Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label Wakil Gubernur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wakil Gubernur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

250811-kamis(jumat)-sahur seniman dgn wagub (Dm.270811)

Photo: mb/ara

PENGHARGAAN – Sepuluh seniman se-Kalsel yang mendapat penghargaan dan hadiah seni dari Gubernur Kalsel, pada acara Sahur Bersama Wakil Gubernur Kalsel

PUISI – Seniman-seniman cilik dari sanggar Kita Yunior membacakan puisi pada acara Sahur Bersama Wakil Gubernur Kalsel

Wagub Ingin Menginventarisir Seni Budaya Yang Bisa Di Eksploitasi

BANJARMASIN – Adanya keinginan kepala daerah untuk duduk sama-sama dengan seniman, silaturahmi dan membicarakan seni budaya, yang bisa di kembangkan lebih jauh, agar bisa di perkenalkan di luar daerah, adalah sesuatu yang menggembirakan bagi para seniman.
Seperti yang dikatakan Wakil Gubernur (Wagub) Kalsel H Rudy Resnawan, pada Sabtu (20/8) sekitar pukul tiga pagi, di gedung Mahligai Pancasila dalam acara Sahur Bersama Wakil Gubernur, tutur Rudy “saya mempunyai keinginan untuk berbuka puasa bersama dengan seniman, tetapi karena jadwal buka puasa sudah penuh dan tidak bisa lagi, maka setelah dibicarakan dengan beberapa tokoh seniman, akhirnya buka puasa bersama di ganti dengan sahur bersama.
            Tujuan dilaksanakannya sahur bersama ini, selain untuk bersilaturahmi, juga agar lebih mengenal seniman yang ada di Kalsel. Dalam kesempatan ini, saya juga menyampaikan permohonan maaf dari Gubernur Kalsel yang tidak bisa ikut bersama-sama bersaur di sini, karena saat ini sedang berada di Tanjung dalam rangka Safari Ramadhan” ujarnya.
Lanjut Wagub “dengan ilmu kita bisa bekerja, tapi dengan seni kita bisa mengenal keindahan, kelembutan dan kehangatan. Sebuah kota tanpa seni akan sunyi dan sepi, tetapi dengan adanya seni maka kota menjadi lebih indah.
Saya menginginkan, nanti kita duduk bersama, membicarakan apa-apa bidang seni tertentu yang bisa di eksploitasi sedemikian rupa, sehingga dapat membawa kesenian Banjar kita, lebih di kenal luas di luar daerah” katanya.
            Aktivitas Ramadhan H Rudy Resnawan dengan seniman, memang telah ia mulai semenjak menjabat sebagai wali kota Banjarbaru, dengan melaksanakan acara Tadarus Puisi, yang hingga sekarang masih di laksanakan di Banjarbaru.
Sahur Bersama Wakil Gubernur selain dihadiri para seniman yang ada di Banjarmasin, Batola, Banjarbaru dan Martapura juga dihadiri oleh seniman dari Tabalong. Selain itu hadir pula Kepala Disporbudpar Kalsel Drs H Muhandas HH, Kepala Taman Budaya Kalsel Noor Hidayat Sultan, Ketua Harian Dewan Kesenian Kalsel Drs Syarifuddin R, para pengurus LBB, anggota lembaga adat kesultanan Banjar, alim ulama, serta beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi yang ada di Banjarmasin.
            Selain sahur bersama, pada kesempatan tersebut juga di serahkan penghargaan dan hadiah seni dari Gubernur, untuk 10 seniman yang meliputi bidang seni teater, seni sastra, seni rupa, seni tari dan seni musik. Penyerahannya sendiri di wakili oleh Wagub. Kemudian diteruskan dengan pembacaan puisi dari seniman-seniman cilik. ara/mb05


240811-rabu(kamis)-Artikel Acep Zamzam Noor.1

Photo: mb/ara
PENYERAHAN - Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan Antologi Puisi Religius, saat menyerahkan dengan Wakil Gubernur Kalsel

Photo: Cover Antologi Puisi Religius Indonesia
Photo: Penyair Nasional, Acep Zamzam Noor

Kerumitan Dalam Memahami Puisi

BANJARMASIN – Memahami puisi mungkin sedikit lebih rumit dibanding memahami prosa. Kerumitan ini terjadi karena cara melukiskan pengalaman dalam puisi, biasanya berlapis-lapis, tidak langsung atau runtut seperti halnya dalam kebanyakan prosa” ungkap Acep Zamzam Noor, dalam pengantar Antologi Puisi Religius Indonesia (APRI), yang berjudul PARA KEKASIH - Mengurai Rasa Dalam Kata Bagi Jiwa Penyaksi
            Penerbitan APRI sendiri merupakan rangkaian lanjutan dari Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia 1431 H, Ramadhan tahun lalu, yang dilaksanakan oleh Kelompok Studi Seni Budaya Sosial Sastra (KeloS SeBSoS), yang hampir semua anggotanya dari FKIP Unlam Banjarmasin, di mana dalam support publikasi lombanya juga di bantu oleh Harian Pagi Mata Banua.
            Pada Sabtu (20/8) dalam acara Sahur Bersama Seniman dan Wakil Gubernur Kalsel di Gedung Mahligai Pancasila, kesempatan tersebut di jadikan oleh KeloS SeBSoS untuk menyerahkan antologi, pertama kalinya dengan Wakil Gubernur Kalsel H Rudy Resnawan.
            Kembali menyimak penjelasan penyair Nasional, Acep Zamzam Noor, dalam pengantar Antologi Puisi Religius Indonesia (APRI), yang mengulas tentang puisi.
            Menurut Acep ”penyair tidak sekedar memberikan keterangan dan penjelasan kepada pembacanya tentang apa yang ingin disampaikan, tapi juga memperhitungkan keindahan bunyi, keharmonisan irama, kekayaan imaji, ketepatan simbol, rancang bangun kata-kata dan lain sebagainya.
Bahasa dalam puisi bukan hanya sekedar alat untuk menyampaikan keterangan, tapi bahasa yang harus mempunyai kekuatan puitik. Puisi adalah jenis karya sastra yang menggunakan bahasa yang khas, bukan bahasa umum atau biasa.
Puisi biasanya menggunakan bahasa yang efektif, dengan kata-kata yang hemat namun mempunyai makna dan efek yang banyak. Puisi juga kadang menggunakan bahasa yang sugestif.
Kalau pun menggunakan bahasa umum dan biasa, tentu dengan pengungkapan yang tidak umum dan biasa. Dengan kata lain puisi adalah seni merangkai kata-kata, seni menciptakan keajaiban dalam berbahasa” katanya.
Lanjutnya “karena bahasanya yang khas, puisi kadang agak sulit untuk dipahami. Puisi tak bisa dibaca sambil lalu seperti halnya membaca prosa atau berita. Membaca puisi perlu keseriusan, kekhusyukan dan pengorbanan, dengan proses berlatih yang terus-menerus.
Puisi akan terasa gelap jika kita belum bisa mengakrabinya. Puisi akan menjadi terang kalau kita bisa menguak misterinya. Memang tidak semua puisi sulit dipahami. Ada banyak jenis puisi, dan masing-masing harus didekati dengan cara yang berbeda-beda.
Ada puisi yang berisi cerita tentang sesuatu, ada puisi yang hanya berisi luapan perasaan, ada puisi yang melukiskan suasana, ada puisi yang berisi gagasan atau ajaran, ada puisi yang sarat ide-ide abstrak, ada puisi yang penuh dengan permaianan irama seperti halnya mantra dan lain-lain.
Dan masing-masing jenis itu harus dibaca atau dipahami dengan pendekatan yang berlaianan pula” ujarnya. ara/mb05

240811-rabu(kamis)-antologi puisi relegius KeloS SeBSos (di Berita Kaki)


Photo: mb/ara
PENYERAHAN - Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan Antologi Puisi Religius, saat menyerahkan dengan Wakil Gubernur Kalsel

Photo: Cover Antologi Puisi Religius Indonesia

Jalan Terjal Antologi Puisi Para Kekasih

“KARYA puisi religius yang terkumpul dalam buku ini, sepintas terlihat sederhana. Tetapi justeru dari kesederhanaan itulah, buku ini mewariskan dan memelihara karya-karya puisi religius Indonesia.
Gagasan-gagasan segar, cerdas, dan kritis yang tertuang dalam puisi-puisi religius dalam buku ini, harus bisa dipetik sebagai sebuah inspirasi untuk memperkaya kreativitas kita dalam berkehidupan. Semoga buku ini menjadi sebuah karya yang membawa manfaat untuk memperkaya nilai-nilai kehidupan kita, demi meraih ridho ilahi” kata Gubernur Kalsel Drs H Rudy Arifin MM, dalam kata sambutan untuk Antologi Puisi Religius Indonesia (APRI).
Selanjutnya, Wakil Walikota Banjarmasin H Irwan Anshari, berkomentar “kehadiran APRI ini, diharapkan dapat menambah khasanah perbendaharaan buku-buku yang memuat tentang beragam puisi, yang tentunya akan sangat bermanfaat, tidak hanya bagi para pecinta dan pencipta karya-karya puisi, namun juga untuk mereka yang ingin lebih mempelajari tentang puisi, khususnya bagi para mahasiswa dan pelajar.
Saya juga sangat apresiasi sekali dengan APRI, yang disusun sangat baik dan apik, yakni puisi dari beberapa penyair dan puisi dari peserta Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia. Judul yang ditampilkan juga sangat menarik, yakni PARA KEKASIH - Mengurai Rasa Dalam Kata Bagi Jiwa Penyaksi” ujarnya.
APRI di terbitkan oleh Kelompok Studi Seni Budaya Sosial Sastra (KeloS SeBSoS), yang hampir semua anggotanya dari FKIP Unlam Banjarmasin. APRI merupakan rangkaian dari kegiatan sebelumnya, yaitu Lomba Cipta Puisi SMS Religius Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia 1431 H, Ramadhan tahun lalu, di mana dalam support publikasi lombanya juga di bantu oleh Harian Pagi Mata Banua.
Penyair yang puisinya di muat dalam APRI, terdiri dari peyair nasional dan daerah, ada 10 penyair, yang sebagian diantaranya adalah Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Nur, Asrizal Nur dan Diah Hadaning. Kemudian, puisi sms, facebook, email dan puisi dari panitia sendiri, yang keseluruhannya ada 72 orang.
Lailatussaidah dari KeloS SeBSoS yang selaku ketua panitia pembuatan APRI, pada Sabtu (20/8) dalam acara Sahur Bersama Seniman dan Wakil Gubernur Kalsel. Ia mengungkapkan “Satu tahun rentang waktu yang di jalani dari lomba tahun lalu, hingga APRI bisa diwujudkan Ramadhan ini.
Satu yang sangat penting untuk di ketahui, antologi ini bukan dengan tujuan komersil. Antologinya tidak di perjual belikan, tetapi atas bantuan donator yang menyumbangkan dananya, antologinya di bagikan untuk peserta lomba, penyair, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan di panti asuhan.
Banyak permasalahan dan kesulitan yang kami hadapi selama prosesnya, baik dari pendanaan untuk lomba dan cetak buku yang tidak mencukupi, maupun masalah pada percetakan. Tapi bukan berarti tidak banyak peminat dalam lomba Cipta Puisi SMS Religius, peminat yang mengirimkan puisinya sangat banyak sekali. Namun yang menjadi kendala, yaitu fasilitas dan dana itu sendiri.
Katakanlah ada empat jalan yang harus di lewati dalam prosesnya. Sepertiga jalan pertama, ketika persoalan lomba telah bisa di lewati, lagi-lagi terhalang oleh jurang dana. Kalau mencetak buku dengan jumlah yang sedikit, harganya akan lebih mahal, bahkan kalau pun di cetak, dan dibagikan untuk peserta sendiri tidak akan mencukupi” katanya.
Laila melanjutkan “kami panitia, sempat patah semangat. Tapi kakak-kakak di Art Partner yang membantu sejak awal proses kegiatan di mulai, terus mendorong kami agar untuk tetap maju menyelesaikannya.
Pada jalan ini, kakak kordinator di Komunitas Wartawan Seni Budaya & Pendidikan (Prasasti Pena), turut membantu mencarikan jalan keluar dan donator. Akhirnya terkumpul dana dari donator untuk mencetak antologi, sebesar Rp 4 juta untuk 300 eksemplar. Maka setengah jalan sudah di lalui, sedangkan rentang waktu semakin jauh, dan peserta lomba terus menanyakan bagaimana kelanjutan kegiatan.
Seper enam jalan berikutnya, kembali menghadapi dinding terjal, adanya permasalahan dari percetakan, satu bulan lebih draf antologi yang sudah diserahkan belum juga oleh percetakan di buat masternya, tentunya dengan beragam alasan kendala yang dilontarkan. Sekali lagi kakak-kakak di Art Parter yang mengambil alih, untuk membuatkan master antologinya melalui program Page Maker.
Setelah draf aster antologi siap di cetak, lagi-lagi dari percetakan terkendala dengan No ISBN  dari Perpustakaan Nasional, belum juga datang, hingga setelah dua bulan baru No ISBN di dapat. Dan di cetaklah pada minggu terkhir Juli 2011, yang selesai pada pertengahan Agustus 2011.
Seharusnya kami memang mengadakan launching, tapi karena dana kegiatannya sudah tidak mencukupi lagi, maka dana untuk launching itu di alihkan untuk biaya pengiriman antologi, kepada penyair dan peserta yang tersebar di seluruh Indonesia” ujarnya.
Menurut Laila “pagi ini, di gedung Mahligai Pancasila saat sahur bersama Wakil Gubernur (Wagub) Kalsel H Rudy Resnawan, anggaplah sebagai launching Antologi Puisi Para Kekasih. Karena donator utama dari kegiatan adalah bapak Gubernur Kalsel dan kami ingin menyerahkan dengan beliau antologinya. Tapi beliau berhalangan hadir, jadi penyerahan di wakili oleh Wagub.
Membagikan antologi untuk penyair dan peserta, memerlukan biaya pengiriman yang tidak sedikit, inilah jalan terakhir yang harus kami lalui. Untuk membesarkan semangat kami agar tidak menyerah, kakak koordinator Prasasti Pena mengatakan:
Sesuatu yang akan menjadi besar dan bertahan dalam waktu lama atau mungkin abadi hingga alam ini berakhir, tentunya tidak akan menemui jalan yang mudah dalam prosesnya” pungkas Laila mengutip nasehat. ara/mb02