Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 09 (September) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 09 (September) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

290911-kamis(jumat)-teater anak (Dm.011011 di Berita kaki hal.1)

Photo: mb/ara
MENARIK - Teater anak sangat jarang ditampilkan di Banjarmasin, padahal dengan kepolosan dan keluguannya di atas panggung, menjadi menarik untuk disaksikan

Mencari Generasi Dalam Teater Anak
Catatan Yang Terlewat Dalam Beberapa Pagelaran Teater

Berapa sekolah dasar yang ada di kota Banjarmasin? Adakah di sana generasi cilik teater? Bisakah di sana di tanam bibit teater anak? Ini semua hanya sebagian pertanyaan, dari banyak tanda tanya lain untuk generasi teater anak.

SATU bulan lagi Taman Budaya (TB) Kalsel, akan menyelenggarakan Lomba Teaterikal Puisi, pendaftaran sudah di mulai semenjak beberapa hari yang lalu, dan pendaftaran di tutup pada 21 Oktober 2011. Lombanya sendiri di laksanakan pada 29 Oktober 2011.
            Dalam satu tahun sekitar 99,9 persen dominasi pagelaran teater di kota Banjarmasin umumnya, dan Taman Budaya (TB) Kalsel khusunya, adalah dari kalangan dewasa dan remaja. Entah dalam bentuk lomba, festival ataupun pagelaran biasa. Sedangkan untuk pagelaran teater anak hanya 0,1 persen, atau tidak ada sama sekali.
            Sebagai bahan evaluasi pementasan teater di 2011 ini, seperti pementasan teater yang pernah di laksanakan, dalam beberapa bulan terakhir TB Kalsel. Masih segar di ingatan, pada 25 sd 26 Juni 2011 ada Parade Teater yang dilaksanakan oleh oleh Bina Anak Nusantara (bana). Kelompok teater yang berpartisifasi dalam parade ini antara lain, sangar Halilintar, sanggar Taqdif, Sanggar Tititan Berantai, sanggar TGA, sangar Wasi Putih, Teater Banyu, Sanggar Telinga, Sanggar Sampan, Annahal Oeganizer, Espass Teater, Teater WOW dan Sanggar Budaya. Yang kesemuanya adalah penampilan teater remaja atau dewasa.
            Pada 7 sd 16 Juli 2011 ada Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai (PKBSS). Beragam pagelaran seni budaya di suguhkan. Tidak ketinggalan pementasan teater, antara lain, penampilan teater dewasa, seperti teater monolog, lalu Sanggar Budaya yang akan menampilkan Perang Banjar, tetapi batal dilaksanakan dan diganti naskahnya dengan Lawan Catur. Kemudian, Halilintar Perang Banjar dari Dapur Teater Sendra Tasik Unlam, dan Galuh dari La Bastari Kandangan.
Untuk penampilan teater remaja dimainkan oleh Pawaris Karantika Junior dengan judul naskan Engken Barajut. Juga ada beberapa penampilan teater tradisi, seperti Topeng Carita dan Mamanda.
Masih dalam agenda PKBSS, satu-satunya penampilan teater anak,pada Rabu 13 Juli 2011, kembali dimainkan oleh Pawaris Karantika Junior. Walaupun cerita yang disuguhkan sangat sederhana, hanya menceritakan bagaimana keceriaan anak-anak saat bermain, tapi penampilan teater anak yang langka ini, telah menyita perhatian semua penonton yang hadir.
Seusai Gelar Seni Budaya PKBSS, masih ada lagi pementasan teater dari Sanggar Anam Banua, dengan judul naskah Pakaian dan Kepalsuan, dimainkan pada 27 Juli 2011.
           
Perubahan Suasana Dalam Teater Anak
            Dhani salah satu penonton yang telah menyaksikan beberapa penampilan teater dalam PKBSS berkomentar.
“Setelah melihat beberapa penampilan teater yang beraliran realis, dengan kesan alur yang monoton dan mudah di tebak jalan ceritanya, aku rasa hanya pada penampilan Teater Anak ada perubahan suasana.
            Naskah yang mereka mainkan (dalam teater dewasa dan remaja) juga sudah sering dipentaskan, sehingga penonton sudah tahu bagaimana jalannya cerita. Kontekstual pembawaan naskah, tanpa ada penafsiran atau perubahan, membuat jalan cerita semakin biasa-biasa saja, apalagi minimalis efek suara ataupun cahaya.
            Kesan yang di dapat setelah menyaksikan penampilan seperti itu, adalah terhentinya sebuah kreatifitas dalam berkreasi. Hal ini yang menyebabkan penonton menjadi sepi. Lebih jauh bukan berarti tidak ada penyebab, kalau sebuah penampilan itu berkualitas yang dalam artian mempunyai suasana yang baru, tentunya akan menarik untuk dilihat.
Setiap sanggar harus mengkoreksi pementasannya, jangan hanya asal tampil, apalagi dengan menggunakan naskah yang sudah sering dimainkan, kalau sudah begini jangan salahkan penonton yang sedikit
            Pada penampilan teater anak, yang memang sangat jarang ditampilkan, kepolosan dan keluguan yang dibawakan, dengan cerita yang sederhana, menjadi menarik untuk disaksikan” ujar alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ini.
            Sementara itu, menurut Drs H Noor Hidayat Sultan, Kepala TB Kalsel, dengan adanya penampilan teater anak ini, memberikan suatu harapan baru bagi perkembangan seni teater kita, akan adanya generasi penerus dalam dunia seni di Banjarmasin, dan Kalsel umumnya. ara/mb02

290911-kamis(jumat)-dewan sastra ASK

Photo: Ali Syamsudin Arsi

Pembentukan Dewan Sastra Untuk Aruh Sastra Kalsel

BANJARMASIN – Ketika beragam persoalan dalam Aruh Sastra Kalsel (ASK) tidak terselesaikan, dan semakin bertumpuk, apakah itu permasalahan dalam lomba, dalam agenda kegiatan, maupun permasalahan dana. Muncul pemikiran baru dari beberapa sastrawan,  untuk membentuk Dewan Sastra.
            Lalu bagaimana dengan kasus plagiat yang sudah terjadi?  Menurut Sainul Hermawan “secepatnya persoalan ini harus diambil tindakan. Baik itu juri Lomba Cipta Puisi, maupun dari panitia pelaksana, segera mengambil keputusan.
            Bila plagiat itu terbukti, si pelaku di kenakan hukuman. Misalnya tidak boleh mengikuti lomba dalam ASK selama beberapa waktu, atau penarikan hadiah yang telah di berikan dll.
Kalau ini dibiarkan dan didiamkan begitu saja, akan banyak plagiator-plagiator baru bermunculan. Dan mereka menganggap plagiasi boleh-boleh saja, karena pada kenyataannya, plagiasi yang sudah terjadi dibiarkan begitu saja” kata kritikus sastra Kalsel yang juga staf pengajar FKIP Universitas Lambung Mangkurat ini, pada Rabu (21/9) siang.
Di lain pihak, Ali Syamsudin Arsi yang biasa dipanggil Asa, menanggapi “kasus plagiasi Erika Andriani, kini terbukti melakukan plagiat pada Lomba Cipta Puisi (LCP) ASK VI 2009, di kabupaten Barito Kuala, maka juri serta panitia ASK VI lah yang lebih tepat mengambil tindakan.
Kalaupun ada tindakan yang diambil, atau disikapi di luar dari juri dan kepanitiaan ASK VI, tindakan itu hanya bisa di ketok palu atau diputuskan dalam sidang pleno ASK pula, karena permasalahannya terjadi dalam ruang lingkup ASK. Tetapi sidang pleno ASK harus menunggu tahun berikutnya.
Untuk menyikapi permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam ASK, maka saat sidang pleno di ASK VIII, telah disepakati untuk membentuk Dewan Sastra, dan aku di tunjuk sebagai ketua untuk penyusunan struktur Dewannya
Sedangkan untuk LCP ASK VIII di Barabai, aku dan dua orang juri lainnya, masih belum menemukan bukti terjadinya plagiat. Aku sendiri mengharapkan kepada masyarakat sastra, bila puisi-puisi yang telah kami putuskan sebagai pemenang ataupun nominasi, ternyata hasil dari plagiat, segera mengabarkan kepada kami, atau media massa. Agar secepatnya bisa diproses” ujarnya pada Senin (26/9) siang. ara/mb05

280911-rabu(kamis)-lomba kaligrafi TB (di muat sepertiga)

Menjaring Bakat Pelukis Kaligrafi

BANJARMASIN – Bersamaan dengan masuknya Islam di tanah Lambung Mangkurat, kaligrafi mulai di kenal masyarakat Banjar. Pada masa itu, tulisan kaligrafi hanya terdapat pada kitab Al-Qur’an, kemudian menjadi hiasan berbagai mihrab masjid.
Tidak di ketahui secara pasti, kapan dimulainya perkembangan kaligrafi di Kalsel menjadi seni lukis diatas kanvas. Yang pasti dengan adanya lomba lukis kaligrafi, nafas religius masih berhembus dalam bakat-bakat pelukis kaligrafi, baik dipandang dari sudut seni maupun nilai-nilai agama Islam.
“Memelihara kebudayaan seni lukis Al-Qur`an itulah yang menjadi motivasi Taman Budaya (TB) Provensi Kalsel, mengelar lomba lukis Kaligrafi se Kalsel, pada Rabu (28/9) dari pagi hingga sore harinya, dengan tema “Seni Lukis Kaligrafi Al-Qur`An Sebagai Syiar Dan Kekayaan Pariwisata Seni Dan Budaya Islam Kalimantan Selatan” ungkap Kepala Taman Budaya (TB) Kalsel, Drs H Noor Hidayat Sultan.
Menurut Fahrurazi, Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi TB Kalsel, ada tiga juri yang menilai karya peserta lomba, yaitu Norman S, H Rizalinnor dan Zazuli SAg.
Peserta yang terdaftar ada 93 orang, dari tingkat SMP dan SMA/sederajat, serta dari Pondok Pesantren, Mahasiswa dan Umum, dengan batas usia maksimal 40 tahun. Di banding dengan lomba lukis kaligrafi tahun sebelumnya yang hanya 30 orang, tahun ini (2011) ada peningkatan jumlah peserta.
Hasil akhir dari penilaian yaitu Suci Melati (juara I), M Hasanuddin (juara II), dan M Ihsan (juara III). Sedangkan yang masuk dalam nominasi, yaitu Indah Kasuma W (nominasi I), Hairil Anwar (nominasi II), MN Thamrin (nominasi III), Wardi (nominasi IV) dan HA Aziz Ramadhan (nominasi V).
             Menyangkut penilaian, H Rizalinnor menjelaskan “inti penilaian adalah orisinalitas, biasanya ada karya yang sudah populer, atau sudah banyak didokumentasikan seperti di kalender, kalau sama atau mendekati, maka orisinalitasnya sudah turun.
Penilaian selanjutnya terletak pada kaidah penulisan, walaupun dalam lomba ini  khatnya tidak harus khat murni, tetapi kaidahnya tidak salah. Misalnya, mencampur huruf khat diwani di campur dengan khat lain, ini tidak diperkenankan. Atau ada bentuk huruf yang tidak sesuai, seperti menulis huruf dal tetapi mirip huruf ra.
Lalu penilaian estitika atau keindahan, penilaian artistik atau nilai seni, dan penilaian penguasaan teknik atau keterampilannya.
Melalui lomba lukis kaligrafi, tujuan kami yang utama di TB Kalsel untuk mendata dan menjaring bakat-bakat pelukis kaligrafi, sehingga kalau diadakan pameran lukis kaligrafi, tidak sulit lagi mencari pelukisnya” pungkas Rizal. ara/mb05

280911-rabu(kamis)-jejak sastra islam di kalsel.1 (Dm.300911)

Penulisan Karya Sastra Islam Pertama Di Kalsel

BANJARMASIN – Beberapa sumber menyebutkan, semenjak Islam masuk di Kalsel, budaya tulis menulis mulai di kenal luas dalam masyarakat pada masa itu.
Ada dua tulisan yang digunakan, pertama tulisan dalam bahasa Arab, atau yang di sebut masyarakat dengan Arab Gundul. Tulisan ini hanya terbatas pada ulama dan santri yang bisa memahaminya. Arab Gundul dipergunakan dalam penulisan kitab-kitab ilmu agama Islam, yang kebanyakan dikarang oleh ulama dari Timur Tengah.
Disebut Arab Gundul karena tidak mempunyai baris, sehingga untuk bisa membacanya, diperlukan ilmu grammar bahasa Arab, seperti ilmu shorof dan ilmu nahwu.
Ilmu shorof adalah ilmu yang mempelajari kaidah pembentukan dan perubahan kata, sebelum kata tersebut masuk ke dalam kalimat, dan pembentukan dan perubahan kata, serta umumnya di awal dan tengah kata. Sedangkan ilmu nahwu, mempelajari kata setelah kata tersebut masuk ke dalam kalimat, dan hukum akhir kata.
Kedua, tulisan yang disebut dengan Arab Melayu, yaitu menggunakan huruf arab, tetapi dalam ejaan bahasa melayu. Tulisan Arab Melayu inilah yang lebih luas di kenal masyarakat, hingga lapisan yang paling terendah.
Walaupun telah ada budaya tulis menulis, tetapi untuk melacak jejak penulisan sastra Kalsel tidaklah mudah, karena menurut Sainul Hermawan, selaku kritikus sastra Kalsel,  bahwa yang lebih dominan di tanah Banjar ini adalah budaya sastra lisan, katanya pada Rabu (21/9) siang.
Dilain pihak, Tajuddin Noor Ganie MPd menceritakan penelitian yang dilakukannya, untuk mencari penulisan karya sastra Islam yang pertama.
“Sebelum tahun 1526, agama Islam sudah dipeluk oleh sebagian kecil warga Kerajaan Negara Daha yang berideologi Hindu. Pada masa ini, Islam hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain seperti Hindu, Budha, dan Kaharingan.
Pasca runtuhnya Kerajaan Negara Daha, pada 24 September 1526, Sultan Suriansyah memproklamirkan berdirinya Kerajaan Banjar, yang berideologi Islam. Maka, proses Islamisasi di wilayah Selatan pulau Kalimantan, oleh para da’i menjadi semakin leluasa, disertai dengan
Semenjak itu, nilai-nilai spritualitas Islam langsung menjadi sumber inspirasi utama, dalam proses kreatif penulisan karya sastra oleh para sastrawan. Yang kemudian disebut-sebut sebagai genre/jenis sastra Islam.
Rekam jejak sastra Islam pada masa-masa Kerajaan Banjar dimulai dengan beredarnya Syair Saraba Ampat, karangan Datu Sanggul, yang hidup pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1745-1778)” ulas Tajuddin.
Sebagian bait dari Syair Saraba Ampat, yaitu Allah jadikan saraba ampat/ Syariat tharikat hakikat marifat/ Menjadi satu di dalam khalwat/ Rasa nyaman tiada tersurat// Huruf ALLAH ampat banyaknya/ Alif i’tibar daripada Zat-Nya/ Lam awal dan akhirat sifat dari Asma-Nya/ Ha isyarat dari Af’al-Nya// dan seterusnya. ara/mb05

270911-selasa(rabu)-bjb siap ASK, bagaimana Bjm (Dm.041011)

Banjarbaru Telah Siap Bagaimana Dengan Banjarmasin

BANJARMASIN – Persiapan sebuah kegiatan, memang mesti dirancang jauh-jauh hari sebelum waktu pelaksanaan. Sehingga semua persoalan yang akan terjadi, dapat diantisipasi sedini mungkin.
Begitu pula dengan mempersiapkan kepanitiaan sejak dini, akan terlihat siapa-siapa yang memang bekerja sungguh-sungguh, dan siapa yang hanya datang pada waktu pelaksanaan.
Sejauh mana persiapan Aruh Sastra Kalsel (ASK) IX 2012 di Banjarmasin, masih belum menjadi kalimat. Pemerhati Seni Budaya Daerah, Mukhlis Maman berkomentar “ini hanya masukan bagi panitia yang akan melaksanakan ASK IX. Kita berharap pelaksanaan tahun depan mengutamakan kebersamaan, dengan rapi, tuma’ninah, dan tertib, itu lebih baik.
Panitia harus lebih jeli, dalam melihat kelemahan pelaksanaan. Kita berkesenian untuk mengangkat derajat, kalau tidak ada gunanya, untuk apa melaksanakannya.
Mudah-mudahan pelaksanaan di Banjarmasin, dapat menjadi barometer. Artinya bagaimana seharusnya pelaksanaan di kotamadya, sehingga menjadi tolak dalam pelaksanaan ASK selanjutnya” katanya pada Selasa (20/9) siang di Taman Budaya Kalsel.
Kritikus sastra Kalsel yang juga staf pengajar FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Sainul Hermawan dengan tegas menyarankan “kita sudah melihat bagaimana pelaksanaan ASK sebelumnya, hanya bekerja dalam ruang lingkup yang terbatas, yaitu hanya antara sastrawan dan Dinas Pariwisata.
Bila ingin menjadi lebih baik, mau tidak mau harus bekerjasama dengan beragam instansi terkait” ujarnya pada Rabu (21/9) siang.
Saran dari Sainul disambut baik oleh sastrawan Kalsel yang tinggal di Banjarbaru, Ali Syamsudin Arsi yang biasa dipanggil Asa.
Melalui SMS, Asa mengabarkan kepada Mata Banua, kalau ia akan ke Banjarmasin, karena ada suatu keperluan. Dalam pertemuan singkat pada Senin (26/9) siang  tersebut, Asa mengatakan “perhelatan ASK X di Banjarbaru, memang masih dua tahun lagi, setelah pelaksanaan di Banjarmasin sebagai tuan rumah.
Banyak yang mengatakan, mengapa harus buru-buru membicarakan dan mempersiapkan ASK X, lihat dulu bagaimana ASK IX, baru merencanakan pelaksanaan selanjutnya.
Menurutku tidak ada salahnya merancang lebih dulu, karena bila dalam perjalanannya ada perubahan rencana, tidak akan sulit lagi mengubahnya, dari pada di rancang tahun itu juga, tentu lebih repot.
Katakanlah terjadi masalah lagi dalam pelaksanaan ASK IX, itu akan jadi masukan berharga bagi ASK X. Sastrawan Banjarbaru tidak akan melaksanakan ASK sendiri, tapi bekerja sama dengan banyak pihak terkait.
Sudah tentu pembicaraan kerjasama ini, tidak bisa langsung begitu saja, dan tidak bisa dalam waktu singkat. Perlu proses panjang, perlu perencanaan yang matang, dan perlu pembicaraan berulang-ulang, sehingga tercapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak.
Terutama penyesuaian program dan agenda dengan instansi masing-masing, apalagi meyangkut masalah dana, anggarannya sudah mesti dipersiapkan satu tahun sebelum pelaksanaan.
Seperti agenda safari sastrawan ke sekolah-sekolah, bisa bekerja sama dengan Dinas Pendidikan. Agenda seminar sastra, bisa bekerjasama dengan Balai Bahasa. Agenda pembuatan buku, dapat ditangani oleh perpustakaan banjarbaru. Dan masih banyak lagi pihak lain yang dapat terlibat.
Apa yang kukatakan ini, sudah dibicarakan dengan masing-masing instansi, hanya tinggal memantapkannya saja lagi” ungkapnya sambil memperlihatkan rancangan program ASK X. ara/mb05

260911-senin(selasa)-plagiat adalah pencuri

Plagiat Adalah Pencurian

BANJARMASIN - Plagiasi adalah perbuatan terkutuk, karena seorang plagiator menganggap dan mengakui karya orang lain, menjadi karyanya sendiri, ini adalah pencurian” ungkap Sainul Hermawan, menanggapi kasus plagiat yang terjadi dalam Lomba Cipta Puisi Aruh Sastra Kalsel.
Dalam perbincangan Mata Banua pada Rabu (21/9) siang, dengan kritikus sastra Kalsel yang juga staf pengajar FKIP Universitas Lambung Mangkurat ini, kemudian mengatakan” pada kasus seni cecara umum, batas antara plagiasi dan tidak, itu tipis sekali.
Seni itu memungkinakan orang untuk melakukan plagiat, tetapi disitu tetap diperlukan kejujuran, yaitu menyebutkan sumber. Pada dunia sastra, misalnya kita mengambil kalimat orang lain, walau hanya satu kata atau satu baris, tetapi ada tanda petik yang menjelaskan bahwa ini diambil atau terinspirasi dari kata-kata orang tersebut.
Plagiat dalam pengertian seni secara umum, memang samar. Sehingga rambu-rambu yang dapat menghindari terjadinya plagiat, pada sebuah lomba, yaitu terletak dari peraturan lomba itu sendiri, dan ketelitian juri dalam menyeleksi karya yang masuk” ujarnya.
            Senada, Mukhlis Maman turut menegaskan “kita harus berlaku jujur, bahwa ini karyaku, dan ini karya orang lain, karya itu adalah kejujuran. Kalau karya itu menjiplak maka harus dikatakan ini karya orang lain. Kejujuran hendaknya dari pengkaryanya, kata kuncinya karya itu adalah kejujuran”.
            Selanjutnya Sainul mengomentari peraturan Lomba menulis cerita rakyat kabupaten HST se Kalsel, dalam Aruh Sastra Kalsel VIII di Barabai yang lalu.
“Catatan lain mengenai integritas penjurian lomba menulis cerita rakyat. Katanya cerita yang dipilih adalah cerita yang belum pernah ditulis atau diceritakan sebelumnya, baik di media atau di buku.
Jika bunyinya pernyataan memang demikian, syarat ini ambigu, karena yang namanya cerita rakyat, pasti pernah diceritakan sebelumnya, meski tidak dengan cara ditulis.
Seharusnya juri cukup mempersyaratkan orisinalitas dan keunikan karya. Bisa saja ada peserta menulis versi baru, dari cerita rakyat yang sudah ada. Maka orisinalitas bisa berdasar pada kebaruan interpretasi dan penyajian. Ini juga harus menjadi pertimbangan dalam menetapkan peraturan lomba berikutnya” pugkas Sainul. ara/mb05



260911-senin(selasa)-juri harus bisa digugat (Dm.280911)

Photo: Sainul Hermawan

Sudah Saatnya Juri Bisa Di Gugat

BANJARMASIN – Banyaknya masalah yang terjadi dalam kasus-kasus penjurian, hanya berakhir pada kalimat, Keputusan Juri Tidak Bisa Di Ganggu Gugat. Kedepannya, keputusan dewan juri dalam lomba apapun, baik dalam rangka Aruh Sastra ataupun lomba yang lain, dalam konteks penjiplakan boleh diganggu gugat” ungkap Sainul Hermawan, dengan Mata Banua pada Rabu (21/9) siang.
“Khusus untuk karya sastra, jika dikemudian hari, diketemukan bukti-bukti yang yang meyakinkan, bahwa karya yang pernah dimenangkan dalam sebuah lomba, terbukti menjiplak karya orang lain, bisa digugat oleh pihak terkait ataupun masyarakat, entah ditarik status hadiahnya, atau di beri hukuman tidak boleh mengikuti lomba, selama beberapa periode waktu tertentu.
Dewan juri untuk kasus penjipkan, sudah saatnya berhati-hati. Dan sudah saatnya melembagakan dewan juri, sehingga kreteria dewan juri yang diperlukan, memang memiliki pengetahuan fakta yang luas terhadap materi lomba” katanya.
Menurut kritikus sastra Kalsel yang juga staf pengajar FKIP Universitas Lambung Mangkurat ini “khusus penjurian lomba cipta puisi, juri harus mempunyai referensi yang banyak tentang puisi. Setidaknya mengikuti terus perkembangan puisi.
Edialnya juri itu memiliki perhatian dan pengetahuan yang luas, tentang fakta-fakta perpuisian, baik di level lokal dan nasioanal, kalau bisa juga internasional.
Dalam penilaian, setelah juri menentukan puisi-puisi peserta yang dinominasikan, tahap selanjutnya dilakukan pengujian secara langsung. Peserta yang di nominasikan, di tes dan diminta mempertangung jawabkan puisinya di hadapan juri.
Selain itu, lomba juga diorientasikan untuk regenerasi. Jangan sampai sang juara, hanyalah sosok gaib yang hanya menulis dalam rangka lomba, dengan menghalalkan segala cara demi hadiah yang lumayan.
Kemudian peserta yang sudah memenangkan lomba beberapa kali, untuk sementara tidak bisa mengikuti lomba berikutnya. Atau ada kreteria, antara sastrawan/penyair senior dan penyair yunior. Ini funginya untuk memberi kesempatan kepada penyair pemula” pungkasnya. ara/mb05

250911-minggu(senin)-seminar konstintusi Unlam

Photo: mb/ara
SENGKETA - Seninar nasional konstitusi dalam menyelesaikan sengketa pemilukada, yang dilaksanakan oleh Pusat Kajian Konstitusi Fakultas Hukum Unlam

Fenomena Sengketa Pemilukada

BANJARMASIN - Sebagian besar penyelenggara pemilukada hampir tidak pernah sunyi dari persengketaan, bahkan di beberapa daerah tertentu, persengketaan tersebut menimbulkan konflik horizontal antar pendukung pasangan calon.
            Melihat permasalahan diatas, serta untuk pengembangan pencermatan hukum, terhadap dinamika hukum dan demokrasi, maka Pusat Kajian Konstitusi Fakultas Hukum (PKKFH) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), mengadakan seninar nasional konstitusi, yang bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia.
            Seminar dilaksanakan di Aula Rektorat Unlam lantai 1 Banjarmasin, pada Sabtu siang, 24 September 2011 kemaren. Tema yang diusung dalam seminar yaitu Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Menyelesaikan Sengketa Pemilukada – Antara Menguji Hasil Dan Menegakkan Demokrasi Substansial.
            Bertindak selaku nara sumber seminar yaitu Prof Dr Abdul Hafidz Anshari MA (Ketua KPU Pusat) dan Dr HM Effendy SH MH, sedangkan sebagai Keynote Speaker yaitu Prof Dr H Ahmad Sodiki SH (Wakil Ketua MK RI).
            Menurut Dr HM Effendy SH MH, fenomena sengketa penyelenggaraan pemilukada, sudah menjadi berita lazim yang tidak lagi mengagetkan banyak pihak, karena sudah terlalu sering terjadi.
            Ada beberapa faktor yang melatar belakangi terjadinya persengketaan atau konflik, antara lain terkait aspek normatif yang masih memiliki beberapa kelemahan. Seperti, keterbatasan kemampuan manajerial penyelenggara pemilukada (KPUD).
Kemudian sosio kultur masyarakat yang belum begitu memahami proses demokrasi, karena di dalamnya ada nilai-nilai baru, yang tidak dikenal mereka, seperti adanya mekanisme dan prosedur formal yang harus dilalui, serta perilaku menyimpang dari segelintir elit politik.
Untuk penyelesaian sengketa penyelenggaraan pemilu/pemilukada, sebenarnya sudah ada undang-undang yang mengaturnya dalam mekanisme hukum, yaitu melalui pengujian materi di MK” ujarnya.
Effendy juga mengatakan bahwa, sementara proses penyelesaian melalui MK, sampai saat ini masih menghadapi banyak kendala, seperti waktu yang sangat terbatas, penyediaan dokumen pemilu/pemilukada yang sulit untuk bahan pembuktian, para saksi yang tidak begitu memahami persoalan hukum yang menjadi fokus pembuktian, serta lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran delik-delik pemilu/pemilukada.
Penyelesaian kasus-kasus pemilu/pemilukada melalui MK, sebenarnya merupakan sebuah kemajuan yang cukup berarti, dalam proses pembangunan demokrasi. Serta terobosan-terobosan hukum melalui keputusannya, telah menambah khasanah dan wawasan baru di bidang pengembangan hukum, terutama hukum ketatanegaraan.
Akan tetapi, terobosan tersebut menjadi kurang bermakna, apabila tidak diikuti oleh lembaga penegak hukum lainnya yang saling terkait. Oleh karena itu, diperlukan pembenahan yang komprehensif dari semua pihak, agar ke depannya penyelenggaraan pemilu/pemilukada merupakan proses pengalihan kekuasaan secara terhormat dan beradab” ulas dosen Fakultas Hukum Unlam ini. ara/mb05

250911-minggu(senin)-PA Budi Dharma (Dm.270911)

Photo:mb/ara
KEGIATAN - PA Budi Dharma, selama enam malam dalam seminggu, selalu di isi dengan beragam kegiatan keagamaan

PA Budi Dharma
Di Isi Dengan Beragam Kegiatan Keagamaan

SEMENJAK 1979 didirikan, Panti Asuhan (PA) Budi Dharma yang terletak di jalan Achmad Yani Km 38, Martapura, tentunya sudah banyak anak-anak yang purna asuh. Selama enam malam dalam seminggu, selalu di isi dengan beragam kegiatan keagamaan.
            Amrullah, salah satu pengasuh panti menuturkan “aku dulunya juga anak asuh di panti ini, setelah lulus SMA, aku diminta untuk menjadi pengasuh panti. Kalau di hitung-hitung, sekitar 20 tahun sudah ada di sini. Karena aku juga berasal dari anak panti, jadi tidak terlalu sulit membina anak-anak.
            PA Budi Dharma khusus untuk anak laki-laki. Saat ini jumlah anak asuh ada 40 orang, paling muda berumur 9 tahun, masih duduk di kelas 3 SD. Panti hanya membina mereka hingga SMA/sederajat.
Setelah lulus SMA mereka akan di kursuskan atau mengikuti pelatihan keterampilan. Tetapi kalau ada yang berprestasi selama sekolah, kami akan mencarikan orang tua asuh yang mampu membiayai anak tersebut, hingga lulus bangku sarjana.
            Anak-anak paling banyak berasal dari daerah Kabupaten Banjar, sebagian ada yang dari Tanah Laut, maupun Barabai. Kebanyakan anak-anak diantar oleh orang lain kemari, ada pula yang diantar oleh Dinas Sosial Kabupaten Banjar.
Memang anak-anak yang keluarganya dekat panti, sering pulang kerumahnya, jadi yang dimaksud berasal dari Kabupanten Banjar, bukan anak-anak yang berasal dari kota Martapura ini, tapi dari Sungkai, atau Riam Kanan yang masih dalam wilayah Kabupaten Banjar.
            Masalah yang sering terjadi, paling-paling adanya perkelahian kecil antar anak-anak, yang biasanya juga akan lebih cepat berbaikan kembali. Tapi bila mereka sering melanggar peraturan panti, dan sudah diperingatkan selama tiga kali, terpaksa kami keluarkan dari panti.
            Sangat banyak perkembangan panti, dulu saat aku masih menjadi anak asuh panti, tidak ada yang namanya kamar tidur. Yang ada hanya satu ruangan tempat semua anak berkumpul untuk tidur.  Kurang lebih 10 tahun yang lalu, baru bisa membangun kamar, sekarang ada 10 kamar, masing-masing kamar ada 4 anak” ujarnya.
            Tidak banyak penjelasan yang dapat diberikan oleh Amrullah, terutama mengenai biaya pengeluaran PA Budi Dharma “yang lebih mengetahui itu ada pada bendahara panti dan ketua panti sendiri.
Untuk kegiatan anak-anak dipanti, sepulang sekolah mereka beristirahat dulu, sore harinya mengikuti kegiatan di sekolah masing-masing, seperti pramuka dan PMR. Seusai sholat magrib, akan di isi dengan yasinan, maulid habsyi, pengajian agama, latihan tarbang dan lain-lain. Jadi selama 6 enam malam dalam seminggu, di isi dengan kegiatan keagamaan, kecuali malam Minggu.
Setelah sholat Isya hingga pukul 22.00 adalah waktu belajar. Setelah itu kalau mau nonton TV silahkan saja, asal tidak terlalu tinggi malam” ungkap Amrullah yang sudah 9 tahunan menjadi pengasuh PA Budi Dharma. araska

230911-Obat Tradisional Gigitan Serangga

Bunga Melati Untuk Mengobati Gigitan Serangga

DI DAERAH ini banyak terdapat jenis serangga yang memiliki sengatan berbisa, diantaranya dalam bahasa Banjar, untuk jenis semut ada yang disebut kayakih, kararangga (semut besar berwarna merah, terdapat banyak di pohon buah) dan salimbada atau halimbada (jenis semut besar berwarna hitam, biasanya banyak terdapat di atas tanah di sekitar pohon buah).
Untuk jenis lebah ada yang disebut, wanyi (tawon), kalalaput, naning, tambuan atau tabuhan.
            Menurut budayawan Kalsel, Drs Syarifuddin R, ada beberapa cara pengobatan tradisional masyarakat Banjar, untuk mengobati gigitan serangga seperti ini, bisa dilakukan dengan menggunakan bunga melati. Cara pengolahan obatnya, yaitu bunga melati diremas sampai lumat hingga berair (keluar airnya), kemudian usapkan ramuan obat bunga melati ini, pada bagian tubuh yang disengat serangga.
            Selain bunga melati, dapat pula dengan menggunakan bunga yang lain. seperti yang sudah di ketahui, serangga senang dengan bunga, karena pada bunga serangga mencari makan, yaitu menghisab madunya atau serbuk sarinya. Ternyata pada bunga, terdapat pula obat untuk mengobati gigitan serangga tersebut.
            Selain dengan bunga untuk mengobati gigitan serangga, dapat pula dengan menggunakan getah buah papaya (kustila atau kastila). Cara pengolahan obatnya, yaitu buah papaya yang masih muda, ditoreh dengan pisau, hingga mengeluarkan getah, lalu oleskan getah tadi pada bagian tubuh yang disengat serangga.
            Selain itu dapat pula diobati dengan menggunakan kapur sirih atau kapur manginang, yaitu kapur sirih di oleskan pada bagian tubuh yang disengat serangga.
            Tetapi, hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pengobatan gigitan serangga, harus diusahakan dapat mengambil sengat serangga, yang biasanya tertinggal di bekas gigitannya, agar pengobatan menjadi lebih efektif. ara/mb07
           

230911-Obat Tradisional Disengat Kelabang

Biji Asam Jawa Untuk Obat Sengatan Kelabang

KELABANG banyak bersembunyi ditempat-tempat yang lembab, seperti diantara lipatan kain, di bawah kasur, tumpukan daun-daunan di halaman, ataupun di tempat sampah, dan lainnya.
            Secara tidak sengaja saat kita melakukan aktifitas tertentu,  seperti membongkar kain-kain lama, atau mengangkat kasur untuk di jemur, terdapat kelabang yang bersembunyi diantaranya. Kelabang yang merasa terganggu dan tersentuh, balas menggigit kita.
            Dalam bahasa Banjar, kelabang di sebut halilipan (lipan). Gigitan kelabang memang tidak berbahaya, tetapi sangat sakit dan bagian tubuh yang tersengat akan membengkak.
            Menurut budayawan Kalsel, Drs Syarifuddin R, ada beberapa cara pengobatan tradisional masyarakat Banjar untuk mengobati sengatan kelabang, yaitu menggunakan biji asam Jawa (biji asam kamal). Cara mengolah obatnya, yaitu biji asam kamal ditumbuk sampai halus hingga menjadi serbuk, selanjutnya diusapkan atau digosokkan pada bekas sengatan kelabang.
            Selain itu, ada pula pengobatan tradisional Banjar yang unik untuk mengobati sengatan kelabang, yaitu menggunakan otak dari binatang kelabang itu sendiri. Pegobatan seperti ini disebut tatamba sapuhun. Cara pengobatannya, usapkan otak kelabang pada bagian tubuh yang disengat oleh kelabang.
            Pengobatan tradisional lainnya, bila disengat kelabang yaitu menggunakan pupur dingin yang dibuat dari tepung beras. Cara pengolahan obatnya, yaitu masukkan beberapa biji pupur dingin dalam mangkok, lalu dicampur dengan sedikit garam, kemudian masukkan air dan diaduk sampai rata hingga menjadi adonan. Untuk mengobatinya, oleskan obat tersebut pada bagian tubuh yang disengat kelabang. ara/mb07

220911-kamis(jumat)-polemik editor (Dm.260911)

Photo: Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalsel 2011

Polemik Baru Dalam ASK VIII

BANJARMASIN – Ketika membaca sebuah buku, apalagi itu antologi puisi, umumnya jarang ada pembaca yang memperhatikan, atau menyimak halaman yang memuat kata pengantar, maupun sekapur sirih editor. Biasanya pembaca langsung mencari daftar halaman dan isi dari antologi tersebut.
            Berbeda dengan kalangan intelektual atau sebagian sastrawan senior. Hal-hal yang dianggap remeh seperti kata pengantar maupun sekapur sirih editor, tidak akan luput dari perhatian. Karena hal itu menjadi pusat pokok (atau kesimpulan), dari latar belakang maupun isi sebuah buku.
            Seperti itulah yang terjadi, ketika membaca sekapur sirih editor, dalam Bunga Rampai Puisi Aruh Sastra Kalsel (ASK) 2011 di Barabai, yang berjudul Seloka bisu batu benawa, yang berisi 105 penyair Kalsel dengan 151 judul puisi, dan ketebalan buku sekitar 225 halaman.
            “Apa maksudnya ini?” kata beberapa sastrawan sepontan, diantaranya Hamami Adaby dan Aliansyah. Saat membaca kalimat dari sekapur sirih editor, yang mengundang rasa tidak terima dan menambah polemik baru dalam ASK VIII ini. Kalimat yang dianggap tidak pantas tersebut, yaitu:
“Dari pengamatan saya selama menjadi anggota dewan juri lomba cipta puisi, cerpen, cerita rakyat dan editor buku-buku sastra (berbahasa Indonesia maupun berbahasa Banjar), sebagian besar penulis sastra kita “tidak lulus” dalam ejaan, struktur kalimat, fungtuasi, penulisan kata tempat, kata kerja dan hal-hal lain yang terkait dengan “penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar”.
Itulah yang juga terjadi saat saya menyeleksi. Setelah memilah (dan memilih) “puisi yang kurang buruk dari yang terburuk” (atau “yang terbaik dari yang kurang baik”, terserahlah), saya harus tatak buntut, buang kapala, manyiangi – atawa manggayat, mangatam wan mahampalas lagi teknis tata bahasa tersebut” tulis editor.
            Di lain pihak, Mukhlis Maman berkomentar “kalimat seperti ini menimbulkan banyak persepsi yang negatif dari orang yang membacanya. Sepatutnya editor lebih berhati-hati dalam menuliskannya.
            Kalau ia menulis pengantar dalam antologi yang memang untuk lomba, masih bisa diterima bila ia mengedit karya puisi peserta, dan mengeluhkan persoalan yang dihadapinya. Tapi dalam buku yang khusus berisi sastrawan Kalsel, sangat tidak tepat.
            Sepengetahuan aku, untuk karya cerpen, prosa, esai, opini dan novel, bila ada kalimat yang tidak sesuai, dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, editor memang berhak mengedit dan memperbaikinya. Tapi dalam karya puisi, lain ceritanya. Setiap kata, kalimat, tipografi dll, mempunyai makna tersendiri bagi penulisnya.
            Dan apabila antologi ini, dibaca oleh sastrawan nasional yang juga membaca sekapur sirih editor, ada kemungkinan imej yang berkembang adalah banyak penyair Kalsel itu buruk sebagai penulis” ujarnya pada Selasa (22/9) siang. ara/mb05

220911-kamis(jumat)-gaya bahasa sastra dr Alwy (Dm.240911)

Photo: Ahmad Syubbanuddin Alwy

Karya Sastra Membangun Bahasa Sendiri

BANJARMASIN – Karya sastra menjadi unik dan menarik, karena sering kali mempunyai gaya bahasa tersendiri dari penulisnya. Gaya bahasa yang terkadang tidak bersesuaian dengan kaidah-kaidah ejaan atau penulisan yang ditetapkan oleh suatu negara, khususnya di Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
             Ahmad Syubbanuddin Alwy, sastrawan dan penyair nasional yang datang ke bumi lambung Mangkurat, sebagai pembicara dalam Aruh Sastra VIII 2011 Kalsel di Barabai, pada Minggu pagi 16 September 2011 yang lalu.
            Alwy kemudian menuturkan kepada Mata Banua, tentang pengertian sastra dan gaya bahasa yang digunakan “sastra dengan perspektif sederhana merupkan bagian dari subsistem dalam anasir-anasir pemikiran, yang mengacu pada medan pergulatan gagasan serta ide-ide.
            Dalam konteks tersebut, sastra membentuk sekaligus membangun perspektif dirinya, melalui logika bahasa yang dihadirkan sebagai konsentrasi teks-teks, dengan arsitektur bahasa tersendiri.
            Oleh karena itu, sebagai termilogi yang lazim diajarkan dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah, hingga perguruan tinggi, dideskripsikan menjadi persepsi bahasa yang indah, yang dinisbatkan sebagai simpul kata susastra” ujarnya.
            “Maka melalui simpul kata susastra atau kesusastraan, siapapun dapat melakukan proses pembacaan terhadap teks-teks sastra yang berbeda, atau bahkan berhadap-hadapan dengan teks-teks lain.
            Bahasa dalam teks-teks karya sastra, kemudian diandaikan melewati cara pengucapan yang khas, dan pribadi dari seseorang sastrawan, dalam nenuliskan atau menciptakan karya sastra. Penyair misalnya, akan membangun diksi, logika, bahasa, stilistika, dan pendalamannya sendiri. Sehingga akan membentuk pemahaman, dan pengalaman bagi pembacanya.
            Pengandaian cara pengucapan yang khas, inilah yang membuat karya sastranya menjadi spesifik, dengan sistematika serta logika berpikir melewati batas nalar kelaziman. Sehingga dari proses pemahaman teks-teks karya sastra, pembaca tidak lagi diposisikan sebagai subkek yang fasif dalam mendeklamasikan teks secara linear, melainkan subjek yang aktif dalam mengkonstruksi teks melalui berbagai tafsir.
            Karena itu, kesusastraan ditafsirkan sebagai instrument dalam bahasa, yang mengindikasikan formula baru dari teks-teks yang akar, nalar sesuai latar bahasa yang mengambil proses kreatif penulisnya, menjadi bagian dari segugusan ide-ide, maupun pengalaman yang bersentuhan secara langsung ataupun tidak langsung, menjadi pokok bahasan pikiran utama” ulasnya. ara/mb05
           

210911-rabu(kamis)-PR ASK

PR Masalah Dari Aruh Sastra

BANJARMASIN - Aruh Sastra Kalsel (ASK) VIII di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) sudah usai, tetapi menyisakan pekerjaan rumah (PR) masalah, yang kian bertumpuk bagi aruh selanjutnya, dimuali dari perhelatan sastra Kalsel pertama ini.
            Dari data yang dikumpulkan Mata Banua, yaitu:
            ASK I 2004 di Kandangan, ASK II 2005 di Tanah Bumbu, ASK III 2006 di Kotabaru, ASK IV 2007 di Amuntai, ASK V 2008 di Balangan, ASK 2009 VI di Batola, ASK VII 2010 di Tanjung, dan ASK VIII  2011 di Barabai.
Berdasarkan rekomendasi rapat pleno ASK VII di Barabai, telah diputuskan bahwa giliran selanjutnya pelaksanaan ASK IX adalah  kota Banjarmasin, yang menjadi ibu kota provinsi.
Sudah pasti semua mata seniman dan sastrawan daerah, akan tertuju pada Banjarmasin, dan daerah berikutnya sebagai pelaksana ASK setelah Banjarmasin, turut menatap persiapan ibu kota provinsi ini. Setelah Banjarmasin, menyusul sebagai tempat pelaksanaan ASK X 2013 di Banjarbaru dan ASK XI 2014 di Pelaihari.
Sementara daerah lain yang masih belum bersedia dan siap menjadi pelaksana, hanya diam tanpa kepastian. Begitu pula dengan kabupaten Banjar yang mempunyai kesultanan Banjar, yang menyatakan diri sebagai pengayom seni budaya, juga tidak ada kabar beritanya.
Banyak sastrawan yang di mintai informasi, enggan berkomentar. Terutama seputar PR masalah yang terjadi, sebelum ASK di laksanakan pada suatu daerah, maupun sesudah dilaksanakan. Sebagian yang berkomentarpun, meminta untuk namanya dirahasiakan.
Sebagaian masalah yang terungkap:
ASK IV, tidak memprogramkan pembuatan antologi penyair Kalsel. Ini sempat menjadi perdebatan diantara sastrawan waktu itu, walau hanya secara kelompok-kelompok kecil, tanpa terekpos keluar.
ASK V, dengan kerancuan penetapan kategore pemenang. Apakah dengan sekian terbaik tanpa ada peringkat, atau dengan peringkat satu, dua, dan tiga. Pada saat pembagian hadiah, sempat menjadi polemik yang cukup panas diantara peserta, tapi ini juga hanya menjadi pembicaraan warung kopi.
ASK VI, adanya perseteruan antara panitia pelaksana, dan sastrawan yang merasa tidak kebagian jatah, dalam mempersiapkan aruh. Menyebabkan adanya aruh tandingan di Banjarmasin.
ASK VII, insiden kecil pengamanan bupati yang sangat agresif, saat bupati menghadirinya. Sehinga ketika salah satu peserta dari Kandangan yang dengan sepontan naik kepanggung, hanya untuk mengucapkan selamat atas terselenggaranya aruh sastra, di geledah dan diintrogasi seperti penjahat, oleh keamanan bupati.
Sementara panitia, yang sebenarnya kenal baik dengan seniman yang sepontan tersebut, hanya diam saja. Tanpa ada tindakan untuk menengahi dan menjelaskan bahwa tujuan si seniman adalah baik, dan tidak bermaksud jahat.
Kemudian, insiden peserta apresiasi seni dari Kotabaru yang kesal karena pada saat tampil, tidak ada satupun yang menonton. Gonzales pemimpin rombongan apresiasi seni dari Kotabaru, sempat berkata pada Mata Banua yang juga berhadir pada saat itu “kami jauh-jauh datang dari Kotabaru, dan latihan sudah berbulan-bulan, tapi saat tampil hanya di saksikan oleh makhluk gaib. Bagaimana ini kinerja panitia dalam memobilisir dan menyiapkan penonton” ujarnya.
ASK VIII, terbongkarnya kasus plagiat yang malah memenangkan lomba cipta puisi. Selanjutnya ASK IX “Taman Budaya siap menjadi tempat pagelaran sastra” kata Kepala Taman Budaya Kalsel, DRS H Norhidayat Sultan, pada Selasa (20/9) siang, tanpa mau memberi saran atau komentar lebih jauh, mengenai persiapan aruh agar menjadi lebih baik, karena tidak mau mencampuri wewenang pemerintah kota, instansi terkait dan sastrawannya yang akan menjadi panitia. ara/mb05

200911-selasa(rabu)-para plagiator

Pantaskan Guru Memplagiat Karya Orang Lain

BANJARMASIN – “Sangat disayangkan bila seorang pendidik, yang seharusnya memberi contoh yang baik kepada murid-muridnya, bahwa memplagiat karya orang lain adalah perbuatan yang sangat tidak terpuji” ungkap HE Benyamine, dalam diskusi kecil Senin (12/9) sore, tentang seorang plagiator yang kembali memenangkan Lomba Cipta Puisi (LCP) Bahasa Indonesia, dalam Aruh Sastra Kalsel (ASK) VIII Kalsel di Amuntai, pada 16 sd 19 September 2011 yang lalu.
            “Siapa yang memplagiat? Ada yang mengatakan, satu orang dengan dua nama, yaitu Maman S Tawie menggunakan nama Erika Andriani. Tapi melihat dari biodata keduanya, sangat tidak mungkin orang yang sama.
            Pendapat lain, Maman sendiri yang menulis dan memplagiat karyanya sendiri, lalu mengirimkannya di lomba, dengan nama orang lain atau mungkin orang yang dikenalnya, dan atas sepengatahuan yang bersangkutan.
Siapapun yang mengirimkan karya plagiat, dengan ditemukannya bukti bahwa puisi karya Erika Andriani, yang berjudul Selamat Pagi Marabahan (antologi puisi Bianglala, Hasil LCP ASK VI 2009, di kabupaten Barito Kuala). Ternyata mempunyai kesamaan dengan puisi milik.Maman S Tawie yang berjudul Selamat Pagi Banjarmasin (antologi puisi Banjarmasin Dalam Puisi yang diterbitkan pada tahun 80-an).
Situasi ini menimbulkan kecurigaan, bahwa puisi Erika, cerpen atau karyanya yang lain, adalah juga hasil dari memplagiat karya orang lain” ujar Benyamine.
Untuk bahan perbandingan dan analisa, serta mempermudah penulusuran, Mata Banua masih berusaha melacak alamat dan nomor kontak, dari pihak yang ditengarai melakukan plagiat tersebut, agar bisa diminta konfirmasinya. Sementara dari data yang berhasil dikumpulkan, tentang keduanya adalah:
Maman S Tawie, mulai menulis cerpen, puisi dan esai pada 1976. Karyanya dipublikasikan dalam beberapa media massa di Kalsel, hingga nasional seperti Kompas dan Horison.
            Antologi puisi pribadi, Jam (1980), Sajak-sajak Dahaga (1981), Dinding Kaca (1982), Kebun di Belakang Rumah (1995), dan Nyanyian Dusun (2000).
Antologi bersamanya, Terminal (Banjarmasin, 1984), Tamu Malam (Banjarmasin, 1992), Pemberontak yang Gagal (Bandung, 1998), Datang dari Masa Depan (Tasikmalaya, 2000), Perkawinan Batu (DKJ, 2005) dan Seribu Sungai Paris Berantai (Kalsel, 2006).
            Sedangkan Erika Andriani, mulai menulis puisi sejak 1995. Setelah menyelesaikan pendidikan di STKIP PGRI Banjarmasin pada 2006, sempat mengajar di salah satu sekolah dasar di Banjarmasin. Pada 2008 lulus CPNS, kemudian mendapat tugas mengajar pada sebuah SMP di Balangan.
            Puisi, cerpen, esai sastra, artikel kebudayaan dan pendidikan, karya-karyanya dipublikasikan dalam beberapa media massa di Kalsel, serta dalam beberapa antologi puisi lomba, seperti dalam:
Ziarah Pelangi Balangan Menari (ASK V 2008, Balangan), judul puisinya Nyanyian Akar Rumput, di halaman 32, terpilih sebagai salah satu dari 20 puisi nominasi.
Nyanyian Akar Rumput (ASK VI 2009, Batola), judul puisinya Selamat Pagi Marabahan, di halaman 28.
Manyanggar Banua (ASK VII 2010 Tabalong), judul puisi Manyanggar Banua, di halaman 7, terpilih sebagai salah satu dari 6 puisi terbaik.
Balian Zazirah Anak Ladang (ASK VIII 2011, Amuntai), judul puisinya Zazirah Anak Ladang, di halaman 2, terpilih sebagai salah satu dari 6 puisi terbaik. Dan pada halaman 15, judul puisinya Diang Ingsun, terpilih sebagai salah satu dari 30 puisi nominasi.
Puisi Erika dimuat pula dalam antologi Darah Muda (Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, April 2008).
Kemudian karya cerpen lombanya, dimuat dalam antologi Manyanggar Banua (ASK VII 2010 Tabalong), judul cerpen Tagaian, di halaman 63, terpilih sebagai salah satu dari 6 cerpen terbaik.
            Prestasi Erika yang lain, pada 2008, meraih pemenang III dalam Lomba Menulis Esai Sastra se-Kalsel, dalam ASK V 2008 di Balangan. Dan pada Mei 2009, juara III dalam Lomba Cipta Puisi Bahasa Banjar se-Kalsel, yang dilaksanakan oleh Disbudparpora Kota Banjarmasin. ara/mb05

200911-Konsep Sakit Orang Banjar

Konsep Masyarakat Tradisional Banjar Tentang Sakit

BANJARMASIN – Masyarakat tradisional Banjar berpendapat bahwa sakit adalah semacam gangguan terhadap pikiran dan fisik manusia, sehingga mengakibatkan tidak dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik” kata Drs Syarifuddin R, beberapa waktu yang lalu kepada Mata Banua.
Dengan kata lain, orang Banjar memandang, sakit adalah gangguan yang datang menyerang tubuh manusia, baik secara lahir (fisik) maupun batin (kejiwaan).
Berdasarkan dua pengertian sakit tersebut, maka sakit dapat dibedakan dalam dua kategore, yaitu sakit yang bersifat rasional (nyata) ringan, dan irasional (tidak nyata) atau berat. Sakit yang digolongkan rasional menurut konsep masyarakat tradisional Banjar, adalah yang dapat dilihat dan dirasakan dengan jelas, bagian mana yang terasa sakit atau terganggu, sehingga mudah menentukan obatnya.
Sedangkan sakit yang tidak irasional, mempunyai ciri yang sulit untuk menentukan penyebabnya, dan tidak dapat ditunjukkan bagianmana yang terasa sakit, karena yang merasakan sakit adalah fisik dan pikiran, baik secara sadar atau tidak sadar” ujar Syaripuddin, menceritakan hasil penelitiannya tentang budaya tradisional masyarakat Banjar.
Lanjut Syaripuddin “sakit yang bersifat tidak nyata jauh lebih berbahaya daripada sakit yang nyata. Sakit yang tidak nyata, digolongkan oleh masyarakat tradisional Banjar, seperti sakit ingatan  (sakit jiwa) atau garing panas, garing pulasit (kemasukan roh jahat),garing kuning, dan kapidaraan yang sering menimpa anak-anak.
Penyakit ini diidentifikasi sebagai, terkena teguran leluhur atau melanggar pantangan tertentu, dan cara pengobatannya harus diserahkan dengan ahlinya (tabib).
Kepada mereka yang sakitnya ringan, dan masih dapat melaksanakan tugas seadanya, dikatakan gagaringan (pra garing).
Sakit yang ringan menurut batasan gagaringan adalah masuk angin, flu (salesman), sakit kepala, sakit perut, demam, tampiyaan, gatalan (gatal-gatal), sariawan, dan sakit gigi.
Pengetahuan pengobatan ini, dulu diwariskan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Tapi pada masyarakat modern Banjar, pewarisan pengetahuan telah berubah” pungkasnya. ara/mb05

190911-senin(selasa)-puisi plagiator ASK VIII (Dm.220911)

Photo: mb/ara
PLAGIAT – Bukti arsip kesamaan puisi antara Erika Andriani dan Maman S Tawie yang dipersoalkan siapa yang memplagiat

Siapa Yang Memplagiat Puisi Sebenarnya

BANJARMASIN - Pelanggaran hak cipta dan manipulasi memanipulasi karya orang lain, seperti memplagiat karya yang bukan miliknya, kemudian diakui sebagai karyanya sendiri, merupakan pelanggaran hak intelektual yang cukup berat dan memalukan. Apalagi karya tersebut dipublikasikan ataupun diikut sertakan pada suatu lomba, dan memenangkan lomba tersebut.
            Siapa yang memplagiat puisi antara Erika Andriani dan Maman S Tawie. Dari bukti yang diberikan oleh narasumber Mata Banua, sangat jelas kesamaan puisinya. Kemudian adanya keterangan Micky Hidayat, sastrawan Kalsel yang mengatakan “seingatku puisi milik.Maman S Tawie dalam antologi puisi yang berjudul Banjarmasin Dalam Puisi, diterbitkan pada tahun 80-an” ujarnya.

Perbandingan
            Puisi Erika yang dimuat dalam antologi puisi Bianglala Hasil Lomba Cipta Puisi ASK VI 2009, di kabupaten Barito Kuala, yang judul antologinya adalah Nyanyian Akar Rumput Pengakuan Ikhlas Pulang Ziarah. Judul puisinya, Selamat Pagi Marabahab. Sedangkan bait puisinya, yaitu:
            selamat pagi Marabahan/ selamat pagi kota rindang/ tiba juga pada akhirnya/ gerimis cahaya/ luruh dari cawan langit pualam/ membasuh lumpur dan rawa/ pada sekujur tubuhmu yang purba// selamat pagi Marabahan/ selamat pagi negeri bakumpai/ kau semai aroma dupa wangi/ pada tiap binar matahari/ yang menggeriap dari taman ke taman/ dan dari sungai di relung rohmu/ kukayuh perahu hayatku/ kembali kelubuk hati ibu// selamat pagi Marabahan/ selamat pagi negeri bahalap/ di punggungmu orang-orang memetik harapan/ di dadamu orang-orang menangguk keberuntungan// Banjarmasin, Nopember 2009.
            Kemudian puisi milik.Maman S Tawie, bait puisinya yaitu:
selamat pagi Banjarmasin/ selamat pagi kota rindang/ tiba juga pada akhirnya/ gerimis cahaya/ yang luruh dari cawan langit pualam/ membasuh lumpur dan rawa/ di sekujur jasadmu purba// selamat pagi Banjarmasin/ selamat pagi negeriku intan/ kau tawarkan wangi sukma melati/ pada tiap gemerlap matahari/ yang berloncatan dari taman ke taman/ dari sungai-sungai ke relung ruhmu/ mengalir perahu hayatku/ kembali kelubuk di hulu rabu// selamat pagi Banjarmasin/ selamat pagi negeri intan/ di punggungmu orang-orang mengayuh harapan/ di dadamu orang-orang menangguk keberuntungan
Dari dua puisi diatas, dan berdasarkan tahun penulisan atau tahun dipublikasikan dalam sebuah antologi, sudah terlihat jelas siapa yang memplagiat. ara/mb05


190911-senin(selasa)-plagiator ASK VIII (Dm.210911)

Photo: Hamami Adaby

Seorang Plagiator Memenangkan Lomba Cipta Puisi ASK VIII

BANJARMASIN – Sekembalinya beberapa sastrawan Kalsel dari perhelatan Aruh Sastra Kalsel (ASK) VIII di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), yang di laksanakan pada 16 sd 19 September 2011 yang lalu, kembali lagi terdengar informasi bibit polemik yang terkuak saat ASK VIII di selenggarakan.
            Walau polemik ini terbongkar dalam sidang pleno ASK VIII, dan di ketahui oleh banyak sastrawan, tetapi hanya sedikit yang berani dan mau membicarakan, membahas dan mempertanyakannya kembali. Inilah diskusi kecil Senin (12/9) sore, tentang seorang plagiator yang kembali memenangkan Lomba Cipta Puisi Bahasa Indonesia (LCPBI) ASK VIII Kalsel.
            Hamami Adaby, menuturkan “mengapa seseorang yang telah dicurigai keabsahan karyanya dalam beberapa ASK, malah kembali menang dalam ASK VIII 2011. Apakah ini, kelalaian panitia dalam memilah karya puisi seseorang yang masuk, atau para juri yang lengah dalam menyeleksi dan menilai karya tersebut. Nama baik ASK kini di pertaruhkan oleh noda pelanggaran hak cipta” ujarnya.
            HE Benyamine, menambahkan “saat sidang pleno ASK VIII di gedung Murakata Barabai, sedang berlangsung. Salah satu peserta sidang pleno kemudian berdiri, dan mengatakan, ia menemukan bukti bahwa salah satu puisi karya dari peserta lomba yang bernama Erika Andriani, yang dimuat dalam antologi puisi Bianglala Hasil Lomba Cipta Puisi ASK VI 2009, di kabupaten Barito Kuala, yang judul antologinya adalah Nyanyian Akar Rumput Pengakuan Ikhlas Pulang Ziarah.
Ternyata mempunyai kesamaan dengan puisi milik.Maman S Tawie dalam antologi puisi yang berjudul Banjarmasin Dalam Puisi yang diterbitkan pada tahun 80-an.
Puisi Erika Andriani dalam antologi ASK VI itu berjudul Selamat Pagi Marabahan, dengan keterangan di buat pada 2009 di Banjarmasin, pada halaman 28. Sedangkan puisi Maman S Tawie berjudul Selamat Pagi Banjarmasin, pada halaman 31.
Dan karya maman ini juga pernah di publikasikan dalam salah satu media massa di Banjarmasin. Coba bandingkan saja, antara puisi Erika dan Maman, sangat mirip hanya ada beberapa kata yang di rubah. Bahkan salah satu peserta Sidang Pleno ASK VIII, ada juga yang mengatakan, bahwa puisi Erika yang meraih juara pertama dalam lomba ASK VIII 2011, yang berjudul Jazirah Anak Ladang, pernah dilihatnya dan ditulis oleh orang lain.
Dengan adanya bukti ini, sekarang menimbulkan kecurigaan, bahwa puisi Erika yang pernah diikutikan dalam lomba cipta puisi ASK lain, maupun diikutkan dalam lomba cipta puisi ASK VIII 2011, juga adalah hasil dari plagiat” pungkasnya. ara/mb05

180911-minggu(senin)-PA Akhlak Mulia Bjb (Dm.200911)

Photo: mb/ara
DISIPLIN - Untuk membina anak-anak kecil yang masih belum terlalu mengerti, pengasuh harus rajin mengingatkan tentang disiplin

PA Akhlak Mulia
Khusus Membina Anak Yang Masih SD

SORE itu, di halaman Panti Asuhan (PA) Akhlak Mulia yang terletak di Jl Simpang Kuranji, Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, . tampak anak-anak yang tengah asik bermain bola, sebagian masih mengenakan kopiah haji karena baru selesai sholat Ashar berjamaah.
            Kepada Mata Banua, sekertaris panti, Taufiqurrahman menuturkan “panti ini didirikan pada 1999, dan pada 2001 baru terdaftar di Dinas Sosial (Dinsos) provinsi Kalsel. Yayasan Akhlak Mulia mempunyai dua panti, yang di sini PA Akhlak Mulia dan PA Darul Hasani di Gambut Kabupaten Banjar. PA Akhlak Mulia khusus membina anak-anak yang masih Sekolah Dasar. Bila mereka sudah lulus SD, baru di pindah ke panti yang ada di Gambut untuk melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren.
            PA Akhlak Mulia, memprioritaskan selain untuk sekolah anak-anak, juga pendidikan agamanya, yang utama adalah sholat secara berjamaah. Awal didirikan ada 15 anak, sekarang ada 16 anak. Paling muda usianya 9 tahun dan paling tua berusia 14 tahun.
Anak-anak berasal dari beberapa daerah yang ada di Kalsel, seperti dari Hulu Sungai. Tapi yang paling jauh ada yang berasal dari Kalteng, yaitu diatas lagi pada daerah Muara Teweh. Kebanyakan orang yang mengantar ke sini, setelah kami survey, kreterianya sesuai, baru kami terima.
            Kalau dulu hanya ada bangunan asrama untuk anak-anak dan bangunan kantor, dari tahun ke tahun bisa di tambah dengan bangunan lain, seperti musholla dll. Ada 5 kamar tidur untuk anak-anak, jadi masing-masing kamar ada 4 anak.
             Sekolah anak-anak ada di SD yang di Gabut, tiap hari mereka diantar jemput dengan mobil panti. Sepulang sekolah, mereka bisa beristirahat atau bermain, entah nonton TV atau bermain bola dll.
Aktivitas rutin lainnya, setiap sore ada pelajaran mengaji, setelah sholat Isya di beri waktu satu jam sebelum tidur untuk belajar, yang di dampingi pengasuhnya masing-masing. Ada 4 pengasuh, satu pengasuh mengawasi 4 anak. Tahun ini ada anak yang meraih peringkat III di kelasnya, sedang yang lain masih standart.
Kalau ada yang melanggar peraturan, seperti tidak sholat berjamaah, uang saku di potong dalam artian tidak diberikan selama beberapa hari, tetapi uang itu disimpankan atau ditabungkan dalam tabungan si anak, bila pelanggaran berat baru membersihkan wc.
Tabungan anak-anak boleh diambil sewaktu-waktu, bila mereka ada keperluan yang dianggap cukup penting untuk mereka. Jumlah tabungan secara berkala di beritahukan dengan anak-anak.
            Agar anak-anak tidak jajan di luar, di buatkan koperasi sebagai amal usaha panti, yang menjual makanan ringan. Jajan di koperasi jatah satu orang anak di batasi, hanya boleh 4 ribu rupiah. Sering masyarakat disekitar sini, juga jajan di koperasi panti.
Sekarang kami juga sudah punya TK Al Quran, ada 25 murid yang semuanya dari anak-anak masyarakat di sekitar panti. Kedepannya kami, ingin membuat tambak ikan, agar ada amal usaha lain untuk panti.
Karena anak-anak panti masih belum terlalu bisa mandiri, jadi khusus untuk yang mencucikan pakaiannya, dan menyiapkan makanan. Yang namanya anak-anak, sering membuat jengkel. Maka perlu kesabaran untuk selalu menasehati mereka tentang disiplin.
Pengeluaran untuk makanan anak-anak sehari kurang lebih 100 ribu, sedangkan bantuan pemerintah hanya dari Dinsos provinsi saja, untuk kota Banjarbaru tidak ada. Untunglah masih banyak bantuan dari masyarakat Banjarbaru, dan alhamdulillah dari bantuan tersebut, masih bisa di sisihkan atau disimpan untuk panti. Setelah di potong semua pengeluaran dari makan dll” ungkapnya. araska

180911-minggu(senin)-mula sastra dr Dimas.1 (Dm.200911)

Photo: Dimas Arika Mihardja

Awal Mula Seni Sastra

BANJARMASIN – Dalam bahasa Plato, seni merupakan bayangan keindahan sejati. Y ang oleh Bergson maupun Iqbal ditanggapi  kurang lebih sebagai ilham Ilahiat yang bahkan layak diperbandingkan dengan ilham kerasulan.
            Pada perbincangan Mata Banua via telepon, Jumat (16/9) dengan Dimas Arika Mihardja (nama pena), yang rencananya akan datang sebagai pembicara dalam Aruh Sastra VIII Kalsel pada Sabtu sore 17 September 2011. Menurut Dimas “pada awal mula segala seni sastra adalah religius. Itulah sebabnya mengapa para estetikus abad-abad lampau, telah mencoba menerangkan apakah seni itu.
Seni, sambil memperhitungkan adanya berbagai trend, dalam keadaannya yang murni, lazim ditanggapi sebagai kekayaan rohaniah manusia, yang memberikan satu pesona, satu pengalaman tak sehari-hari, sesuatu yang  transendental,
Sehingga seni itu sesuatu yang luhur, sebab watak seni sastra menuntut kejujuran    (hanya melahirkan yang memang hidup dalam jiwa), menuntut simpati kemanusiaan (berbicara dari hati ke hati secara jujur, dan bukan dari  ideologi ke ideologi), dan yang mengungkapkan haru (bukan kepedihan).
Dengan demikian, seni susastra memang bergerak pada arus bawah hidup, dan memunculkan kepermukaan, undangan ke arah kedalaman. Arus bawah ini di kenal dengan istilah religiusitas (bukan beragama)” ujar sastrawan dan sebagai Dosen, serta Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di FKIP Universitas Jambi
Lanjut Dimas yang mempunyai nama asli Dr Sudaryono MPd “haru itu sendiri, tak lain dari rasa hening yang aneh (yang sering tak disadari), yang menyebabkan orang  tersentak, dan menyebut: Allah. Penyebutan nama Tuhan atau zikir, dalam religiusitas, terdapat nilai ibadah.
Seni puisi di satu pihak harus mampu mengajak seseorang beriman, mengagungkan Allah, dan di pihak lain, ia harus mampu mengasimilasi sifat-sifat Allah, pada diri manusia seperti cinta kasih, penyayang dan lain sebagainya, yang mampu membawa kedamaian bagi umat manusia. Dalam hal ini, tidak berarti penyair berkarya untuk menyaingi Allah, tetapi ia berkarya untuk menyesuaikan diri secara lebih baik, dengan tata ciptaan-Nya.
Secara maknawi, karya puisi tidak dimaksudkan untuk menambah jumlah pemeluk, melainkan memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Allah, terlepas dari segala penyakit hipokrisi” ulasnya. ara/mb05