Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Sabtu, 25 Februari 2012

310112-selasa(rabu)-Dunia Teater Telah Kehilangan Makna.TAI4.doc

Dunia Teater Telah Kehilangan Makna


BANJARMASIN – Ada suatu sinyalemen bahwasanya perkembangan teater Indonesia sekarang, hanya berasyik-masyuk dan berkumpar-kumpar dalam dunianya sendiri. Sehingga amat beralasan apabila ada yang menyatakan, bahwa kehidupan teater sekarang stagnan.
Pementasan Teater Api Indonesia (TAI) dari Surabaya di gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel, memang sudah berlalu beberapa waktu yang lalu, yaitu pada Jumat (20/1) malam.
Tapi masih banyak persoalan seni teater dewasa ini, yang ingin disampaikan TAI. Berawal dari persoalan yang bisa menjadi pelajaran untuk seni teater di Kalsel. Luhur Kayungga, sutradara dan salah satu aktor dari lakon Brongkos. Seusai pementasan malam tersebut, ia menceritakan pandangan Sabroto D Malioboro, Ketua Umum Dewan Kesenian Surabaya, terhadap perkembangan seni teater.
Dalam penggambaran stagnannya kehidupan teater ini, yang menjadi tokoh cerita adalah TAI. Walau sebenarnya adalah dunia teater secara umum yang ada di Indonesia.
TAI dibentuk pada 1993, setelah 2005, TAI turut mengalami kevakuman. Selama 5 tahun TAI tidur panjang. Hingga pada 2010 TAI berusaha kemabali terjaga, dengan harapan untuk menjawab sinyalemen perkembangan teater di Indonesia.
Permasalahan utama timbulnya kemandegan, tak lain adalah sulitnya kelompok teater menemukan pemikiran yang kuat untuk melandasi kerja kreatifnya. Oleh sebab itu, dalam tahun-tahun terakhir, ada indikasi terhentinya teory, metode maupun filosofi teater di Indonesia.
Karena terbelenggu oleh eksklusivitas yang sempit, lantaran berjarak dengan realita sekelilingnya. Sehingga tidak adanya pencapaian artistik yang berarti, maka apa yang dilakukan hanya menjadi epigon.
Saat dunia teater dewasa ini hanya menyuguhkan garapan realis yang semakin kehilangan makna, maka pilihannya adalah dalam surealis. Menurut Luhur Kayungga, TAI kemudian melalokan metamorfosis garapan, yaitu melakukan pergeseran konsep. Dari bahasa verbal ke bahasa tubuh. Sedangkan dialog-dialog yang dilontarkan hanya bersifat aksentuatif.
“Pementasan TAI adalah untuk pemahaman, dan mengolah perasaan. Menghidupkan makna dalam realitas” ujarnya. ara/mb05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar