Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dayak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

211211-rabu(kamis)-tari gintur dayak

Photo: mb/ara
MANIFESTASI - Tarian Gintur manifestasi rasa syukur dari suku Dayak Ma’anyan yang ditampilkan dalam Festival Kesenian Daerah Banjar 2011 di Taman Budaya Kalsel

Ungkapan Syukur Dayak Ma’anyan

BANJARMASIN – Setiap suku Dayak mempunyai cara-cara sendiri dalam mengungkapkan rasa syukur, begitu pula dengan suku Dayak Maanyan.
Musim buah yang berlimpah dan hasil panen yang bagus adalah sebuah anugerah dari sang pencipta. Untuk itu sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa hormat kepada alam, suku Dayak Maanyan mengungkapkannya dalam bentuk tarian yang diberi nama Tari Gintur.
            Bagaimana bentuk tarian Gintur, sanggar Bamelum dan sanggar Langit telah menampilkannya dalam Festival Kesenian Daerah Banjar (FKDB) 2011, beberapa waktu yang lalu di Gedung Balairung Sari Taman Budaya (TB) Kalsel. Di tengah tarian yang dipersembahkan, para penari membagikan buah-buahan dan madu hasil dari alam kepada tamu-tamu kehormatan yang menyaksikan pagelaran.
            Seusai pagelaran Lilis Marta Diana, koordinator tari Gintur dari Dinas Sosial Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tabalong, mengatakan bahwa tarian Gitur tidak hanya diikuti oleh para tetua adat, tetapi juga oleh para muda remaja yang bergembira ria penuh suka cita.
            Sementara Arpani, ketua sanggar Bamelum menjelaskan kalau suku Dayak Maanyan merupakan salah satu dari bagian subsuku Dayak. Juga merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga Dusun Maanyan.
Suku-suku Dusun termasuk golongan rumpun Ot Danum, salah satu rumpun suku Dayak sehingga disebut juga Dayak Maanyan. Suku Maanyan mendiami bagian timur Kalteng terutama di kabupaten Barito Timur ,dan sebagian kabupaten Barito Selatan yang disebut Maanyan I.
Suku Maanyan juga mendiami bagian utara Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Tabalong yang disebut Dayak Warukin. Dayak Balangan (Dusun Balangan) yang terdapat di Kabupaten Balangan dan Dayak Samihim yang terdapat di Kabupaten Kotabaru juga digolongkan ke dalam suku Maanyan. Suku Maanyan di Kalsel dikelompokkan sebagai Maanyan II.
            Pada dasarnya Dayak Ma`anyan terbagi dalam 8 suku sedatuk, yaitu Maanyan Paju Epat (murni), Maanyan Dayu, Maanyan Paju Sapuluh (ada pengaruh Banjar), Maanyan Benua Lima/Paju Lima (ada pengaruh Banjar), Maanyan Tanta (ada pengaruh Banjar), Dayak Balangan (Kalsel), Dayak Warukin (Kalsel), dan Dayak Samihin (Kalsel).
Warukin merupakan satu-satunya desa yang semua penduduknya murni Dayak Maanyan. “Pada awalnya Dayak Maanyan diam di Amuntai yaitu di Candi Agung. Kemudian mundur ke banua lawas. Selanjutnya mundur kembali ke arah Tamiang Layang, lalu menyeberang sungai Tabalong hingga sampai di Warukin” katanya.
Menurut Arpani, tari Gintur yang ditampilkan dalam FKDB 2011 bukanlah tarian adat yang sakral. Sehingga boleh ada inovasi atau dikreasikan. “Beberapa bagian gerakan tari Gintur dan musiknya sudah ada modifikasi, sehingga nadanya sudah ada yang baru. Tapi beginilah bentuk manifestasi dari rasa syukur kami kepada sang pencipta” ujarnya. ara/mb05


070911-rabu(kamis)-dayak bakumpai.1 (Dm.100911)

Menyusuri Budaya Dayak Bakumpai

BANJARMASIN – Menyusuri perjalanan Suku Dayak di Kalimantan, sangatlah panjang. Karena dari setiap suku akan membawa rantai hubungan dengan suku dayak lainnya.
Dari beberapa sumber menyebutkan, bahwa suku Dayak terbagi menjadi beberapa rumpun yang sangat banyak, antara lain: Rumpun Ot Danum, Rumpun Apu Kayan, Rumpun Iban dan Heban, Rumpun Klemantan atau Dayak Darat, Rumpun Murut, Rumpun Punan, Rumpun Bukat. Kemudian setiap rumpun terbagi lagi menjadi beberapa sub suku.
Sub suku dari Rumpun Ot Danum, antara lain: Dayak Ngaju, Dayak Ma`anyan, Dayak Dusun, Dayak Lawangan. Kemudian dari Dayak Ngaju terbagi lagi menjadi sub suku sedatuk yang lebih kecil, antara lain: Suku Bakumpai, Suku Berangas, Suku Mangkatip, Suku Siang Murung, Suku Mendawai, Suku Bukit/Dayak Meratus.
Khusus mengenai Suku Bakumpai, Drs Syarifuddin R mengatakan “di Kalsel berdiam orang Bakumpai, salah satu kelompok dari orang Dayak yang umumnya bermukim di sekitar aliran sungai Barito. Orang Bakumpai sudah mendapat pengaruh yang kuat dari kebudayaan Banjar.
Saat itu, ketika Banjarmasin masih di kuasai oleh kerajaan Hindu, orang Bakumpai pun memeluk agama Hindu. Sekarang ketika umumnya orang Banjar memeluk agama Islam, orang Bakumpai bahkan telah menghasilkan ulama-ulama penyebar agama Islam sampai ke hulu sungai Barito.
Pengaruh kebudayaan Banjar juga juga terasa dalam teater, tari, dan sastra lisan orang Bakumpai yang sebagian besar bernafaskan Islam” ujar Syarifuddin pada Selasa (6/9) sore, menceritakan hasil dari penelitiannya, mengenai budaya masyarakat di Kalsel, yang ia lakukan sewaktu masih berdinas di Disporbudpar Kalsel.
Dilain pihak, Setia Budhi salah satu peneliti etnologi Dayak dari Universitas Lambung Mangkurat, menceritakan “suku Bakumpai terutama mendiami sepanjang tepian daerah aliran sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, yaitu dari kota Marabahan, Barito Kuala sampai kota Puruk Cahu, Murung Raya.
Suku Bakumpai berasal bagian hulu dari bekas Distrik Bakumpai, sedangkan di bagian hilirnya adalah pemukiman orang Barangas (Baraki). Sebelah utara (hulu) dari wilayah bekas Distrik Bakumpai adalah wilayah Distrik Mangkatip (Mengkatib), merupakan pemukiman suku Dayak Bara Dia atau Suku Dayak Mangkatip. Suku Bakumpai maupun suku Mangkatip, merupakan keturunan suku Dayak Ngaju.
Menelusuri jejak suku Dayak Bakumpai dalam dunia Dayak abad ke-21, sudah tentu akan berbeda dengan era di mana ritual ngayau atau memenggal kepala manusia, masih bersemayam dalam kisah petualangan para kepala suku Dayak masa lampau.
Kisah para lelaki Dayak Bakumpai sebagai pencari kayu gaharu, peladang dan pemburu sarang burung wallet, yang merupakan primadona mata pencaharian penduduk, adalah cerita mengenai kegagahan dan maskulinitas tersendiri, pada jalinan sejarah suku Dayak di belantara Kalimantan” katanya.
Menurut Setia Budhi “sejauh ini diketahui bahwa orang Dayak Ngaju tidak pernah membangun rumah panjang. Akan tetapi, di sungai hulu Barito di Desa Makunjung, Desa Konut dan Muara Bubuat, tradisi rumah panjang masih bertahan, dan menjadi bagian hidup dan budaya.
Ritual Badewa, menyanggar, dan menggunakan bahasa Ngaju pada komunitas Bakumpai, memiliki makna penting yang tak dapat dibantah, bahwa Bakumpai adalah Dayak. Sesuatu yang belakangan telah menjadi rujukan etnografi, meskipun sejarah kolonial mengotakkan suku Bakumpai yang Islam menjadi Melayu” ulasnya. ara/mb05



060911-selasa(rabu)-kedatangan dayak (Dm.080911)

Photo:Drs Syarifuddin R

Kedatangan Suku Dayak Di Kalsel

BANJARMASIN - Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan, yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan bantaran sungai. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan.
Bagaimana awal mula dari suku Dayak, Drs Syarifuddin R pada Selasa (6/9) sore, menceritakan hasil dari penelitiannya, mengenai budaya masyarakat di Kalsel, yang ia lakukan sewaktu masih berdinas di Disporbudpar Kalsel.
Menurutnya “pada 1977-1978 M, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan Muller-Schwaner.
Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam. Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir, dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda” katanya.
Lanjut Syarifuddin “suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara 1309-1389 M.
Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak, bersama masuknya para pedagang Melayu sekitar 1608 M.
Sebagian besar suku Dayak yang memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan.
Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Saat itu, orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalsel dan sebagian Kotawaringin” ungkapnya. ara/mb05

180811-kamis(jumat)-H Matani (Dm.di Berita Kaki.hal 1)

Photo: H Matani

Ragam Keahlian Tradisional Dari Tokoh Tua Yang Tersisa

MASYARAKAT Banjar adalah kelompok sosial heterogen, yang terkonfigurasi dari berbagai suku bangsa dan ras, yang selama ratusan tahun telah menjalin kehidupan bersama, sehingga kemudian membentuk identitas etnis atau suku Banjar.
Diantara ras dari masyarakat Banjar adalah suku Dayak, yang hingga kini beberapa adat istiadanya, masih terpelihara hingga sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya daerah Kalsel.
Suku Dayak sendiri terbagi lagi menjadi beberapa suku, salah satunya adalah suku Dayak Bakumpai, yang mempunyai ritual pengobatan tradisional yang dinamakan Badewa. Sedangkan prosesi pengobatan tradisional dalam bahasa Banjar, disebut batatamba dan pelakunya di sebut tabib.
Secara umum ahli pengobatan tradisional pada suku Dayak disebut balian, dan pada suku Dayak Bakumpai ahli pengobatan Badewa di sebut Padewa.
Tidak banyak kini tersisa, tokoh tradisional daerah yang mempunyai beragam keahlian, baik dalam budaya tradisi suku maupun kesenian tradisional Banjar. Ragam keahlian yang memang bermula dari kecintaan akan kesenian tradisi daerah, yang sepatutnya dicontoh oleh generasi muda.
H Matani adalah salah satu tokoh keturunan dayak Bakumpai, yang bisa melakukan ritual pengobatan tradisional Badewa. Keahliannya bukan cuma sebagai Padewa, tetapi juga sebagai seniman tadisional. Pada sanggar Seni Sinar Pusaka Selidah yang dibinanya, terdapat beragam kesenian tradisional Kalsel, seperti wayang kulit, wayang gong, mamanda, kuda gepang, tari topeng, musik panting, dan beladiri tradisional Kalsel yaitu kuntau.
Dalam perbincangan Mata Banua dengan H Matani di tempat kediamannya yang telah ditempati selama 16 tahun, yaitu di jalan Arya Bujangga kelurahan Berangas Timur kecamatan Alalak Kabupaten Batola, pada akhir April yang lalu.
Dengan bahasa Banjar berlogat Dayak, ia menuturkan  “seorang pemain wayang gong harus bisa ilmu beladiri kuntau dan menari, dalam ilmu beladiri aku menguasai jurus bangkui dan simbing, yang aku pelajari dari empat orang guru yang semuanya sudah meninggal dunia, antara lain guru kuntau Marjunit, Jagau, dan Biye. Rata-rata dalam seni beladiri pertarungan, jurus-jurus kuntau sangat mematikan.
Kalau bermain wayang gong, aku berperan sebagai Hanoman Pancasona, apabila bermain mamanda, aku berperan sebagai menteri atau pembantu raja” kata H Matani yang sudah belajar kesenian semenjak umur 14 tahun.
H Matani atau dikenal dengan panggilan pak Rudi, dilahirkan pada 27 April enam puluh tahun yang lalu. Rudi adalah nama anak pertama H Matani. Sedangkan mengenai kemampuannya sebagai Padewa, sudah dikuasainya semenjak 30 tahun yang lalu, tepatnya semenjak 1981 dan lebih dari 4290 pasien yang sudah ia tangani. “Alhamdulillah semua sembuh setelah diobati” ujarnya.
Menurut H Matani, kemampuan Padewa yang dimilikinya diwarisi dari leluhur, ia adalah keturunan ke enam dari datu kutai dan datu radap (dua saudara). Pada generasi keluarganya sejak datu kutai, kemampuan Padewa selanjutnya diwarisi oleh Bukusin, lalu di warisi oleh H Jahri, hingga kemudian di warisi oleh H Matani.
Jalur pewarisan Padewa, tidak harus dari satu garis keturunan, dan hanya bisa di warisi oleh keturunan laki-laki saja, tapi dari keturunan perempuan juga bisa mewarisinya. Bisa saja dari keturunan pihak saudara melompat ke saudara yang lain, atau yang mulanya dari pihak ibu, kemudian diwarisi oleh keturunan pihak paman, tetapi semuanya masih bermula dari keturunan awal yang pertama sebagai Padewa yaitu datu Kutai.
Oleh karena itu, tidak semua keturunan datu Kutai, sanggup menjadi Padewa, karena memang harus mempunyai jiwa yang kuat, dan kata H Matani “urang nang kada jujur wan mancari harta haja kada kawa manjadi Padewa, sualnya gasan manulung urang kada bulih maminta bayaran. Bila maminta bayaran itu dingarani dukun, bagi urang Banjar mun manjadi dukun tu gawian nang kada baik. (orang yang tidak jujur tidak bisa menjadi Padewa, karena untuk menolong orang yang kesusahan tidak dibolehkan meminta bayaran. Apabila meminta bayaran itu di sebut dukun, di mata orang Banjar yang menjadi dukun adalah profesi yang tidak baik)” pungkasnya. ara/mb02

200711-rabu(kamis)-TB.FTK-sambutan gubernur

Photo: mahfuz

Tari Daerah Harus Inovatif

BANJARMASIN – “Adanya anggapan bahwa tari daerah itu monoton, sulit diproyeksikan dengan inovatif dan modern, karena harus patuh dengan pakem, menjadi penyebab tari daerah kurang diminati masyarakat dan generasi muda” ungkap Gubernur Kalsel Drs H Rudy Ariffin dalam sambutan pembukaan Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel, yang dibacakan oleh Asisten administrasi provinsi Kalsel Drs M Rusli Msi, pada Sabtu (16/7) malam yang lalu, di Gedung Balairungsari Taman Budaya (TB) Kalsel.
            Dalam sambutannya, Gubernur Kalsel juga mengatakan “bahwa dengan adanya anggapan tersebut, maka seniman tari daerah harus lebih berani mensiasati berbagai tari daerah, dengan menampilkan karya tari yang berkualitas, dan berusaha lebih inovatif memproyeksikan kreasi tari dengan memanfaatkan teknologi, sehingga tidak tersingkir oleh perkembangan tari modern saat ini” ujarnya.
            Sementara itu, tidak jauh berbeda dengan Gubernur Kalsel, Kepala Disporbudpar Kalsel Drs H Muhandas HH, juga mengharapkan agar muncul kreatifitas baru yang inovatif, unik, dan menarik, mempunyai nilai tinggi, produktif dan berkualitas, sehingga tari daerah Kalsel mampu diandalkan, berdaya saing, dan mempunyai nilai jual tinggi, di pentas regional, nasional dan internasional.
            Menurut Muhandas, agar karya seni khususnya tari daerah lebih dicintai masyarakat, maka “para seniman, pemerhati seni dan tokoh masyarakat, khususnya seniman tari untuk dapat membangun hubungan kerjasama yang baik, salaing tukar informasi dan pengalaman satu sama lainnya, agar setiap penyajian event festival karya tari Kalsel, mampu membangkitkan harapan dan mampu berkarya lebih baik lagi” katanya.
            Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel adalah program dari Dinas Pariwisata Kalsel, yang juga merupakan rangkaian dari Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai, serta untuk memperingati hari jadi provinsi Kalsel dan peringatan hari kemerdekaan RI.
            Dua grup tari terbaik akan mewakili provinsi Kalsel kepentas tari nasional, yaitu satu grup untuk mengikuti parade tari nusantara di Taman Mini Indonesia Indah, dan satu grup lagi untuk mewakili Kalsel dalam festival nasional seni nusantara, dari kementrian kebudayaan dan pariwisata, yang akan dilaksanakan pada September 2011 di Jakarta.
            Ada 12 grup tari yang mengikuti Festival Karya Tari Daerah se-Kalsel di Taman Budaya ini, yaitu:
            Sanggar Seni Balahindang Rantau, dengan judul tari Selendang Bidadari. Sanggar Tari Agung Lestari Amuntai, dengan judul tari Lalakun Galuh. Sanggar Rindang Bahalap Marabahan, dengan judul tari Japin Diang Bersaudara. Yayasan Pusaka Sa-Ijaan Kotabaru, dengan judul tari Aruh Pangantin. Sanggar Seni Sinar Pusaka Marabahan, dengan judul tari Besei (pangayuh). Sanggar Permata Ije Jela Marabahan, dengan judul tari Rampak Rabana.
            Kemudian. Sanggar Tari Bunga Anggrek Banjarmasin, dengan judul tari Simbat Sigaluh. Sanggar Tari Perpekinndo Banjarmasin, dengan judul tari Pandayangan. Sanggar Sanggam Balangan, dengan judul tari Perang Indra Kila. Sanggar Himaseta Banjarbaru, dengan judul tari Rindang Dandam Buluh Marindu. Sanggar Tari Suluh Banua Tabalong, dengan judul tari Diah Purui (dalas hangit waja sampai kaputing). Dan Sanggar Tari La-Bastari Kandangan, dengan judul tari Kapuhunan. ara/mb05

130711-rabu(kamis)-TB.PKBSS-tari balian bulat (Dm.150711)

Photo: mb/ara
KAGUM – Persembahan tarian Balian Bulat dari kabupaten Tabalong, membuat penonton berdecak kagum

Tari Balian Bulat Semanis Madu

BANJARMASIN – Gemulai tarian Balian Bulat, disertai gemerincing beraturan gelang tembaga ditangan kanan penari, mengiringi irama gamelan suku dayak Maanyan. Ditambah dengan gerakan elastis dua penari anak laki-laki, yang melipat tubuhnya menjadi bulat, membuat penonton berdecak kagum.
            Tari Balian Bulat yang dibawakan sanggar Bamelum, berasal dari legenda suku dayak Maanyan adalah tari pedalaman yang dipersembahkan oleh kabupaten Tabalong, pada Sabtu, 9 Juli 2011 yang lalu, pada pukul 20.30 Wita dalam Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai (PKBSS) Taman Budaya (TB) Kalsel.
            Seusai penampilan di Gedung Balairung Sari TB Kalsel, Arpani pelatih tari Balian Bulat, dengan logat dayaknya menceritakan kepada Mata Banua “sanggar Bamelum didirikan pada 2008, di desa Warukin kabupaten Tabalong. Desa Warukin sendiri adalah satu-satunya desa tempat warga suku dayak Maanyan yang ada di Kalsel.
            Para penari semuanya dari generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan SMP, sedang pemain gamelannya memang dari generasi tua, karena ada beberapa alat gamelan yang iramanya sulit dimainkan” ujarnya.
            Menurut Arpani “tari Balian Bulat sendiri berasal dari dua legenda suku dayak Maanyan. Legenda pertama menceritakan tentang Nawuraha, seorang warga dayak yang mencari dan membuka lahan baru di hutan belantara yang belum terjamah manusia.
            Nawuraha mendapat firasat gaib, bahwa untuk mendapatkan tempat bermukim yang baik, ia harus membidikkan anak panahnya ke suatu tempat. Dan anak panah yang dilepaskannya, tersangkut di atas pohon Lelatung yang biasa menjadi tempat bersarang Wanyi (Tawon). Di sekitar pohon itulah Nawuraha membuka pemukiman.
            Tempat itulah yang kemudian dikenal sebagai desa Warukin atau Waruken, yang merupakan paduan kata dari Weruk atau Beruk (kera) dan Papakin (jenis buah durian yang isinya berwarna kuning).
            Legenda ke dua, menceritakan tentang seorang warga desa Warukin, yang menyepi ke hutan belantara untuk mencari pencerahan dan makna hidup. Tiba-tiba, muncul penjaga kampung yang tidak lain adalah Nawuraha, yang memberikan buah semangka yang harus dihabiskannya. Setelah buah dimakan, tubuhnya menjadi elastis dan dapat melingkar seperti buah semangka.
            Dua legenda inilah yang menjadi dasar dari tari Balian Bulat, yang maknanya adalah bahwa dalam menghadapi kehidupan ini, seseorang harus memiliki pendirian dan keyakinan yang bulat kepada yang maha kuasa.
            Pada pertengahan tari Balian Bulat, penari akan menyerahkan botol madu kepada beberapa penonton, sebagai cenderamata dan hasil dari sarang wanyi yang menjadi legenda desa Warukin” tutur Arpani.
            Sementara itu, salah satu penari tari Balian Bulat, saat ditanya Mata Banua, dengan senyum manis, berkata “berat gelang tembaga ini sekitar setengah kilogram, pada awalnya terasa berat, tapi karena sudah terbiasa, jadi terasa ringan” ujar Novia yang baru lulus dari SMP, ia sudah belajar menari semenjak kelas tiga SD. Novia berharap kesenian daerah lebih maju dan banyak yang meminatinya.
            Bambang Rukmana, ketua Dewan Kesenian Tabalong, yang juga sebagai Kasi Staf Dinas Pariwisata Tabalong, mengatakan “kami akan terus mencoba mengangkat akar budaya yang ada di kabupaten Tabalong, karena disamping hiburan, juga terdapat nilai-nilai kearifan lokal, sebuah keyakinan unsur seni yang bisa menjadi profesi bagi anak-anak kedepannya.
            Saat ini, Dinas Pariwisata Tabalong, telah membentuk 12 sanggar seni, yang menjadi penyambung dari program dinas pariwisata. Mudah-mudahan pada 2013, kami jadi menggelar penampilan seni ke Malaysia” pungkasnya. ara/mb05


120711-Arti Tanda Cacak Burung

Photo: mb/ara
TANDA – Penggunaan tanda Cacak Burung dalam ritual pengobatan tradisional Badewa dan pada bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi

Arti Tanda Cacak Burung Pada Masyarakat Tradisional Banjar

BANJARMASIN – Tidak banyak masyarakat Banjar sekarang, yang mengetahui arti dari tanda Cacak Burung. Pada masyarakat adat Banjar, tanda Cacak Burung merupakan sebuah tanda yang mempunyai nilai magis tertentu. Tanda Cacak Burung pada dasarnya adalah tanda magis yang dipergunakan oleh suku dayak.
Percampuran ras dalam masyarakat Banjar yang sebagian berasal suku dayak, merupakan perkawinan budaya yang saling memperkaya nilai-nilai tradisi Banjar, salah satunya adalah tanda Cacak Burung.
Penggunaan tanda Cacak Burung dalam masyarakat adat Banjar, terlihat pada rumah adat Banjar, baik yang tampak pada bentuk rumah atau pun yang ada pada ornament dalam rumah. Selain itu dalam pengobatan tradisional Banjar, untuk mengobati beberapa penyakit tertentu, para tukang urut (tukang pijat), memberikan tanda Cacak Burung pada pasiennya.
Menurut H Matani, salah satu tokoh keturunan dayak Bakumpai, yang mampu melakukan ritual pengobatan tradisional Badewa, beberapa waktu yang lalu mengatakan kepada Mata Banua “pada warga kami (suku dayak), tanda Cacak burung adalah tanda magis penolak bala yang berbentuk tanda palang tambah (+/ positif).
Dalam suku kami, tanda Cacak Burung dipakai ketika melaksanakan upacara adat dalam bentuk tarian ritual “ujar tokoh pengobatan ini, yang juga mempunyai keahlian lain dalam kesenian, seperti wayang kulit, wayang gong, mamanda, kuda gepang, tari topeng, musik panting, dan beladiri tradisional Kalsel yaitu kuntau. Pada sanggar seni Sinar Pusaka Selidah yang dibinanya, beragam kesenian tradisional Kalsel tersebut, ia kembangkan.
Mukhlis Maman pemerhati seni budaya Banjar, pada Kamis (7/7) malam, mengatakan “di rumah adat Banjar, yang sangat jelas bentuk luarnya menggunakan  tanda Cacak Burung, adalah pada denah Rumah Banjar Bubungan Tinggi, yang berbentuk tanda tambah.
Rumah Banjar Bubungan Tinggi merupakan perpotongan dari poros-poros bangunan yaitu dari arah muka ke belakang dan dari arah kanan ke kiri yang membentuk pola denah Cacak Burung yang sakral” pungkasnya. ara/mb05

Jumat, 30 Desember 2011

010511-Badewa


Adat Istiadat Pengobatan Tradisional Badewa

BANJARMASIN – Masyarakat Banjar adalah kelompok sosial heterogen yang terkonfigurasi dari berbagai suku bangsa dan ras yang selama ratusan tahun telah menjalin kehidupan bersama, sehingga kemudian membentuk identitas etnis atau suku Banjar.
Diantara ras dari masyarakat Banjar adalah suku Dayak, dan suku Dayak sendiri terbagi lagi menjadi beberapa suku, salah satunya adalah suku Dayak Bakumpai. Badewa adalah tradisi pengobatan tradisional dari suku Dayak Bakumpai.
Mukhlis Maman, pada Kamis (28/4) malam, mengatakan “beberapa adat istiadat suku Dayak masih terpelihara hingga kini. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh daerah.
Adat istiadat pengobatan tradisional yang dalam bahasa Banjar yaitu batatamba, sedangkan bagi masyarakat Dayak Bakumpai disebut dengan nama Badewa. Mediator atau pelaku dari Badewa adalah seorang Balian (Tabib atau ahli pengobatan). Badewa pada dasarnya dilakukan dengan upacara yang diiringi dengan tetabuhan, namun ada juga tanpa alat seberti gong, sarun dan sebagainya.
Badewa dilakukan dengan memanggil sahabat, yakni sekutu Tabib dari alam gaib atau dari makhluk gaib. Para sahabat itulah yang merasuk dalam tubuh Tabib, guna melakukan penyembuhan” ujar pemerhati budaya Banjar ini.
Setia Budhi, salah satu pemerhati budaya suku Dayak, beberapa waktu yang lalu menceritakan dengan Mata Banua, katanya “upacara pengobatan tradisional Badewa tumbuh dan berkembang sebelum Islam masuk di Kabupaten Barito Kuala. Mereka mempercayai atau meyakini akan kekuatan yang dimiliki oleh roh-roh gaib.
Badewa tidak diperuntukkan untuk mamperbuat (mengguna-guna) orang lain, meskipun sebenarnya bisa dilakukan. Baik dilakukan untuk menyerang orang lain, atau pun membalas parbuatan orang dengan cara mengembalikannya, yaitu dengan menimpakan akibat kepada si pegirim. Jadi kebanyakan Badewa memang hanya digunakan untuk upacara pengobatan.
Badewa adalah merupakan prosesi yang dilakukan oleh suku Dayak Bakumpai, dalam melakukan pengobatan bagi mereka yang sakit akibat diganggu roh halus, parang maya (santet), palasit, bagi mereka yang sulit mendapatkan jodoh, penglaris dagang, dan sebagainya.
Upacara ini biasanya dilakukan oleh Tabib atau Padewa sebagai perantara atau penghubung. Padewa akan membaca mantera, sampai mengalami kesurupan. Kemudian ada penabuh Gamelan dan dua orang pembantu Padewa yang disebut dengan Kasandaran. Upacara dapat dilangsungkan di mana saja, baik tempat terbuka maupun tempat tertutup.
Adapun proses upacara adat Badewa antara lain:
Pertama, mempersiapkan Alat ritual seperti topeng pantul, sangkala, panji, kelana, wayang, kemenyan atau dupa, minyak likat (minyak kental), mayang pinang, daun sawang, beras kuning dll.
Kedua, mempersiapkan sesajen 41 macam, seperti bermacam jenis wadai (kue khas Banjar), kemudian piduduk seperti gula merah, telur ayam, kelapa muda, kelapa tua, banyu gula (air gula), kopi pahit, kopi manis, air susu dll.
Ketiga, Batatabur atau memanggil roh-roh para leluhur, dengan mengucapkan mantra. Untuk mempercepat datangnya roh gaib, diperlukan sarana penunjang berupa seperangkat gamelan.
Keempat, setelah prosesi tersebut selesai maka mulailah melakukan pengobatan dengan bantuan roh leluhur yang telah dipanggil. Daun sawang yang telah dipersiapkan dan diolesi minyak likat, beberapa kali diusapkan dan diurutkan ke sekujur tubuh si sakit. Setelah itu keluarlah benda, baik berupa potongan kaca, paku, atau pasak ulin dari tubuh si sakit.
Dan kelima, setelah pengobatan tersebut selesai maka prosesi yang dilakukan adalah pengembalian roh-roh leluhur.
Rabu (27/4) malam, pukul 20.00 sd 23.00 Wita, Mata Banua berkesempatan menyaksikan ritual pengobatan tradisional Badewa di Berangas tempat kediaman H Matani (pak Rudi) (60), salah satu tabib keturunan suku Dayak Bakumpai yang ada di Kalsel.
Sebelumnya pada Rabu sore, H Matani berkata “aku bisa Badewa kurang labih 30an tahun sudah, ada pang 4290 urang nang datang baubat kawadah aku, Alhamdulillah wigas ja imbah diubati” ujarnya memberikan penjelasan. ara/mb05