Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Sabtu, 01 Oktober 2011

Madihin Dan Tari Garapan Tradisional Dayak Tampil Di Jakarta

BANJARMASIN – Akan dilaksanakan Konsolidasi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (KNBTI), dari 25 sd 31 Oktober 2010, bertempat di LPMP Jakarta Selatan. Rangkaian agenda Kebangsaan Indonesia ini diikuti beragam organisasi dan instansi pemerintah, serta menggelar pentas-pentas seni dari daerah-daerah di Nusantara.
Alfonso, salah satu dari tim kesenian Kalsel yang akan berangkat ke KNBTI, menjelaskan “kami akan berangkat Jumat 29 Oktober, terdiri dari 11 orang. Sedangkan tim konsolidasi dari Kesbanglimas Provinsi ada 15 orang, sudah berangkat  dari Senin tadi.
Karena untuk penampilan seni dari Banjarmasin, dijadwalkan tampil hari terakhir yaitu Minggu. Madihin dibawakan oleh Sahrani dari Kurau, sedang tari garapan dibawakan oleh Nurdin Yahya dan Saiful Ahmad” ujarnya.
Lanjut Alfonso “sedangkan materi acara diskusi pada KNBTI, antara lain, Kebebasan beragama serta berkeyakinan, dengan nara sumber H.Drs.Mum’in DZ (Kesbangpol Pemprov Sulut). Hukum dan hak asasi manusia, dengan nara sumber Prof.Maria Farida,SH (MK) dan M.Ridha Saleh (Komnas HAM).
Pemenuhan hak dasar (Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi), dengan nara sumber Sri Palupi (Ecosos), Bapenas, dan Ilham Cendikia (PATTIRO). Pengolahan SDA serta pertahanan integrasi budaya, dengan nara sumber Inda Fatinaware (Sawit Watch), Ishak Hallatu (Ketua Bappeda Papua) dan Andrie (JATAM).
Kemudian materi diskusi terakhir yaitu Daerah perbatasan pulau terdepan, pulau dalam perbatasan antar provinsi serta kelola Negara berbasis kekuatan maritime, dengan nara sumber Adijaya Yusuf, SH,LLM (Pakar Hukum Internasional dan Hukum Lingkungan), Melda Kamil, SH,LLM(Pakar Hukum Internasional dan Hukum Kelautan), Rohmat Suprayadi (Sub-Dit Wilayah Khusus dan Perbatasan BABPENAS), Nada Faza (Pemerhati wilayah Perbatasan-Batam), serta perwakilan dari pemerintah daerah Maluku dan pemerintah Kabupaten Talaud.
Nantinya dalam KNBTI ini akan mengkritisi 100 hari pemerintahan SBY dan membuat rekomendasi untuk pemerintah” katanya.
Nurdin Yahya, menambahkan “tari garapan ini adalah tari tradisional pedalaman atau tari bukit  yang dikreasi, diiringi dengan gamelan dan narasi, yang menceritakan tentang masyarakat suku Dayak Bukit Meratus, yang kehilangan balai mereka.
Kehidupan, adat istiadat, kesederhanaan, ketulusan dan semua nilai yang mereka miliki menjadi berserakan. Itu semua dikarenakan eksploitasi hutan dan pertambangan yang berlebihan” pungkasnya di warung kopi Taman Budaya Kalsel pada Rabu (27/10) siang. ara/mb05

-----------------
Di setor Rabu, 27 Oktober 2010
Di muat Sabtu, 30 Oktober 2010/ 22 Dzulkaidah 1431 H
-         dengan judul Mamanda Tampil Di Jakarta
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 4


Tidak ada komentar:

Posting Komentar