Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 02 (Februari) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 02 (Februari) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2011

280211-senin(selasa)-persen kenaikan harga bulan maulid1 (di ekonimi)


BULAN MAULID PENGARUHI HARGA BAHAN POKOK

BANJARMASIN – Tidak dikota maupun didaerah, dimulai dari 15 Februari 2011 yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1432 H, seluruh kaum muslim merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi warisan peradaban Islam turun temurun yang juga selalu dilaksanakan terutama di Banjarmasin, baik oleh masyarakat, lembaga ataupun instansi pemerintah.
Tradisi peringatan Maulid Nabi ini menjadi salah satu faktor kenaikan harga beberapa bahan pokok. Kenaikan harga yang cenderung akan bertahan hingga awal Rabiul akhir yang bertepatan pada 6 Maret 2011.
Dari informasi yang diberikan oleh Dra Hj Endah Suhartati MM, Kabid Dagri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Kalsel, mengatakan “sudah tentu bulan maulid Nabi mempengaruhi kenaikan beberapa bahan pokok masyarakat, yang tentunya berkaitan dengan hidangan yang akan disiapkan dalam peringatan maulid Nabi, seperti kentang, telur ayam dan daging sapi.
Dalam pekan ini bahan pokok masyarakat Banjarmasin yang mengalami rata-rata persentasi kenaikan harga dari harga normalnya, pada urutan pertama adalah ikan Papuyu segar sebanyak 34,87 persen yaitu kurang lebih Rp.13.000 lebih tinggi dari harga normalnya per kg.
Kemudian disusul dengan Cabe rawit tiung 20,37 persen Rp.15.714 per kilo. Kentang 15,79 Rp.1.500 per kg. Ikan haruan 9,95 persen Rp.3.000 per kg. Telur ayam ras 5,66 persen Rp.857 per biji. Cabe merah biasa 5,04 persen Rp.857 per kg. Ikan gabus 4,23 persen Rp.2.143 per kg. Kacang kedelai impor 3,57 persen Rp.286 per kg.
Selanjutnya Cabe rawit lokal 2,50 persen Rp.2.857 per kg. Daging sapi murni 2,07 persen Rp.1.417 per kg. Bawang merah 1,91 persen Rp.429 per kg. Daging ayam ras 1,89 persen Rp.500 per kg. Kacang kedelai lokal 1,89 persen Rp.143 per kg. Ikan asin telang 1,45 persen Rp.857 per kg. Telur itik 0,89 persen Rp.14 per kg. Dan daging ayam kampung 0,67 persen Rp.250 per kg. ara/mb06

280211-senin(selasa)-banjar film3-poligami (Dm.010311)

Photo: mb/ara
TEMA SENSITIF – Dalam diskusinya Banjar Film termasuk berani dalam mengangkat tema-tema film dokumenter yang cenderung sensitif di mata masyarakat.

Keberanian Mengangkat Tema Sensitif

BANJARMASIN – Tidak banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang berani mengangkat tema-tema yang dipandang sensitif dalam masyarakat. Apalagi tema yang hingga saat ini masih menjadi pro kontra.
Memasuki bulan ke-3 pemutaran film dokumenter dari Komunitas Banjar Film, kali ini mengambil tema judul film dokumenter yang bercerita tentang situasi rumah tangga yang ber poligami.
Alfons, salah satu pemerhati sosial, pada Senin (28/2) berkomentar “dari tema-tema judul film yang sudah diputar Banjar Film, mereka termasuk berani dalam mengangkatnya.
Karena tema-tema seperti kelainan kecenderungan kejiwaan pada pemutaran film dokumenter pertama, anak-anak Tuna Grahita atau cacat mental pada pemutaran film dokumenter ke dua, dan sekarang pada pemutaran film dokumenter ke tiga tentang poligami. Tema-tema tersebut adalah hal yang cukup riskan untuk dibicarakan dalam masyarakat, entah karena dianggap memalukan atau cukup sensitif” ujarnya.
Pada Minggu malam (27/2) dimulai dari 20.00 wita bertempat di halaman SBC Koperasi Mahasiswa Unlam Banjarmasin, Komunitas Banjar Film memutar dua judul film dokumenter yang bertemakan Poligami.
Film dokumenter pertama berjudul, 4 Wifes One Man, oleh Nahid Persson, Swedia/Iran, produksi 2007, dengan durasi 76 menit. Menceritakan tentang keluarga Heda. Petani yang berpoligami di satu desa di Iran. Film dokumenter yang memotret dan mengungkap seluk beluk hubungan lelaki itu dengan keempat istrinya yaitu Farang, Goli, Shahpar, dan Ziba. Juga hubungan mereka dengan sang mertua (ibunda Heda) dan 20 anak mereka.
Sebuah situasi kehidupan suatu keluarga yang terkadang terlihat lucu, namun pada kenyataannya memilukan. Film ini menelusuri keseharian masing-masing istri menghadapi madu-madunya, yang akhirnya bersekongkol untuk melawan suami mereka yang kejam.
Film dokumenter kedua berjudul, In Love For God, oleh Welldy Handoko, Jastis Arimba, Indonesia, produksi 2010, dengan durasi 30 menit. Menceritakan tentang keluarga Muhammad Ikramullah (43) di Malaysia dengan ke empat istrinya, yaitu Junaidah (40) seorang guru mengaji, Kartini (41) seorang pengacara, Dr.Rohaya (44) seorang dokter, dan Rubaizah (30) pemimpin yayasan rumah amal.
Sebuah fenomena keluarga yang harmonis ditengah pertentangan terkait isu poligami yang terjadi di Malaysia dan Indonesia. Sebuah keluarga yang bangga dan bersyukur telah berpoligami. Ke empat istri ini saling berbagi cerita tentang cinta, saling menghargai, saling menghormati dan saling membantu diantara madu dalam keluarga tersebut.
Permasalahan perasaan, suka duka, cemburu dan persoalan keluarga dalam berumah tangga yang berpoligami, dihadapi dengan lapang dada bersama, dengan dasar keluarga menanamkan cinta pada Tuhan. Hal menarik lain, adalah pada saat salah satu madu sibuk dengan aktivitas pekerjaan, madu yang lain akan merawat anak dari madunya. ara/mb05

270211-minggu(senin)-Rhett1 (Dm. di Headline hal.1)


Photo: mahfuz

KEDUTAAN AS LAKUKAN SOSIALISASI KELESTARIAN HUTAN DI KALSEL

BANJARMASIN – Perwakilan Kedutaan AS dan Jurnalis Mongabay melakukan sosialisasi di Kalsel terkait kelestarian lingkungan hidup, terutama kelestarian hutan.
            Jumat malam (25/2) staff Public Affairs Ammbassador AS for Indonesia, Arend J Zwartjes beserta jurnalis Mongabay, Rhett Butler melakukan dialog dengan beberapa wartawan di Swiss Bell Hotel Borneo Banjarmasin. Dialog yang dimulai dari pukul 19.00 wita, berlangsung hingga kurang lebih dua jam. Membicarakan seputar kunjungan dan riset yang dilakukan oleh Rhett Butler di Indonesia dan Kalimantan.
            Untuk Kalimantan, melalui penerjemahnya, Rhett mengatakan, dirinya sudah melakukan kunjungan ke hutan di Kalteng, Tanjung Puting, dan melihat kelestarian hutan tersebut serta satwa orangutan. Sedang di Kalsel ia mengunjungi dan melihat situasi  keadaan hutan Tahura di Mandiangin, serta berkunjung pula ke skretariat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel.
Rhett, mengakui ia belum sempat berkunjung ke pegunungan Meratus, saat ini informasi yang didapatnya tentang hutan Meratus hanya dari informasi yang diberikan oleh Walhi Kalsel, dalam kunjungan singkat tersebut.
Menanggapi pertanyaan Mata Banua tentang konflik hak pengelolaan hutan di Tahura, Rhett berkomentar ”permasalahan di hutan Tahura sangat rumit, hal itu harus dilihat lagi kepada kondisi lokal. Dimana hal-hal seperti hak kepemilikan tanah, memerlukan pemetaan wilayah kepada masyarakat. Bisa juga diadakan perlindungan hak terhadap pengambil alihan tanah dan bagaimana seharusnya mereka melakukan pengelolaan terhadap tanah yang digunakan.
Kemudian keterlibatan perusahan, sangat penting untuk bisa memberikan konsen atau perhatian kepada masyarakat sebelum memulai proyek dilahan yang ada. Serta sangat penting bagi pemerintah untuk bisa merespon kepentingan masyarakat yang ada disana.Proses tersebut sangat penting untuk bisa membawa semua elemen komponen masyarakat bersama-sama” ujarnya.
Selanjutnya Rhett mencontohkan kondisi pengelolaan hutan yang terjadi di Brazil. Kata Rhett “Brazil di 2004 secara bersamaan berhasil meningkatkan laju ekonomi mereka 37 persen pendapattan perkapita dan 47 persen menekan penggundulan hutan Amazon.
            Di Amazon ada forum antara masyarakt lokal dan unit-unit bisnis atau perusahan-perusahaan, untuk bersama-sama melakukan program penekanan penggundulan hutan yang mereka anggap sangat penting sekali. Karena mereka sendiri juga memiliki banyak kegiatan usaha yang ada dihutan tadi. Dan mereka bersama-sama mendiskusikan bagai mana program Amazon yang berkelanjutan.
Mereka datang kepada kantor pemerintah untuk menuntut mengeluarkan suatu kebijakan, bahwa hutan mereka kedepannya seperti apa. Dan pemerintah menanggapinya dengan melakukan langkah-langkah untuk mengurangi emisi dan penggundulan hutan, serta membuat langkah-langkah penegakan hukum yang dituangkan dalam sebuah buku.
Ketika hukum yang telah dibuat belum juga dijalankan, masyarakt sipil dan LSM bersama-sama bergerak menyuarakannya kembali, bagaimana seharusnya melakukan penegakan hukum. Hingga akhirnya  pemerintah mengikuti langkah-langkah yang mereka suarakan dan itu berhasil, serta bisa mengubah keadaan mereka” tutur Rhett.
Dilain pihak Dwitho Frasetiandy Manager Kampanye WALHI Kalsel, membenarkan tentang kedatangan perwakilan Kedutaan AS dan Jurnalis Mongabay di sekretariat Walhi Kalsel di Banjarbaru. Menurut Andy “program sosialisasi kelestarian lingkungan hidup dan hutan yang mereka lakukan adalah sesuatu yang sangat baik. Tapi informasi yang didapat Rhett masih belum cukup untuk menggambarkan kerumitan permasalahan lingkungan yang terjadi di Kalsel” pungkasnya. ara/mb05

270211-minggu(senin)-jin tambang pulaulaut1


KEBIJAKAN PUBLIK PERTAMBANGAN DI KOTABARU

BANJARMASIN – Transparasi dan keterbukaan serta kebijakan pertambangan adalah kebijakan publik yang harus disampaikan kepada masyarakat, sebab dampak pertambangan lebih dirasakan oleh masyarakat.
Sabtu sore (26/2), Dwitho Frasetiandy Manager Kampanye WALHI Kalsel yang baru kembali dari Kotabaru, kurang lebih satu minggu yang lalu,  menceritakan hasil pertemuan dan investigasi yang dilakukannya.
Ungkap Andy “ pada 21 Februari 2011, di gedung DPRD Kotabaru diadakan hearing antara Bupati, jajaran dinas terkait, DPRD, massa Kontra, dan Walhi Kalsel. Pertemuan yang membahas keterbukaan informasi seputar rencana tambang Pulau Laut dan kompensasi jembatan Pulau Laut.
Walhi Kalsel menilai dalam pertemuan itu masih adanya ketidak terbukaan dari Bupati Kotabaru, yang tidak bersedia menjelaskan pertanyaan dari Walhi Kalsel dan elemen gerakan penyelamatan Pulau Laut, mengenai dokumen-dokumen perijinan pertambangan di Pulau Laut.
Saat itu Bupati Kotabaru hanya menjawab, bahwa dokumen terkait perijinan, profil perusahaan dan dokumen perjanjian tukar guling itu adalah dokumen negara. Sehingga tidak bisa sembarangan memberikan data itu” tutur Andy.
Menurut Manager Kampanye Walhi Kalsel "pernyataan Bupati Kotabaru yang mengatakan bahwa beberapa dokumen itu tidak bisa di buka kepada publik, jelas-jelas merupakan suatu kesalahan fatal dan terkesan menutup-nutupi.
Karena kebijakan pertambangan adalah kebijakan publik yang harus  disampaikan kepada masyarakat, sebab dampak pertambangan lebih dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu keputusan penerbitan izin tambang adalah kebijakan publik, bukan dokumen rahasia negara"
            Dwitho Frasetiandy, menegaskan “melihat hasil hearing hari itu kami meyakini ada hal-hal yang tidak beres dalam proses penerbitan izin tambang hingga proses yang sekarang ini berlangsung,  sehingga sulit untuk mendapatkan informasi yang lengkap tentang rencana pertambangan di Pulau Laut” pungkasnya. ara/mb05

250211-jumat(sabtu)-kalayangan2-pamali


PAMALI BAKALAYANGAN

BANJARMASIN - Orang Banjar tempo dulu mempunyai larangan menaikkan layang-layang sebelum musim panen padi selesai, karena diyakini akan menyebabkan hasil panen tidak baik. Larangan yang dimasa kini, tidak diindahkan anak-anak lagi.
Marzuki (65), warga Banjarmasin yang bertani di daerah Gambut, Jumat (25/2) menuturkan "aku masih ingat dulu waktu kecil, dinasehati oleh orang tua dan tetua kampung, pamali bakalayangan sebelum musim panen selesai. Karena akan banyak banih nang hampa (bulir padi kosong).
Tentunya dulu semua anak-anak akan taat dengan pamali yang dinasehatkan orang tua. Tapi dimasa kini, banyak yang tidak diindahkan lagi. Walau baru tanam padi atau panen padi belum selesai, tetap saja anak-anak bakalayangan" ujarnya.
Dilain pihak Pemerhati Budaya Mukhlis Maman, menjelaskan "pamali adalah bentuk larangan atau pantangan bagi masyarakat Banjar. Semua larangan orang Banjar mempunyai kearifan tersendiri yang sangat banyak. Dan permainan layang-layang di  Kalsel di sebut bakalayangan.
Seperti larangan menaikkan layang-layang sebelum panen padi selesai. Dikatakan bila larangan dilanggar, maka panen padi tahun tersebut akan banyak yang rusak. Keyakinan orang Banjar waktu itu, mengibaratkan seperti layang-layang yang ringan ditiup angin, yang juga memberi sugesti bahwa bulir-bulir padi juga akan ringan, tidak berat atau tidak berisi.
Menurut Mukhlis "kalau dilihat larangan itu dari sisi situasi, ada benarnya. Karena bila anak-anak main layang-layang saat tanam padi atau sebelum panen selesai, dikuatirkan saat mereka mengejar layang-layang yang putus, anak-anak yang sedang asik tersebut tidak peduli dengan tanaman padi yang ada didepannya, mereka akan terjang apa saja sambil berebut, sehingga tanaman padi akan terinjak-injak.
Nah, bila main layang-layang setelah panen sudah selesai, yang biasanya sudah memasuki musim kering, lahan persawahan juga sudah kering dan tidak ada lagi padinya. Jadi silahkan kalau mau diinjak-injak" ungkapnya. ara/mb05

