Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Kamis, 13 Oktober 2011

Sastrawan Kalsel Era Tahun 80-An

BANJARMASIN – Seringkali pihak luarlah yang melakukan penelitian terhadap perkembangan sastra Kalsel. Sedang dari dinas maupun instansi terkait, kalaupun ada hampir-hampir tidak diketahui masyarakat luas.
Kembali menyusuri jejak sejarah pelaku dan pejuang sastra, Mata Banua meminta Micky Hidayat pada Rabu (10/11) siang, untuk menceritakan apa yang diketahuinya.
Menurut Micky, pada dekade 1980-an berdasarkan hasil penelitian tak resmi penyair Jogja Bambang Widiatmoko, Kalsel diklaim menduduki peringkat kedua, dalam kategori populasi penyair terbanyak di Indonesia setelah Jogjakarta. Event-event sastra seperti forum diskusi, atau temu sastrawan juga marak diselenggarakan di berbagai kota dan kabupaten di wilayah Kalsel.
Forum sastra paling monumental di era 1980-an, adalah Forum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan 1982, yang digagas oleh Himpunan Penyair  Muda Banjarmasin  (HPMB). 
Sastrawan atau penyair  yang menonjol,  dengan  wawasan estetik puisi dan menemukan gaya pengucapan atau bahasanya sendiri, serta beberapa di antaranya memiliki reputasi kepenyairan nasional pada dekade ini, antara lain  Ajamuddin Tifani, Ahmad Fahrawi, Burhanuddin Soebely, Tarman Effendi Tarsyad  (walaupun  awal  ke-munculan keempat sastrawan ini pada dekade 1970-an, tapi oleh Abdul Hadi WM di Forum Puisi Indonesia ’87 di TIM dikategorikan sebagai generasi penyair 80-an).
Selanjutnya penyair lain yang dikategorikan penyair tahun 80-an, yaitu “Agus Suseno, M Rifani Djamhari, Noor Aini Cahya Khairani, Ali Syamsuddin Arsi, Ariffin Noor Hasby, Sandi Firly, Fahruraji Asmuni, Eddy Wahyuddin SP, Muhammad Radi, Zain Noktah, Kony Fahran (kini bermukim di Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim).
Kemudian, Jamal T Suryanata,  Eko Suryadi WS,  Abdul Karim, Tajuddin Noor Ganie, Radius Ardanias, Maman. S Tawie, Iwan Yusi, Micky Hidayat, Akhmad setia Budhi, Aria Patrajaya, Sri Supeni, Mas Alkalani Muchtar, dan lain-lain.
“Iklim bersastra yang terbilang kondusif dan bergairah pada dekade 80-an dan 90-an tersebut, boleh dikata merupakan era kebangkitan sastra Kalsel, dengan ledakan-ledakan kreativitas, yang telah berimplikasi melahirkan sejumlah sastrawan, dengan kapasitas intelektual dan  kegigihan  idealisme, yang  cukup  penting  diperhitungkan pada khasanah sastra Indonesia” ujar Micky. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua
pada Rabu 10 Nopember 2010 – TIDAK DI MUAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar