
Mempunyai Anak asuh Yang Berprestasi Dalam Olahraga

Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional, no 20 tahun 2003 Bab IV Pasal 5 ayat 2 dinyatakan, bahwa warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, intelaktual dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang mengalami kelainan sedemikian rupa baik fisik, mental, sosial maupun kombinasi dari ketiga aspek tersebut, sehingga untuk mencapai potensi yang optimal ia memerlukan Pendidikan Luar Biasa (PLB).
Panti Penyandang Cacat – Yayasan Penyantun Penyandang Cacat (YPPC) Keraton didirikan pada 2006, beralamat di Jl Menteri Empat Rt 12 Komplek PLB, Sei Paring Martapura.
Menurut Sutra Ali (59) pendiri yayasan dan pembina panti, sebelumnya hanya ada SDLB. Tapi setelah didirikan YPPC baru terjadi perkembangan yang lebih baik, yaitu mulai dibangun panti, SMPLB, dan SMALB. Selain dari anak-anak cacat mental dari panti yang bersekolah, ada pula anak-anak cacat mental dari masyarakat di Martapura dan Banjarbaru.
Tujuan pendirian panti, pada dasarnya untuk membantu anak-anak cacat mental yang tidak mampu atau tidak mempunyai biaya. YPPC sekarang membina 30 anak asuh tunarungu dan tunagrahita, dengan tingkat pendidikan SMALB ada 10 anak, SMPLB ada 5 anak, dan sisanya di SDLB.
Anak-anak berasal dari Banjarmasin, Rantau, Barabai dan Kotabaru. Diantara 30 anak, terdapat 3 anak putri. Karena kapasitas asrama terbatas, sebagian anak menyewa di rumah penduduk yang berada di sekitar SLB.
Selama 5 tahun panti didirikan, sudah lebih dari 20 anak yang purna asuh dan hidup mandiri (bekerja). Beberapa anak mengabdikan diri dengan bekerja sebagai Tata Usaha di SDLB.
Di SMALB anak-anak diajarkan beragam keterampilan, dari memasak, potong rambut, membuat sandal, menjahit dll. “Beberapa tahun yang lalu, dari Dinas Sosial memberi bantuan modal berupa peralatan usaha untuk anak yang telah lulus sekolah. Seperti alat membuat batako, mesin jahit dll. Tapi sekarang tidak ada lagi” katanya kepada Mata Banua.
Tidak sedikit pula anak-anak panti yang berprestasi di SLB. Begitupula dalam olahraga, ada yang berprestasi dalam bulu tangkis, lari, bahkan ada yang mewakili Indonesia dalam Olimpiade Tunagrahita di Athena Yunani pada Juni 2011 yang lalu.
Pada pekan Olahraga Pelajar Cacat Nasional (Popcanas) di Riau, 19-21 Oktober 2011, salah satu anak panti YPPC meraih medali emas dalam cabang olahraga renang.
Selain di sekolah, di asrama panti anak-anak juga diajarkan tentang disiplin. Ada peraturan untuk mereka, seperti waktu sholat, jam tidur, siapa yang mendapat giliran kebersihan, bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat dll.
“Disiplin di sini, tentu berbeda dengan anak normal, tapi paling tidak ada peraturan yang harus mereka taati. Apabila melanggar hukumannya juga hanya nasehat. Mengurus anak cacat mental sangat memerlukan kesabaran. Anak-anak yang sudah purna asuh dan mandiri, apabila liburan sering datang berkunjung ke panti” ujar Sutra Ali yang sudah 20 tahun mengajar di SLB sebagai guru Agama. araska

271111-minggu(senin)-TB pagelaran wayang kulit (Dm.291111)

Photo: mb/ara
DALANG CILIK - Sahriawan Jaya Sukma Si Dalang Cilik kembali menampilkan kemahirannya dalam menuturkan dan memainkan wayang kulit di Taman Budaya Kalsel

Celoteh Dalang Cilik Kembali Meriahkan Taman Budaya Kalsel

BANJARMASIN – Kolaborasi pagelaran wayang kulit Banjar yang dibawakan oleh tiga generasi dalang malam ini, adalah untuk yang pertama kalinya di Taman Budaya (TB) Kalsel. Apalagi ke tiga dalang tersebut masih satu keluarga, dan kehadiran Sahriawan sebagai dalang cilik memberi warna dan semangat baru bagi dunia pedalangan di Kalsel.
            Hal ini diungkapkan Kepala TB Kalsel Drs Noor Hidayat Sultan, dengan Mata Banua pada Sabtu (26/11) malam, di tengah pertunjukan wayang kulit Banjar Kolaborasi dalang cucu yaitu Sahriawan Jaya Sukma 12 tahun, dalang anak yaitu Sah Putera 36 tahun dan dalang kakek yaitu Diman 55 tahun.
            Pagelaran wayang kulit Banjar malam tersebut, merupakan agenda tahunan TB. Bertempat di samping gedung Wargasari TB dari pukul 22.00 Wita hingga pagi. Karena ada tiga dalang, pertunjukan di bagi menjadi empat sesi.
            Sesi pembuka dilakukan oleh dalang Diman, lalu pada sesi ke dua dilanjutkan oleh dalang Sahriawan sampai pukul 23.00 Wita. Kemudian sesi ke tiga di teruskan oleh dalang Sah Putera, dan sesi ke empat disambung dengan dalang Diman hingga pagi. Lakon cerita yang dibawakan berjudul Liku-Liku Pandawa Mambangun.
            Animo penonton cukup banyak, sampai-sampai bangku yang disediakan TB tidak mencukupi. Hampir sepertiga penonton dari kalangan generasi muda (mahasiswa).
            Sebelumnya, pada Minggu malam 10 Juli yang lalu, Sahriwan dalang cilik Asam Barimbun Grup dari kabupaten Hulu Sungai Tengah, juga pernah tampil di panggung terbuka TB Kalsel dalam Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai. Kelincahan dan celoteh Sahriawan dalam memainkan wayang kulit Banjar, telah memukau penonton.
            Menurut dalang Diman (kakek Sahriawan), lakon cerita pewayangan yang dimainkannya, anak dan cucunya kali ini (Sabtu malam, 26 November 2011), bukan cerita carangan, tapi cerita pakem pewayangan. Kisahnya mengenai liku-liku keluarga Pandawa dalam membangun kerajaan, setelah terusir dari kerajaan Hastinapura.
            Diman sangat bangga dengan kemampuan Sahriawan, dalam usia dini telah mampu menjadi dalang.
            “Mudah-mudahan Sahriawan nantinya lebih dari kami. Semoga pemerintah mempunyai program, untuk meningkatkan generasi muda dalam pedalangan, hingga akhirnya ada festival dalang cilik di Kalsel ini” harapnya. ara/mb05

271111-minggu(senin)-diklat eskul distograf SMAN 7

Photo: mahfuz

Siswa SMAN 7 Banjarmasin Kembangkan Dunia Fotografi Pelajar

BANJARMASIN – Dunia fotografi kian digandrungi kalangan pelajar di Banjarmasin, walau hanya sekedar hobi. Ini terlihat dengan terbentuknya komunitas-komunitas fotografi baru.
Keterbatasan alat tidak menghalangi seseorang untuk belajar fotografi. Adanya anggapan bahwa untuk belajar dan latihan fotografi harus menggunakan kamera DSLR, adalah tidak benar.
Apapun kameranya tidak menjadi masalah, hanya dengan kamera HP saja sudah bisa dilakukan.
Tanpa mau ketinggalan terhadap perkembangan dunia fotografi. Beberapa hari yang lalu pada Kamis (24/11) sore, beberapa pelajar SMAN 7 Banjarmasin, mengadakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Fotografi dilingkungan sekolahnya.
Diklat dilaksanakan di aula SMAN 7 Banjarmasin dari pukul 16.00 sd 18.00 Wita.
Menurut Asparis noval Ketua Panitia Diklat, ada 20 siswa yang mengikuti Diklat. Selain materi dasar fotografi, ada pula materi editing foto.
“Dengan adanya Diklat ini, pengetahuan kami tentang fotografi semakin bertambah. Sehingga hanya dengan kamera sederhana, bisa menghasilkan gambar yang baik” ujar siswa kelas II IPS 2 ini kepada Mata Banua, di sela-sela kegiatan Diklat. ara/mb05

251111-jumat(sabtu)-pasar terapung.1 dr mukhlis

Photo: mb/ara
RUSAK – Ibu Norasikin di Sungai Bakung Kec Sungai Tabuk sudah satu bulan lebih menganggur tidak bisa berjualan, karena sampan yang dipergunakannya untuk berdagang sayuran kepasar terapung selama ini sedang rusak

Kembangkan Pasar Terapung Yang Sudah Ada

BANJARMASIN – Pasar terapung yang di Festival Pasar Terapung Sungai Martapura, di depan Kantor Gubernur Kalsel di Banjarmasin. Dan rencana mengembangkan pasar terapung masuk kota di kawasan sungai jalan Japri Zam Zam, pada dasarnya adalah dibuat-buat.
Hal ini diungkapkan Drs Mukhlis Maman, dengan Mata Banua pada Kamis (24/11) malam.  Menurutnya, sesuatu yang dibuat-buat apalagi tidak pada tempatnya, di nilai dari sisi budaya tidak mempunyai makna, atau tidak alami.
Pasar terapung yang sebenarnya ada di pasar terapung Kuin perairan sungai Barito, dan pasar terapung Lok Baintan perairan sungai Martapura.
Pengertian budaya adalah sesuatu yang berkembang, dan tumbuh dari masyarakat. Kalau budaya itu dibuat-buat, maka tidak akan bertahan lama. Apa bila pemerintah ingin mengembangkannya, diperlukan kesungguhan yang maksimal dan waktu yang cukup lama.
Yang seharusnya dilakukan pemerintah, adalah membangun fasilitas dan inprastruktur yang memadai, untuk akses di pasar terapung yang sudah ada. Ekonomi masyarakat di sana diperbaiki, serta memberikan bantuan modal usaha bagi pelaku pasar terapung.
Sesuatu yang alami, mempunyai nilai yang lebih tinggi dalam pariwisata. Para wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan manca negara (wisman), cenderung mengunjungi tempat yang terbentuk secara alami. Bila masyarakat pelakun pasar terapung di tempat tersebut merasa diuntungkan, ia akan berkembang dengan sendirinya.
“Lebih baik memelihara dan mengembangkan pasar terapung yang sudah ada. Aku sependapat dengan Syarifuddin R, bahwa eksistensi kehidupan ekonomi pelaku pasar terapung, atau pedagang perahu (jukung) itulah yang lebih diutamakan.
Membuat pasar terapung yang baru, akan memakan biaya yang tidak sedikit. Lebih baik digunakan untuk memberi bantuan modal bagi pelaku di pasar terapung yang lama, dan memperbaiki fasilitas yang sudah ada. Ini lebih bermanfaat.
Apalagi aku dengar ada pelaku pasar terapung, yang kekurangan modal dan tidak punya duit untuk memperbaiki perahunya yang rusak, sehingga sudah satu bulan lebih tidak bisa berjualan.” ujar Mukhlis. ara/mb05

251111-jumat(sabtu)-kisruh pemilu unlam

Photo: mb/ara
SEPI – Tenda aspirasi mahasiswa dari MUM yang memboikot PRMU di Unlam Banjarmasin, didirikan dari 11 sd 16 Oktober 2011, terlihat sepi tanpa ada yang bertugas menjaganya

Penyelesaian Kisruh Pemilu DPM Unlam Masih Tidak Jelas

BANJARMASIN – Kelanjutan dari Pemilu Raya Mahasiswa Unlam (PRMU) di Banjarmasin, akan dilaksanakan pada Senin 28 November 2011.
            Untuk lebih jelasnya, Mata Banua berusaha melakukan konfirmasi dengan pihak-pihak terkait. Namun Pembantu Rektor (Purek) III, Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi dan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Unlam yang baru, yaitu Busairi dari Fisip Unlam hingga saat ini tidak memberikan jawaban.
Sementara itu, Pazri dari Partai Aspirasi Mahasiswa (Pama), pada Jumat (25/11) siang via SMS mengatakan bahwa ia sebagai Kandidat Calon Presiden (KCP) Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unlam, tidak mendapat konfirmasi pula dari Ketua KPU Unlam, mengenai kapan kelanjutan PRMU.
“Apabila KPU yang baru ini tidak bisa menyelesaikan tugasnya, hingga akhir November 2011, kami dari KCP akan mengambil tindakan” ujar Pazri tegas.
Jami Azwar, Pelaksana Tugas (PLT) Presiden Mahasiswa (Presma) Unlam periode yang lalu, mengatakan bahwa jadwal yang terpampang di kantor Purek III, tertulis bahwa dari 22 sd 25 November 2011 adalah masa kampanye. Lalu 26 sd 27 November 2011 adalah masa tenang. Selanjutnya 28 November 2011 adalah masa pemilihan lanjutan.
“Yang kami sangat kecewakan, anggota KPU sekarang adalah orang-orang yang memprotes dulu, dengan alasan protes salah satunya adalah tidak adanya sosialisasi. Pada kenyataannya, setelah mereka menjadi KPU, sosialisasi malah semakin tidak jelas.
Lihat saja di Unlam Banjarmasin, tidak ada pemberitahuan untuk mahasiswa. Baik pemberitahuan melalui sepanduk, brosur ataupun pamflet, bahwa PRMU lanjutan dilaksanakan tanggal sekian! Tidak ada satupun mahasiswa yang tahu, kami dari PLT saja tidak diberi konfirmasi” katanya.
Seperti yang sudah di ketahui, Pama mengusung Muhammad Pazri (Fakultas Hukum) bersama Masbukhin (Fakultas Teknik). Kemudian dari Partai Suara Hati Mahasiswa (Saham) mengusung Sayed Ahmad Sofyan (Fakultas Metematika Ilmu Pengetahuan Alam), bersama Agusnadi (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan).
            Perhelatan demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden mahasiswa Unlam, yang seharusnya dituntaskan pada Kamis 6 Oktober 2011 yang lalu. Ternyata di boikot oleh sekelompok mahasiswa oposisi, yang tergabung dalam Mahasiswa Unlam Menggugat (MUM).
            Tidak hanya aksi boikot, Rachmad Suryadi Ketua KPU yang lama turut mendapat teror secara mental, sehingga kondisinya sangat tertekan. Usaha Purek III memfasilitasi pertemuan dan dialog antara dua pihak yang berseberangan, terus mengalami kegagalan.
            Hingga pada Selasa malam, 11 sd 16 Oktober 2011, MUM mendirikan tenda aspirasi mahasiswa di depan jembatan komplek Unlam Banjarmasin. Dari pantauan Mata Banua, tenda tersebut terlihat sepi tanpa ada yang bertugas menjaganya.
Rabu siang 12 Oktober 2011 kembali dilakukan pertemuan, dan menghasilkan kesepakatan bersama, bahwa suara PRMU di Banjarbaru dianggap sah. Kelanjutan PRMU di Banjarmasin ditentukan kemudian.
            Untuk mempersiapkan PRMU susulan di Banjarmasin, dilakukan perombakan pengurus KPU. Tim kecil pembentukan pengurus KPU yang baru, terdiri Purek III Unlam sebagai ketua.
Anggota tim kecil terdiri dari tiga Pembantu Dekan (PD) III di Unlam Banjarbaru (PD III FMIPA, PD III Fakultas Tekhnik dan PD III Fakultas Perikanan ), serta tiga PD III di Unlam Banjarmasin (PD III Fakultas Hukum, PD III Fakultas Ekonomi, dan PD III FISIP). Ditambah dengan Satu anggota KPU yang lama, dan satu dari anggota MUM.
            Beberapa kali dilakukan konfirmasi dengan beberapa aktivis MUM, tidak satupun mau memberikan keterangan yang jelas, mengenai latar belakang aksi yang dilakukan. Masing-masing anggota MUM melempar tanggung jawab dengan pendukung oposisi lainnya, menghindar dan menutupi situasi yang terjadi. ara/mb05


241111-kamis(jumat)-pasar terapung.1 dr p'syarifuddin

Photo: Drs H Syarifuddin R

Harus Konsisten Mengembangkan Pasar Terapung

BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel dan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, melalui instansi terkaitnya harus konsisten mengembangkan pasar terapung.
Hal ini diungkapkan Drs H Syarifuddin R, dengan Mata Banua pada Rabu (23/11) malam di tempat kediamannya.  Apa yang dikatakan Budayawan Kalsel tersebut, untuk mengingatkan bahwa pentingnya perencanaan yang berkelanjutan. Perencanaan yang tidak hanya sebagai slogan, atau program tahunan yang hanya dilaksanakan pada momen tertentu saja.
Seperti yang sudah diketahui, Pemprov Kalsel melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Prov Kalsel, menggelar Festival Pasar Terapung (FPT) pada 24-26 November 2011. Lokasi FPT di Sungai Martapura di depan Kantor Gubernur Kalsel di Banjarmasin.
Selain itu, terkait adanya rencana mengembangkan pasar terapung buatan masuk kota di kawasan sungai jalan Japri Zam Zam. Sebuah program dari Disporbudpar Prov Kalsel, yang akan bekerjasama dengan Pemkot Banjarmasin.
Menurut Syarifuddin R, program wisata isinya adalah hiburan. Sedangkan pasar terapung adalah ekonomi. Kalau hanya mengutamakan hiburannya, tanpa memperhatikan keberlangsungan ekonomi (usaha dagang) masyarakat pelaku pasar terapung, atau pedagang di sampan (jukung).
Maka pasar terapung tersebut, tidak akan bisa bertahan lama. Pada akhirnya wisata pasar terapung hanya menjadi slogan promosi dan propaganda yang tidak sesuai kenyataan. Menawarkan objek wisata, berarti menjaga dan merawatnya dengan baik, agar tetap terpelihara dan lestari.
“Orang berjualan tentunya harus ada untung, kalau rugi siapa yang mau. Setiap hari berjualan kalau tidak ada untung, mereka akan mati. Jadi eksistensi kehidupan ekonomi pelaku pasar terapung, atau pedagang di sampan itulah yang lebih penting” ujarnya. ara/mb05

241111-kamis(jumat)-pasang surut pedagang pasar terapung (Dm.di ekonomi)

Photo: mb/ara
RUSAK - Tidak punya duit untuk memperbaiki jukung yang rusak, agar bisa berjualan di pasar terapung

Pasang Surut Pedagang Di Jukung

SUNGAI TABUK – Sudah satu bulan lebih, ibu Norasikin (40) tidak berjualan. Karena sampan (jukung) yang dipergunakannya untuk berdagang sayuran kepasar terapung selama ini, sedang rusak.
Menurut penuturan ibu dua anak, yang diam di jl Kampung Baru, Sungai Bakung, Kec Sungai Tabuk ini, pada Rabu (23/11) sore. Ia tidak mempunyai uang untuk memperbaiki sampan, sehingga terpaksa istirahat berjualan.
Biasanya ibu Nor (panggilan akrabnya), di mulai dari pukul 5 pagi mulai mengayuh sampannya ke pasar terdekat di Sungai Tabuk (pasar di darat). Dari pasar ini ia membeli keperluan berdagang, seperti sayuran, ikan dll, dengan modal rata-rata Rp 700 ribu.
Kemudian sekitar pukul 7.30 Wita, agar lebih cepat sampai ke pasar terapung Lok Baintan, sampannya ikut bergandeng dengan perahu kelotok. Lama perjalanan bisa memakan waktu 30 menit sampai 1 jam. Biaya gandengan sekitar Rp 4 ribu per sampan.
Sesekali ibu Nor, membeli keperluan berjualan ke pasar terapung di Kuin. Perjalanan ke Kuin memakan waktu yang cukup lama, bergandengan dengan perahu kelotok saja bisa sampai 4 jam baru sampai.
Bila ingin ke pasar terpung di Kuin, ia berangkat pada sore hari, dan bermalam di Kuin hingga pagi hari. Barang dagangan yang di beli di pasar terapung Kuin, di jual ke pasar terapung di Lok Baintan.
Di Kampung Baru, Sungai Bakung, Kec Sungai Tabuk ada sekitar 10 pedagang di sampan. Keuntungan yang kecil dari berjualan, semakin membuat nasib pedagang tersebut tidak menjanjikan. Seperti pasang surutnya pasar terapung.
“Keuntungan dari berjualan tidak banyak, paling-paling hanya Rp 30 ribu sd Rp 40 ribu per hari. Kadang-kadang tidak laku atau sepi pembeli.
Di sini, kami tidak pernah mendapat bantuan modal usaha dari pemerintah daerah. Bahkan perahuku yang sudah rusak satu bulan lebih, tidak bisa diperbaiki karena tidak punya duit” ujarnya kembali dengan nada prihatin. ara/mb06


211111-senin(selasa)-PA Puteri Nahdlatul Ulama

Photo: mb/ara
LATIHAN – Karena rajin latihan maulid tarbang, PA Puteri NU sering diundang masyarakat pada acara selamatan, hingga ke Banjarbaru

PA Puteri Nahdlatul Ulama
Membekali Anak Asuh Dengan Beragam Keterampilan

Lamat-lamat terdengar irama pukulan rebana, atau yang dikenal dengan nama tarbang sebagai pengiring pembacaan syair dalam Maulid Habsy, dari musholla yang berada di depan asrama Panti Asuhan Puteri Nahdlatul Ulama (PA Puteri NU). Rupanya beberapa anak-anak putri panti yang masih belia, dengan asiknya berlatih memainkan maulid tarbang.
PA Puteri NU didirikan sekitar 9 tahun yang lalu. Anak-anak asuh, selain dibekali dengan pendidikan agama, juga dilatih dengan beragam keterampilan” ungkap Hj Saniam, ibu asrama PA Puteri NU yang beralamat di Jl Irigasi Teluk Sanggar, Desa Bincau Kecamatan Martapura.
Menurut Saniam (64), tingkat pendidikan anak asuh, ada yang di Madrasah Ibtidaiyah/SD, Madrasah Tsanawiyah/SMP, dan Madrasah Aliyah/SMA. Jumlah keseluruhan anak asuh yang berada di asrama ada 45 anak putri, dan yang berada diluar asrama (tinggal bersama keluarganya) ada 6 anak putri.
            Apabila ada anak asuh yang sudah menyelesaikan studi di Madrasah Aliyah, dan ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, ia sudah harus mandiri. Karena panti hanya bisa membiayai hingga di Madrasah Aliyah.
Sudah banyak anak asuh PA Puteri NU yang berdikari, ada yang kuliah sambil bekerja, dan ada pula yang sudah berkeluarga. Bagi yang rumahnya tidak jauh dari panti, selalu datang menjenguk adik-adiknya di panti, minimal tiga bulan sekali.
            Asrama PA Puteri NU di beri nama Siti Aisyah, lantai dasar mempunyai 9 kamar tidur untuk anak-anak, sedangkan lantai dua tanpa kamar (los), khusus untuk tempat tidur anak-anak yang baru masuk panti. Setelah satu hingga dua tahun tinggal di panti, baru pindah ke kamar dilantai dasar.
            Untuk melaksanakan tugas kebersihan, memasak dll, di bagi perkelompok secara bergilir dengan jadwal yang telah ditentukan, satu kelompok terdiri dari 5 anak. PA Puteri NU juga mempunyai Pondok Pesantren (Ponpes) untuk tingkat pendidikan Madrasah Diniyah.
Ponpes ini, baru beberapa bulan di buka. Sebagai sekolah tambahan di sore hari, bagi anak-anak panti dan anak-anak di sekitar panti. Pelajaran di Ponpes ada Tahfizul Qur’an dan pelajaran agama, seperti tajwid, fiqih, tasawuf dll.
Sedangkan aktivitas lainnya, diluar madrasah dan ponpes, di sela-sela waktu senggang dalam seminggu, di isi dengan keterampilan membuat kue, berkebun, memelihara ternak ayam dll. Kemudian malamnya seusai sholat Magrib dengan membaca Burdah dan Maulid Habsy.
“Semua anak-anak dipanti ini, kuanggap seperti cucu sendiri, sehingga lebih mudah untuk membinanya” ujar Saniam. araska

141111-senin(selasa)-PA Al Irsyad Mtp

Photo: mb/ara
MEMBERI – Bisa memberi makan dan memberi pendidikan yang layak untuk anak-anak saja, sudah Alhamdulillah

PA Al Irsyad
Kesenjangan Bantuan Bagi Panti asuhan Yang Di Pedesaan

MINIMNYA bantuan sangat dirasakan oleh Panti Asuhan (PA) yang berada jauh dari kota. Panti yang berada di kota, bisa mendapat sumbangan masyarakat jutaan setiap bulannya, namun panti yang di pedesaan sebaliknya.
            PA Al Irsyad, didirikan pada 1987, beralamat di jl Syeckh Muhammad Arsyad Al Banjari, kampung Sungai Tuan, kecamatan Astambul, kabupaten Banjar.
Menurut Wahyan Haniah (35), yang sudah 10 tahun menjadi pengasuh PA Al Irsyad, jumlah anak laki-laki ada 5 orang, dan anak perempuan ada 40 orang. Jenjang pendidikan anak panti, untuk Madrasah Ibtidaiyah/SD ada 3 orang, paling muda duduk di kelas IV. Untuk Madrasah Tsanawiyah/SMP ada 20 orang, dan sisanya Madrasah Aliyah/SMA. Anak-anak berasal dari daerah Aranio, Galam Rabah, Jorong dll.
Asrama putra dan putri terpisah. Dulu anak putra lebih banyak, tapi semenjak asramanya tidak layak huni, dan hanya satu kamar yang bisa ditempati.
Untuk asrama putri mempunyai 3 kamar, dalam satu kamar terdiri dari anak yang paling muda hingga yang dewasa, dan ada satu anak sebagai ketuanya. Secara bergiliran tiap kelompok kamar melaksanakan tugas, dari memasak, membersihkan ruangan dll.
Kegiatan seusai belajar disekolah, yaitu setelah sholat wajib di isi dengan pengajian kitab tauhid, fiqih, nahwu, shorof, tajwid dll. Sedangkan sore Kamis pembacaan Burdah, dan sore Senin pembacaan Maulid Habsyi.
Di tempat terpisah, di rumah kediaman ketua panti H Amrun (60) yang berada di jl Pendidiakan, Martapura, ia menambahkan.
“Sudah 5 tahun, asrama putra rusak parah, sampai ini kami belum ada biaya untuk merehabnya. Maka, anak asuh yang laki-laki terpaksa menempati ruangan seadanya. Walau begitu, prestasi mereka disekolah cukup baik, begitu pula dengan anak putri, tidak keluar dari 10 besar, karena kegiatan belajar di panti lebih teratur.
Bisa memberi makan dan memberi pendidikan yang layak untuk anak-anak saja, sudah Alhamdulillah. Karena panti kami berada di pedesaan, oleh karena itu bantuan dari masyarakat sekitar panti, tentu sangat minim.
Terjadi kesenjangan antara panti yang ada di perkotaan, dengan panti yang di pinggiran (pedesaan), bantuan masyarakat juga akan jauh lebih banyak pada panti yang di kota.
Selain itu, inisiatif dari Dinas Sosial untuk mencari pemecahan permasalahan panti, sangat tidak aktif. Kami juga berharap diadakan lagi pelatihan keterampilan untuk anak-anak asuh” ungkapnya. araska

141111-senin(selasa)-ketua IKA Faperta Uvaya

Photo: mahfuz

IKA Faperta, Dorong Uvaya Membuka Pascasarjana Pertanian

BANJARBARU – Ikatan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Achamad Yani (IKA Faperta Uvaya), akan mendorong Faperta dan Uvaya pada umumnya, untuk lebih baik lagi. Serta tidak terhenti hanya pada jenjang S1 saja, namun dikembangkan lebih jauh lagi, dengan membuka jenjang Pascasarjana Pertanian, jenjang S2 hingga S3, ungkap Ir H Suparno ME MM, ketua IKA Faperta Uvaya.
            Menurut alumni Faperta Uvaya angkatan (Ak) 86 ini, dengan adanya Pascasarjana di kampus sendiri, tentu alumni Faperta Uvaya yang masih S1, dapat kembali menjadi mahasiswa, untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Selain itu, adanya Pascasarjana dapat meningkatkan kualitas institusi.
            Melalui IKA, alumni Faperta bisa saling bersilaturahmi dan berkomunikasi lebih baik lagi, untuk kemajuan Fakultas Pertanian. Tidak hanya mendorong kampus membuka jenjang Pascasarjana, Ika juga akan mengadakan kegiatan-kegiatan sosial lainnya, baik untuk kampus maupun untuk masyarakat.
Dalam kepengurusan IKA Faperta Uvaya, semua perwakilan angkatan akan direkrut, dan dibentuk pula perwakilan IKA di tiap daerah.
“Ini tidak hanya untuk alumni Faperta Uvaya, tapi juga Fakultas lain di Uvaya. IKA tidak perlu membuat kegiatan yang muluk-muluk, yang sederhana tetapi mengena, dan bisa mengangkat nama fakultas menjadi lebih berbobot.
Saat ini alumni Faperta Uvaya pekerjaannya dan jabatannya sangat beragam, sudah pasti banyak pengalaman yang bisa dibawa untuk kemajuan kampus. Sehingga, yang tadinya Faperta itu eksis, dan tetap akan selalu eksis” ujarnya pada Sabtu (12/11) malam kepada Mata Banua.
            Dekan Faperta Uvaya Ir Mahyudin Msi, menyambut baik terbentuknya IKA Faperta Uvaya. Ia menganggap reuni alumni Faperta Uvaya yang untuk pertama kalinya diadakan ini, semenjak Uvaya didirikan pada 1983, sudah bisa dikatakan sukses.
            “Sumbangsih pemikiran alumni, bagi peningkatan kampus, adalah sesuatu yang sangat penting. IKA diharapkan betul-betul bisa berjalan dengan baik, sinergis dengan lembaga, sehingga memberi keleluasan dalam bekerja, artinya saling mengisi, untuk itu kami akan menyediakan sekretariat bagi IKA di dalam kampus” katanya.
            Dilain pihak, Anton koordinator Reuni Akbar Alumni Fakultas Pertanian, via SMS pada Sabtu siang mengabarkan, peserta yang berhadir dalam RAA Sabtu 12 Nopember 2011, pukul 10.00 sd 18.00 Wita, dan pukul 20.00 sd 23.00 Wita, bertempat di Kampus Uvaya di Banjarbaru, cukup banyak.
Yang mengisi buku tamu ada 165 orang, sedangkan yang tidak mengisi buku tamu lebih banyak lagi, sehingga jumlah tamu sekitar 400 orang. Perwakilan setiap angkatan berhadir, baik dari Ak 1983 maupun Ak 2010.
Terpilih sebagai ketua IKA yaitu Ir H Suparno ME MM, Wakil Ketua H Agus Mulia Husin, Sekertaris ABD Syahid Muslim, Wakil Sekertaris Ema Susanti, dan Bendahara Ade. ara/mb05

071111-senin(selasa)-proposal reuni FP.Uvaya (Dm.101111)

Photo: mb/ara
KEGIATAN – Rangkaian kegiatan memperingati 28 tahun Universitas Achmad Yani Banjarmasin di Banjarbaru

Reuni Akbar Alumni Faperta Uvaya Angakatan 1983 sd 2010

BANJARMASIN – Hubungan antara sesama alumni, maupun dengan Universitas sangat penting terjalin, demi kemajuan kampus sendiri. Berdasarkan hal itu, kami akan mengadakan kegiatan Reuni Akbar Alumni Fakultas Pertanian (RAA Faperta) Universitas Achmad Yani (Uvaya) Banjarmasin, ungkap Iwan SP, penanggung jawab reuni.
            Menurut Iwan, dengan reuni dapat mengumpulkan kembali civitas akademika, yang masih atau telah tidak berada dilingkungan pendidikan tersebut, dalam hal ini adalah fakultas. Sehingga dapat terjalin lagi suatu hubungan, yang dapat menumbuhkan perasaan integritas di antara peserta reuni. RAA Faperta juga akan membentuk Ikatan Alumni (IKA).
            RAA Faperta akan dilaksanakan pada pada sabtu 12 Nopember 2011, pukul 10.00 sd 18.00 Wita, dan pukul 20.00 sd 23.00 Wita, bertempat di Kampus Uvaya di Banjarbaru. Selain reuni ada pula pameran dan bazaar produk, pentas seni dll.
Penyelenggara RAA Faperta adalah Forum Alumnus Faperta Uvaya dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uvaya. Alumni yang ingin menghadiri reuni, silahkan menghubungi langsung di sekretariat BEM Uvaya Banjarbaru, atau dengan Iwan SP, di no 085754711486, atau  melalui facebook Reuni Akbar Keluarga Besar Faperta Uvaya 1983 – 2010.
            Iwan mengatakan, RAA di beri nama Pertanian Ngampus Lagi, dengan tema Dengan Semangat Persatuan, Kita Bangkitkan Kejayaan Dan Keluarga Abadi, dan dengan motto kegiatan Satu Jiwa, Satu Generasi, Maju Terus Achmad Yani.
            RAA merupakan salah satu rangkaian dari peringatan 28 tahun Fakultas Pertanian Uvaya, dan dalam rangka Dies Natalis ke-28 Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani Banjarmasin.
            “Reuni tidak hanya sebagai ajang temu kangen kawan-kawan lama, tapi juga saling bertukar pikiran, bagaimana agar kampus dan fakultas, serta Universitas, bisa semakin maju dan berkembang lebih baik lagi” ujar alumni angkatan 92 ini, pada Senin (7/11) sore. ara/mb05


071111-senin(selasa)-panti rehabilitasi narkoba inabah (Dm.091111)

Photo: mb/ara
BANTUAN – PRNPI sangat memerlukan bantuan dan dukungan dari masyarakat, baik bantuan materil, maupun dukungan moril bagi binaannya

Panti Rehabilitasi Narkoba Inabah
Perlu Dukungan Dari Masyarakat

TIDAK BANYAK masyarakat yang mengetahui akan keberadaan Panti Rehabilitasi Narkoba, secara umum masyarakat hanya tahu dengan RSJ Sambang Lihum, yang juga menjadi tempat pembinaan dan pengobatan untuk pecandu narkoba.
Menurut Adi Riatmoko (30), peanggung jawab masalah medis Panti Rehabilitasi Narkoba Pondok Inabah (PRNPI), berada di bawah naungan Yayasan Serba Bakti Banjarmasin, didirikan pada 2000.
Awalnya PRNPI masih satu atap dengan Rumah Sakit Jiwa Tamban (RSJT), kemudian saat RSJT di pindah lokasinya ke Km 17, dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum. Kemudian pada 2002, PRNPI memisahkan diri dan berdiri sendiri, serta berpindah tempat ke Jl Benua Anyar Banjarmasin.
            PRNPI beraffiliasi dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Suryalaya di Tasikmalaya. PRNPI tersebar di banyak daerah di Indonesia, bahkan sampai ke negeri Malaysia. Inabah adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab yaitu anaba-yunibu (mengembalikan), sehingga inabah berarti pengembalian atau pemulihan, maksudnya proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah ke jalan yang mendekat ke Allah.
            Pimpinan Ponpes Suryalaya, KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom, menggunakan nama inabah menjadi metode bagi program rehabilitasi pecandu narkotika, remaja-remaja nakal, dan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.
Konsep perawatan korban penyalahgunaan obat serta kenakalan remaja, adalah mengembalikan orang dari perilaku yang selalu menentang kehendak Allah atau maksiat, kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah atau taat.
            Anak binaan ditempatkan pada pondok inabah, guna mengikuti program Inabah sepanjang 24 jam. Kurikulum pembinaan ditetapkan oleh Abah Anom, mencakup mandi dan wudhu, shalat dan dzikir, serta ibadah lainnya.
Disamping kegiatan-kegiatan tersebut diatas, juga diberikan kegiatan tambahan berupa pelajaran membaca Al-Qur’an, berdoa, tata cara ibadah, ceramah keagamaan dll. Setiap anak binaan di evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kesehatan jasmani dan rohaninya. Evaluasi diberikan dalam bentuk wawancara atau penyuluhan, oleh ustadz atau oleh para pembina inabah yang bersangkutan.
Adi mengatakan, sampai saat ini, PRNPI di Banjarmasin sudah membina kurang lebih 300 orang. Dari semua yang dibina 70 persen sembuh total, sisanya harus kembali dibina, karena kembali menjadi pemakai narkoba. Rata-rata yang di bina di PRNPI di Banjarmasin, adalah dari kalangan usia produktif dan remaja.
Biaya pembinaan dan pengobatan ditanggung oleh keluarga binaan, dan ada sedikit bantuan dari Dinas Sosial untuk biaya makan, serta bantuan operasional dari BNN.
“Lama pembinaan, ada yang tiga bulan dan ada pula yang lebih, dengan metode religi Islami rohani dan secara medis. Kebanyakan keluarganya yang mengantar ke PRNPI, tapi sering kali kami yang harus menjemputnya. Kebanyakan binaan berasal dari Banjarmasin, tapi ada pula yang berasal dari Kalteng.
Sebenarnya kami kasihan dengan keluarga binaan, karena tidak semua dari kalangan yang berada. Oleh karena itu PRNPI sangat memerlukan bantuan dan dukungan pula dari masyarakat. Baik itu bantuan materil, maupun dukungan moril bagi binaan.
Binaan yang telah kembali kemasyarakat, tetapi malah tidak mendapat dukungan masyarakat, pada akhirnya akan kembali terjerumus dengan tindakan salah, yang pernah dilakukannya.
Tempat yang ada saat ini hanya bisa untuk membina yang laki-laki saja, kedepannya bila kami dapat membangun bangunan baru yang lebih luas dan memadai, mungkin akan disediakan tempat pembinaan untuk yang perempuan” ujar Adi yang semenjak 2005 mengabdi di PRNPI. araska

041111-jumat(sabtu)-keluhan kategore usia peserta lomba di TB (Dm.081111)

Photo: Drs H Noor Hidayat Sultan

Sangat Perlu Batasan Usia Dalam Lomba

BANJARMASIN – Batasan usia atau kategori perserta lomba memang perlu dilakukan, sehinga ada pembagian kemampuan yang jelas. Tanpa ada kategori peserta lomba, maka peserta yang pemula (yunior), akan terpaksa bersaing dengan peserta yang telah mahir (senior), yang tentu saja telah terlatih dengan baik.
Tidak adanya kategori perserta lomba, seing kali bukan cuma terjadi dalam kegiatan lomba di Taman Budaya (TB) Kalsel, tapi juga sering terjadi dalam banyak kegiatan lomba lainnya, bahkan dalam lomba cipta puisi dalam Aruh Sastra.
Khusus dua kegiatan lomba yang telah dilaksanakan Taman Budaya (TB) Kalsel, yaitu Lomba Lukis Kaligrafi (LLK) pada Rabu 28 September 2011, dan Lomba Teaterikalisasi Puisi (LTP) pada Sabtu 29 Oktober 2011, tidak sedikit peserta pemula yang mengeluh, karena harus bersaing dengan peserta lain yang sudah senior.
Dalam LLK, pelukis muda yang baru duduk di bangku SMP harus bertanding melawan peserta yang sudah mahir melukis, yang sebagaian malah sudah termasuk dalam pelukis produksi, atau pelukis yang sudah sering menjual lukisannya.
Begitu pula dalam LTP, sanggar-sanggar teater dari SMP harus bersaing dengan sanggar-sanggar teater di Universitas, yang telah sering mengikuti lomba atau melakukan penampilan teater.
Drs Ali Syamsudin Arsi salah satu juri LTP sendiri mengatakan, bahwa sangat terlihat perbedaan kemampuan penampilan, antara peserta yang dari pelajar, dengan peserta yang sudah mahasiswa, apalagi peserta dari kelompok teater umum.
Menanggapi keluhan ini, Kepala TB Kalsel, Drs H Noor Hidayat Sultan, beberapa waktu yang lalu di ruang kerjanya, mengatakan kepada Mata Banua.
“Untuk LLK, tujuan sebenarnya adalah mendata dan menjaring bakat-bakat pelukis kaligrafi, sehingga kalau diadakan pameran lukis kaligrafi, tidak sulit lagi mencari pelukisnya.
Tapi sejujurnya, aku juga merasa bahwa lomba tanpa ada batasan kategori usia, sangat tidak adil bagi yang masih pemula atau yunior, kasihan mereka, baik dalam lomba LLK maupun LTP, ataupun lomba lainnya.
Dengan adanya keluhan ini, menjadi prioritas kedepannya untuk penyelenggaraan lomba-lomba di TB, akan lebih diperbaiki. Kegiatan lomba yang sudah ada ini, hanya melaksankan dan meneruskan program kerja, dari agenda yang sudah disusun oleh kepala TB terdahulu” ujarnya. ara/mb05

041111-jumat(sabtu)-Adat Banjar Bila Ada Orang Meninggal Dunia (Dm.121111)

Photo: Drs Syarifuddin R

Kebiasaan Adat Banjar Bila Ada Orang Meninggal Dunia

BANJARMASIN – Kuatnya kepercayaan terhadap hal-hal yang gaib, masih dapat dilihat dari tingkah laku masyarakat, khususnya di pedesaan, ungkap budayawan kalsel Drs Syarifuddin R, beberapa waktu yang lalu.
Menurutnya, apabila ada orang meninggal dunia di sekitar kampung atau desa, baik keluarga atau orang lain, harus diberi penangkal sakit, berupa coretan kapur sirih pada telinga, untuk menghindarkan kemungkinan ditegur oleh roh arwah orang yang meninggal tersebut, karena dapat menyebabkan sakit.
Jika orang meninggal dunia, yang dimandikan dengan memakai bantalan (alas) gadang pisang (batang pisang yang dipotong dan dikupas), bantalan tersebut harus dihanyutkan ke sungai, agar rohnya tidak mengganggu orang yang masih hidup.
Dan bagi warga masyarakat yang menyaksikan atau melihat gadang pisang itu hanyut disungai, supaya berdoa dan memohon untuk tidak dirawa (ditegur) oleh arwahnya.
Kepercayaan tentang adanya makhluk gaib yang jahat, menimbulkan banyak istilah penyakit yang bersifat tidak nyata. Bagi masyarakat suku banjar, sakit yang tidak jelas namanya dan diidentifikasikan sendiri jenis pengobatnya, dianggap sebagai perbuatan makhluk gaib, sebagai akibat melanggar sesuatu kebiasaan (adat), atau akibat perbuatan manusia dengan menggunakan roh jahat.
“Penafsiran sakit oleh masyarakat banjar, yang bertumpu pada kekuatan gaib yang berada diluar kemampuan manusia, dipengaruhi oleh faktor kejiwaan yang berasal dari penuturan para orang tua, dan akhirnya tertanam dalam peri kehidupan masyarakat Banjar secara turun temurun pula” ujarnya. ara/mb05


031111-kamis(jumat)-kemerdekaan sastra dr prof lambut

Photo: Prof MP Lambut

Kemerdekaan Sastra

BANJARMASIN – Budaya yang ada ditengah masyarakat sekarang ini adalah budaya instant, orang lebih suka menonton televisi dari pada membaca.
Sehingga sastra perlu digalakkan lagi dengan kegiatan-kegiatan, dan kemasan-kemasan yang lebih menarik, seperti halnya teaterikalisasi puisi dll, ungkap Tajuddin Noor Ganie, beberapa waktu yang lalu dalam Seminar Nasional Sastra Indonesia.
Di lain pihak, kepada Mata Banua, Prof MP Lambut yang turut menghadiri seminar, yang diselenggarakan oleh Prodi Bahasa Indonesia FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin tersebut, ia memberikan pendapat untuk memperkuat kegitan dan kemasan yang harus ditampilakn di tengah masyarakat.
Bahwa, hal yang harus dipahami adalah sastra itu bukan ilmu sastra. Ilmu sastra hanya ilmu sesudah ada sastra, jadi jangan kita melihat ilmu sastra begitu penting, sastra itu yang penting, bukan ilmunya.
“Ilmu hanya alat yang biasanya dipakai para akademisi membedah, dan menganalisa. Di masyarakat orang tidak mau mengenal ilmu sastra, tetapi sastranya yang dibaca, sastra yang lebih menarik” katanya.
Guru Besar Unlam ini juga menjawab uraian perkembangan sastra dari Jamal T Suryanata, yang menyebutkan bahwa sepanjang dekade awal 2000-an, berkembang fenomena karya-karya fiksi yang beraroma seksual.
Menurut Prof MP Lambut, memang terkadang sastra berbicara tentang kata-kata yang tidak senonoh, tetapi dalam batasan konteks sastra. Berbeda bila kata-kata tidak senonoh itu, dikatakan langsung di depan khalayak.
Ada kalanya sastrawan merasa terjerat dan terbelenggu oleh keadaan yang tidak memungkinkan, maka melalui sastralah para sastrawan mengungkapkannya. Sastra itu memerdekakan, dalam hidup yang merdeka hidup menjadi berharga.
“Ketika kita tebeleggu oleh bermacam-macam aturan dan keadaan, ia tidak lebih dari budak” ujarnya. ara/mb05


031111-kamis(jumat)-jeruk makan jeruk dr Jamal

Photo: Jamal T Suryanata

Jeruk Makan Jeruk

BANJARMASIN – Tanpa ada kritik sastra, peningkatan kualitas sastra akan menjadi lambat. Seberapapun banyaknya karya sastra, tidak menjamin akan mutu, apabila tidak ada orang-orang yang mejadi kritikusnya, karena tidak ada yang menilai sebuah karya, ungkap Sainul Hermawan beberapa waktu yang lalu.
Menurut Jamal T Suryanata, ia sempat mendiskusikan dengan Sainul, tentang situasi Kalsel yang krisis kritikus sastra, pada akhirnya untuk mengatasi keadaan tersebut, Sainul mengusulkan mengapa Tidak Jeruk Makan Jeruk saja, artinya sastrawan yang satu mengkritik karya sastra yang lain, dan begitu pula sebaliknya.
“Saat ini kami berdua (Sainul Hermawan dan Jamal T Suryanata), yang dianggap memiliki kompetensi di bidang kritik sastra, maka kamilah yang dikatakan paling bertanggung jawab, untuk mengembangkan kritik sastra, sementara yang lain tidak mau membaca dan belajar bagaimana mengkritik sastra, ini persolan juga. Karena yang lain hanya mau menjadi pihak penghasil karya saja.
Kalau kita ingin membesarkan karya sastra di Kalsel, mau tidak mau semua harus menggalakkannya. Kemudian kritik sastra tersebut, tidak hanya disuarakan di tingkat lokal, tetapi juga di tingkat nasional” kata Jamal seusai Seminar Nasional Sastra Indonesia, yang diselenggarakan oleh Prodi Bahasa Indonesia FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin.
Sementara, Tajuddin Noor Ganie mengutarakan keengganan sastrawan, mengkritisi karya sastra sastrawan lain.
“Kritikus sastra memang posisi yang serba sulit, terlalu mengkritik dimusuhi sastrawan, terlalu memuji dicurigai, dikatakan kawannya. Apalagi bila kritikus sastra itu, dari kalangan sastrawan itu sendiri.
Yang lebih edial, kritikus sastra berasal dari dari kalangan akademis atau perguruan tinggi” ujarnya. ara/mb05

021111-rabu(kamis)-komentar juri teaterikalisasi puisi TB.1

Photo: mb/ara
PEMENANG - Photo bersama pemenang Lomba Teaterikalisasi Puisi Taman Budaya Kalsel

Interprestasi Puisi Memerlukan Pemahaman Latar Sejarah Puisi

BANJARMASIN – Ketika puisi dijadikan pentas teater, dua hukum menjadi satu. Hukum perpuisian ketika puisi dibacakan, dan hukum panggung saat sebuah teater dipentaskan.
Puisi memerlukan pemaknaan, dan pemaknaan yang tidak mendalam, menyebabkan teaterikalisasi puisi menjadi kurang berbobot. Burhanuddin Soebeli, Drs H Rustam Effendi PhD, dan Drs Ali Syamsudin Arsi, ke tiga juri dalam Lomba Teaterikalisasi Puisi (LTP) di gedung Balairung Sari Taman Budaya (TB) Kalsel, pada Sabtu 29 Oktober 2011 yang lalu, menjelaskan:
            Menurut Burhanuddin Soebeli, banyak peserta LTP yang melewatkan sub judul dari puisi, padahal pada sub judul terdapat intisari dari puisi. Ada pula yang terlalu terpesona tindakan sang tokoh dalam puisi, sehingga lupa dengan semangat kepahlawan dari sang tokoh, yang harus lebih ditonjolkan.
            Hal lain yang tidak kalah penting, bahwa interprestasi puisi memerlukan pemahaman latar sejarah penulisan, dari penciptaan puisinya, bagaimana situasi yang terjadi saat ditulis, dan bagaimana karakter dan kehidupan si penulis.
            Karakter dan sifat-sifat dari penulis puisi, tentu menjadi roh dari puisinya. Maka pemahaman yang kurang terhadap puisi, membuat interprestasi menjadi menyimpang, dari maksud dan tujuan puisi tersebut.
            Sementara, Drs H Rustam Effendi PhD mengatakan, bahwa kejelasan suara atau ucapan yang tepat, juga harus didukung oleh intonasi, jeda, serta pemenggalan kata dan prasa yang pas.
Sehingga makna puisi tidak berubah, kadang-kadang karena begitu meledak-ledak, meluap-luap, sehingga tidak terperhatikan pemenggalan kata, atau prasa atau kosa kata yang tepotong, ini bisa mengubah makna puisi.
Oleh karena itu, tentang vocal, tentang ucapan yang tepat, perlu mendapat perhatian yang khusus, bagi yang ingin membacakan sebuah pusi, agar maknanya tidak terlalu jauh menyimpang.
            Kemudian, Drs Ali Syamsudin Arsi menambahkan, peserta LTP terlalu fokus pada olah tubuh per pribadi atau individu. Sehingga kontruksi kombinasi, dari satu kesatuan kelompok menjadi terabaikan.
Saat para pemain menempati posisi perpindahan-perpindahan yang mengutamakan individu, akibatnya kontruksi pementasan menjadi longgar.
“Hal ini sangat terlihat dari peserta LTP yang pelajar. Yang perlu diolah lagi penampilannya. Dan dari apa yang telah dikatakan oleh dua juri lainnya, dan apa yang aku tambahkan, apabila disatukan, terbentuklah sebuah kesatuan dalam penyajian” ujarnya. ara/mb05


021111-rabu(kamis)-gejolak organisasi Uniska

Photo: mb/ara
DIALOG - Debat dan dialog antara demonstran dengan Rektor Uniska, demonstran meminta penjelasan terhadap permasalahan dan keluhan dari mahasiswa

Janji Rektor Uniska Kepada Demonstran

BANJARMASIN – Rektor Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjary, berjanji untuk mengadakan pembicaraan lanjutan, pada hari ini (Kamis 3 Nopember 2011), atas tuntutan dan keluhan  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uniska.
Sebelumnya, pada 28 Oktober 2011 yang lalu, dimulai dari pukul 08.00 Wita, demonstran yang terdiri dari semua anggota BEM Fakultas, UKM dan HMJ Uniska, baik yang ada di Banjarmasin maupun yang ada di Banjarbaru, lebih memilih memperingati hari Sumpah Pemuda, dengan melakukan aksi di dalam kampus, yaitu menyuarakan permasalahan dan keluhan mahasiswa, terhadap pelayanan dan situasi keorganisasian mahasiswa di kampus Uniska.
Setelah demonstran mengadakan upacara peringatan Sumpah Pemuda di halaman depan kampus Uniska, dan melakukan orasi secara bergantian, selanjutnya demonstran berpindah ke halaman tengah kampus Uniska, di sini demonstran kembali berorasi bergantian.
Sekitar 30 menit kemudian, Rektor Uniska Drs H Mustatul Anwar M MPd MKes, menemui demonstran, untuk menanyakan permasalahan apa yang dituntut mahasiswa. Terjadi debat dan dialog yang cukup panas, demonstran meminta penjelasan dan jawaban atas keluhan mahasiswa.
Agar perundingan lebih lancar, demonstran meminta ruangan sebagai tempat dialog, dan rektor menyetujuinya, lalu mempersilahkan demonstran bersama-sama memasuki ruangan sidang di lantai 3 Uniska.
Sebelum menaiki tangga menuju ruangan sidang, yang akan digunakan untuk dialog, demonstran sempat meminta rektor untuk turut menandatangani sepanduk, yang berisi tuntutan mahasiswa.
Dialog dalam ruang sidang, berlangsung cukup lama, hingga pukul 11.00 wita, masing-masing perwakilan BEM Fakultas Uniska, terutama dari Uniska Banjarbaru, mengajukan keluhan dan tuntutannya. Setiap pertanyaan dan keluhan dijawab oleh rektor secara bergantian.
Menurut Presiden BEM Uniska M Agus Humaidi, yang menjadi tujuan tuntutan demonstran adalah Pembantu Rektor (Purek) III, tapi ternyata Purek III, tidak ada dikampus.
“Kami salut dengan Rektor, yang malah bersedia menemui kami, bahkan sambil berpanas-panas, sebelum dialog berpindah keruangan sidang” katanya.
Kepada Mata Banua, seusai dialog Rektor Uniska mengatakan ”dengan adanya aksi mahasiswa yang spontanitas, alhamdulillah mudah-mudahan ada berkahnya, dan bisa kami jadikan bahan untuk perhatian terhadap mereka.
Semua yang dibicarakan hari ini, akan kami bawa kembali dalam rapat Universitas yang juga dihadiri oleh perwakilan BEM Mahasiswa pada Kamis 3 Nopember 2011” ujarnya. ara/mb05