250211-jumat(sabtu)-islam & keberagaman


Photo: Drs.M.Ilham Masykuri Hamdie, M.Ag

ISLAM MENGHORMATI KEBERAGAMAN

BANJARMASIN - Melalui nilai-nilai universal dalam agama, maka agama-agama dapat bertemu satu sama lainnya. Dan bagi umat beragama, adalah mengedepankan titik temu dari agama-agama, bukan sebaliknya memperbesar jurang perbedaan yang dapat membuka potensi konflik.
Menurut Drs.M.Ilham Masykuri Hamdie,M.Ag, pertengahan Pebruari yang lalu "Islam begitu menghormati keragaman, termasuk keragaman yang lalu "Islam begitu menghormati keragaman, termasuk keragaman dalam beragama. Tetapi kenapa umat manusia, yang berarti juga umat beragama tidak mau menerima perbedaan.
Ajaran-ajaran permusuhan dengan orang berbeda keimanan yang bersumber dari sejarah peperangan agama-agama masih menjadi dasar dalam menjalin hubungan dengan agama lain, akhirnya ketegangan hubungan antar agama masih berlangsung hingga sekarang" ujarnya.
Ilham menyampaikan bahwa "menghormati perbedaan adalah bagian dari menjalankan ajaran keagamaan. Karena Tuhan begitu menghormati perbedaan. Jika Tuhan menginginkan semua umat manusia berada dalam satu agama, maka tentu sangat mudah Dia lakukan.
Tetapi Tuhan tidak menghendaki itu, Tuhan menghormati perbedaan dan melalui perbedaan itu setiap umat manusia diminta berlomba dalam melakukan kebajikan. Siapa yang paling banyak berbuat kebajikan, maka dialah yang paling dekat dengan Tuhan."
Selanjutnya Ilham, menjelaskan dasar dari keyakinan beragama, menurutnya "meyakini agama yang dianut sebagai agama yang benar adalah sebuah keharusan. Karena keyakinan atas agama yang dianut berhubungan dengan akidah.
Tetapi keyakinan atas kebenaran agama yang dianut bukan berarti harus menafikan kebenaran yang juga diyakini orang lain. Beriman dan yakin atas agama sendiri, tapi juga menghormati perbedaan keyakinan orang lain" pungkasnya. ara/mb05

240211-kamis(jumat)-seminar di gedung Iqra Bjm


AKTIFASI PIKIRAN BAWAH SADAR ANAK

BANJARMASIN – Pentingnya peran orang tua dalam meningkatkan kecerdasan anak, Tidak terlepas dari wawasan orang tua itu sendiri dalam mengoptimalkan pendidikan secara kepribadian dan potensi dari anak itu sendiri.
            Drs.Ahmad Rizqon M.Pd I, Kepala TKA-TPA-TPQ BKPRMI Unit IQRA Mahligai Alqur’an disela-sela acara seminar aktifasi pikiran bawah sadar anak di gedung Mahligai Alqur’an yang dipenuhi ibu-ibu yang mengikuti seminar tersebut, pada Rabu (23/2) sore mengatakan “mengingat pentingnya peningkatan kecerdasan anak tersebut, yang tentunya harus melibatkan peran serta orang tua, maka pada hari ini kami menggelar seminar gratis penjelasan tentang aktifasi pikiran bawah sadar anak.
Sehingga orang tua, akan lebih aktif dalam menambah wawasan bagaimana cara yang baik dalam mengoptimalkan potensi kecerdasan anaknya. Sebuah program investasi jangka panjang untuk anak (sekali seumur hidup) dan sangat membantu sekali terutama dalam dunia pendidikan dan membentuk perilaku keseharian anak” katanya.
Lanjut Rizqon “TKA-TPA-TPQ BKPRMI Unit IQRA Mahligai Alqur’an bekerja sama dengan Civilized Learning Forum – Subconscious Mind Activation (SMA) Training, dengan pembicara dalam seminar adalah Badrussurur SS, seorang trainer aktivasi pikiran bawah sadar. Sehingga anak akan menjadi lebih cerdas, percaya diri, kosentrasi meningkat, lebih kreatif, dan ingatan menjadi lebih kuat.
Setelah ini, kita akan melanjutkan dengan program berikutnya yaitu Pelatihan Aktifasi Pikiran Bawah Sadar (The Power of Tahfil Motions) pada Sabtu dan Minggu 26-27 Pebruari ini, di Hotel Arum Banjarmasin. Bagi orang tua yang tertarik untuk mengikuti kegiatan pelatihannya, silahkan mendaftarkan diri di gedung Mahligai Alqur’an Banjarmasin” ungkapnya.
Badrussurur SS, dalam pemaparan seminarnya menjelaskan “dalam kehidupan keseharian manusia, menggunakan 82 persen pikiran alam bawah sadar, sedangkan sisanya 18 persen menggunakan pikiran sadar. Emosi-emosi positif dan negatif banyak menghiasi pikiran alam bawah sadar.
Oleh karena itu, bila pikiran alam bawah sadar terkontaminasi, emosi-emosi negatif akan muncul dan akan membuat batin atau hati anak menjadi terluka dan terasa sakit. Jika hal ini terjadi maka seorang anak kan menjadi sangat sensitive, mudah marah dan bahkan sedih yang berlebihan dengan bersikap yang tidak wajar.
Dari banyak penelitian para ahli pendidikan dalam bidang otak, menunjukkan bahwa kekuatan alam pikiran bawah sadar – yang digunakan sebagai dasar Accelerated Learning utamanya dalam penerapan NLP (Neoro Lingustic Programming) – dapat dapat digunakan untuk mengatasi berbagai problem diri, antara lain seperti susah belajar, meningkatkan daya ingat, depresi, trauma, penyembuhan penyakit, tidak percaya diri. ara/mb05



240211-kamis(jumat)-alam bawah sadar anak (Mozaik)


CARA TRADISIONAL MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

BANJARMASIN - Kehidupan keseharian manusia, menggunakan 82 persen pikiran alam bawah sadar, sedangkan sisanya 18 persen menggunakan pikiran sadar. Emosi-emosi positif dan negatif banyak menghiasi pikiran alam bawah sadar, yang akhirnya akhirnya akan mempengaruhi kecerdasan.
Banyak cara untuk mengaktifkan alam bawah sadar,. mulai dari yang tradisional hingga yang paling modern. Gerakan Tahlil salah satu cara tradisional untuk memasuki alam bawah sadar, ternyata secara ilmiah telah dikaji oleh pakar psikologi.
            Dalam seminar yang dilaksanakan oleh TKA-TPA-TPQ BKPRMI Unit IQRA Mahligai Alqur’an bekerja sama dengan Civilized Learning Forum – Subconscious Mind Activation (SMA) Training, pada Rabu (23/2) sore di gedung Mahligai Alquran Banjarmasin, membahas mengenai aktifasi pikiran bawah sadar anak.
Badrussurur SS, trainer Pelatihan Aktifasi Pikiran Bawah Sadar (The Power of Tahfil Motions) menjelaskan “emosi-emosi positif dan negatif banyak menghiasi pikiran alam bawah sadar. Oleh karena itu, bila pikiran alam bawah sadar terkontaminasi, emosi-emosi negatif akan muncul dan akan membuat batin atau hati anak menjadi terluka dan terasa sakit. Jika hal ini terjadi maka seorang anak kan menjadi sangat sensitive, mudah marah dan bahkan sedih yang berlebihan dengan bersikap yang tidak wajar.
Dunia anak-anak sangat rentan terhadap hal itu. Sikap emosional orang tua atau guru akan banyak menyumbang terciptanya kondisi trsebut. Pikiran alam bawah sadar anak dapat dengan mudah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar yang kurang kondusif. Ia akan memberikan dampak negatif pada perkembangan otak dan hatinya. Perasaan takut, panik, emosi yang berlebihan, trauma, kehilangan rasa percaya diri dan gejala negatif lainnya dapat menghambat proses kecerdasan anak” katanya.
Menurut Badrussurur “dari banyak penelitian para ahli pendidikan dalam bidang otak, menunjukkan bahwa kekuatan alam pikiran bawah sadar – yang digunakan sebagai dasar Accelerated Learning utamanya dalam penerapan NLP (Neoro Lingustic Programming) – dapat dapat digunakan untuk mengatasi berbagai problem diri, antara lain seperti susah belajar, meningkatkan daya ingat, depresi, trauma, penyembuhan penyakit, tidak percaya diri.
Accelerated Learning dalam prakteknya melibatkan semua kerja otak manusia. Pikiran sadar, pikiran bawah sadar, sistem energi otak kiri dan otak kanan adalah bagian yang sangat penting dalam aplikasi Accelerated Learning. Namun demikian dalam program Accelerated Learning, pikiran alam bawah sadar lebih banyak diprioritaskan. Banyak cara untuk mengaktifkan alam bawah sadar ini. mulai dari yang tradisional hingga yang paling modern.
Gerakan Tahlil salah satu cara tradisional untuk memasuki alam bawah sadar, ternyata secara ilmiah telah dikaji oleh pakar psikologi, yaitu Ichi Lee, seorang keturunan China yang banyak meneliti tentang gerakan seperti gerakan tahlil ini, yang diperkenalkannya dengan istilah Brainwave Vibration” ungkapnya. ara/mb07


230211-rabu(kamis)-penjual buah lokal (Dm.di Ekonomi & Bisnis hal.9)


Photo: mb/ara
BUAH LOKAL – Masih ada penjual buah lokal yang tetap setia dengan buah tradisional, walau buah impor membanjir di Banjarmasin.

TETAP SETIA MENJUAL BUAH LOKAL

BANJARMASIN – Penjual buah impor memang menjamur di sepanjang jalan kota Banjarmasin, maupun di pasar supermarket. Sedangkan penjual buah lokal sering hanya bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional, itupun dalam ragam jenis yang tidak lengkap.
            Ungkap Masrina (25) penjual buah lokal di jalan Lingkar Utara Dalam “buah impor mudah mendapatkannya karena distributornya banyak, sehingga yang menjual juga sudah banyak. Sedang buah lokal ini musiman (tahunan), sehingga terkadang sulit didapatkan, kecuali sudah langganan lama, dengan yang mengantarnya (distributornya).
            Harga Kedondong Rp.4 ribu per sepuluh biji, Ketapi Rp.5 ribu per sepuluh biji, Jeruk yang besar Rp.15 ribu per sepuluh biji, Jeruk yang kecil Rp.10 ribu per sepuluh biji, Nenas Rp.5 ribu per biji. Sedangkan pisang tergantung jenisnya, ada yang 7 ribu per sisir, ada yang 8 ribu per sisir.
            Bila lagi musim, ada juga Rambutan, Cimpedak, Manggis, Asam Kuini, Asam Sapat, Kesturi, Mangga, Hampalam, buah Kapul, Jambu Air, Jambu Biji dan buah musiman lain” ujarnya.
            Masrina, ibu dua putri ini sudah 4 tahun, menjual buah lokal. Walaupun mudah mendapatkan buah impor, tapi ia tetap setia menjual buah lokal.
            Menurut Darmansyah guru pengajar dari SMPN 6 yang kebetulan sedang membeli buah Ketapi “buah impor terkadang membuat ragu-ragu, bisa saja selama proses pengirimannya yang tentunya memerlukan waktu, buah tersebut diberi bahan pengawet agar tidak cepat busuk.
Sedangkan buah lokal, setelah panen langsung diantar kepasar, jadi benar-benar alami. Selain itu buah lokal adalah buah tradisional daerah kita sendiri yang hanya setahun sekali, tentunya saat musim benar-benar rindu untuk memakannya. Yang pasti buah lokal lebih cocok bagi lidah orang Banjar” pungkasnya. ara/mb06

230211-rabu(kamis)-maulid nabi dan teloransi


Photo: Noorhalis Majid

PERINGATAN MAULID JANGAN CUMA HANYA SIMBOL

BANJARMASIN – Tidak dikota maupun didaerah, dari 12 Rabiul Awal 1432 H, bertepatan pada 15 Februari 2011 seluruh kaum muslim merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi warisan peradaban Islam turun temurun yang juga selalu dilaksanakan terutama di Banjarmasin, baik oleh masyarakat, lembaga ataupun instansi pemerintah.
Namun, seringkali peringatan Maulid hanya menjadi tradisi rutin tahunan tanpa menyentuh makna Rahmatan Lil Alamin dari keteladanan Nabi Muhammad SAW. Dalam catatan historis, Maulid dimulai sejak zaman kekhalifahan Fatimiyah di bawah pimpinan keturunan dari Fatimah az-Zahrah, putri Muhammad.
Noorhalis Majid, salah satu tokoh lintas Agama Kalsel, pada Selasa (22/2) sore menuturkan “Nabi diturunkan dalam rangka untuk menyempurnakan akhlak manusia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Maka point utama daripada peringatan Maulid selain dari meneladani akhlak Nabi, yaitu bagaimana menjadikan Islam sebagai agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam.
Dengan memberi rahmat bagi sekalian alam berarti juga membangun teloransi antar umat beragama. Karena rahmat bagi sekalian alam itu artinya memberikan keselamatan, kesejahteraan, keamanan, kedamaian, bagi semua orang termasuk orang-orang yang berbeda keimanan dengan kita.
Pujian, sanjungan dan mengingat perjuangan nabi itu satu hal. Tetapi meneladani sikap dan prilaku, kemudian subtansi dari kehadiran dan perjuanga Nabi itu lebih penting” katanya.
Menurut Noorhalis “banyak kelompok yang mengatakan memperjuangkan Islam, malah tidak meneladani sebenar-benarnya perjuangan Nabi. Seperti diketahui, Nabi itu tidak pernah memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Nabi terus melakukan dakwah, menyampaikan kebenaran-kebenaran tanpa pemaksaan. Bahkan kepada pamannya sendiri, Nabi tidak memaksakan, karena ketika Nabi mencoba memaksakan keimanan kepada pamannya, Tuhan menegur Nabi.
Sebab yang mengatur keimanan itu adalah kewenangan Tuhan, bukan kewenangan kita manusia. Yang paling penting adalah kita memberi suri tauladan kepada umat lainnya. Kalau umat Islam itu adalah umat yang utama. Maka yang dimaksud umat yang utama ialah memberi suri tauladan yang utama.”
Ditambahkannya “sedangkan suri tauladan yang utama, misalnya dalam soal kebersihan, umat Islam harus lebih bersih dari umat lainnya. Dalam soal ketertiban lalu lintas umat Islam harus lebih tertib dari umat lainnya. Dalam soal kejujuran, umat Islam harus lebih jujur dari umat lainnya. Begitu juga dalam soal tata lingkungan, kehijauan dan yang lainnya, umat Islam harus lebih dari umat lainnya”ujarnya.
Noorhalis menegaskan “bukan berarti pengertian yang utama itu sebagai mayoritas, lalu kemudian menindas yang minoritas. Seharusnya umat Islam sebagai umat pilihan, memberi contoh pada yang lainnya, dan bersikap lebih baik.
Kalau semata-mata hanya mengedepakan simbol, tanpa mengedepankan subtansi dari agama, maka itu tidak ada artinya” pungkasnya. ara/mb05

220211-selasa(rabu)-MAN2 Bjm Ultah


Photo: mb/ara
MANDA – Peringatan hari lahir Madrasah Aliyah Negeri 2 (MANDA) Model Banjarmasin, di isi dengan beragam kegiata festival dan lomba antar sekolah se-Kalsel

MENJALIN PERSAHABATAN DALAM HARLAH MANDA

BANJARMASIN – Menjalin persahabatan bersama Madrasah Aliyah Negeri 2 (Manda) Model Banjarmasin, menjadi tema peringatan Harlah Manda yang ke-13. Rangkaian acara harlah Manda sendiri sudah dimulai dari 14 Pebruari hingga puncak acara peringatannya ditutup pada Senin 21 Pebruari 2011 yang lalu.
Beragam kegiatan dilaksanakan dalam Harlah Manda, seperti Festival Maulid Habsyi, Lomba Bakisah Bahasa Banjar, dan Lomba Tilawah se-Kalsel. Untuk lomba ini telah dilaksanakan dari 15 sd 16 Pebruari 2011.
Dari keterangan Ikbal siswa Manda yang menjadi ketua panitia kegiatan, pada Senin siang (21/2), bahwa lomba ada yang untuk interen Manda dan ada yang untuk antar grup serta sekolah.
Untuk lomba interen Manda, antara lain: lomba Tarik tambang dan Lomba Futsal antar kelas, pemenang pertama futsal dari kelas XII IPS2, pemenang kedua dari kelas XI Agama dan pemenang ketiga dari kelas XI IPS. Lomba Tenis Meja, pemenang pertama oleh Said Muhammad Hafizh dari kelas XI IPS2, pemenang kedua oleh M.Zahidi dari kelas XI Bahasa dan pemenang ketiga oleh Ihsanuddin dari kelas XI Agama. Kemudian ada lomba Tahfidz putra dan putri, lomba Stiker dan lomba kebersihan.
Sedang lomba antar grup dan antar sekolah antara lain: lomba Maulid Habsy. Pemenang pertama putra dimenangkan dari grup Al Mubarak, pemenang kedua dari grup Ja’ar Rasul, dan pemenang ketiga dari grup Al Fajr. Pemenang pertama putrid dimenangkan dari grup Al Mujahidah, pemenang kedua dari grup Nur ‘Aini dan pemenang ketiga dari grup Majma’tul Mar’ah.
Lomba Tilawah, pemenang pertama putra oleh Supian, pemenang kedua oleh Muhammad Nur Irvan dari SMAN1 Banjarmasin dan pemenang ketiga oleh Jainal Ilmi dari MAN1 Martapura. Pemenang pertama putri oleh Sofia El-Azkia Rumisha dari MA An-Najah Cindai Alus, pemenang kedua oleh  Arhiah dari MA Nurul Islam dan pemenang ketiga oleh Ridha Amalia dari SMAN1 Mandastana.
Lomba Futsal, pemenang pertama dari SMA PGRI2 Banjarmasin, pemenang kedua dari MAN1 Banjarmasin dan pemenang ketiga dari SMAN 5 Banjarmasin.
Kepala sekolah Manda, Drs.H.Bakhruddin Noor mengatakan “dalam ulang tahun yang ke-13 ini diharapkan di tahun mendatang ada peningkatan disegala bidang, apakah itu akademik, kegiatan ekstra ataupun kegiatan lainnya.
Diakui Bakhruddin bahwa “bila dibandingkan dengan tahun yang lalu, Manda telah meningkat dalam sarana dan prasarana, kemudian dalam akademik, serta tingkat kelulusan yang lebih baik” pungkasnya. ara/mb05

210211-senin(selasa)-film asing


Photo: mb/ara
FILM ASING - Kendati beredar kabar, film-film asing sudah ditarik peredarannya di bioskop-bioskop di Indonesia, XXI Cinema Duta Mall Banjarmasin masih memutar beberapa film asing

FILM ASING MASIH DIPUTAR XXI CINEMA DUTA MALL

BANJARMASIN – Kebijakan bea masuk film asing (impor) yang ditetapkan pada Januari 2011 oleh Tim Tarif di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, telah melahirkan protes dari Motion Picture Association (MPA) of America atau asosiasi produser Amerika dengan cara menghentikan peredaran film Hollywood ke Indonesia, dipastikan berakibat tidak akan ada lagi film-film kaliber dunia yang beredar di bioskop-bioskop di Tanah Air.
            Kendati beredar kabar, film-film asing sudah ditarik peredarannya di bioskop-bioskop di Indonesia oleh MPA. Dari pantauan Mata Banua hingga Senin (21/2) di XXI Cinema Duta Mall Banjarmasin, masih diputar sejumlah film-film asing dari Hollywood. Film yang now showing ada dua film dari nasional dan enam film asing.
            Menanggapi kabar tidak adanya lagi film dari Hollywood yang akan diputar di XXI Cinema DM, beberapa masyarakat yang sedang membeli tiket film XXI Cinema berkomentar:
            “Tidak seru lagi, kalau film asing tidak diputar, jadinya malas nonton ke XXI Cinema, film Indonesia kurang asik” ujar Andi (27)yang sedang menunggu temannya untuk nonton.
Menurut Nia (26), karyawan swasta di Banjarmasin yang ditemui di depan XXI Cinema, berkata “kalau hanya memutar film Indonesia, boleh jadi bioskop bakal ditinggalkan. Yang ada, penonton lari ke film bajakan”
Sedang Reza (23), mahasiswa Uvaya Banjarmasin berbeda pendapat “diputar atau tidak film asing di bioskop bagiku sama saja, karena aku sangat jarang nonton di XXI Cinema DM, lebih murah cari DVDnya” ujarnya.
Sementara itu tidak hanya direaksi MPA, sebagai Perwakilan produsen film Hollywood di Indonesia, tetapi juga dari Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (perwakilan produsen film Mandarin dan India) yang turut menghentikan peredaran film-filmnya di Indonesia.
Seperti diketahui, kebijakan bea masuk film impor sendiri tertuang dalam SE-03/PJ/2011 tentang Pajak Penghasilan (PPh) atas penghasilan royalti dan perlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas peredaran film impor. Pihak distributor juga dibebani tarif PPN dan PPh atas film impor flat sebesar 0,43 dollar AS atau setara Rp 3.870 per meter
Jika kebijakan ini tetap dilaksanakan, ada kemungkinan Dirjen Bea Cukai akan kehilangan rencana anggaran pendapatan dari film impor sebesar 23,75% atas bea masuk barang, 15% PPh hasil eksploitasi film impor, dan Pemda/Pemkot/Pemkab akan kehilangan 10-15% pajak tontonan sebagai pendapatan asli daerah.
Dilain pihak, selama ini tarif royalti film produksi dalam negeri sebesar 15 persen. Sedangkan film impor hanya dikenai bea masuk USD 0,43 (sekitar Rp 4.000) per meter rol film. Melalui SE-03/PJ/2011 tentang PPh atas penghasilan berupa royalti dan perlakuan PPN atas pemasukan film impor, berarti beban tarifnya kini menjadi setara dengan pajak royalti film nasional. ara/mb05

210211-senin(selasa)-bamasakan (Dm.250211)


Photo: mb/ara
SEJAK DINI – Biasakan anak gadis sejak dini mengenal peralatan dapur dan tahu bagaimana cara memasak, agar bisa terampil saat berumah tangga.

PELAJARAN MEMASAK SEJAK DINI BAGI ANAK-ANAK

BANJARMASIN – Kehidupan yang serba praktis diperkotaan, ingin makanan apa saja tinggal beli. Kemudahan ini bukan tidak berakibat negatif bagi remaja putri, banyak diantaranya yang tidak bisa memasak.
            Menurut Khairatin guru pengajar PPKN dan Keterampilan di SMPN2 Manarap, pada Senin (21/8) berkata “dulu sering kita melihat anak-anak gadis yang berumur 5 sd 10 tahun bermain barurumahan atau bamamasakan.
Permainan ini sangat bermanfaat, kareana mereka belajar bagai mana menjadi seorang ibu atau cara memasak sejak dini. Barurumahan atau bamamasakan adalah termasuk permainan tradisional.
            Untuk daerah pinggiran kota, permainan seperti ini masih banyak dilakukan anak-anak gadis. Tapi dikota sendiri, hampir tidak terlihat lagi. Hal inilah yang menyebabkan banyak remaja putri yang tidak bisa memasak. Padahal keahlian memasak bagi remaja putri, adalah sangat bermanfaat bila mereka berumah tangga” ujarnya.
            Juairiyah, remaja putri yang telah duduk dikelas tiga SMA hanya tersenyum sambil menggeleng, saat ditanya Mata Banua apakah bisa memasak. Dilain pihak Khairunnisa, salah satu mahasiswi Unlam Banjarmasin menjawab “tak perlu repot memasaklah, kan tinggal pesan katering, atau beli saja diwarung, kan lebih gampang” katanya.
            Khairatin, menambahkan “di SMP memang ada pelajaran keterampilan memasak, tapi itu tidak cukup. Pelajaran yang sebenarnya ada dirumah, bagaimana ibu-ibu mengajarkan anaknya untuk membantu didapur, agar keterampilan memasak anak gadisnya bisa bisa lebih baik lagi.
            Membiasakan anak gadis membeli makanan yang sudah jadi bukanlah sesuatu yang lebih baik. Namun pelajaran sebenarnya adalah saat anak gadis berumur antara 5 sd 10 tahun, biarkan mereka terbiasa dengan peralatan dapur dan beimajinasi melalui barurumahan atau bamamasakan” pungakasnya. ara/mb05
           

200211-minggu(senin)-lontong


MENU KHAS ORANG BANJAR PAGI HARI

BANJARMASIN – Setiap daerah mempunyai makanan khas masing-masing. Seperti lontong memang ada di setiap daerah di nusantara, namun di Banjarmasin mempunyai ciri khasnya sendiri.
Lontong Banjar biasanya dijual para pedagang makanan di pagi hari. Lontong Banjar disajikan dengan kuah nangka bersantan kental. Kuah inilah yang menambah cita rasa lontong. Ditambah gurihnya lauk iwak (ikan) haruan (gabus) dan sambal masak habang (masak merah). Sedang pilihan lauk lain, bisa juga dengan telur masak habang.
Karena banyak yang suka, lontong sering dihadirkan pula sebagai menu pada even-even tertentu antara lain lebaran Idul Fitri, Idul Adha, perkawinan, hajatan, arisan dan seremonial kantor. Masyarakat Tionghoa juga menjadikan lontong sebagai menu dalam momen cap go meh
Menurut Johan Kalayan orang Banjar yang saat ini berdomisili di Jakarta, melalui perbincangannya dengan Mata Banua di telepon pada Kamis (10/3), bercerita “kalau aku pulang ke Banjar, yang pertama aku cari adalah lontong Banjar. Karena itu makanan kegemaranku masih kecil saat masih tinggal di Kelayan.
Menurut Johan yang sukses diperantauan sebagai penulis skenario senetron dan film “dibandingkan lontong dari daerah lain di nusantara, lontong Banjar memiliki perbedaan cara membungkus. Jika lontong pada umumnya dibungkus daun pisang dengan cara digulung, lontong Banjar daun pisangnya dilipat berbentuk segitiga sama kaki.
Entah karena cara membungkus tadi atau teknik memasak yang berbeda, pastinya lontong Banjar ini terasa lebih lembut di lidah dibandingkan lontong umum berbentuk bulat panjang. Selain itu, kuah nangkanya yang bersantan dengan lauk iwak haruan, takkan bisa dilupakan oleh lidah orang Banjar walau di perantauan” ujarnya. ara/mb07
   


200211-minggu(senin)-accu (Dm.di Ekonomi & Bisnis hal.9)

Photo: mb/ara
AKI – Dari pada aki soak dibuang, lebih baik dijual atau ditukar tambah dengan aki baru

Aki Soak Masih Bernilai

BANJARMASIN – Tidak semua orang tahu, bahwa aki yang sudah rusak atau soak masih mempunyai nilai rupiah, jadi jangan buang aki yang sudah soak. Bawa saja aki yang sudah soak ke toko atau bengkel, tukar tambah dengan aki baru.
Aki (accu) mobil ataupun motor yang paling banyak digunakan adalah jenis accu basah. Accu basah yang dimaksud adalah Lead Acid Battery. Paling tidak sebulan sekali kita perlu melihat ketinggian air accu yang bisa dilihat dari body samping aki tersebut.
Menurut Toni, pemilik tempat penyetruman aki di jalan Kolonel Sugiono “jangan sampai air aki berada di bawah Level Minimumnya karena akan merusak sel aki itu sendiri. Umur pakai aki berkisar sekitar 1,5 sd 2,5 tahun tergantung kondisi mobil/motor yang menggunakannya.
Suatu aki mulai rusak ketika tidak bisa menyimpan arus listrik dengan baik atau tegangan (voltase) nya turun dari yang seharusnya. Biasanya ditandai dengan bunyi klakson tidak selantang biasanya, lampu tidak seterang biasanya, waktu starter mesin jadi lebih panjang, bahkan lebih parah adalah tidak bisa starter mesin. Aki yang sudah parah seperti itu umumnya dinamakan Aki Soak.
Lama penyetruman (charging) aki kecil sekitar 3 jam, dengan mengganti air akinya Rp.6000. Untuk aki yang besar sekitar 10 jam, biaya setrumnya tergantung beratnya. Aki mobil rata-rata Rp.20.000, dengan isi air akinya Rp.30.000. Kalau mau mengganti sendiri air akinya, air yang digunakan untuk menambah eletrolit yaitu air suling (air accu), Rp.4000, sedang air aki yang baru atau larutan accu zuur (H2SO4) Rp.5000 per botol” katanya.
Lanjut Toni “disini juga jual beli aki bekas maupun baru. Merek aki cukup banyak, dan harganya tidak jauh berbeda, rata-rata harga aki kecil yang baru Rp.110.000. Sedang aki bekas Rp.60.000. Biasanya dengan pembeli, kita tukar tambah, pembeli punya aki bekas yang sudah soak, maka aki soaknya kita hargai Rp.10.000, jadi ia tinggal menambah Rp.100.000 untuk dapat membawa pulang aki baru.
Satu bulan sekali akan datang pengumpul aki bekas, mereka membeli dari kita untuk satu aki kecil yang rusak atau soak Rp.12.500. Kemudian kita membeli dari pengumpul tersebut aki soak yang sudah diperbaiki rata-rata Rp.50.000. Katanya aki soak yang dibeli pengumpul dari kita itu dikirim ke Surabaya, untuk diperbaiki” ungkapnya.
Toni, sudah mengelola penyetruman aki, selama 34 tahun. Ia dibantu dengan 2 orang temannya. “dalam sehari kami tunggu bergantian, keuntungan dibagi rata perhari, kalau dihitung-hitung minimal sehari perorang bagiannya Rp.30.000. Sekarangkan sudah banyak tempat penyetruman aki, jadi tidak seramai dulu lagi” pungkasnya. ara/mb06

190111-rabu(kamis)-jumlah kendaraan terjual (di ekonomi)


3.757 UNIT SEPEDA MOTOR BARU PERBULAN DIBELI MASYARAKAT

BANJARMASIN – Dengan bertambahnya penduduk, maka kebutuhan akan sarana transportasi juga akan bertambah. Keadaan ini disikapi oleh prudusen kendaraan melalui dealer-dealer yang tersebar di pelosok kota, dengan memberikan kemudahan-kemudahan persyaratan dan uang muka yang rendah bagi masyarakat untuk membeli sebuah kendaraan.
Dampak dari kebutuhan transportasi berakibat pada situasi jalan dikota Banjarmasin yang akan semakin padat. Bagi pengguna jalan, kemacetan lalu lintas tidak bisa dihindari, bila peningkatan perbaikan, pelebaran dan pembuatan jalan baru, tidak seimbang dengan pertambahan jumlah kendaraan roda dua dan roda empat di kota Banjarmasin.
Dari informasi yang diberikan Zain Herdane, seksi pelayanan PKB/BBNKB Samsat Kota Banjarmasin pada Rabu (19/1), bahwa “dari Januari s.d Desember 2010, data kendaraan baru yang meminta surat menyurat untuk kota Banjarmasin, Sedan 60 unit, Jeep 224 unit, Minibus 1.856 unit, Pick Up 1.039 unit, Truck 636 unit, Sepeda Motor 45.082 unit dan R3 105 unit.
Jadi rata-rata perbulan untuk kendaraan roda empat baru yang dibeli masyarakat ada 318 unit, dan untuk kendaraan roda dua baru ada 3.757 unit” ujarnya. ara/mb06

180211-jumat(sabtu)-hipnosis & teater (Dm.240211)

Pelaku Seni Sebagai Penghipnotis

BANJARMASIN – Tanpa disadari saat seseorang terhanyut ketika melihat video, film,  pagelaran wayang, teater dan ikut kesal, marah, gembira sesuai perasaan dalam alur cerita. Atau terlena saat mendengar musik, nyanyian, pembacaan puisi dan sandiwara radio, sehingga naik turunnya emosi sesuai dengan naik turunnya emosi irama dan suara. Maka keadaan seperti itu adalah dalam kondisi terhipnosis.
Seorang Mind Navigator, Adi W.Gunawan dalam bukunya yang berjudul Hypnosis mengatakan, beragam kesan negatip terhadap hipnotis lebih banyak diketahui masyarakat. Hal ini disebabkan tayangan-tayangan di televisi yang menampilkan acara hipnosis ataupun kejahatan yang terjadi menggunakan hipnosis.
Hipnosis dalam bahasa Inggris adalah hypnosis atau hypnotism (hipnotisme). Kata hipnotis berarti orang yang melakukan hipnosis. Kondisi hipnosis sebenarnya adalah kejadian sehari hari yang selalu kita alami setiap saat.
Kemudian praktisi hipnoterapi, Ariesandi Setyono menjelaskan bahwa terdapat dua aliran besar hipnosis yaitu aliran Timur dan Barat. Pada aliran Timur memang banyak dijumpai hal-hal yang bersifat mistis atau magis. Sebaliknya, hipnosis aliran Barat dipengaruhi teori-teori mengenai pikiran dan struktur bahasa.
Dilain pihak pada Kamis (17/2) Anita S Bayu, CH.t, NLPpr, CI mengungkapkan dengan Mata Banua mengenai hubungan antara dunia seni dan hipnosis, menurutnya kondisi hipnosis adalah saat dimana seseorang fokus terhadap sesuatu atau fokus kedalam dirinya, dan sangat kurang perhatiannya kepada keadaan selain yang diperhatikannya atau keadaan diluar dirinya (keadaan sekitarnya).
Oleh karena itu, para pelaku seni juga sebenarnya adalah seorang hipnotis yang menghipnosis penontonnya. Namun hal ini tidak disadari, bahasa yang digunakan dalam dunia seni umumnya adalah penjiwaan dan penghayatan. “Ketika pelaku seni benar-benar menjiwai dan menghayati aktivitas seni yang dilakukannya, sehingga yang melihat dan mendengar terlarut didalamnya” katanya.
Kesan yang mendalam terhadap aktivitas seni yang didengar dan ditonton, seusai pertunjukan adalah efek dari hipnosis. Kesan yang mendalam yang juga ditimbulkan saat seseorang melihat sebuah lukisan, merupakan bagian dari hipnosis.
Setiap hari kita selalu keluar masuk kedalam keadaan hipnosis. Kata-kata yang masuk kedalam pikiran kita dalam keadaan hipnosis akan sangat kuat pengaruhnya pada diri kita. Kata-kata tersebut akan tertanam kuat dalam fikiran bawah sadar. Ketika sholat sebenarnya kita juga masuk kedalam kondisi hipnosis, atau ketika kita terhanyut saat mendengar lantunan ayat-ayat suci, atau saat membaca ayat-ayat cuci.
Anita yang saat ini adalah Cartified Instruktur – Indonesia Board Of Hypnoyhery di Quantum Smart – Rumah Sehat ASB Banjarmasin, menegaskan bahwa untuk dunia seni, pelaku seni yang sebagai penghipnotis seringkali juga terhipnosis dengan peran yang mereka mainkan karena terlalu menjiwai, sehingga peran tersebut mempengaruhi kehidupan normalnya, dan ini bukanlah sesuatu yang baik.
“Maka, para pelaku seni, khususnya pemain teater sudah seharusnya memahami dengan lebih baik apa itu hipnotis dan hipnosis. Sehingga mereka mampu mengontrol pengaruh dari peran yang mereka mainkan” ujar Anita, yang juga mendalami seni lukis. ara/mb05

180211-jumat(sabtu)-definisi sastra banjar1 (Dm.220211)


PERDEBATAN DEFINISI SASTRA BANJAR

BANJARMASIN – Bermacam definisi tentang sastra Banjar, baik yang sudah ditetapkan pemerintah, maupun dari pemikiran para budayawan dan sastrawan Banjar itu sendiri. Diantara perdebatan itu, akan terlihat pendapat mana yang paling tepat untuk mendefinisikan sastra Banjar.
            Tajuddin Noor Ganie, M.Pd, menceritakan kembali muasal perdebatan tentang definisi sastra Banjar, katanya “dimulai pada Agustus 2000 yang lalu, di kota Banjarmasin berlangsung Musyawarah Besar Pembangunan Banua Banjar, salah satu hasilnya adalah rumusan tentang sastra Banjar yang berbunyi sebagai berikut: sastra Banjar adalah salah satu ciri sastra daerah yang hidup di Kalsel dengan ciri-ciri berbahasa Banjar, bersifat lisan, telah hidup dan berkembang selama dua generasi, dan berisi nilai-nilai lokal dan universal (Rumusan Komisi C Bidang Sosial Budaya)”
            Menurut Tajuddin “definisi sastra Banjar yang dirumuskan komisi C tersebut, sesungguhnya sudah menjadi semacam pengetahuan umum yang sering diulang-ulang. Semua ciri yang disebutkan dalam definisi sastra Banjar di atas merujuk kepada identifikasi sastra Banjar sebagai karya sastra klasik yang bersifat lisan, seperti: andi-andi, bacaan (mantra), bapandung (monolog), cerita rakyat (mitologi, legenda, hikayat, kisah, dongeng), japin carita (teater), lamut (prosa liris), madihin (puisi), mamanda (teater), pantun, syair, dan surat tarasul (surat cinta yang dimuati dengan puisi puja-puji untuk kekasih hati). Yang definisi ini sejalan dengan Jamal T. Suryanata yang hanya membatasi sastra Banjar pada karya sastra berbahasa Banjar saja” ujarnya.
Kemudian lanjut Tajuddin “sehingga, definisi tersebut telah menjadi perdebatan beberapa budayawan dan sastrawan dimulai dari Desember 2005. Perdebatan disulut oleh Sainul Hernawan yang tidak setuju dengan definisi sastra Banjar Jamal. Menurut Sainul jika identitifikasi sastra Banjar yang demikian itu dipaksakan maka sastra Banjar akan menjadi rumah yang eksklusif dan sulit sekali dimasuki oleh karya sastra berorientasi sosiokultural Banjar dan ditulis oleh warga Banjar dalam bahasa Indonesia”.
Dari perdebatan budayawan dan sastrawan tersebut, Tajuddin menyimpulkan bahwa “secara garis besar para sastrawan dan akademisi yang terlibat dalam perdebatan tersebut terpolarisasi ke dalam dua kubu, yakni kubu pertama yang mengusung pendapat bahwa bahasa Banjar merupakan ciri mutlak yang harus ada dalam sastra Banjar, tanpa bahasa Banjar berarti bukan sastra Banjar, posisi bahasa Banjar tidak dapat digantikan oleh bahasa lain (Jamal T. Suryanata dkk).
Kubu kedua yang mengusung pendapat bahwa bahasa Banjar bukan merupakan ciri mutlak yang harus ada dalam sastra Banjar, sastra Banjar dapat saja ditulis dalam bahasa lain selain bahasa Banjar, posisi bahasa Banjar dapat saja digantikan oleh bahasa lain (Sainul Hernawan dkk).
Oleh karena itu Tajuddin menyimpulkan “jika definisi sastra Banjar diibaratkan sebagai pintu masuk ke dalam rumah pustaka sastra Banjar, maka sesungguhnya pintu masuknya tidak cuma ada dua, tetapi ada beberapa pintu. Tidak setiap pintu dapat dimasuki begitu saja tanpa pssword sama sekali, karena setiap pintu memiliki ketentuan yang mengatur siapa saja sastrawan yang dapat memasukinya, dan siapa saja sastrawan yang tidak dapat memasukinya” ungakapnya pada Jumat (18/2). ara/mb05

170211-kamis(jumat)-cap go meh


Photo: mb/ara
KLENTENG – Dimulai dari perayaan tahun baru Imlek bagi warga Tionghoa dirumah maupun di kelenteng, hingga berlangsung hari terakhir ke-15 yaitu Cap Go Meh

