Isi Berita

Rilis yang di buat oleh ARAska dalam melaksanakan tugas sebagai Jurnalis

Jumat, 24 Februari 2012

200112-jumat(sabtu)-mula sastra dr Dimas.2.doc

Photo: Dr Sudaryono MPd

Hubungan Antara Penyair Dengan Tuhan


BANJARMASIN – Bagaimanakan hubungan antara penyair dengan Tuhan dalam seni sastra religius? Sementara seni susastra bergerak pada arus bawah hidup, dan memunculkan kepermukaan, atas undangan ke arah kedalaman. Arus bawah yang di kenal dengan istilah religiusitas (bukan beragama). .
Hal ini diungkapkan oleh Dr Sudaryono MPd, beberapa waktu yang lalu. Ia adalah sastrawan dan sebagai Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di FKIP Universitas Jambi. Nama penanya dalam dunia sastra adalah Dimas Arika Mihardja. .
Menurutnya, karya puisi secara maknawi tidak dimaksudkan untuk menambah jumlah pemeluk, melainkan memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Tuhan. .
Sedangkan komunikasi antara manusia-penyair dengan Tuhan, realisasinya bisa meluas, bisa pula menyempit perspektifnya. Secara luas, bentuk komunikasi antara manusia-penyair dengan Tuhan teraktualisasi dalam bentuk kekaguman manusia-penyair, yaitu kekaguman terhadap berbagai bentuk ciptaan Tuhan (Allah adalah Maha Kreator yang mampu menciptakan alam semesta beserta isinya). .
Manusia-penyair, dalam konteks ini hanyalah peniru secara mimesis. Dari tangan manusia-penyair lalu lahir berbagai karya, yang secara mimesis tidak dimaksudkan menandingi kreativitas Tuhan. Melainkan semacam perpanjangan tangan. .
“Hitung-hitung manusia-penyair bertindak sebagai kafilah di bumi, yang dengan suntuk mengagungkan berbagai Keindahan Ciptaan Tuhan” katanya. .
Selain itu, lanjut Dimas, manusia-penyair ternyata juga merupakan makhluk individu dan makhluk sosial dalam pranata sosiologis. Secara individual, manusia-penyair memiliki atensi pada masalah-masalah personal. Dari masalah-masalah personal inilah, sebagai pangkal tolak konsepsi estetis dalam setiap berkarya. .
Dalam perspektif individual pula, manusia-penyair selalu di rundung kegelisahan untuk berdekatan dengan Sang Khalik. Lantaram Sang Khalik sifatnya serba Maha. Secara personal manusia terkadang serupa debu diterompah-Nya. .
Manusia lantas merasa kecil, kotor, dan silau oleh Cahaya Maha Cahaya. Manusia secara personal juga terkadang penasaran untuk menyibak rahasia ciptaan-Nya. Alam semesta beserta isinya acapkali membuat manusia terluka, oleh berbagai penyebab. .
“Melalui luka dan rasa penasaran tersebut, secara watak personal manusia memiliki rasa ingin tahu segalanya, termasuk rahasia-Nya” ujarnya. ara/mb05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar