Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 10 (Oktober) - Rilis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MB - 2011 - 10 (Oktober) - Rilis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

311011-senin(selasa)-PA Raudhatul Yatama Kertak Hanyar Mtp (Dm.011111)

Photo: mb/ara
SEKOLAH – PA Raudhatul Yatama mempunyai sekolah Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah untuk anak-anak asuhnya

PA Raudhatul Yatama
Membangun Pendidikan Anak Asuh

SEMENJAK didirikan pada 1980, Panti Asuhan (PA) Raudhatul Yatama, yang terletak di Jl A Yani Km 10, Kertak Hanyar, Martapura ini, sudah mempunyai tujuan untuk membuat lembaga pendidikan bagi anak asuhnya.
Menurut H Iwan Asrul Hadi (53), setelah panti ada, untuk pendidikan anak-anak asuh, awalnya hanya membuat sekolah diniyah, atau pesantren yang memberikan pelajaran dasar-dasar agama Islam, yang dalam bahasa Banjar disebut sakulah baduduk.
Hingga pada 1982, mulai di buat sekolah lanjutannya, yaitu Madrasah Ibtidaiyah/SD, Madrasah Tsanawiyah/SMP, dan Madrasah Aliyah/SMA. Selain anak asuh panti yang bersekolah, dari masyarakat umum juga banyak.
            Jumlah anak asuh ada 86 orang yang tinggal di dalam panti, dan 25 orang yang tinggal di luar panti, atau tinggal dengan keluarganya masing-masing. Dari jumlah keseluruhan itu, anak putri ada 25 orang, sisanya anak-anak putra.
            Tingkat pendidikan anak asuh, di Ibtidaiyah ada 11 orang, di Tsanawiyah ada 66 orang, di Aliyah ada 30 orang, dan yang kuliah (di Uvaya, IAIN dan Unlam) ada 4 orang, yang kuliah di jurusan keguruan.
            Batas usia purna asuh adalah 20 tahun, setelah itu dikembalikan kepada keluarganya. Kalau si anak memilih untuk mengabdi di panti, akan diterima dengan tangan terbuka. Saat ini ada beberapa anak asuh yang mengabdi di panti, baik sebagai pengasuh, pengurus, maupun jadi guru.
            Jumlah anak asuh yang sudah purna asuh sangat banyak, kurang lebih sekitar 300 orang, ada yang jadi pengusaha, guru, kepala sekolah dll. Tahun ini PA Raudhatul Yatama, mengadakan reuni untuk anak-anak yang sudah purna asuh. Tidak mudah mengumpulkannya, karena tersebar hingga di luar Kalimantan.
            Jumlah kamar tidur untuk anak, ada 6 bilik. Empat bilik untuk anak putra, dan khusus untuk anak-anak yang masih di Ibtidaiyah, dikumpulkan menjadi satu bilik saja, dengan satu pengasuh. Sedang untuk anak putri ada dua bilik, dengan satu pengasuhnya pula.
Kegiatan di panti selain rutinitas sekolah, Senin dan Kamis ada pengajian. Selanjutnya ada muhadarah, latihan hadrah, maulid habsy dll. Aktivitas sholat berjamaah dan mengaji menjadi kewajiban, apabila melanggar tentu ada hukumannya.
Sudah banyak yang dikeluarkan, karena pulang tanpa ijin dll. Setahun bisa ada dua anak, tapi untuk tahun ini ini tidak ada. Daerah asal anak asuh, ada yang berasal dari Marabahan, Barabai, Pelaihari, dan ada pula yang dari Sumatra.
“Saat ini kami lagi membangun ruangan permanent untuk Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Setelah itu rencananya merenovasi atau membangun ruangan untuk makan, sebab bangunan yang ada sudah sangat lapuk.
Tentunya biayanya sangat besar, ratusan juta rupiah, dananya dari donator secara pribadi, tidak ada bantuan dari pemerintah. Bantuan dari masyarakat sekitar panti pun hampir tidak pernah ada, biasanya dari bantuan perusahaan atau pengusaha.
Dulu kami ada 150 anak asuh, hingga menjadi panti yang terbanyak anak asuhnya di Kalsel, dan semuanya mendapat bantuan dari dinas sosial. Namun belakangan ini, dari semua anak yang ada hanya 35 anak yang mendapat bantuan dari dinas sosial” katanya.
            Lanjutnya “Alhamdulillah, prestasi anak-anak cukup baik, mudah-mudahan setelah dua gedung sekolah yang dibangun ini selesai, keadaan pendidikan anak-anak asuh semakin maju” pungkas H Iwan Asrul Hadi, yang menjadi pendiri, wakil ketua dan sekaligus juga pengasuh panti. araska

311011-senin(selasa)-bahasa sastrawan Kalsel.1 dr Rustam (Dm.011111)

Bahasa Sastrawan Kalsel

BANJARMASIN – Tidak sedikit penyair Kalsel, memodifikasi ciri berbahasa Indonesia, dengan berbahasa Indonesia plus berbahasa Banjar, ungkap Drs Rustam Effendi MPd PHd, dalam Seminar Nasional Sastra Indonesia (SNSI), yang diselenggarakan oleh Prodi Bahasa Indonesia FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, pada Sabtu 29 Oktober 2011 yang lalu, di Lantai III aula rektorat Unlam Banjarmasin.
Menurut Rustam, yang dimaksud bahasa di sini, adalah bahasa yang digunakan oleh sastrawan Kalsel, dalam mempresentasikan karya-karyanya. Bagi sastrawan Kalsel ciri bahasa Indonesia, tidak dipertahankan secara ketat.
Tiga klasifikasi bahasa yang digunakan sastrawan Kalsel, yaitu karya sastra berbahasa Indonesia, karya sastra berbahasa Indonesia-Banjar, dan karya sastra berbahasa Banjar.
Tidak sedikit penyair Kalsel memodifikasi bahasa Indonesia dan bahasa Banjar, yang tujuannya untuk mengintensifkan kemampuan bahasa, sebagai sarana pengucapan dan pengungkapan makna yang berbobot rasional dan emosional.
Manakala sastrawan Kalsel menggunakan bahasa Indonesia, dalam karya-karyanya, sadar atau tidak sadar, mereka menjadi kontributor penting dalam mengokohkan fungsi bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi kenegaraan.
Semakin bahasa Indonesia difungsikan dalam berbagai aspek (karya), maka semakin berprestise dan semakin kuat kedudukannya di mata warganya. Kekuatan kedudukan bahasa Indonesia, harus diimbangi dengan kuatnya kedudukan dan fungsi bahasa daerah. Kalau tidak, kekuatan bahasa Indonesia akan memangsa kelemahan bahasa daerah.
Dalam konteks ini dapat dilihat, bahwa untuk melestarikan bahasa dan budaya minoritas (bahasa dan budaya daerah) bukanlah hal yang mudah. Seperti halnya bahasa Inggris yang sudah memangsa gaya berbahasa dan berbudaya di seluruh dunia, apalagi budaya dan bahasa daerah.
“Maka pengungkapan karya yang menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga memanfaatkan bahasa Banjar, sebagai bagian dari kepenyairan (karya sastra), sangat berdampak positif untuk menyeimbangkan pembinaan, dan pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
Bahasa Indonesia dan bahasa daerah mempunyai fungsi yang berbeda, namun saling berinteraksi, sehingga salah satu diantaranya, tidak menjadi pemangsa” ujarnya. ara/mb05

301011-minggu(senin)-Seminar sastra FKIP Unlam

Photo: mb/ara
SEMINAR – Sastra Mutakhir Indonesia menjadi tema Seminar Nasional Sastra Indonesia, yang diselenggarakan oleh Prodi Bahasa Indonesia FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin,

Pemuda Harus Menggiatkan Kembali Sastra

BANJARMASIN – Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko, di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian sastra Indonesia itu sendiri, ungkap Jamal T Suryanata.
Apa yang dikatakan Jamal tersebut merupakan pembuka dari makalahnya yang berjudul Sastra Indonesia Mutakhir, dalam Seminar Nasional Sastra Indonesia (SNSI), yang diselenggarakan oleh Prodi Bahasa Indonesia FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, pada Sabtu 29 Oktober 2011, pukul 08.00 Wita sd selesai. Bertempat di Lantai III, aula rektorat Unlam Banjarmasin
            Di tengah berlangsungnya seminar, Ketua panitia SNSI, Rusma Noortyani SPd MPd, menuturkan kepada Mata Banua, bahwa peserta seminar yang berhadir sekitar 375 orang, terdiri dari alumni, pemerhati sastra dan mahasiswa.
Bertindak selaku pembicara dari kalangan sastrawan, yaitu Jamal T Suryanata, Tajuddin Noor Ganie, M Arsyad Indradi. Kemudian pembicara dari kalangan akademisi, yaitu Dr M Rafiek MPd dan Drs Rustam Effendi MPd PHd. Namun M Arsyad Indradi berhalangan hadir karena berangkat keluar kota.
“SNSI bertujuan untuk menambah wawasan tentang sastra mutahir yang ada di Indonesia, sekaligus untuk menjalin silaturahmi dari alumni Pendidikan Bahasa Indonesia Unlam. Serta untuk memperingati bulan bahasa Indonesia, yaitu lahirnya bahasa Indonesia pada 28 Oktober.
Sastra sangat penting, apalagi bahasa dan sastra Indonesia, pemuda harus menggiatkan kembali sastra yang ada, begitu pula sastra nasional. Diharapakan pula para guru yang berhadir dalam SNSI, bisa mengaplikasikan apa yang didapat dalam seminar ini, dalam pengajarannya di sekolah” ujarnya. ara/mb05
           

301011-minggu(senin)-lomb.teaterikal puisi TB

Photo: mahfuz

Enam Pemenang Tambahan, Di Akhir Penilaian LTP

BANJARMASIN – Teaterikalisasi puisi tidak semudah yang dibayangkan, karena memadukan unsur teater dan pembacaan puisi, yang tentunya memuat ekspresi vocal, mimik dan gesture, tetapi tetap tidak kehilangan dari makna puisi yang dibawakan, ungkap Kepala TB Kalsel, Drs H Noor Hidayat Sultan.
            Lomba Teaterikalisasi Puisi (LTP), di buka dan di mulai dari pukul 09.00 sd 11.00 Wita, pada Sabtu 29 Oktober 2011, bertempat di gedung Balairung Sari Taman Budaya (TB) Kalsel. Sekitar 50 peserta saling mengadu teknik vokal, interprestasi, ekspresi vokal, mimik, gesture, blocking, interdisipliner dan penyajian.
Masing-masing grup peserta LTP, di beri waktu maksimal 10 menit untuk menampilkan teaterikalisasi puisinya. LTP tidak hanya diikuti oleh kelompok-kelompok teater Mahasiswa, tetapi juga dari kelompok teater SMA dan SMP, yang ada di kota Banjarmasin, Amuntai, Tabalong, Barabai, Binuang dan daerah lainnya.
Peserta hanya boleh membawakan satu puisi, dari 5 judul puisi yang telah disediakan panitia, yaitu Kami Datang Menabur Kesetiaan (Ketika Tabur Bunga di Pusara Yustan Aziddin) karya B Sanderta, Sebuah Jaket Berlumur Darah karya Taufik Ismail, Balada Terbunuhnya Atmo Karpo karya WS Rendra, Prajurit Jaga Malam karya Chairil Anwar, dan Jante Arkidam karya Ajib Rosidi.
Fahrurazi, Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi TB Kalsel, seusai pelaksanaan LTP, memperlihatkan daftar pemenangnya kepada Mata Banua, yaitu juara satu diraih oleh grup G’Anpa, juara dua diraih oleh Teater Dua Pijar (SMAN 2 Banjarmasin), dan juara tiga diraih oleh Himasindo II (FKIP Unlam).
Kemudian enam grup peserta berbakat, yaitu Titian Barantai I (Uniska Banjarmasin), Himasindo I (FKIP Unlam), KSB Unlam, Kayuh Baimbai (SMAN 10 Banjarmasin), Sanggar Asam Rimbun (SMAN 2 Barabai), dan MAN 2 Model Banjarmasin.
Pemenang I sd III, masing-masing mendapat trohy dan uang tunai sebesar Rp 2.500.000, Rp 2.000.000, dan Rp 1.500.000. Sedangkan enam grup peserta berbakat masing-masing mendapat Rp 500.000. Bertindak sebagai juri dalam LTP yaitu Drs H Rustam Effendi PhD, Drs Ali Syamsudin Arsi, dan Burhanuddin Soebeli.
            Menurut Ali Syamsudin Arsi, enam grup peserta berbakat ini, sebenarnya tidak ada, atau tidak ditentukan sebelumnya, karena hanya memilih pemenang I sd III saja. Tetapi juri merasa perlu adanya penghargaan lain, untuk peserta yang tidak berhasil sebagai pemenang I sd III, karena banyak hal yang bisa lebih dikembangkan, sehingga juri membicarakan dengan panitia, yang akhirnya disetujui.
“Penilaian terhadap enam grup peserta berbakat ini adalah penghargaan pembinaan, dan penghormatan terhadap keberanian tampil disini” ujarnya.
            Dalam sambutan penutupnya, Noor Hidayat Sultan berpesan agar semua peserta terus berkarya, jangan sampai putus disini saja, serta terus berkembang dengan penuh semangat. ara/mb05

281011-jumat(sabtu)-demo sumpah pemuda Uniska di kampus

Photo:mb/ara
MENGUTAMAKAN – Sebelum berteriak di jalan, BEM, UKM dan HMJ Uniska lebih mengutamakan menyuarakan problem mahasiswa dan keorganisasian di dalam kampus, dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda

Uniska Memilih Aksi Sumpah Pemuda Di Dalam Kampus

BANJARMASIN – Berbeda dengan pemuda pemudi lainnya yang turun ke jalan, mahasiswa Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjary, lebih memilih memperingati hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2011, dengan melakukan aksi di dalam kampus Uniska Banjarmasin saja. Seperti mengheningkan cipta, mengucapkan sumpah pemuda, serta orasi dari masing-masing perwakilan BEM Fakultas.
            Aksi mahasiswa Uniska ini, dimulai dari pukul 08.00 Wita, diikuti oleh semua aggota BEM Fakultas, UKM dan HMJ Uniska, baik yang ada di Banjarmasin maupun yang ada di Banjarbaru.
            Dalam orasinya, Presiden BEM Uniska, M Agus Humaidi menyeru kepada mahasiswa Uniska, untuk lebih peduli dengan keadaan kampusnya sendiri, karena banyak permasalahan yang masih belum terselesaikan.
            Menurutnya, untuk apa Tri Dharma Peguruan Tinggi, tertulis di depan kampus, kalau hanya menjadi tulisan yang tidak bermakna, sementara mahasiswa tetap apatis. Mahasiswa jangan hanya diam, atau hanya mengeluh di belakang, tapi tidak berani menyampaikan keluhannya secara terbuka. Dengan sikap seperti itu, harapan kemajuan kampus dan keorganisasian mahasiwa, tidak akan bisa tercapai.
Tidak hanya peduli dengan keadaan kampus, Humaidi juga menggugah rasa nasionalis mahasiswa, agar mengingat kembali Sumpah Pemuda, lalu menjadikannya sebagai sumpah generasi bangsa selanjutnya.
Serta menghimbau mahasiswa Uniska untuk melihat problem kebangsaan, sebab mahasiswa dan pemuda semenjak zaman dulu, pada dasarnya mempunyai andil besar terhadap kemajuan daerah, maupun menentukan arah politik bangsa.
Kepada Mata Banua, seusai melakukan orasi Humaidi mengatakan “ini adalah pertama kali, mahasiswa melakukan peringatan sumpah pemuda di dalam kampus. Sebelum berteriak di jalan, keadaan di dalam kampuslah yang lebih utama di suarakan bersama-sama, kepada pejabat Uniska. Semuanya demi kemajuan almamater.
Momen hari Sumpah Pemuda inilah yang kami gunakan, untuk menyampaikan permasalahan yang terjadi ditengah mahasiswa dan problem keorganisasiannya. Kami tidak akan berhenti, sebelum ada tanggapan dari pihak Universitas, terutama dari pejabat kampus terkait” ujarnya. ara/mb05


281011-jumat(sabtu)-demo sumpah pemuda LSISK di jalan

Photo: mahfuz

Aksi Demonstrasi Sumpah Pemuda Di Jalan

BANJARMASIN – Pemuda Indonesia berjanji akan selalu mengabdikan diri, pada bangsa dan Negara Indonesia. Janji yang diucapkan dan disepakati bersama-sama dalam kongres pemuda pertama, yang kini dikenal dengan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
            Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin, yang dalam Ejaan Yang Disempurnakan, berbunyi:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
            Tiga puluh delapan tahun telah berlalu, hari ini Jumat 28 Oktober 2011, di seluruh Indonesia umumnya dan di Banjarmasin khususnya, beragam kelompok dan organisasi pemuda, baik dari mahasiswa maupun umum, kembali memperingati kejadian tersebut, dengan melakukan aksi demontrasi di jalan-jalan utama kota Banjarmasin.
            Seperti dari Kompak, KAMMI dan kelompok Lingkar Studi Ilmu Sosial Kerakyatan (LSISK), di bundaran jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin, dari pukul 09.00 Wita.
            Menurut Kordasain, koordinator aksi dari LSISK, saat Sumpah Pemuda pertama kali diucapkan, saat itu kita masih dalam belenggu penjajahan Belanda. Hingga meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
            Kini, keadaan Indonesia tidak jauh berbeda dengan masa lalu, yaitu menjadi jajahan kaum imperilialisme, yang bertujuan mengeruk seluas-luasnya kekayaan alam Indonesia.
            Rakyat Indonesia mengalami ketertindasan dengan makin akutnya krisis ekonomi dalam negeri, yang mengancam penghidupan sehari-hari rakyat yang juga dialami kaum pemuda, dan mahasiswa Indonesia, baik dalam masalah pendidikan dan lapangan pekerjaan.
            “Maka dengan ini kami sebagai pemuda pemudi Indonesia, menuntut penyediaan lapangan pekerjaan yang layak dan memadai. Realisaskan anggaran pendidikan yang 20 persen, dan hentikan pemotongan subsidi pendidikan. Berikan sekolah gratis dan kuliah murah, bagi anak-anak buruh dan buruh tani.
            Serta, naikkan upah buruh sesuai standar  Kebutuhan Hidup Layak. Hentikan perluasan tanah perkebunan besar, hutan industri, komplek pelatihan militer, dan eksploitasi sumber daya alam lainnya. Berikan pelayanan kesehatan murah untuk rakyat, dan hentikan pencabutan subsidi kesehatan” ujarnya. ara/mb05

271011-kamis(jumat)-zawawi.2


Photo: D Zawawi Imron

Kejujuran Melahirkan Karya Yang Indah

BANJARMASIN – Nurani memang harus bicara (kejujuran karya), betapapun kecilnya persoalan. Sekecil-kecil persoalan, jika diterjemahkan kedalam bahasa keindahan yang memadai, akan menjadi puisi yang baik” ungkap D Zawawi Imron, yang pernah datang ke Kalsel, pada Aruh Sastra Kalsel pertama 2004 di Kandangan, dan Aruh Sastra ke tiga 2006 di Kotabaru.
            Melanjutkan perbincangan via telepon dan sms dengan sastrawan pulau Madura yang dijuluki sebagai Sang Celurit Emas ini, hingga Kamis (27/10), ia kemudian lebih banyak menceritakan proses kreatif karya-karyanya yang lahir dari kejujuran.
            Zawawi dilahirkan 1946 di Sumenep, pulau Madura. Pada sebuah dusun yang terletak di lembah sebuah bukit, yang dipinggir-pinggir dusunya masih banyak hutan belukar dan berkeliaran ayam-ayam hutan. Ia dilahirkan ditengah alam yang masih murni dan indah.
Keindahan yang mempengaruhi jiwanya. Ia merasakan bahwa  hidup itu begitu segar, sehingga keadaan alam di sekeliling mempunyai andil besar dalam perjalanan kreatif sastranya di kemudian hari.
“Masa kanak-kanak bagiku adalah masa yang indah, meski diselingi penderitaan. Aku dilahirkan di pada pagi hari, dan setiap pagi aku melihat bagaimana matahari terbit dari celah bukit. Serta menyaksikan bulan purnama muncul dari pucuk siwalan.
Di sebelah selatan rumahku, ada telaga kecil, disitulah aku biasa mandi, sambil memperhatikan capung-capung merah, biru, saling berkejaran. Dan sewaktu-waktu menyentuhkan kakinya ke air. Aku merasakan ini, sebagai pertunjukan yang sangat mengasikkan” katanya.
Lanjut Zawawi “lama-lama dalam memperhatikan benda dan alam, aku di tuntut untuk mencari makna yang ada di balik itu semua. Kemudian bertemu dengan ajaran agama yang formal.
Karena keakraban terhadap alam sekeliling itu, lama-lama terbangun rasa cinta mendalam. Setiap sesuatu dari alam yang aku hayati terasa ada dialog. Dan dialog itu akhirnya membawa kepada Yang Tak terumuskan, untuk menghayati-Nya” ujarnya. ara/mb05

271011-kamis(jumat)-sutardji.1

Photo: Sutardji Calzoum Bachri

Hanya Penyair Serius Yang Berlandaskan Kebenaran

BANJARMASIN – Bagaimana cara memandang seorang seniman dari kehidupan dan karya yang dihasilkannya, agar tidak terjerumus pada penilaian yang keliru atau berlebihan?
Dari sudut pandang seorang budayawan, Drs Syarifuddin R telah menyebutkan, bahwa sosok seniman beserta karyanya, tidak serta merta mewakili dirinya sendiri. Karena penilaian pada figur seniman dan karyanya, tidaklah bijaksana, kalau hanya dicermati dari satu sisi implementasi yang lahir semata.
Kemudian bagaimana seniman itu sendiri, menginginkan penilaian orang lain terhadap dirinya. Sutardji Calzoum Bachri yang di juluki sebagai Presidennya Penyair Indonesia, mempunyai pendapat yang tidak jauh berbeda dengan Syarifuddin.
Sutardji pernah datang ke Kalsel, dan menjadi nara sumber dalam Aruh Sastra Kalsel III di Kotabaru pada 2006, serta perjumpaan Mata Banua beberapa kali dengannya, pada event sastra di Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Melalui perbincangan Via sms hingga Rabu (26/10) malam, Sutardji mengatakan kalau pada kenyataannya, penyair yang serius selalu mengembarakan perasaannya atau  feeling dzauqnya, pada lembah-lembah dasar, dari suka duka kemanusiaan, dan selalu konsentrasi pada penciptaan karya puisi.
Profesi penyair adalah menciptakan sajak, dan bukan mengerjakan sajak, atau merealisasikan sendiri puisinya menjadi kenyataan. Tugas terakhir ini dibebankan pada pembacanya.
Pada para pembacalah terjadi realisasi dari puisi itu berupa perasaan, empati, simpati dan sebagainya. Berikutnya realisasi psikologis ini, berkembang menjadi realisasi kongkrit di dunia nyata, berupa tindakan-tindakan yang terinspirasi dari sajak tersebut. 
Karena profesi para penyair cenderung tidak mengerjakan apa yang dikatakannya, maka ada ruang bagi penyair untuk cenderung bisa tergoda untuk bebas, tidak memperdulikan pertanggung jawaban terhadap karya-karyanya.
Ruang bebas itulah yang diberi peringatan oleh Tuhan, agar kebebasan yang dimiliki penyair, selalu dikaitkan pada iman (kecuali para penyair yang tidak beriman).
“Hemat saya, kalau ditafsirkan secara duniawi, bisa berarti para penyair seriuslah yang selalu melandaskan dirinya pada kebenaran, dalam meningkatkan atau mengembalikan martabat manusia, sebagai makhluk termulia di bumi.
Dalam fungsinya sebagai karya, yang ingin melandaskan dirinya pada kebenaran dan martabat manusia yang luhur itulah, puisi menjadi penting. Penting dilihat dari sisi manusia sebagai individu” katanya.
Lanjut Sutardji “puisi bisa meninggikan dan meluhurkan martabat manusia, dan penting dari sisi sosial, puisi bisa menjadi inspirasi untuk menciptakan sejarah.
Dilihat dari sisi kenyataan maupun secara teoritis, puisi bisa menjadi unsur yang menciptakan sejarah, sebagaimana firman Tuhan menciptakan sejarah jagat raya” ungkapnya. ara/mb05

261011-rabu(kamis)-ilmu sastra di kalsel dr sainul.1

Sejauh Mana Pengkajian Ilmu Sastra

BANJARMASIN – Kapan ilmu sastra masuk Kalsel? Pembelajaran ini sulit dijawab dengan memuaskan, jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa dan sastra, sejak zaman sebelum kemerdekaan atau beberapa tahun setelahnya” ujar Sainul Hermawan.
            Setiap kali berbincang dengan Sainul, tidak terlepas dari sudut pandang seoarang pengajar atau akademisi.
Menurutnya, jika pertanyaan pembuka di jawab dengan seiring munculnya sekolah-sekolah di Kalsel, atau sejak didirikannya jurusan pendidikan bahasa dan seni, atau sejak munculnya lembaga-lembaga yang menggeluti sastra, jawabannya mungkin sedikit mudah.
            Jika dispekulasikan dengan awal adanya Prodi PBSID, bisa diasumsikan bahwa sejak saat itu ilmu sastra masuk dalam kurikulumnya. Penelitian sastra di lembaga ini, tentu telah dimulai sejak pembicaraan pertama, yang jejak pertamanya dapat dibaca dalam skripsi pertama alumninya.
            Dimana ketiga bagian ilmu sastra, yaitu teori, sejarah, dan kritik sastra dikaji dalam kaitannya dengan genre sastra yang ada. Namun jawaban pastinya dapat dijawab, dengan penelitian sejarah ilmu sastra di Kalsel yang lebih komprehensif.
“Sekarang yang menjadi pertanyaan, sudahkah penelitian secara komprehensif ini dilakukan?” tanya Sainul.
Seni kata atau lazim disebut sastra, berkembang di wilayah-wilayah kabupaten/kota di Kalsel, dengan kadar kualitas yang beragam. Baik dalam proses kreatif personal, maupun pembentukan organisasi pembelajaran sastra secara komunal.
Wilayah-wilayah tersebut memiliki orientasi yang berbeda, dalam pengembangan genre sastra. Sebagian ada yang cenderung mengembangkan sastra lisan, sebagian lagi mengembangkan sastra tulisan.
Kecenderungan yang menitikberatkan pada konsekuensi kultural masing-masing. Ada yang mengedepankan nilai-nilai modernitas, ada pula yang bertahan dengan nilai-nilai ketradisionalan.
“Maka penelitian secara komprehensif, perlu melihat kondisi-kondisi dinamika kesastraan di seluruh wilayah Kalsel, dalam segala aspeknya. Baik aspek produksi, apresiasi, amupun organisasi dalam kaitannya dengan dimensi sosiokultural dan politik di wilayah tersebut.
Sehingga mesti dipahami,secara lebih mendalam, bahwa aspek keilmuan sastra di Kalsel sangatlah luas” ujar Sainul pada Selasa (25/10) sore. ara/mb05

261011-rabu(kamis)-cara memandang seniman dr syarifuddin

Photo: Drs Syarifuddin R

Cara Memandang Keberadaan Seniman

BANJARMASIN - Sikap dan prinsip hidup seseorang seniman, sering merupakan cerminan kekuatan karya-karya yang diciptakannya” ungkap Drs Syarifuddin R, dalam perbincangan pada Rabu (26/10) sore.
            Menurut budayawan Kalsel ini, dilihat dari sisi penikmat karya seni, dalam bayangan imajinasi memberi gambaran, bahwa setiap karya yang diciptakan senimannya, tentu terlebih dahulu memancar, ke dalam pola tindakan seniman penciptanya.
            Sehingga, apapun bentuk pesan moral atau nilai yang terkandung dalam karya seni yang diangkat ke permukaan, orang pertama yang mesti menjadi anutan nilai itu adalah senimannya.
“Cara memandang keberadaan seniman, seperti tadi tidaklah berlebihan. Karena masyarakat berhak menilai, dan menghendaki kesesuaian karya, dengan alam pikiran pencipta karya seninya” katanya.
Memenuhi harapan masyarakat penikmat seni, bukanlah sesuatu yang sulit, jika gerak batin yang memancar dari karya yang dilahirkan, bersentuhan pada sumbu yang dikehendaki.
Hanya saja dalam kehidupan, selalu ada pengecualian, dan sosok seniman beserta karyanya, tidak serta merta mewakili dirinya sendiri. Karena penilaian pada figur seniman dan karyanya, tidaklah bijaksana, kalau hanya dicermati dari satu sisi implementasi yang lahir semata.
“Harus pula disadari, karya seniman terkadang hanya menunjukkan sebuah keadaan, yang bukan untuk disikapi oleh penikmatnya saja, tetapi jauh kedasar pemilik kuasa” ujar Syarifuddin R. ara/mb05

251011-selasa(rabu)-FKIP Unlam seminar sastra nasional.1 (Dm.di Berita Kaki)

Perkembangan Sastra Mutakhir
Karya Sastrawan Lokal Di Pentas Sastra Nasional

Banyak karya sastrawan kita yang mengangkat atau menceritakan tema lokal, tetapi karyannya tersebut tidak berhasil masuk dalam jajaran karya sastra nasional.

BEBERAPA hari lagi akan dilaksanakan Seminar Nasional Sastra Indonesia, dan Reuni Akbar Alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), yaitu pada Sabtu 29 Oktober 2011, pukul 08.00 Wita sd selesai.
            “Sastra Mutakhir Indonesia” menjadi tema yang diangkat dalam seminar. Bertindak selaku pembicara dari kalangan sastrawan, yaitu Jamal T Suryanata, Tajuddin Noor Ganie, M Arsyad Indradi. Kemudian pembicara dari kalangan akademisi, yaitu DR M Rafiek MPd dan DRS Rustam Effendi MPd PHd.
Menurut M Rafiek MPd, salah satu tujuan dalam pelaksanaan seminar adalah untuk merekatkan hubungan dari alumni Pendidikan Bahasa Indonesia Unlam, dengan membentuk Ikatan Alumni.
Setelah ikatan alumni terbentuk, diharapkan dalam salah satu program kerjanya nanti, ada membuat sebuah buku kumpulan karya sastra dari alumni. Untuk turut serta menambah perbendaharaan karya-karya sastra daerah.
Selanjutnya dalam seminar sendiri, bertujuan memperkenalkan sastrawan Kalsel, yang sudah bisa masuk kejajaran sastrawan nasional, dan menjadi bagian sastra Indonesia.
Topik-topik yang dibicarakan utamanya, terkait dengan karya-karya sastra mutahir, yang telah dihasilkan sastrawan daerah. Lalu sastra Indonesia itu sendiri, dan teori sastra yang digunakan dalam kajian perguruan tinggi.
“Perkembangan sastra di Indonesia, sudah demikian pesat, dan banyak novel-novel yang sudah di filmkan, begitu pula dengan novel Islaminya.
Sedangkan untuk karya sastra di Kalsel, terakhir aku melihat perkembangannya di bidang tulisan ini, ada beberapa yang sudah naik levelnya, dari sastrawan lokal menuju sastrawan nasional.
Sementara khusus karya sastra yang mengangkat tema lokal, lalu berhasil menembus jajaran karya sastra nasional. Artinya, karya sastra sastrawan lokal yang mempunyai tema kedaerahan, lalu karyanya tersebut menasional.
Atau sastrawan kita yang sudah menasional, namun dalam karyanya tetap mengangkat ciri khas daerah di pentas nasional. Kelihatannya saat ini memang belum ada. Walaupun telah banyak karya sastrawan kita yang mengangkat atau menceritakan tema lokal tersebut.
Kita ingin agar ada penulis novel daerah, yang bisa masuk tingkat nasional. Sebenarnya banyak potensi daerah yang bisa diangkat dan dijadikan latar cerita. Untuk dapat mencapai tujuan ini, sangat perlu memanfaatkan semua teknologi yang ada, seperti dengan jaringan dunia maya, yang di gunakan untuk memperkenalkan karya-karya sastra daerah, ke pentas sastra nasional.
Mengenai permasalahan sastra Kalsel, yang lagi ramai dibicarakan, seperti kasus plagiat dll, bisa saja pula menjadi pembicaraan dalam seminar. Yang jelas, aku akan lebih menyoroti krisis kritikus sastra dari kalangan akademisi di Kalsel ini.
Tetapi aku optimis, suatu saat nanti akan lahir generasi kritikus-krtikus sastra kita” pungkas Ketua Prodi Bahasa Indonesia S1 Unlam ini, pada Selasa (25/10) siang, di ruang kerjanya, di FKIP Unlam Banjarmasin. ara/mb02

241011-senin(selasa)-pembangunan TB.1

Photo: mb/ara
MANFAAT – Dari pada gedung perkantoran TB dijadikan halaman terbuka, akan lebih bermanfaat di jadikan galeri lukis untuk sementara waktu

Noor Hidayat, Pertimbangkan Gedung Perkantoran TB Di Depan Menjadi Galeri

BANJARMASIN – Mengingat banyaknya keluhan seniman lukis, mengenai tidak adanya sebuah galeri untuk memajang karya. Kemudian, berharap pemerintah dapat membangunkan galeri, ini tidak mungkin bisa di wujudkan dalam waktu yang cepat. Masalah anggaran serta program kerja, sudah tentu menjadi kendala. Kalaupun dibangun, juga akan memakan waktu.
            “Tempat khusus (galeri) bagi pelukis untuk memamerkan karyanya (selain di museum Banjarbaru), dan dapat dikunjungi masyarakat umum di daerah kita ini, itu yang tidak ada” kata Arsyad Indradi.
            Suci Melati “aku ingin di Banjarmasin ada sebuah galeri, yang bisa memajang lukisan-lukisan karya pelukis daerah Kalsel, dan ada pasar seni yang menjadi tempat khusus untuk menjual karya kami”.
Nanang M Yus  “Galeri itu suatu bangunan yang sangat penting bagi seniman lukis, yaitu suatu karya di tempatkan terus menerus, bukan cuma sewaktu-waktu saja. Kalau ada turis domestik atau tamu luar negeri datang ke Banjarmasin, ada tempat untuk melihat karya-karya pelukis daerah.
Seniman lukis tanpa ada tempat untuk memajang karyanya, baik berupa pasar seni ataupun gedung galeri, perkembangan seni lukis di Banjarmasin dan Kalsel umumnya, tidak akan berkembang dengan baik”
Dan masih banyak lagi komentar dan keinginan para pelukis, dari perbincangan yang pernah dilakukan Mata Banua.
Pada Kamis (20/10) siang kemaren, di ruang kerja Kepala Taman Budaya (TB) Kalsel, di Gedung Perkantoran TB yang berada di depan, Drs H Noor Hidayat Sultan mengungkapkan bahwa ia sangat memperhatikan keluhan para seniman, hanya saja untuk mewujudkan keinginan tersebut, memerlukan proses. Karena bagaimanapun itu tergantung dari keputusan para pengambil kebijakan daerah.
“Fasilitas yang kami miliki, memang masih menjadi pertanyaan dari aspek pemanfaatan, untuk pengembangan seniman kita. Maka kami benahi semuanya secara bertahap.
Saat ini lagi di bangun gedung perkantoran TB yang refsentatif, yang berada di samping kiri sebelah dalam TB, tepatnya di samping gedung Gemilang Kaca. Mudah-mudahan gedung perkantoran TB yang baru ini, bisa selesai dan dapat ditempati sebelum akhir 2011.
Pada 2012 sudah dianggarkan pemerintah provinsi untuk jalan dan pagar TB, menyusul 2013 pembenahan warung di depan TB, yang tidak mencerminkan budaya daerah.
            Apabila gedung perkantoran TB yang baru selesai, dari rencana pemerintah provinsi, nampaknya untuk bagian tengah TB akan dibebaskan, sehingga menjadi panggung terbuka untuk masyarakat.
            Tapi, aku rasa dari pada di hancurkan (diratakan), lebih bermanfaat kalau digunakan untuk menjadi sebuah galeri sementara, sebelum gedung galeri yang sebenarnya dibangun. Hal ini akan kami bicarakan lebih lanjut” ungkapnya. ara/mb05

241011-senin(selasa)-Kfc+musik (di ekonomi)

Strategi Pemasaran KFC Merangkul Musisi

BANJARMASIN – Beragam cara pemasaran dalam menjual produk kepada konsumen, salah satunya seperti yang dilakukan oleh restoran cepat saji PT Fastfood Indonesia (KFC), dengan merangkul para musisi.
Konsumen selain mendapat makanan yang diinginkan, juga mendapatkan satu CD lagu dari musisi Indonesia. Sampai saat ini, KFC berhasil menjual sekitar 16 juta keping CD dari semua outlet yang ada di Indonesia. KFC mendapat keuntungan dari penjualan, dan musisi juga mendapat royalty dari CD yang dipasarkan oleh KFC.
Menurut Santoso Trimandiri Wibowo, Marketing Eksekutif  KFC pusat dari Jakarta, yang berhadir dalam promosi album Ahmad Dhani dan TRIAD yang bertajuk Istimewa, di KFC Duta Mall Banjarmasin, pada Sabtu (22/10) siang.
“Dengan hanya membeli paket yang ada di KFC, yang jumlah nilainya Rp 35 ribu, akan mendapatkan pula satu CD album lagu. Ini salah satu cara KFC dalam memberikan pelayanan kepada konsumen, dan misi kami untuk memajukan dunia musik tanah air dan mempertegas posisi KFC sebagai brandnya kawula muda.
KFC sudah menjalin kerjasama dengan musisi-musisi, dan penyanyi dalam negeri yang sudah punya nama besar. Untuk musisi-musisi baru, tidak menutup kemungkinan untuk turut dirangkul, kami selalu membuka peluang untuk semuanya” ujarnya kepada Mata Banua. ara/mb06

231011-minggu(senin)-PA Nurul Ihsan Gambut (Dm.251011)

Photo: mb/ara
PELAJARAN - Secara rutin seusai sholat Magrib di PA Nurul Ihsan, ada pelajaran fiqih, tasawuf, dan tauhid untuk anak-anak asuhnya

PA Nurul Ihsan
Pernah Berprestasi Dalam Pertandingan Silat

DULU pernah ada latihan silat di PA Nurul Ihsan, selama 3 tahunan dari 2003 sd 2006, sehingga anak-anak sempat berprestasi dalam pertandingan silat.
Tapi karena pelatihnya tidak ada lagi, kegiatan latihan silat menjadi terhenti. Kedepannya kalau ada yang melatih, akan kami lanjutkan, ungkap M Rib’ei (35) pengasuh panti kepada Mata Banua.
            PA Nurul Ihsan, beralamat di Jl A Yani, Km 13 Gambut, didirikan pada 1992. Sholat berjamaah menjadi kewajiban rutin yang harus dilaksanakan oleh anak-anak asuhnya.
Menurut Rib’ei, aktivitas lain di panti, ada menghapal Al Qur’an setiap usai sholat Ashar, sholat Isya dan sholat subuh. Sedangkan seusai sholat Magrib, dilanjutkan dengan wiridan, lalu pelajaran fiqih, tasawuf, dan tauhid.
Kemudian setiap malam Senin ada maulid habsy, dan yang menjadi pemain tarbangnya dari anak-anak panti sendiri, serta sering pula diundang masyarakat untuk membawakan maulid habsy di luar dari panti. Apabila tidak mengikuti kegiatan atau melanggar peraturan, akan mendapat peringatan dan bisa sampai dikeluarkan dari panti.
            Tingkat pendidikan anak-anak asuh, di SD/sederajat ada 13 anak, SMP/sederajat ada 5 anak, SMA/sederajat ada 4 anak, dan yang kuliah ada 3 anak. Salah satunya ada yang kuliah di kedokteran.
Setelah anak-anak lulus SMA, kalau mau kuliah akan dikuliahkan, kalau tidak akan di ikutkan dalam kursus keterampilan. Usia anak asuh yang paling muda umur 7 tahun, dan yang paling tua umur 22 tahun, sudah hampir lulus kuliah. Karena banyak yang sekolahnya dekat dengan panti, jadi berangkat sekolah jalan kaki. Kecuali yang sekolahnya jauh, baru naik taksi.
Paling banyak anak asuh berasal dari daerah Tamban, kemudian ada pula dari Anjir, Manarap, Pemurus, Aluh-aluh, Amuntai, Banjarmasin dan Kapuas. Anak-anak boleh pulang ke rumah keluarganya, apabila ada hal-hal yang penting saja.
            Ada 4 kamar tidur untuk anak asuh, satu kamar maksimal 7 anak. Penempatan kamar tidur untuk anak-anak tidak diacak atau di campur, tetapi yang kecil khusus yang kecil dan yang dewasa khusus dewasa.
            Biaya yang dikeluarkan untuk makan setiap minggu sekitar Rp 700 ribu, ditambah dengan pengeluaran lainnya. Sedangkan pemasukan atau sumbangan masyarakat, tidak tetap, kadang-kadang bisa mencapai Rp 10 jutaan per bulan.
            “Terkadang anak-anak suka bercanda kelewatan antar mereka, sehingga terjadi perkelahian. Tapi biar begitu, mereka cepat berbaikan.
Masing-masing anak punya tabungan, ada yang sudah mencapai Rp 11 juta. Karena melihat temannya, bisa membeli kendaraan dari uang tabungannya sendiri, yang lain menjadi termotivasi pula ntuk menabung” pungkas Rib’ei yang sudah menjadi pengasuh di PA Nurul Ihsan, selama 6 tahun. araska

231011-minggu(senin)-Kfc+dani (Dm.di Pentas)

Photo: mahfuz

Wanita Istimewa Ahmad Dhani

DINAMAKAN Album Istimewa, karena ada lagu yang istimewa, ungkap Ahmad Dhani, saat menjelaskan album terbarunya dengan TRIAD yang bertajuk “Istimewa”, di KFC Duta Mall Banjarmasin pada Sabtu (22/10) siang.
Album Istimewa memuat 12 lagu, yaitu Ratu Di Hatiku, Istimewa, Sedang Ingin Bercinta, Dua Sedjoli, Sudah, Separuh Nafas, Cinta Gila, Bidadari Kesunyian, Hidup Adalah Perjuangan, Bukan Rahasia, Terbakar, dan versi akustik dari lagu Istimewa.
            Di cecar Mata Banua dengan pertanyaan siapa wanita istimewa yang di maksud, Dhani hanya menjawab “tentunya seorang wanita yang istimewa di mata saya”.
            Dua lagu Dhani yang terbaru menceritakan tentang wanita istimewa ada pada Ratu Di Hatiku dan Istimewa, dengan lirik yang antara lain berbunyi:
            Ratu Di Hatiku. Pernah aku mencintai wanita, tapi tak seperti saatku mencintaimu. Pernah aku merindukan wanita, tapi tak seperti saatku merindukanmu. Kamulah ratu di dalam hatiku, kucinta kamu sampai mati. Takkan pernah ada wanita yang bisa menggantikan kamu di hatiku, menjadi ratu dihatiku.
            Istimewa. Kau takpernah mencoba untuk membalas semua pesan singkatku, padahal itu menyenangkanku. Di sini aku menantimu, bersama waktu yang membunuhku, tapi kau tak pernah menyambutku. Kamu begitu indah, begitu cantik, begitu istemewa. Mungkinkah kamu jadi miliku slalu. Sudah banyak caraku lakukan, agar kamu tahu perasaan, cintaku ini kepada kamu.
            Menjawab pertanyaan Mata Banua berikutnya, mengenai kritik masyarakat terhadap kata-kata yang tidak pantas atau seronok dalam lirik lagu. Menurut Dhani “setuju tidak setuju tergantung pengarang lagunya. Pada dasarnya, saya sendiri suka kata-kata yang seronok. Tapi dalam lagu-lagu saya yang disenangi masarakat, tidak ada kata-kata yang seronok” ujarnya.
            Kehadiran Dhani di KFC Duta Mall hanya ditemani Wahyu pemain gitar T.R.I.A.D atau The Rock Indonesia Ahmad Dhani, dalam rangka promosi album Istimewa, yang baru diluncurkan pada 6 Oktober 2011 yang lalu.
Empat anggota T.R.I.A.D lainnya, Ikmal (drummer), Icez (bassis), Mitha (gitaris), dan Tharaz (gitaris), sudah lebih dulu pulang ke Jakarta. Pada kesempatan tersebut Dhani menyanikan dua buah lagu untuk para Triaders, salah satunya adalah Ratu Di Hatiku.
Album Istimewa sendiri dihasilkan dari kerjasama antara KFC Indonesia, Musik Factory Indonesia, dan Republik Cinta Management (RCM). Setiap membeli paket yang ada di KFC, yang jumlah nilainya Rp 35 ribu akan mendapatkan pula satu CD album Istimewa.
“Kami ingin agar masyarakat tahu bahwa album terbaru kami hanya dijual di KFC, tidak dijual di tok-toko. Jadi bagi para Triaders hendaknya membeli di KFC” pungkas Ahmad Dhani. ara/mb04

211011-jumat(sabtu)-TB.PKBSS-La bastari (Dm.di berita kaki)

Photo: mb/ara
NUANSA LOKAL – Pementasan teater nuansa lokal dari kabupaten HSS yang berjudul Galuh, pada Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai, di Taman Budaya Kalsel, membawa penonton hingga klimaks pertunjukkan

Garapan Apik Warna Lokal
Seberapa Banyak Kreativitas Penulis Naskah Teater Kalsel

Ditengah keterbatasan finansial sebuah kelompok teater, tetap kreatif dan mengutamakan kualitas, lalu mengangkat tema lokal, ditaburi nuansa mistik, diselingi tari-tarian dan totalitas karakter dari tokoh yang dimainkan, serta pesan sosial terhadap kondisi kekinian, menjadi suatu suguhan yang langka

SATU MINGGU lagi, Taman Budaya Kalsel akan menggelar Lomba Teaterikal Puisi, tepatnya Sabtu 29 Oktober 2011, dimulai dari pukul 09.00 Wita sampai dengan selesai. Tidak salah kalau kembali membicarakan suatu pementasan yang berkualitas, yang  kental dengan nuansa tradisi lokal.
Siapa yang tidak kenal dengan kata intan. Keindahan batu alam yang memukau kaum wanita di seluruh dunia ini, menjadi perhiasan yang mahal harganya.
Dibalik keindahan intan,  dalam tradisi masyarakat Banjar, pada proses pencariannya yang disebut mandulang, sangat kental dengan nuansa mistik, yaitu kepercayaan terhadap hal gaib yang menyelimutinya.
            Menjadi sangat menarik lagi, ketika kreativitas penulis naskah teater Kalsel, mengangkat tema cerita intan dan mandulang, ditaburi nuansa mistik, diselingi tari-tarian dan totalitas karakter dari tokoh yang dimainkan.
            Membuka kembali catatan kegiatan pentas teater, dalam Gelar Seni Budaya - Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai di Taman Budaya (TB) Kalsel, 07 sd 16 Juli 2011 yang lalu. Pada Rabu 13 Juli 2011, pukul 20.00 Wita di gedung Gedung Balairung Sari TB Kalsel, menyuguhankan pementasan teater dari Posko La Bastari Kandangan, kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), yang berjudul Galuh.
            La Bastari, menampilkan pementasan warna lokal dengan garapan yang apik, dipadukan dengan tari-tarian daerah, diselingi nuansa mistik. Tata panggung yang menghadirkan keadaan pendulangan intan, memberikan gambaran situasi yang melingkari misteri para pencari intan. Penghayatan dan penjiwaan tokoh dan peran dari pemain yang total, membawa penonton hingga klimaks pertunjukan.
            Beberapa dialog dari pemain juga menyelipkan kritik sosial, terhadap ekspansi perkebunan yang menjarah tanah masyarakat, dan tidak peduli terhadap keseimbangan lingkungan.
            Pementasan teater dari kabupaten HSS ini, menceritakan tentang sekelompok pendulang melakukan ritual pemujaan Batara Kala, meminta dipertemukan dengan Galuh, sang penguasa kawasan pendulangan.
Hingga Galuh Mayang Sari Kemilau, sang penguasa kerajaan Awang-Awang Kemilau menampakkan diri, seraya memperlihatkan sebongkah intan besar. Tetapi intan akan diserahkan jika para pendulang memenuhi persyaratan, yaitu palas darah atau tumbal manusia.
            Seusai pertunjukan, Burhanuddin Soebely selaku sutradara yang juga bekerja di Dinas Pariwisata HSS, menjabat Kabid Kesenian, menjelaskan kepada Mata Banua.
Katanya, walau kami hanya latihan satu bulan, kami berusaha tampil maksimal. Intisari dari pementasan ini, menceritakan tentang kawasan pendulangan, yang mempunyai banyak misteri yang harus diungkap, dan ada persentuhan antara kawasan pendulangan dengan dunia lain atau dunia gaib.
            Masyarakat mempercayai, bahwa dibalik kawasan pendulangan ada orang-orang halus, yang kemudian kita kombinasikan dengan realitas yang ada, bahwa dua dunia ini tidak bisa bersentuhan.
            Sedangkan pesan dari naskah yang kami bawakan, bahwa kadang-kadang orang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, dan hal-hal seperti itu bukan hal yang bagus. Namun, lingkungan dunia gaib juga harus dihormati di kawasan pendulangan tersebut.
            Menurut Burhanuddin, La Bastari semenjak didirikan dari 1979, selalu terpusat pada warna lokal, dan menceritakan tentang daerah. Terakhir La Bastari menampilkan pementasan teater di Banjarmasin pada 1998, selanjutnya hanya tampil di dalam daerah kabupaten HSS saja.
“Karena hari ini kepala TB memfasilitasi untuk tampil, kami manfaatkan dengan sebaiknya. Kedepannya kami akan melakukan regenerasi dulu dalam La Bastari, karena cukup sulit mencari penerus generasi muda” ujarnya.
            Ida Nurlaila, salah seorang pemeran ibu, yang anaknya dijadikan tumbal dalam pementasan Galuh, menambahkan “aku sudah ikut bergabung dalam La Bastari, semenjak SMP yaitu sekitar 1989. Walaupun dukungan pemerintah kabupaten HSU kurang terhadap kami, tapi kami tetap berusaha menampilkan yang terbaik” pungkasnya. ara/mb02

211011-jumat(sabtu)-kejujuran penyair dr Zawawi.1

Photo: D Zawawi Imron

Penyair Harus Tampil Dengan Bahasanya Sendiri

BANJARMASIN - Bagaimana mungkin sebuah penghargaan akan ditepis jika nurani masih bisa bicara dalam kejujuran, ungkap D Zawawi Imron, sastrawan pulau Madura yang dijuluki sebagai Sang Celurit Emas.
            Zawawi pernah datang ke Kalsel, pada Aruh Sastra Kalsel pertama 2004 di Kandangan, dan Aruh Sastra ke tiga 2006 di Kotabaru, sebagai pembicara dalam seminar sastra.
Membicarakan sebuah kejujuran dalam karya, Mata Banua berbincang dengan Zawawi via telepon, pada Jumat (21/10) sore. Walau dengan bahasa yang sangat halus, ia mengungkapkan arti sebuah kejujuran dalam karya.
            “Pada makalahku yang berjudul Cermin Kata Di Batas Laut, dalam Aruh Sastra ke tiga, yang aku tulis untuk antologi puisi Eko Suryadi WS yang berjudul Di Batas Laut. Dalam pemaparanku tersebut, terselip arti kejujuran sebuah karya, silahkan kau cari kembali makalahnya, dan kau simak kembali apa yang telah aku katakan” ujarnya.
            Menurut Zawawi, nurani memang harus bicara, betapapun kecilnya persoalan. Sekecil-kecil persoalan, jika diterjemahkan kedalam bahasa keindahan yang memadai, akan menjadi puisi yang baik.
Proses penerjemahan dalam olah seni itu, tentu didahului oleh keterlibatan batin, yang bukan hanya berhenti pada obsesi. Tetapi harus terjadi pergumulan, dialog, olah pikir, olah rasa dan olah bahasa, sehingga terjemahan dari peristiwa batin itu tampil ke dunia menjadi puisi.
            Kata-kata otentik menjadi nilai tersendiri bagi puisi, karena puisi adalah pernyataan diri yang menggunakan kata-kata atau bahasa. Maksudnya, seorang penyair yang kreatif punya tugas untuk tidak meminjam kalimat penyair lain (mengambil atau mengakui kalimat penyair lain, menjadi milik sendiri).
            Setiap penyair, kata Sutardji Calzoum Bachri, harus lahir dan tampil dengan bahasanya sendiri. Bahasa yang otentik dan menunjukkan sosok kepribadiannya sendiri, yang membedakan dirinya dengan orang lain. ara/mb05


201011-kamis(jumat)-wacana penampilan seni rutin di bjm.2

Photo: mb/ara
SENI SISWA – Selama ini di kota Banjarmasin, penampilan seni siswa hanya pada event tertentu saja

Penampilan Seni Siswa Di Banjarmasin Harus Lebih Baik

BANJARMASIN – Pada kenyataannya animo pelajar terhadap seni budaya itu banyak, hanya tidak tersosialisasi dan terbina dengan baik” ungkap kepala sekolah SMAN 6 Banjarmasin, Drs H Zaniuddin MPd, dalam sebuah kegiatan di sekolahnya. pada akhir Juli (28/7) yang lalu
“Tapi kami tidak bisa melakukannya sendiri, dengan keterbatasan yang ada, kami selalu berusaha mengembangkan minat anak-anak terhadap kesenian tradisional, tari-tari tradisional, maupun dalam sastra seperti puisi. Dan khusus pengembangan musik tradisional, SMAN 6 selalu konsisten.
Hanya untuk lamut, kami masih belum tahu banyak, tapi kami ada keinginan untuk menggali potensi anak-anak dalam lamut. Kami berkeinginan ada pelatihan lamut di sekolah, agar lamut bisa dikembangkan lebih jauh lagi” katanya.
            Sebelumnya Mata Banua telah menanyakan respon beberapa kepala sekolah, mengenai wacana penampilan seni siswa secara rutin, dan bergiliran di tengah masyarakat. Dari komentar yang di dapat, semuanya menanggapi positif.
            Antara lain dari Hj Rusmadiyah SPd, Kepala SDN Kebun Bunga 5 Banjarmasin, dan Drs H Ariman Yana Husni, Kepala SMPN2 Banjarmasin, yang berharap, tidak hanya tampil begitu saja, yaitu hanya karena mendapat giliran. Tetapi harus menampilkan prestasi, dan yang ditampilkan harus benar-benar berkualitas.
Serta harus ada penilaian mana penampilan terbaik, berapa jumlah nilainya, yang berguna sebagai masukan bagi sekolah yang bersangkutan, dan sebagai koreksi.
Selasa (18/10) pagi, via telepon Mata Banua menanyakan kembali komentar-komentar seputar wacana tersebut. Kata Zaniuddin, kepala sekolah SMAN 6 Banjarmasin, apabila ada penampilan seni siswa terbuka dan rutin, SMAN 6 sangat respon dan menyambut gembira.
“Kalau memang, ada wahananya disediakan, SMAN6 akan mengikutinya. Untuk penilaian, aku kira nanti dulu. Penilaian bisa saja dilakukan, bila pengembangan seni di sekolah-sekolah, dan kegiatan penampilan seni siswa di tengah masyarakat telah berjalan secara rutin, baru di tingkatkan dengan sistem penilaian.
Pertama-tama, biarkan berjalan apa adanya, agar tidak menjadi beban untuk sekolah yang bersangkutan. Dan yang harus ditekankan, adalah menanamkan seni dalam dalam diri siswa, sehingga menjadi kebiasaan. Bukan hanya untuk mengejar nilai saja” ujarnya.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan kota Banjarmasin Drs Muhammad Amin MT, anak-anak kita punya kreatifitas yang di bina oleh guru-gurunya. Sesuai perannya, Dinas Pendidikan itu untuk membina di tingkat pelajar, melalui muatan lokal. Baik kesenian dalam pelajaran di sekolah, dan kegiatan eskulnya.
Kita lihat perkembangannya, bagaimana nantinya kemungkinan kerjasama, untuk penampilan seni siswa terbuka di tengah masyarakat, bisa ditampilkan rutin tiap minggu, terserah dimana tempatnya yang dianggap baik. Disdik selalu mendukung kegiatan positif seperti itu.tersebut, untuk mengisi waktu-waktu siswa, di luar jam belajar di sekolah.
Sementara, Sekretaris Daerah, Drs H Zulfadli Gazali MSi mengatakan, hal itu ada kemungkinan bisa dilaksanakan. “Kalau Banjarbaru dapat melakukannya, kita juga harus lebih baik lagi” pungkasnya. ara/mb05

201011-kamis(jumat)-Kejujuran Menulis Di Sekolah (Dm.241011)

Photo:mb/ara
SEJAK DINI - Proses penanaman kejujuran lewat menulis dalam pelajaran bahasa Indonesia, harus ditekankan sejak dini disekolah

Pelajaran Bahasa Indonesia Hanya Mengejar UN

BANJARMASIN - Sastra penting bukan hanya dilingkup teks, tapi juga sampai ke praktek. Misalnya pendidikan sastra di sekolah dianggap penting, bukan persoalan menghapal nama-nama, bukan persoalan siswa pintar, lalu mewakili daerah membuat cerpen, kalau ia tidak jujur! Ungkap Raudal Tanjung Banua, sastrawan Yogyakarta pada Selasa (18/10) sore di Taman Budaya Kalsel.
             Sebelumnya, Sainul Hermawan kritikus sastra Kalsel, beberapa waktu yang lalu, secara pajang lebar telah menjelaskan dengan Mata Banua.
            “Untuk dunia pendidikan, penanaman kejujuran, juga bisa melaui tulis menulis. Ketika tulis menulis menjadi pelajaran penting disekolah, maka pembelajaran tetang kejujuran, harus diletakkan sebelum pembelajaran menulis itu dimulai.
Persoalannya, kejujuran mungkin tidak pernah diajarkan melalui proses tulis menulis. Saya yakin, kejujuran dalam sebuah karya di sekolah-sekolah, jarang diperbincangkan. Kalaupun diperbincangkan, mungkin hanya 0,1 persen saja. Guru-guru bahasa kita, tidak sibuk dengan hal seperti itu, guru bahasa kita sibuk dengan pelajaran-pelajaran instrumentalis.
Ketika para guru sibuk mengajarkan bahasa Indonesia secara instrumentalis, untuk menghadapi kepentingan Ujian Nasional (UN), dan para guru hanya tersihir dengan kebijakan UN. Yaitu pelajaran-pelajaran yang hanya dipersiapkan, untuk menjawab A B C D dalam UN, yang secara umum sudah menjadi rahasia, bahwa dalam prosesnya, selalu saja ada kecurangan” katanya.
Menurut Sainul, jika kejujuran itu memang bisa dilakukan disekolah, proses penanaman kejujuran lewat menulis itu harus ditekankan. Tidak hanya disekolah, bahkan juga harus ditekankan diperguruan tinggi. Baik dalam pelajaran atau perkuliahan, bahwa dalam menulis apapun,  prinsip-prinsip pembelajaran untuk menghindari penjiplakan, menjadi wajib diajarkan.
“Tapi, melihat situasi kejujuran sekarang, apalagi dalam sastra dan tulis menulis, bisa dikatakan bahwa betapa mahanya kejujuran saat ini” ujarnya. ara/mb05


191011-rabu(kamis)-pertanggung jawaban penulis dr Raudal

Photo: Raudal Tanjung Banua

Pertanggung Jawaban Penulis Tidaklah Sederhana

BANJARMASIN – Dunia menulis adalah dunia spiritual, artinya pertanggung jawaban menulis tidaklah sederhana, ungkap Raudal Tanjung Banua pada Selasa (18/10) sore di Taman Budaya Kalsel.
            Raudal, sastrawan Yogyakarta yang baru datang dari Kotabaru, seusai memberikan workshop penulisan cerpen untuk mahasiswa, pelajar dan guru. Ia kembali mampir ke Banjarmasin, dan selanjutnya akan pulang ke Yogyakarta pada esok harinya (Rabu pagi).
            Dalam perbincangan singkat dengan Mata Banua tersebut, lanjut Raudal “pertanggung jawaban yang aku maksud, misalnya kita menulis, lalu di baca publik, maka pertanggung jawaban hanya kepada publik, tidak sesederhana itu saja.
            Pertama-tama yang diajarkan dalam menulis itu, adalah kejujuran kepada diri sendiri. Sebab, orang lain bisa saja tidak tahu kita memplagiat karya siapa, bisa jadi seumur hidup tidak terbongkar. Syarat penulis yang baik adalah kejujuran.
            Oleh karena itu, sastra penting bukan hanya dilingkup teks, tapi juga sampai ke praktek. Misalnya pendidikan sastra di sekolah dianggap penting, bukan persoalan menghapal nama-nama, bukan persoalan siswa pintar, lalu mewakili daerah membuat cerpen, itu semua menjadi tidak berarti, kalau ia tidak jujur.
Bila terjadi plagiat dalam suatu lomba, yang mempunyai moment atau event tersendiri, yang berhubungan dengan banyak orang, dan efeknya merugikan orang lain. Kalau sudah terbukti, maka pelaku harus meminta maaf, baik kepada kepanitiaan dan kepada publik, ia harus mengembalikan hadiahnya. Kalau pelaku tidak melakukannya, maka panitia dan juri harus bertindak memanggil dia” ujarnya.
            Ditanyakan apa sering terjadi kasus plagiat di Yogyakarta, menurut Raudal, itu mungkin saja terjadi, hanya tidak menjadi kasus yang heboh. Karena kasus plagiat di Yogya, masih belum ditemukan bukti terjadi dalam suatu event lomba, paling-paling hanya plagiat karya yang dikirim ke suatu media massa. ara/mb05