TRADISI PERAYAAN TAHUN BARU HARI KE 15 WARGA TIONGHOA

BANJARMASIN – Bagi warga Tionghoa tahun baru (Imlek atau di sebutan juga Sin Cia) tidak cuma satu hari pada Rabu (3/2) yang lalu, tapi rangkaian ritual perayaannya berlangsung hingga hari terakhir  ke-15 yang jatuh pada Kamis (17/2).
Di kelenteng Soetji Nurani jalan Vetran Banjarmasin, malam Cap Go Meh dirayakan oleh warga Tionghoa dengan pertunjukan Barongsai, siangnya dilanjutkan dengan bersembahyang di kelenteng. Sementara di beberapa daerah lain seperti Singkawang dan Makasar, Cap Go Meh dirayakan selain bersembahyang di kelenteng juga dengan meriahnya karnaval yang sudah menjadi acara kalender rutin tahunan kota.
Cap Go Meh merupakan rangakaian dari Imlek mulai dirayakan di Indonesia sejak abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Kemudian selama 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum oleh rezim Orde Baru.
Warga Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan rangkaian tahun baru Imlek ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967 pada 2000. Selanjutnya pada 12 Februari 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Sukarno Putri.
Yohanes Handoko, anggota Dewan Kehormatan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia di Banjarmasin dan juga sebagai ketua Perkumpulan Sosial Mulia Sejahtera (PSMS) Kalsel, yang ditemui Mata Banua pada Senin (7/2) yang lalu di PSMS, membenarkan tentang 15 hari rangklaian tradisi tahun baru Imlek hingga Cap Go Meh.
Salah seorang warga Tionghoa yang tidak mau namanya di korankan, seusai bersembahyang di kelenteng Soetji Nurani pada Kamis (17/2), menuturkan rangkaian kegiatan yang dilakukan selama 15 hari tersebut, yaitu:
“Hari ke-1, sejak tengah malam, melakukan upacara sembahyang menyambut kedatangan dewa-dewi dilakukan baik dirumah maupun di tempat ibadah warga Tionghoa. Sambil mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga dan memberikan ang pau.
 Hari ke-2, melakukan sembahyang kepada dewa-dewi dan leluhur. Mengucap syukur atas berkah dan lindungan yang diberikan. Hari ini juga dipakai untuk mengunjungi dan bersilahturahmi dengan handai taulan dan sahabat.
Hari ke-3 dan ke-4, dianggap tidak baik untuk menyambangi sahabat dan relasi, juga tidak bagus untuk memulai aktivitas bisnis. Karena kedua hari ini dianggap mudah terlibat perdebatan, penyebabnya karena hidangan goreng yang dikonsumsi selama kedua hari pertama. Jadi hari ketiga umumnya dipakai untuk berziarah ke kuburan, mendoakan anggota keluarga yang sudah tiada.
Hari ke-5, adalah melakukan sembahyang untuk ulang tahun Dewa Kekayaan, umumnya hari ini semua kegiatan bisnis sudah buka dan dimulai lagi. Aktivitas menyapu sudah diperkenankan lagi. Dan hari ke-6, di isi dengan mengunjungi rumah ibadah, kerabat dan teman yang masih belum sempat ditemui.
Hari ke-7, hari ulang tahun semua orang, dimana semua orang bertambah usianya. Orang-orang akan berkumpul dan bersama-sama dan berharap agar kekayaan dan kemakmuran yang tinggi dan berkesinambungan.
Hari ke-8, mengadakan makan malam reuni lagi. Dan hari ke-9, untuk memanjatkan doa dan mengucapkan selamat ulang tahun bagi Dewa Jade Emperor, dan melakukan sembahyang mengucap syukur kepada Thian (Tuhan).
Hari ke-10 sampai hari ke-12, hari-hari meneruskan perayaan dengan keluarga dan sahabat. Dan Hari ke-13, dimana makanan vegetarian dikonsumsi, untuk membersihkan perut setalah dua minggu mengkonsumsi aneka makanan.
Hari ke-14, dipakai untuk menyiapkan diri untuk perayaan Cap Go Meh. Dan hari ke-15, menandakan malam dengan bulan purnama yang pertama kalinya yang disebut juga sebagai yuan xiao jie (malam pertama bulan purnama) atau Cap Go Meh.
Demikian, perayaan Sin Cia diawali pada bulan baru di hari pertama dan berakhir pada bulan purnama di hari ke lima belas Cap Go Meh adalah tradisi dan perayaan yang  sarat dengan makna” tuturnya. ara/mb05

170211-kamis(jumat)-ahmadiyah1 (Dm.190211)


Photo: Yusran Pare

TELORANSI MASYARAKAT KALSEL TERHADAP WARGA AHMADIYAH

BANJARMASIN – Pergolakan konflik dengan warga Ahmadiyah di luar Kalimantan Selatan telah menimbulkan korban jiwa.Lalu sejauh mana warga Kalsel menerima perbedaan dan menyikapi permasalahan.
Sementara itu Komisi VIII DPR juga telah melakukan rapat dengar pendapat yang digelar di Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta,  pada Rabu (16/2) dengan jajaran pengurus pusat Jemaah Ahmadiyah Indonesia atau JAI. Rapat dengar pendapat tersebut berhasil merumuskan sejumlah poin terkait kontroversi Ahmadiyah.
Beberapa poinnya antaralain, DPR akan mendorong pemerintah untuk menggelar dialog terus-menerus dengan melibatkan pengikut Ahmadiyah hingga ke akar rumput, juga merumuskan bahwa kekerasan atas nama agama adalah suatu hal yang tidak dapat diterima.
Sebelumnya, Yusran Pare dalam sebuah diskusi tentang Demokrasi, Pluralisme dan Kebudayaan Lokal di Banjarmasin, pada Sabtu (15/1) yang lalu mengatakan “kedewasaan akan tampak manakala warga dihadapkan pada kenyataan lain, terutama yang bersinggungan dengan unsur-unsur kesukuan, agama, ras dan antargolongan. Benih-benih kekarasan memang sesekali muncul namun segera bisa dikendalikan, sehingga tidak meluas.
Yusran kemudian menceritakan kasus konflik warga dengan kaum Ahmadiyah di Kalsel, katanya “pada waktu yang lalu, warga Kalsel menunjukkan sikap yang lebih dewasa, manakala diperhadapkan dengan isu berbau agama dan keyakinan. Ketika kaum Ahmadiyah dihujat, diusir bahkan dianiaya dibanyak tempat, warga Kalsel tidak melakukannya.
Walau ada gelombang penolakan sebagaimana terjadi pada Agustus 2008 ketika Forum Umat Islam (FUI) Kalsel mendesak pemerintah bersikap tegas membubarkan Ahmadiyah, namun penolakan ini tidak dilakukan dengan cara serangan fisik.
Forum yang terdiri atas beberapa organisasi massa Islam ini justru meminta seluruh elemen masyarakat, baik ulama, tokoh masyarakat, menghormati hasil rekomendasi Bakorpakem dan tidak melakukan aksi-aksi anarkis serta menjaga situasi agar tetap tenang dan aman” ujarnya.
Menurut Yusran “memang tampak ada saja upaya-upaya menunggangi dan menggunakan isu agama untuk kepentingan tertentu, namun tak lebih untuk kepentingan politik. Contohnya polemik yang dimunculkan terkait pembangunan gereja Katolik Santo Vinsensius A Paulo di Batulicin, saat menjelang pemilihan gubernur. Terbukti, isu ini tak cukup ampuh untuk membakar urang banua.
Sebagai daerah yang mayoritas penduduknya muslim dan sangat kuat simbol-simbol religiusnya, warga Kalsel tampaknya mampu hidup berdampingan secara damai dan rukun dengan warga yang berbeda agama” ungkapnya.
Tapi pada bagian terakhir diskusi, Yusran Pare juga masih mempertanyakan faktor dasar teloransi warga Kalsel “apakah ini cermin bahwa masyarakat disini yang kian tinggi pemahaman keberagamannya, akan semakin tinggi pula tingkat penerimaan dan toleransinya, atau karena faktor lain? tanyanya. ara/mb05