Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Sabtu, 25 Februari 2012

020212-kamis(jumat)-Perpanjangan Sastra Lama dr Alwy.doc

Photo: Ahmad Syubbanuddin Alwy

Masih Perpanjangan Gaya Sastra Lama


BANJARMASIN – Para sastrawan terus-menerus berusaha merumuskan bentuk-bentuk eksplorasi. Suatu rumusan yang akan menghadirkan adanya tesis, sintesis, hipotesis, hingga antesis.
Hal ini diungkapkan oleh Ahmad Syubbanuddin Alwy penyair Jawa Barat, yang pernah datang sebagai pembicara dalam Aruh Sastra VIII di Barabai, tahun yang lalu.
Menurut Alwi, usaha tersebut agar karya sastra bukan sekedar gagasan yang hanya menuliskan proses daur ulang dalam pencitraan karya-karya sastra yang dituliskan dalam periode penciptaan sebelumnya.
Namun, pada kenyataannya para pembaca tidak menemukan adanya eksplorasi sekaligus transformasi. Sesuatu yang akan mengukuhkan kreativitas pengarang dalam menuliskan proses reinterprestasi teks-teks sastra, yang mencerahkan publik pembaca.
Karya sastra lebih dominan menjadi bagian dari bentuk penulisan sastra, yang berlangsung sebagai teks-teks linear dan tidak menawarkan ispirasi dan memotivasi apapun. Sastra dan karya sastra, semata menjadi mata rantai perpanjangan sebentuk gagasan karya sastra generasi pengarang terdahulu.
Seperti puisi-puisi yang ditulis Amir Hamzah, yang sangat ketat dalam suasana dan ritme pantun, yang masih memiliki pengaruh yang kuat dalam tradisi kepenyairan mutakhir.
Demikian seterusnya, puisi-puisi cemerlang Chairil Anwar yang hampir memberi inspirasi sangat melimpah dalam kepenyairan saat ini.
“Tidak mengherankan, jika kanon-kanon karya sastra Indonesia dari sastrawan generasi terdahulu, masih meninggalkan jejak dihalaman karya sastra mutakhir yang mengukuhkan adanya cetak biru dalam rangka genealogi kesusastraan kita hari ini” ujar Alwi. ara/mb05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar