Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Sabtu, 08 Oktober 2011

Puncak Perkembangan Sastra Di Kalsel

BANJARMASINAda masa dimana suatu perkembangan mencapai puncaknya, hingga akhirnya mengalami kemunduran. Tidak terkecuali dalam sastra. Menyusuri catatan sejarah perkembangan sastra Kalsel, memang memerlukan pengorbanan waktu yang tidak sedikit. Tetapi ini memang harus dilakukan agar generasi mendatang bisa mengenal akan tokoh-tokoh sastranya sendiri.
Sabtu (30/10) sore, Mata Banua kembali menggali arsip-arsip sastra Micky Hidayat, kali ini lewat via telepon. Setelah berbasa-basi dan menunggu beberapa saat, ia mulai bercerita “Bila ada anggapan bahwa Kalsel adalah gudang sastrawan, hal itu tak bisa dimungkiri dan stigma itu masih melekat hingga hari ini.
Dekade awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an, untuk sementara diklaim sebagai puncak pertumbuhan ataupun perkembangan sastra di Kalsel. Namun di dua dekade ini, karya sastra yang paling dominan hadir adalah genre puisi. Hal ini terbukti dari jumlah karya sastra (sajak) dan penyair Kalsel yang muncul ke permukaan” ujarnya.
Micky kemudian mengutif pendapat dari tokoh sastrawan dan kritikus sastra Korrie Layun Rampan, bahwa “bukan hanya perkembangan kuantitas sastrawan dan karya sastra, tapi juga perkembangan kualitas sastra sangat pesat di Kalsel.
Lanjut Micky “rubrik-rubrik sastra di media cetak lokal maupun nasional didominasi oleh puisi. Khususnya untuk publikasi karya puisi, cerpen, cerber, dan esai di media cetak lokal, para sastrawan Kalsel merasa terbantu dengan kehadiran rubrik-rubrik sastra.
Sedemikian banyaknya penyair yang menulis untuk Dahaga, sehingga pada setiap hari pemunculannya rubrik ini dijejali oleh sajak dan sangat luar biasa dalam melahirkan penyair, tentu dengan klasifikasi; penyair yang sajaknya berkualitas dan tidak berkualitas.
Secara representatif dapat digambarkan, bahwa sepanjang tahun 1981 saja tercatat sebanyak 251 orang penyair yang menulis untuk Dahaga, dengan jumlah sajak tak kurang dari 2.336 buah (berdasarkan data penelitian pengamat sastra Kalsel, Tajuddin Noor ganie).
Rubrik puisi Dahaga yang sempat bertahan sekitar 7 tahun (1978-1985) ini digawangi oleh tiga serangkai sastrawan, yaitu Yustan Aziddin, D Zauhidhie, dan Hijaz Yamani (ketiganya kini sudah almarhum).
Tumbuh suburnya perpuisian, hingga muncul anggapan Kalsel mengalami inflasi puisi dan kepenyairan. Di Kalsel juga memacu antar penyair untuk saling berkompetisi menerbitkan sajak-sajaknya, baik secara perseorangan maupun secara kolektif,  bersama penyair luar Kalsel yang diterbitkan di Banjarmasin, Surabaya, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Tasikmalaya, Padang, dan beberapa kota lainnya, hingga Brunei Darussalam dan Malaysia” tutur Micky Hidayat yang selalu mendukung aktivitas seni kaum muda. ara/mb05

-----------------
Di setor Minggu, 31 Oktober 2010
Di muat Kamis, 04 Nopember 2010/ 27 Dzulkaidah 1431 H
-         dengan judul Puncak Perkembangan Sastra Di Kalsel
-         kolom Kotaku, Mata Banua halaman 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar