Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Sabtu, 23 April 2011

MB - Orang Banjar Sedikit Yang Bisa Menulis Sastra Banjar

BANJARMASIN – Bahasa Banjar sebagai bahasa ibu orang Banjar sepatutnya adalah bahasa yang paling dikuasai, tapi pada kenyataannya bahasa Banjar dalam sastranya sangat minim penulis. Dan buku-buku sastra yang berbahasa Banjar juga sangat sedikit ditemukan.
Hal ini terlihat jelas dengan sedikitnya peserta dalam lomba cipta puisi bahasa Banjar, yang hanya ada 56 peserta dan lomba mengarang cerpen bahasa Banjar yang hanya ada 54 peserta, pada lomba yang dilaksanakan oleh pantia Aruh Sastra Kalsel VII yang berakhir pada 20 Agustus 2010 tadi. Sementara Aruh Sastranya sendiri akan dilaksanakan pada 26 sd. 28 September 2010 di Tabalong.
Dibandingkan dengan jumlah penduduk mayoritas urang Banjar di Kalsel, pengajar bahasa muatan lokal di sekolah-sekolah, sarjana-sarjana bahasa lulusan FKIP, dengan yang menguasai penulisan dalam sastra Banjar, sangat tidak sebanding.
Menurut Sainul Hermawan, dosen pengajar mata kuliah Teori Sastra di FKIP Unlam Banjarmasin ”para pemerhati bahasa Banjar sering menyatakan bahwa bahasa Banjar adalah bahasa tutur. Maka kekuatan sastra Banjar pun terletak pada momen tuturnya.
Sastra Banjar dalam bentuk tulisan adalah sastra Banjar yang dingin, yang mungkin hanya memuaskan pikiran dan belum tentu menyentuh perasaan” katanya.

Komentar Juri Lomba
Beberapa juri lomba cipta puisi bahasa Banjar dan lomba mengarang cerpen bahasa Banjar dalam Aruh Sastra Kalsel VII, berkomentar:
Ali Syamsudin Arsi juri puisi, berkata “ada kesenjangan dari karya yang masuk karena banyak yang masih pemula. Sementara yang menjadi juara satu, dari karyanya mempunyai konteks yang kuat tapi tema mengambang.
Kemudian peserta lain banyak bahasa yang mereka gunakan campur aduk, tidak tetap apakah menggunakan bahasa Banjar hulu atau bahasa Banjar kuala. Sebagai orang Banjar sepatutnya menguasai bahasa daerahnya. Untuk lomba seperti ini harus lebih digiatkan lagi agar ada penguatan, tidak cuma satu tahun sekali”.
Nailiya Nikmah juri cerpen, berkata “secara umum, semua naskah standar saja, tapi memang ada beberapa yang memiliki nilai lebih, terutama dalam hal ide cerita dan diksi.
Problemnya masih banyak peserta yang memakai bahasa Banjar terjemahan dari bahasa Indonesia, jadi maknanya kurang tepat. Ibarat makanan rasanya kurang pas dilidah.”
Aliman Syahrani juri cerpen, berkata “yang benar-benar Banjar dan berkualitas sangat sedikit, ada jarak yang sangat jauh antara pemula dan senior”.
Dilain pihak Drs Mukhlis Maman lebih menyoroti permasalahan publikasi, katanya “kalau dilihat dari sastra Banjar, berarti kegiatan kali ini kurang menarik animo dari masyarakat.
Seni sastra itu sendiri, padahal komunitasnya sangat banyak. Atau bisa saja faktor teknis yang tidak maksimal, baik waktu pelaksanaan, materi kegiatan, dst. Secara pribadi aku sangat prihatin dengan keadaan ini” pungkas Pemerhati Budaya ini. ara/mb05

-----------------
Di setor Kamis, 16 September 2010
Di muat Sabtu, 18 September 2010/ 09 Syawal 1431 H
-         dengan judul Peserta Lomba Puisi Minim
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 4

MB - Kembali Kekampus Untuk Belajar Menjadi Guru

BANJARMASIN – Situasi di sebagian kampus sudah mulai terlihat aktiv kembali pada Selasa (14/9), setelah melalui liburan lebaran.
Annisa, salah satu staf perpustakaan IAIN Antasari Banjarmasin, berkata “hari ini semua staf pegawai universitas mulai masuk kerja, sedang kegiatan perkuliahan tergantung dari dosen pengajar masing-masing”, tuturnya.
Sementara itu Laila Mahasiswi FKIP Unlam yang baru datang dari pulang kampung di HSU, mengatakan kalau ia aktif masuk kuliah kembali pada hari Kamis ini.
Agak berbeda dengan universitas negeri terutama mahasiswa kelas ekstensi, “Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani akan memulai aktivitasnya pada tanggal 18 September” kata PD1 Fakultas Pertanian Uvaya Banjarbaru yang akrab disapa dengan Edy menjelaskan.

Kebutuhan Guru Seni
Dalam suatu kesempatan Sainul Hermawan dosen FKIP Unlam Banjarmasin, mengatakan “yang paling diperlukan saat ini adalah pengajar seni. Kalsel sangat kekurangan guru-guru pengajar yang benar-benar lulusan fakultas jurusan seni di sekolah-sekolah dasar hingga sekolah tingkat atas. Itulah yang mendasari FKIP Unlam Banjarmasin membuka jurusan Sendratasik (Seni Drama, Tari dan Musik), jurusan ini di buka mulai dari tahun 2009 yang lalu.
Kenyataan ini memang terlihat dilapangan/ disekolah-sekolah, bahwa guru pengajar seni disekolah, terutama untuk SMP, kebanyakan bukanlah dari jurusan seni atau pekerja seni. Terkadang dari guru mata pelajaran lain yang karena guru seninya tidak ada, lalu diserahi tugas untuk mengajar seni” ujarnya.
Mengenai perkembangan minat mahasiswa sebagai guru, Naparin, PD3 Bidang Kemahasiswaan FKIP Unlam mengatakan: “bahwa dari 6000 calon mahasiswa yang mendaftar di Unlam, 4000 masuk di FKIP dan yang diterima ada 1300 orang.
Jadi peminat yang masuk FKIP itu lebih banyak dari fakultas lain, begitu juga yang ingin masuk jurusan Sendratasik. Namun khusus untuk jurusan Sendratasik, mahasiswa yang diterima masih dibatasi, karena fasilitas alat bantu perkuliahan masih belum lengkap, seperti tari yang memerlukan ruang kaca dan fasilitas yang lainnya” pungkasnyamenjelaskan. ara/mb05


-----------------
Di setor Selasa, 14 September 2010
Di muat Jumat, 17 September 2010/ 08 Syawal 1431 H
-         dengan judul Kalsel Kekurangan Guru Seni
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5

Photo yang dimuat - Dokumentasi ARAska

MB - Disdik Pantau Hari Pertama Mengajar

BANJARMASIN – Hari pertama aktivitas belajar mengajar disekolah-sekolah mulai dilaksanakan pada Rabu (15/9) setelah libur lebaran. Untuk memantau kedisiplinan para pengajar, Dinas Pendidikan melakukan pemantauan dan pengawasan langsung kesekolah-sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) kota Banjarmasin Nor Ipansyah, mengatakan “hari ini kami langsung datang  kesemua sekolah yang ada di Banjarmasin, semua pengawas sekolah mencek absensi kehadiran guru-guru dan Alhamdulillah tidak didapati ada guru yang tidak berhadir tanpa keterangan yang jelas.
Apabila didapati ada guru dan kepala sekolah yang tidak hadir tanpa keterangan yang jelas, maka Dinas Pendidikan Banjarmasin akan memberikan sangksi kepada yang bersangkutan.
Entah itu nantinya sanksi yang ringan, seperti teguran secara lisan maupun tertulis, ataupun dikenakan sanksi yang berat apabila didapati ada yang tidak masuk kerja, dengan jumlah ketidak hadirannya selama 40 hari. Hal ini sesuai dengan peraturan Pemerintah No.53 Tahun 2010, yang mengatur tentang hukuman dan pemberian sanksi” katanya menerangkan lebih jauh.
Sesaat sebelum wawancara dengan Mata Banua, Nor Ipansyah tampak memberikan arahan kepada salah satu stafnya untuk mencari sebuah kelotok yang bisa disewa. Ketika dikonfirmasi tentang kelotok tersebut, ia menjelaskan bahwa “Disdik kota Banjarmasin juga akan berpartisipasi memeriahkan acara tanglong pada peringatan hari jadi Kota Banjarmasin, tapi Disdik tidak melakukannya sendiri melainkan bekerjasama dengan bagian lain, biasanya dengan bagian hukum dan perlengkapan.
Untuk konsep desain tanglong yang akan digunakan belum diputuskan, tapi yang jelas untuk desain kelotoknya sudah pasti perahu naga, desain tanglongnya akan dibahas sama-sama”, tuturnya.
Dilain pihak, Maskunah staf pengajar SMA PGRI 4 Banjarmasin, berkomentar “tadi memang ada pengawas dari Dinas Pendidikan Banjarmasin datang mencek absensi kehadiran, dan kami tidak tahu kalau hari ini ada pemantauan langsung ke sekolah-sekolah.
Tapi karena hari ini sudah diberitahukan oleh kepala sekolah untuk masuk, maka semua guru di sekolah tentunya berhadir, dan aktifitas seperti biasanya, yaitu belajar dan mengajar” kata guru bahasa Inggris ini saat diminta keterangan keadaan situasi hari pertama masuk mengajar. ara/mb05


-----------------
Di setor Rabu, 15 September 2010
Di muat Rabu, 16 September 2010/ 07 Syawal 1431 H
-         dengan judul Disdik Sidak Sekolah
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 4

MB - Kemeriahan Malam Lebaran Dengan Bamariaman

BANJARMASIN – Dari Pantauan Mata Banua di mulai dari Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura pada malam lebaran, meriah dengan suara petasan yang saling bersahutan diantara gema takbir pada setiap masjid dan musholla.
Sementara itu di jalan raya sesekali lewat mobil tanglong masyarakat yang melalukan takbir keliling kota, lengkap dengan tetabuhan beduk.
Di Banjarmasin, takbir keliling dilakukan spontanitas dari masyarakat. Sementara jalan raya di depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin menjadi rute yang kerap kali dilalui. “ini untuk menyemarakkan malam lebaran” kata salah satu masyarakat yang ikut takbir keliling.
Sedangkan di Banjarbaru, lapangan sepak bola Dr.Murjani menjadi rute utama takbir keliling masyarakat Banjarbaru.
Kemudian di Martapura, lapangan CBS menjadi sentral berkumpulnya masyarakat untuk menyaksikan takbir keliling kota. Sepanjang jalan raya di depan Kantor Bupati penuh sesak dengan muda-mudi yang menyaksikan petasan yang menghiasi langit Martapura.
Pukul 23.00 wita, masyarakat Martapura berduyun-duyun kesepanjang pinggiran sungai Martapura di jembatan pesayangan. Masyarakat berjejal untuk menyaksikan acara Bamariaman yang telah menjadi ciri khas pada setiap tahun malam lebaran di kota Intan ini.
Kerasnya dentuman Mariaman terdengar saling bersahutan dari kedua pinggiran sungai pesayangan dan pekauman yang berseberangan. Suara yang memekakkan telinga ini terdengar jauh hingga 5 kilometer.
Mariaman-mariaman ini bukan terbuat dari batang bambu, tapi dari kaleng-kaleng yang disatukan memanjang. Jari-jari kaleng kurang lebih 20 cm, sedangkan panjang susunan kaleng yang disatukan lebih dari 3 meter. 
Menjelang adzan subuh baru suara dentuman ini berakhir. “Akan sangat bagus kalau acara seperti ini dikelolan dengan baik, ini tentunya bisa menjadi wisata tahunan yang akan lebih banyak lagi dikunjungi masyarakat karena tidak ada di daerah lain” kata Harie dari Banjarbaru yang saat itu ikut menonton acara Bamariaman. ara/mb05   


-----------------
Di setor Senin, 13 September 2010
Di muat Rabu, 14 September 2010/ 05 Syawal 1431 H
-         dengan judul Dimeriahkan Dentuman Mariam Bambu
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 4

Photo yang tidak dimuat - Sebagian dokumentasi ARAska

Jumat, 22 April 2011

MB - Safari Tadarus puisi Dewan Kesenian Banjarbaru

BANJARBARU – Pertamakali Tadarus Puisi dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Banjarbaru, yaitu pada bulan ramadhan 7 tahun yang lalu. Sekarang Kotabaru mengikuti melaksanakan kegiatan tersebut, dengan tujuan agar silaturrahmi dikalangan sastrawan, penyair dan seniman semakin erat terjalin,” kata Eko Suryadi WS, Dewan Pertimbangan dari Dewan Kesenian Kotabaru, saat memberikan sambutannya dalam pembukaan acara Tadarus Puisi Religius di Pantai Siring Kotabaru pada Sabtu malam (4/9) pukul 09.00 wita.
Sebelumnya pada malam Jumat Mata Banua ditawari Panitia Safari Tadarus Puisi Banjarbaru Hamamy Adabi untuk mengikuti perjalanan utusan dari Dewan Kesenian kota Banjarbaru ke Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu.
“Banjarbaru menjadi tamu kehormatan dalam dua acara tadarus puisi ini” kata Hamamy Adabi sebelum keberangkatan.
Utusan Dewan Kesenian Banjarbaru di wakili oleh 7 orang, yaitu 2 orang penyair senior, 3 orang penyair muda, 1 orang dari seni lukis serta 1 orang perwakilan dari Pemkot Banjarbaru.

Kotabaru
Deburan ombak di tepi laut mewrnai kemeriahan Tadarus Puisi Religius di Siring Kotabaru. Satu hari sebelumnya Dewan Kesenian Kotabaru juga melaksanakan Festival Beduk Kreatif, yang kemudian pemenang dari festival tersebut memperagakan kemahirannya dalam memukul beduk pada malam Tadarus Puisi Religius.
Abdul Karim, dalam sambutannya mengatakan bahwa “dimulai dari malam ini dan seterusnya Tadarus Puisi Religius ini akan diselenggarakan tiap bulan Ramahan di Kotabaru. Hal ini dilakukan untuk menggugah generasi muda dalam bidang sastra” ujarnya.

Tanah Bumbu
Minggu siang utusan dari Dewan Kesenian Banjarbaru, kembali melanjutkan perjalanan safarinya ke Kecamatan Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu.
Minggu malam dilanjutkan dengan mengunjungi Fadly Zour (71) tokoh seniman pendipta lagu Banjar yang ada di Tanah Bumbu. Lagu Banjar Fadly Zour yang terkenal adalah yang berjudul Pambatangan.
Senin pagi hingga sore utusan Dewan Kesenian Banjarbaru menjadi pemateri untuk workshop Penulisan Puisi, Tekhnik Menggambar, dan Dasar Jurnalistik untuk Pelajar.
Pada malamnya seusai taraweh, dilanjutkan dengan mengikuti Tadarus Puisi dan Penganugerahan Seni dan Budaya yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Bumbu.
Penganugerahan seni ini diberikan kepada: Fadli Zour atas dedikasinya sebagai penulis lagu Banjar, Frof. Andi Amrullah (almarhum) atas dedikasinya dalam sastra, Dalang Badrun atas dedikasinya sebagai dalang wayang Banjar dan Amirullah atas dedikasinya dalam musik tradisional masuk kiri.
Bupati Tanah Bumbu, Gusti Hidayat dalam sambutannya mengatakan “acara ini adalah merupakan langkah kongkret dalam menggiatkan kegiatan puisi dan sastra, hingga mampu menggairahkan masyarakat dalam sastra, dan memberikan warna pada Kabupaten Tanah Bumbu” ujarnya.
Salah satu komentar dari tokoh sastra setempat yang hadir, berkata “mudah-mudahan tadarus puisi ini di dilaksanakan pula oleh Kabupaten lain di Kalsel” ujarnya berharap. ara/mb05   


-----------------
Di setor Selasa, 07 September 2010
Di muat Rabu, 08 September 2010/ 29 Ramadhan 1431 H
-          dengan judul Safari Tadarus Puisi
-          kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5

Photo yang tidak dimuat - Sebagian dokumentasi ARAska



Sabtu, 02 April 2011

MB - Kritik Gelar Raja Muda Kesultanan Banjar

BANJARMASIN – Kritik dan perdebatan tentang gelar raja muda dikalangan seniman dan sastrawan Kalsel menjadi ramai. Para seniman berharap agar pihak-pihak yang bersangkutan, mau duduk bersama untuk membicarakannya.
Keinginan dari para seniman ini diwujudkan oleh  Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) yang melaksanakan buka puasa bersama pada Selasa (3/8) yang lalu, bertempat di Hotel Arum Banjarmasin. Dalam buka puasa tersebut LAKKB mengajak Lembaga Budaya Banjar (LBB) untuk bekerjasama memajukan budaya Banjar.
Walaupun sudah ada pertemuan dan penjelasan dari LAKKB, tapi sebagian seniman merasa pungsi dan gelar raja muda tersebut masih samar.
Sirajul Huda, tokoh tari Kalsel yang juga berhadir dalam acara tersebut, berkomentar “sebenarnya kesultanan ini masih belum jelas juga bentuknya, yang mengemuka bahwa keraton adalah pengayom budaya, tetapi budaya yang bagaimana? ini belum jelas, apalagi keraton dibangun di Martapura” .
Di lain pihak, Mukhlis Maman Pemerhati budaya yang bekerja sebagai pamong budaya madya di Taman Budaya, berkata “dari sudut pandang pemikiran yang aku tangkap saat menghadiri acara tersebut.
Berdasarkan penjelasan dari Ketua Bidang Kebudayaan LAKKB, bahwa gelar raja muda tersebut hanya suatu sebutan sebagai ketua dari LAKKB, dan mengenai kedudukan LAKKB itu sendiri, bukan berarti LAKKB lebih tinggi dari LBB. Karena LBB skalanya adalah Kalimantan Selatan, sedang LAKKB hanya seputar seni budaya keraton, jadi LAKKB menjadi bagian dari LBB.
Dan aku lihat peserta/ tamu yang hadir pada waktu itu sudah ditentukan/ dipilih ini tampak dari daftar paket yang sudah disiapkan dengan nama yang tertulis untuk dibagikan. Jadi sudah ditentukan bahwa yang tidak setuju, tidak diundang” ungkapnya.

Sebelumnya diantara kritik para seniman dan sastrawan terhadap gelar raja muda:
Micky Hidayat, berkata "sultan Banjar tinggal sejarah, jadi kalau ada upaya menghidupkan lagi eksestensi Kesultanan Banjar di era globalisasi ini, ya sah-sah saja. Tapi si sultan atau pangeran atau raja muda atau apalah sebutannya jangan terjebak pada sikap feodalisme dan jangan cuma punya wawasan seni terbatas pada seni Islami saja karena seni budaya itu sangatlah beragam”.
Jamal T.Suryanata, menambahkan "status raja muda atau apapun istilahnya, cuma formalitas politik. Secara pragmatis ia tak lebih dari nostalgia kejayaan masa lalu. Apa yang bisa diharapkan untuk mengusung konsep Banjar yang universal, kecuali dalam lingkup kabupaten banjar?
Sementara Syarifuddin R, ketua harian dewan kesenian kalsel, memberikan ketegasan "pengangkatan sebagai raja muda hanya berlaku dilingkungan kerabat keraton saja, bukan masyarakat Kalsel. Jika ingin diakui secara luas harus bisa mengayomi semua seni budaya yang hidup dan berkembang di Kalsel.
Pengangkatan gelar sebagai raja muda tidak semudah itu, karena sesama keturunan raja Banjar sendiri, seperti yang ada di Cianjur, masih mempertanyakan penganugerahan gelar tersebut, karena mereka tidak terlibat/ dilibatkan” pungkasnya. ara/mb05

-----------------
Di setor Selasa, 07 September 2010
Di muat Kamis, 23 September 2010/ 14 Syawal 1431 H
-          dengan judul Tanggapan Seniman Terhadap Gelar Raja Muda Banjar
-          di Head Line, kolom Catatan Kaki, Mata Banua halaman 1




MB - Penutupan Pesantren Ramadhan Angkatan Muda Sabilal Muhtadin

BANJARMASIN – Hari ini (2/9) pada pukul 10:00 wita Pesantren Ramadhan yang dilaksanakan oleh Angkatan Muda Sabilal Muhtadin Banjarmasin, mengakhiri rangkaian kegiatannya dengan acara pertama Maulid, pengajian, pelepasan edikart dan do’a penutupan.
Setelah kegiatan berlangsung dari Sabtu (14/8) selama 12 hari, dengan 1 minggu 4 kali pertemuan yaitu Senin, Rabu, Kamis dan Sabtu. Beragam materi yang diberikan oleh panitia untuk 278 orang peserta yang berbeda latar pendidikan. Ada  Mahasiswa, SMA/ Aliyah dan SMP.
Sebelumnya pada Rabu (1/9) digelar beragam lomba untuk peserta. Selain untuk menilai kecakapan, juga sebagai evaluasi sejauh mana peserta menangkap semua materi yang diberikan. Materi yang diberikan tersebut antara lain: Tartil Al Qur’an, Azan,  Puisi Islami, Kreasi Jilbab, Busana Muslim, Memasang Sarung, Cerdas Cermat dan sebuah lomba permainan yang diberi nama Penjinak Bom.
Khusus untuk permainan Penjinak Bom ini, panitia seksi acara Mujiburrahman, menjelaskan “kalau permainan ini tidak seperti makna harfiahnya yaitu yang bersangkut paut dengan bom yang sesungguhnya.
Melainkan hanya permainan, dimana kelompok peserta dengan menggunakan tali yang dipegang, dan dibentang oleh empat orang saling berhadapan dalam suatu lingkaran. Kemudian dengan tali tersebut berusaha mengangkat sebuah botol yang berisi air, lalu menuangkannya dalam gelas yang sudah disediakan. Permainan ini untuk melatih kerjasama dan kekompakan kelompok” katanya.
Sementara itu Herry dari Fakultas Tekhnik Unlam Banjarbaru yang ikut sebagai peserta berkomentar bahwa ia sangat senang bisa ikut dalam kegiatan ini, tetapi ia juga mengkritik panitia yang dalam penyampaian materi menyamakan pada semua peserta, padahal ada peserta yang tingkat pendidikannya masih SMP, sedang materi yang disampaikan seharusnya untuk tingkat Mahasiswa, hal ini tentu memberikan kesulitan pemahaman bagi peserta muda tersebut.
Dilain pihak Yunita beserta empat orang kawannya dari satu sekolah yang sama di SMA PGRI 2, dengan kompak mereka berkata bahwa dari kegiatan ini mereka mendapat banyak pengetahuan agama, dan juga kawan-kawan yang baru. Acara ini mereka ikuti sebagai pengisi waktu libur, walau disekolah mereka juga mengikuti pesantren ramadhan, tetapi sangat singkat, karena itu mereka ingin menambah pengalaman lain.
Setelah acara pesantren ramadhan ini,  Angkatan Muda Sabilal Muhtadin Banjarmasin, masih mem[unyai rangkaian kegiatan lain yaitu halal bihalal untuk peserta pada 13 September 2010. Kemudian khusus untuk Angkatan Muda Sabilal Muhtadin Banjarmasin angkatan baru akan diadakan LDK selama tiga hari dimulai dari 17 September 2010. LDK ini dimaksudkan agar anggota baru siap menjadi panitia untuk kegiatan berikutnya. ara/mb06
-----------------
Di muat Kamis, 02 September 2010/ 23 Ramadhan 1431 H
-          dengan judul Pesantren Sabilal Berakhir
-          kolom Marhaban Ya Ramadhan, Mata Banua halaman 16
Photo yang tidak dimuat - Sebagian dokumentasi ARAska

MB - Tidak Ada Batasan Membukakan Puasa di Masjid Agung Al-Karomah

MARTAPURA - Berada di pusat kota Martapura kabupaten Banjar serta disamping pasar Batuah (pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari warga masyarakat Martapura), membuat Masjid Agung Al Karomah tidak pernah sepi dari jama'ah yang datang untuk beribadah atau sekedar untuk beristirahat.
Halaman yang luas dan tertata, serta ciri khas arsitektur timur tengah membuat hampir setiap hari pula selalu ada para pejiarah atau wisatawan lokal maupun luar yang dating berkunjung. Apalagi Masjid Agung Al Karomah merupakan salah satu dari jalur wisata religius yang ada di kota Martapura.
Berbeda dengan masjid lainnya, dalam bulan ramadhan masjid besar di kota Martapura ini tidak memberikan patokan anggaran bagi orang yang ingin membukakan puasa "terserah kepada penyumbang, berapapun yang akan diberikan akan kami terima, karena semuanya masuk dalam kas masjid untuk bulan ramadhan, begitu juga yang ingin menyumbang gula, susu, wadai dan lainnya" kata Idrus salah satu panitia buka puasa masjid Agung Al Karomah.
Idrus menambahkan "pada hari-hari biasa bulan ramadhan seperti ini (29/8) yang berbuka puasa biasanya sekitar 400 orang, tapi pada hari-hari khusus seperti malam ganjil bulan ramadhan, maka yang berbuka puasa bisa mencapai ribuan.
Buka puasa dilakukan sama-sama di beranda kanan masjid. Menu makanan yang kami sediakan yaitu bubur ayam serta ditambah penyedap rasanya seperti kecap dan cuka. Sedang makanan pencuci mulutnya yaitu korma,  agar-agar, atau wadai basah lainnya. Untuk minuman ada tiga macam yaitu air putih, kopi susu dan setrup susu, terserah jama'ah memilihnya..
Masjid Agung Al Karomah, namanya dulu adalah Masjid Jami' Martapura, yang didirikan oleh panitia pembangunan masjid yaitu HM Nasir, HM Taher (Datu Kaya), HM Apip (Datu Landak). Kepanitiaan ini didukung oleh Raden Tumenggung Kesuma Yuda dan Mufti HM Noor.
Menurut riwayatnya, Datuk Landak dipercaya untuk mencari kayu Ulin sebagai tiang sokoguru masjid, ke daerah Barito, Kalimantan Tengah. Setelah tiang ulin berada di lokasi bangunan Masjid lalu disepakati. Tepat 10 Rajab 1315 H (5 Desember 1897 M) dimulailah pembangunan masjid jami' tersebut.
Secara teknis bangunan masjid tersebut adalah bangunan dengan struktur utama dari kayu ulin dengan atap sirap, dinding dan lantai papan dari kayu ulin. Seiring dengan perubahan masa dari waktu ke waktu masjid tersebut selalu di renovasi, tapi struktur utama tidak berubah.
Malam Senin 12 Rabiul Awal 1415 H dalam perayaan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, Masjid Jami' Martapura diresmikan menjadi Masjid Agung Al Karomah. Saat ini Masjid Agung Al Karomah berdiri megah dengan konstruksi beton dan rangka atapnya terbuat dari baja.
Di dalam masjid, sampai saat ini masih dapat ditemukan dan dilihat struktur utama Masjid Jami Martapura yang tidak dibongkar, sehingga dapat dilihat sebagai bukti sejarah mulai berdirinya masjid tersebut. Dengan arsitektur bangunan yang bernuansa timur tengah, membuat pengunjung seperti berada di negeri padang pasir dan betah untuk berlama-lama. ara/mb06


-----------------

Di muat Rabu, 01 September 2010/ 22 Ramadhan 1431 H
-          dengan judul Nikmatnya Berbuka di Masjid Al-Karomah
-          kolom Marhaban Ya Ramadhan, Mata Banua halaman 16

Photo yang tidak dimuat - Sebagian dokumentasi ARAska

Selasa, 08 Maret 2011

MB - LDK SMAN7 Banjarmasin di Rindam

BANJARMASIN – Kata militer bagi sebagian orang masih terdengar menakutkan, apalagi bagi pelajar yang harus melakukan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dikomplek pelatihan militer. Tapi hal ini sepertinya tidak berlaku bagi para pengajar di SMAN 7 Banjarmasin, yang sudah dua kali melakukan LDK bagi siswa-siswinya yang baru di Rindam Landasan Ulin.
Menurut M.Suriani, Wakasik bidang kesiswaan di SMAN7 Banjarmasin "kami sudah dua kali melakukan LDK siswa-siswi yang baru di Rindam, pertama tahun ajaran 2008 - 2009, dan yang kedua baru-baru tadi tahun ajaran 2010 - 2011, selama tiga hari yaitu pada 16 sd 18 Juli.
Semua pemateri dari rindam, materi yang mereka berikan antaralain: Baris-berbaris, Bela Negara, Permainan, Senam dll." Pengajar Penjas untuk kelas XI dan XII ini kembali menambahkan: Hasil dari kegiatan tersebut sangat positif, siswa-siswi mempunyai rasa penghargaan yang tinggi, disiplin, tidak tinggi hati dan tata krama yang baik” katanya.
Nabil Ketua Osis SMAN7, berkomentar "pada awalnya saya sendiri takut, tapi setelah ada disana, semuanya jadi menyenangkan, karena para pemateri dan pelatih lapangan di Rindam sangatlah ramah."
Untuk mengetahui lebih jauh tentang LDK ini, Mata Banua mencoba mendatangi langsung ke tempat lokasi LDK di Rindam Landasan Ulin. Dari petugas piket jaga dipintu gerbang Rindam mengarahkan untuk menemui Kabakum Letkol Mansur, tapi sayang saat itu  (10/08) Kabakum sedang ada rapat, dan menurut petugas di bagian Komunikasi Rindam, rapatnya akan memakan waktu yang cukup lama.
Dari dialog dengan petugas di ruangan tersebut, membenarkan bahwa SMAN 7 Banjarmasin memang telah dua kali melakukan latihan LDK di sini yang di tangani oleh bagian Bela Negara, dan katanya satu-satunya SMA yang melakukan itu hanya SMAN7 Banjarmasin. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua – Tidak di muat

Photo yang tidak dimuat - Dokumentasi Panitia

MB - Meditasi Rindunya Micky Hidayat

BANJARMASIN - Agus R.Sarjono, berkata "negeri kita tahun-tahun belakangan ini kelewat bising dengan pelbagai soal. Suara-suara keras yang dulu ditekan kini berhamburan tanpa aturan, mirip bising klakson di Indonesia yang kelewat sering dibunyikan, kadang bahkan tanpa alasan apa-apa.
Kehadiran sajak-sajak Micky Hidayat (dalam antologi puisi Meditasi Rindu) yang lirih menggemakan kembali kerinduan kita pada suara alam yang asali, seperti lantunan seruling ditengah ingar-bingar rock dan organ tunggal; ibarat nyanyi burung ditengah sirene yang menggambarkan hutan yang terbakar, ibarat bisik ditengah riuh demo dan debat parlemen" ujarnya.
Kritikus sastra Nasional ini kembali berkomentar “tetap menulis sajak-sajak - diterima maupun tidak, digubris maupun diabaikan, dicintai maupun dibenci - adalah sikap hidup sekaligus kredo MIcky. Menulis sajak adalah jalan yang dipilih dengan tegas oleh penyair sebagai cara hadir sang penyair ketengah dunia ini. Menulis sajak adalah pilihan dan jalan hidup yang diletakkannya atas dasar kerinduan, kesepian, luka, dan cinta" katanya.
Micky Hidayat menceritakan bagaimana awal perjalanan sastranya "saya mulai belajar menulis sajak ketika masih duduk di kelas 1 SMP Negeri 2 Banjarmasin. Sudah barang tentu, dalam setiap menulis sajak itu sama sekali tak terpikirkan sedikitpun di benak saya, apakah diri saya sudah menjadi seorang penyair atau bukan. Apalagi keinginan untuk jadi penyair, jauh panggang dari api. Waktu itu saya menulis atau menciptakan sajak hanya sekedar iseng ingin menulis, tidak ada pretensi meraih predikat sebagai penyair.
Saya selalu tak kuasa menolak keinginan naluri untuk terus berkarya. Gagasan yang lalu lalang dan berkelebat-kelebat dalam benak seolah tak bisa dibendung. Bagi saya, bergelut dengan dunia sajak pada hakikatnya merupakan sebuah wacana yang memungkinkan saya untuk mengalami kembali kehidupan, membuat saya terlibat lebih intens dalam menjalani kehidupan ini" pungkasnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua – Tidak di muat

MB - Dua Festival Seni di Hari yang Sama

MARTAPURA – Keringat mengucur, panas menyengat membuat pakaian adat Banjar yang mereka pakai terlihat menyala dalam terik matahari pukul 11.30 wita di halaman gedung pemuda Martapura pada Kamis (5/8) yang lalu.
"Group Sinoman Hadrah Surya Abadi dari Sei Rangas adalah peserta nomor urut terakhir untuk tampil dalam Festival Sinoman Hadrah diantara enam peserta group lainnya. Selanjutnya setelah acara festival sinoman itu selesai dan tinggal menunggu keputusan juri menentukan pemenang" kata Maudah menjelaskan
Wanita yang juga sebagai Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banjar ini mengajak untuk menyeberang ke Taman Cahaya Bumi Slamet "disana ada pameran ekspo dan Festival Tari Kreasi Daerah Banjar Bernuansa Islami, dua kegiatan ini dilaksanakan hari ini dari rangkaian acara lainnya dalam rangka memperingati hari jadi ke 60 Kabupaten Banjar" ujarnya sambil tersenyum.
Setelah kedua festival itu selesai, Mada (panggilan akrabnya) memberikan catatan nama-nama peserta festival dan urutan pemenangnya. Peserta Festival Sinoman Hadrah ada 7 group, dengan para juri Abdul Rasyid, Abdullah.Sp, dan Drs.Mukhlis Maman.
Sedangkan pemenangnya: Juara I disabet oleh Group Sinoman Hadrah Karya Baru dari Sungai Batang Ilir. Juara II jatuh kepada group Surya Abadi dari Sungai Rangas Hambuku kecamatan Martapura Barat. Juara III diperoleh group Al Hikmah yang juga dari Sungai Rangas Hambuku kecamatan Martapura Barat. Harapan I di terima oleh group Al Bab dari Desa Pinggiran kecamatan Astambul.Sedang pemayung terbaik di sabet oleh Riduansyah dari Karya Baru.
Peserta Festival Festival Tari Kreasi Daerah Banjar Bernuansa Islami ada 10 group, dengan para juri Sirajuh Huda, Novi Andriani, dan Yuli Astuti Ningrum. Juara I dari SMPN I Martapura dengan judul Tari Rebana. Juara II dari Mts Model Martapura dengan judul Tari Rudad. Juara III kembali dari SMPN I Martapura (yang menampilkan dua group) dengan judul Tari Berusaha Bersama. Harapan I dari SMAN I Martapura, harapan II dari SMAN I Karang Butan, harapan III dari SMAN I Gambut.
Dilain pihak, menurut Sirajul Huda, pensiunan kepala museum Banjarbaru, yang juga seorang penari dan dosen tari di STIKIP PGRI Banjarmasin dan Banjarbaru), mengatakan "hampir semua group tari tidak pas membawakan tariannya dengan tema (judul) tarian, hanya ada beberapa yang cukup baik.
Hal ini bisa kita maklumi, karena penata atau desain tarinya cuma dari pengajar seni disekolah-sekolah tersebut. Yang tentunya guru-guru tersebut bukanlah penari prefesional, mereka hanya guru pengajar, tetapi hal ini bisa diatasi bila sebelum kegiatan, diadakan dulu sarasehan atau workshop agar mereka mengerti bagaimana seharusnya suatu tarian di desain." katanya secara panjang lebar.
Komentar senada juga dikatakan Abdullah SP sebagai juri Festival Sinoman juga mengharapkan agar sebelum festival, diadakan dulu workshop bagi para penata tari sinoman, agar menjadi lebih baik lagi "hal ini sudah saya sampaikan dengan kepada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banjar" pungkasnya. ara/mb05

-----------------

Di masukkan di kolom Kotaku, Mata Banua – Tidak di muat

Minggu, 06 Maret 2011

MB - Dialog Tokoh Isu Teroris Menunggu Beduk Menuju Lebaran

BANJARMASIN – Semakin mendekati lebaran, tingkat kewaspadaan dan informasi juga hendaknya dipertajam, agar isu-isu yang tidak benar bisa dikesampingkan, ketenangan dalam beribadah dan kenyamanan dalam mempersiapkan lebaran adalah hal yang harus diutamakan.
Tindakan teror adalah kejahatan yag tidak bisa diterima akal sehat maupun ajaran agama Islam. Tetapi tidak dapat diterima pula tindakan menfitnah dan menghalalkan segala cara agar seseorang atau kelompok yang tidak terlibat dengan kejahatan teroris ditangkap, diadili, dan dihukum sebagai teroris, hanya karena perbedaan pandangan politik.
Itulah salah satu materi yang disampaikan oleh Hidayatullah Muttaqin, dalam Dialog Tokoh Tentang Terorisme Menjelag Berbuka Puasa, yang dilaksanakan pada Sabtu (28/8) sore di rumah H.Sakhrani jalan Bumi Mas Raya, komplek Bumi Handayani XI Banjarmasin, yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan sholat magrib berjamaah.
Selanjutnya, ketua lajnah siyasiyah DPD I HTI Kalsel ini juga memaparkan pendapatnya “saya tidak mengingkari kenyataan bahwa konsepsi politik yang paling dominan baik secara pemahaman maupun aflikatif dari barat.
Karena itu barat khususnya leader kapitalis Amerika Serikat sangat berkepentingan terhadap pemahaman konsepsi politik dan sistem politik  yang diterapkan diseluruh dunia. Tujuannya tidak lain untuk mempertahankan dominasi barat atas dunia termasuk Indonesia. Inilah yang disebut penjajahan modern (neoimperialisme)” ujarnya.
Menutup dialog, tuan rumah H. Sakhrani, SH, MH, menyoroti permasalahan isu-isu yang saat ini sedang terjadi di Indonesia, katanya “ institusi kepresidenan dan institusi penegak hukumlah yang memunculkan isu pendamping untuk menutupi kelemahan kinerja mereka. Entah isu tersebut dalam kasus teroris, sengketa dengan Malaysia, ataupun rekening gendut petinggi Polri” ungkapnya.
Ia juga mencontohkan salah satu kelemahan dan ketidak konsekwenan seperti hukuman bagi para koruptor yang sudah ditetapkan tetapi malah dikurangi dengan garasi oleh presiden. ara/mb06


-----------------

Di muat Selasa, 31 Agustus 2010/ 21 Ramadhan 1431 H
-         dengan judul Dialog Tokoh Isu Teroris Menunggu Bedug
-         kolom Marhaban Ya Ramadhan, Mata Banua halaman 16

Photo yang tidak dimuat - Sebagian dokumentasi ARAska

MB - Menyatukan Perpecahan dan Pertikaian dalam Buka Puasa Bersama Pkb Kalsel


BANJARMASIN – Suasana ramadhan yang penuh rahmat dimanfaatkan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kalsel untuk kembali menyatukan perpecahan dan pertikaian yang ada dalam tubuh partainya.
Sabtu (28/8) acara buka puasa ini dilaksanakan di sekretariat PKB Kalsel di Km 6,7, mengusung tema Satukan Tekad Rapatkan Barisan Menuju PKB Bangkit. Buka puasa bersama ini dihadiri oleh semua pengurus DPAC kabupaten se-Kalsel, serta pengurus PAC kota dan ranting.
Setelah sholat magrib berjamaah Mulyadi Mangin Ketua DPW PKB Kalsel, memberikan keterangan kepada wartawan tentang tujuan dari diadakannya acara buka puasa bersama, katanya “malam ini kita bersilaturahmi dan kembali menyatukan warga PKB Kalsel yang telah terpecah, dan kita menyerukan agar semua elemen warga PKB dari kubu yang lain untuk kembali bersatu.
Dan mengesampingkan semua perbedaan persepsi yang selama ini terjadi, lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi atau golongan. Kita optimis dalam dua tahun kedepan PKB bisa kembali kita satukan” ujarnya.
Sementara itu Bambang Heri Purnama, menambahkan “kita tak bisa lagi hanya menunggu bola, tapi saat ini kita melakukan jemput bola, baik untuk warga PKB atau pun  masyarakat.
Saat ini di pusat kita sedang memperjuangkan peningkatan APBD daerah dari anggaran pemerintah pusat sebesar 1202 trilyun APBD yang nantinya diperuntukkan untuk semua daerah di Indonesia.APBD tersebut nantinya akan kita pergunakan untuk perbaikan dibidang pendidikan dan infrastruktur” katanya.
Menyinggung masalah konflik yang terjadi antara walikota Banjarmasin dengan wartawan, anggota DPR RI dari fraksi PKB Kalsel ini berkomentar “marilah dalam suasana ramadhan ini kita saling memaafkan, dan bila ada tersalah serta perkataan yang melukai perasaan pihak lain untuk tidak segan-segan meminta ma’af” pungkasnya. ara/mb06


-----------------

Di muat Senin, 30 Agustus 2010/ 20 Ramadhan 1431 H
-         dengan judul PKB Bersama PAC se Kalsel
-         kolom Marhaban Ya Ramadhan, Mata Banua halaman 16

Photo yang tidak dimuat - Sebagian dokumentasi ARAska

MB - Tak Perlu Terpusat Nonton Tanglong di Depan Balai Kota

BANJARMASIN – Perubahan rute perjalanan kendaraan hias (tanglong), dilakukan Disbudparpora Kota Banjarmasin dengan maksud agar tidak terkumpul pada titik-titik jalan yang akan menimbulkan kemacetan bagi masyarakat.
Tanglong adalah pawai kendaraan hias dengan lampion yang bernuansa budaya banjar atau bernuansa islami, event ini sudah menjadi ciri khas tradisi pada bulan ramadhan bagi warga Kasel. Setiap kota dan kabupaten mempunya jadwal acara tanglong bulan ramadhan masing-masing. Untuk kota Banjarmasin tanglong dilaksanakan pada malam 21 (salikur).
Rute altenatif baru: Start dari depan balai kota, Jl. Lambung Mangkurat, Jl. Merdeka, Jl. R. Suprapto, Jl. Sutoyo, Jl. Zafri Zam-zam, Jl. Cenderawasih, Jl. Belitung, Jl. Perintis Kemerdekaan (Pasar Lama), Jl. Pahlawan, Jl. Veteran, Jl Kuripan, Jl. A. Yani, Jl. Kolonel Sugion, dan kembali finish di balai kota.
Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga Kota Banjarmasin Mujiyat SSn M Pd “apabila ada perubahan rute perjalanan, akan diberitahukan pada malam acara sebelum peserta berangkat. Pendaftaran peserta terakhir pada sore hari tanggal 30 Agustus dan pendaftaran gratis.
Sampai hari ini, Jumat (27/8) suda ada 86 peserta yang mendaftar. Tahun ini peserta meningkat dari tahun sebelumnya dan tentunya nominal hadiah juga meningkat 100% dari tahun sebelumnya” ujarnya.
Ia menambahkan “perubahan rute ini dilakukan antara lain karena mengkaji pelaksanaan kegiatan tanglong dari tahun-tahun sebelumnya, ada daerah rute yang dilewati tapi tanpa penduduk, atau ada jalan yang kondisinya sangat tidak baik. Ini juga dilakukan agar masyarakat yang menonton tanglong tidak perlu jauh-jauh ke balai kota karena rutenya sudah melalui jalan-jalan daerah pemukiman.
Sehingga kemacetan dan kepadatan disekitar balaI kota dapat dihindari, yang tentunya akan meminimalisir tejadinya kecelakaan dan kejahatan. Rute perjalanan peserta tanglong akan dikawal dengan penerapan sistem buka tutup. Pengawalan buka dari Poltabes dan pengawalan tutup dari Perhubungan.
Dengan adanya kegiatan tanglong ini, diharapkan masyarakat lebih memaknai tentang tanglong sebagai budaya masyarakat banjar dalam ramadhan. Apabila ada peserta yang berasal dari luar wilayah kota Banjarmasin ingin ikut serta, silahan saja. Sampai hari ini” pungkasnya. ara/mb06


-----------------

Di muat Sabtu, 28 Agustus 2010/ 18 Ramadhan 1431 H
-         dengan judul Festival Tanglong Digelar Minggu Malam
-         kolom Marhaban Ya Ramadhan, Mata Banua halaman 16

MB - Tablik Akbar Nujulul Qur’an Hari Moekti di Unlam Banjarmasin dan Batola

BANJARMASIN – Al Qur’an diturunkan pertama kali pada malam ke 17 Ramadhan. Dalam rangka memperingati hari turunnya Al Qur’an, panitia Remaja Masjid Unlam mengadakan kegiatan tablik akbar bersama Hari Moekti di mesjid Unlam Banjarmasin.
Menurut Hendra Bahyuni, ketua umum angkatan muda remaja masjid Unlam Banjarmasin “kami hanya memanfaatkan waktu luang dari ustadz Hari Moekti, sebelum beliau melakukan tablik di Batola.
Karena tablik akbar di Masjid Unlam dilaksanakan setelah sholat jumat, tentunya banyak yang hadir adalah dari laki-laki, tapi kami akan menyiapkan tempat untuk wanita agar juga bisa mengikuti tablik ini. Tablik ini terbuka untuk umum, semua warga Banjarmasin” katanya.
Selanjutnya ia menambahkan: “rangkaian kegiatan kami sebelumnya adalah Pesantren Ramadhan Dinamis bagi mahasiswa, yang dilaksanakan selama  dua hari pada Rabu (25/8) dan Kamis (26/8).
Kemudian sore jumat (27/8) setelah tablik akbar, ada temu alumni angkatan muda Baitul Hikmah dari tahun 1987 hingga sekarang, yang diteruskan dengan buka puasa bersama” ujarnya.
Info kegiatan dakwah ustadz H M.Hari Moekti di Banjarmasin dan Marabahan dari tanggal 27 – 28 Agustus:
  1. 09:00, tiba langsung ke hotel Palm Banjarmasin.
  2. 12:00, sholat jumat di Masjid Unlam
  3. 13:30, tablik akbar di Masjid Unlam
  4. 16:00, ke Marabahan
  5. 17:30, masuk guest house bupati
  6. 17:45, keliling kota Marabahan
  7. 18:26, buka puasa di guest house bupati
  8. 18:30, sholat magrib di masjid at-Taqwa Marabahan
  9. 19:00, makan malam
  10. 19:30, sholat isya dan taraweh
  11. 21.00, tablik akbar Nujulul Qur’an di halaman kantor Bupati Batola
  12. 23:00, ke Banjarmasin untuk kembali ke Jakarta Sabtu pagi
ara/mb06


-----------------

Di muat Senin, 27 Agustus 2010/ 17 Ramadhan 1431 H
-         dengan judul Hari moekti Tablik Akbar di Unlam
-         kolom Marhaban Ya Ramadhan, Mata Banua halaman 16

Photo yang tidak dimuat - Sebagian dokumentasi ARAska

MB - Buka Puasa Bersama dan Diskusi Antar Iman di Gereja Katolik Jalan Veteran

BANJARMASIN-Pluralitas agama yang melahirkan toleransi sebenarnya, itulah substansi ajaran Islam berhadapan dan bermasyarakat antara sesama manusia dalam konteks antar agama
Itulah yang dikatakan Drs. H.Muhamad Ramli dalam pemaparan makalah yang disajikannya pada Diskusi dan Degradasi Moral serta buka puasa bersama yang dilaksanakan oleh LK3 bersama Forum Dialog Kalsel dan Keuskupan Banjarmasin Bidang Hubungan antar Iman pada Rabu (25/8) tadi, yang dimulai dari pukul 15:00 Wita, bertempat di Aula Sasana Bakti Gereja Katolik Hati Yesus yang Maha Kudus di jalan Veteran Banjarmasin.
Peserta yang hadir ada dari kalangan pemerintah, pendidik, perwakilan gereja, dan kelompok-kelompok agama, jumlahnya kurang lebih 100 orang tamu.
Muhammad Ramli, menyoroti pula tentang keadaan umat Islam yang dibangga-banggakan sebagai kelompok mayoritas, tapi dalam kenyataannya bukan menjadi pemenang lomba berbuat kebajikan dan taqwa untuk umat dan bangsa Indonesia, tetapi malah menjadi beban.
Sebagai nara sumber perwakilan Cendikiawan Muslim, ia juga mengkritik dunia pendidikan dan para pengajar untuk lebih ikhlas dalam memberikan pelajaran agar hal itu bisa menjadi pelajaran moral bagi murid yang dididiknya.
Sementara itu Romo Benny Susetyo, nara sumber dari Cendikiawan Katolik, dalam pemaparannya lebih banyak menyoroti peran pemerintah dan politik dalam mengambil kebijakan. Terutama mengenai masalah kurikulum dunia pendidikan yang tidak menitik beratkan pada pendidikan moral dan selalu berubah-ubah dengan cepat.
Menurut Benny “anak-anak disekolah hanya diajarkan untuk menghapal, tapi tidak diajarkan untuk memahami dan berbudi pekerti yang baik”.
Sekertaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan ini juga mengatakan “saat ini kesejahteraan hanya untuk kekuasaan politik, sehingga demoralisasi dimana-mana.
Sementara itu undang-undang hanya dibuat untuk memperkaya diri bagi kalangan tertentu saja. Kemudian agama hanya dikomersilkan oleh karena itu, katanya agama jangan cuma hanya menjadi sumber aspirasi yang dibawa kelingkungan politik tapi jadikan agama sebagai sumber inspirasi, yang akan menciptakan visi kedepan bagi bangsa, agar kesejatian diri yang telah hilang bisa kembali ditemukan” ujarnya.
Mengenai kekerasan terhadap anak, Hj. Yurliani, SH, dalam pemaparannya menekankan perlunya kerjasama antar kelompok dalam mengatasi meningkatnya kekerasan seksual terhadap anak. Katanya “sekitar 18,27% terjadi kekerasan seksual terhadap anak, dari data Polda Kalsel pada Januari sampai Juni 2010.
Keadaan ini antara lain disebabkan karena hubungan keluarga 5 kasus, pacar 10 kasus, teman 3 kasus, tetangga 3 kasus, hubungan kerja 1 kasus, lain-lain 1 kasus” ungkapnya.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak ini, menambahkan “salah satu faktor meningkatnya keinginan berhubungan sek pada anak-anak adalah karena kurangnya pengawasan orang tua, mudahnya mengakses situs-situs porno diwarnet, dan tidak adanya keterbukaan dalam pendidikan sek yang benar dalam masyarakat dan institusi pendidikan.
Sebagai tuan rumah, Romo Gregorius, CP, saat ditemui Mata Banua setelah acara buka puasa selesai, berkomentar “saat ini yang perlu ditekankan dalam pendidikan adalah menanamkan budi pekerti dalam keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Hal ini tidak bisa dilakukan cuma satu pihak saja tapi juga sangat penting keterlibatan pemerintah” pungkasnya. ara/mb06


-----------------

Di muat Kamis, 26 Agustus 2010/ 16 Ramadhan 1431 H
-         dengan judul Berdiskusi Sambil Menunggu Bedug
-         kolom Marhaban Ya Ramadhan, Mata Banua halaman 16

Photo yang tidak dimuat - Sebagian dokumentasi ARAska

           

MB - Bulan Ramadhan Masjid Sultan Surinsyah Kurang Diperhatikan Pemda

BANJARMASIN – Di depan masjid terdapat papan nama yang berbunyi Masjid Sultan Suriansyah adalah bangunan bersejarah yang juga bagian dari bangunan cagar budaya, dilindungi oleh Pemda Kalsel.
Mata Banua tergelitik untuk bertanya pada Lahwani panitia ta’mir ramadhan, apakah Pemda atau Dinas Pariwisata Kalsel sudah ada membuat jadwal untuk berbuka puasa bersama di sini, atau yang terpenting memberikan bantuan anggaran untuk berbuka puasa? Ia terdiam, kemudian menggeleng, lalu katanya: “sampai hari ini tidak ada”. Jawab Muadzin sholat 5 waktu ini dengan suara perlahan.
Masjid Sultan Suriansyah atau Masjid Kuin dalam suasana ramadhan terasa seperti kembali pada masa lalu, zaman kerajaan Banjar. Di halaman masjid tertua di Kalimantan Selatan ini pada suatu sore pukul 17.00 wita terlihat sekelompok anak-anak kecil yang sedang bermain bola dengan gembira, 30 menit sebelum waktu berbuka puasa tiba, mereka segera berhamburan pulang kerumah masing-masing.
Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid Kuwin merupakan salah satu dari tiga masjid tertua yang ada di kota Banjarmasin pada masa Mufti Jamaluddin (Mufti Banjarmasin), masjid yang lainnya adalah Masjid Besar (Masjid Jami) dan Masjid Basirih. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan situs ibukota Kesultanan Banjar yang pertama kali.
Masjid ini letaknya berdekatan dengan komplek makam Sultan Suriansyah dan di seberangnya terdapat sungai kuin. Bentuk arsitektur dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan induk.

Menu berbuka
Lahwani, menuturkan: “rata-rata jamah yang berbuka puasa sekitar 150 orang, menu yang disajikan adalah bubur ayam,wadai amparan tatak, korma dan air teh. Anggaran yang diperlukan kurang lebih Rp. 500.000. Apabila ada permintaan dari penyumbang yang membukakan puasa tehadap menu buka puasa, maka akan kami siapkan, tapi biasanya pilihannya adalah nasi sop.”
Panitia buka puasa masjid kono ini menambahkan: “daftar penyumbang untuk membukakan puasa di sini masih banyak yang kosong, jadi bila ada yang berkenan untuk menyumbang di sini, kami sangat berterimakasih.
Sabtu (21/8) Ustad M.Nor Yasin Rais, ketua umum pengurus masjid yang hari ini membukakan puasa, menu yang dipilih adalah nasi sop. Sementara waktu telah menunjukkan pukul 18:00 wita, pancaran cahaya lampu yang berpadu dengan keindahan arsetektur tradisional diantara kaligrafi yang bertebaran membuat suasana pembacaan surah Yasin, kemudian dilanjutkan dengan Fatihah ampat, Tahlil selanjunya berdo’a, terasa semakin membuat khusu’ jama’ah yang hadir untuk berbuka puasa bersama. ara/mb06


-----------------

Di muat Rabu, 25 Agustus 2010/ 15 Ramadhan 1431 H
-         dengan judul Berbuka ‘Ala Kadarnya Di Sultan Suriansyah
-         kolom Marhaban Ya Ramadhan, Mata Banua halaman 16

Photo yang tidak dimuat - Sebagian dokumentasi ARAska