Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Sabtu, 31 Desember 2011

121211-senin(selasa)-meminta kejelasan pemilu Unlam Bjm dengan PR3

Photo: mb/ara
TERPAMPANG  - Jadwal yang terpampang di dinding kantor Purek III Unlam ini tidak ditepati oleh KPU PRMU yang baru

Calon Wakil Presiden Unlam Meminta Kejelasan Dengan Purek III

BANJARMASIN – Kandidat Calon Presiden (KCP) dari Partai Aspirasi Mahasiswa (Pama), dan Kandidat Calon Wakil Presiden (KCWP) dari Partai Suara Hati Mahasiswa (Saham), pada Senin (12/12) siang menemui Pembantu Rektor (Purek) III, Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi.
Kedatangan Pama diwakili oleh M Pazri dan Saham diwakili oleh Agusnadi. Turut hadir pula perwakilan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang lama, diwakili oleh Hadi Sukrosono. Ketiganya meminta kejelasan kelanjutan Pemilu Raya Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (PRMU) di Banjarmasin.
Sebelumnya pada Jumat (25/11), Pazri telah mengatakan dengan Mata Banua via SMS. Bahwa apabila KPU yang baru tidak bisa menyelesaikan tugasnya, hingga akhir November 2011, KCP dari dua partai akan mengambil tindakan. “Mempertanyakan kejelasan adalah tindakan pertama yang akan kami ambil. Tindakan selanjutnya tergantung ketegasan Purek III” ujarnya.
            Seperti yang sudah diketahui, sampai sekarang jadwal PRMU lanjutan di Banjarmasin tidak terlaksana. Sehingga penentuan siapa yang menjadi Presiden Mahasiswa (Presma,) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) Unlam, masih terganjal.
Insiden boikot PRMU oleh mahasiswa oposisi yaitu Mahasiswa Unlam Menggugat (MUM), pada Kamis 6 Oktober 2011,terus berbuntut panjang. Setelah usaha yang alot dari Rektorat Unlam yang di wakili Purek III, akhirnya dapat mengambil kesepakatan bersama dengan MUM pada Rabu 12 Oktober 201I.
Hasil kesepakatan, bahwa suara PRMU di Banjarbaru dianggap sah. Dan untuk mempersiapkan PRMU susulan di Banjarmasin, dilakukan perombakan pengurus KPU.
Busairi dari Fisip Unlam terpilih sebagai ketua KPU yang baru. Selanjutnya KPU menentukan jadwal PRMU lanjutan.
            Jadwal yang telah disepakati KPU yang baru dengan Purek III tersebut, yaitu kampanye dan debat kandidat pada 21 November 2011 bertempat di Fisip Unlam. Pada 22 November 2011 bertempat di FKIP Unlam, 23 November 2011 bertempat di Fekon Unlam, 24 November 2011 bertempat di FH Unlam, dan 25 November 2011 bertempat di Teknik Banjarmasin.
Kemudian masa tenang dari 26 sd 27 November 2011, Pemungutan suara 28 November 2011, dan pengumuman hasil rekapitulasi dan penetapan pemenang pada 1 Desember 2011.
Jadwal yang terpampang di dinding kantor Purek III Unlam ini, tidak ditepati oleh KPU PRMU. Bahkan dua KCP tidak pula mendapat konfirmasi jadwal.
Senin (12/12) sekitar pukul 15.00 Wita, setelah keluar dari ruangan H Idiannor, sambil menghela nafas Pazri menjelaskan. Bahwa Purek III berjanji untuk menyelesaikan masalah PRMU sebelum Desember 2011 berakhir.
“Kami tidak ingin berlarut-larut, sebab nama baik DPM Unlam sedang dipertaruhkan, semuanya tergantung ketegasan Purek III. Saat ini semua DPM di tiap Universitas yang ada di Kalsel maupun di luar Kalsel, mengamati penyelesaian akhir konflik PRMU” katanya. ara/mb05

121211-senin(selasa)-apresiasi seni FH unlam (Dm.141211)

Photo:mb/ara
PENTAS – Kreativitas Tanpa Batas Diatas Pentas sebagai ajang pementasan anggota baru Forum Apresiasi Seni Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin

Pentas Seni Anggota Baru FAS FH Unlam

BANJARMASIN – Seusai penerimaan anggota baru, Forum Apresiasi Seni Fakultas Hukum (FAS FH) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, selalu menguji penampilan anggota baru tersebut dalam dalam beragam pentas seni.
            Hal ini diungkapkan oleh Ketua Panitia Pelaksana, Ali Ramadhani kepada Mata Banua di sela-sela pentas anggota baru FAS FH di aula FH Unlam Banjarmasin pada Minggu (11/12) malam.
“Tema pentas seninya adalah Kreativitas Tanpa Batas Diatas Pentas, dengan tujuan memberi kesempatan pada 23 anggota baru FAS menampilkan kreatifitas seninya. Sekaligus sebagai acara pengukuhan dan pentas untuk tutup tahun 2011” katanya.
Rangkaian Pentas Seni Anggota Baru FAS FH Unlam, antara lain dengan penampilan tari Radap Rahayu, musikalisasi puisi dan Mamanda.
Puisi yang dibawakan dalam musikalisasi yaitu dari Rahmad Marlin yang berjudul Rajutan Benang, dan dari Ali Syamsudin Arsi yang berjudul Lukisan Wajah Berbingkai Cahaya. Sedangkan kisah Mamanda yang diangkat berjudul Prahara Di Negeri Tercinta, dimainkan oleh 20 orang yang kebanyakan dari anggota baru FAS FH.
Ceritanya mengenai sebuah kerajaan, yang terjadi huru hara. Ada pihak-pihak tertentu di dalam kerajaan yang berhasil memperngaruhi orang-orang untuk mengacaukan kerajaan.
Al farabik, salah satu tim penggarap mamanda menambahkan “Kisah ini tidak terlepas dari persoalan hukum. Ada isu kritik sosial yang disinggung, seperti kasus century, rekening gendut dll.
Mamandanya masih menggunakan pakem, seperti ada raja, wajir dan lainya. Tapi kami tidak bisa pula dikatakan sebagai mamanda murni, karena banyak hal yang kami tidak ketahui dan kuasai tentang mamanda sebenarnya” ujarnya. ara/mb05


111211-minggu(senin)-seminar ketahanan budaya di FP unlam Bjb

Photo:mb/ara
SEMINAR – Penampilan tari kreasi Serampang dari sanggar Talas Fakultas Pertanian Unlam Banjarbaru dalam Seminar Membangun Ketahanan Bangsa Dan Negara

Seni Budaya Lokal Merupakan Pilar Kebangsaan

BANJARBARU – Empat pilar utama kebangsaan yang menopang tegaknya Republik Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Pada era globalisasi dan era transformasi nasional dewasa ini, bahwa tantangan berat terhadap 4 pilar ini semakin mengkhawatirkan.
            Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia (Dirjen Kesbang Pol Kemendagri RI), A Tanribali L, dalam pembukaan Seminar Membangun Ketahanan Bangsa dan Negara Melalui Pendekatan Seni dan Budaya Lokal.
Seminar bertempat di aula Prof Supardi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (FP Unlam) Banjarbaru, pada Sabtu pagi, 10 Desember 2011 kemaren. Yang di hadiri pula oleh Pembantu Dekan I FP Unlam Ir Syaifudin MS, mahasiswa dan pelajar se Kota Banjarbaru.
Seminar terselenggara atas kerjasama Dirjen Kesbang Pol Kemendagri RI, dengan LSM Karya Pemuda Nasional (KPN), serta FP Unlam Banjarbaru. Salah satu pemateri dalam seminar adalah aktivis mahasiswa dari FP Unlam Banjarbaru, M Indra D.
Menurut A Tanribali L, upaya tegaknya NKRI sangat tergantung pada upaya semua pihak, dalam mempertahankan dan mengimplementasikan ruhnya pilar-pilar tersebut di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Salah satu ruh pilar adalah budaya lokal. Seperti diketahui, budaya lokal merupakan kebudayaan besar yang mendominasi kebudayaan Indonesia. Budaya lokal adalah wujud dari keragaman bangsa Indonesia yang majemuk (multikultural).
Budaya lokal juga memiliki fungsi memperkaya kebudayaan Nasional, dan mempersatukan berbagai keragaman dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sedangkan kebudayan lokal di Indonesia jumlahnya sangat banyak. Kebudayaan lokal hidup dan berkembang pada setiap suku bangsa di Indonesia. Eksisnya kesenian dan budaya lokal menjadi identitas bangsa.
Sambutan pembukaan seminar dari A Tanribali L, di bacakan oleh Kasubag Sistem dan Prosedur Kementrian Dalam Negeri RI, Aang Witarsa.
            Andi Ahmad Yani SE, pembina dan penasihat KPN di Jakarta Timur, mengatakan bahwa Budaya lokal semakin tergerus dan semakin tidak diminati oleh generasi muda.
“Kerjasama peningkatan inilah yang harus terus dilakukan. Bagaimana cara kita mengemas seni tradisional agar semakin lebih hidup. Mengemasnya dengan peralatan modern, tapi tidak meninggalkan peralatan tradisional. Sehingga kesenian tradisional kita bisa menjadi tuan rumah dinegeri sendri. Peran dari pelajar, mahasiswa dan pemuda untuk ini sangat penting” ujarnya seusai seminar kepada Mata Banua.
            Dilain pihak, ketua panitia seminar Windi Novianto, menjelaskan bahwa seminar yang dilaksanakan, sebagai kegiatan tahap awal untuk mengetahui kondisi seni budaya daerah. “Bagaimana melihat kesungguhan pelajar, mahasiswa dan pemuda dalam meningkatkan seni budaya daerah dan dapat memperkokoh ketahanan bangsa” pungkasnya. ara/mb05


111211-minggu(senin)-peringatan bulan muharram di Unlam bjm

Photo: mb/ara
KEGIATAN – Bazar buku religius dan busana muslim yang dilaksanakan oleh UKMM Unlam, sebagai salah satu rangkaian kegiatan memperingati Muharram

AMBH Dan UKMM Unlam Semarakkan Muharram

BANJARMASIN – Beragam rangkaian kegiatan dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, dalam rangka memperingati Muharram.
            Sabtu pagi 10 Desember 2011 dengan Dialog Muharram. Bertempat di aula rektorat Unlam lantai tiga, dengan pembicara, KH Husin Nafarin Lc MA, Ahmad Hamdani Yusron sekertaris BKPRMI Kalsel, Ahid Yulianto dosen FE Unlam. Dialog diselenggarakan oleh Angkatan Muda Baitul Hikmah (AMBH) masjid kampus Unlam Banjarmasin, dan Badan Kordinasi Lembaga Dakwah Kampus Kalsel
            Menurut, Asbudi ketua AMBH, dari hasil dialog dapat ditarik kesimpulan bahwanya umat islam sekarang banyak menghadapi permasalahan, baik secara ekonomi, maupun sosial politik. “Maka dengan momentum Muharram sebagai langkah pertama dalam hijrah, harus dimaknai untuk membangun dan meningkatkan umat” kata mahasiswa FKIP Unlam ini.
            Dilain pihak, Unit Kerohanian Mahasiswa Muslim (UKMM) Unlam menyelengarakan beberapa rangkaian acara peringatan Muharram. Seperti Festival Maulid Al Habsy, Festival Nasyid, Lomba Kaligrafi, Lomba Cipta Puisi Islami, Seminar Kewirausahaan, Tablik Akbar dan Bazar produk-produk muslim dari pakaian hingga buku-buku Islami.
            Rangkaian acara peringatan Muharram dari UKMM ini di beri nama Salam Muharram, diselenggarakan dari 7 sd 11 Desember 2011. Sedang tema dari seminar pada Sabtu pagi 10 Desember 2011 yaitu Muslim Kaya Hari Ini, Super Kaya di Masa Depan, dengan pembicara Johan Jauhari, anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia. Seminar bertempat di aula rektorat Unlam lantai satu.
            Kemudian Tablik Akbar pada Minggu pagi 11 Desember 2011, oleh KH Husin Nafarin Lc MA yang menjelaskan tentang keutamaan Muharram. Tablik bertempat di masjid kampus Baitul Hikmah Unlam Banjarmasin.
            “Rangkaian kegiatan yang kami laksanakan dalam Muharram ini sebagai gambaran untuk menjadikan generasi muda, khususnya mahasiswa agar lebih termotivasi lagi untuk lebih maju” ujar syahdan Husain, koordinator rangkaian kegiatan Salam Muharram, mahasiswa FKIP jurusan matematika, semester V, kepada Mata Banua pada Minggu siang seusai Tablik Akbar. ara/mb05

091211-jumat(sabtu)-campur tangan dalam tradisi

Photo: M Arsyad Indradi

Pemerintah Harus Bijak Mencampuri Tradisi Masyarakat

BANJARMASIN – Pemerintah daerah kembali menghidupkan dan membudayakan atau meningkatkan seni dan tradisi yang hampir punah, memang sudah kewajiban. Tapi pada tradisi yang masih berlangsung, dan keadaannya masih baik-baik saja. Maka pemerintah daerah harus bijak mencampurinya.
Hal ini diungkapkan oleh sastrawan yang juga sebagai budayawan Kalsel, M Arsyad Indradi dalam perbincangan dengan Mata Banua beberapa waktu yang lalu.
            Ada tradisi masyarakat yang apabila dicampuri oleh tangan-tangan politik atau pemerintah, pada akhirnya kemurnian tujuan pelaksanaannya menjadi berobah. Pada awalnya murni dari masyarakat, akhirnya dilaksanakan karena ada iming-iming tertentu atau maksud-maksud tertentu. Apabila iming-iming dan maksud itu tidak terwujud atau sudah terwujud, baik makna kegiatannya ataupun kegiatannya sendiri secara perlahan menjadi mati” kata Arsyad.
            Di lain pihak Drs Mukhlis Maman di Taman Budaya Kalsel pada Rabu (12/12) pagi, sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Arsyad.
Menurut Mukhlis, melihat kenyataan yang sudah terjadi. Apabila sebuah kegiatan yang apa adanya dalam masyarakat, lalu masuk unsur lain. Maka ada keinginan-keinginan yang memaksa masyarakat itu harus begini-begini, akhirnya kegiatan tradisi itu menjadi rusak
Oleh karena itu, keberlangsungan tradisi dijaga dalam arti tidak ikut campur secara langsung memasuki kewilayah proses kegiatan. Campur tangan pemerintah dalam tradisi-tradisi seperti ini, adalah bagaimana mempromosikan kegiatannya ke luar daerah.
Campur tangan pemerintah dalam wilayah proses kegiatannya, terbatas pada tokoh masyarakat (tetua adat) setempat. Tokoh masyarakat di daerah tersebut itulah  yang mengorganisir kegitan tradisi warganya.
“Tradisi-tradisi yang murni dan alami serta berkembang dengan sendirinya dalam kehidupan masyarakat, penting disikapi dengan hati-hati” ujarnya. ara/mb05

091211-jumat(sabtu)-bubur asyura tidak perlu lagi dibudayakan

Photo: Drs Mukhlis Maman

Kegiatan Turun Temurun Warga Jangan Dipolitisasi

BANJARMASIN - Kegiatan masyarakat membuat bubur asyura setiap 10 Muharram,  sudah berlangsung sejak Islam masuk di Kalsel. Sehingga menjadi tradisi yang turun temurun bagi orang Banjar. Aktivitas ini lahir tidak atas prakarsa siapapun, tapi tergerak dari keinginan masyarakat itu sendiri.
Hal ini diungkapkan oleh pemerhati budaya Banjar, Drs Mukhlis Maman di Taman Budaya Kalsel pada Rabu (12/12) pagi yang lalu, kepada Mata Banua. Mukhlis mengkoreksi gagasan dari wakil ketua DPRD kota Banjarmasin Andi Effedsi SPd, dan Politisi PKS DPRD kota Banjarmasin Aliansyah pada peringatan hari asyura Selasa (6/12).
Menurut Mukhlis, sangat tidak tepat kalau dua tokoh politik ini, meminta pemerintah daerah menjadi penggagas peringatan hari asyura, bila ditujukan untuk orang Banjar. Apalagi bila pemerintah daerah sebagai pemprakarsa untuk menggalakkannya. Begitupula pemikiran agar pemerintah daerah mensosialisasikan dan melestarikan peringatan asyura, sebagai budaya tahunan Islam.
Ia mempersilahkan ke dua tokoh politik ini, untuk melihat tradisi bubur asyura secara langsung, di kelurahan ataupun di RT-RT yang ada di Kota Banjarmasin. Selalu saja ada warga yang melaksanakan peringatan hari asyura. Bahkan warga di Kalsel melakukannya.
“Membuat bubur asyura sudah menjadi tradisi orang Banjar, tidak perlu digagas, diprakarsai, digalakkan, disosialisasikan atau di lestarikan lagi. Apabila pemikiran ke dua tokoh politik ini ditujukan untuk komplek perumahan elit, yang di sana tidak ada orang Banjar. Maka itu mungkin saja dilaksanakan” katanya.
Keinginan orang Banjar melaksanakan peringatan 10 Muharram, tidak karena ada yang memprakarsai. Tapi tergerak dari keinginan masyarakat itu sendiri, yang sudah tertanam nilai-nilai kebersamaan. Sedang dari sisi agama, menjadi media untuk mengingat kembali dan mengambil hikmah dari berbagai peristiwa bersejarah yang terjadi pada para Nabi dan Rasul.
Walau tidak semua orang Banjar memahami makna sebenarnya peringatan 10 Muharram. Ada yang mengerti dengan maksud mengadakan acara bubur asyura. Ada pula yang hanya menikmati ramainya, menikmati keasyikan berkumpulnya ketika memasak bubur asyura ini. Sebab sudah menjadi tradisi. Bagi laki-laki biasanya di isi dengan kegiatan membaca burdah atau lainnya. Sementara wanitanya memasak bubur secara bergotong royong.
Kegiatan membuat bubur asyura adalah kegiatan mandiri dari masyarakat. Musatkan kegiatan bubur asyura hanya pada titik-titik lokasi tertentu, malah menyebabkan kecemburuan sosial. Kemudian apabila cuma dipusatkan hanya pada satu lokasi, bagaimana dengan kegiatannya sendiri yang ada dalam masyarakat.
“Sebuah tradisi masyarakat yang telah berlangsung turun temurun, lalu momennya dimanfaatkan untuk aktivitas politik. Sangat tidak baik di rasa dan dipandang mata. Sepatutnya kegiatan turun temurun warga jangan dipolitisasi” ujar Mukhlis. ara/mb05

081211-kamis(jumat)-muara kebudayaan sungai (Dm.121211)

Photo: Prof MP Lambut

Muara Kebudayaan Sungai

BANJARMASINMasyarakat Banjarmasin tempo dulu, adalah masyarakat yang berkebudayaan sungai. Bagi masyarakat, sungai mempunyai nilai-nilai keluhuran yang sangat dalam.
            Hal ini diungkapkan oleh budayawan Kalsel Prof MP Lambut, pada Kamis (8/12) pagi. Menurutnya, sungai adalah urat nadi kehidupan masyarakat Banjar waktu itu. Sungai menjadi tempat aktifitas segala kegiatan, dari kegiatan berdagang, mencari ikan, ke kantor, ke sekolah, ke pasar, bertani, dan beragam aktivitas lainnya.
Peran sosial maupun politik sungai sangat kental. Jumlah sungai yang ada juga sangat banyak. Sebagian sungai, juga bersejarah membangun peradaban dan politik Banjar.
“Tetua kita dulu juga berharap banyak terhadap sungai di Banjarmasin, untuk selalu dijaga dan dipelihara” kata MP Lambut.
Masyarakat kampung yang dihubungkan oleh aliran sungai, mempunyai sikap sosial yang lebih harmonis dan tertata sebaik-baiknya secara alami. Seperti sifat sungai yang menghubungkan antara satu sungai dengan sungai lainnya.
Sungai yang mengalir melewati kampung-kampung, mengalir melewati tiap tikungan, mengalir mencari tempat yang lebih rendah. Aliran sungai menyambung dan menghubungkan kebiasaan masyarakat, menuju muara kebudayaan.
“Masyarakat masa lalu amat memahami arti sungai, karena itu masyarakat menjaganya dan merasa malu kalau berbuat tidak senonoh terhadap sungai. Tapi lihat gambaran masyarakat sekarang, sungai menyempit, kotor dan bau.
Bahkan jumlah sungai di kota Banjarmasin, semakin berkurang. Satu persatu menghilang. Sungai yang tersisa kini mengalirkan lumpur kemuara kebudayaan” ujar Guru Besar FKIP Unlam ini. ara/mb05

071211-rabu(kamis)-pengaruh sastra persia dr Alwy

Photo: Ahmad Syubbanuddin Alwy

Pengaruh Persia Dalam Sastra Indonesia

BANJARMASIN - Karya-karya sastra bentuk prosa dari Persia, banyak pula mempengaruhi kesusasteraan Indonesia. Bahkan pengaruh tersebut, terdapat pula dalam istilah yang digunakan dalam bahasa Indonesia.
            Hal ini diungkapkan Ahmad Syubbanuddin Alwy, sastrawan dari Cirebon Jawa Barat yang pernah datang ke Kalsel, pada pertengahan September 2011 yang lalu. Perbincangan antara Alwy dengan Mata Banua, secara umum mengenai perkembangan sastra Islam di Indonesia.
            Alwi kemudian mencontohkan beberapa karya sastra Indonesia yang dipengaruhi Persia. Seperti kitab Menak yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa, yang semula ceritera dari Persia. Dalam bahasa Melayu menjadi Hikayat Amir Hamzah.
Kitab Menak pada dasarnya serupa dengan kitab Panji, perbedaannya terletak pada tokoh-tokoh pemerannya. Ceritera-ceritera Menak dalam arti Hikayat Amir Hamzah, biasanya ditampilkan pula dalam pertun­jukan wayang golek yang konon diciptakan oleh Sunan Kudus, wayang kulit diciptakan oleh Sunan Kalijaga, dan wayang gedog diciptakan oleh Sunan Giri.
Ceritera Menak jumlahnya tidak sedikit, misalnya kitab Rengganis yang banyak digemari oleh masyarakat Sasak di Lombok dan Palembang.
Adapula Hikayat Amir Hamzah, merupakan kisah roman melegenda berdasarkan tokoh Hamza ibn Abd Al-Mutalib, paman Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wassalam. Kisah roman ini ditulis oleh Hamzah Fansuri, seorang ulama Melayu penganut tasawwuf.
Kemudian ada Mir‘at al-Mu‘minin (Cerminan jiwa insan setia), yang ditulis oleh Shamsuddin as-Sumatrani. Ia seorang penasehat spiritual Sultan Iskandar Muda, murid dan penerus Hamzah Fansuri.
Sedangkan Hamzah Fansuri adalah tokoh terpenting dalam perkembangan Islam dan tasawwuf di Nusantara. Ia adalah orang pertama yang menuliskan seluruh aspek fundamental doktrin sufi ke dalam bahasa Melayu. Ia juga berjasa dalam membawa bahasa dan sastra Melayu ke tingkat baru yang lebih maju.
Lalu hikayat Bayan Budiman, cerita yang didongengkan oleh seekor burung nuri ini berasal dari ceritera India Śukasaptati, yang isinya memuat pula dongeng-dongeng dari pañcatantra. Di Persia ceritera itu menjadi Tuti-namĕ, dan di Nusantara disadur menjadi Hikayat Bayan Budiman.
“Sedangkan pengaruh Persia pada kosa kata atau istilah dalam Bahasa Indonesia, seperti dalam gelar penguasa (raja atau sultan) dengan sebut­an Shah atau Syah. Lalu lebih banyak lagi terdapat pada kata-kata yang berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan. Misalnya nakhoda, bandar, dan shahbandar” ujar Alwy. ara/mb05

071211-rabu(kamis)-pemahaman antara budaya dan agama dr syarifuddin (Dm.091211)

Photo: Drs H Syarifuddin R

Konflik Antara Budaya Dan Agama

BANJARMASIN – Dewasa ini seringkali terjadi konflik antara budaya dan agama. Sebuah konflik yang akhirnya menimbulkan aksi kekerasan. Bagaimanakah seharusnya memandang antara budaya dan agama, agar menjadi selaras?
            Menurut Budayawan Kalsel Drs H Syarifuddin R, pada Selasa (6/12) malam di tempat kediamannya. Pengertian budaya pada dasarnya adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar.
Jadi budaya diperoleh melalui belajar. Tindakan-tindakan yang dipelajari antara lain cara makan, minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berrelasi dalam masyarakat  adalah budaya.
Tapi kebudayaan tidak saja terdapat dalam soal teknis. Kebudayaan juga terdapat  dalam gagasan yaitu fikiran yang kemudian terwujud dalam seni, tatanan masyarakat, ethos kerja dan pandangan hidup.
Pengaruh agama terhadap budaya manusia, terletak pada hubungan manusia dengan Tuhan. Yaitu suatu interaksi sosial dan keagamaan yang berpola kepada bagaimana manusia memikirkan Tuhan, menghayati dan beribadah kepada Tuhan.
Pola pemikiran hubungan dengan Tuhan ini, turut membentuk pandangan hidup dan mengarahkan tingkah laku hubungan antar manusia. Sehingga menghasilkan budaya lainnya, seperti bentuk seni suara, tari, ukiran, bangunan dll.
Budaya yang digerakkan agama, akan melahirkan perbedaan dari suatu daerah dengan daerah lainnya. Situasi dan kondisi suatu daerah turut mempengaruhi perkembangan dan perbedaan budaya tersebut, dengan cara pengungkapan masing-masing. Walaupun agama yang mengilhaminya sama.
Pemahaman terhadap situasi yang membedakan inilah yang seharusnya benar-benar dipahami. Pemahaman yang sempit pada akhirnya, hanya memaksakan kehendak, tidak menghormati perbedaan, keberagaman dan teloransi.
“Pada dasarnya tidak ada konflik antara budaya dan agama. Individu yang salah dalam memahami budaya, yang menyebabkan konflik tersebut.
Pemahaman yang benar, wajib ditanamkan pada generasi yang masih muda. Sehingga mempunyai pemahaman yang selaras antara budaya dan agama, agar daerah dan bangsa menjadi damai” ujar Syarifuddin R. ara/mb05

061211-selasa(rabu)-tradisi bubur asyura

Keutamaan Bubur Asyura Dalam Budaya

BANJARMASIN – Peringatan 10 Muharram dengan pembuatan bubur asyura telah menjadi tradisi turun temurun bagi orang Banjar. Begitu pula dengan sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia. Di mana semenjak pagi hingga siang hari tampak kesibukan ibu-ibu komplek dan gang-gang kecil mempersiapkan hidangan bubur asyura secara bergotong royong.
            Hal ini diungkapkan, pemerhati budaya Drs Mukhlis Maman pada Selasa (6/12) sore di Taman Budaya Kalsel.
Satu hari sebelum 10 Muharram. Beberapa ibu-ibu yang ditunjuk untuk mempersiapkan hidangan bubur asyura, berkeliling kampung mengumpulkan sumbangan warga. Baik sumbangan berupa uang maupun bahan-bahan untuk pembuatan bubur. Seperti beras, sayur-sayuran, kacang-kacangan, daging, serta bumbu masakan lainnya dipersiapkan sejak pagi. Tutur Sumiyati di Komplek Arrahim Kelurahan Kebun Bunga.
Di tempat lain, seusai mempersiapkan hidangan bubur asyura, warga di Gang Sadar Kelayan A, berkumpul untuk membaca do’a dan bersantap bersama.
Beberapa sumber menyebutkan. Tradisi peringatan asyura mempunyai nama yang bermacam-macam, dan cara pelaksanaan yang berbeda di Indonesia ataupun di belahan benua lainnya. Walaupun mempunyai tujuan yang hampir sama.
Peringatan asyura dikenal dalam budaya Jawa yang berpusat di kraton Yogyakarta dan Surakarta. Dimulai sejak 1 Muharram (1 Suro), pihak kraton mengawali tradisi Mubeng Beteng atau berjalan mengitari benteng Kraton membawa benda-benda pusaka.
Di Lereng Gunung Merapi, perayaan asyura ditandai oleh ribuan warga yang menggelar nasi tumpeng. Suatu ritual yang dinamai sedekah gunung, digelar di Boyolali Jawa Tengah. Sementara di Sleman, warga menggelar lomba memasak nasi kebuli.
Masyarakat madura, membuat bubur dengan sebutan tajin sor yang diberikan keseluruh tetangga dekat. Para tetangga saling memberi antara yang satu dengan yang lainnya.
Di belahan dunia lain. Kebiasaan umat islam di Mesir menyantap kue puding asyura, yang dihidangkan setelah makan malam pada hari asyura. Puding asyura ini dibuat khusus dari bahan gandum dengan tambahan kacang, kismis, dan air mawar.
Hidangan yang hampir mirip juga disajikan di Turki, yang di sana disebut sebagai kue ashure atau puding nabi Nuh.
Sementara itu tradisi bubur asyura bagi orang Banjar, mempunyai nilai kearifan budaya yang sangat mendalam.
“Tidak usah memperpanjang perdebatan apakah tradisi ini, memang dianjurkan dalam agama Islam atau berasal dari kelompok mazhab tertentu dll. Yang jelas, budaya silaturahmi, kebersamaan dan kegotong royongan dalam tradisi bubur asyura adalah sangat baik” ujar Mukhlis. ara/mb05

           

061211-selasa(rabu)-bubur asyura dalam pandangan islam

Photo: Drs H Murjani Sani MAg

Keberkahan Pada 10 Muharram

BANJARMASIN – Tradisi bubur asyura pada 10 Muharram, sebagai media untuk mengingat kembali dan mengambil hikmah dari berbagai peristiwa bersejarah bagi kaum muslimin. Yaitu peristiwa yangterjadi di dunia sejak Nabi Adam ‘alaihi salam (as), hingga kenabian Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam (saw).
            Hal ini diungkapkan Drs H Murjani Sani MAg, Ketua MUI Banjarmasin, dengan Mata Banua pada Selasa (6/12) pagi, di tempat kediamannya di Pekapuran Raya.
Menurut H Murjani, tahun baru Islam diawali dengan bulan Muharram. Tidak terasa sudah memasuki 10 Muharram, masyarakat mengenalnya dengan hari asyura. Pengertian asyura berasal dari bahasa Arab, yang dalam bahasa Indonesianya adalah sepuluh.
Umat Islam hendaknya kembali mengkaji sejarah masa lalu. Pada 10 muharram banyak keselamatan diberikan Tuhan, kepada para nabi dan rasul dalam mengakkan kalimat Allah.
Di kisahkan dalam beberapa kitab. Bahwa pada 10 Muharram, Nabi Adam as  diampuni dosanya oleh Allah, setelah bertahun-tahun memohon keampunan kerana melanggar larangan.
Kemudian Nabi Nuh as dan pengikutnya diselamatkan dari banjir besar. Nabi Ibrahim as dilahirkan di kawasan pedalaman dan terselamat dari buruan Raja Namrud, dan hari di mana Nabi Ibrahim as diselamatkan Allah dari api Raja Namrud.
Lalu pada 10 Muharram pula Nabi Yusuf as dibebaskan dari penjara setelah meringkuk di dalamnya selama tujuh tahun. Nabi Yaakub as sembuh buta matanya ketika kepulangan anaknya Yusuf di hari tersebut.
Selanjutnya kisah Nabi Ayub as yang disembuhkan dari penyakitnya. Nabi Musa as telah diselamatkan daripada tentera Firaun dan berlakunya kejadian terbelahnya Laut Merah. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa as. Nabi Yunus as selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam, dan masih banyal lagi riwayat lainnya.
Di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, ada Hadist Nabi Muhammad saw pula yang menganjurkan puasa pada 10 Muharram, karena banyaknya keberkahan pada hari itu.
Adapula yang mengaitkan tradisi 10 Muharram, dengan perayaan mazhab Syi’ah memperingati terbunuhnya Saiyiduna Hussain radiallahu anhu, cucu Nabi Muhammad saw di Karbala.
Terlepas dari perayaan kaum syiah. Kaum Suni lebih memaknai tradisi bubur asyura pada 10 muharram, dengan kisah Nabi Nuh as bersama pengikutnya setelah diselamatkan dari banjir besar. Nabi Nuh as meminta pengikutnya mencari sisa makanan yang ada dan tidak busuk. Lalu dikumpulkan dan dibuat dalam kuali besar, dimasak menjadi bubur untuk dinikmati bersama.
“Kita melihat budaya membubur asyura ini bagus. Budaya yang dibalut warna Islam. Seperti, bahannya dikumpulkan bersama, diolah bersama dan buburnya dinikmati bersama. Di sini ada nilai kebersamaan, silaturahmi dan kedermawanan yang sangat disuruh dikembangkan dalam Islam. Tidak ada bubur asyura yang terbuang percuma.
Moment 10 muharram, sangat bagus dimanfaatkan untuk meraih keberkahan, meraih perlindungan dan kenyamanan dari Allah. Bahkan harus dimulai dari awal pergantian tahunnya pada 1 Muharram. Memohon bersama agar daerah dan bangsa meraih perubahan kearah yang lebih baik dan positif” ujar H Murjani. ara/mb05

051211-senin(selasa)-panti jompo (Dm.131211)

Photo:mb/ara
LANSIA – Situasi bersantai para lansia Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera di jl A Yani km 27 Landasan Ulin Banjarbaru

Panti Jompo
Perlu Perda Yang mengatur sangsi bila tidak memberi pelayanan sosial

Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan  Lanjut Usia. BAB IX, Ketentuan Pidana Dan Sanksi Administrasi, pasal 26 berbunyi:
Setiap orang atau badan/atau organisasi atau lembaga yang dengan sengaja tidak melakukan pelayanan dalam rangka peningkatan kesejahteraan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3), Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3), padahal menurut hukum yang berlaku baginya ia wajib melakukan perbuatan tersebut, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 (satu) tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Panti asuhan lanjut usia (lansia) terlantar atau atau panti jompo yang disebut dengan Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera, yang di kelola Dinas Sosial Provinsi (Dinsos Prov) Kalsel terdapat di dua tempat. Pertama PSTW di jl A Yani km 27 Landasan Ulin Banjarbaru dan PSTW jl A Yani km 38 di Martapura.
Menurut Drs H Asmullah, kepala PSTW Budi Sejahtera. Resminya berdasarkan otonomi daerah pada 2002, kewenangan PSTW pengelolaannya berada dibawah dinas sosial provinsi. Baik masalah kepegawaian, fasilitas, dan termasuk juga anggarannya. Sebelumnya PSTW milik Kanwil Depsos. PSTW di Banjarbaru dibangun pada 1982, dan PSTW di Martapura dibangun pada 1962.
            PSTW di Banjarbaru mempunyai 13 wisma dengan kapasitas ada 110 lansia, sedangkan PSTW di Martapura mempunyai 7 wisma dengan kapasitas ada 60 lansia. Dari jumlah keseluruhan, 60 persen lansia wanita.
Lansia paling tua yang ada di PSTW berusia 90 tahun. Penempatan lansia pada wisma (kelompok) tergantung dari masalah lansia tersebut. Baik dari segi sosialisasinya, motivasinya dll.
            Kebanyakan dari lansia yang ada PSTW Budi Sejahtera sudah tidak mempunyai keluarga lagi, yang mempunyai keluarga hanya 30 persen. Sebagian lansia diantar oleh Dinsos Kabupaten/Kota, sebagian lagi hasil dari rajia razia gelandangan dan pengemis. Ada pula yang datang sendiri, karena merasa di kampungnya tidak mempunyai sanak keluarga.
            Banyak kegiatan yang dilakukan dalam PSTW. Seperti bimbingan mental keagamaan (ceramah agama, yasinan, maulid habsyi dll). Ada bimbingan sosial seperti kerja kelompok, terapi kelompok, hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan lingkungan. Ada bimbingan kesehatan dan rekreasi sosial.
Ada pula bimbingan keterampilan, seperti menjahit, menyulam, menganyam, membuat kue dll. Untuk keterampilan ini hanya sebagai pengisi waktu lowong para lansia. Sebab faktor  usia lanjut membuat lansia cepat merasa lelah. Tapi ada pula lansia yang rajin membuat kerajinan, sehingga bisa untuk dijual.
            H Asmullah yang telah menjadi Kepala PSTW Budi Sejahtera dari 2003. Pada akhir perbincangan ia mengatakan.
“Tugas di sini adalah ibadah, sebab tidak mudah merawat para lansia. Sementara masih banyak lansia yang terlantar di luar sana.
Saat ini ada UU RI yang mengatur sanksi, bagi yang dengan sengaja tidak melakukan pelayanan dalam rangka peningkatan kesejahteraan sosial lansia. Sayangnya UU RI ini tidak di perkuat dengan peraturan daerah (tidak ada perda untuk pelayanan dan sanksi bagi lansia)” ujarnya. araska

051211-senin(selasa)-budaya diskusi dikalangan seniman

Photo: mb/ara
KASISAB - Diskusi budaya Dwi Mingguan Kasisab Institut di Taman Budaya Kalsel, masih tidak terarah

Diskusi Seniman, Budaya Barucau Di Warung Kopi

BANJARMASIN – Diskusi budaya di tengah masyarakat harus digalakkan, sehingga pemahaman masyarakat terhadap budaya daerahnya sendiri, semakin mendalam. Hal ini diungkapkan pemerhati budaya Drs Mukhlis Maman beberapa waktu yang lalu.
Dilain pihak Drs Ali Syamsudin Arsi, salah satu sastrawan Kalsel, mengakui bahwa sudah banyak kegiatan diskusi rutin yang dilakukan seniman, sastrawan dan budayawan daerah sejak dulu. “Tapi selalu saja kegiatan diskusi tersebut tidak bertahan lama. Dan sangat sulit mengarahkan pembicaraan pada satu pokok permasalahan” katanya pada Minggu (4/12) sore kepada Mata Banua.
            Menurut Sainul Hermawan, pengajar FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Diskusi tidak hanya pada sebuah kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh suatu lembaga, kelompok atau organisasi tertentu. Tapi diskusi rutin satu minggu sekali, dua minggu sekali atau satu bulan sekali.
Diskusi bagi kalangan mahasiswa atau kalangan intelektual, akan lebih terarah. Beda dengan diskusi yang dilakukan seniman atau sastrawan dan budayawan.
Di Kalsel umumnya atau Banjarmasin khususnya, diskusi seniman, sastrawan dan budayawan, kebanyakan tidak terarah. Karakter seniman, cenderung menonjolkan diri sendiri dan tidak mau mengalah, akan sangat kentara.
Masing-masing hanya melempar wacana dan permasalahan. Atau hanya bertahan dengan pendapat sendiri, tanpa mau menerima pendapat dari yang lain. Tentu saja diskusi diakhiri tanpa ada kesimpulan, serta tidak ada tindak lanjut.
Tertlalu banyak wacana, komentar dan masalah yang tidak terfokus. Ditambah diskusi yang tidak teratur, menjadi sebab sebuah diskusi tidak berkualitas. Apalagi moderator diskusi tidak bisa mengarahkan pembicaraan, akan memperparah keadaan.
“Bisa dikatakan budaya diskusi seniman, sastrawan dan budayawan kita, lebih pada budaya barucau di warung kopi. Hasilnya sulit untuk dijadikan pegangan” ujar Sainul. ara/mb05

021211-jumat(sabtu)-kongers BEM Kalsel.2 (di berita kaki)

Photo: dokumentasi Walhi
MENUNTUT – BEM SEKA menuntut pemerintah mencabut izin perusahaan perkebunan dan pertambangan yang merusak lingkungan

Pergerakan Mahasiswa Kalimantan di 2011
Suarakan Keprihatinan Daerah
(BEM SEKA Bagian Kedua)

Kalimantan yang dulunya kaya dengan hutan belantara, kini kondisinya merana. Lubang-lubang menganga hasil pertambangan, menunggu bencana. Ketidak adilan pembangunan, menjadi budaya. Mahasiswa pun lantang bersuara.

Pergerakan mahasiswa adalah tonggak utama bagi perubahan. Oleh karena itu, mahasiswa memang sudah seharusnya menunjukan taring, sebagai garda terdepan agent of change.
            Jejak sejarah telah ditorehkan oleh Mahasiswa Kalimantan di Banjarmasin. Sejauh mana langkah diayunkan, waktu yang akan membuktikan. Suara kepedulian akan keprihatinan daerah telah disuarakan.
Menyusuri jejak awal pergerakan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan (BEM SEKA). Salah satu Presidium BEM SEKA untuk Kalsel, Arif Syubhan (Ketua BEM Unlam) menceritakan.
Bahwa langkah pertama yang sudah ditanamkan mahasiswa Kalimantan, dalam pertemuan Forum BEM se-Kalimantan di Aula Rektorat Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, pada Maret 2011 yang lalu, menjadi titik tolak pergerakan dan perjuangan mahasiswa Kalimantan  menuntut keadilan pembangunan.
Delegasi 15 BEM dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan. Membuat beberapa rekomendasi untuk pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Rekomendasi Umum, yaitu mendesak terhubungnya jalan trans Kalimantan. Mendesak pemerataan pembangunan di Kalimantan oleh pemerintah pusat. Revisi undang- undang no 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan daerah dan pusat. Mengelola SDA yg lebih baik demi kepentingan Rakyat Kalimantan. Perbaikan pendidikan secara umum di Kalimantan. Mendesak dan menuntut pemerintah pusat maupun pemerintah daerah supaya mewujudkan Kalimantan sejahtera dan bermartabat.
Selanjutnya, mengharuskan pemerintah meningkatkan dana bantuan untuk usaha kecil dan menengah yang ada di Kalimantan. Menuntut pemerintah memfokuskan pengelolaan tempat-tempat pariwisata di Kalimantan. Mendesak perbaikan kesejahteraan pada masyarakat Indonesia yang ada di perbatasan.
Rekomendasi Khusus Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kalimantan Selatan. Transparansi APBD yang ada di Provinsi Kalsel dan kabupaten/kota yang ada di Kalsel. Serta melibatkan partisipasi mahasiswa dalam pembangunan di Kalsel.
Rekomendasi Khusus Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu mendesak pemerintah pusat dan daerah agar segera mengesahkan RTRWP provinsi Kalteng, demi kelangsungan pembangunan Kalteng. Usut tuntas indikasi korupsi dalam hal pemberian izin perkebunan dan pertambangan Kalteng.
Berikan ruang bagi masyarakat adat agar dapat mengelola hutan secara hukum adat melalui perda. Tolak program REDD karena masyarakat belum jelas kedudukannya dimana. Cabut izin bagi perusahaan yg bergerak di bidang perkebunan dan pertambangan yang tidak mempunyai analisis dampak lingkungan. Segera selesaikan konflik pemilukada kabupaten Kotawaringin Barat dengan pemilu ulang dan adanya kesepakatan damai antara kedua calon.
Kemudian, mendesak walikota Palangkaraya agar lebih proaktif dalam menata kota agar mendapat piagam adipura lagi. Hentikan pemberian izin terhadap perkebunan sawit di Kalteng, karena bukan merupakan komoditi keperluan pangan masyarakat. Jangan jadikan masyarakat Kalteng hanya menjadi buruh perusahaan-perusahaan yang ada di Kalteng dengan tidak adanya peningkatan SDM untuk masyarakat.
Pihak perusahaan perkebunan dan pertambangan di Kalteng harus membangun sarana dan prasarana baik fisik dan non fisik, untuk keperluan masyarakat sesuai dengan tanggung jawab CSR. Usut tuntas perusahaan yang mencemari danau Sembuluh di Kabupaten Seruyan. Usut tuntas tentang indikasi penyelewengan proses pembangunan pelabuhan teluk Segintung di Kabupaten Seruyan. Stop pengkriminilisasian oleh pihak kepolisian terhadap masyarakat adat Kalteng yang memperjuangkan tanah leluhurnya.
Rekomendasi Khusus Provinsi Kalimantan Timur, yaitu Evaluasi kembali proyek-proyek mercusuar yang ada di Kaltim, dan Moratorium kegiatan pertambangan yang ada di Kaltim.
“Ditetapkan untuk tuan rumah pertemuan selanjutnya, sekaligus sebagai Kongres Pertama BEM SEKA adalah di IAIN Antasari Banjarmasin.
Satu hal yang terpenting, peserta deklarasi sepakat, bahwa pertemuan forum ini menjadi awal perjuangan mahasiswa se-Kalimantan. Perjuangan menyuarakan ke prihatinan daerah, serta memajukan pembangunan daerah hingga nasional” ujar Arif Syubhan via telepon dengan Mata Banua pada Minggu (20/11) malam. ara/mb02

021211-jumat(sabtu)-kongers BEM Kalsel.1 (di berita kaki)

Photo: dokumentasi panitia
FORUM – Deklarasi Forum Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan

Pergerakan Mahasiswa Kalimantan di 2011
Ketika Mahasiswa Merapatkan Barisan
(BEM SEKA Bagian Pertama)

Keprihatinan yang menggumpal dalam dada. Melihat ketidak adilan dan kondisi lingkungan daerah yang merana. Mahasiswa pun merapatkan barisan.

Protes tidak bisa disampaikan oleh satu lidah saja. Mahasiswa harus merapatkan barisan, dan menyatukan tujuan. Bersama-sama menyuarakan keprihatinan dan ketidak adilan.
            Dua hari sebelum kongres, Arief Rahman Heriansyah salah satu panitia Kongres ke I Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan (BEM SEKA), melalui SMS mengabarkan dengan Mata Banua. Mengenai tanggal pelaksanaan Kongres ke I BEM SEKA (pada 17 sd 20 November 2011), di Auditorium IAIN Antasari Banjarmasin.
Rangkaian kalimat pun bergulir, menyusuri jejak-jejak yang ditinggalkan. Hingga sampai pada persimpangan keprihatinan, menuntut jalan keadilan.
Menggali awal mula pergerakan. Berdasarkan penuturan Arif Syubhan, salah satu pelaku pertemuan forum BEM se-Kalimantan, dan berdasarkan data dari beberapa sumber lainnya.
            Di awali dari 3 sd 5 Maret 2011, delegasi-delegasi BEM dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, menghadiri pertemuan forum BEM se-Kalimantan di Aula Rektorat Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin. Sayang wakil BEM dari Kalimantan Barat berhalangan hadir.
Perguruan tinggi negeri dan swasta yang berhadir tersebut, antara lain Universitas Ahmad Yani Banjarmasin, UNISKA Banjarmasin, IAIN Antasari Banjarmasin, STKIP PGRI Banjarmasin, STMIK Indonesia Banjarmasin, STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, STIENAS Banjarmasin, STIEI Banjarmasin, ATPN Banjarbaru, STMIK Indonesia Banjarbaru, STAI Al Falah Banjarbaru, Politeknik Tanah Laut, Universitas Muhammdiyah Palangkaraya, Universitas Palangkaraya (Unpar), dan Universitas Mulawarman (Unmul).
Setelah melakukan studium general, dan rapat bersama pembentukan Forum Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan. Akhirnya diputuskan pendeklarasian suatu aliansi, yang telah disepakati bernama Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan.
Presidium BEM SEKA untuk Kalsel diwakili oleh Arif Syubhan (Ketua BEM Unlam), Kalteng diwakili Jusuf Rony  (Ketua BEM Unpar) dan  Kaltim diwakili Dimas Prasetyo (Ketua BEM Unmul).
Menurut Arif Syubhan, sangat besar dukungan Pembantu Rektor (Purek) III Unlam, Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi, terhadap forum BEM se-Kalimantan. Sehingga mengatakan, bahwa Kalimantan dulu merupakan daerah yang jaya karena kekayaan hutannya. Namun sekarang kondisinya cukup merana. Karena itu tujuan pembangunan di Kalimantan juga harus maju.
Pergerakan menuntut pembangunan tersebut, harus dimulai dari para mahasiswa. Bahkan dengan pergerakan Forum BEM se-Kalimantan ini, juga bisa memberikan pesan aspirasinya hingga ke pemerintah pusat, terutama Presiden.
Kalau hanya terbentuk, tetapi apa yang diperjuangkan tidak sampai ke presiden, hal itu tidak berarti. Jadi ini adalah sebuah kesempatan. Kata Purek III Unlam pada sambutan pembukaan Forum BEM se-Kalimantan.
“Peserta deklarasi sepakat, pertemuan tersebut menjadi perjuangan awal  mahasiswa se Kalimantan, dalam menyuarakan ke prihatinan daerah, serta memajukan pembangunan daerah hingga nasional” ujar Arif Syubhan via telepon pada pada Minggu (20/11) malam. ara/mb02

011211-kamis(jumat)-penyair kalsel setelah 2001 dr rustam

Sasrawan Generasi Kebangkitan

BANJARMASIN – Jarkasi dan Noor Ganie menginventarisir 307 orang penyair Kalsel. Para penyair itu diklasifikasikan menjadi empat kelompok, yaitu sastrawan generasi perintis, sastrawan generasi penerus, sastrawan generasi penerus pengembang, dan sastrawan generasi pewaris.
            Menurut Drs Rustam Effendi MPd Phd, staf pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan - Program Studi Pendidikan Bahasa dan  Sastra Indonesia Universitas Lambung Mangkurat, beberapa waktu yang lalu.
Bahwa inventarisasi itu sudah tidak akurat lagi, karena dikemukakan pada 2001. Angka 307 dalam kurun waktu 10 tahun terakhir telah berubah.
            “Apabila empat kelompok sastrawan yang dikemukakan Jarkasi dan Noor Ganie, diteruskan ke masa 10 tahun terakhir. Akan ada penambahan generasi kelompok baru, yaitu generasi kebangkitan” katanya.
            Para penyair generasi kebangkitan, tumbuh dan berkembang pada era teknologi komunikasi yang pesat. Karya-karyanya tidak menunggu Koran atau Majalah untuk diterbitkan.
Generasi ini tidak akan sabar menunggu penerbitan Koran dan Majalah yang selalu antre bergiliran, atau hanya terbit dalam suatu waktu yang berkala. Generasi kebangkitan berupaya mencari jalan lain, diantaranya mempublikasikan melalui website dan facebook.
“Pada era empat generasi, sebuah karya sebelum diterbitkan terlebih dahulu dikumpulkan dengan paus sastra (kritikus dan senior sastra). Tapi bagi generasi kebangkitan, ia lebih suka berupaya sendiri untuk menerbitkan karya-karyanya, tanpa harus melalui para paus sastra” ujar Effendi. ara/mb05

011211-kamis(jumat)-Lokalitas Karya Sastra dr raudal

Photo: Raudal Tanjung Banua

Lokalitas Karya Sastra Suatu Generasi

BANJARMASIN – Karya sastra adalah juga kaca benggala kebudayaan suatu bangsa. Dalam konteks karya sastra, sisi budaya ini boleh jadi akan merujuk perbincangan tentang lokalitas dalam sastra.
Hal ini pernah diungkapkan Raudal Tanjung Banua sastrawan Yogyakarta, dalam perbincangan singkat di Taman Budaya Kalsel pada awal November 2011 yang lalu. Untuk memperjelas maksud Raudal tentang lokalitas sastra, Mata Banua menanyakannya kebali via telepon.
“Pengalaman hidup, peristiwa peristiwa yang di alami atau disaksikan, dan situasi adat budaya disekitar kehidupan, akan menjadi gambaran dalam karya sastra seorang penulis” kata Raudal.
Banyak contoh karya-karya sastrawan yang mengandung lokalitas suatu masa dan telah dikenal secara nasional. Pada zaman transisi pemerintahan Belanda-Jepang, peristiwa di seputar itu, tertuang sangat liar dalam cerpen-cerpen Idroes dalam Dari Ave Maria. Tak Satu Jalan ke Roma atau novel Dan Perang pun Usai karya Ismail Marahimin.
Sejarah pergolakan 1965 yang dramatik, bisa ditelusuri ulang dalam cerpen-cerpen Martin Aleida, novel Anak Tanah Air Ajip Rosidi, atau di sejumlah puisi penyair Lekra/eksil Indonesia seperti Agam Wispi dan Putu Oka Sukanta.
Sikap hidup bangsawan Jawa misalnya, dapat dilihat dalam Para Priayi-Umar Kayam atau Burung-burung Manyar-YB Mangunwijaya. Eksotisme dan ironisme budaya Jawa pedalaman dalam Ronggeng Dukuh karya Paruk-Ahmad Tohari.
Ironisme budaya matrilinial di Minangkabau dalam novel-novel Hamka. Pergulatan budaya Bali antara bangsawan dan hamba sahaya dalam karya Oka Rusmini, atau cerpen-cerpen Gde Aryantha Soethama.
Begitupula banyak karya-karya sastrawan Kalsel yang berlatar budaya masyarakat Banjar. Seperti Merayu Sukma dan Yurni Yusri dengan romannya, Arthum Artha dengan cerpennya, Maseri Matali dengan puisinya, M Yusuf Aziddin, Mugeni Jafri, Haspan Hadna, dan masih banyak generasi berikutnya beserta karya masing-masing.
Di luar Indonesia akan dijumpai karya-karya sastra yang berlatar sejarah dan budaya bangsa-bangsa Arab dan Romawi. Misalnya lewat novel-novel Amin Maalouf. Sejarah Turki Otoman lewat novel Orhan Pamuk. Pergulatan manusia dan bangsa-bangsa Eropa lewat karya-karya Anton Chekov, Frans Kafka, Alexander Dumas sampai Milan Kundera.
Kemudian dengan jernih melihat identitas dan pergulatan bangsa-bangsa Afrika lewat novel Achanue Achebe, Emile Sola, dan Fanon. Psikologis masyarakat Mesir lewat karya Nadjib Mahfudz.
“Melalui karya sastra (puisi, cerpen atau novel) inilah tergambar lokalitas suatu generasi pada masa tersebut. Bagaimana perikehidupan sebuah daerah maupun suatu bangsa yang dituliskan oleh sastrawannya” ujar Raudal, pada Kamis (01/12) sore. ara/mb05

301111-rabu(kamis)-eksplorasi puisi dr p'asa (Dm.021211)

Photo: Drs Ali Syamsudin Arsi

Dicari Tafsiran Baru Pementasan Puisi

BANJARMASIN – Pencarian bentuk-bentuk tafsiran baru terhadap puisi sangat memungkinkan. Interprestasi puisi di atas panggung harus dikembangkan lebih jauh lagi, kita tidak bisa terpaku pada sesuatu yang sudah ada saat ini.
Hal ini diungkapkan Drs Ali Syamsudin Arsi atau yang akrab disapa dengan Asa, dengan Mata Banua beberapa waktu yang lalu di Taman Budaya (TB) Kalsel.
            Menurut penyair Kalsel ini, adanya jurusan Sendratasik di Universitas Lambung Mangurat dan jurusan Seni Tari di FKIP STKIP PGRI, membuka peluang pemikiran yang lebih maju terhadap pementasan sastra dan puisi.
            Jangan sampai lomba-lomba puisi hanya terbatas pada dramatisasi atau teaterikalisasi puisi, musikalisasi puisi, dan puisi yang dinyanyikan saja.
Penjelajahan pada puisi tidak terikat atau tidak berdiri pada satu posisi, tapi puisi akan merambat pada celah-celah yang lain, dan itu sangat memungkinkan. Karena puisinya sendiri adalah membuka untuk tafsiran.
“Akan menjadi lebih kaya apabila puisi berada dalam multi tafsir pertunjukan. Seperti satu kesatuan pertunjukan puisi dalam drama yang terdapat pula tarian, lalu diiringi dengan musik dan nyanyian” katanya.
            Bentuk-bentuk tampilan baru memperkaya khajanah perpuisian, tiap orang boleh mencari tanpa batasan. Eksplorasi-eksplorasi seperti ini, pada akhirnya menimbulkan istilah baru, dan itu sah saja. Sehigga kehidupan berseni menjadi lebih dinamis, dan bersaing untuk menjadi lebih kreatif.
            Untuk mencari bentuk-bentuk baru, dalam menafsirkan sastra dan perpuisian, diperluakan wawasan yang luas dan mau belajar kemana saja. Tidak terpaku dengan keadaan di dalam daerah saja.
            “Siapa dan dimana harus memulai ini? Siapapun dan tidak ada tempat yang dapat membatasi. Dimana bisa memungkinkan, disitulah bisa ditampilkan.
            Tapi, TB sebagai sentral seni budaya di Kalsel, tentunya lebih memungkinkan, untuk melakukan eksplorasi dan pengembangan bentuk-bentuk baru pementasan sastra” ujarnya. ara/mb05


301111-rabu(kamis)-bangunan tanpa penghijauan (Dm.011211)

Photo: mb/ara
BETON – Sangat banyak bangunan ruko di Kota Banjarmasin, mempunyai halaman yang hanya tertutup beton dan tanpa penghijauan

DKP Himbau Ruko Laksanakan Penghijauan

BANJARMASIN – Upaya penghijauan tidak hanya dijalan-jalan utama di Banjarmasin maupun pada kawasan hijau atau hutan kota.
Penghijauan juga harus digalakkan pada bangunan-bangunan yang halamannya semua tertutup beton, dan tak ada celah bagi serapan air. Ini jelas terlihat pada kebanyakan bangunan ruko di Kota Banjarmasin
Berdasarkan kajian Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, polusi udara di Kota Banjarmasin sudah di ambang batas. Salah satu faktor penyebab polusi udara adalah asap dari hasil pembuangan, yang disebabkan dari tingginya mobilitas dari kendaraan bermotor.
Kualitas udara terburuk dari sampel beberapa bulan terakhir, terdapat di empat titik. Titik-titik tersebut adalah kawasan Lingkar Basirih, kawasan Belitung, Sultan Adam dan Veteran.
            Menanggapi pertanyaan Mata Banua, menurut Drs H Hamdi selaku Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Banjarmasin, beberapa waktu yang lalu di Gedung PWI Kalsel. Kebersihan dan polusi menjadi masalah utama di kota ini. kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan penghijauan kota, tidak hanya menjadi beban pemerintah, tapi juga tanggung jawab masyarakat. Begitupula pada para pengembang atau pemilik bangunan ruko.
Penanaman pohon di sekitar kawasan-kawasan yang rawan polusi. Diharapkan dapat mengurangi partikel debu dan polusi yang dapat mengganggu pernapasan manusia.
“Yang penting partisipasi masyarakat dalam mendukung gerakan penghijauan. Kami juga menghimbau dan mendorong kepada pemilik ruko untuk melaksanakan penghijauan. Bahkan apabila ruko tidak punya lahan, bisa saja dimanfaatkan bagian atas gedung dengan sistem demplot.
Maka untuk mendorong ini, kami akan memberi penghargaan bagi bangunan dan ruko yang paling hijau. Sehingga Banjarmasin benar-benar menjadi hijau dan teduh” ujarnya. ara/mb05

291111-selasa(rabu)-penjual ember keliling (Dm.di ekonomi)

Photo: mb/ara
KELILING – Penjual baskom keliling, tiap hari harus berjalan lebih dari 35 km, dari satu komplek ke komplek yang lain, keluar masuk kampung

Jual Baskom Keliling Untuk Biaya Sekolah Anak

MARTAPURA – Duk duk duk, dari jauh terdengar dua benda dibenturkan. Tampak seorang pria di berjalan di terik matahari, dengan membawa tumpukan baskom plastik di atas kepala dan digantung di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
            Suara duk duk berasal dari dua baskom kecil dan baskom besar yang dibenturkan oleh pria tersebut, untuk menarik perhatian masyarakat di wilayah perumahan yang dilewatinya.
            Raji (40 th) penjual baskom keliling, tiap hari harus berjalan lebih dari 35 km. Dari satu komplek ke komplek yang lain, keluar masuk kampung, dari Martapura hingga kota Banjarbaru.
            “Tumpukan baskom yang ada di kepala ini beratnya minimal 35 kg. Membenturkan dua baskom untuk menarik perhatian orang, kalau tidak tahu tekniknya bisa pecah.
Hari ini baru laku satu baskom kecil. Satu baskom paling untungnya Rp 3 ribu. Kalau lagi ramai bisa laku 7 baskom atau ember. Tapi bila lagi sepi, bisa saja tidak ada yang membeli” katanya bercerita kepada Mata Banua.
            Raji hanya mengenyam pendidikan hingga bangku kelas 3 SD. Jauh merantau dari kampung halamannya di Kota Probolinggo Jawa Timur, ke Kalimantan Selatan untuk mengumpulkan uang buat biaya sekolah dua putrinya.
            Di Kota Probolinggo, sebelumnya ia hanya seorang tukang bangunan. Putri pertamanya berusia 15 tahun duduk di kelas 1 SMA, dan putri ke duanya berusia 13 tahun duduk di kelas 2 SMP.
            “Sulit mencari kerja di Probolinggo, oleh karena itu aku merantau ke Kalsel. Apabila sudah terkumpul hingga Rp 300 ribu, baru dikirim ke sana.
Ini kulakukan untuk mencari uang buat biaya sekolah dua putriku, mudah-mudahan keduanya bisa sekolah hingga perguruan tinggi” harapnya dengan pandangan sendu, merindukan keluarganya yang nun jauh di seberang lautan. ara/mb06


281111-senin(selasa)-PPC YPPC Mtp

Photo: mb/ara
PRESTASI – Anak-anak panti YPPC Keraton mempunyai segudang prestasi

Panti Penyandang Cacat YPPC Keraton
Mempunyai Anak asuh Yang Berprestasi Dalam Olahraga

Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional, no 20 tahun 2003 Bab IV Pasal 5 ayat 2 dinyatakan, bahwa warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, intelaktual dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang mengalami kelainan sedemikian rupa baik fisik, mental, sosial maupun kombinasi dari ketiga aspek tersebut, sehingga untuk mencapai potensi yang optimal ia memerlukan Pendidikan Luar Biasa (PLB).
Panti Penyandang Cacat – Yayasan Penyantun Penyandang Cacat (YPPC) Keraton didirikan pada 2006, beralamat di Jl Menteri Empat Rt 12 Komplek PLB, Sei Paring Martapura.
Menurut Sutra Ali (59) pendiri yayasan dan pembina panti, sebelumnya hanya ada SDLB. Tapi setelah didirikan YPPC baru terjadi perkembangan yang lebih baik, yaitu mulai dibangun panti, SMPLB, dan SMALB. Selain dari anak-anak cacat mental dari panti yang bersekolah, ada pula anak-anak cacat mental dari masyarakat di Martapura dan Banjarbaru.
Tujuan pendirian panti, pada dasarnya untuk membantu anak-anak cacat mental yang tidak mampu atau tidak mempunyai biaya. YPPC sekarang membina 30 anak asuh tunarungu dan tunagrahita, dengan tingkat pendidikan SMALB ada 10 anak, SMPLB ada 5 anak, dan sisanya di SDLB.
Anak-anak berasal dari Banjarmasin, Rantau, Barabai dan Kotabaru. Diantara 30 anak, terdapat 3 anak putri. Karena kapasitas asrama terbatas, sebagian anak menyewa di rumah penduduk yang berada di sekitar SLB.
Selama 5 tahun panti didirikan, sudah lebih dari 20 anak yang purna asuh dan hidup mandiri (bekerja). Beberapa anak mengabdikan diri dengan bekerja sebagai Tata Usaha di SDLB.
Di SMALB anak-anak diajarkan beragam keterampilan, dari memasak, potong rambut, membuat sandal, menjahit dll. “Beberapa tahun yang lalu, dari Dinas Sosial memberi bantuan modal berupa peralatan usaha untuk anak yang telah lulus sekolah. Seperti alat membuat batako, mesin jahit dll. Tapi sekarang tidak ada lagi” katanya kepada Mata Banua.
Tidak sedikit pula anak-anak panti yang berprestasi di SLB. Begitupula dalam olahraga, ada yang berprestasi dalam bulu tangkis, lari, bahkan ada yang mewakili Indonesia dalam Olimpiade Tunagrahita di Athena Yunani pada Juni 2011 yang lalu.
Pada pekan Olahraga Pelajar Cacat Nasional (Popcanas) di Riau, 19-21 Oktober 2011, salah satu anak panti YPPC meraih medali emas dalam cabang olahraga renang.
Selain di sekolah, di asrama panti anak-anak juga diajarkan tentang disiplin. Ada peraturan untuk mereka, seperti waktu sholat, jam tidur, siapa yang mendapat giliran kebersihan, bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat dll.
“Disiplin di sini, tentu berbeda dengan anak normal, tapi paling tidak ada peraturan yang harus mereka taati. Apabila melanggar hukumannya juga hanya nasehat. Mengurus anak cacat mental sangat memerlukan kesabaran. Anak-anak yang sudah purna asuh dan mandiri, apabila liburan sering datang berkunjung ke panti” ujar Sutra Ali yang sudah 20 tahun mengajar di SLB sebagai guru Agama. araska

271111-minggu(senin)-TB pagelaran wayang kulit (Dm.291111)

Photo: mb/ara
DALANG CILIK - Sahriawan Jaya Sukma Si Dalang Cilik kembali menampilkan kemahirannya dalam menuturkan dan memainkan wayang kulit di Taman Budaya Kalsel

Celoteh Dalang Cilik Kembali Meriahkan Taman Budaya Kalsel

BANJARMASIN – Kolaborasi pagelaran wayang kulit Banjar yang dibawakan oleh tiga generasi dalang malam ini, adalah untuk yang pertama kalinya di Taman Budaya (TB) Kalsel. Apalagi ke tiga dalang tersebut masih satu keluarga, dan kehadiran Sahriawan sebagai dalang cilik memberi warna dan semangat baru bagi dunia pedalangan di Kalsel.
            Hal ini diungkapkan Kepala TB Kalsel Drs Noor Hidayat Sultan, dengan Mata Banua pada Sabtu (26/11) malam, di tengah pertunjukan wayang kulit Banjar Kolaborasi dalang cucu yaitu Sahriawan Jaya Sukma 12 tahun, dalang anak yaitu Sah Putera 36 tahun dan dalang kakek yaitu Diman 55 tahun.
            Pagelaran wayang kulit Banjar malam tersebut, merupakan agenda tahunan TB. Bertempat di samping gedung Wargasari TB dari pukul 22.00 Wita hingga pagi. Karena ada tiga dalang, pertunjukan di bagi menjadi empat sesi.
            Sesi pembuka dilakukan oleh dalang Diman, lalu pada sesi ke dua dilanjutkan oleh dalang Sahriawan sampai pukul 23.00 Wita. Kemudian sesi ke tiga di teruskan oleh dalang Sah Putera, dan sesi ke empat disambung dengan dalang Diman hingga pagi. Lakon cerita yang dibawakan berjudul Liku-Liku Pandawa Mambangun.
            Animo penonton cukup banyak, sampai-sampai bangku yang disediakan TB tidak mencukupi. Hampir sepertiga penonton dari kalangan generasi muda (mahasiswa).
            Sebelumnya, pada Minggu malam 10 Juli yang lalu, Sahriwan dalang cilik Asam Barimbun Grup dari kabupaten Hulu Sungai Tengah, juga pernah tampil di panggung terbuka TB Kalsel dalam Pekan Kemilau Banua Seribu Sungai. Kelincahan dan celoteh Sahriawan dalam memainkan wayang kulit Banjar, telah memukau penonton.
            Menurut dalang Diman (kakek Sahriawan), lakon cerita pewayangan yang dimainkannya, anak dan cucunya kali ini (Sabtu malam, 26 November 2011), bukan cerita carangan, tapi cerita pakem pewayangan. Kisahnya mengenai liku-liku keluarga Pandawa dalam membangun kerajaan, setelah terusir dari kerajaan Hastinapura.
            Diman sangat bangga dengan kemampuan Sahriawan, dalam usia dini telah mampu menjadi dalang.
            “Mudah-mudahan Sahriawan nantinya lebih dari kami. Semoga pemerintah mempunyai program, untuk meningkatkan generasi muda dalam pedalangan, hingga akhirnya ada festival dalang cilik di Kalsel ini” harapnya. ara/mb05

271111-minggu(senin)-diklat eskul distograf SMAN 7

Photo: mahfuz

Siswa SMAN 7 Banjarmasin Kembangkan Dunia Fotografi Pelajar

BANJARMASIN – Dunia fotografi kian digandrungi kalangan pelajar di Banjarmasin, walau hanya sekedar hobi. Ini terlihat dengan terbentuknya komunitas-komunitas fotografi baru.
Keterbatasan alat tidak menghalangi seseorang untuk belajar fotografi. Adanya anggapan bahwa untuk belajar dan latihan fotografi harus menggunakan kamera DSLR, adalah tidak benar.
Apapun kameranya tidak menjadi masalah, hanya dengan kamera HP saja sudah bisa dilakukan.
Tanpa mau ketinggalan terhadap perkembangan dunia fotografi. Beberapa hari yang lalu pada Kamis (24/11) sore, beberapa pelajar SMAN 7 Banjarmasin, mengadakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Fotografi dilingkungan sekolahnya.
Diklat dilaksanakan di aula SMAN 7 Banjarmasin dari pukul 16.00 sd 18.00 Wita.
Menurut Asparis noval Ketua Panitia Diklat, ada 20 siswa yang mengikuti Diklat. Selain materi dasar fotografi, ada pula materi editing foto.
“Dengan adanya Diklat ini, pengetahuan kami tentang fotografi semakin bertambah. Sehingga hanya dengan kamera sederhana, bisa menghasilkan gambar yang baik” ujar siswa kelas II IPS 2 ini kepada Mata Banua, di sela-sela kegiatan Diklat. ara/mb05

251111-jumat(sabtu)-pasar terapung.1 dr mukhlis

Photo: mb/ara
RUSAK – Ibu Norasikin di Sungai Bakung Kec Sungai Tabuk sudah satu bulan lebih menganggur tidak bisa berjualan, karena sampan yang dipergunakannya untuk berdagang sayuran kepasar terapung selama ini sedang rusak

Kembangkan Pasar Terapung Yang Sudah Ada

BANJARMASIN – Pasar terapung yang di Festival Pasar Terapung Sungai Martapura, di depan Kantor Gubernur Kalsel di Banjarmasin. Dan rencana mengembangkan pasar terapung masuk kota di kawasan sungai jalan Japri Zam Zam, pada dasarnya adalah dibuat-buat.
Hal ini diungkapkan Drs Mukhlis Maman, dengan Mata Banua pada Kamis (24/11) malam.  Menurutnya, sesuatu yang dibuat-buat apalagi tidak pada tempatnya, di nilai dari sisi budaya tidak mempunyai makna, atau tidak alami.
Pasar terapung yang sebenarnya ada di pasar terapung Kuin perairan sungai Barito, dan pasar terapung Lok Baintan perairan sungai Martapura.
Pengertian budaya adalah sesuatu yang berkembang, dan tumbuh dari masyarakat. Kalau budaya itu dibuat-buat, maka tidak akan bertahan lama. Apa bila pemerintah ingin mengembangkannya, diperlukan kesungguhan yang maksimal dan waktu yang cukup lama.
Yang seharusnya dilakukan pemerintah, adalah membangun fasilitas dan inprastruktur yang memadai, untuk akses di pasar terapung yang sudah ada. Ekonomi masyarakat di sana diperbaiki, serta memberikan bantuan modal usaha bagi pelaku pasar terapung.
Sesuatu yang alami, mempunyai nilai yang lebih tinggi dalam pariwisata. Para wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan manca negara (wisman), cenderung mengunjungi tempat yang terbentuk secara alami. Bila masyarakat pelakun pasar terapung di tempat tersebut merasa diuntungkan, ia akan berkembang dengan sendirinya.
“Lebih baik memelihara dan mengembangkan pasar terapung yang sudah ada. Aku sependapat dengan Syarifuddin R, bahwa eksistensi kehidupan ekonomi pelaku pasar terapung, atau pedagang perahu (jukung) itulah yang lebih diutamakan.
Membuat pasar terapung yang baru, akan memakan biaya yang tidak sedikit. Lebih baik digunakan untuk memberi bantuan modal bagi pelaku di pasar terapung yang lama, dan memperbaiki fasilitas yang sudah ada. Ini lebih bermanfaat.
Apalagi aku dengar ada pelaku pasar terapung, yang kekurangan modal dan tidak punya duit untuk memperbaiki perahunya yang rusak, sehingga sudah satu bulan lebih tidak bisa berjualan.” ujar Mukhlis. ara/mb05

251111-jumat(sabtu)-kisruh pemilu unlam

Photo: mb/ara
SEPI – Tenda aspirasi mahasiswa dari MUM yang memboikot PRMU di Unlam Banjarmasin, didirikan dari 11 sd 16 Oktober 2011, terlihat sepi tanpa ada yang bertugas menjaganya

Penyelesaian Kisruh Pemilu DPM Unlam Masih Tidak Jelas

BANJARMASIN – Kelanjutan dari Pemilu Raya Mahasiswa Unlam (PRMU) di Banjarmasin, akan dilaksanakan pada Senin 28 November 2011.
            Untuk lebih jelasnya, Mata Banua berusaha melakukan konfirmasi dengan pihak-pihak terkait. Namun Pembantu Rektor (Purek) III, Prof Dr Ir H Idiannor Mahyuddin MSi dan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Unlam yang baru, yaitu Busairi dari Fisip Unlam hingga saat ini tidak memberikan jawaban.
Sementara itu, Pazri dari Partai Aspirasi Mahasiswa (Pama), pada Jumat (25/11) siang via SMS mengatakan bahwa ia sebagai Kandidat Calon Presiden (KCP) Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unlam, tidak mendapat konfirmasi pula dari Ketua KPU Unlam, mengenai kapan kelanjutan PRMU.
“Apabila KPU yang baru ini tidak bisa menyelesaikan tugasnya, hingga akhir November 2011, kami dari KCP akan mengambil tindakan” ujar Pazri tegas.
Jami Azwar, Pelaksana Tugas (PLT) Presiden Mahasiswa (Presma) Unlam periode yang lalu, mengatakan bahwa jadwal yang terpampang di kantor Purek III, tertulis bahwa dari 22 sd 25 November 2011 adalah masa kampanye. Lalu 26 sd 27 November 2011 adalah masa tenang. Selanjutnya 28 November 2011 adalah masa pemilihan lanjutan.
“Yang kami sangat kecewakan, anggota KPU sekarang adalah orang-orang yang memprotes dulu, dengan alasan protes salah satunya adalah tidak adanya sosialisasi. Pada kenyataannya, setelah mereka menjadi KPU, sosialisasi malah semakin tidak jelas.
Lihat saja di Unlam Banjarmasin, tidak ada pemberitahuan untuk mahasiswa. Baik pemberitahuan melalui sepanduk, brosur ataupun pamflet, bahwa PRMU lanjutan dilaksanakan tanggal sekian! Tidak ada satupun mahasiswa yang tahu, kami dari PLT saja tidak diberi konfirmasi” katanya.
Seperti yang sudah di ketahui, Pama mengusung Muhammad Pazri (Fakultas Hukum) bersama Masbukhin (Fakultas Teknik). Kemudian dari Partai Suara Hati Mahasiswa (Saham) mengusung Sayed Ahmad Sofyan (Fakultas Metematika Ilmu Pengetahuan Alam), bersama Agusnadi (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan).
            Perhelatan demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden mahasiswa Unlam, yang seharusnya dituntaskan pada Kamis 6 Oktober 2011 yang lalu. Ternyata di boikot oleh sekelompok mahasiswa oposisi, yang tergabung dalam Mahasiswa Unlam Menggugat (MUM).
            Tidak hanya aksi boikot, Rachmad Suryadi Ketua KPU yang lama turut mendapat teror secara mental, sehingga kondisinya sangat tertekan. Usaha Purek III memfasilitasi pertemuan dan dialog antara dua pihak yang berseberangan, terus mengalami kegagalan.
            Hingga pada Selasa malam, 11 sd 16 Oktober 2011, MUM mendirikan tenda aspirasi mahasiswa di depan jembatan komplek Unlam Banjarmasin. Dari pantauan Mata Banua, tenda tersebut terlihat sepi tanpa ada yang bertugas menjaganya.
Rabu siang 12 Oktober 2011 kembali dilakukan pertemuan, dan menghasilkan kesepakatan bersama, bahwa suara PRMU di Banjarbaru dianggap sah. Kelanjutan PRMU di Banjarmasin ditentukan kemudian.
            Untuk mempersiapkan PRMU susulan di Banjarmasin, dilakukan perombakan pengurus KPU. Tim kecil pembentukan pengurus KPU yang baru, terdiri Purek III Unlam sebagai ketua.
Anggota tim kecil terdiri dari tiga Pembantu Dekan (PD) III di Unlam Banjarbaru (PD III FMIPA, PD III Fakultas Tekhnik dan PD III Fakultas Perikanan ), serta tiga PD III di Unlam Banjarmasin (PD III Fakultas Hukum, PD III Fakultas Ekonomi, dan PD III FISIP). Ditambah dengan Satu anggota KPU yang lama, dan satu dari anggota MUM.
            Beberapa kali dilakukan konfirmasi dengan beberapa aktivis MUM, tidak satupun mau memberikan keterangan yang jelas, mengenai latar belakang aksi yang dilakukan. Masing-masing anggota MUM melempar tanggung jawab dengan pendukung oposisi lainnya, menghindar dan menutupi situasi yang terjadi. ara/mb05


241111-kamis(jumat)-pasar terapung.1 dr p'syarifuddin

Photo: Drs H Syarifuddin R

Harus Konsisten Mengembangkan Pasar Terapung

BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel dan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin, melalui instansi terkaitnya harus konsisten mengembangkan pasar terapung.
Hal ini diungkapkan Drs H Syarifuddin R, dengan Mata Banua pada Rabu (23/11) malam di tempat kediamannya.  Apa yang dikatakan Budayawan Kalsel tersebut, untuk mengingatkan bahwa pentingnya perencanaan yang berkelanjutan. Perencanaan yang tidak hanya sebagai slogan, atau program tahunan yang hanya dilaksanakan pada momen tertentu saja.
Seperti yang sudah diketahui, Pemprov Kalsel melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Prov Kalsel, menggelar Festival Pasar Terapung (FPT) pada 24-26 November 2011. Lokasi FPT di Sungai Martapura di depan Kantor Gubernur Kalsel di Banjarmasin.
Selain itu, terkait adanya rencana mengembangkan pasar terapung buatan masuk kota di kawasan sungai jalan Japri Zam Zam. Sebuah program dari Disporbudpar Prov Kalsel, yang akan bekerjasama dengan Pemkot Banjarmasin.
Menurut Syarifuddin R, program wisata isinya adalah hiburan. Sedangkan pasar terapung adalah ekonomi. Kalau hanya mengutamakan hiburannya, tanpa memperhatikan keberlangsungan ekonomi (usaha dagang) masyarakat pelaku pasar terapung, atau pedagang di sampan (jukung).
Maka pasar terapung tersebut, tidak akan bisa bertahan lama. Pada akhirnya wisata pasar terapung hanya menjadi slogan promosi dan propaganda yang tidak sesuai kenyataan. Menawarkan objek wisata, berarti menjaga dan merawatnya dengan baik, agar tetap terpelihara dan lestari.
“Orang berjualan tentunya harus ada untung, kalau rugi siapa yang mau. Setiap hari berjualan kalau tidak ada untung, mereka akan mati. Jadi eksistensi kehidupan ekonomi pelaku pasar terapung, atau pedagang di sampan itulah yang lebih penting” ujarnya. ara/mb05

241111-kamis(jumat)-pasang surut pedagang pasar terapung (Dm.di ekonomi)

Photo: mb/ara
RUSAK - Tidak punya duit untuk memperbaiki jukung yang rusak, agar bisa berjualan di pasar terapung

Pasang Surut Pedagang Di Jukung

SUNGAI TABUK – Sudah satu bulan lebih, ibu Norasikin (40) tidak berjualan. Karena sampan (jukung) yang dipergunakannya untuk berdagang sayuran kepasar terapung selama ini, sedang rusak.
Menurut penuturan ibu dua anak, yang diam di jl Kampung Baru, Sungai Bakung, Kec Sungai Tabuk ini, pada Rabu (23/11) sore. Ia tidak mempunyai uang untuk memperbaiki sampan, sehingga terpaksa istirahat berjualan.
Biasanya ibu Nor (panggilan akrabnya), di mulai dari pukul 5 pagi mulai mengayuh sampannya ke pasar terdekat di Sungai Tabuk (pasar di darat). Dari pasar ini ia membeli keperluan berdagang, seperti sayuran, ikan dll, dengan modal rata-rata Rp 700 ribu.
Kemudian sekitar pukul 7.30 Wita, agar lebih cepat sampai ke pasar terapung Lok Baintan, sampannya ikut bergandeng dengan perahu kelotok. Lama perjalanan bisa memakan waktu 30 menit sampai 1 jam. Biaya gandengan sekitar Rp 4 ribu per sampan.
Sesekali ibu Nor, membeli keperluan berjualan ke pasar terapung di Kuin. Perjalanan ke Kuin memakan waktu yang cukup lama, bergandengan dengan perahu kelotok saja bisa sampai 4 jam baru sampai.
Bila ingin ke pasar terpung di Kuin, ia berangkat pada sore hari, dan bermalam di Kuin hingga pagi hari. Barang dagangan yang di beli di pasar terapung Kuin, di jual ke pasar terapung di Lok Baintan.
Di Kampung Baru, Sungai Bakung, Kec Sungai Tabuk ada sekitar 10 pedagang di sampan. Keuntungan yang kecil dari berjualan, semakin membuat nasib pedagang tersebut tidak menjanjikan. Seperti pasang surutnya pasar terapung.
“Keuntungan dari berjualan tidak banyak, paling-paling hanya Rp 30 ribu sd Rp 40 ribu per hari. Kadang-kadang tidak laku atau sepi pembeli.
Di sini, kami tidak pernah mendapat bantuan modal usaha dari pemerintah daerah. Bahkan perahuku yang sudah rusak satu bulan lebih, tidak bisa diperbaiki karena tidak punya duit” ujarnya kembali dengan nada prihatin. ara/mb06