Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2010 - 11 (Nopember) Rilis Tidak Dimuat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2010 - 11 (Nopember) Rilis Tidak Dimuat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

Memancing Sebagai Latihan Dalam Bisnis

BANJARMASIN – Jangan menganggap remeh aktivitas memancing. Memancing, tidak sekadar diam menunggu ikan. Bagi sebagian orang yang benar-benar mengerti nilai-nilai dalam memancing, merupakan latihan bagi mereka untuk menjalani dunia bisnis.
Ipi pemilik toko Della Virna Farfume di komplek Pandu Km 3,5 Banjarmasin, menuturkan pengalamannya dalam memancing, dan bagaimana mengaplikasikannya dalam berbisnis.
“Dulu aku memancing hanya sekedar memancing, cuma hobi dan refresing. Boleh dibilang menjadi hobi yang mahal, karena ikan yang di dapat tidak sebanding dengan biaya memancing yang dikeluarkan.
Karena hanya hobi, tiap minggu dimana ada mendengar tempat yang menantang untuk memancing, akan aku datangi biarpun jauh tempatnya. Dari danau bendungan di Riam Kanan, sungai-sungai yang jauh di tengah hutan, sampai kelautan.
Tanpa sadar dari pengalaman memancing, malah banyak aku gunakan dalam menjalankan bisnis farfum. Kemudian aku perdalam lagi seni memancing ini, dari beragam referensi buku yang aku gabungkan dalam pengalamanku memancing.
Karena berbisnis itu sendiri adalah mancing. Seperti menentukan tempat memancing, adalah bagaimana kita melihat pangsa pasar pada suatu tempat. Alat pancing yang digunakan, adalah bagaimana cara kita mempromosikan produk kita” ujarnya.
Menurut ayah dua anak perempuan ini “kemampuan dalam memancing, merupakan latihan dalam persaingan bisnis. Umpan pancing yang digunakan, adalah bagaimana kita menarik minat customer. Resiko saat memancing, yaitu saat kita memperhitungkan resiko bisnis pada suatu tempat.
Dan sabar saat menanti ikan menggigit mata pancing dan terus berusaha mencobanya, tentunya mengasah kita dalam kesabaran berbisnis. Mengikuti gerak ikan yang terpancing agar tidak lepas, merupakan latihan bagaimana kita mengarahkan keinginan costumer” ungkapnya pada Kamis (25/11) malam.
Saat ini Ipi sudah mempunyai beberapa toko farfum di luar daerah, antara lain di Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Rantau. Rata-rata penghasilan bersih satu toko kata Ipi kurang lebih Rp 2 juta perbulan. ara/mb

-----------------

Di masukkan :
-         di kolom Ekonomi & Bisnis, Mata Banua
pada Kamis 25 November 2010 – TIDAK DI MUAT
-         di kolom Mozaik, Mata Banua
pada Jumat 26 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

Dominasi Buah Mangga Luar Daerah

BANJARMASIN – Kebanyakan buah-buahan yang dijual di pinggiran jalan utama di kota Banjarmasin, lebih didominasi oleh oleh buah-buahan dari luar daerah Kalsel. Padahal Kalsel juga mempunyai beragam buah-buahan lokalnya sendiri.
. Menurut pengakuan salah satu pedagang buah mangga, yang mangkal di Jl Brigjen TNI.H.Hasan Basry “susah mas mencari buah mangga kita, apalagi orang Banjar sukanya dengan mangga muda untuk dibuat rujak, belum masak sudah dipetik. Kalau mangga itu di jual masak kan harganya lebih mahal. Untuk buah lokal paling kita menjual durian, karena mudah mendapatkannya.
Buah mangga yang dijual ini, berasal dari Madura, kita mengambinya dari pelabuhan, langsung dari perahu. Satu keranjang mangga Gadur modalnya 65 ribu, sedang manga Golek satu keranjang 50 ribu.
Untuk harga jualnya mangga Gadur dan Golek, 20 ribu dari harga modal. Penjualan per kilonya mangga Gadur 25 ribu per kilo, sedang mangga Golek 15 ribu per kilo.
Besarnya harga perbandingan antara modal dan penjualan, adalah untuk menutupi bila tidak habis, karena mangga yang sudah mulai rusak, terpaksa dijual seperempat dari harga modal.
Biasanya, aku sekali pengambilan (satu kali angkat) diperahu bisa sampai 40 keranjang, dalam lima hari harus habis. Bila tidak habis akan rusak. Untuk satu angkatan tadi keuntungannya bisa sampai 1 juta. Tapi semuanya tergantung cuaca, kalau sering hujan, ya tidak banyak yang beli.
Sayangnya, untuk mangga lokal kita, sedikit sekali ada pedagang pengumpul yang mau mencarinya langsung dari petani. Padahal mangga lokal kita punya rasa sendiri, yang tentunya kalau dijual harganya akan bersaing dengan mangga dari luar daerah” pungkasnya. ara/mb06

-----------------

Di masukkan di kolom Ekonomi & Bisnis, Mata Banua
pada Kamis 19 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT


Nilai Ekonomi Dari Segi Sosial

BANJARMASIN – Nilai ekonomi keuntungan dari suatu usaha, tidak hanya dinilai dari  rupiah. Tetapi juga ada keuntungan lain dari sisi sosial masyarakat.
Subhan Fitriadi SP MP, Dosen Pengajar Kewirausahaan Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani Banjarmasin, pada Sabtu (13/11) siang, memisalkan sebuah keuntungan yang diperoleh dari segi sosial.
Ada seorang pedagang bakso keliling, yang setiap harinya bisa menjual 50 mangkok bakso. Namun pada suatu hari, ia hanya bisa menjual 40 mangkok bakso. Berarti hari itu ia bisa dikatakan rugi 10 mangkok bakso.
Daripada bakso tersebut menjadi rusak pada keesokan harinya, pedagang tersebut memberikan 5 mangkok bakso gratis kepada kenalan-kenalannya para tukang ojek yang sedang menanti penumpang dipangkalan ojek.
Sedangkan 5 mangkok sisanya lagi, diberikan dengan tetangga di sekitar rumahnya. Dari 10 mangkok yang diberikannya dengan gratis dan iklas, si penjual bakso malah mendapat keuntungan yang berkali lipat.
Dalam kebudayaan masyarakat, khususnya orang Banjar, akan membalas apa yang diberikan oleh orang lain kepadanya.
Tukang-tukang ojek, akan membantu dengan suka rela pula, pada saat tukang bakso memerlukan bantuan, yang bila dinilai dengan rupiah, bisa saja bantuan itu lebih besar dari harga 1 mangkok bakso.
Begitupun dengan tetangga yang ada disekitar rumah. Mangkok yang dikembalikan, tidak akan kembali kosong, tetapi berisi dengan makanan lain. Entah itu nasi sop, nasi goreng ataupun makanan lain.
Inilah nilai ekonomi berdasar keuntungan sosial yang diperoleh diluar dari rupiah” ujarnya. ara/mb06

-----------------

Di masukkan di kolom Ekonomi & Bisnis, Mata Banua
pada Kamis 18 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

Klotok Masih Di Minati

BANJARMASIN – Daerah Banjarmasin yang mempunyai banyak sungai, hingga kepelosok daerah. Tentunya bagi penduduk bantaran sungai, transportasi air merupakan bagian kehidupan yang tak terpisahkan.
Walaupun transportasi darat dengan menggunakan motor atau angkutan mobil lainnya lebih mendominasi, namun bagi sebagian masyarakat bantaran sungai, lebih suka tetap menggunakan angkutan sungai. 
Acil Imah pedagang barang kebutuhan rumah tangga yang punya toko kecil di depan rumahnya di Kelayan B Dalam, pada Jumat (12/11) pagi, berkata “mun naik taksi kuning kapasar lima nukar barang, takananya macit. Nyaman naik klotok, lawan ongkosnya tamurah (kalau beli barang pakai taxi angkutan dalam kota pergi ke pasar lima, sering macet di jalan. Lebih baik memakai kapal klotok, dan biayanya lebih murah)”
Bukan cuma ibu-ibu pedagang yang lebih suka menggunakan transportasi air, siswa-siswi juga tampak terlihat masih banyak menggunakan klotok untuk pulang pergi ke sekolah.
Pemandangan ini bisa dilihat di sungai Martapura depan kantor Pemprov Kalsel atau Masjid Raya Sabilal Muhtadin, pada pagi dan siang seusai jam sekolah.
Menurut Utuh Duan pemilik klotok penyeberangan “Mun kulihan tu, cukupanlah gasan dirumah. Tapi kada sa rami bahari, sualnya wahini banyak sudah urang nang baisi kandaraan saurangan, wan banyak taksi kuning. Gasan urang nang tinggal dipinggir sungai, nyata katuju naik klotok. Bila sampai tinggal bacapil karumah ja lagi” ujarnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Jumat 12 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

Pembuatan Film Perjuangan Kalsel, Selalu Hanya Menjadi Wacana

BANJARMASIN – Sejauh mana generasi mudanya mengenal pahlawan daerahnya, dan mempelajari sejarah perjuangannya. Selama ini cerita pahlawan daerah, hanya tertulis dalam buku-buku sejarah.
Akan berbeda halnya bila sejarah itu, telah dijadikan sebuah film dokumenter perjuangan pahlawan daerah. Pemahaman dan minat keinginan tahuan generasi muda, pada perjuangan pahlawan akan lebih terbangkitkan.
Pada Selasa (10/11) sore, Dramawan Kalsel Yadi Muryadi, yang sering memerankan tokoh pejuang dalam pentas teater, berkata “sampai saat ini yang sering mengangkat sejarah perjuangan pahlawan daerah, hanya dari orang-orang teater. Film perjuangan Kalsel akan sangat membantu dalam pendidikan sejarah perjuangan daerah.
Bagai mana dengan pemerintah, sampai sekarang hanya wacana dan wacana. Setiap gubernur yang memimpin Kalsel, selalu saja mewacanakan untuk membuat dokumentasi film perjuangan daerah. Baik itu perang Banjar maupun perjuangan Hasan Basri, tapi itu cuma tinggal wacana. Sampai sekarang tidak ada realisasinya” ujarnya.
Sementara menurut Alfonso, aktivis budaya “disini banyak pengusaha-pengusaha tambang yang kaya, mereka keruk hasil bumi Antasari, mereka injak tanah yang diperjuangkan dengan darah para pejuang. Tapi mereka enggan menyisihkan sedikit saja dari kekayaan yang diperoleh tersebut, untuk kemajuan pendidikan.
Membuat film tentang sejarah perjuangan daerah, adalah termasuk dalam pendidikan tersebut. Film yang tidak cuma diputar di gedung-gedung biokop, atau setiap peringatan hari pahlawan. Tapi juga di putar di sekolah-sekolah, sehingga generasi kita akan menjadi lebih mengenal akan pahlawan daerah sendiri.
Saat ini, kita hanya menonton film-film perjungan dari daerah lain di luar Kalsel, tidak ada satupun film perjuangan yang berasal dari daerah kita. Rasanya hati ini sedih sekali.
Daerah Kalsel yang kaya dengan hasil tambangya, tapi tidak mampu membiayai untuk membuat film perjuangan pahlawan daerah, apalagi membiayai pendidikan yang gratis dengan fasilitas yang lengkap” pungkasnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Kamis 11 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT


Sastrawan Kalsel Era Tahun 80-An

BANJARMASIN – Seringkali pihak luarlah yang melakukan penelitian terhadap perkembangan sastra Kalsel. Sedang dari dinas maupun instansi terkait, kalaupun ada hampir-hampir tidak diketahui masyarakat luas.
Kembali menyusuri jejak sejarah pelaku dan pejuang sastra, Mata Banua meminta Micky Hidayat pada Rabu (10/11) siang, untuk menceritakan apa yang diketahuinya.
Menurut Micky, pada dekade 1980-an berdasarkan hasil penelitian tak resmi penyair Jogja Bambang Widiatmoko, Kalsel diklaim menduduki peringkat kedua, dalam kategori populasi penyair terbanyak di Indonesia setelah Jogjakarta. Event-event sastra seperti forum diskusi, atau temu sastrawan juga marak diselenggarakan di berbagai kota dan kabupaten di wilayah Kalsel.
Forum sastra paling monumental di era 1980-an, adalah Forum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan 1982, yang digagas oleh Himpunan Penyair  Muda Banjarmasin  (HPMB). 
Sastrawan atau penyair  yang menonjol,  dengan  wawasan estetik puisi dan menemukan gaya pengucapan atau bahasanya sendiri, serta beberapa di antaranya memiliki reputasi kepenyairan nasional pada dekade ini, antara lain  Ajamuddin Tifani, Ahmad Fahrawi, Burhanuddin Soebely, Tarman Effendi Tarsyad  (walaupun  awal  ke-munculan keempat sastrawan ini pada dekade 1970-an, tapi oleh Abdul Hadi WM di Forum Puisi Indonesia ’87 di TIM dikategorikan sebagai generasi penyair 80-an).
Selanjutnya penyair lain yang dikategorikan penyair tahun 80-an, yaitu “Agus Suseno, M Rifani Djamhari, Noor Aini Cahya Khairani, Ali Syamsuddin Arsi, Ariffin Noor Hasby, Sandi Firly, Fahruraji Asmuni, Eddy Wahyuddin SP, Muhammad Radi, Zain Noktah, Kony Fahran (kini bermukim di Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim).
Kemudian, Jamal T Suryanata,  Eko Suryadi WS,  Abdul Karim, Tajuddin Noor Ganie, Radius Ardanias, Maman. S Tawie, Iwan Yusi, Micky Hidayat, Akhmad setia Budhi, Aria Patrajaya, Sri Supeni, Mas Alkalani Muchtar, dan lain-lain.
“Iklim bersastra yang terbilang kondusif dan bergairah pada dekade 80-an dan 90-an tersebut, boleh dikata merupakan era kebangkitan sastra Kalsel, dengan ledakan-ledakan kreativitas, yang telah berimplikasi melahirkan sejumlah sastrawan, dengan kapasitas intelektual dan  kegigihan  idealisme, yang  cukup  penting  diperhitungkan pada khasanah sastra Indonesia” ujar Micky. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Rabu 10 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

HTI Salahkan Media Massa Dukung Obama

BANJARMASIN – Pada dialog Forum Intelektual Muslim yang diselenggarakan DPD 1 Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kalsel, terlontar pernyataan dari moderator acara yang menyalahka media massa. Bahwa media massa tidak berimbang dalam pemberitaan, atas aksi-aksi HTI menolak kedatangan  Obama.
Mengkritisi Komprehensip Indonesia AS, menjadi tema yang dipaparkan dalam dialog pada Sabtu (06/11) tadi. Acara bertempat di aula gedung Pasadena, komplek Kejaksaan Kayu Tangi II jalur 2, dimulai dari pukul 14.00 sd 17.00 Wita. Dihadiri oleh perwakilan berbagai organisasi mahasiswa dan masyarakat.
Nara sumber dialog pertama dari pengamat hukum, Deden Koswara SH MH, yang juga menjadi dosen Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), dan sebagai anggota DPD 1 HTI Kalsel.
Deden Koswara menyimpulkan alasan menolak kedatangan Obama, yaitu bukan sebuah kemitraan, tetapi tekanan agar Indonesia mengakomodasi kepentingan AS. Kemudian, kemitraan komprehensif adalah stategi baru AS, untuk menjadikan Indonesia sebagai bidak. Menurutnya Deden, kemitraan komprehensif adalah politik penjajahan.
Nara sumber kedua dari pengamat ekonomi nasional, Hidayatullah Muttaqin SE MSi, yang juga menjadi Ketua Lajnah Siyasiyah (Departemen Politik) DPD 1 HTI Kalsel, dan sebagai dosen Fakultas Ekonomi Unlam.
Acara tersebut dimoderatori oleh Akhid Yulianto MSc, yang juga menjadi dosen Fakultas Ekonomi Unlam. “Sudah menjadi kebiasaan dari HTI, apabila menyelenggarakan Diskusi, Dialog maupun Seminar, maka selalu menggunakan nara sumber dari kalangannya sendiri” ungkap salah satu peserta yang hadir kepada Mata Banua.
Beberapa saat sebelum dialog berakhir, moderator mengeluarkan pernyataan “opini HTI yang kuat di media massa, pada acara-acara besar HTI tidak masuk (dimuat), kalaupun masuk hanya di Runing Back.
Jelas sekali kelihatan, media massa mendukung kedatangan Obama. Biasanya pro dan kontra masih disampaikan, tapi sekarang kelihatan sekali yang kontra tidak ditampilkan. Mungkin karena ada sesuatu dibalik itu, ini merupakan persoalan berikutnya.
Bisa saja sesuatu itu, berdasarkan data yang dipunyai HTI, karena Amerika banyak memberi beasiswa kepada beberapa wartawan, ini merupakan persoalan juga bagi HTI.
Mudah-mudahan ada wartawan yang jujur dan berimbang. Tak perlu mengagungkan Islam, yang penting kalau ada Islam yang demo dan menolak, disampaikan segera” ucap Akhid Yulianto.
Seusai Akhid berkata, secara sepontan salah satu wartawan yang berhadir meliput kegiatan, mengangkat tangan untuk meminta klarifikasi terhadap pernyataan tersebut, namun tidak diberi kesempatan oleh moderator, dengan alasan waktu telah habis. Karena merasa protes tidak di tanggapi, wartawan meninggalkan ruangan dialog sebelum acara selesai.
Selepas magrib, salah satu anggota HTI menghubungi wartawan tadi, yang isinya meminta ma’af karena tidak menyediakan waktu untuk wartawan berbicara, saat acara masih berlangsung. Dalam pembicaraan via telepon, wartawan berusaha mengejar klarifikasi atas pernyataan yang sudah dikeluarkan, tapi nada bicara penelepon tetap tidak menarik ucapan yang telah dilontarkan untuk media massa dan wartawan. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Minggu 07 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

PLN Ganti Kabel Yang Hangus

BANJARMSIN – Sebagian wilayah Kayu Tangi pada Kamis (04/11) mengalami pemadaman listrik, dari pagi hingga sore. Hal ini dikarenakan salah satu kabel besar di jalan S.Parman Banjarmasin, mengalami penggantian oleh PLN.
Mengenai penyebab pemadaman ini, Suhadi wakil ketua teknisi lapangan PLN cabang Banjarmasin, yang tengah mengawasi proses penggantian kabel, menjelaskan “ini ada kabel yang diganti, karena hangus.
Kejadiannya dari Rabu kemaren, ada pelindung luar kabel besar yang terbuat dari karet, yang terbakar. Penyebab hangusnya dikarenakan ada baut pengait kabel yang kendor, yang lama-lama menjadi panas.
Pelindung luar kabel besar yang hangus memang cuma kurang lebih 10 centimeter, tapi tidak bisa kita diamkan saja. Karena bisa menjadi lebih berbahaya,” katanya.
Sambil mengangkut kabel yang telah diganti kedalam mobil, Suhadi meneruskan “pekerjaan penggantian kabel besar ini sangat sulit dan berat, kita sudah mengerjakannya dari pagi tadi.
Sedikit saja ada kabel yang rusak, maka harus diganti sepanjang sekian meter. Panjang kabel yang saat ini diganti ada 8 gawang (jarak antara tiang), satu gawang ada 8 meter kabel. Jadi panjang kabel yang diganti seluruhnya ada 64 meter.
Sekaran kabel sudah diganti dan baut pengaitnya sudah kita press, maka salah satu jalur listrik yang arah ke Kayu Tangi sore ini sudah bisa dinyalakan lagi” pungkasnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Jumat 05 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT